Sejarah penyediaan energi listrik di Jawa Timur merupakan salah satu babak penting dalam perjalanan modernisasi wilayah ini, dari masa akhir abad ke-19 hingga pemulihan pasca-perang kemerdekaan. Artikel ini menyajikan terjemahan dan penyajian ulang dari naskah asli Ir. J. H. van Westendorp yang dimuat dalam majalah De Ingenieur in Indonesië No. 4 tahun 1951—sebuah dokumen berharga yang merekam perjuangan panjang membangun infrastruktur kelistrikan di bawah kolonial Belanda, melalui berbagai perusahaan swasta dan pemerintah seperti ANIEM, NIWEM, serta pengambilalihan jaringan lokal di Surabaya, Malang, Pasuruan, hingga daerah-daerah seperti Lumajang, Probolinggo, dan Kediri.
Dari telegram sederhana “Kemarin lampu listrik menyala sepanjang malam!” di Malang tahun 1911, hingga kehancuran besar-besaran akibat pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda, serta rekonstruksi bertahap pasca-1945 dengan pembangkit diesel sementara dan pemulihan PLTA seperti Mendalan, Siman, dan Sengguruh—semuanya menggambarkan ketangguhan dan tantangan nyata dalam menghadirkan cahaya listrik bagi masyarakat Jawa Timur. Pada masa keemasan pra-perang, kapasitas mencapai 44.500 KW dengan penjualan hampir 95 juta KWH per tahun; namun perang dunia dan revolusi kemerdekaan meninggalkan luka mendalam yang memerlukan usaha besar untuk dipulihkan.
Sejarah Awal
Sementara di Negeri Belanda perusahaan listrik umum pertama sudah muncul pada tahun 1886, tepatnya di Kinderdijk dekat Alblasserdam, baru pada tahun 1897 di Batavia (Jakarta) pasokan listrik dimulai oleh perusahaan Hindia pertama.
Pada tahun 1890 sudah ada sebuah ordonansi yang mengatur penyediaan listrik secara hukum, dengan demikian Pemerintah Hindia Belanda jauh lebih maju dibandingkan banyak negara lain. Hal yang menarik adalah, meskipun perkembangan besar penyediaan listrik pada tahun 1890 sama sekali tidak dapat diprediksi, ordonansi ini setelah beberapa perubahan pada dasarnya masih sama seperti dulu.
Berdasarkan ordonansi ini, izin sudah diberikan untuk Surabaya dan Semarang pada tahun 1892 dan untuk Batavia pada tahun 1893. Untuk dua kota pertama, izin tersebut sementara tidak dilaksanakan. Pada tahun 1897, Nederlandsch-Indische Electriciteit Mij. memulai pengoperasian perusahaannya di Gambir. Setelah mengalami masa sulit, perusahaan ini menyerahkan asetnya pada tahun 1905 kepada Nederlandsch-Indische Gas Maatschappij.
Di Medan, dengan dukungan Deli Spoorweg Mij., didirikan Electriciteit Maatschappij Medan. Perusahaan ini pertama kali memasang penerangan jalan listrik. Di bawah pimpinan firma Maintz & Co. didirikan Solosche Electriciteit Maatschappij, yang memberikan hasil keuangan yang sangat rendah. Sebaliknya, “Bandoengsche Electriciteit Mij.“, yang pada tahun 1905 juga dibuka di bawah pimpinan Maintz & Co., berkembang dengan cepat. Keberhasilan ini terutama berkat sumber tenaga yang murah, yaitu pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Tjikapundung, dan diperkenalkannya tarif berlangganan.
ANIEM
Sekitar tahun 1900, muncul di Jawa seorang bernama tuan Graham Gribble, seorang insinyur Inggris, diduga atas perintah sebuah perusahaan Amerika, untuk menyelidiki kemungkinan penyediaan listrik di Jawa. Dia membuat sejumlah proyek yang baik untuk Jawa Tengah dan Timur, juga di bidang tenaga air. Namun apresiasi terhadapnya hanya sedang-sedang saja. Rencana untuk menggabungkan konsesi Surabaya dengan proyek-proyek lain ke dalam sebuah perseroan besar disebut fantastis; dianggap tidak mungkin untuk mengumpulkan uangnya.
