Di ujung timur pulau Jawa, sebuah nama telah bertahan selama berabad-abad : “Pasuruan“. Namun, dibalik kesederhanaan pengucapannya, tersimpan lapisan sejarah yang kompleks dan sering kali terlupakan. Nama ini bukan sekadar penanda geografis, melainkan sebuah prasasti hidup yang mencatat perjalanan waktu—dari era kerajaan kuno, masa kolonial, hingga identitas modern.

Komunitas “Sesuluh” hadir berupaya untuk menyusun kembali fragmen-fragmen sejarah yang tercerai-berai. Melalui penelusuran berbagai sumber primer—mulai dari Kakawin Negarakertagama, catatan kolonial Belanda, hingga legenda lokal—kita akan menjelajahi asal usul nama Pasuruan yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Apakah ia benar-benar bermula dari “kebun suruh atau sirih“? Atau justru dari gemerlap “pasar uang” pada masa kejayaan komoditas? Mungkin pula ia menyimpan kisah para pelaut yang terdampar, atau bahkan jejak kuasa sosok besar seorang Pahlawan Nasional?

Bedah nama “Pasuruan” diselenggarakan pada tanggal 25 Oktober 2025 di “Basecamp Sesuluh” di Pasuruan. Dengan membedah nama ini, kita tidak hanya mencari kebenaran linguistik atau historis semata. Lebih dari itu, ini adalah upaya untuk mengembalikan memori kolektif, memperkuat identitas kultural, dan memahami bagaimana sebuah nama dapat menjadi cermin dari dinamika sosial, ekonomi, dan politik suatu wilayah.

Sebuah Nama Seribu Tafsir

Nama “Pasuruan” telah menjadi teka-teki linguistik dan historis sejak masa kolonial. Prof. P. J. Veth, ahli geografi Belanda abad ke-19, pernah mengeluh : “De schrijfwijze van den naam van dit landschap is zeer onzeker en wankelend” “Ejaan nama wilayah ini sangat tidak menentu dan tidak stabil.” Pernyataan Veth bukanlah keluhan biasa, melainkan pengakuan jujur tentang kompleksitas identitas sebuah tempat yang telah mengalami transformasi melalui berbagai zaman.

Prof. Pieter Johannes Veth (2 Desember 1814 – 14 April 1895) 

Pernyataan Veth memang benar dan bukanlah tanpa dasar, tercatat lebih dari sepuluh versi penulisan “Pasuruan” dalam literasi kolonial, termasuk dalam dokumen-dokumen resmi pemerintah. Versi itu antara lain : Pacaruam, Pasarvan, Passourouang, Passarouang, Passoeroeang, Passourawang, Passourouan, Pasoeroewan, Pesoeroewan, Passouroang, Passourowang, Pasoeroehhan, Pasoeroean, dll.

Artikel ini akan membawa pembaca dalam perjalanan panjang menyusuri asal usul nama Pasuruan—dari bukti tertulis tertua, melalui berbagai interpretasi kolonial, hingga kesepakatan modern yang tertuang dalam lambang kotanya. Lebih dari sekadar pencarian etimologi, ini adalah upaya memahami bagaimana sebuah nama dapat merekam ingatan kolektif, menyerap pengaruh budaya, dan akhirnya menjadi identitas yang bertahan.

Bukti Tertua dalam Kitab Kuno

Negarakertagama (1281 Saka/1359 Masehi)

Prasasti pertama tentang Pasuruan muncul dari masa keemasan Kerajaan Majapahit. Dalam Kakawin Negarakertagama karya Mpu Prapanca, dalah pupuh 35 terdapat dua bait penting yang menyebut nama Pasuruan:

“Sampai Pasuruan menyimpang jalan ke selatan menuju Kepanjangan…”
“Prapanca tinggal di sebelah barat Pasuruan ingin terus melancong…”

Kedua bait ini mengonfirmasi bahwa pada abad ke-14, Pasuruan telah menjadi bagian dari jaringan perjalanan Raja Hayam Wuruk—sebuah tempat yang cukup penting untuk disebut dalam kitab negara. Namun, Negarakertagama tidak menjelaskan asal usul nama tersebut. Ia hanya mencatat jelas keberadaannya.

