Kronik” adalah catatan berbagai peristiwa sesuai urutan waktu kejadiannya. Sedangkan “kronologi” adalah urutan waktu dari suatu peristiwa. Penulis kronik memperoleh informasi dari berbagai sumber, beberapa kronik ditulis dari pengetahuan pelaku, saksi atau peserta dalam peristiwa, atau cerita dari mulut ke mulut. Beberapa bahan-bahan tertulis adalah prasasti, babad, atau karya-karya penulis sejarah sebelumnya. Sumber lain bisa berupa cerita tentang asal-usul yang tidak diketahui sehingga memiliki status mitos. Penulis kronik juga berpengaruh dalam hal penyalinan yang kreatif, dengan melakukan koreksi, memperbarui atau melanjutkan sebuah kronik dengan informasi yang dulunya tidak tersedia.

Kronik Pasuruan pernah disusun oleh Hendrik Jacob Domis (Residen Pasuruan periode 1827-1831) pada buku “Pasoeroeangsche Almanak“, tahun 1829. Kemudian ditulis lebih lengkap pada buku “De Residentie Passoeroeang op het Eiland op Java“, tahun 1836. Kronik Pasuruan adalah catatan berbagai peristiwa yang terjadi di Karesidenan Pasuruan secara umum. Termasuk berbagai peristiwa yang terjadi secara khusus pada wilayahnya di kabupaten Pasuruan, Malang dan Bangil.

Kronik Pasuruan ditulis oleh Domis dalam Anno Javanico (Tahun Jawa) dan Anno Domini (Tahun Masehi). Tahun Jawa 289 (Saka atau Salivana) setara dengan 362 Tahun Masehi, yang berarti ada perbedaan 73 tahun.

Kronik Pasuruan :

Anno Javanico (Tahun Jawa)

50 : Gunung Bromo dihuni.

211 : Candi Malang.

289 : Wilayah Pasuruan di bawah Wirata.

551 : Bangunan di Singosari. Pertempuran di Bedali dengan Pangeran Bali.

800 : Wilayah Pasuruan di bawah Kediri.

900 : Di bawah Brambana.

1002 : Mendang Kamulan.

1082 : Di bawah Pangeran Jengollo.

1200 : Di bawah Pajajaran.

1247 : Majapahit dan Pajajaran (Tugu pemisah). Blambangan menguasai Pasuruan,

1248 : Damar Wulan merebut kembali Pasuruan dan membunuh lawannya di Probolinggo.

1400 : Patih Majapahit mengungsi ke Malang, mengawini putri Kiay Gede Sengara — Putranya Rongo Parmana mendirikan kota bernama Soepit Orang, yang menjadi asal muasal negeri Malang. — Kota yang direbut oleh Sultan Islam Demak, yang juga menundukkan Pasuruan. —Di bawah Pangeran Madura, setelah wafatnya Sultan Demak ketiga.

1490 : Pasuruan menyatakan merdeka dari Pangeran Madura, dan takluk kepada Pangeran Surabaya yang memerintah sebagai Wedono untuk Sultan Pajang.

1500 : Senopati sebagai Pangeran Mataram yang menaklukkan Pajang, ingin menaklukkan Adipati Surabaya ; pertempuran sengit di Pasuruan. Patih Pangeran Pasuruan menasihatinya agar tidak menyerah. Pertempuran antara jenderal Senopati dan Patih Pasuruan; Patih Pasuruan terluka. Pangeran Pasuruan membunuhnya dan mengirimkan jasadnya sebagai tanda penyerahan diri kepada Senopati.

1532 : Pasuruan mendeklarasikan kemerdekaannya dari Mataram.

1536 : Malang diserang oleh Mataram.

1541 : Sultan Agung dari Mataram menaklukkan Pasuruan.

1597 : Pasuruan berperang dengan Pangeran Blambangang.

1598 : Trunojoyo bersama Dain Glengsong dari Makassar menaklukkan Pasuruan. — Dain Glengsong pemimpin disana.

1600 : Kembali tunduk pada Mataram.

1605 : Trunojoyo menyerah; dibunuh dengan keris.

ANNO DOMINI (Tahun Masehi)

1679 : Dain Glengsong dimakamkan di Ngantang. Kemudian berturut-turut Pasuruan dibawah kepemimpinan :

Kiay Gede Menak Supetak, dari Blambangang ;
Kiay Gede Kapulungan, dari Surabaya.
Kiay Gede Dermoyudo, dari Kartasura.
Kiay Gede Dermoyudo II.
Mas Pekok, dari Surabaya.

1682 : Bupati di Pasuruan Ingebei Ongo Djoyo.

1686 : Suropati di Kartasura. — Kapten Tak terbunuh di sana. — Suropati melarikan diri ke Pasuruan, menyandang gelar Raden Adipati Wira Negara.

1704 : Pangeran Puger menjadi Raja Mataram.

1706 : Suropati terluka di Bangil; meninggal dan dimakamkan di Pasuruan (16 November) — Bangil direbut oleh VOC (16 Oktober). — Putra Suropati dengan gelar yang sama (Raden Adipati Wira Negara) menjadi Bupati di Pasuruan.

