Timun Emas dan Sarak
Timun Emas telah tinggal di hutan selama beberapa waktu. Pangeran Raden Putro mengunjunginya setiap hari, namun tetap tidak berani membawanya pulang. Ia takut kepada ayahnya sang Raja dan masyarakat tidak mau merestui Timun Emas sebagai istrinya.
Secara kebetulan, Raja Gandaruwo (Raja Iblis) tinggal di hutan dekat sungai itu. Ia mempunyai seorang putri cantik bernama Sara (disebut Sarak dalam cerita Jawa). Sang ayah menyuruhnya untuk menikah dengan salah satu Iblis, namun Sarak selalu menolak dan tetap tidak mau menikah. Sang ayah juga terlalu mencintai Sarak dan tidak bisa memaksanya. Agar mau menikah, dia menjawab bahwa dia hanya akan menikah dengan seseorang yang sangat dia cintai dan dia haruslah “seorang manusia“. Permintaan sang ayah tidak ada gunanya, dan dia sudah memperingatkan bahwa persatuan seperti itu akan membawa kesialan.
“Saya hanya mau menikah dengan seorang manusia,” jawabnya, “Jika bukan, saya tidak mau menikah dengan siapapun!”
Saat senja ketika dia pergi mandi di sungai, dia melihat ke rumah yang baru dibangun dan melihat wanita cantik yang tinggal di dalamnya. Ia pun melihat Pangeran Raden Putro yang tampan. Dia menjadi sangat iri dan cemburu pada Timun Emas.
Suatu hari, ketika Raden Putro tidak ada di rumah, dia masuk ke dalam rumah dan berbicara kepada Timun Emas.
“Siapa kamu?” “Saya Timun Emas, istri Raden Putro,” jawabnya.
“Bohong! Kamu bukan istri Raden Putro? Itu suamiku!” Sarak berkata dengan marah.
Tanpa banyak berkata, dia melumpuhkan Timun Emas dan menyeretnya ke pinggir jurang dan melemparnya ke dalamnya.
Kemudian ia mengambil wujud Timun Emas dan menunggu Raden Putro di rumah. Raden Putro menganggap Sarak yang menyamar adalah istrinya yang sedang menunggunya. Meskipun Raden Putro tidak menaruh curiga sedikit pun, namun lain halnya dengan Jodéksonto. Dia awalnya juga mencintai Timun Emas, namun kini dia merasakan sifat Timun Emas yang telah banyak berubah. Dia tidak bisa lagi bersikap baik kepada majikannya, meski dia sendiri tidak mengerti kenapa.
Namun Timun Emas yang asli masih belum mati. Ketika dia terbaring di jurang dan sadar kembali, dia tentu saja menangis memanggil suaminya dan memohon untuk membawanya keluar dari jurang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu bagaimana nasibnya nanti. Namun dia kemudian mendapat bantuan dari Tujuh Malaikat, yang telah melihat aib musuh mereka Sarak, putri dari Iblis yang perkasa.
Tujuh Malaikat itu kemudian membawa Timun Emas yang malang keluar dari jurang. Membangunkannya sebuah rumah kecil dan membiarkannya tinggal di sana. Mereka kemudian kembali ke surga, setelah sebelumnya memberitahu Timun Emas. Bahwa jika dia membutuhkan sesuatu, dia harus menginjak tanah tiga kali dan kemudian mereka akan datang! Timun Emas yang lolos dari kematian, dengan senang hati menerimanya!
Panji Laras dan Ayam Jago
Selang beberapa waktu, Timun Emas menjadi ibu dari seorang bayi laki-laki yang tampan. Dia memberinya nama Panji Laras. Anak itu telah tumbuh besar dan mencapai usia enam tahun. Raden Putro sendiri tetap tidak mengetahui kelahiran anaknya.
Raja yang telah tua pun meninggal dan Pangeran Raden Putro menggantikannya. Yang sangat menyedihkan hatinya, istrinya tidak mempunyai anak dan dia sangat merindukannya. Apalagi rakyatnya menginginkan seorang pewaris tahta.
Sementara itu Panji Laras semakin tumbuh besar. Ternyata dia adalah anak yang sangat cerdas, dan sangat menyayangi binatang. Dia bermain di hutan bersama ayam jantan, bajing, kelinci, kijang dan banyak binatang lainnya.
Suatu ketika ketika dia sedang bermain di hutan seperti biasa, dia melihat seekor burung Gagak membawa sebutir telur. Seolah-olah burung Gagak itu berkata, “Ini untukmu, Panji Laras.” Dia dengan senang hati menerima telur itu dan pulang membawanya. Dari kejauhan ia berteriak lantang kepada ibunya : “Ibu, ibu, aku telah diberi sebutir telur oleh burung Gagak dan akan kubiarkan ular itu menetaskannya.” Dia pergi ke seekor ular besar dan meletakkan telur di depannya. Beberapa saat kemudian dia datang kembali untuk melihat, dan sangat terkejut ketika dia melihat bahwa bukan seekor burung Gagak yang muncul dari telurnya, melainkan seekor ayam jantan muda yang gagah. Sejak awal dia mulai melatih ayam jagonya untuk bertarung, dan tak lama kemudian dia menyadari bahwa ayam itu tidak terkalahkan.
Tahun-tahun berlalu dan suatu hari Panji Laras menanyakan keberadaan ayahnya kepada ibunya.
