Artikel ini mengisahkan Raden Adipati Ario Nitie Adi Ningrat IV, Bupati Pasuruan yang merayakan 50 tahun pengabdiannya pada tahun 1883. Diterjemahkan dari Litterarische schetsen en kritieken (Sketsa dan Kritik Sastra), tahun 1885 oleh Dr. Jan Ten Brink. Kisah ini menyoroti kelangkaan pencapaian tersebut, terutama karena ia menjabat sebagai bupati sejak usia 17 tahun menggantikan ayahnya. Dijelaskan silsilah keluarganya yang telah memerintah selama lebih dari satu abad. Penghargaan yang diterimanya dari Pemerintah Hindia Belanda (termasuk medali emas dan gelar kebangsawanan), serta hubungan harmonisnya dengan keluarga dan rakyatnya.

Litterarische schetsen en kritieken, 1885 oleh Dr. Jan Ten Brink
Lima Puluh Tahun Menjadi Bupati.
Bupati Pasuruan. — Raden Adipati Ario Nitie Adi Ningrat IV. — Lima puluh tahun dalam dinas Pemerintah Hindia Belanda.
Hari ini — 18 Maret 1883 — adalah hari yang istimewa…
Anda memotong pembicaraan saya dan berkata: Hentikan! Kami sudah tahu apa yang akan berikutnya. Tentu saja! Rekan senegara kita yang terhormat, yang mulia X., hari ini memperingati hari di mana lima puluh tahun yang lalu ia diangkat sebagai bupati (regent) dari ….
Tidak sungguh, bukan itu maksud saya.
Berita-berita surat kabar dengan pembukaan yang monoton: “Hari ini warga kota kami yang terhormat merayakan….” pada umumnya kurang menarik, kecuali bagi yang berulang tahun yang dimaksud dan keluarganya. Selain itu, dalam seperempat abad terakhir di negeri kita sedang tumbuh kegemaran luar biasa untuk segala macam perayaan istimewa. Banyak ketua terhormat dan sekretaris rajin yang selama lima tahun berturut-turut dalam suatu lingkup kota kecil telah memegang palu atau pena, menjadi sasaran penghormatan dari para anggota, yang pada kesempatan yang sangat khidmat itu menghadiahi mereka sebuah benda miniatur dari etalase perak toko perhiasan, jika mereka tidak, seperti yang sering terjadi, berlari ke tukang kayu dan menawarkan kepada yang berulang tahun sebuah perabot yang tidak berselera.
Jika saya hari ini — 18 Maret 1883 — berbicara tentang pesta emas yang istimewa, tentang masa pemerintahan lima puluh tahun sebagai Bupati, maka tidak perlu ditakuti bahwa yang dimaksud adalah perayaan yubileum Belanda dalam format kecil (duodecimo). Perayaan yang dimaksud dirayakan hari ini di Jawa Timur, di Pasuruan. Yang berulang tahun adalah Bupati Raden Adipati Ario Nitie Adi Ningrat, yang berdasarkan resolusi pemerintah Hindia tanggal 18 Maret 1883, No. 9, sebagai pemuda berusia tujuh belas tahun, menggantikan ayahnya yang telah meninggal, diangkat menjadi Bupati Pasuruan, jabatan tinggi yang telah diembannya tanpa terputus sejak lima puluh tahun yang lalu hingga hari ini. Banyak pembesar Jawa dapat membanggakan diri telah mengabdi dengan setia kepada Belanda selama seperempat abad. Beberapa, namun hanya dalam jumlah yang sangat kecil, menjalani setengah abad dalam dinas pemerintah, tetapi sebagian besar waktu itu biasanya dihabiskan dalam posisi bawahan. Sangat jarang, jika tidak unik, adalah kasus di mana seorang Bupati tetap menduduki jabatan tingginya selama lima puluh tahun.