Karena pasal 1 ayat 3 ordonansi tahun 1890 menentukan bahwa “hanya izin diberikan kepada Warga Negara Belanda, yang berdomisili di Hindia Belanda, atau kepada perseroan terbatas yang didirikan di Hindia Belanda atau di Belanda, yang berdomisili atau diwakili dengan baik di Hindia Belanda“, Tuan Graham Gribble tidak bisa mendapatkan konsesi. Oleh karena itu, dia menghubungi tuan J. Schoutendorp, atas namanya pada tahun 1904 sejumlah konsesi, termasuk untuk Surabaya, Semarang, Malang, dan Pasuruan didaftarkan. Tuan Gribble berusaha keras di Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda untuk mendapatkan modal. Namun, usahanya tidak berhasil. Sebagai penyebabnya dapat ditunjukkan: hasil keuangan yang buruk dari banyak perusahaan listrik di Eropa dan juga di Hindia Belanda serta pasar uang internasional yang benar-benar kacau untuk usaha semacam itu. Selain itu, di Surabaya dan Semarang sudah ada perusahaan gas. Sangat dipertanyakan apakah konsumen penerangan akan beralih ke listrik.
Baru ketika Maintz & Co., didukung oleh A.E.G., mulai menunjukkan ketertarikan pada rencana tersebut, ada sedikit kemajuan dalam urusan ini. Pada tahun 1907, sebuah kajian ahli dilakukan oleh insinyur A.E.G., Gressmann, insinyur Maintz, Wächter, dan tuan Gribble. Namun, baru pada tanggal 26 April 1909 modal yang diperlukan dengan dukungan Ned.-Ind. Escompto Mij. dan Allgemeine Elektrizitäts Gesellschaft terkumpul dan “Algemeene Nederlandsch-Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM)” dapat didirikan.
Surabaya – Malang – Pasuruan
Dimulai dengan pembangunan sebuah pusat listrik mesin diesel di Surabaya di Gemblongan dan dengan pembangunan jaringan saluran di tempat tersebut. Tujuannya awalnya hanya memasang dua unit, masing-masing 600 HP, dan menggunakan pusat listrik tersebut nanti sebagai cadangan dan pelengkap untuk sebuah pembangkit listrik tenaga air di Kali Welang, yang juga akan menyediakan listrik untuk tempat lain, misalnya Malang dan Pasuruan.
Namun, segera diputuskan juga untuk membangun sebuah pusat listrik mesin diesel di Malang dan Pasuruan dan membuka perusahaan di sana secepat mungkin. Tidak ada hambatan yang dialami dalam hal ini dan pada tanggal 18 Januari 1911 perusahaan di Malang dibuka dengan sebuah unit berkapasitas 250 HP, sedangkan pada tanggal 17 Juli tahun itu Pasuruan mulai memasok listrik dengan sebuah unit 30 HP dan satu unit 250 HP.


Sementara itu, pembangunan pusat listrik Surabaya mengalami penundaan serius. Meskipun lokasinya di Gemblongan dari sudut pandang pengoperasian sangat baik, ternyata kondisi tanah di sana sedemikian rupa sehingga dalam pembangunan fondasi ditemui kesulitan besar. Kontraktor tidak berhasil membangun fondasi dengan cara yang memuaskan, sehingga pekerjaan dilanjutkan dan diselesaikan dengan pengelolaan sendiri. Pada tanggal 9 Desember 1911, pusat listrik Surabaya juga mulai beroperasi.

Pada tahun 1913, perusahaan di Semarang dibuka, dengan sumber tenaga dari pembangkit listrik tenaga air Tuntang dekat Salatiga.
Sudah pada tahun-tahun pertama, perusahaan-perusahaan di Jawa Timur berkembang sedemikian rupa sehingga segera harus diambil tindakan untuk memperluas kapasitas.
