Bupati Terlama
Jarang sekali atau bahkan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, seorang Bupati, begitu lama menetap di “Dalem”, di kediaman resminya. Tercatat dalam sejarah bahwa Bupati Pasuruan, “Pangeran Ario Niti Adiningrat”, atau dikenal warga Pasuruan sebagai “Kanjeng Pangeran”, menjabat sebagai Bupati selama 54 (lima puluh empat) tahun! Beliau-lah dari trah keluarga Niti Adiningrat, atau yang ke-IV dari keluarga ini, yang menjabat sebagai Bupati di Pasuruan.
Kisah keluarga Niti Adiningrat pernah ditulis secara khusus, oleh Residen Pasuruan, S. Van Deventer, JSz. di tahun 1868. Yakni dalam dokumen yang berjudul “EENE JAVAANSCHE PLEGTIGHEID” atau diterjemahkan secara bebas sebagai “Sebuah Adat-Istiadat (Kepribadian) Jawa”. Sebuah acara prosesi pindah sementara dari Dalem, yang akan direnovasi setelah dihuni lebih dari 100 tahun.
Biografi
Kanjeng Pangeran lahir pada tahun 1816, saat kecil ia menyandang nama “Raden Bagoes Amoen”. Dengan resolusi 14 Juni 1832, No. 21, selama ayahnya masih hidup, ia diberikan gelar Tumenggung. Mendapat izin untuk menyebut dirinya “Raden Tumenggung Ario Notto Koesoemo”.
Setelah ayahnya meninggal, dengan resolusi 18 Maret 1833, No. 9, ia diangkat menjadi Bupati Pasuruan. Sedangkan dengan keputusan tanggal 12 Mei No. 12, ia diizinkan untuk menyandang nama “Raden Tumenggung Niti Adiningrat”, sehingga menjadi yang ke-IV dari nama itu.
Dengan dekrit tanggal 16 September 1816, No. 25, ia dianugerahi gelar “Adipati”, sedangkan dengan Surat Keputusan tanggal 19 Mei 1864 No. 51, Bupati berwenang penuh untuk predikat “Ario” .
Pada 18 Maret 1883, sebagai Bupati teladan yang dengan setia, tekun dan jujur selama 50 tahun, Raden Adipati Ario Niti Adiningrat, mendapat gelar “Pangeran”. Maka sejak itu beliau berhak menyandang nama dan gelar “Pangeran Ario Niti Adiningrat”.
Wafat
Penduduk Pasuruan sangat berduka ketika pada hari Rabu, 20 Juli 1887, pukul 12.30 siang, ketika Kanjeng Pangeran Ario Niti Adiningrat, meninggal dunia pada usia 71 tahun.
Pada pukul 4 sore hari Kamis, 21 Juli 1887, jenazahnya dikebumikan dengan segala penghormatan. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang Masjid Jamik (Pajimatan) di kota Pasuruan. Ribuan orang dari berbagai etnis, baik kecil maupun besar, pria dan wanita, mengiringi prosesi pemakaman tersebut.
Jenazah diangkut dengan sebuah kereta jenazah yang megah, dihiasi dengan segala macam bunga yang indah dan harum. Ditutupi dengan kain yang dilengkapi dengan 6 selendang, yang dibuat oleh para wanita Eropa.
Dua Bupati, 1 Sekretaris dan 3 Controller, semuanya berpakaian lengkap, bertindak sebagai pembawa selendang, serta Residen Pasuruan, yang juga hadir. Di atas jenazah tergantung : kostum dan dua ordo (singa Belanda, dan medali emas) dari almarhum. Lebih jauh lagi beberapa payung emas dan benda-benda kenegaraan lainnya, yang kecemerlangannya menyaingi kostum megah para pejabat Eropa, Cina, Jawa dan lainnya.
Kemudian kota Pasuruan tampak seperti kota dunia lain, gerakan ribuan orang kecil itu tidak bisa lagi diikuti. Tidak ada pikiran untuk menghentikan keinginan mereka untuk membantu membawa keranda jenazah, suaranya menyerupai suara gunung yang terbelah.
Setibanya jenazah di pemakaman (pluwatan), diawali suara tembakan meriam dan Residen memberikan orasi pemakaman yang membasahi matanya. Setelah itu bunga-bunga ditaburkan di kuburan, dan ketika ini selesai, ratusan pria dan banyak lainnya melemparkan segumpal tanah ke dalam lubang. Dan orang-orang ini juga tidak bisa lagi dihentikan dan ingin bergabung dengan sekuat tenaga.
Hingga hari Kamis minggu berikutnya, ratusan orang dari semua distrik di Pasuruan, masih berdatangan untuk mengunjungi atau melawat ke makam!
Yang paling fenomenal adalah saat jenazah dimandikan, ribuan orang berebut air mandi jenazah. Hampir tiap tetes air yang jatuh ke tanah, semuanya menjadi rebutan, dan apa yang jatuh ke bumi tidak hilang, karena beberapa orang berbaring di tanah untuk menyeruputnya seperti angsa. Menunjukkan betapa beliau sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya.

