Sekolah Kedokteran Hindia Belanda di Surabaya, atau disebut N.I.A.S. (Nederlandsch Indische Artsen School), dibuka pada 15 September 1913. Di sebuah rumah yang disewa sementara di Kedungdoro. Tentu saja, akan ada bangunannya sendiri nanti, dan meskipun belum ada yang pasti tentang hal ini, kami percaya bahwa bangunan tersebut akan berdiri di atas lahan milik perusahaan konstruksi “Kepoetran“.

Dibukanya N.I.A.S. merupakan langkah maju yang penting dalam sejarah perkembangan Hindia Belanda pada umumnya dan bidang medis pada khususnya. Hingga saat itu, hanya orang pribumi yang berkesempatan untuk belajar kedokteran di negeri ini. Sedangkan ras lainnya (Eropa dan China) harus pergi ke Belanda untuk mendapatkan gelar dokter. Selain itu, hanya calon pejabat pemerintah yang dididik di S.T.O.V.I.A., sehingga kesempatan untuk belajar kedokteran di dalam negeri sangat terbatas.

Hal ini berubah dengan berdirinya N.I.A.S. Mahasiswa dari semua daerah dan ras, baik pria atau wanita akan diterima di lembaga ini. Mereka akan dapat belajar di sana dengan biaya sendiri, tetapi mereka juga akan dapat belajar di bawah kontrak (ikatan dinas).

Yang pertama, yaitu mahasiswa yang bebas (bukan ikatan dinas), tentu saja harus membayar biaya kuliah tertentu. Untuk saat ini, biaya tersebut ditetapkan sebesar f 10 per bulan. Sementara mereka juga harus mengurus sendiri buku-buku dan perlengkapan sekolah. Di sisi lain, murid-murid yang berkomitmen untuk mengikuti ikatan dinas, akan mendapatkan pendidikan gratis. Selain itu, buku-buku dan perlengkapan sekolah yang diperlukan akan disediakan secara gratis. Pemerintah juga akan memberikan tunjangan untuk biaya makan, pakaian, dan akomodasi. Ini karena tidak disediakannya asrama untuk para mahasiswa. Tunjangan ini berjumlah f 22,50 per bulan untuk tahun-tahun pertama studi.

Untuk dapat diterima dalam ikatan dinas ini, para kandidat harus berjanji untuk mengabdi kepada pemerintah. Yaitu selama beberapa tahun tertentu setelah menyelesaikan studinya, seperti yang saat ini ditetapkan untuk para mahasiswa S.T.O.V.I.A.. Namun, mereka dapat diberhentikan dari ikatan dinas dengan membayar sejumlah uang, jika tidak ada keberatan dari pemerintah. Masa kerja ini saat ini berlangsung selama 10 tahun untuk mahasiswa S.T.O.V.I.A., bila masa studi tidak melebihi 9 tahun. Masa ikatan dinas, akan ditambah satu tahun untuk setiap tahun masa studi yang lebih lama. Jumlah yang harus disetorkan adalah f 5800.

Syarat Masuk

Siswa hanya dapat diterima di N.I.A.S. setelah lulus ujian Bahasa Belanda dan ilmu matematika. Untuk dapat mengikuti ujian ini, mereka harus menyerahkan bukti-bukti berikut :

  1. Akta kelahiran, atau jika tidak ada, surat keterangan yang dikeluarkan oleh Kepala Pemerintah Daerah setempat. Ini harus menunjukkan bahwa mereka telah mencapai usia 12 tahun, tetapi belum mencapai usia 17 tahun;
  2. Surat pernyataan yang menunjukkan bahwa mereka memiliki tubuh yang sehat dan tidak memiliki cacat fisik;
  3. Surat pernyataan dari kepala sekolah tempat mereka bersekolah. Yang menyatakan bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan kelas 7 (tertinggi) di sekolah dasar Eropa dan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk belajar;
  4. Surat pernyataan bahwa mereka memiliki karakter moral yang tidak tercela, yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah di mana mereka tinggal selama dua tahun terakhir;
  5. Surat keterangan bahwa mereka telah berhasil divaksinasi atau pernah menderita cacar air;
  6. Untuk calon Kristen, surat keterangan (surat baptis) yang menunjukkan bahwa mereka menganut ajaran Kristen;
  7. Jika mereka ingin belajar dengan ikatan dinas, sebuah pernyataan yang disahkan oleh kepala pemerintah setempat. Di mana mereka berkomitmen untuk mengabdi kepada negara selama setidaknya 10 tahun berturut-turut setelah dianugerahi gelar dokter Hindia Belanda. Dan untuk mengikuti setiap tujuan yang ditugaskan kepada mereka oleh pemerintah selama seluruh periode pelayanan mereka. Dengan tambahan bahwa untuk setiap tahun masa studi yang diperpanjang, komitmen tersebut diperpanjang satu tahun. Surat pernyataan ini harus ditandatangani bersama oleh ayah atau wali dari calon peserta.