Rencana untuk pembangkit listrik tenaga air di K. Welang semakin matang, namun akhirnya tidak dilaksanakan karena rencana tersebut dari segi hidraulik kurang menarik dan karena beberapa konsumen besar di Surabaya menganggap keandalan operasional dari sumber tenaga yang jauh dan khususnya dari saluran pasokan “panjang” tidak memadai. Mereka menginginkan agar ANIEM, terlepas sama sekali dari eksploitasi tenaga air, menyimpan sejumlah mesin kalorik yang cukup untuk Surabaya dalam cadangan.
Karena pusat listrik Gemblongan untuk tujuan ini tidak memadai dan perluasan di sana tidak layak direkomendasikan, diputuskan untuk menghentikan rencana Kali Welang dan membangun pusat listrik kalorik baru di Surabaya. Mengingat perlunya pemasangan mesin berkapasitas besar, diputuskan untuk menerapkan turbin uap di sini. Sebuah lokasi yang cocok ditemukan di Semampir, di muara Kali Pegirian. Awalnya dipasang dua ketel Babcock & Wilcox masing-masing dengan luas permukaan pemanas 476 m², dengan ekonomiser, pemanas lanjut (superheater), dan alat tarik buatan. Sebagai unit mesin dipasang dua turbin uap dengan generator, masing-masing 1250 KW.

Awal tahun 1914, pusat listrik ini mulai beroperasi dan pada tahun 1915 ternyata sudah perlu memesan ketel dan unit ketiga. Perang yang pecah pada waktu itu menimbulkan banyak kesulitan, karena bahan dan mesin yang diperlukan tidak dapat diperoleh atau hanya dengan harga yang sangat tinggi.
Baru pada tahun 1917 turbin uap ketiga dapat dioperasikan, yang keempat tiba pada tahun 1918, sedangkan ketel ketiga dan keempat baru dapat beroperasi pada tahun 1919. Pada tahun-tahun perang, perusahaan karena itu tidak selalu dapat memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat.
Pasokan batu bara untuk pusat listrik juga terancam dalam bahaya selama masa perang karena kurangnya kesempatan pengiriman kapal. Untuk memperbaiki hal ini, dibeli tiga kapal layar, yaitu kapal tiga tiang Mentil, Argo, dan Alnoer, dengan total isi sekitar 2250 Ton register bersih, yang mengangkut batu bara dari Borneo. Hal ini tidak hanya memberikan pasokan yang teratur, tetapi juga penghematan yang cukup besar atas biaya angkut kapal yang tinggi, yang ditagih oleh K.P.M.

Tingginya biaya batu bara mendorong pada akhir tahun 1917 untuk membuat Semampir sebagian cocok untuk minyak bakar. Sudah pada bulan Januari 1918, satu ketel siap. Baru sekitar tahun 1930, 3 ketel lainnya diubah.
Perusahaan di Malang berkembang sangat memuaskan sejak pembukaannya. Pada tahun 1915, mesin diesel kedua berkapasitas 300 HP dioperasikan dan pada tahun 1919 yang ketiga berkapasitas 600 HP.
Bahwa dahulu juga bisa terjadi kesulitan dengan pasokan listrik, terlihat dari sebuah telegram Malang di Soerabaijasch Handelsblad tahun 1911, yang berbunyi: “Kemarin lampu listrik menyala sepanjang malam!“
Perusahaan di Pasuruan berkembang kurang baik. Citra kota yang mati ini juga membawa dampak pada perusahaan listrik. Kapasitas mesin yang terpasang untuk waktu yang lama terlalu besar untuk bebannya. Pemasangan mesin ketiga dilakukan semata-mata dari sudut pandang keandalan operasional.
Setelah kesulitan besar pada masa perang, terjadi kebangkitan besar.
Sudah pada tahun 1915, eksplorasi pertama terhadap tenaga air Kali Konto dilakukan oleh Biro Tenaga Air (Waterkrachtbureau) masa itu dari Dinas Kereta Api dan Trem Negara untuk kepentingan perusahaan S.S. Kemudian kepentingan tenaga air dinyatakan lebih luas dengan melihat pada penyediaan listrik umum.
