Caspar Georg Carl Reinwardt (1773–1854), adalah seorang ilmuwan Belanda kelahiran Jerman yang dikenal sebagai pendiri Kebun Raya Bogor (dahulu dikenal sebagai Lands Plantentuin te Buitenzorg). Sebagai ahli botani, kimia, dan sejarah alam, Reinwardt memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Belanda dan koloninya, termasuk Hindia Belanda. Kontribusinya tidak hanya membentuk kebun raya terkenal di Bogor, tetapi juga memperkaya koleksi botani di Eropa melalui ekspedisi dan penelitiannya. Berikut adalah kisah hidupnya yang penuh dedikasi terhadap ilmu pengetahuan.
Masa Muda dan Studi
Caspar Georg Carl Reinwardt lahir pada 3 Juni 1773 di Lüttringhausen, Prusia (sekarang bagian dari Jerman). Ia adalah anak dari Johann George Reinwardt dan Catharina Goldenberg. Keluarga mereka pindah ke Lennep, di mana Caspar menerima pendidikan awal dari ayahnya, yang meninggal dunia saat Caspar masih muda. Pamannya, Melchior Goldenberg, kemudian mengasuhnya dan menyekolahkannya di sekolah menengah di Lennep selama delapan tahun.
Ibunya, seorang wanita lembut dan penyayang, memainkan peran besar dalam pengasuhannya, dan Caspar mewarisi sifat-sifatnya yang membuatnya menjadi pribadi yang disukai banyak orang. Setelah kematian ayahnya, kakak tertuanya, Johann Christoph Matthias Reinwardt, pindah ke Amsterdam dan bekerja di apotek keluarga. Laporan positif dari kakaknya mendorong Caspar untuk pindah ke Amsterdam pada 1787, awalnya hanya untuk sementara waktu.
Di Amsterdam, Caspar magang sebagai apoteker dan bertemu dengan lingkungan ilmuwan di bidang kimia dan kedokteran. Terinspirasi oleh kakaknya yang aktif di kimia dan botani, Caspar memutuskan tinggal di sana. Ia belajar kimia dan botani di Athenaeum Illustre (pendahulu Universitas Amsterdam), di mana ia bertemu dengan profesor seperti Gerardus Vrolik, yang mengajar anatomi dan botani—bidang yang sangat diminati Caspar.
Profesor di Harderwijk
Pada usia muda, Reinwardt sudah menunjukkan keahlian di sejarah alam. Pada 1800, ia ditawari posisi profesor sejarah alam di Universitas Harderwijk setelah kematian Profesor Christiaan Paulus Schacht. Atas rekomendasi Vrolik, Reinwardt yang berusia 27 tahun menerima tawaran itu dan dianugerahi gelar doktor kehormatan. Ceramah perdananya berjudul Oratio de arbore quo historiae naturalis et imprimis Botanices cultures in sua studia ferentur.
Di Harderwijk, Reinwardt mendirikan institut ilmu pengetahuan alam dan memperluas minatnya ke sastra, bahasa Yunani, dan karya penulis Romawi. Ia menyebut periode delapan tahun ini sebagai masa paling menyenangkan dan produktif dalam hidupnya.

Mengabdi kepada Louis Napoleon dan Peran di Amsterdam
Pada 1808, Raja Louis Napoleon menunjuk Reinwardt sebagai direktur kebun raya, kebun binatang, dan museum sejarah alam yang direncanakan. Meskipun enggan, ia menerima dan mengelola koleksi kerajaan di berbagai tempat seperti Soestdijk, Haarlem, dan Amsterdam. Namun, rencana ini gagal karena Louis turun takhta pada 1810, dan Belanda dianeksasi oleh Prancis.
Pemerintah Prancis kemudian menunjuk Reinwardt sebagai profesor luar biasa kimia dan farmasi, serta profesor penuh sejarah alam di Athenaeum Illustre. Ceramah perdananya berjudul De Chemiae et Historiae Natularis studiis recte instituendis. Ia aktif sebagai editor jurnal, anggota perhimpunan ilmuwan, dan penasihat pertanian untuk raja-raja seperti Napoleon dan kemudian William I.
Perjalanan ke Hindia Belanda dan Pendirian Kebun Raya Bogor
Pada 1815, setelah Prancis diusir dan Raja William I naik tahta, Reinwardt bergabung dengan komisi kerajaan ke Hindia Belanda untuk memulihkan hubungan kolonial. Komisi ini dipimpin oleh Jenderal Elout, Baron VanderCapellen, dan Laksamana Muda Buyskes. Peran Reinwardt adalah memberikan nasihat ilmiah di bidang pertanian, kedokteran, dan pendidikan.
Meskipun ragu meninggalkan Belanda, Reinwardt tertarik menjelajahi alam “Timur“. Ia berangkat pada 29 Oktober 1815 dan tiba di Batavia enam bulan kemudian. Di sana, ia menjadi direktur urusan pertanian, ilmu pengetahuan, dan seni. Tanpa menunggu instruksi, Reinwardt mendirikan Kebun Raya di Buitenzorg (Bogor) pada 1817, dengan tujuan membudidayakan tanaman dan melakukan penelitian. Ia melakukan ekspedisi ke berbagai wilayah, mengumpulkan tanaman, hewan, dan artefak yang dikirim ke Belanda, meskipun banyak yang hilang dalam perjalanan.
Reinwardt juga memberikan nasihat di pertanian, industri, dan kedokteran. Meskipun mengalami kemunduran seperti hilangnya pengiriman akibat badai, ia terus bekerja keras, termasuk ekspedisi ke Pegunungan Preanger, Salak, dan Gedeh.
Kembali ke Leiden dan Pernikahan
Pada 1819, Reinwardt ditawari posisi profesor botani di Leiden setelah kematian Sebald Justinus Brugmans. Ia setuju tetapi tetap di Hindia Belanda untuk menyelesaikan pekerjaan, termasuk ekspedisi ke Timor, Maluku, dan Sulawesi. Ia kembali ke Belanda pada Juni 1822 dan memberikan ceramah pengukuhan pada 22 Mei 1823 berjudul Oratio de augmentis quae historiae naturaliex Indiae investigasieaccesserunt. Di Leiden, ia mengajar kimia, herbologi, dan sejarah alam, serta menjadi direktur Hortus Botanicus.
Tak lama setelah kembali, pada 26 Juni 1823, Reinwardt menikahi Johanna Henrietta Catharina van IJsseldijk (sekitar 1784–1854), janda dari Joan Calkoen. Mereka mungkin bertemu di Jawa.

