Trah keluarga “Niti Adi Ningrat” sebagai bupati Pasuruan, yaitu 4 (empat) orang berturut-turut dari keluarga ini selama 135 tahun. Berakhir dengan wafatnya “Kanjeng Pangeran Ario Niti Adi Ningrat IV“, pada 20 Juli 1887.

Keluarga Mangkunegaran

Trah keluarga berikutnya adalah trah “Ario Soegondo”, putra dari mendiang “Pangeran Ario Mangkoe Negoro IV“. Biasa disebut “Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV“, merupakan saudara tiri dari “Mangkoe Negoro V” yang masih berkuasa waktu itu. Mangkoe Negoro IV adalah seorang filsuf dan pujangga besar. Dalam masa pemerintahannya, menulis kurang lebih 42 buku, di antaranya “Serat Wedhatama”, dan beberapa komposisi gamelan. Dalam bidang ekonomi dan bisnis, mendirikan Pabrik Gula “Colomadu” dan “Tasikmadu”, serta memprakarsai berdirinya “Stasiun Solo Balapan”.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (lahir pada tanggal 3 Maret 1811 – meninggal pada tahun 1881) adalah Adipati keempat Mangkunegaran yang memerintah dari tahun 1853 sampai 1881. Ayahanda dari bupati Pasuruan, R. M. A. A. Soegondo (1887-1902). Sumber : Wikipedia dan puromangkunegaran.com
K.R.M.Adipati Ario Soegondo.

Raden Mas Ario Soegondo, lahir di Surakarta pada 5 Desember 1852, sebagai putra ke-18 K.G.P.A.A. Mangkunagoro IV yg lahir dari garwo ampil (selir) : Mas Ajeng Banowati. Ditunjuk sebagai Bupati Pasuruan, pada 26 Oktober 1887. Mengawali karirnya di pemerintahan sebagai wakil jaksa di Kediri. Setelah itu wedono di Kertosono, Kabupaten Berbek, Karesidenan Kediri pada 15 Desember 1877. Diangkat menjadi Bupati Banyuwangi pada 2 Februari 1881, dan mendapat gelar resmi “Tumenggung”. Sejak saat itu berhak dipanggil dengan nama “Raden Tumenggung Ario Soegondo”. Jabatan yang dipegangnya selama sekitar 6-7 tahun.

Beliau dilantik secara resmi sebagai bupati Pasuruan, pada tanggal 18 Desember 1887.

Pemerintah awalnya mengalami kesulitan, dalam menentukan calon bupati Pasuruan yang baru. Karena dipandang dari kerabat bupati lama, tidak ada yang cocok untuk menduduki posisi penting ini. Dengan pertimbangan yang sangat cermat, akhirnya dipilihlah Ario Soegondo, salah satu putra bungsu pengeran, bukan anak bupati biasa. Istrinya juga mempunyai darah ningrat, cucu dari “Pakoe Boewono IX” dari seorang selir.

Pada tahun 1898, mendapat gelar “Adipati”, selanjutnya berwenang untuk menyebut dirinya dan ditulis sebagai “Raden Mas Adipati Ario Soegondo”.

R. M. A. Ario Soegondo juga seorang filsuf, mempunyai pengetahuan agama yang tinggi. Dari bakat yang diturunkan ayahnya, beliau juga menorehkan namanya dengan menulis karya sastra. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Serat Nitimani”. Sebuah buku pendidikan seks berdasarkan etika Jawa, masih tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Serat “Nitimani” karya R. M. A. A. Soegondo, masih disimpan di Perpustakaan Nasional RI. Sumber : Perpusnas RI

Konon di kabupaten ada salah satu ruangan, tempat beliau menyendiri atau menyepi, tempat beliau mendekatkan diri pada Tuhan YME. Jika beliau sudah di ruangan ini, tidak seorangpun boleh mengganggunya. Dalam wasiatnya sebelum meninggal, menyatakan keinginannya, agar tidak ada yang diubah di ruangan tersebut. Keinginan inilah yang menurut legenda, berlanjut hingga di tahun-tahun awal kemerdekaan. Entah ruangan mana di dalem kabupaten yang dimaksud, atau apakah ruangan ini masih terawat dengan baik sesuai dengan wasiat beliau.

Wafat

R. M. A. Ario Soegondo juga lazim disebut “Kanjeng Pangeran”, karena darah birunya tidak diragukan lagi. Setelah hampir 15 tahun berkuasa di Pasuruan, pada 24 Oktober 1902, beliau dikabarkan meninggal karena stroke. Dikebumikan dekat makam ayahandanya, di “Astana Girilayu”, Kabupaten Karanganyar – Jawa Tengah.

Mendiang R. M. A. Ario Soegondo sebelum wafatnya, sempat sakit selama 5 hari. Waktu itu Residen Pasuruan, G. J. P. de la Valette, sedang tidak ditempat (di Pasuruan). Karena sedang cuti selama sebulan dan dalam perjalanan ke Jogja, Banyumas dan Batavia.

Catatan yang menonjol dari almarhum bupati, adalah tanda jasa yang diberikan oleh pemerintah, seperti songsong kuning dan gelar Adipati. Membuktikan bahwa beliau telah banyak berjasa sebagai bupati Pasuruan. Sementara Raja Siam, selama kunjungannya ke Pasuruan, menghormatinya dengan memberi gelar Ksatria.