Masa dinas yang panjang dari Raden Adipati Ario Nitie Adi Ningrat ini ditandai dengan kesetiaan yang tak terpatahkan dan ketepatan dalam menjalankan kewajiban. Pemerintah Hindia sangat menghargai jasanya. Baginda Raja memberinya penghargaan. Berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, tanggal 3 Januari 1876, No. 2, kepada Bupati Pasuruan, “sebagai tanda penghargaan atas kecakapan dan pengabdian tulus yang dengannya ia, selama lebih dari 42 tahun, sebagai Bupati Pasuruan telah mengurus kepentingan penting negara dan rakyat yang dipercayakan kepadanya,” dianugerahkan medali emas untuk jasa sipil. Berdasarkan keputusan kerajaan tanggal 19 Februari 1877, Raden Adipati Ario Nitie Adi Ningrat diangkat menjadi Ksatria Orde Singa Belanda. Sebelumnya, ia telah diberi hak oleh Pemerintah Hindia (16 September 1866) sebagai penghargaan atas jasa setianya yang dibuktikan kepada negara, untuk menggunakan songsong kuning (payung kebesaran).
Jalan hidup abdi Pemerintah Belanda yang terhormat ini luar biasa dalam segala hal. Bupati Pasuruan lahir pada tahun 1816. Nama pertamanya adalah Raden Bagus Amun. Pada usia enam belas tahun, ia dianugerahi gelar Tumenggung (14 Juni 1832) dengan izin untuk menyebut dirinya Raden Tumenggung Ario Noto Kusuma.
Telah disebutkan bahwa ia menggantikan ayahnya sebagai Bupati Pasuruan pada tanggal 18 Maret 1833. Berdasarkan resolusi Pemerintah Hindia tanggal 12 Mei 1833, ia juga diizinkan untuk menggunakan nama Raden Tumenggung Nitie Adi Ningrat, seperti yang digunakan oleh ayahnya, kakeknya, dan buyutnya. Melalui jasa-jasanya, Bupati baru ini terus-menerus berhasil mendapatkan penghargaan baru. Pemerintah menganugerahkan kepadanya pada tanggal 16 September 1846 gelar Adipati dan mengakui (19 Mei 1864) bahwa ia sepenuhnya berhak untuk menambahkan nama kebangsawanan Ario di depan gelar-gelarnya yang sebelumnya.
Bupati Pasuruan menikah pada tanggal 25 Juli 1839 dengan Raden Ayu Boni, putri dari mendiang Sultan Sumenep, Pakoe Natta Ningrat. Permaisuri ini lahir pada tahun 1825, pada saat ayahnya dengan 1500 orang barisannya mendukung ekspedisi Belanda melawan Boni, itulah sebabnya ia menerima nama Boni. Dari pernikahan mereka lahir enam orang putra, satu di antaranya telah meninggal. Kelima lainnya bekerja dalam dinas Pemerintah Belanda. Salah satunya adalah Bupati Probolinggo, Raden Tumenggung Ario Soerio Ningrat, yang lainnya adalah Wedana. Bupati Pasuruan kini berusia enam puluh tujuh tahun, dan Raden Ayu berusia lima puluh delapan tahun. Mereka hidup dalam pernikahan selama empat puluh empat tahun sebagai teladan kerukunan dan kesetiaan perkawinan yang langka. Hanya mereka yang akrab dengan keadaan masyarakat Muslim di Jawa yang dapat menghargai betapa langkanya fakta ini.
Perlu juga dicatat bahwa jabatan Bupati Pasuruan telah diwariskan secara turun-temurun dari ayah kepada anak laki-laki dalam keluarga tua Nitie Adi Ningrat selama satu setengah abad. Bupati yang sekarang adalah Nitie Adi Ningrat IV. Penduduk setempat sangat memuja dan menghormatinya, karena dalam pemerintahannya ia dibedakan oleh kebijaksanaan dan moderasi. Tiga ratus ribu orang Jawa dari kabupaten (regentschap) Pasuruan menunjukkan rasa hormat dan penghormatan mereka kepadanya pada setiap kesempatan seremonial.