Untuk saat ini, pendidikan akan mengikuti jalur yang sama dengan S.T.O.V.I.A. Namun, berbagai perubahan akan dilakukan, yang seiring berjalannya waktu telah terbukti diperlukan di lembaga yang terakhir. Sebagai akibatnya total durasi kursus akan diperpanjang menjadi 10 tahun (di S.T.O.V.I.A. saat ini 9 tahun).

Prospek Karir

Setelah para siswa berhasil menyelesaikan seluruh sekolah dan lulus ujian akhir, mereka dipromosikan menjadi dokter Hindia Belanda. Ijazah ini memberikan mereka hak untuk melakukan praktik kedokteran, bedah dan kebidanan secara penuh di Hindia Belanda. Mereka dapat :

  1. Diterima sebagai pegawai negeri, dengan syarat-syarat yang sama seperti yang berlaku bagi Dokter pribumi.
  2. Menetapkan diri mereka sebagai dokter yang berpraktik;
  3. Bergabung dengan perusahaan swasta, dll.

Khususnya di bidang ini, masa depan mereka tentu saja tidak boleh diabaikan. Sebagai hasil dari perkembangan pertanian dan industri yang luar biasa di Hindia Belanda, permintaan akan bantuan medis meningkat. Saat ini, gaji minimum yang dibayarkan oleh perusahaan swasta kepada para dokter pedalaman sudah mencapai minimal f 350 per bulan. Rata-rata f 500 hingga f 600 per bulan. Ditambah dengan berbagai tunjangan seperti perumahan gratis dan sejenisnya, sementara mereka diizinkan untuk melakukan praktik tambahan dalam jumlah tertentu. Ada sejumlah dokter-dokter di pedalaman yang menerima hingga f 800 per bulan. Menurut perhitungan, penurunan dalam hal ini tidak dapat diharapkan untuk waktu yang lama.

Prospek bagi dokter pribumi yang bekerja di pemerintahan adalah gaji awal sebesar ƒ 150 per bulan. Dan kenaikan gaji tiga tahunan sebanyak ƒ 25 per bulan. Untuk mengatasi pengurangan ini (pindah ke swasta), pada prinsipnya telah diputuskan untuk meningkatkan prospek karir mereka. Mengakibatkan peningkatan remunerasi akhir menjadi NLG 450 per bulan setelah 25 tahun bertugas.

Ketika mempertimbangkan relatif rendahnya remunerasi resmi dokter Pribumi dibandingkan dengan gaji swasta. Harus diingat bahwa mereka tidak hanya menerima seluruh pelatihan secara gratis, namun juga menerima perumahan dan perawatan dengan biaya Pemerintah.

Materi Pelajaran

Pendidikan pada jurusan persiapan meliputi mata pelajaran : bahasa Belanda, matematika (aritmatika sampai dengan dan termasuk logaritma, aljabar sampai dengan persamaan derajat kedua, geometri bidang, prinsip stereometri dan trigonometri bidang). Prinsip geografi (khususnya Hindia Belanda), menggambar tangan, senam dan menyanyi.

Para mahasiswa N.I.A.S. belajar di ruang kelas baru di Karang Menjangan.