Jenazah bupati diangkut dengan upacara besar yang megah, pada Minggu pagi 26 Oktober 1902, dari pendopo kabupaten menuju ke setasiun kereta api. Di atas ranjang yang mewah dengan kereta tambahan, yang harganya lebih dari f 1000. Kepergiannya dikemas dalam gaya Eropa, ditemani oleh kerabat dan handai tolan lainnya. Kereta menuju ke Bangil dan kemudian ke Mojokerto. Tiba di Mojokerto dan berhenti sekitar pukul 7 pagi. Ditunggu oleh pejabat Asisten Residen, bupati dan para pejabat setempat lainnya. Sepasang karangan bunga yang indah ditempatkan di peti mati, di mana diletakkan empat lencana almarhum. Sekitar pukul setengah delapan kereta berangkat ke Solo, di mana jenazah dikebumikan dengan khidmat di makam keluarga Mangku Negoro di “Astana Girilayu”.

Komplek makam “Astana Girilayu”, Kabupaten Karanganyar – Jawa Tengah, tempat dimakamkan bupati Pasuruan R. M. A. A. Soegondo (1887-1902)
Makam K.R.M.A.A. Ario Soegondo di Astana Girilayu.

Bupati Baru

Desas-desus segera menyerebak di kalangan pribumi, siapa yang pantas menjadi bupati Pasuruan berikutnya. Disebut-sebut ada 3 calon kuat yang layak menggantikannya.

Calon pertama salah satu dari putra beliau sendiri. Ada dua yang layak menggantikan sang ayah (ada beberapa anak lain, bahkan yang sangat kecil). Yang tertua, Raden Mas Darso Soegondo, yang dibesarkan di Eropa dan sekarang Wedono Wirosari, di wilayah Kabupaten Grobogan Karesidenan Semarang. Putra yang lain, Raden Mas Darto Soegondo, mantan siswa sekolah OSVIA di Probolinggo, sekarang berpangkat Asisten Wedono, berada di suatu tempat di wilayah Malang.

Calon serius lain adalah Raden Bagoes Makhmoedun, putra mantan Bupati Probolinggo Raden Ario Soerio Ningrat. Juga cucu mendiang bupati Pasuruan, Pangeran Ario Niti Adiningrat, dia belum lama menjabat Wedono di Bulu LawangMalang.

Juga wedono di Puspo, Raden Kresno, cucu mendiang bupati Malang, menjadi calon ketiga yang dapat dipilih oleh Residen Pasuruan.

Residen Valette memiliki banyak hal untuk diperiksa dan dipertimbangkan. Sebelum dia dapat mengajukan tiga kandidat, seperti biasa yang menurutnya paling cocok untuk menjadi bupati. Kemudian juga harus mendengar saran dari Direktur Pegawai Dalam Negeri dan Dewan Hindia Belanda. Hingga akhirnya Gubernur Jenderal lah yang harus memutuskan.

Akhirnya pada tanggal 7 Februari 1903, pemerintah menunjuk secara resmi Wedono Wirosari, Raden Mas Darso Soegondo, sebagai bupati yang baru di Pasuruan. Mendapatkan gelar Tumenggung, selanjutnya berhak menyandang nama “Raden Mas Tumenggung Darso Soegondo”. Menjadi yang kedua dari “Trah Ario Soegondo”, yang menjabat sebagai bupati Pasuruan.

R. M. T. Darso Soegondo yang lahir pada 31 Januari 1876, digambarkan sebagai figur yang sempurna dari aristokrat Jawa. Tampan, ramping, serta anggun berwibawa, ketika berjalan kaki maupun diatas kuda. Sopan dan jenaka dalam percakapan, baik dalam jawaban maupun komentar. Sangat fasih berbahasa Belanda, dan berbicara tentang Belanda dan Jawa dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang tinggi.

Tahun 1907 mendapatkan gelar “Ario”, menjadi “Raden Mas Tumenggung Ario Darso Soegondo”. Dan tahun 1912 mendapat gelar “Adipati”, menjadi “Raden Mas Adipati Ario Darso Soegondo”.

R. M. A. A. Darso Soegondo diberitakan wafat secara mendadak pada 29 Juli 1914, dalam usia yang relatif muda 38 tahun. Bupati telah melakukan tur, dan merasa tidak enak badan tak lama setelah kembali ke rumah. Para dokter yang buru-buru dipanggil, menganggap perlu intervensi bedah yang mendesak, hasil diagnosanya adalah radang usus buntu. Pukul setengah 9 malam, menjalani operasi yang dilakukan oleh 3 orang dokter. Pada awalnya tampak bahwa operasi akan memiliki hasil yang baik. Tetapi kemudian kondisi pasien memburuk dengan tajam, dan 2 hari setelah operasi kematian terjadi. Pihak keluarga yang tidak senang, menduga adanya mal praktek, dan melaporkan kejadian ini ke Residen.

Jenazah dikebumikan di makam keluarga di Kebon Agung, dihadiri banyak kalangan dari pribumi maupun Eropa, untuk memberikan penghormatan terakhir. Makam ini disebut “Astana Kadipaten” berada di wilayah yang dulu bernama desa “Kadipaten” (peta 1912). Berada di lokasi pusat pemerintahan kuno kabupaten Pasuruan di era “Untung Suropati”, yang disebut dengan “Kota Marong”.

Makam keluarga bupati Pasuruan “Trah Ario Soegondo” di Astana Kadipaten, jalan Panglima Sudirman, Kebon Agung, Kota Pasuruan. Foto koleksi pribadi.
Makam keluarga bupati Pasuruan “Trah Ario Soegondo” di Astana Kadipaten
Desa Kadipaten di Kebon Agung Kota Pasuruan, tempat lokasi makam “Astana Kadipaten” pada peta 1912.

Sumber : dirangkum dari berbagai artikel koran di delpher.nl

Postingan Terkait :