Hal ini paling jelas terlihat pada bulan Maret 1868, ketika Bupati meninggalkan dalem lamanya (kediaman pangeran) yang sudah tidak layak huni, dengan suatu prosesi khidmat, untuk pindah ke tempat tinggal sementara selama beberapa tahun. Dengan judul:
1) Het verlaten van den ouden Dalem der Regenten van Pasoeroean en het overgaan naar eene tijdelijke woning op den 19den Maart 1868 (Meninggalkan Dalem Lama Para Bupati Pasuruan dan Pindah ke Tempat Tinggal Sementara pada Tanggal 19 Maret 1868). Ditulis oleh Residen Pasuruan, S. van Deventer Jsz. Bukan untuk diperdagangkan. Surabaya. Chs. Kocken, 1868.
…bagaimana Raden Adipati Ario Nitie Adi Ningrat tepat tiga puluh lima tahun sebagai Bupati Pasuruan telah mendiami dalem lama; bagaimana ia sekarang akan berangkat, dengan segala penghormatan dan segala kemegahan yang melekat pada martabatnya, menuju tempat tinggal sementara yang baru. Namun, terlebih dahulu ia melukiskan kehidupan terhormat Bupati yang patut dihormati, kepada siapa Pemerintah Belanda berhutang banyak budi. Ia menunjukkan bahwa para leluhurnya sejak tahun 1740 telah mengabdi kepada Kompeni Hindia Timur; bahwa dalem lama telah dibangun pada tahun 1751, yang kemudian diubah dan diperindah, kini untuk selamanya akan ditinggalkan; bahwa kakek dan ayahnya telah memerintah Pasuruan dengan bijaksana sebagai Bupati, dan bahwa ayahnya, Raden Tumenggung Nitie Adi Ningrat III, di ranjang kematiannya berpesan kepada putranya untuk tetap setia kepada Pemerintah Belanda, karena ia “selalu melihat bahwa para Bupati di Jawa yang dengan setia berpaut pada kekuasaan Belanda menerima berkah dalam perjalanan hidup mereka; sementara mereka yang melanggar sumpah setia, ditimpa kemalangan demi kemalangan, tidak dapat lolos dari hukuman yang setimpal.”
Demikianlah riwayat Bupati Pasuruan yang sekarang, yang hari ini merayakan hari jadi emas yang membahagiakan dari pengabdiannya yang setia sebagai penguasa (bestuurder) Pasuruan. Di tengah begitu banyak upacara tidak berarti yang gemanya terdengar di telinga kita setiap hari, tampaknya tidaklah tidak pada tempatnya jika hari ini kita sekali-sekali mengarahkan perhatian pada suatu perayaan Jawa, terlebih lagi karena mantan Residen Pasuruan, Tuan S. van Deventer, dengan baik hati telah memberikan saya monografinya yang sangat baik, yang sedikit diketahui di negeri kita, untuk keperluan ini.
Sumber : Litterarische schetsen en kritieken, 1885 oleh Dr. Jan Ten Brink
Catatan Tambahan :
Surat kabar Soerabaijasch Handelsblad, edisi 09-03-1883, memuat jadwal acara perayaan yang akan diadakan selama 4 hari berturut-turut :

Dari Pasoeroean [Koresponden S.H.B.) Program untuk perayaan besar kira-kira seperti ini:
- Minggu, tanggal 18, pagi, pawai besar, didahului oleh barisan kehormatan. Pukul 10 pagi, ucapan selamat umum. Malam harinya, pesta dansa di kediaman Bupati, di mana akan diadakan pertunjukan kembang api yang megah.
- Senin, tanggal 19, pagi, pawai penduduk asli. Pukul 9 pagi, dimulainya permainan rakyat dan pertunjukan musik siang hari. Sore harinya pukul 5 sore, Senennan. Malam harinya, pawai besar orang Tionghoa.
- Selasa, tanggal 20, pesta besar di societeit (pendopo) Bupati.
- Rabu, tanggal 21, pertunjukan musik siang hari. Bupati menerima hadiah perak yang indah, yang dipesan dari Eropa. Orang-orang sudah sibuk menghias pendopo di alun-alun. Laporan pelaksanaan yang lebih rinci akan menyusul kemudian.
Postingan Terkait :
Kanjeng Pangeran Ario Niti Adi Ningrat (IV) Bupati Pasuruan Selama 54 Tahun !

