Perjalanan radio di Malang pada era kolonial merupakan cerminan mikro dari dinamika politik, sosial, dan teknologi di Hindia Belanda menjelang Perang Dunia II. Kisah ini dimulai dari inisiatif seorang warga biasa hingga berakhir sebagai alat negara yang tersentralisasi, melewati fase-fase kunci yang penuh makna.

Fase 1: Era Perintisan oleh Individu (1931-1932)

Pemancar Pribadi “3 JL” Milik W. J. L. Lammeree

Sejarah radio Malang dimulai dengan inisiatif swasta Willem Johannes Leonardus Lammeree, seorang manajer dealer mobil (Autohandel Lammere and Viehs) dan teknisi amatir. Pada Desember 1931, ia mengumumkan pembangunan stasiun pemancar radio pribadi yang diharapkan selesai akhir tahun itu. Kemungkinan pemancar itu berada di rumah pribadinya di Welirangstraat No.. 26 (Tel. Malang 360)

  • Spesifikasi Teknis: Pemancar ini beroperasi pada panjang gelombang 40 meter (sekitar 7.5 MHz) dengan jangkauan hingga 50 km. Kode panggilnya adalah P.K. 3 J.L. (biasa disebut 3 JL).
  • Konten Siaran Awal: Awalnya menyiarkan musik dari piringan hitam, namun berkembang menjadi konser musik langsung (live) yang melibatkan musisi lokal. Pada September 1932, konser musik kamar karya komposer Eropa berhasil disiarkan pada gelombang 73 meter dan mendapat sambutan hangat.
  • Tantangan: Meski teknologinya maju, Lammeree menghadapi kendala kurangnya dukungan kelembagaan. Sebuah surat pembanca pada Juli 1932 menyesalkan belum adanya perkumpulan radio di Malang untuk mendukung operasi pemancar ini secara berkelanjutan.

Fase 2: Pembentukan dan Kebangkitan Komunitas (1933-1939)

Malangsche Radio Vereeniging (M.R.V.): Organisasi Komunitas Pendengar

Untuk mengatasi kendala dukungan, dibentuklah Malangsche Radio Vereeniging (M.R.V.) pada 1 Januari 1933. Perkumpulan ini menjadi tulang punggung pengelolaan konten dan pendanaan siaran komunitas.

  • Model Operasi: M.R.V. mengadopsi model keanggotaan berbayar (sekitar 160 anggota) yang iurannya digunakan untuk operasional. Mereka tetap menggunakan pemancar Lammeree.
  • Pembubaran Pertama (Maret 1934): Tekanan finansial dan rencana beroperasinya N.I.R.O.M. memaksa M.R.V. membubarkan diri. Namun, semangat komunitas tidak padam. Radio tetap memancar dengan dana pribadi anggota-anggotanya yang aktif, seperti tuan Meyer.
  • Kebangkitan dan Modernisasi (1939): M.R.V. bangkit kembali dengan studio modern di Sociëteit Concordia. Dinding studio dilapisi kain goni untuk akustik yang lebih baik. Program siaran menjadi lebih beragam:
    • Konser musik klasik (resital piano Alexi Antonikowsky)
    • Ceramah publik (misalnya tentang perlindungan udara oleh Tuan F. E. Meijer)
    • Siaran langsung pertunjukan lokal

Fase 3: Integrasi ke Sistem Kolonial (1934-1941)

Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (N.I.R.O.M.): Sentralisasi Penyiaran

Kehadiran N.I.R.O.M. mengubah lanskap penyiaran dari model komunitas menjadi sistem terpusat yang dikendalikan negara kolonial.

  • Operasional di Malang: Stasiun pemancar N.I.R.O.M. Malang mulai beroperasi pada 1 Juni 1934.
  • Ekspansi Jaringan: Per 1 Juli 1934, wilayah siaran N.I.R.O.M. secara resmi diperluas hingga mencakup distrik Malang, Batu, Singosari, Kepanjen, dan Purworejo.
  • Dikotomi Program: N.I.R.O.M. menjalankan program terpisah untuk pendengar Eropa dan Pribumi, mencerminkan stratifikasi sosial kolonial. Siaran “umum Barat” menjadi domain utama M.R.V. yang tersisa.

Koeksistensi dan Ketegangan

Untuk beberapa tahun, terjadi koeksistensi tidak setara antara siaran komunitas M.R.V. dan siaran nasional N.I.R.O.M. M.R.V. tetap menghasilkan program lokal berkualitas, namun berada dalam bayang-bayang infrastruktur dan legitimasi N.I.R.O.M.