Bupati Baru
Sepeninggal beliau ini, harapan ditujukan kepada putra sulungnya, “R. M. Ario Tirto Kusumo”, agar segera berganti nama menjadi R. M. Tumenggung Ario Niti Adiningrat, dan mengikuti jejak almarhum ayahnya, Kanjeng Pangeran. Tapi harapan ini pupus, karena ternyata orang lainlah yang ditunjuk oleh pemerintah, untuk menjadi Bupati di Pasuruan.
Bupati Pasuruan yang baru, “Raden Mas Tumenggung Ario Soegondo”, adalah mantan Bupati Banyuwangi. Bukanlah anak dari Kanjeng Pangeran almarhum, bahkan mungkin bukan kerabat atau saudara. Tapi ia adalah putra mendiang Pangeran Ario Mangkoe Negoro IV, yang muncul dari bekas ikatan tidak sah, dan dengan demikian saudara tiri dari Mangkoe Negoro V.
Soegondo muda mengawali karir di pemerintahan, yaitu sebagai wakil jaksa di Kediri. Kemudian menjadi wedono di Kertosono, sebelum menjabat sebagai Bupati di Banyuwangi (Karesidenan Besuki). Dan terakhir ditunjuk pemerintah sebagai Bupati di Pasuruan.
Dengan demikian, berakhirlah masa dinasti keluarga Niti Adi Ningrat sebagai Bupati di Pasuruan, yakni setelah lebih dari 135 tahun ! (1751-1887).
Catatan :

Lambang Trah Keluarga Niti Adi Ningrat (NAN)

Simbul Trah Keluarga Niti Adiningrat, bupati di Pasuruan selama lebih dari 135 tahun (1751-1887)
Lambang Trah Keturunan Kyai Adipati Nitiadiningrat I, Bupati Pasuruan Th1751-1799. Lahir 1740, dari pernikahan Paku Buwana II Kartosuro – Mataram dengan Raden Ayu Srie Berie Budjang, binti Pangeran Kertokusumo / Pangeran Bodrokusumo di Drajat-Sidayu Lawas. Ini adalah masih keturunan ketujuh (gantung siwur) Raden Rahmat / Sunan Ampel. Dalam riwayat R Ayu Srie Berie Budjang sebagai isteri Pangrembe diparingaken/dihadiahkan kepada Kyai Tumenggung Wongsonegoro Bupati VOC di Pasuruan, saat itu dalam keadaan mengandung. Dengan syarat boleh dikawin setelah bayi itu lahir; dan bila bayi lahir laki-laki akan menggantikan menjadi Bupati pasuruan. Maka Lahirlah Raden Groedo ( Garudo) / R Bagus Ingabei Soemodrono / Kyai Adipati Nitiadiningrat I, Bupati Pasuruan tsb. Dan Lambang Pemerintahan saat itu (seperti nampak pada gambar ) berupa burung garuda, bola dunia, dan paku seperti makna lambang Kasunanan Surakarta adalah :
- Bumi. Secara lahiriah bumi merupakan tempat kehidupan dan juga tempat berakhirnya kehidupan. Bumi atau jagad melambangkan bahwa manusia (mikrokosmos) yang memiliki jagad besar (makrokosmos). Di sini sebagai kiasan atau “pasemon” adanya kesatuan jagad kecil dan jagad besar. Bumi atau “jagading manungsa” berada dalam hati. Oleh kerena itu manusia agar dapat menguasai keadaan, harus dapat menyatukan diri dengan dunia besar. Dalam Kejawen disebut “Manunggaling Kawula-Gusti.” Sifat bumi adalah “momot dan kamet” dapat menampung dan menerima yang gumelar (ada). Bumi sebagai lambang “welas asih” dapat “anyrambahi sakabehe.”
- Paku. Paku sebagai kiasan atau “pasemon” agar selalu kuat. Hal ini mengandung ajaran bahwa kehidupan di bumi bisa kuat, sentosa harus didasari jiwa yang kuat, tidak mudah goyah, atas dasar satu kekuatan yang maha besar dari Tuhan YME, yang menjadi pegangan bagi manusia yang hidup di bumi
Sumber : http://lambangsilsilah.blogspot.com/
Postingan Terkait :
Sebuah Adat Istiadat Jawa (Eene Javaansche Plegtigheid) Tahun 1868

