Para pengunjung yang ingin menikmati indahnya matahari terbit di Penanjakan, dulunya harus memulai perjalanan dari penginapan di Tosari. Biasanya dengan berkuda pada pukul 2 dini hari. Jalur dari Tosari ke Penanjakan ini awalnya hanya jalan setapak, yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki, ditandu atau dengan berkuda.
Pembangunan Jalan dan Pondokan
Untuk menunjang fasilitas wisata Bromo ini, sejak tahun 1925 dimulai pembangunan jalan ke Penanjakan oleh Dinas Kehutanan Malang yang dipimpin oleh Dr. L. A. G. Hissink. Jalan sepanjang lebih dari 11 Km dari Tosari dengan dana kurang dari f 5000 dalam tempo tiga tahun. Sebuah pencapaian yang cukup besar untuk jumlah dana yang relatif kecil. Jalan tersebut memiliki lebar kurang lebih 2,25 M (rata-rata). Dibangun di lereng gunung dengan menggali sebagian, dan sebagian lagi dengan memotongnya. Tujuannya adalah untuk memperluasnya nanti ketika sumber dana atau anggaran mengalir lebih lancar. Residen Pasuruan, Scholte, yang memastikan bahwa anggaran keuangan ini diatur dengan baik.

Tepat di bawah puncak gunung Penanjakan, pada ketinggian 9022 kaki, dan 11,6 KM di timur Tosari, sebuah pondokan dari kayu atau disebut “Blokhut” juga telah dibangun. Dana yang disediakan oleh Pemda Pasuruan sebesar f 1165 untuk konstruksi, dan sebesar f 1000 untuk perabotan dan biaya tahunan untuk gaji mandor.
Dinding luar terbuat dari kayu cemara, di bagian dalam dinding ditutupi dengan anyaman bambu, sedangkan dinding pemisah, serta lantai, terdiri dari papan kayu hutan. Galeri depan yang tertutup cukup luas, sekitar delapan kali tiga meter, dengan empat jendela dan pintu masuk. Lantainya beralas anyaman kulit kelapa, beberapa kursi dan dua lemari, satu untuk perbekalan dan piring serta barang pecah belah, yang lain untuk tempat tidur dan sekitar delapan belas selimut hangat. Di sudut juga disediakan kompor minyak tanah.
Di belakang beranda depan ada dua kamar tidur, tiga ranjang kayu yang bisa dilepas. Biaya akomodasi untuk menginap disini adalah f 3/hari untuk orang dewasa dan f 2 untuk anak-anak. Dimana bekal harus membawa sendiri dan kompor dapat digunakan secara gratis. Ada seorang mandor yang mengurus bisnis ini, diambil dari salah seorang Pengawas Hutan di Tosari.
Rekor Mobil dan Motor
Walaupun belum diresmikan, tercatat pada Bataviaasch Nieuwsblad edisi 7 April 1928, kelompok “Club Motor” sudah berhasil mencapai pondokan ini. Pondokan kayu di Penanjakan ini akhirnya diresmikan penggunaannya pada 1 Juni 1928.

Minggu, 30 September 1928, adalah hari yang tak terlupakan bagi komunitas mobil dan motor. Hari itu “Rekor Ketinggian” untuk mobil dipecahkan.
Ekspedisi pertama dengan mobil ini dimulai dari “Villa Karia” milik tuan Lecomte yang berangkat pada pukul 6 pagi. Drivernya adalah tuan Dinger, Kepala Bengkel Auto-Technicum dari Mojokerto, dibelakang kemudi mobil bermerek “Chevrolet”. Anggota lainnya adalah tuan Van Tongeren, Direktur Auto-Technicum, dan tuan Habnit, Direktur Koran/Majalah Sportblad K.V.J.M.C.

Perjalanan menempuh rute baru dengan perawatan jalan yang baik dari Dr. Hissink, beberapa jembatan dipasang untuk memungkinkan transisi. Lerengnya tidak terlalu sulit, sebagian besar dengan kemiringan 10-12 persen dan beberapa sedikit lebih berat. Apalagi jalannya tentu saja belum diaspal, di beberapa tempat tanahnya masih sangat gembur, sehingga tuan Dinger mendapat tugas yang berat. Di satu sisi ada jurang yang dalam beberapa ratus meter, di sisi lain tembok gunung menjulang terjal.
Di beberapa tikungan itu sangat berbahaya, satu roda belakang kadang-kadang berjalan sepenuhnya di tepi jurang yang dalam. Apa yang belum pernah terjadi di Jawa dan di Hindi Belanda akhirnya tercapai di Penanjakan Tosari. Di sana terjadi sebuah mobil naik ke puncak gunung setinggi 9.022 kaki (+/- 2750 MDPL) di Penanjakan dengan tenaganya sendiri. Puncak tertinggi yang bisa dicapai dengan mobil di Hindia Belanda.
Perjalanan pulang tidak kalah berbahayanya, karena driver sekarang tidak dapat melihat lereng gunung terjal yang harus dilewatinya. Banyak penduduk kampung yang datang dan berteriak menyambut dan mengikuti sampai ke Tosari.
Sampai di “Villa Karia” rombongan diterima dengan antusias oleh tamu-tamu lain. Tuan Dinger, pengemudi yang berani menerima karangan bunga yang indah, sebagai bukti betapa banyak orang-orang menghargai prestasinya. Pekerjaan berbahaya ini hanya dapat dilakukan dengan mobil kecil yang dikendarai oleh pengemudi yang berpengalaman dan tenang. Izin mengemudi di jalan ini waktu itu hanya dapat diminta dari Kepala Dinas Kehutanan di Malang, Dr. L. A. G. Hissink.




