A. J. M. Ledeboer, atau lengkapnya Adriaan Johan Marie Ledeboer, bersama saudaranya Bernard adalah sosok kontroversial di Jawa Timur. Selain dikenal sebagai pemburu ulung harimau (klaim membunuh lebih dari 100 ekor) sekaligus pionir konservasi alam partikelir di Hindia Belanda. Ledeboer bersaudara mengelola Dataran Tinggi Hyang di Pegunungan Argopuro, melalui Hak Guna Usah (erfpacht) sejak 1916.
Setelah Bernard meninggal tragis di tahun 1926 (diserang gajah di Afrika ketika berburu), A. J. M. Ledeboer melanjutkan dan menerapkan aturan ketat di dataran tinggi Hyang :
- Melarang perburuan liar & senjata api di wilayahnya.
- Memusnahkan predator, seperti anjing liar/ajak dan macan kumbang.
- Reboisasi lereng & memasang tiang garam untuk rusa.
- Melindungi penuh rusa Jawa, merak, dan bebek liar.
Ide paling briliannya adalah menyediakan banyak “tiang garam“, dimana di tiap tiang ini akan dipasang blok garam. Sebagian besar hewan herbivora besar membutuhkan garam untuk menjaga keseimbangan fisiologis cairan tubuh mereka.
Dahulu, rusa akan turun ke pantai untuk minum air laut yang menyediakan mineral yang cukup penting bagi hewan pemakan rumput. Namun, seiring pertumbuhan populasi penduduk di pesisir pantai, rusa takut untuk pergi ke sana. Oleh karena itu, Ledeboer menyediakan “tiang garam” sebagai pengganti air laut dan memberi atap pelindung agar tidak larut dalam hujan atau tetesan embun.
Hasilnya populasi rusa pulih menjadi lebih dari 8.000 ekor, hutan lebat kembali, kebakaran hilang, air terjaga untuk irigasi sawah & perkebunan di dataran rendah.

Ia membangun tempat tinggal, hotel sekaligus sanatorium dan landasan pesawat terbang tertinggi di Hindia Belanda (juga di Asia !) di ketinggian 2.219 mdpl. Serta jalur untuk “Montagne Russe” (atau jalur toboggan, semacam kereta luncur salju atau roller coaster) sepanjang 3, 5 Km.
De Indische Courant (tuan Misset atau M.-Redateur) menyebut A. J. M. Ledeboer sebagai “Raja” (Koning Ledeboer atau Koning van den Ijang) di “Kerajaan Hyang” (Koninklijken Ijang). Bagaikan kerajaan pribadi di dataran tinggi Hyang, ia membuat suaka margasatwa mandiri dan membuktikan bahwa konservasi oleh partikelir bisa berjalan dengan sukses di masa kolonial.
Asal-Usul
“Nederland’s Patriciaat” atau Patriciaat Belanda ( juga dikenal sebagai Buku Biru ) adalah serangkaian jilid yang memuat silsilah individu-individu Belanda terkenal. Ini termasuk administrator terkemuka, ilmuwan, menteri, dokter, perwira militer, dan pengusaha. Ini termasuk keluarga non-bangsawan dan cabang non-bangsawan dari keluarga bangsawan. Buku Biru tahun 1948 adalah jilid kelima belas yang menampilkan keturunan keluarga Van Meerten. Keluarga Ledeboer muncul di volume ini.