Kehidupan di Leiden dan Kontribusi Ilmiah
Di Leiden, Reinwardt fokus pada pengajaran dan penelitian, meskipun kesehatannya terganggu oleh ekspedisi sebelumnya. Ceramahnya populer di kalangan mahasiswa. Ia menerbitkan katalog Hortus Botanicus pada 1831, yang mencatat 5.600 spesies setelah penambahan tanaman dari Timur Jauh oleh Von Siebold.
Sayangnya, Reinwardt tidak pernah menerbitkan catatan lengkap tentang pengalamannya di Hindia Belanda. Catatan hariannya tentang perjalanan 1821 diterbitkan posthumously pada 1858 oleh W.H. de Vriese dengan judul Reis naar het oostelijk deel van den Indische archipel in het jaar 1821, yang juga memuat biografinya.

Keanggotaan dan Penghargaan
Reinwardt aktif di berbagai perhimpunan: Provincial Utrecht Society of Arts and Sciences (1802), Holland Society of Sciences (1805), Libertate et Concordia (1811), Masyarakat Sastra Belanda (1823), Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia (1823), dan Akademi Seni dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda (1851).
Ia menerima gelar doktor kehormatan dari Harderwijk, Ksatria Orde Singa Belanda, dan penghormatan melalui nama genus tumbuhan seperti Reinwardtia, Nepenthes reinwardtiana, dan Reinwardtoena (genus merpati). Akademi Reinwardt di Universitas Seni Amsterdam, yang menawarkan program warisan budaya dan museologi, juga dinamai menurut namanya.

Pensiun dan Kematian
Reinwardt pensiun pada 1845 karena kesehatan yang menurun. Ia digantikan oleh W.H. de Vriese, yang menerbitkan manuskripnya Plantae Reinwardtianae. Reinwardt meninggal pada 6 Maret 1854 di usia 80 tahun. Surat kabar Leydse Courant memujinya sebagai teladan kelembutan dan dedikasi ilmiah tanpa mencari ketenaran.

Istrinya meninggal dua bulan kemudian pada 10 Mei 1854. Mereka dimakamkan di Pemakaman Groenesteeg, Leiden, di makam keluarga Collot d’Escury tanpa batu nisan yang bertahan.
Warisan Reinwardt tetap hidup melalui Kebun Raya Bogor, yang menjadi pusat penelitian botani hingga hari ini, serta kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan alam yang memperkaya pengetahuan dunia tentang flora dan fauna tropis.
Diterjemahkan dari artikel oleh :
Louis Kallenberg ( Maret 2020)
Sumber :
- AJ van der Aa: Caspar Georg Karel Reinwardt, Kamus Biografi Belanda, bagian 16, 1874, 219-222.
- D. van Delft, F.H. van Lunteren dan W. Otterspeer: Dari Kabinet ke Taman Sains – 200 Tahun Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 2015, Leiden.
- J. Geel: Biografi Casper Georg Carl Reinwardt, Buku Tahunan Masyarakat Sastra Belanda, 1854, 87-93.
- MJ Sirks, Caspar Georg Carl Reinwardt, Kamus Biografi Belanda Baru, 1137-1138.
- Situs web: https://nl.wikipedia.org/wiki/Caspar_Georg_Carl_Reinwardt