Ibunya mengira dia sudah cukup dewasa untuk memahami kisahnya dan menceritakan pengalamannya. Panji Laras sangat terkesan dengan cerita tersebut, dan bertanya kepada ibunya apakah dia bisa mencari ayahnya. Timun Emas mencoba mencegah dan menghentikannya, tetapi tidak membantu. Dia bersikeras menemukan ayahnya dan kemudian akan memberitahunya di mana ibunya kini berada. Dia membawa ayam itu bersamanya.
Bertaruh Dengan Raja
Setelah berjalan beberapa hari dia sampai di kerajaan ayahnya, namun dia tidak menyadarinya. Dia segera mendengar bahwa sang Raja adalah penggemar berat sabung ayam. Dia mengundang siapa saja yang bisa memberinya kesenangan untuk datang kepadanya. Sang Raja mempunyai ayam yang sangat kuat dan dengan bangga dan sombong menyatakan bahwa ayamnya tak terkalahkan.
Ketika Panji Laras mendengar cerita itu, dia pergi dengan ayamnya menghadap sang Raja. Tapi sang Raja saat melihat ayamnya, tidak percaya bahwa ia bisa begitu kuat. Dengan nada setengah mengejek dia berkata, “Jika kamu kalah, apa yang bisa kau bayar?” Dengan malu Panji Laras harus mengakui bahwa dia memang sangat miskin. Tapi akhirnya dia berkata, “Aku berjanji dengan kepalaku bahwa ayam saya akan menang”.
Tidak menunggu lama kemudian berita segera tersebar, bahwa seorang anak pengembara berani bertaruh dengan Raja perkasa, bahwa ayam jagonya akan menang. Orang-orang berbondong-bondong dari jauh untuk menyaksikan sabung ayam. Semua orang sangat bersemangat saat sabung ayam dimulai, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi dan seperti apa akhirnya. Sesekali para penonton memandangi anak laki-laki itu dengan rasa kasihan, karena dia harus membayar kekalahannya nanti dengan nyawanya sendiri. Ayam jagonya membiarkan dirinya dipukuli habis-habisan. Namun Panji Laras tetap memperhatikan dengan tenang dan tidak peduli. Akhirnya dia memanggil ayam jagonya, dan ayam itu menjawab dengan suara seperti manusia, sambil membunyikan kata-kata berikut :
Bek, bek, bek, kukukuruk
Jagoné Panji Laras
Umahé tengah ngalas
lbu-né Timun Emas
Bapaké Raden Putro
Omahé neng Jenggolo
Abdiné Jodeksonto
Dalam bahasa Jawa yang artinya :
Bek, bek, bek kukuruyuk
Saya adalah ayam jago Panji Laras
Rumahnya berada di dalam hutan
Ibunya adalah Timun Emas
Ayahnya bernama Raden Putro
Rumahnya di Jenggala
Pelayannya adalah Jodèksonto
Orang-orang mendengar suara itu dengan takjub dan Raja serta Jodeksonto juga sangat terkejut. Namun sang Raja tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah terjadi, dan hanya berpikir bahwa Timun Emas adalah nama istrinya. Raja ingin menangkap anak itu meskipun ayam Panji Laras menang, namun dia segera melarikan diri.
Jodèksonto diperintahkan untuk mengikutinya. Jodèksonto juga sangat heran. Dia merasa sangat aneh, bahwa seekor ayam jantan dapat berbicara seperti manusia. Ayam itu mengetahui nama Raja, permaisurinya, dan juga namanya sendiri. Selain itu, dia sangat sadar bahwa dia tidak pernah mencintai Ratu saat ini, sang permaisuri. Padahal pada awalnya dia memuja juga mencintai Timun Emas yang cantik, bukan?
Pertemuan
Dengan terengah-engah dalam cuaca panas, Panji Laras pulang ke rumah ibunya dan ingin menceritakan segalanya. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, muncullah Jodèksonto yang mengenali Timun Emas yang asli dalam diri ibu Panji Laras. Betapa senang dan terharunya mereka berdua dapat berjumpa lagi! Timun Emas menceritakan kepada pelayan setia itu semua yang telah terjadi, dan kemudian Jodeksonto membawanya menemui Raden Putro.
Betapa marahnya Raja ketika mendengar apa yang dilakukan Sarak terhadap istri tercintanya. Dan keterkejutannya tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Telah sekian lama ia memiliki seorang putri raja iblis, yang menyamar di sampingnya sebagai istri!
Sarak segera diusir dari Jenggala dan Timun Emas kembali ke tempat yang semestinya. Ia kemudian menjadi seorang permaisuri, sementara Panji Laras menjadi calon pewaris tahta. Dan mereka hidup bahagia selama bertahun-tahun lamanya.
Oleh : B. R. A. Partini Djajadiningrat, Majalah Moesson, 1 Februari 1979.
Catatan :
B. R. A. Partini Djajadiningrat, adalah keluarga kraton Mangkunegaran (putri dari K. G. P. A. A. Mangkunagoro VII) yang menikah dengan Prof. Dr. Hussein Djajadiningrat. Pada tahun 1960 Prof. Hussein meninggal dunia, karier cemerlangnya pernah menjabat Direktur Pendidikan Agama dan juga seorang Mentri. Sepeninggalnya, jandanya menyibukkan diri dengan menulis cerita-cerita Jawa, yang biasanya berdasarkan cerita rakyat. Sejumlah cerita ini telah dikumpulkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, khususnya untuk anak-anak. Namun, penulisnya juga bisa menulis dan berbahasa Belanda. Beberapa cerita rakyat ditulisnya dalam bahasa Belanda untuk Majalah Moesson, Javaanse Kinderverhalen. Kisah Panji Laras ini yang pertama, disusul kemudian dengan cerita-cerita lainnya.