Sementara itu, pada tahun 1917 didirikan “Dienst voor Waterkracht en Electriciteit” sebagai bagian dari Departemen Perusahaan Pemerintah (Departement van Gouvernementsbedrijven). Dinas ini antara lain bertugas menangani konsesi untuk tenaga air dan izin pembangunan saluran, serta mengawasi kepatuhan terhadap ketentuan konsesi dan izin ini.
Keterlibatan lebih lanjut dari Dinas ini mencakup antara lain penyusunan peraturan listrik, normalisasi tegangan, pendirian dan pengoperasian Perusahaan Tenaga Air Negara (Landswaterkrachtbedrijven).
Perusahaan Tenaga Air Negara ini terutama dibangun di Jawa Barat.
NIWEM
Ketika pada awal tahun dua puluhan pembangunan pembangkit tenaga air di Kali Konto menjadi perlu, namun karena kondisi waktu yang tidak menguntungkan, Pemerintah keberatan menaikkan anggaran dengan jumlah penuh biaya pembangunan pekerjaan ini. Hal ini membuat Direktur Perusahaan Pemerintah mencari solusi, di mana penyelesaian cepat dari pekerjaan produktif ini akan terjamin dan sekaligus kontribusi keuangan dari Negara akan dikurangi hingga minimum, di mana kendali mayoritas yang diinginkan Pemerintah dapat didasarkan.
Solusi ini ditemukan dalam pendirian sebuah perusahaan campuran bekerja sama dengan ANIEM. Demikianlah pada tahun 1926, muncul Ned. Ind. Waterkracht Exploitatie Mij. (NIWEM).
Segera dimulai dengan pembangunan saluran transmisi 70 KV yang diperlukan, awalnya dengan kawat baja-aluminium. Namun karena banyak kesulitan dialami akibat patah kelelahan pada kawat ini, kemudian dipasang kawat tembaga. Sudah pada tahun 1927, Mojokerto menerima listrik dari Surabaya melalui saluran NIWEM.
Pada tahun 1928, pembangkit listrik Mendalan selesai, awalnya dengan 3 unit, masing-masing 5600 KW. Pada tahun 1930, unit ke-4 dioperasikan, sehingga total kapasitas menjadi 22.400 KW.

Pada tahun kering 1929, terjadi kekurangan energi yang serius selama musim timur karena debit sungai yang sangat rendah. Diputuskan juga untuk melaksanakan pembangkit listrik Siman. Pembangkit ini selesai pada tahun 1931 dengan kapasitas maksimum 7200 KW.

Pembangkit listrik Mendalan memiliki tinggi jatuh sekitar 140 M dan debit 9,0 m³/detik, yang tersedia selama 9 bulan dalam setahun (debit minimum 4,7 m³/detik). Air bekas pakai dikumpulkan dalam bak penampung 100.000 m³. Dari bak ini, pembangkit listrik Siman menerima airnya dengan tinggi jatuh sekitar 98 M dan debit minimum 8,0 m³/detik.
Pembangkit listrik Siman memberikan daya konstan ke jaringan, akibat tuntutan dari Dinas Irigasi bahwa air hilir secara teratur dikembalikan ke Kali Kanto.
NIWEM mengangkut energi yang dihasilkannya sepanjang saluran 70 KV dan 30 KV ke gardu induk, di mana energi tersebut diturunkan tegangan dan diserahkan ke ANIEM dengan tegangan 6 KV.
Setelah jaringan NIWEM beroperasi, pembangkit listrik kalorik yang terhubung hanya berfungsi sebagai cadangan dan hanya beroperasi saat terjadi gangguan dan sebagai suplemen saat kekurangan air pada musim kemarau.
Pada tahun 1928, tempat-tempat berikut dapat menerima energi yang dihasilkan secara hidraulik: Surabaya, Sepanjang, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Pasuruan, Bangil, Porong, Gempol, Malang, Blimbing, dan Lawang.
Di tahun 1929 menyusul Kediri, Pare, Kertosono, dan Nganjuk.
Pada tahun 1930 Blitar, Batu, Gedangen, dan Japanan dan pada tahun 1931, Probolinggo, Kraksaän, Gending, dan Tulungagung.
Pada tahun-tahun berikutnya, elektrifikasi pedesaan dilanjutkan secara teratur, antara lain pada tahun 1934: Prigèn, Trètès, dan Punten.
