Asal Usul dan Keluarga

Han Tiauw Hing lahir pada tahun 1887 di Pasuruan, sebagai putra dari pasangan Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio. Ia adalah salah satu putra dalam keluarga besar Han—sebuah klan Tionghoa peranakan yang dikenal sebagai tuan tanah dan pengusaha gula terkemuka di Pasuruan. Saudara-saudaranya antara lain Han Tiauw Khing, Han Tiauw Tjiang, dan Han Tiauw An. Baca tentang Han Hoo Tjoan disini.

Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga hartawan yang memiliki banyak properti, termasuk pabrik gula “Pengkol (de Goede Hoop)” dan “Pleret” di Pasuruan dan sekitarnya. Namun, takdir membawanya ke jalan yang berbeda. Ketika resesi dunia melanda pada tahun 1930-an dan industri gula mengalami kehancuran—harga gula jatuh, pabrik-pabrik gulung tikar—Han Tiauw Hing tidak tinggal diam. Ia memilih untuk tidak bergantung pada warisan keluarga yang terancam bangkrut, melainkan merintis jalan baru di sektor transportasi darat.

Pada tahun 1911, istri pertamanya, Kwee Lian Nio (1892–1911), meninggal dunia. Mereka telah dikaruniai seorang putra. Kwee Lian Nio adalah putri dari keluarga yang memiliki hubungan darah dengan klan Han Madura—ibunya adalah Han Tiep Nio. Kematian ini menjadi duka awal dalam kehidupan pribadi Han Tiauw Hing, yang kelak akan menikah dua kali lagi. Istri keduanya adalah Oei Bok Kiem 黄木槿 dari Sidoarjo. Istri ketiganya adalah Wilhelmina Rika Siti Syafina Samsudin.

Presiden THHK Pasuruan

Setelah THHK (Tiong Hwa Hwee Koan) di Pasuruan didirikan sekitar tahun 1904, Han Tiauw Hing terlibat aktif di dalamnya dua dekade kemudian, dan menjadi salah satu pemimpinnya yang paling berpengaruh. Pada tahun 1925, Han Tiauw Hing resmi menjabat sebagai Presiden ketiga THHK Pasuruan. Ia kemudian juga menjabat sebagai penasihat organisasi tersebut. Di bawah kepemimpinannya, THHK berkembang menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan Tionghoa di Pasuruan.

Han Tiauw Hing, third President and advisor of the Tiong Hwa Hwee Kwan 中華 會館 (THHK) since 1925. Images courtesy of Victor Tajana, 2018.

Dari sinilah reputasinya sebagai tokoh masyarakat mulai terbangun. Ia dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan semua lapisan—dari kalangan atas hingga rakyat biasa. Nama Han Tiauw Hing mulai dikenal luas sebagai salah satu orang Tionghoa yang terkemuka di Kota Pasuruan.

Rumah Han Tiauw Hing

Berdasarkan arsip keluarga, pada sekitar tahun 1925 Han Tiauw Hing membangun sendiri rumah kediamannya di Jl. Raya No. 86 (kini Jl. Soekarno-Hatta 86). Rumah ini terletak di sebelah barat rumah orang tuanya (Han Hoo Tjoan) dan di sebelah timur rumah kakaknya, Han Tiauw Khing.

Ciri khas rumah ini adalah sebuah gazebo bundar (atau tepatnya segi enam) dua lantai di sisi timur halaman. Lantai atas digunakan untuk rekreasi keluarga, sedangkan lantai bawah difungsikan sebagai tempat menyimpan seperangkat gamelan Jawa—menunjukkan kecintaan keluarga Han terhadap seni dan budaya lokal.

Gazebo dua lantai di sisi timur halaman rumah HT, dibagian bawah konon dipakai untuk menyimpan seperangkat alat gamelan. Foto Rumah HT tahun 1990. Koleks CH-library.

Izin Pompa Bensin

Pada tanggal 20 Juli 1929, surat kabar Soerabaijasch Handelsblad memberitakan bahwa Han Tiauw Hing, atas nama Standard Oil Company, mengajukan izin kepada Gemeente Pasoeroean untuk mendirikan sebuah stasiun pompa bensin di Hoofdstraat, tepat di sebelah barat jam kota Pasuruan.

Stasiun bensin ini diperuntukkan khusus bagi armada busnya, yang saat itu masih bernama “Mata Hari”. Ketika transportasi darat dan kendaraan bermotor mulai berkembang pesat sebagai kebutuhan modern, dan ia memanfaatkan momen ini dengan cerdas. Ini menjadikan Han Tiauw Hing sebagai salah satu pelopor infrastruktur kendaraan bermotor di Pasuruan, di tengah masa transisi dari angkutan tenaga hewan ke kendaraan bermotor.

Kliping surat kabar ketika Han Tiauw Hing mengajukan ijin untuk pompa bensin armada busnya yang masih bernama “Matahari”.