Mata pelajaran terakhir ini tidak lagi termasuk dalam program N.I.A.S. dan tidak lagi diajarkan di S.T.O.V.I.A. Departemen kedokteran enam tahun mengajarkan : bahasa Belanda, Jerman, matematika, kimia dan fisika, zoologi tumbuhan, anatomi deskriptif dan bedah, fisiologi dan teori jaringan, patologi umum dan khusus serta terapi dengan teori penelitian fisika-kimia di ranjang sakit, teknik analisa dan pembedahan patologi umum dan khusus, pembedahan dan pembalut umum, khusus dan operatif, ilmu kebidanan, penyakit kelamin, oftalmologi, kedokteran forensik, prinsip dasar ilmu kesehatan, farmakognosi dan farmakodinamik, teori peresepan obat, sediaan farmasi dan keperawatan. Bahasa Jerman menjadi bahasa yang penting, karena banyak literasi kedokteran yang ditulis dalam bahasa Jerman.

Satu-satunya keberatan terhadap ijazah ini, setidaknya untuk saat ini, adalah bahwa ijazah ini tidak memberikan hak untuk diangkat ke jabatan-jabatan nasional tertentu. Seperti jabatan Pegawai Dinas Kesehatan dan semua jabatan sipil, kecuali jabatan sebagai Dokter pribumi. Untuk jabatan-jabatan ini diperlukan ijazah kedokteran Belanda (dokter-dokter dengan ijazah Eropa lainnya juga dapat diangkat). Jika dokter lulusan Hindia ingin diterima di posisi ini, mereka harus berusaha untuk lulus dua ujian terakhir di Belanda, yang dapat mereka lakukan dalam waktu 1,5 tahun.

Namun, ada kemungkinan bahwa posisi-posisi ini secara bertahap akan dibuka juga untuk dokter-dokter Hindia Belanda. Pendidikan kedokteran di S.T.O.V.I.A. sudah sangat maju, ujian akhirnya bahkan mencakup area yang lebih luas daripada ujian dokter di Belanda. N.I.A.S. memiliki kurikulum yang sama dengan S.T.O.V.I.A. saat ini dalam hal pendidikan kedokteran yang sebenarnya, sementara pendidikan persiapan sangat diperluas. Perkembangan bertahap ini, pada akhirnya akan mengarah pada penghapusan pembagian antara tenaga medis yang dilatih di Belanda dan di Hindia.

Pembangunan Gedung

Gedung ini terletak di Karang Menjangan (ada juga yang menyebut di Pacar-Keling) di ujung jalan Viaduct di Surabaya; di sana, sebidang tanah yang sangat luas telah disediakan untuk bangunan N.I.A.S., yang akan dibangun pada waktunya. Awalnya situs ini berupa rawa dengan air asin dan kemudian ditinggikan sedikit dengan pasir dan puing-puing.

Sejauh ini, hanya bangunan utama yang telah selesai dibangun. Selain auditorium dan perpustakaan, bangunan ini hanya berisi ruang kelas untuk pendidikan persiapan dan ruang kelas untuk pengajaran botani dan zoologi. Meskipun fondasi telah diletakkan untuk tiga bangunan di mana kimia, anatomi dan fisiologi akan diajarkan. Pembangunannya telah dihentikan selama beberapa tahun. Bangunan utama memberikan kesan yang mengesankan. Dibangun dalam bentuk persegi panjang, dindingnya berwarna putih cerah dan keseluruhannya dimahkotai oleh atap genteng berwarna merah terang.

Gedung baru N.I.A.S di Karang Menjangan, yang pembangunannya pernah terbengkalai bertahun-tahun.

Memasuki gedung, pertama-tama kita akan menemukan auditorium yang luas, di belakangnya terdapat perpustakaan. Di sayap kanan terdapat enam ruang kelas, di samping ruang tamu. Di sayap kiri terdapat ruang kelas untuk pengajaran botani dan zoologi, ruang konferensi, ruang direktur, ruang gelap dan arsip.

Terlihat jelas bahwa seluruh bangunan dibangun dengan dana dari para dermawan. Sebagai contoh, auditorium memiliki jendela kaca patri yang menggambarkan lambang Batavia dan Surabaya. Sementara sebagian dindingnya ditutupi dengan dekorasi dan ubin.

Auditorium (Aula) N.I.A.S yang legendaris, pernah ambles dalam proses pembangunannya.

