Lebih dari satu abad sudah Gereja Katolik Probolinggo hadir di tengah kota ini (1924-2026). Dari masa ke masa, dari pastor ke pastor, dari umat ke umat, pelayanan itu terus mengalir. Mari kita sejenak mundur ke belakang, menyapa para perintis yang dulu memulai segalanya dari sebuah beranda rumah.
Pastor Henckens — Sang Perintis
Bulan Agustus 1923. Pastor Linus Henckens tiba di Probolinggo dengan hanya membawa buku brevir dan pakaian seadanya. Ia tidak tahu di mana ia akan menginap. Ia tidak tahu di mana ia akan merayakan Misa. Tapi ia tahu satu hal: di kota ini, ada umat yang haus akan firman. Ia berkeliling, mengetuk pintu demi pintu. Hingga akhirnya ia diterima oleh keluarga de Man, sebuah keluarga Eropa yang tinggal di Probolinggo. Mereka membuka rumah mereka—dan lebih dari itu, mereka membuka beranda dalam rumah mereka sebagai tempat misa pertama.
Pastor Henckens tidak hanya merayakan Misa. Ia juga mengajar katekismus di halaman sebuah sekolah. Bayangkan: anak-anak duduk lesehan di tanah, di bawah naungan pohon, karena tidak ada ruang kelas yang tersedia. Di tangan mereka, buku-buku katekismus yang sudah lusuh. Di hati mereka, rasa ingin tahu tentang iman yang baru mereka kenal. Dari mulut anak-anak itulah Pastor Henckens mendapatkan nama-nama dan alamat-alamat keluarga Katolik lainnya. Satu per satu, ia datangi. Satu per satu, ia undang untuk Misa hari Minggu.

“Gereja Darurat”
Pelayanan telah berjalan, tapi kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih layak mendesak. Pastor Henckens kemudian menyewa sebuah rumah tua di Heerenstraat (kini Jalan Suroyo). Rumah bergaya Hindia Belanda itu dibagi dua: ruang depan menjadi tempat tinggal para pastor, dan beranda belakang diubah menjadi gereja darurat (noodkerk).
Jemaat mulai bertambah. Setiap hari Minggu, bangku-bangku panjang disusun. Tapi selalu saja ada yang tidak kebagian tempat duduk. Yang muda berdiri di lorong. Yang tua rela di luar, menguping doa dari balik jendela.
Dan di samping gereja darurat itu, kadang ada latihan gamelan. Bila bertepatan dengan acara Misa, Pastor Henckens harus keluar, mengetuk pintu dan meminta mereka berhenti sejenak.
Pada awal September 1924, seorang uskup—Mgr. van Velzen—datang ke gereja darurat ini. Di tengah segala keterbatasan, ia memberikan Sakramen Krisma kepada 46 anak. Empat puluh enam! Itu pertanda bahwa di balik kesederhanaan, iman sedang bertumbuh subur.
Pastor Fischer Yang Terlupakan
Ada satu nama yang jarang disebut dalam pesta kemenangan pembangunan gereja: Pastor Fischer. Ia adalah pastor yang bertugas sebelum Pastor Henckens. Mungkin ia tidak sempat melihat gereja berdiri, atau bahkan tidak sempat merayakan misa di Probolinggo, tapi jasanya sangat besar :
Dialah yang membeli sebidang tanah di pusat kota dengan uang hasil kumpulan umat.
Lokasinya strategis dan di kawasan elite Heerenstraat. Tanah itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk sebuah gereja dan pastoran. Pastor Fischer mungkin tidak pernah membayangkan bahwa di tanah itulah kelak akan berdiri bangunan megah dengan menara menjulang.
Pastor Wouters — Pastor Pertama Probolinggo
Bulan Maret 1924. Dua pastor baru tiba di Hindia Belanda: Pastor Dillmann dan seorang pastor muda yang energik bernama Pastor Elias Wouters,O. Carm. Mereka segera dikirim ke Probolinggo. Pada 7 April 1924, Pastor Wouters resmi menerima jabatan sebagai Pastor Paroki Pertama Probolinggo. Ia bukan hanya seorang imam. Ia adalah seorang pembangun, administrator, guru, sekaligus motivator.
Moto hidupnya? “Zelo zelatus sum” — “Dengan tekun aku telah berjuang.” Kata-kata Nabi Elia ini ia ukir dalam setiap tindakannya. Ia melihat tanah yang dibeli Pastor Fischer. Melihat umat yang berdesakan di gereja darurat. Ia melihat anak-anak yang belajar katekismus di halaman terbuka. Dan ia berkata: “Sudah saatnya kita membangun.”

