Sebuah laporan yang dibuat oleh pejabat sementara (waarneming) Asisten Residen Lumajang, W.C. Schoevers, berjudul “Late Rapport Loemadjang” (Laporan terlambat Lumajang) mencatat operasi pergerakan pasukan dan pegawai administrasi Belanda untuk menduduki wilayah Probolinggo dan Lumajang pada Aksi Polisi (Politionele Actie) Belanda I atau disebut “Operatie Product”, yang biasa kita kenal dengan Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947). Laporan awal ini dibuat pada tanggal 24 Juli 1947. Berikut ini terjemahannya :
“Laporan Terlambat Lumajang“
Sehubungan dengan perubahan jadwal pendaratan pada menit terakhir, keberangkatan kelompok Probolinggo dan Lumajang ditentukan sebagai berikut:
C.v.P. (Komisaris Polisi) Slangen plus 2 agen dan unit polisi di bawah Inspektur van Polisi van Alphen (total 15 orang) Minggu sore, 20 Juli secepatnya naik kapal LT 101. B.B. (Binnenlands Bestuur/Pemerintahan Dalam Negeri) (2 Asisten Residen, 2 Asisten Bestuur, dan 2 Komisi) 21 Juli pagi naik kapal penyapu ranjau Tholen.
Minggu sore pukul 6, senjata api polisi dibawa ke kapal LT 101, semua barang dinas termasuk 3 peti uang (f 5000.-) juga dimuat, dan selanjutnya menjadi tanggung jawab C.v.P. Slangen.
Kapal penyapu ranjau Tholen berangkat 21 Juli pukul 5.
Tiba di titik pertemuan feri Probolinggo (sekitar 8 mil dari pantai) pukul 14. Karena tidak ada kabar dari darat, hari itu serta malamnya tetap berlabuh di sana. Sepanjang malam terdengar ledakan-ledakan, setelah itu terlihat nyala api yang semakin membesar.
22 Juli. – Saat siang hari terlihat gumpalan asap hitam raksasa di atas Probolinggo. Pukul 8, dengan kapal patroli yang membawa OAZ (Opsichter van Administratie der Zee- en Landmacht/Pengawas Administrasi Angkatan Laut dan Darat) dan beberapa perwira angkatan laut lainnya, satu seksi MBA (Marine Bewakings Afdeeling/Satuan Pengawal Angkatan Laut) serta B.B. menuju darat. Dengan tindakan keamanan yang diperlukan, pukul 8.55 masuk ke pelabuhan, yang ternyata telah diduduki oleh Marinir sejak beberapa jam sebelumnya. Seluruhnya memberi kesan menyedihkan. Beberapa tiang asap hitam pekat tergantung di atas gudang-gudang tempat jagung dan bahan makanan lainnya disimpan. Selain itu, beberapa perahu terbakar, banyak yang sudah tenggelam. Sejumlah besar gudang runtuh, yang lainnya masih utuh, tetapi diduga kosong. Beberapa tulisan mencolok seperti: “We follow and respect all the terms of Linggadjati” dan “Agressi Spoor dengan persatoean totalitair kita gemboer.”
Melapor ke Komandan Militer, Mayor Pronk. 2 jam sebelumnya, peleton telah menerobos ke pelabuhan, tadi malam kota ditutup.
Pukul 10.45 mengikuti rapat staf.
Untuk sementara belum ada kemungkinan untuk melanjutkan perjalanan ke Lumajang.
Kota Probolinggo masih harus disisir. Bivak (tenda) didirikan di Markas Besar, yang menempati bekas kantor N.I. Handelsbank, sekarang kantor pelabuhan. Pukul 2, ikut serta dengan A.R. (Asisten Residen) Dijkstra dalam patroli penyisiran di bawah komando Mayor Pronk. Sedikit menemui perlawanan. Di beberapa rumah di sepanjang jalan utama, setelah pertempuran singkat, sekitar 40 orang ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) ditawan. Pukul 5.30 kembali lagi ke Markas Besar.
Sepanjang siang hari, ternyata C.v.P. dengan unit polisi Probolinggo dan Lumajang telah tiba. Angkutan yang dibawa terdiri dari 1 1500 VW dan 1 pick-up, yang dimaksudkan untuk kedua tempat. Pick-up ternyata tidak bisa digunakan, harus didorong keluar dari kapal. Pada kedua kendaraan tidak ada peralatan.