Mengenai penyediaan listrik di Jawa Timur yang tidak termasuk dalam wilayah pelayanan NIWEM, berikut informasinya:
Pada tahun 1928, Banjoewangische Electriciteit Compagnie (BECO) diambil alih oleh ANIEM dengan antara lain sebuah turbin air 50 KW (Klontjen/Kluncing).
Di tahun 1930, sebuah pembangkit listrik baru dibuka di sini; pada tahun 1931, Rogojampi dihubungkan.
Pada tahun 1929, Besukische Electriciteits Mij diambil alih oleh ANIEM. Perusahaan ini memiliki pembangkit listrik di Jember dan Bondowoso.
Pada tahun 1931, dibangun sambungan 15 KV antara tempat-tempat ini dan Kalisat dihubungkan.
Pada tahun 1933, ANIEM memperoleh pengelolaan atas Oost-Java Electriciteits Mij, yang memiliki pembangkit listrik di Lumajang, Tuban, dan Situbondo, dan atas Electr. Mij Rembang dengan antara lain sebuah pembangkit listrik di Cepu.
Pada tahun 1938, Pamekasan, Bangkalan, dan Sumenep dilengkapi dengan pembangkit listrik.
Akhirnya, harus disebutkan juga Perusahaan Listrik Kotapraja Madiun, yang memperoleh energinya dari Pembangkit Tenaga Air Giringan dan juga antara lain menyediakan listrik untuk Maospati dan Ponorogo, selain Perusahaan Listrik Kabupaten di tempat Lamongan.
Masa Keemasan dan Kehancuran
Setelah tahun 1931, di wilayah pelayanan NIWEM praktis tidak ada perluasan kapasitas. Tenaga air yang terpasang 29.600 KW dan kalorik sekitar 14.900 KW, total 44.500 KW.
Pada peta terlampir, penyediaan listrik di Jawa Timur pada tahun 1940 ditunjukkan. Untuk mendapatkan gambaran yang baik tentang luasnya jaringan distribusi, batas-batas Belanda digambarkan dengan titik-titik, ditunjukkan sesuai skala.

Pada tahun 1940, di Jawa Timur terjual 94.842.000 KWH; dari NIWEM dibeli 89.687.000 KWH. Sisanya diproduksi sendiri.
Jumlah beban tertinggi di perusahaan-perusahaan adalah 20.792 K. Sekitar 40% dari beban terdiri dari perusahaan tenaga, sekitar 60% adalah untuk penerangan dan keperluan rumah tangga.
Setelah perluasan besar jumlah konsumen pada tahun dua puluhan, krisis menyebabkan penurunan tajam jumlah sambungan setelah tahun 1931.
Pada tahun 1935, titik terendah tercapai. Setelah itu, terlihat kenaikan lagi.
Setelah Mei 1940, terjadi perluasan tambahan, terutama untuk tenaga sebagai akibat dari persiapan perang. Pada tahun 1940, dimulai pembangunan Pembangkit Tenaga Air Sengguruh, 25 KM di Selatan Malang tepat di hilir pertemuan Kali Lesti dan Kali Brantas.
Pembangkit tenaga air ini dirancang untuk suplemen pembangkit listrik Mendalan dan Siman selama musim timur. Terdiri dari satu unit tunggal 2600 KW. Tinggi tekanan sekitar 22 M, debit 16 m³/detik.
Bagian bangunannya saat pecah perang dengan Jepang sebagian besar sudah siap. Unit yang dipesan di Amerika pada saat itu sedang berlayar dan dibongkar di Australia.
Pada tahun 1941, juga dimulai pembangunan Pembangkit Tenaga Air Tempur di daerah Selatan Semeru. Pekerjaan ini segera dihentikan dalam perang.
Selama pendudukan Jepang dari tahun 1942 hingga 1945, peralatan produksi listrik mengalami kemunduran serius dalam kualitas. Karena penanganan yang salah, antara lain dengan menggunakan minyak pelumas dan bahan bakar inferior serta pengabaian, banyak motor rusak dan menjadi tidak berfungsi. Unit-unit diseret dari satu tempat ke tempat lain dan ditemukan kembali di tempat-tempat yang paling aneh. Misalnya, 2 unit pertama dari pembangkit listrik Semampir dibongkar oleh Jepang. Setelah perang, unit-unit itu ditemukan kembali di sebuah sawah dekat Sidoarjo.