1707 : Pasuruan diambil alih oleh VOC (29 September). — Pagger (Benteng) pertama didirikan di sana (3 Oktober), Komandan Bijlowits.

1708 : Raja Mangkurat Mas ditundukkan; dia bersama seorang putra Suropati, dikirim ke Batavia dan Ceylon.

1716 : Raden Adipati Wira Negara di Malang.

1717 : Pangeran Winongan bergabung dengan Pangeran Madura dan Blambangan mengepung Pasuruan. Kedatangan pasukan dari Surabaya menyelamatkan tempat itu.

1722 : Joyo Puspito di Madiun. —Pemberontak Ibon Moestafa dikalahkan di Malang dan meninggal di sana. — Heru Cokro dan Adipati Prono dikirim ke Kaap.

1725 : Komandan Pasuruan Siersna.

1731 : Dikepung oleh Cina.

1737 : Soeto Djoyo melarikan diri ke Tengger.

1752 : Komandan D. J. Warren.

1753 : Bupati Niti Negoro (mantan Patih) di Pasuruan, kakek buyut Bupati saat ini.

1754 : Fort (Benteng) dibangun (25 Mei). — Komandan C. J. A. Van Hayn.

1755 : Bupati Malang, Wira Negara.

1759 : Komandan Pasuruan, Ferdinand Carel Hogenwitz.

1760 : Komandan J. C. Hartman.

1761 : Bupati Malang, Wira Negara. Malang ditaklukan (12 September) — Bupati Bangil, Prodjo Joedo.

1763 : Bupati Malang, Molaya Koesoema. — Komandan Pasuruan, C. L. Trappanegro.

1765 : Komandan J. J. Ram.

1767 : Malang dan Ngantang ditaklukkan oleh VOC (12 September) — Blambangan ditaklukkan. — Raden Soeto Negoro dan Rono Lawe, di Malang. — Letusan Bromo.

1768 : Komandan Pasuruan J. D. Gondelach. — Raden Adipati Nitti Adie Ningrat.

1771 : Nusa Baru ditaklukkan.

1772 : Komandan A. Van Rijk. — Tumenggung di Malang Karto Negara.

1781 : Putra Bupati Notto Kesoemo dijanjikan suksesi di Pasuruan.

1787 : Raden Tumenggung Soero Adie Negara.

1790 : Komandan J. Coert. Mengalahkan pemberontak di Pantai Selatan.

1794 : Ingebei Soero Adie Wiedjoyo, Bupati Bangil dan Malang.

1800 : Bupati Nitti Die Ningrat dikukuhkan.

1801 : J. Hesselaar Kapten-Komandan.

1804 : Letusan Bromo.

1808 : Kolonel Basse Komandan. — Halewijn, Residen. — C. Vos, Residen.

1809 : Bupati Broto Koesomo, dengan nama Raden Adipati Nitti Adie Ningrat.

1810 : Kapten Holst De Weerth, Penguasa (Drost).

1811 : Di bawah kekuasaan Inggris.

1812 : Letnan H. G. Jourdan, Residen.

1815 : Gunung Bromo meletus.

1816 : Pemulihan pemerintahan Belanda. — C. Vos, Residen baru.

1818 : J. C. Ellinghuijs, Residen; Bupati di Malang.

1825 : Bromo mengeluarkan banyak abu dan batu. —Raden Tumenggung Notto Adie Ningrat, di Bangil dan di Malang.

1826 : F. G. Valck, Residen.

1827 : H. J. Domis, Residen.

1828 : Batu pertama pembangunan Gereja diletakkan. (8 Desember)

1829 : Pembukaan Sekolah (1 November) — Letusan dahsyat Gunung Bromo (5 November) — Pentahbisan Gereja (15 November) — Hujan badai (18 Desember malam) Mulai pembangunan gedung Sekolah baru (22 Desember)

1830 : Pendidikan dimulai di gedung Sekolah baru (1 Juli).

1831 : Van Nes, Residen.

Sumber : Pasoeroeangsche Almanak,1829 dan De Residentie Passoeroeang op het Eiland op Java, 1836., H. J. Domis.

Catatan :

  • Buku karya Domis, “De Residentie Passaroeang” juga merupakan salah satu koleksi Perpusnas RI dengan nomor koleksi H 12. Naskah ini mempunyai salinan dengan nomor koleksi G 85. Naskah G 85 merupakan naskah ketikan oleh Dr.Th. Pigeaud, dijilid oleh “De BLIKSEM Darpoyuda, Solo“. Naskah salinan G 85 inilah yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Perpusnas RI pada tahun 2020.
  • Buku karya Domis yang original, sudah dialih mediakan oleh Google. Link Download
  • Buku salinan karya Domis oleh Dr. Th. Pegeaud (naskah G 85). Link Download

Postingan Terkait :

Kanjeng Pangeran Ario Niti Adi Ningrat (IV) Bupati Pasuruan Selama 54 Tahun !

Kitab Sedjarah Poro Leloehoer Die Pasoeroewan, Tahoen 1914

Sebuah Adat Jawa (Eene Javaansche plegtigheid), 1868