Pick-up itu adalah kendaraan yang sudah sangat usang (sudah menempuh lebih dari 100.000 km). Sangat mengecewakan dan tidak dapat dimengerti bahwa kelompok-kelompok yang harus bekerja di lapangan dan karena itu membutuhkan transportasi yang dapat diandalkan untuk perjalanan laut, malah diberi material yang sudah aus seperti ini, bukannya yang terbaik.
23 Juli. Pagi ini, Tn. v. Berkum dari Java Bank melapor. Anggota kelompok lainnya menyusul nanti dengan uang. Diterima kabar bahwa dalam perjalanan hari ini, kolone militer akan berangkat ke arah Lumajang, sekaligus sebagai pengawalan untuk detasemen penjagaan dan tenaga medis untuk rumah sakit di Lumajang. B.B. dan Polisi dapat bergabung. Karena pick-up yang diterima dari M.T.D. (Motor Transport Dienst/Dinas Angkutan Bermotor) untuk perjalanan ini sama sekali tidak dapat diandalkan, truk Java Bank ikut dibawa, meskipun truk ini belum dijalankan dengan baik (baru menempuh 500 km).
Berangkat pukul 2.30 sore. Rute melewati Kedungdalem – Klakah. Kompleks sawah di utara memberi kesan baik. Lahan sebagian masih digarap, sisanya padi gadu baru ditanam. Di sana-sini ada kompleks dengan padi tua. Wilayah perbukitan utara tanahnya tandus, ditanami dengan buruk. 15 km di utara Klakah, kolone sampai di jalan raya Probolinggo-Lumajang. Permukaan jalan dalam keadaan cukup buruk, lapisan aspal sebagian terkelupas, selain itu banyak lubang. Sikap penduduk menjadi semakin ramah seiring kolone mendekati Klakah; berkali-kali terlihat kelompok kecil orang di tepi jalan dengan ibu jari teracung, di beberapa desa bahkan orang-orang berbaris di tepi jalan. Di Klakah banyak perhatian dari penduduk, sikap juga ramah, sama sekali tidak tertutup. Orang-orang pada umumnya terlihat baik, namun jelas terlihat kelangkaan tekstil; banyak orang memakai pakaian dari karung goni.
Bestuur (Pemerintahan) dan Polisi Republik ternyata telah melarikan diri, tidak ada lagi orang di kantor Kawedanan dan markas polisi, keduanya kosong. Saluran air utuh, tetapi tidak ada aliran listrik. Setelah berhenti 1 jam, berangkat ke Lumajang. Wilayah selatan Klakah lebih lebat tumbuhannya, banyak bambu dan kelapa, permukaan jalan tetap buruk.
Pukul 5.30 tiba di Lumajang. Tempat ini memberi kesan baik, tidak terlalu terabaikan, banyak orang di jalan yang juga melambaikan tangan atau mengacungkan ibu jari ke arah kolone.

Melapor ke Markas Besar, yang ternyata telah menempati kabupaten di alun-alun. Overste (Letnan Kolonel) van Rhijn tidak ada. Diterima oleh Mayor Smits, yang karena seringnya ketidakhadiran Komandan, akan menangani urusan-urusan yang sedang berjalan. Unit polisi sementara ditempatkan di asrama (pesthuis) polisi negara. Kamar ditempati di gedung utama. Setelah makan, pertemuan panjang dengan Mayor Smits.
Pokok-pokoknya:
Seluruh Bestuur Republik telah melarikan diri, polisi juga kecuali beberapa agen. Ada beberapa Pegawai yang tetap di posnya. Agen polisi telah diberi seragam putih oleh VDMB (Veiligheidsdienst Militaire Bewaking/Dinas Keamanan Pengawalan Militer) dan ditempatkan berjaga di beberapa titik di kota.
Pendudukan kota disertai sedikit insiden. Beberapa anggota polisi tentara (Tentara Republik Indonesia) telah ditangkap, peristiwa perampokan kecil segera ditekan.
Lampu listrik dan saluran air sepenuhnya utuh. Personel sebagian tetap di posnya. Di pusat listrik ada mesin diesel. Minyak diesel masih cukup untuk 3 bulan, minyak pelumas hanya untuk 2-3 minggu lagi. Diinginkan agar pengisian segera dikirim.
