Kerajaan Besar

Sekitar tahun 1000 M, kerajaan Singosari kuno dengan populasi padat di tanah yang subur menikmati masa kejayaannya yang besar. Hingga sekitar tahun 1450 M, masih ditemukan wilayah yang makmur itu di sana.

Ketika kerajaan Mojopahit ditaklukkan oleh orang-orang Islam pada sekitar tahun 1400 M. Patih dari Mojopahit melarikan diri ke wilayah Malang dan mendirikan kerajaan Hindu yang merdeka di sini, yang dibawa oleh putranya ke kemakmuran besar.

Banyak dari sisa-sisa benteng itu yang masih dapat ditemukan di banyak hutan dan di petak-petak lahan. Memberikan kesaksian yang menakjubkan akan kebesaran kerajaan ini. Tembok benteng besar yang mengelilingi seluruh kerajaan itu dimulai dari Pantai Selatan, melewati puncak Gunung Kawi, lalu ke desa Porong di Lawang. Dari sana ke arah timur ke Tengger melewati Lautan Pasir, melintasi Semeru, hingga berakhir kembali di Pantai Selatan. Benteng yang besar ini tentu hanya bisa dibangun oleh suatu kerajaan yang berpenduduk besar dan makmur.

Markas besar kerajaan ini terletak di tempat dimana kota Malang sekarang berada. Di sebuah belokan Kali Brantas, sebuah benteng dibangun, yang disebut Kuto Bedah, yang reruntuhannya sekarang dapat ditemukan di Kampung Kuto.

Si Bungkuk

Dalam hari-hari yang penuh gejolak dari kerusuhan dan peperangan saat itu, antara Patih dari Mojopahit dan Sultan Islam dari Demak. Bertempat tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana dekat ibukota, seseorang yang dianggap aneh …

Karena cacat badannya yang melengkung ia dijuluki “Si Bungkuk”. Diejek-ejek oleh banyak anak-anak dan para pemuda yang sombong. Ia pun ditertawakan oleh banyak gadis dan wanita yang bertemu dengannya, karena penampilannya seperti monster yang lucu. Dengan kesedihan hati dan kebenciannya terhadap dunia yang mentertawakannya, ia pindah dan menetap di sebuah pertapaan yang terpencil. Di sana ia tinggal di sebuah gubuk kecil dengan sebidang tanah di sekitarnya. Dimana dari tanah itu dapat memperoleh beras dan sayur-sayuran, juga ikan yang bisa ia tangkap di kali terdekat. Dengan begitu dia bisa hidup tenteram dan menemukan kedamaian di lingkungannya yang tenang.

Sultan Demak yang beragama Islam tiba dengan pasukan yang besar untuk memasuki benteng Kuto Bedah. Benteng dan kota kemudian dihancurkan oleh pasukan musuh. Si bungkuk juga harus segera melarikan diri, jika tidak ingin jatuh ke tangan para penyerang. Dia kemudian melarikan diri ke Wendit, sebuah tempat di antara dua danau besar. Sehari-hari ia mencari nafkah sebagai tukang pembawa air. Karena kebaikannya dan kehidupannya yang dermawan, ia dihormati dan dihargai oleh semua orang di daerah itu. Di samping itu, ia menyiapkan ramuan obat untuk orang sakit dari akar dan daun-daun tanaman herbal.

Dalam salah satu pengembaraannya di hutan untuk mencari tanaman obat, dia menemukan sebuah mata air yang jernih. Di sana ia membasuh kakinya yang lelah, yang terluka oleh alang-alang dan duri yang tajam, dan lihatlah! … Dia baru saja menarik kakinya keluar dari air, ketika semua luka dan goresan telah hilang! Dalam perjalanan pulang dia berpikir : “Saya akan merahasiakan sumber itu. Saya bisa menghasilkan banyak uang dengan air dari sana.” Maka namanya pun dikenal hingga ke desa-desa yang paling terpencil sekalipun. Ia disebut tukang air yang “suci”, karena ia mampu menyembuhkan luka dan bisul yang paling ganas dengan air biasa.