Batu Pertama Diletakkan
Arsitek Tuan M. H. Voets dari Surabaya ditunjuk merancang gereja. Gayanya modern, tegas, vertikal—berbeda dari gereja-gereja lain di Jawa. Panjang 21 meter, lebar 10 meter, dengan sebuah menara dan dua sayap samping yang gagah. Kapasitas 150 kursi.
Pada 17 Agustus 1924, bertepatan dengan hari yang kelak menjadi hari kemerdekaan Indonesia, peletakan batu pertama dilakukan. Pastor Kepala Malang (Prefek Apostolik), Mgr. Clemens van der Pas, O. Carm, memimpin upacara. Seluruh pejabat kota hadir: Asisten Residen van Doornik, Kontrolir, Bupati Probolinggo, bahkan Kepala Orang Arab.
“Apa arti sebuah paroki tanpa gereja? Apa arti sebuah gereja tanpa pastor?“ — demikian kata Mgr. van der Pas dalam sambutannya. Kurang dari empat bulan kemudian, gereja itu telah selesai.
Pentahbisan
Hari Minggu, 7 Desember 1924. Pagi itu, pintu gereja masih tertutup rapat. Sebuah prosesi panjang berjalan dari kejauhan: misdinar dengan lilin menyala, gadis-gadis berpakaian putih membawa bunga dan daun palem, para imam berjubah lengkap. Mereka berhenti di depan pintu. Doa-doa liturgi dinyanyikan. Ketika pintu dibuka, seluruh jemaat—yang sudah memenuhi halaman—terdiam. Gereja di dalamnya dihiasi dengan ribuan bunga. Altar utama berdiri megah. Harmonium baru siap dimainkan.
Paduan suara pria dari Malang menyanyikan misa a cappella karya Stehle. Suara mereka naik turun mengikuti kubah gereja. Mgr. van der Pas, O. Carm. merayakan Misa Kudus pertama. Dan di mimbar, Pastor Elias Wouters berdiri menyampaikan khotbah yang membakar semangat. Di antara jemaat yang hadir, tampak pula sang arsitek, Tuan Voets, yang tersenyum puas melihat karyanya berdiri megah dan telah diberkati.
Interior dan Eksterior
Ini adalah gereja pertama yang dibangun oleh para pastor Karmelit di wilayah misi mereka, maka sudah sewajarnya gereja ini dinamakan “Bunda Maria dari Gunung Karmel” (Onze Lieve Vrouw van den Berg Carmel) dan dengan demikian dipersembahkan kepada-Nya.
Lonceng-lonceng di menara diberi nama Elias dan Elizeus, kedua tokoh besar Karmel dari Perjanjian Lama. Lonceng terbesar dibaptis dengan nama Elias dan memiliki tulisan: “Elias, populum convocanti. Elizeus accedit.“ (Kurang lebih: Sementara Elias mengumpulkan umat, Elizeus memberikan bantuannya). Pada yang lainnya tertulis: “Elias et Elizeus sonantes conjuncti sunt“ yang berarti: “Elias dan Elizeus bersatu dalam bunyi lonceng.”
Di fasad gereja kita melihat lambang Karmel, diapit oleh dua patung besar dari kedua tokoh kuat dari Perjanjian Lama, kepada siapa pendirian Ordo sering dikaitkan. Memasuki bangunan gereja ini, kita akan melihat selain patung Bunda Allah dan Hati Kudus, sekitar 12 patung orang kudus yang ditempatkan di sepanjang dinding. Dari jubah cokelat dengan mantel putih yang anggun, orang langsung mengenali orang-orang kudus dari Ordo Karmelit.


Setelah Gereja — Lahir Karya Lain
Pastor Wouters tidak berhenti di gereja. Dia tahu bahwa iman harus dirawat melalui pendidikan dan pelayanan sosial. Pada Oktober 1925, para suster pertama dari kongregasi Onze Lieve Vrouw van Amersfoort (Bunda Maria dari Amersfoort) tiba di Probolinggo. Mereka langsung membuka sekolah.
- 6 Januari 1927: Sekolah Eropa dengan tiga kelas dibuka.
- Sebuah sekolah Fröbel (Taman Kanak-kanak) juga didirikan, melayani anak-anak Eropa, Tionghoa, dan pribumi tanpa diskriminasi.
- Dalam waktu singkat, sekolah Eropa itu berkembang menjadi enam kelas penuh.
- Didirikan pula panti asuhan dan poliklinik Sint-Melania yang melayani kaum miskin secara gratis.