Di Klakah ditemukan 5 lokomotif gunung besar, 3 lokomotif langsir (beberapa masih beruap), 4 gerbong tangki air, 15 gerbong penumpang dan 4 gerbong barang. Di stasiun Lumajang ada 2 lokomotif gunung ringan, 12 gerbong barang (3 di antaranya bermuatan kayu) dan 5 gerbong penumpang. Semua jembatan utuh, jalur kereta api juga.
Pabrik Gula Djatiroto diselamatkan pada saat-saat terakhir. Gudang kecil sudah terbakar. Beberapa bom pesawat ditemukan, dihubungkan dengan kabel ke aki. Pabrik sepenuhnya utuh. Ada persediaan gula yang sangat besar disimpan (34.000 ton).

Rumah sakit sipil di Djatiroto dalam keadaan sangat baik. Namun dokter telah melarikan diri, namanya sangat buruk, meneror lingkungannya. Ada sekitar 100 pasien sipil. Dokter militer akan mengunjungi rumah sakit pada 24/7.
Di Pasirian, bestuur republik (wedana, A.W./Asisten Wedono) serta polisi juga telah meninggalkan posnya. Penduduk sebagian telah mengungsi, tetapi sudah mulai berdatangan kembali.
Selanjutnya dengan Mayor Smits membahas berbagai instruksi dan pedoman serta membuat beberapa kesepakatan.
Mengenai penempatan Markas Besar di kabupaten, Mayor Smits mengatakan bahwa dari sudut pandang otoritas militer, sangat diinginkan Komandan Militer menempati rumah yang agak representatif di pusat kota. Kesempatan penginapan di Lumajang terbatas, di alun-alun, rumah ini ditemukan lengkap dengan perabotan namun sepenuhnya ditinggalkan, itulah sebabnya Markas Besar ditempatkan di sana.
Diajukan bahwa semua pegawai republik telah didesak untuk kepentingan umum dan khususnya tanah air dan rakyat, agar tetap di posnya. Namun, Bupati tampaknya merasa harus mematuhi perintah pemerintahannya untuk mengungsi. Bupati ini lulusan akademi pemerintahan dan diangkat sebagai bupati Lumajang tahun 1940. Informasi yang saya dapatkan tentangnya umumnya tidak buruk (di serambi belakang kabupaten tergantung potret Diponegoro dan jenderalnya Sentot) sehubungan dengan itu saya anggap sangat penting agar dia segera kembali ke posnya. Masalah ini keesokan paginya dibahas lagi dengan Mayor Smits, yang kemudian memberi perintah untuk memeriksa apakah hotel setempat, yang terletak tidak jauh dari alun-alun, memiliki akomodasi yang cukup untuk menempatkan Markas Besar di sana.
24 Juli. – Beberapa gedung dilihat untuk penempatan B.B. Seperti dikatakan, sebenarnya tidak ada rumah yang layak.
Rumah A.R. sangat terabaikan dan sudah rusak (bekas markas P.T.R.I. (Polisi Tentara Republik Indonesia)) dan sepenuhnya kosong. Ditempati oleh beberapa unit dari Marbrig (Mariniersbrigade/Brigade Marinir). Akhirnya diputuskan pindah ke gedung Bank Rakyat yang telah ditinggalkan dan memiliki beberapa akomodasi.
Dikunjungi VDMB yang bermarkas di bekas kantor controleur, kemudian kantor Bupati. Dari Komandan VDMB mendapat banyak informasi tentang orang dan situasi. Saat ini ada 1 inspektur polisi republik dan 30 agen. Personel ini ditempatkan di bawah pimpinan Komandan Unit van Alphen. Di penjara, sipir tetap di posnya. Saat ini ada 3 perwira P.T.R.I. yang ditahan, selain itu hanya tahanan kriminal. Akan mengambil situasi di tempat secepat mungkin.
Di kabupaten ini masih ada sejumlah warga negara (sekitar 112 jiwa) yang telah kehilangan segalanya dan hidup dalam keadaan menyedihkan. Separuhnya tinggal di Lumajang, dan 50-60 jiwa di berbagai tempat, terutama di Tempeh. Orang-orang ini merasa terancam dan saat ini hidup dalam ketakutan besar akan dibunuh. Poin ini kemudian dibahas dengan Mayor Smits, yang menyatakan tidak dapat menjamin keamanan orang-orang ini. Kemudian diputuskan untuk menjemput orang-orang di luar kota pada 25/7 dan menempatkan mereka bersama warga negara di Lumajang. Marbrig dapat menyediakan 1 truk dan pengawalan militer untuk ini. Saya sendiri akan menyertakan 1 truk M.T.D. Penerimaan dll telah dipersiapkan oleh ketua warga negara. Jika perlu, saya akan memberikan beras untuk orang-orang ini. Perawatan orang-orang ini adalah tugas Palang Merah, oleh karena itu sangat diharapkan agar pos Palang Merah dibuka di sini secepat mungkin.