Gambar lukisan Wendit adalah litografi karya Abraham Salm tahun 1872, sumber : wereldmuseum.nl

Tiga Gadis

Di antara banyak pengunjung yang diterima si bungkuk adalah tiga perempuan bersaudara : Kariati, Abdiah dan Sukanti. Mereka adalah anak seorang ayah yang sakit di sebuah desa, yang menderita lumpuh total akibat luka-luka yang diderita selama pertempuran di Kuto Bedah. Penyakit lumpuhnya itu lama tidak kunjung sembuh juga. Banyak dukun yang sudah berupaya menyembuhkannya, namun sejauh ini tidak seorangpun yang berhasil. Ketika hampir putus asa, ia akhirnya mendengar adanya tentang tukang air yang “suci” itu. Dia mengirim putri sulungnya Kariati, untuk mengunjungi tukang air untuk meminta “air ajaib” yang terkenal.

“Kita tidak punya banyak uang,” kata ayah yang sakit kepada putrinya. “Kenakan pakaian terbaikmu, berbaik hatilah kepada si tukang air dan katakan padanya bahwa segera setelah aku sembuh dan bisa bekerja kembali, aku akan membalas segalanya nanti.”

Kariati dengan berpakaian indah, dengan kendi dari tembaga di dalam selendang, melanjutkan perjalanan panjang menuju Wendit. Ketika dia tiba, si tukang air begitu terpesona dengan kecantikannya, sehingga lelaki itu berkata dari bibirnya: “Aku akan memberimu air, jika kamu bersedia menjadi istriku.”

“Dasar bodoh sekali,” pikir Kariati. Dia merasa dengan sosok cantiknya, mau diperistri oleh seseorang yang mirip monster? Kemudian sambil menertawakan si bungkuk: “Tidak, terima kasih! Tapi, kudengar kau orang yang kaya… yang kuinginkan hanyalah kereta dan kuda. Saya kemudian bisa pulang dengan itu, karena saya sama sekali tidak suka berjalan kaki!” Baru saja selesai dia mengucapkan kata-kata ini, tepat di depannya telah berdiri benda apa yang dia inginkan. Tanpa memikirkan asal usul kedatangannya, dia segera menaiki kereta kuda ini. Kuda itu dengan bergegas menarik keretanya dan berlari dengan liar. Ia tidak lagi dapat dikendalikan dengan tali kekang, maupun jeritan ketakutan gadis itu. Gaunnya terkoyak-koyak oleh ranting-ranting yang menggantung rendah, tanaman merambat, dan rotan berduri dari hutan tempat kereta kuda itu lewat. Disuatu tempat rodanya menabrak batu gunung yang besar! Kereta itu terbalik dan terjatuh bersama muatan dan kudanya ke pohon Manggis yang besar. Kuda maupun penumpangnya terbunuh seketika…

Khawatir akan lamanya putri sulungnya belum pulang, sang ayah yang sakit mengirim anak keduanya, Abdiah, ke Wendit. Gadis ini yang juga berpenampilan menawan, menghiasi dirinya sebelum perjalanan dan membawa serta kendi dari tanah liat. Namun, dia mendapati si tukang air tertidur di baleh-balehnya, membelakanginya. Alih-alih menunggu dengan sabar sampai lelaki itu bangun, atau bersikap baik dan sopan padanya, seperti yang diperintahkan ayahnya. Dia mengambil sepotong besar lumpur tanah liat dan melemparkannya ke lelaki yang sedang tidur itu. Tepat mengena di punggung bungkuknya, tanah liat itu menempel disana. Karena si bungkuk tidak bergeming, dia terus melemparinya dengan tanah liat.

Sang tukang air akhirnya terbangun dengan kaget, tepat di depan matanya berdiri Abdiah yang tertawa terbahak-bahak melihat sikap bingungnya.

Tidak sadar bahwa dialah yang bersalah, tapi tukang air itu terpikat oleh mata indah Abdiah, pria itu kemudian berkata : “Oh, betapa cantiknya kamu!”

“Cantik atau tidak, aku butuh air darimu untuk ayahku yang sakit,” gadis itu memotong pujiannya. Dan lagi-lagi Abdiah tertawa melihat bongkahan tubuh lucu yang terkena tanah liat itu.

“Kamu bisa mendapatkan air jika kamu menjadi istriku,” jawab si bungkuk, senang melihat kecantikan gadis itu.