Pembangkit Kali Konto rusak pada tahun 1945 akibat pemboman Amerika.
Pasca Perang
Setelah penyerahan Jepang pada tahun 1945, awalnya hanya di kota Surabaya dapat dimulai dengan rekonstruksi. Pembangkit listrik Semampir, yang sejak selesainya pembangkit Kali Konto hanya berfungsi sebagai pembangkit cadangan, sangat diabaikan. Dengan susah payah, unit-unit turbo III, IV, V, dan VI serta 7 ketel dapat dioperasikan kembali. Namun, perbaikan dan revisi yang sering tetap diperlukan.
Kapasitas tersedia dari turbin-turbin tersebut masing-masing adalah 1000, 1000, 2800, dan 3000 KW. Namun secara total, sehubungan dengan kapasitas ketel, tidak dapat diandalkan produksi yang lebih besar dari 6000 KW.
Setelah aksi pertengahan 1947, ternyata di daerah yang dapat dijangkau saat itu, banyak pembangkit listrik mengalami kerusakan serius. Pembangkit listrik Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang tidak rusak, meskipun terabaikan. Di daerah ini, pasokan listrik pada tahun 1947 dapat dilanjutkan hampir normal.
Kondisi 3 pembangkit listrik di Madura buruk. Pamekasan dan Bangkalan rusak berat, pembangkit listrik Sumenep sangat terabaikan. Dengan menempatkan unit-unit baru, akhirnya pada tahun 1949 dapat dicapai lagi pasokan listrik yang wajar.
Pasokan listrik untuk tempat-tempat yang terletak di wilayah pelayanan NIWEM merupakan masalah yang sulit. Kondisi mesin di pembangkit listrik Malang sangat buruk, sementara sebagian besar saluran tegangan tinggi telah dibongkar dan hilang. Bahkan jika saluran-saluran ini dapat digunakan, pasokan listrik untuk daerah yang dapat dijangkau karena kapasitas yang tidak memadai di Surabaya dan Malang hanya akan sangat minim. Oleh karena itu, dicari berbagai kemungkinan sumber tenaga lain untuk penyediaan energi sementara.
Di Malang, pembangkit listrik diesel Klojen pada bulan Agustus 1947 dioperasikan kembali dengan 4 unit, yang harus dijalankan dengan sangat hati-hati, sehingga hanya dapat memberikan daya yang kecil. Pada tahun 1949, ditambahkan unit ke-5 dari Jawa Barat. Total kapasitas saat itu menjadi 1200 KW. Pada bulan November 1947, Batu kembali dihubungkan ke Malang. Di bulan Januari 1948, Sukorejo mendapat pasokan dari Malang melalui saluran NIWEM. Pada bulan Juli 1947, Pandaan, Prigèn, dan Trètès menerima listrik dari pabrik tenun Kasri.
Pasuruan pada bulan Desember 1947 mendapat pasokan listrik dari pabrik gula Kedawung dan kemudian juga dari pabrik tenun Nebritex, yang pada bulan Oktober 1948 juga mulai memasok ke Porong dan Bangil.
Pasokan listrik Mojokerto menjadi sebuah drama bagi perusahaan listrik.
Pada bulan Oktober 1947, melalui saluran tegangan tinggi 6 KV yang dibangun selama pendudukan Jepang, energi diperoleh dari pabrik gula Wates, di mana sebuah mesin uap dengan ketel yang dioperasikan dengan minyak dioperasikan. Namun ketel ini dibangun untuk membakar ampas tebu dan terbakar pada tanggal 10 Januari 1948. Pada tanggal 17 Januari, karena itu di Mojokerto sebuah unit Caterpillar 50 KW, berasal dari Bandung, dioperasikan. Namun karena unit ini harus ke Probolinggo, yang sama sekali tidak memiliki listrik, diatur untuk memperoleh energi listrik untuk Mojokerto dari pabrik gula Gempolkrep, di mana terdapat sebuah generator arus bolak-balik, yang dapat digerakkan oleh sebuah mesin diesel atau sebuah lokomobil. Pada bulan Juli 1948, ini selesai dan unit Caterpillar dapat dikirim ke Probolinggo.