Berkaitan dengan ini, sepatah kata tentang rumah sakit sipil. Ini penuh sesak, perawatan medis sangat buruk, makanan saat ini nihil. Akan memanggil dokter penanggung jawab pada 25/7 dan memerintahkan untuk segera mengambil tindakan yang akan memperbaiki keadaan. Ada sejumlah pasien kurus kering, yang ternyata semua adalah pengungsi dari delta Brantas. Di sini terbukti bahwa Republik tidak peduli pada orang-orang ini. Jadi, di sini ada lahan kosong untuk Palang Merah.
Sepanjang pagi, Wedono atas nama Bupati Atmonadi (hingga akhir 1945 wedono Lumajang) melapor dengan asisten wedono Kotta Abdoerachman (selama 3 tahun, sebelumnya mantri polisi Pasirian). Kepada kedua pejabat Bestuur dijelaskan panjang lebar alasan kedatangan pasukan Belanda serta penjelasan tentang cara memulihkan kehidupan ekonomi, sehubungan dengan itu setiap pejabat harus segera melanjutkan pekerjaannya sesuai dengan pedoman dan instruksi yang telah ditetapkan. Kedua pejabat tersebut menyatakan, atas pertanyaan saya apakah mereka bersedia bekerja di bawah syarat-syarat tersebut untuk kepentingan tanah air dan rakyat dalam dinas pemerintah sipil, menyatakan kesediaan. Mereka berjanji akan berusaha sebaik mungkin melaksanakan tugas yang diberikan. Tn. Atmonadi kemudian diangkat sebagai kepala pemerintahan umum sementara dengan pangkat dan gelar Wedono selama bupati tidak ada, dengan Tn. Abdoerachman sebagai A.W. di bawahnya. Selanjutnya berbagai poin dibahas dan sejumlah data diminta.
Pertemuan dengan Mayor Smits. Menurut informasi, harga beras akhir-akhir ini bervariasi antara 70 dan 80 sen C.R.I. (uang Republik), minggu-minggu terakhir 80 sen. Sehubungan dengan ini, harga beras di Ned. Ind. courant (mata uang Hindia Belanda) untuk Lumajang ditetapkan sebesar 20 sen per kg. Berbagai topik dibahas, antara lain tindakan yang akan diambil untuk mencegah harga didongkrak. Mengingat Marinir di lapangan sebenarnya sedikit membutuhkan uang, dapat mencukupi dengan uang saku untuk membeli rokok dan makanan ringan di kantin, mungkin dalam konsultasi dengan Mayor Smits disarankan, selama mereka di lapangan, membayarkan persentase dari gaji mereka sebagai uang saku dan menahan sisanya di buku pembayaran sampai mereka kembali di Surabaya.
Pukul 1 siang, kelompok ke-2 tiba, terdiri dari Tn. Lemmens dan Best (SS/Staatsspoorwegen), Weber dan 7 sopir (MTD), Baden (Gula), van Hal (Kebun Pegunungan), Petrie (GGV/ Gouvernements Groenten en Vruchtenbedrijven?), Murley (VMF/Volks-militaire Formaties?), Wagener, Lemaire dan Swie (J.B./Java Bank) serta 2 unit polisi dan 3 I.v.P. (Inspektur van Polisi). Polisi ditempatkan di markas polisi negara, kelompok sementara di gedung bank kecil yang menjadi sangat penuh.
Satu-satunya kemungkinan penginapan lain adalah rumah A.R., situasi diperiksa kembali dan akhirnya diputuskan untuk menempati rumah itu. Masih banyak yang harus diperbaiki sebelum rumah itu layak huni. Sehubungan dengan rumah itu ditempati oleh unit-unit Marbrig, kesulitan penginapan untuk kelompok Sipil diajukan kepada Mayor Smits. Dia sangat bersedia bekerja sama dan secara pribadi pergi mencari tempat tinggal untuk marinir tersebut. Sepanjang sore, Mayor melaporkan bahwa rumah itu akan dikosongkan sebelum gelap.