Pra-Majapahit : Masa Mpu Sindok dan Airlangga

Meskipun bukti tertulis spesifik belum ditemukan, para sejarawan sepakat bahwa wilayah Pasuruan telah dihuni sejak era kerajaan sebelumnya. Dalam Ensiklopedia Hindia Belanda (1939) disebutkan: “Slechts staat vast, dat het Pasoeeroansche gebied ten tijde van Mpu Sindok (10e eeuw) en Airlangga (11e eeuw) bewoond was” — “Hanya diketahui bahwa wilayah Pasuruan sudah dihuni pada masa Mpu Sindok (abad ke-10) dan Airlangga (abad ke-11).

Fakta ini didukung oleh temuan arkeologis, berupa candi-candi dan prasasti di sekitar wilayah Pasuruan. Menunjukkan aktivitas manusia yang telah berlangsung berabad-abad sebelum catatan di Negarakertagama.

Anatomi Nama: Tafsir Linguistik yang Beragam

Tafsir Botani : “Pa-suruh-an” sebagai “Kebun Suruh/Sirih”

Ini adalah tafsir yang paling kuat dan secara resmi diakui. Dalam bahasa Jawa Kuno:

  • “Soeroeh” atau “suruh” berarti daun sirih (Piper betle)
  • “Pa-“ adalah prefiks pembentuk kata tempat
  • “-an” adalah sufiks yang menyatakan lokasi

Maka, “Pa-suruh-an” secara harfiah berarti “tempat tumbuhnya suruh/sirih” atau “kebun suruh/sirih”.

Sejarawan terkemuka seperti Prof. P. J. Veth dan Hageman J. C. z, juga berpendapat sama. Dr. W. F. Stutterheim, kepala Dinas Arkeologi Hindia Belanda terakhir (hingga 1942), mengamini dan memberikan dukungan ilmiah untuk tafsir ini. Dalam tulisannya (1929), Stutterheim menyatakan:

“Asal usul nama Pasoeroehan dari kata soeroeh = sirih memang benar tidak diragukan lagi… Nama ini sangat umum, dan fakta bahwa nama tersebut, yang awalnya merupakan nama salah satu desa yang membentuk Pasoeroean, dipilih sebagai nama keseluruhan disebabkan oleh alasan yang sama dengan, misalnya, nama Solo (= Sala) untuk kota Surakarta.”

Stutterheim lebih lanjut menjelaskan, bahwa penamaan tempat berdasarkan tumbuhan adalah fenomena yang sangat umum di Jawa, merujuk pada ribuan nama desa yang berasal dari nama pohon atau tanaman seperti : Sukun, Waringin, Jati, poh (mangga), dan lain-lainnya.

Dr. W. F. Stutterheim, Kepala Dinas Arkeologi terakhir hingga tahun 1942. Foto tahun 1929

Tafsir Administratif : “Pe-suruh-an” sebagai “Tempat Utusan”

Versi ini memanfaatkan homonim dalam bahasa Jawa/Melayu. Kata “suruh” selain berarti sirih, juga berarti “utus/utusan” atau “perintah”. Maka “Pe-suruh-an” dapat berarti “orang suruhan/utusan”, “tempat pengutusan” atau “tempat menerima perintah”.

Kitab Sedjarah Poro Leloehoer Die Pasoeroewan (1914) yang disusun oleh Raden Tumenggung Ario Nitieadiningrat, Bupati Surabaya, mendukung tafsir ini:

“Adalah diceritakan negeri Pasoeroewan nama Pasoeroehan itu bahasa Jawa artinya tempatnya ‘soeroehan’ = perintah… dan nama Pasoeroewan–Pasedahan itu kabarnya tertarik Bupati-bupati di situ itu dulunya sering jadi ‘soeroehannya’ pembesar perkara perang dan apa juga.”

Tafsir ini menghubungkan Pasuruan dengan fungsi administratif dan militer dalam struktur pemerintahan kolonial dan kerajaan di Jawa.