Johan Marie Ledeboer menikah dengan Anna Willemina van Meerten. Johan Marie Ledeboer lahir pada 10 Agustus 1841 di Rotterdam dan meninggal pada 16 Juni 1917 di Den Haag. Dia adalah produsen tekstil di Borne. Johan Marie adalah anak dari Dr. Adrianus Marinus Ledeboer (1797-1887) dan Jacob Martha van Oordt (1810-1850). Ayahnya adalah seorang dokter medis, tabib, bibliografi, kurator Gimnasium di Deventer, dan Ksatria Ordo Singa Belanda. Pada tanggal 2 September 1869, ia menikah dengan Anna Willemina van Meerten di Oud-Beijerland. Anna dilahirkan pada 12 Oktober 1840 di Oud-Beijerland dan meninggal pada 22 Maret 1933 di Den Haag. Anna adalah putri Pendeta Dirk Karel van Meerten dan Johanna Elizabeth la Lau.
Pasangan ini memiliki tujuh anak, yang juga tercantum dalam Buku Biru. Yaitu : (1) Jacoba Martha Ledeboer. (2) Dirk Karel Ledeboer. (3) Anna Christina Bernarda Ledeboer. (4) Bernard Ledeboer. (5) Adrian Johan Marie Ledeboer. (6) Johanna Elisabeth Ledeboer. (7) Samuel Ledeboer.
Jacob Martha, lahir pada tanggal 3 Agustus 1870 di Borne dan meninggal pada tanggal 17 Mei 1937 di Zeist. Ia menikah dengan Herman Groothengel pada tanggal 29 November 1900. Ia lahir pada tanggal 2 Mei 1868 di Borne dan meninggal pada tanggal 25 Desember 1943, juga di Borne. Herman adalah seorang kontraktor di Borne. Dia adalah putra dari Anthonie Groothengel dan Johanna Geertruida Fikkert.
Dirk Karel, lahir pada 2 Agustus 1872 di Borne dan meninggal pada 29 Juni 1943 di Paris. Ia menikah dengan Jeanne Marie Augustine Camard pada 11 Juni 1917 di Den Haag. Jeanne Marie Augustine lahir pada 22 April 1878 di St. Brieuc (Prancis) dan meninggal pada 19 Oktober 1937 di Paris. Dirk Karel adalah direktur sebuah perusahaan perdagangan di Paris. Jeanne Marie Augustine adalah putri dari François Jean Camard dan Marie Jeanne Rio.
Anna Christina Bernarda, lahir pada 27 April 1874 di Borne. Ia menikah dengan Pendeta Frederik ten Cate pada 14 Januari 1904 di Borne. Pendeta Frederik ten Cate lahir di Borne pada 18 September 1878 dan meninggal pada 4 Juni 1945 di Borne. Frederik adalah seorang pendeta Mennonit di Leiden dan putra dari Abraham ten Cate dan Margaretha Sophia Santman. Pada saat penulisan ini, janda Anna Christina Bernarda masih tinggal di Borne.
Bernard, lahir pada 19 November 1875 di Borne dan meninggal pada Mei 1926 di Mombasa (Afrika Timur). Ia dan adiknya Adriaan Johan Marie adalah pemburu harimau legendaris sekaligus pengusaha perkebunan di “Wadoeng West” di Kempit, Banyuwangi. Ia menikah dengan seorang wanita dari Hindia Belanda, Romanti. Pasangan ini memiliki satu anak : Adia Orrie Ledeboer. lahir di Argopuro, tanggal 15 July 1922, dan meninggal dalam usia muda (hampir 22 tahun) pada 8 June 1944 di Den Haag, Belanda,
Adriaan Johan Marie, lahir pada 11 September 1877 di Borne. Ia menikah dengan Sophia Julia Borgen sekitar tahun 1925. Sophia lahir pada 11 April 1900 di Makassar dan merupakan putri dari Anthonius Charles Johan Borgen dan Dora Eleonoor de Bode. Pasangan ini tidak mempunyai anak. Pada saat buku ini diterbitkan, Sophia Julia masih tinggal di Hindia Belanda.
Johanna Elisabeth, lahir pada 15 Juli 1879 di Borne dan meninggal di sana pada 14 Desember 1881.
Samuel, lahir pada 12 Agustus 1881 di Borne dan meninggal pada 13 Maret 1930 di Ranau (Palembang). Ia menikah dengan Femina Maria Hoven pada 5 September 1905. Femina Maria lahir pada 1 Mei 1881 di Zwolle dan merupakan putri dari Jan Hoven dan Johanna Maria Moerbeek. Samuel adalah perwakilan dari Sindikat Tanah Sumatra. Pada saat buku kecil ini diterbitkan, Femina Maria tinggal di Den Haag. Nama keluarga Ledeboer ditunjukkan di bawah ini.

Akhir Hidup Sang Raja
Ketika Jepang pada tahun 1942 menduduki Hindia Belanda, A. J. M. Ledeboer termasuk di antara warga Belanda dan Eropa lainnya yang diinternir. Itu menandai awal tragedi bagi Sang Raja dan kerajaannya di dataran tinggi Hyang. Musibah besar bagi alam dan satwa liarnya, terutama bagi rusa. Sejak itu para pemburu liar dengan leluasa menangkap dan membunuh rusa.
A. J. M. Ledeboer termasuk salah satu dari banyak orang Eropa yang tidak selamat selama rezim Jepang. Ia tercatat meninggal di Kamp Baros 5 di Cimahi, Jawa Barat. Ia tidak pernah kembali ke Kerajaannya di Hiyang, maut menjemputnya lebih dulu pada 19 Maret 1945, 5 bulan sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu. Penyebab kematian belum diketahui, bisa karena kelaparan, penyakit berat atau mati karena disiksa/eksekusi.
Kamp ini terletak di bagian timur Cimahi, tepat di selatan jalur rel kereta api. Kamp ini bertempat di barak-barak pos darurat milisi pribumi. Barak-barak bambu, berjumlah sekitar 27, memiliki lantai semen; sebagian besar tidak memiliki jendela, tetapi memiliki bukaan memanjang tepat di bawah garis atap, dan pintu besar di dinding ujung. Kamp tersebut memberikan kesan yang menyeramkan: barak-barak kumuh di sekitar lapangan luas, tanpa satu pun pohon.
Kamp tersebut dikelilingi oleh pagar bambu, oleh karena itu dinamakan juga “Kamp Bambu (Bamboo Camp)”. Komandan Kamp Jepang : Kunimoto (Mei 1945 hingga Agustus 1945).



Ereveld Leuwigajah
Sang Raja terakhir Kerajaan Hiyang, A. J. M. Ledeboer dikebumikan di Ereveld (makam kehormatan untuk para korban perang) Leuwigajah di Kecamatan Cimahi Selatan, Cimahi, Jawa Barat. Ereveld Leuwigajah adalah salah satu yang terbesar dan berisi jumlah makam terbanyak di Indonesia. Ereveld ini dikelola oleh Yayasan Makam Kehormatan (oorlogsgravenstichting) yang berpusat di Belanda. Ada lebih dari 5.000 makam milik warga negara Belanda yang dimakamkan disini, sedangkan makam A. J. M. Ledeboer tercatat pada makam No. 873.