Rapat diadakan dengan anggota kelompok yang berlangsung sepanjang sore. Pembicaraan pengantar dan orientasi tentang semua poin yang penting bagi setiap tuan. Para tuan tidak membawa ransum. Marbrig di Lumajang memiliki sangat sedikit ransum dan tidak dapat memberikannya. Namun, dalam waktu dekat, persediaan makanan normal dapat dimulai, setidaknya jika panci, wajan, kompor, dll. yang diperlukan tiba tepat waktu. Sampai saat itu, sebenarnya harus menyediakan makanan sendiri. Untungnya ternyata masih ada sedikit makanan tersisa di ruang makan perwira sore ini, sehingga anggota kelompok yang kelaparan (38 orang) masih bisa menikmati makanan yang cukup.
Mengenai penginapan, dalam rapat diputuskan bahwa Asisten Residen, asisten bestuur, komisi, komisaris, pimpinan teknis Tn. van Hal, serta Tn. Weber dari MTD dengan 8 sopir dan angkutan akan pindah ke rumah A.R., tuan-tuan lainnya tetap di gedung bank.
Karena Klakah adalah simpul kereta api dan terletak di tengah, saya memutuskan untuk menempatkan Tn. Lemmens dan Best (SS) di sana. Mereka akan pergi ke Probolinggo besok untuk menjemput personel, karena personel Klakah sudah tidak ada lagi. Tn. Murley dan Petrie akan mengunjungi penggilingan beras dan gudang di kota pada 25/7 untuk melihat situasi. Tn. Baden pergi dengan Kolone Militer ke Djatiroto. Tn. van Hal ke Tempeh untuk menghubungi berbagai orang untuk informasi dan data ekonomi.
Atas permintaan senjata api revolver, Mayor Smits menolak (tidak ada revolver tersedia). Penyediaan bensin untuk kendaraan MTD belum diatur. Permohonan mendesak diajukan kepada Komandan Marbrig untuk segera membuat pengaturan. Akan ditangani dari staf brigade. Kepada orang-orang bonafide yang harus secara teratur mengunjungi anggota kelompok, akan diberikan kartu identitas.
Lumajang, 24 Juli 1947.-
Asisten Residen,
(pejabat sementara)
W.C. Schoevers.
LAPORAN HARIAN UNTUK PEJABAT PEMERINTAHAN DI LUMAJANG.
Lumajang, 25 Juli 1947.-
23 Juli 1947
- Tiba di Probolinggo pukul 8.00 di Markas Besar.
Setelah melapor kepada Komandan Militer Setempat dan Pejabat Pemerintahan Probolinggo, saya menghadap Tuan Schoevers, Pejabat Pemerintahan Lumajang, yang masih berada di sana. Setelah berunding dengan Tuan Schoevers, diputuskan bahwa saya akan ikut dengannya ke Lumajang. Di Probolinggo saya memang tidak dapat melakukan pekerjaan apa pun. Selain itu, Pejabat Pemerintahan Probolinggo telah memberikan sinyal untuk belum mengirimkan regu-regu Probolinggo dan Lumajang. Sehubungan dengan ini, Tuan Schoevers menganggap perlu agar saya ikut serta untuk membantunya di Lumajang dalam memilih tempat tinggal dan sejenisnya serta menerima regu yang diharapkan akan datang. - Keberangkatan dari Probolinggo pukul 14.00 dalam kolone bersama Marinir dan satu unit Polisi Lapangan.
Perjalanan Probolinggo-Lumajang berlangsung tanpa insiden apapun. Di sekitar Probolinggo sedikit terlihat orang, tetapi di dekat Klakah penduduk berdiri di tepi jalan melambaikan tangan dan mengacungkan ibu jari. - Tiba di Lumajang pukul 18.00 di mana kami ditempatkan di Kabupaten yang ditempati oleh Staf Brigade Marinir. Secepatnya saya menghubungi V.D.M.B. (Veiligheidsdienst Mariniersbrigade/Dinas Keamanan Brigade Marinir) untuk mendapatkan informasi mengenai Gedung Bank A.V.B. yang juga terletak di alun-alun (lihat sketsa terlampir).