Tafsir Ekonomi : “Pasar-uwang” sebagai “Pasar Uang”

Pada masa keemasan ekonomi abad ke-19, muncul interpretasi yang berbeda. Hageman dalam tulisannya (1852) mencatat beberapa varian nama:

  • Passaroewang: geldmarkt (pasar uang)
  • Pasar-oewong: menschenmarkt (pasar rakyat)
  • Pasar-oebong: dubbeltjesmarkt (pasar uang receh/logam)

Kitab Sedjarah Poro Leloehoer mendukung versi ini dengan catatan:
“Bangsa Ollanda ada jang kasie nama Pasaroewang… kira-kira taoen 1850 sampei 1880 inie negrie amat redjo… perdagangan amat madjoe… malahan itoe waktoe Pasoeroewan ada lebih ramee darie Soerabaia.”

Tafsir Peristiwa: “Pa-sedah-an” sebagai “Tempat Kematian”

Versi ini menghubungkan nama Pasuruan dengan peristiwa kematian. “Sedah” dalam bahasa Jawa Krama berarti “mati” atau “meninggal”. Hageman mencatat: “Pa-sedah-han, sterfplaats, plaats waar Soeropati overleed in 1706”“Pa-sedah-han, tempat kematian, tempat di mana Soeropati meninggal tahun 1706.”

Meski menarik secara historis, tafsir ini dianggap sebagai folk etymology—penjelasan yang muncul setelah peristiwa, bukan asal usul sebenarnya. “Daun Suruh/sirih” dalam bahasa Jawa kromo juga disebut “Sedah“, “Pasuruan” dalam bahasa Jawa kromo (tinggi) juga lazim disebut sebagai “Pasedahan“.

J. Hageman J.C.z. (30 September 1817-30 November 1871)

Nama-Nama Lain dalam Catatan Sejarah

Gembong” Nama Asli Jawa

Sebelum konsolidasi sebagai “Pasuruan“, wilayah ini dikenal dengan nama “Gembong“. Hageman dengan tegas menyatakan: De echte Javaansche naam is Gembong — “Nama Jawa asli adalah Gembong.”

Encyclopedia van Nederlandsch-Indië (1939) mengkonfirmasi: “Nog in de 17e eeuw werden Pasoeeroan en Gembong als twee afzonderlijke steden genoemd”“Hingga abad ke-17, Pasuruan dan Gembong masih disebut sebagai dua kota terpisah.”

Gembong dalam bahasa Jawa bisa berarti : Harimau loreng, Pendekar atau Tokoh Berpengaruh/Terkemuka. Bisa jadi nama Gembong merujuk pada sosok Suropati, penguasa di Pasuruan yang cukup lama (20 tahun) dan ditakuti oleh VOC/Kompeni waktu itu.

Nama “Gembong” hingga kini masih dikenali sebagai nama sungai yang membelah Kota Pasuruan.

Groeda/Grouda” Dalam Catatan dan Peta Kuno

Penelitian S. Robson (1977) mengungkap keterkaitan menarik. Dalam catatan pelayaran pelaut Portugis, Tome Pires (1512-1515), disebutkan nama “Gamda” di Jawa Timur. Robson berargumen bahwa “Gamda” ini kemungkinan besar adalah “Grouda/Groeda” atau “Garoeda” dalam catatan Valentijn (1726), yang muncul dalam dokumen-dokumen Belanda abad ke-17 dan di peta-peta kuno.

Dagh-Register (buku harian VOC) antara 1670-1679 berulang kali menyebut tempat bernama “Groeda”. De Jonge dalam publikasinya menyebutnya sebagai sungai: “de bogt van Pasoeroean en vooral de rivier Garoeda”“teluk Pasoeroean dan terutama sungai Garuda.”