Peresmian Gedung Kantor Bus

Pada tanggal 2 Mei 1931, sebuah peristiwa besar terjadi di Pasuruan. Gedung kantor baru N.V. Autobus Onderneming H-T. resmi diresmikan di Hoofdstraat (Jalan Utama atau sekarang Jl. Soekarno Hatta). Upacara peresmian berlangsung dengan seremonial yang meriah, dihadiri oleh Walikota Pasuruan, pejabat Belanda, tokoh Tionghoa, dan pemuka pribumi. Nama “HT” diduga kuat adalah akronim dari nama keluarga “Han Tiauw

Kliping koran berita pembukaan kantor bus HT, Sumber : Soerabaijasch handelsblad, 05-05-1931. Sumber : Soerabaijasch Handelsblad, 20-07-1929

Yang menarik, peresmian ini terjadi tepat di puncak resesi dunia. Saat pabrik-pabrik gula berguguran dan banyak pengusaha lain mundur ketakutan, Han Tiauw Hing justru berani membuka gedung kantor baru. Walikota Pasuruan (H.E. Boissevain) dalam sambutannya secara eksplisit memuji keberanian ini:

“Beliau telah menunjukkan keberanian dan pandangan jauh ke depan untuk mendirikan gedung baru di masa-masa sulit seperti ini.”

Walikota juga mengingatkan soal persaingan antarperusahaan bus yang dapat membahayakan keselamatan lalu lintas, namun ia percaya bahwa Han Tiauw Hing akan mampu menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan kepentingan umum.

Malam itu, hingga pukul satu dini hari, para tamu menikmati suasana akrab dengan orkes gesek, gamelan, serta hidangan dan minuman berlimpah.

Tokoh Tionghoa Terkemuka di Jawa

Pada tahun 1935, nama Han Tiauw Hing tercantum dalam buku bergengsi “Orang-Orang Tionghoa Jang Terkemoeka di Java, Who’s Who 1935”—sebuah publikasi yang memuat tokoh-tokoh penting Tionghoa di Jawa. Ini adalah pengakuan resmi atas posisinya sebagai salah satu pemimpin komunitas Tionghoa yang paling berpengaruh di Hindia Belanda.

Profil Han Tiauw Hing yang dimuat dalam buku : Orang-Orang Tionghoa Jang Terkemoeka di Java (Who’s Who), tahun 1935.

Pimpinan Perkumpulan Perawatan Kaum Miskin

Pada tanggal 13 Oktober 1937, sebuah pertemuan penting digelar di gedung THHK Pasuruan. Dipimpin oleh Asisten-Residen merangkap plt. Walikota Pasuruan, dr. C.G.E. de Jong, rapat tersebut membahas masalah perawatan kaum miskin di kalangan komunitas Tionghoa (Chineesche armenzorg).

Ketua Perkumpulan amal yang lama, Tjee Pien Hwee, dianggap kurang populer dan tidak efektif. Dalam suasana yang hangat dan penuh perdebatan, para pengurus lama mengundurkan diri. Dan pada malam itu juga, Han Tiauw Hing terpilih sebagai ketua perkumpulan baru.

Surat kabar De Indische Courant menulis:

“Han Tiauw Hing terpilih sebagai ketua… seorang hartawan setempat yang sangat populer di semua lapisan masyarakat Tionghoa.”

Hampir semua yang hadir langsung mendaftar sebagai donatur. Para ketua perkumpulan Tionghoa setempat diangkat sebagai komisaris. Ini adalah puncak pengabdian sosial Han Tiauw Hing—ia berhasil menyatukan seluruh komunitas Tionghoa Pasuruan dalam satu gerakan amal.

Asosiasi Pengusaha Bus Hindia

Pada tahun 1940, Han Tiauw Hing mencapai puncak kariernya di dunia transportasi. Ia diangkat sebagai Wakil Ketua Bond van Autobusondernemers Hindia—perkumpulan resmi semua pengusaha bus di seluruh Hindia Belanda, yang berpusat di Surabaya.

Kepengurusan asosiasi ini diketuai oleh Mr. Liem Sik Tjo, seorang pengacara terkemuka dari Surabaya. Han Tiauw Hing mewakili Pasuruan sebagai salah satu pengusaha bus terbesar di Jawa Timur. Anggota lainnya berasal dari Madiun, Semarang, dan Surabaya. Ini adalah panggung yang menunjukkan pengaruhnya di tingkat regional maupun nasional.

Han Tiauw Hing was a member of the Association of bus companies for the Dutch East Indies, based in Surabaya, 1940. Photo of Han Tiauw Hing at a young age. Scan from www.delpher.nl and photo courtesy of Beatrice Handayani Han Tjing Bie 2021.

Wafatnya Sang Maestro

Menurut catatan keluarga, Han Tiauw Hing wafat pada tahun 1958, di usia 71 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman Wironini (sekarang Jl. Erlangga) Pasuruan, berdampingan dengan makam kedua orang tuanya: Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio.