Pertumbuhan sekolah-sekolah Katolik Probolinggo begitu pesat sehingga surat kabar De Indische Courant menulis: “Probolinggo memiliki sekolah-sekolah Katolik yang membuat kota lain yang lebih besar sekalipun patut iri.”
“Putri Tertua”
Dalam majalah Carmelrozen (sekitar 1935), tertulis:
“Meermalen betitelde haar Mgr. v.d. Pas z.g. aldus, omdat ze de eerste vaste standplaats werd in den Oosthoek van Java, in het gebied der Carmelieten; de eerste na Malang, dat al ‘n 25 jaar geleden was opgericht door de Paters Jesuiten. »Als eerste statie, gesticht door den Carmel, is Probolinggo de oudste dochter onzer Prefectuur«, zoo begon blijkbaar graag Monseigneur zijne herhaalde lofrede op deze parochie.”
Terjemahan:
“Berulang kali almarhum Mgr. van der Pas menyebutnya demikian, karena Probolinggo menjadi tempat kedudukan tetap pertama di ujung timur Jawa, di wilayah para Pastor Karmelit – yang pertama setelah Malang yang didirikan sekitar 25 tahun sebelumnya oleh para Pastor Yesuit. “Sebagai stasi pertama yang didirikan oleh Karmel, Probolinggo adalah putri tertua Prefektur kita,“ demikian Monseigneur suka mengawali pujiannya yang berulang-ulang untuk paroki ini.”
Makna dari Julukan Ini:
- Penghormatan kepada Probolinggo sebagai pelopor misi Karmelit di Jawa Timur.
- Gereja di Probolinggo adalah gereja pertama yang dibangun oleh Ordo ini.
- Pengakuan atas peran penting paroki ini dalam menyebarkan iman Katolik di wilayah timur.
- Kebanggaan karena dari Probolinggo, misi Karmelit berkembang ke stasi-stasi lain seperti Jember, Pasuruan, Bondowoso, dan Lumajang.
Mgr. Albers Datang — Gereja Terlalu Kecil!
Tahun 1935. Sebuah kunjungan yang mengagetkan. Mgr. A. Albers, Prefek Apostolik Malang yang baru, datang ke Probolinggo. Ia ingin melihat sendiri paroki yang konon tumbuh subur itu. Minggu pagi, ia merayakan Misa. Dan ia terkejut. Gereja yang dulu megah itu kini sudah terlalu kecil. Jemaat memenuhi setiap sudut. Ada yang berdiri di luar. Ada yang datang dari desa-desa sejauh puluhan kilometer.
“Ini adalah kejutan terbesar,” kata Mgr. Albers. “Saya bersukacita melihat bahwa jumlah umat Katolik di Jawa Timur terus bertumbuh.” Ia kemudian memberkati poliklinik Sint-Melania yang baru selesai dibangun. Dengan mata berbinar, ia berkata: “Pemberkatan pertama yang saya lakukan sebagai prefek apostolik adalah poliklinik ini. Karya Sint-Melania selalu dekat di hati saya.”
Lebih dari Seabad
Hari ini, Gereja Katolik Probolinggo mungkin telah banyak berubah. Bangunannya telah direnovasi dan diperluas, umatnya telah berganti beberapa generasi. Tapi fondasi yang diletakkan oleh mereka—Pastor Fischer, Pastor Henckens, Pastor Wouters, para suster, dan umat awam yang setia lainnya—tetap kokoh.
Dan hingga kini, gereja itu masih berdiri. Bukan hanya sebagai bangunan bersejarah, tetapi sebagai monumen hidup dari sebuah kalimat yang diucapkan pada tahun 1924 : “Apa arti sebuah paroki tanpa gereja? Apa arti sebuah gereja tanpa pastor?“ Kini, pertanyaan itu telah terjawab.

Sumber primer:
- De Preanger-bode (15 Agustus 1924)
- Nieuwe Haarlemsche Courant (12 Januari 1925)
- Carmelrozen, jrg. 14, no. 1 (Mei 1925) — artikel “Onze Nieuwe Kerk te Probolinggo” oleh Pastor Linus Henckens
- De Indische Courant (8 Juli 1935 & 7 Mei 1935)
*) Artikel ini ditulis untuk pelestarian sejarah lokal dan dapat disebarluaskan untuk tujuan pendidikan.
Postingan Terkait :
Kisah Para Suster Probolinggo : Derita di Era Rezim Jepang dan Badai Revolusi (Bagian I)
Suster Vs Kempeitai : Kasus Australia, Insiden Bendera dan Diusir Dari Probolinggo (Bagian II)