Peta-peta kuno dengan jelas mencantumkan nama “Grouda”, bahkan mencetak dengan huruf yang lebih tebal, menggambarkan sebagai salah satu kota penting dibandingkan dengan kota lain. Kota “Grouda/Groeda” berada di muara sungai Welang (dulu disebut Sungai Garoeda) hilang dari peradaban dan berubah menjadi distrik/kecamatan “Kraton“. “Kraton” berasal dari kata Jawa “ka-ratu-an” yang berarti tempat bersemayamnya raja atau ratu (penguasa). Ini bukan sekadar bangunan, tetapi kompleks istana yang memiliki nilai filosofis tinggi, mencerminkan kosmos Jawa, dan menjadi pusat pemerintahan serta kehidupan budaya bangsawan Jawa. 

Kitab Sedjarah poro Leloehoer mencatat, “Groedo” adalah desa di distrik Kraton, tempat lahirnya “Raden Groedo“. Raden Groedo inilah yang kelak kemudian menjadi penguasa/Bupati di Pasuruan dengan gelar “Kyai Adipati Nitiadiningrat (I)“.

Nama kota “Grouda” dicetak tebal pada peta 1719.

“Kota Marong/Maron” Dalam Catatan Domis

Domis mencatat bahwa sebuah “kota” di Pasuruan yang didirikan oleh Suropati adalah “Kota Marong” di wilayah Kebon Agung sekarang. Namun di tengarai kemungkinan yang benar adalah “Kota Maron“. Ini merujuk kepada kebiasaan Domis dalam menulis nama daerah dengan akhiran “n” menjadi “ng“, seperti : “Passoeroean” menjadi “Passoeroeang“, “Mantjilan” menjadi menjadi “Mantjilang”, dan “Maron” menjadi “Marong”. Beberapa nama Maron dikenal di beberapa wilayah di Jawa, misalnya Maron di Kabupaten Probolinggo.

Marong” dan “Maron” dalam bahasa Jawa mempunyai arti yang berbeda. “Marong” dalam bahasa Jawa artinya = “menyala dan membara“, contoh : “genine wis marong” yang artinya “apinya sudah membara“. Sedangkan “Maron” artinya = “wadah dari tanah liat tempat nasi atau lauk pauk“. Kuat dugaan yang dimaksud adalah sebagai pusat pembuatan tembikar, terutama Maron. Atau apakah suatu wilayah yang mempunyai banyak tungku api yang “Marong” untuk membakar produk barang tembikar? Atau bisa jadi sebagai simbul kota “lumbung beras“. Peta Valentijn (1726) menggambarkan wilayah Pasuruan adalah tanah yang subur dan mempunyai lahan sawah padi yang luas.

Legenda Asal Usul Alternatif

Legenda Pelaut Siam

Ensiklopedia Hindia Belanda tahun 1939 (merujuk pada catatan De Vries, 1931) mencatat legenda tentang para pelaut Siam yang terdampar sekitar tahun 800 M. Putra Raja Siam bernama “Passara” konon memutuskan menetap di sana karena kesuburan tanahnya. Permukiman itu kemudian dinamai “Passarvan” atau “Passaroan” menurut namanya.

Legenda Pelaut Madura

Versi lain dari “Kitab Sedjarah Poro Leloehoer Die Pasoeroewan” menceritakan tentang seorang juragan perahu Madura bernama Pak Saraah yang selamat dari kecelakaan laut di Mandaran (sekarang nama Kelurahan di Kota Pasuruan). Tempat ia mendarat kemudian disebut Pa-sa-ra-ah atau Pa-sa-ra-an, yang kemudian karena “Ketelahing boso” berubah menjadi “Pasoeroewan“.

Pasuruan dan Suropati : Hubungan Simbiotik

Pasuruan sebagai Pusat Kekuasaan Suropati

Catatan H. J. Domis (1836) memberikan gambaran jelas tentang hubungan Pasuruan dengan pahlawan Untung Suropati:

“Pasoeroeang beserta Bangil berkembang pesat di bawah Soerapati, yang bergelar Wira Negara. Dia memiliki ‘dalem’ (istana/keraton) yang indah di kedua wilayah tersebut: di Pasoeroeang, di Kebon Agoong (Kotta Marong/Maron).”