Di sampingnya, beristirahat pula dua istri pertamanya—Kwee Lian Nio (wafat 1911) dan Oei Bok Kiem—dalam sebuah bong (makam bergaya Tionghoa) yang menjadi penanda kejayaan klan Han lintas generasi.

Bong of Han Tiauw Hing 韩肇亨 (1887-1958) and his first two wives Kwee Lian Nio and Oei Bok Kiem at Wironini (sekarang Jl. Erlangga) graveyard Pasuruan, next to his parents Han Hoo Tjoan and Kwee Tjiam Nio grave.

Warisan Rumah HT

Hingga hari ini, hampir seabad sejak gazebo yang menyimpan gamelan itu pertama kali dibangun, dan kemudian dikembangkan menjadi kantor Perusahaan Bus HT di Jl. Soekarno-Hatta 86, rumah ini masih berdiri kokoh. Kabarnya masih ditempati oleh keturunan Han Tiauw Hing, saat ini oleh Beatrice Handayani Han Tjing Bie atau mungkin sudah beralih ke anggota keluarga lainnya.

Rumah Han Tiauw Hing menjadi saksi bisu perjalanan sejarah: dari kejayaan bus HT, dari derap langkah Walikota yang meresmikan kantor, hingga alunan gamelan yang pernah menggema di malam hari. Hingga kini rumah dan kantor bus HT ini masih dikenal masyarakat Kota Pasuruan sebagai “Rumah HT“.

Di sebelah kanan rumah (sebelah barat), bekas kediaman kakaknya, Han Tiauw Khing, kini telah berubah fungsi menjadi SMP Negeri 2 Pasuruan. Sebuah perubahan zaman yang tak terelakkan, namun jejak dinasti Han tetap terpahat di jalan ini.

Epilog

Han Tiauw Hing bukan sekedar dikenal sebagai pemilik usaha bus HT. Ia adalah salah satu contoh dari tokoh Tionghoa peranakan yang berhasil membaca peluang bisnis baru di era modern, mempertahankan tradisi, dan sosok yang peduli pada sesama.

Foto Rumah HT tahun 1990. Koleks CH-library.
Foto Rumah HT tahun 1990. Koleks CH-library.
Foto Rumah HT tahun 1990. Koleks CH-library.
Foto Rumah HT tahun 1990. Koleks CH-library.
The house of Han Tiauw Hing, jalan Soekarno-Hatta 86, this house is still with Han Tiauw Hing’s descendant’s family. The Pasuruan Han sin tji’s are held in this house within the family altar. Han Hoo Tjoan’s house is on the left of this house and Han Tiauw Khing’s house was on the right but has now been converted into a middle school (SMPN 2). Photo courtesy of Maria Handayani.

Sumber utama:

  • Soerabaijasch Handelsblad (1929, 1931)
  • Bataviaasch Nieuwsblad (1940)
  • De Indische Courant (1937)
  • History of the HAN 韩, KWEE 郭 and THE 鄭 families from Pasuruan and Surabaya, Kwee Hong Sien, 2024.
  • Orang-orang Tionghoa jang terkemoeka di Java, Who’s Who, 1935.

Catatan Tambahan :

  • Rumah HT dengan desain ornamen-ornamen kayu yang mencolok di bagian atas atau di bagian bawah atapnya, kuat dugaan di desain oleh Arsitek C. Smits, yang bekerja pada Biro Kontraktor : Smits, Koper, Hoogerbeets di Malang. Arsitek yang sama juga merancang Monumen Bendera di depan Rumah Residen Pasuruan, Sekolah Frateran “St. Jozefhuis” di Celaket 21 Malang, serta kemungkinan besar termasuk 2 Villa Kembar (kini kompleks CPM atau Denpom Diviv 2 Kostrad) di Lawang.
  • Arsitek C. Smits juga mempunyai pabrik ubin/tegel/teraso di Jalan Lowokwaru 23/31 Malang. Nampak bahwa contoh bangunan dalam iklan pabrik ini mempunyai ornamen-ornamen kayu yang khas, dengan dinding pagar depan dari batu kali, mirip dengan yang ada di Rumah HT Pasuruan dan 2 Villa kembar di Lawang.
Sumber : Gids voor Malang en omstreken, 1924.

*) Artikel ini ditulis sebagai bentuk penghormatan kepada warisan keluarga Han Tiauw Hing dan peran mereka dalam sejarah Kota Pasuruan.

Postingan Terkait :

Han Hoo Tjoan dan Dinasti Gula Pasuruan : Dari Rumah Wetan – Gerbang Bong Sangar – hingga Makam di Wironini

Legenda Rumah Singa dan Riwayat Tan Kong Sing di Pasuruan

Rumah Han Hoo Tong (Gedung Pancasila): Kediaman Raja Gula, Kini Sekolah dan Cagar Budaya