Seperti diketahui, seluruh pendidikan sebelumnya diberikan di gedung-gedung primitif di Kedongdoro. Dengan selesainya pembangunan gedung baru, hanya sebagian saja yang dipindahkan. Sehingga sebagian besar pendidikan masih harus diberikan di ruang-ruang kelas yang kurang memadai ini sampai gedung-gedung lainnya selesai dibangun. Demi kepentingan pendidikan, diharapkan hal ini tidak akan memakan waktu yang lama. (De expres, 02-05-1922)

Cukup lama sejak didirikan pada tahun 1913, N.I.A.S. memperoleh gedung barunya. Banyak kendala yang dihadapi dalam pembanguan gedung N.I.A.S, yang baru, diawali dengan pecahnya perang dunia I di Eropa dan kurangnya peralatan serta staf pengajar yang diperlukan. Di tahun 1917, beberapa ruang kelas untuk NIAS disediakan di rumah sakit umum pusat (CBZ di Simpang). Ada wacana menghapus kelas persiapan yang selama 3 tahun, bahkan ada wacana untuk menghapus N.I.A.S. di Surabaya

Sangat disesalkan bahwa kondisi tanah tidak cukup untuk mendukung auditorium (aula) yang berat, sehingga segera setelah pembangunannya, tanah mulai ambles, membawa kedua sayapnya. Penurunan tanah lebih lanjut dicegah dengan memasang fondasi tiang pancang beton di bawah auditorium. Pada akhirnya baru pada lustrum kedua (10 tahun), yaitu di tahun 1923, bangunan baru N.I.A.S. di Karang Menjangan dapat digunakan.

Foto udara komplek NIAS di Karang Menjangan Surabaya tahun 1938.

Catatan Tambahan :

  • Ditunjuk sebagai direktur NIAS per 15 September 1913, adalah Dr. Adrianus Everdinus Sitsen, lahir di Vlissingen, 6 Januari 1877. Menjabat cukup lama hingga diberhentikan dengan hormat per 2 Juli 1927.
  • Angkatan pertama NIAS terdiri 22 orang, yang dipilih dari sekitar 60 orang kandidat. Mereka adalah ;1. Tjoe Hie Njio, 2. J. H. Kniphorst, 3. J. W. Grootings, 4. W. F. A. van den Brughen dan 5. F. Sleebos (perempuan) semuanya dari Surabaya;  6. K. Ph. de Beauvesier Watson (Buitenzorg), 7. W. van Dort (Bandung), 8. J. G. Zuideman (Jokjakarta), 9. Cyrillus (Banjermasin) 10. Ch. Melger (Sidoharjo) 11. Lie Tjing Gwan (Surakarta) 12. E. Maijer (perempuan) dan 13. J. Westerhuis (Salatiga), 14. R. Ch. E. Cooke (Semarang) 15. J. Th. Geway (perempuan) dari Lumajang, 16. Mas Mohamad (Blitar), 17. Raden Soeroto (Purworejo) 18. Mas Soetopo (Sidhoarjo), 19. Mas Soenjoto (Kediri) dan 20. Tan Tjoe Han (Weltevreden) 21. N. G. Stins (Sibolga) 22. Mohamad Jacob (Tg. Balei)
  • Pada tanggal 14 Agustus 1923, NIAS menghasilkan 3 orang dokter Hindia yang pertama, mereka adalah : J. M. H. Haye, J. C. Engelen dan J. W. Grootings. (De Indische courant, 17-08-1923)
  • 1 Juli 1928, dibuka STOVIT (School Tot Opleiding Van Indische Tandartsen) yaitu sekolah pelatihan untuk dokter gigi Hindia di NIAS.
  • Hingga tahun 1939, jumlah lulusan NIAS sudah berjumlah total 246 orang. (NIAS-STOVIT, Lustrum Almanak 1938)
  • Sekolah kedokteran N.I.A.S./STOVIT di Surabaya, adalah cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FKUA) yang ada sekarang. Salah seorang lulusan STOVIT, Dr. Moestopo, dikemudian hari diabadikan menjadi nama jalan di depan kampus tersebut.

Sumber : Berbagai artikel koran lama di delpher.nl, Lustrumnummer NIAS orgaan, 1913-1928, NIAS-STOVIT lustrum almanak 1938, 1938.

Sumber Foto : wereldmuseum.nl

Halaman depan buku Lustrumnummer NIAS orgaan, 1913-1928, 1928.
Sampul depan buku NIAS-STOVIT, lustrum almanak 1938, 1938.

Postingan Terkait :

Album Foto Sekolah Kedokteran NIAS Surabaya Tahun 1920-1925