Kematian Suropati di Pasuruan

Domis mencatat dengan rinci akhir hidup Suropati :

“Pada tanggal 11 Oktober, Belanda dan sekutunya muncul di Bangil… Soerapati kemudian meninggalkan tempat itu. Ia terluka di bahu… Karena lukanya makin parah, ia pun dibawa ke Pasoeroeang dan meninggal di sana tiga minggu kemudian, 15 November 1706. Ia dimakamkan di Mantjilang (Mancilan), di belakang Kebon Agoong.”

Kematian Suropati di Pasuruan ini mungkin yang memunculkan tafsir “Pa-sedah-an” (tempat kematian) oleh Hageman, meski secara linguistik dianggap sebagai interpretasi sekunder.

Pemantapan Identitas: Lambang dan Ejaan Resmi

Lambang Kota 1929 : Pengakuan Resmi atas “Suruh/Sirih”

Pada 16 September 1929, Gemeenteraad van Pasoeroean (Dewan Kota Pasuruan) secara resmi menetapkan Lambang Kota Pasuruan yang dirancang oleh A.C. Carlier. Lambang ini menampilkan:

  • Tiga daun suruh/sirih berwarna hijau dengan latar belakang emas
  • Benteng perak dengan tiga jendela melengkung
  • Singa dan harimau sebagai pembawa perisai

Pemilihan daun suruh/sirih dalam lambang kota merupakan pengakuan resmi terhadap tafsir “kebun suruh/sirih” sebagai asal usul nama Pasuruan.

Konsolidasi Ejaan : Dari Pasoeroean ke Pasuruan

Variasi ejaan nama Pasuruan sangat banyak dalam literatur, misalnya :

  • Pacaruam, Pasarvan, Passourouang (abad ke-17)
  • Passoeroeang, Pasoeroewan (abad ke-19)
  • Pasoeroean (awal abad ke-20), ejaan yang paling banyak dipakai dalam literasi era kolonial.

Disinyalir ejaan “P-a-s-u-r-u-a-n” mulai lazim digunakan di media resmi dan media massa sejak sekitar tahun 1949, bersamaan dengan konsolidasi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Namun inipun ternyata bukan ejaan yang sama sekali baru, tulisan “P-a-s-u-r-u-a-n” sudah digunakan oleh Sir Thomas Stamford Raffles dalam laporannya tahun 1830. Beberapa artikel di awal abad-20 atau 1900 awal sudah menulis sama persis seperti sekarang, dengan ejaan “P-a-s-u-r-u-a-n“.

Ejaan “Pasuruan” dalam laporan Sir Thomas Stamford Raffles tahun 1830.

Pasuruan dalam Konteks yang Lebih Luas

Jejak “Pasuruan” di Seluruh Nusantara

Nama Pasuruan ternyata tidak eksklusif untuk kota di Jawa Timur (sebagai nama Kota, Kabupaten dan Karesidenan). Berdasarkan data BPS 2013, terdapat beberapa desa bernama serupa di berbagai daerah, dalam era kolonial jelas lebih banyak lagi :

  • Desa dengan nama “Pasuruan” juga ada di Lampung Selatan (Sumatera) dan Cirebon
  • Desa dengan nama “Pasuruhan” ada di Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, Magelang, Pati, Kudus, dan Temanggung.

Keluarga Kata “Suruh/Sirih” dalam Toponimi

Lebih menarik lagi, berbagai varian nama tempat yang berasal dari kata “suruh” atau “sirih” tersebar di Jawa:

  • Pesuruhan (Kebumen)
  • Pasirian (Lumajang)
  • Kebon Sirih (Jakarta)
  • Suruh (Nama desa/dusun di Rejoso Pasuruan, Semarang, Trenggalek)
  • Suruhan (Tulungagung)

Penyebaran ini mendukung argumen Stutterheim, bahwa penamaan tempat berdasarkan tumbuhan adalah pola umum dalam tradisi masyarakat Jawa.

Desa/dusun “Soeroeh” di Rejoso Pasuruan. Peta tahun 1937.