Fase 4: Militerisasi dan Era Perang (1941-1942)

Transformasi di Bawah Bayangan Perang

Menjelang Perang Dunia II, fungsi radio berubah drastis dari media komunitas menjadi alat mobilisasi perang.

Peristiwa KunciTanggalPerubahan & Signifikansi
Kepemimpinan MiliterOktober 1941Ketua M.R.V. Dr. Wijnberg digantikan Kolonel Overakker, menandai militerisasi media sipil.
Integrasi Penuh ke N.I.R.O.M.9 Desember 1941M.R.V. mengumumkan pemancarnya hanya akan menyiarkan program lengkap N.I.R.O.M., mengakhiri otonomi siaran lokal.
Fungsi DaruratDesember 1941Satu-satunya konten lokal yang diizinkan adalah pengumuman dari dinas perlindungan udara, mengubah radio menjadi corong informasi darurat pemerintah.

Analisis Perubahan Fungsi Radio

  1. Dari Otonomi ke Sentralisasi: Inisiatif komunitas (Lammeree & M.R.V.) terserap ke dalam sistem terpusat (N.I.R.O.M.) yang dipercepat oleh kebutuhan perang.
  2. Dari Hiburan ke Mobilisasi: Radio bertransformasi dari media hiburan/edukasi menjadi alat kontrol informasi dan mobilisasi perang.
  3. Dari Sipil ke Militer: Pergantian kepemimpinan dari figur sipil ke perwira militer menunjukkan subordinasi media di bawah kepentingan pertahanan.

📊 Peta Perkembangan dan Tokoh Kunci

Linimasa Transformasi Radio Malang

1931-1932: Era Pemancar Pribadi (Lammeree)
1933-1934: Fase Komunitas Awal (M.R.V. pertama)
1934: Integrasi Awal (N.I.R.O.M. beroperasi)
1939: Kebangkitan & Modernisasi (M.R.V. kedua)
1941: Militerisasi & Sentralisasi Penuh (Integrasi ke N.I.R.O.M.)

Tokoh Penting dan Perannya

NamaPeranKontribusi & Signifikansi
W.J.L. LammereeTeknisi/Pemilik PemancarPerintis infrastruktur; membuktikan siaran lokal layak secara teknis.
Pengurus M.R.V. (Dec, Leemans, Schoufens)Pengelola KomunitasMembangun organisasi pendukung; mengelola program & keuangan.
Eddy Startz (PHOHI)Penyiar InternasionalMenghubungkan Malang dengan jaringan global; menunjukkan daya tarik radio.
Kolonel OverakkerKetua M.R.V. (Militer)Simbol militerisasi media; memfasilitasi integrasi ke sistem negara.

🧭 Kesimpulan: Warisan yang Terfragmentasi

Sejarah radio Malang dari 1931 hingga 1945 adalah kisah tentang adaptasi, kooptasi, dan ketahanan. Dari pemancar pribadi Lammeree yang inovatif, melalui komunitas M.R.V. yang bersemangat, hingga menjadi bagian dari mesin propaganda N.I.R.O.M., radio mengalami multipleksitas fungsi yang ditentukan oleh konteks zamannya.

Warisan terpenting dari era ini mungkin bukan pada menara pemancarnya yang telah lama hilang, melainkan pada:

  1. Budaya Partisipasi Media: Terbentuknya komunitas pendengar aktif yang apresiatif.
  2. Modal Sosial: Jaringan musisi, penyiar, dan relawan yang memahami potensi media audio.
  3. Kesadaran Teknologi: Pengalaman praktis dalam mengoperasikan dan memproduksi konten siaran.

Ketika siaran lokal Mandiri menghilang pada Desember 1941, berakhirlah satu bab penting dalam sejarah media Malang. Namun, fondasi yang ditinggalkan oleh Lammeree dan M.R.V.—baik dalam hal semangat inovasi, manajemen komunitas, maupun produksi konten lokal—kemungkinan besar menjadi modal berharga bagi kebangkitan kembali media radio di Malang pada era pasca-kemerdekaan. Sejarah ini mengajarkan bahwa media selalu menjadi arena pertarungan antara inisiatif lokal dan kekuatan terpusat, sebuah dinamika yang terus relevan hingga hari ini.