Awal Desember 1948, roda gila mesin diesel patah dan beberapa hari kemudian ruang bakar di lokomobil ambruk. Seluruh pasokan listrik Mojokerto saat itu masih terdiri dari sebuah unit cadangan bensin kecil 25 KW. Sebuah unit Caterpillar yang baru saja bebas dari Lawang segera dipindahkan ke Mojokerto dan di sana setelah beberapa hari kembali beroperasi.
Beberapa hari kemudian, menjadi mungkin untuk memasok Mojokerto melalui sebuah sirkuit dari saluran NIWEM 70 KV dengan 6 KV dari Surabaya. Unit tersebut kemudian bebas untuk daerah-daerah, yang diduduki dalam aksi kedua pada awal 1949. Lawang mendapat sebuah unit Caterpillar 50 KW pada bulan Maret 1948. Sepanjang menerima energi dari pabrik asam sulfat di sana pada bulan Mei 1948.
Probolinggo memulai perusahaan pada bulan Juli 1948 dengan sebuah unit Caterpillar 50 KW, di mana pada bulan November 1948 ditambahkan sebuah unit 75 KW. Pada bulan Juni 1949, Gending dan Kraksaän menerima listrik dari Probolinggo melalui kabel 6 KV yang telah diperbaiki.
Bangil pada tanggal 1 September 1948 dihubungkan ke sebuah unit 15 KW dari pabrik tenun Kantjil Mas dan pada bulan Oktober 1948 juga mendapat listrik dari Nebritex. Sementara itu, saluran-saluran tegangan tinggi Surabaya – Bangil – Blimbing dan Surabaya – Mojokerto selesai. Ketika pada bulan Desember 1948 pembangkit listrik Semampir dapat digabungkan dengan sebuah turbogenerator 3000 KW dari Marine Etablissement, posisi energi sedemikian membaik, sehingga pasokan ke tempat-tempat lain juga menjadi mungkin. Pembangkit listrik Malang kemudian digabungkan dengan pembangkit listrik Surabaya dan pada bulan Desember 1948 jaringan distribusi Malang, Batu, Lawang, Sukorejo, Bangil, Porong, Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto dihubungkan.
Pada bulan Januari 1949 menyusul Pasuruan dan pada bulan Maret 1949 Sepanjang, Probolinggo, Gending, Kraksaän, dan pabrik kertas Letjes.
Ketika pada tahun 1949 daerah lain dari Jawa Timur dapat dijangkau, ternyata saluran tegangan tinggi Mendalan-Kediri-Tulungagung, benar-benar telah dilucuti kawatnya. Gardu induk Tulungagung hancur. Juga kabel-kabel ke Kertosono, Nganjuk, Pare, dan Jombang rusak di banyak tempat.
Kediri mendapat energi listrik pada tahun 1949 dari sebuah unit milik Mexolie. Kemudian di sini ditambahkan sebuah unit diesel dari Tegal. Di tempat-tempat lainnya, dipasang unit-unit darurat. Saluran Mendalan – Kediri selesai pada tahun 1950, saluran Kediri – Tulungagung – Blitar belum diperbaiki. Kabel-kabel Mojokerto – Jombang dan dari Kediri ke Nganjuk, Pare, dan Kertosono telah diperbaiki sementara itu. Tulungagung dan Blitar masih menerima listrik dari unit-unit diesel kecil.
Masa Kebangkitan
Segera setelah dimulainya aksi militer kedua, pembangkit-pembangkit Kali Konto diduduki, namun baru setelah terjadi perusakan menyeluruh di sana. Setelah pekerjaan rekonstruksi yang luas, pada paruh kedua tahun 1950 satu unit di pembangkit listrik Mendalan dan satu di pembangkit listrik Siman dapat dioperasikan dengan total kapasitas 9200 KW.