Kesimpulan : Sebuah Nama sebagai Palimpsest Sejarah

Sintesis Bukti

Berdasarkan penelusuran berbagai sumber, Komunitas Sesuluh menyimpulkan:

  1. Bukti tertulis tertua (Negarakertagama, 1359 M) menyebut “Pasuruan” tanpa penjelasan etimologis
  2. Bukti linguistik paling kuat mendukung tafsir “kebun suruh/sirih” (Pa-suruh-an)
  3. Bukti arkeologis menunjukkan wilayah telah dihuni sejak era Mpu Sindok (abad ke-10)
  4. Bukti administratif berupa penetapan Lambang Kota (1929) mengukuhkan tafsir sebagai “daun suruh/sirih”
  5. Bukti historis menunjukkan “Kota Pasuruan” sebagai pusat kekuasaan Suropati (abad ke-17)

Pasuruan sebagai Entitas Multidimensional

Nama Pasuruan bukanlah entitas statis, melainkan palimpsest sejarah—seperti naskah kuno yang ditulis berulang kali, di mana setiap zaman menambahkan lapisan makna baru:

  • Lapisan Pra-Majapahit: Wilayah hunian dengan nama asli mungkin “Gembong
  • Lapisan Majapahit: “Pasuruan” muncul dalam catatan perjalanan Raja Hayam Wuruk,
  • Lapisan Pasca-Majapahit: Berkembang sebagai kota pelabuhan (“Groeda/Grouda/Garuda“)
  • Lapisan Suropati: Menjadi pusat kekuasaan dan tempat kematian Suropati (“Kota Marong/Maron“)
  • Lapisan Kolonial: Dikenal sebagai pusat ekonomi (“Pasar Uang“)
  • Lapisan Modern: Dikukuhkan sebagai “kebun suruh/sirih” melalui “Lambang Kota Pasuruan

Makna untuk Masa Kini dan Mendatang

Memahami sejarah nama Pasuruan memiliki relevansi kontemporer:

  1. Identitas Kultural: Memberikan fondasi historis untuk kebanggaan lokal
  2. Pariwisata Berbasis Sejarah: Mengembangkan narasi wisata yang kaya dan autentik
  3. Pendidikan Karakter: Menanamkan kesadaran sejarah pada generasi muda
  4. Perencanaan Kota: Menginformasikan pengembangan kota yang menghargai warisan sejarah

Epilog : Nama Pasuruan sebagai Warisan yang Hidup

Pasuruan adalah bukti bahwa nama sebuah tempat tidak pernah sekadar label geografis. Ia adalah narasi yang hidup, terus ditulis dan ditafsir ulang oleh setiap generasi. Dari daun suruh/sirih yang mungkin tumbuh subur di tanahnya berabad-abad lalu, hingga gemerlap pasar uang pada masa kolonial, dan heroisme Suropati yang membekas dalam ingatan kolektif—semuanya terkandung dalam tujuh huruf : P-A-S-U-R-U-A-N.

Ketika kita menyebut nama ini hari ini, kita tidak hanya merujuk pada sebuah kota di peta. Kita membangkitkan seluruh lapisan sejarahnya, menghidupkan kembali ingatan tentang tanah yang subur, pelabuhan yang ramai, perjuangan yang heroik, dan identitas yang terus bertransformasi.

Pasuruan mengajarkan kita bahwa memahami asal usul nama adalah langkah pertama dalam menghargai warisan, dan menghargai warisan adalah fondasi untuk membangun masa depan yang bermakna.


Artikel ini disarikan dari penelitian Komunitas Sesuluh Pasuruan berdasarkan kajian pada berbagai sumber primer dan sekunder dari abad ke-14 hingga ke-21.

Tim Sesuluh :

Pemantik : Rachmad Tjahjono
Pemateri : Achmad Budiman Suharjono
Moderator : Tengku Mirza
Notulis : Raga Rahmat Dani
Dokumentasi : Adib Ali Mustofa
Pendaftaran : M. Fatkhul Arifin

Postingan/Berita Terkait :

Sinau Bareng Sesuluh : Menyelusuri Jejak Sejarah Asal-Usul Nama Pasuruan