Kini mulut Abdiah berubah menjadi senyuman mengejek dan dengan sombongnya dia berkata : “Aduh, jangan bodoh sekali! Aku akan menari untukmu jika kamu mau, tapi… menikah denganmu… terima kasih ya!” Demikianlah kata-kata ini terucap. Seolah-olah dicengkeram dan dipaksa bergerak oleh suatu kekuatan tak kasat mata, Abdiah mulai menari. Gerakan tubuhnya menjadi semakin cepat. Tariannya menjadi semakin liar, berputar-putar seolah angin puting beliung membawanya pergi. Semakin jauh dia pergi, berputar dan terus berputar. Ikat rambutnya lepas dan rambutnya tergerai di sekitar kepalanya yang berputar seperti kipas. Dia tidak bisa melihat apa-apa lagi, dia ingin berhenti tapi dia tidak bisa. Dia bahkan tidak tahu lagi dimana dia berada dan dia masih merasakan dirinya menari-nari dengan gerakan berputar. Dengan kecepatan seperti itu dia akhirnya menabrak sebuah pohon Blimbing dan hancur!

Bertemu Jodoh

“Sukanti,” kata ayah yang prihatin itu kepada putri bungsunya beberapa hari kemudian, “kamu sekarang pergilah menemui orang “suci” di Wendit. Kepulangan Kariati dan Abdiah sudah lama kita nantikan. Saya khawatir kecelakaan menimpa mereka berdua.”

Taat seperti biasa, Sukanti, putri tercantik dari ketiga putri itu, menuruti keinginan ayahnya. Tidak ada pakaian bagus yang tersisa, jadi dia pergi ke Wendit dengan pakaian yang sangat sederhana dan sebatang bambu.

“Lihatlah, wahai orang suci,” dia memohon pada si bungkuk, “ayahku yang malang sedang sekarat. Hanya kamu yang bisa menyelamatkannya jika kamu memberiku air untuk lukanya.”

“Gadis cantik,” jawabnya, “Aku akan memberimu air, demi kebahagiaan dan kesejahteraan ayahmu, jika kamu juga membahagiakanku dengan menjadi istriku.”

“Oh, aku ingin menuruti semua yang kamu minta,” kata Sukanti dengan rona pipi memerah, yang membuat wajah manisnya semakin menawan.

Senang dengan jawaban tak terduga ini, si bungkuk segera memenuhi batang bambu besar dengan air dari mata air yang suci dan bahkan menemani calon pengantinnya pulang.

Mereka berdua hampir tidak membiarkan diri mereka beristirahat sepanjang perjalanan. Masing-masing dipenuhi dengan perasaan bahagia dan ketika malam telah tiba dan bulan sudah tinggi, mereka masih terus berjalan…

Pemuda Tampan

Ayam jantan terdengar mulai berkokok di sana dan fajar baru mulai menyingsing dari Timur. Ketika sinar matahari pertama menyinari pagi yang indah itu dengan cahaya keemasan. Sukanti tidak lagi melihat seorang laki-laki jelek di sampingnya, tidak ada lagi si bungkuk dan tidak ada lagi monster, melainkan… seorang pemuda yang tegap dan tampan!

Tampak terkejut, si bungkuk menjelaskan perubahan itu padanya. “Roh jahat telah membuatku menjadi bungkuk.”

Tukang air kemudian mengakhiri ceritanya, “dan dia berkata bahwa aku akan menjadi orang normal lagi jika aku bisa mendapatkan gadis tercantik di negeri ini sebagai istri. Sekarang aku telah berhasil !”

Setelah ayah Sukanti sembuh total, putrinya yang cantik kemudian menikah dengan tukang air. Dia membawa istri dan ayah mertuanya bersamanya ke rumahnya yang indah, jauh di gunung Arjuno. Kawasan itu begitu indahnya, sehingga ketiga orang yang bahagia itu berseru, “Oh indahnya, itu hampir membuatku melupakan jiwaku!”

Dan sampai saat ini masih kita temukan daerah yang dinamakan “Lalijiwo”, yang artinya “melupakan jiwa”, yang berada di dekat puncak Arjuno.

Tempat meninggalnya Abdiah juga masih disebut Blimbing (di sebelah barat Wendit) dan tempat meninggalnya Kariati karena celaka (di sebelah utara Wendit) kini masih disebut Manggis.

Foto kartupos Wendit di Malang karya Neville Keasberry.
Pondok terkenal “Lalijiwo” di kawasan gunung Arjuno.

Oleh : “Nichtjes”, siswa MULO Suster Ursulinen di Malang, De Koerier, 05-05-1933.

Cerita Legenda Populer Lainnya :

Legenda Keong Emas di Kerajaan Jenggolo

Legenda Panji Laras – Cerita Rakyat Populer di Jawa TImur

Legenda Banyu Biru di Pasuruan