Pembangkit listrik Sengguruh diselesaikan pada tahun 1949 dan 1950 dan dapat dioperasikan pada bulan April 1951 dengan kapasitas 2600 KW.
Sampai pembangkit listrik Mendalan dan Siman diperluas kembali ke kapasitas pra-perang, pembangkit listrik musim timur Sengguruh harus beroperasi sepanjang tahun. Dengan demikian, di wilayah NIWEM untuk sementara waktu dimungkinkan pasokan listrik yang cukup baik. Dalam waktu dekat, pembangkit-pembangkit Kali Konto akan direkonstruksi lebih lanjut, sementara di Surabaya akan dibangun sebuah pembangkit listrik diesel baru dengan 9 unit masing-masing 1000 KW.
Juga jika perlu, di beberapa pembangkit listrik di luar wilayah NIWEM akan dipasang lebih banyak kapasitas agar dapat terus memenuhi permintaan energi listrik.
Oleh dan diterjemahkan dari : Ir. J. H. van Westendorp, yang dimuat dalam majalah De Ingenieur in Indonesie No. 4 tahun 1951.
Catatan Tambahan :
- PLTA Sengguruh dibangun karena peningkatan konsumsi listrik yang meningkat. Karena selama musim kemarau, ketika pembangkit listrik Mendalan di Kali Konto mengalami defisit air, pembangkit listrik tenaga panas di Surabaya terpaksa diaktifkan. Untuk menghemat biaya operasional pembangkit listrik tenaga panas ini, pembangkit listrik Sengguruh dapat menyediakan energi tambahan selama periode ini. Pembangkit listrik Sengguruh ini sepenuhnya akan menggantikan pembangkit listrik di Surabaya, dan total kapasitas yang tersedia kurang lebih sama dengan pembangkit baru ini. Rencananya proyek Sengguruh akan selesai pada bulan Oktober atau November 1941, tetapi mesin-mesin tersebut tidak dapat tiba di Hindia Belanda sebelum akhir tahun 1941, sehingga diharapkan dapat sepenuhnya selesai pada tahun 1942. Sengguruh akan menjadi pembangkit listrik tenaga air tipe poros pertama di Hindia Belanda dan juga akan berfungsi sebagai pembangkit listrik tambahan selama bulan-bulan kering. Di Sengguruh, sungai membuat tikungan tajam, dan ini dimanfaatkan karena air terjun di tengah tikungan ini meningkatkan perbedaan ketinggian menjadi sekitar 21 meter. Dari bagian sungai yang lebih tinggi, air dialirkan melalui terowongan sepanjang 400 meter, yaitu terowongan pasokan. Air mengalir masuk dengan kecepatan 15 meter kubik per detik. Terowongan kemudian melengkung ke bawah, di mana air menggerakkan turbin dan kemudian mencapai bagian sungai yang lebih rendah melalui terowongan pembuangan. Terowongan pembuangan yang lebih tinggi dimaksudkan sebagai saluran pelimpah. Turbin dapat menghasilkan daya 3.900 HP.
- PLTA Tempur, direncakan sebelum perang akan dibangun di lereng selatan Semeru, seharusnya selesai di akhir tahun 1943. Pembangkit ini akan memanfaatkan air dari Kali Glidik, yang mengalir ke pantai selatan kira-kira di perbatasan kabupaten Malang dan Lumajang dengan empat anak sungainya, yang mana sungai-sungai tersebut akan mampu memasok air ke pembangkit listrik seukuran PLTA Mendalan. Kapasitas terpasang pembangkit ini akan sekitar 30.000 PK.
- PLTA Klontjen/Kluncing di Banyuwangi (BECO) informasi tambahan yang diperoleh sangat terbatas. PLTA ini selesai dibangun pada 1927 dari aliran Kali Sukowidi dan mampu mensupply kota Banyuwangi dan 2 pabrik es, tapi menghadapai masalah serius dengan pelayanan. Setelah diambih alih oleh ANIEM, konsesi sudah diminta pada tahun 1930 dan diijinkan pada tahun 1931, yaitu untuk pembangunan PLTA dengan membendung Kali Kedawung dengan kapasitas sekitar 1.000 PK.