Kantor tersebut berada dalam keadaan tidak teratur. Kertas-kertas berserakan di lantai, laci-laci terbongkar. V.D.M.B. segera memeriksa dan mengunci bangunan ini. Kunci brankas hilang. Pintu brankas adalah produk Lips, tidak memiliki kombinasi angka, hanya sebuah lubang kunci. Di tempat di mana plat nomor pernah terpasang, tertulis nomor 431 dengan cat putih. Sang Pemimpin (pengelola) Bank Rakyat Indonesia, seorang bernama Goentaroem, telah melarikan diri bersama keluarganya, kemungkinan membawa serta kuncinya. Hal ini segera dilaporkan kepada H.P.B. (Hoofd van het Plaatselijk Bestuur/Kepala Pemerintahan Setempat) dan V.D.M.B. yang akan berusaha mendapatkan kembali kunci brankas yang bersangkutan.
24 Juli 1947.-
Hari ini digunakan untuk memeriksa apakah ada ruang brankas lain di tempat lain. Gedung pegadaian masih dalam keadaan normal, penuh dengan berbagai barang. Kunci-kuncinya atas perintah V.D.M.B. berada di tangan pengelolanya. Tidak ada ruang brankas.
Diputuskan untuk sementara menggunakan rumah dari kompleks bank sebagai ruang makan dan ruang kantor sebagai pusat penerimaan untuk regu yang akan datang.
Keadaan perumahan tidak mudah. Rumah A.R. (Asisten Residen) dalam kondisi buruk, namun akan dicoba untuk menempati rumah ini, sehingga akhirnya staf bank dan beberapa instansi E.Z. (Economische Zaken/Urusan Ekonomi) tetap tinggal di gedung bank. Rumah-rumah lain sudah ditempati oleh Marinir. Keheranan kami, sore harinya regu sipil tiba sekitar pukul 14.00 dengan satu unit Polisi Lapangan. Regu ini memang belum diharapkan, karena dari Probolinggo telah diberi sinyal untuk belum mengirim regu ini. Tuan-tuan Wagener, Lemaire, dan Kwa Khoen Swie datang dengan uang. Uang ini disimpan di kamar tidur Tuan-tuan Wagener, Lemaire, dan saya. Sore harinya digunakan untuk mengatur tempat tinggal kami. Air mengalir, listrik juga beres, tetapi sangat kekurangan bola lampu.
Rumah dan kantor Bank A.V.B. dilengkapi dengan perabotan.
Menjelang pukul 19.00 diadakan pembicaraan dengan poin-poin utama:
- Didesak untuk mengirim sinyal ke Surabaya mengenai kunci brankas.
- Harga beras ditetapkan oleh H.P.B. sebesar 20 sen.
25 Juli 1947.
Langsung dimulai dengan membereskan rumah. A.R. dengan orang-orangnya serta Tuan-tuan Van Hal (pimpinan teknis) dan Weber (pimpinan M.T.D.) telah pindah ke rumah A.R.
Tuan Schoevers memberitahu kami, bahwa telah berhasil mengirim sinyal ke Surabaya mengenai kunci brankas A.V.B.
Kantor diatur dan tempat tinggal diselesaikan. Pukul 13.00 Tuan Tan Sian Tjwan tiba dengan pengiriman uang (remise) dari Surabaya, yang saya terima dalam keadaan baik. Peti-peti ini kini disimpan di sebuah bilik kasir, dikunci dengan kawat harmonika dan sebuah gembok pada pintunya, di dalam ruang kantor (lihat sketsa). Pada malam hari, salah seorang dari kami tidur di dekat uang ini. Di kantor A.R. sebelumnya ditempati oleh A.O. (Algemene Opsporingsdienst/Dinas Penyelidikan Umum). Menurut Wedono, brankas tersebut dalam beberapa bulan terakhir tidak digunakan. Menurut Wedono, kuncinya berada di Malang.
Ringkasan:
Tempat Tinggal: di ruang rumah gedung bank, 2 orang per kamar.
Pembantu: cukup mudah didapat. Saat ini yang bekerja untuk Ruang Makan kami (7 orang): 1 koki dan 1 babu. Lebih banyak personel akan datang besok.
Uang: disimpan sesuai sketsa terlampir (No. 2).
Kantor: hampir siap beroperasi. Kemungkinan pada Hari Minggu pembayaran pertama sudah dapat dilakukan.
PERWAKILAN DEPARTEMEN KEUANGAN:
(yang benar) (tidak terbaca).

Sumber : nationaalarchief.nl
Postingan Terkait :
Bandara Rahasia Pemerintah Hindia Belanda di Pasirian Lumajang
Biografi dan Penelusuran Makam Zollinger di Kandangan Lumajang

