Seorang Residen menjadi penguasa penjajahan tertinggi sekaligus mewakili Gubernur Jenderal Hindia Belanda di wilayah kekuasaannya. Residen pun menjadi wakil dan lambang Pemerintah Hindia Belanda di karesidenannya dengan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif di tangannya. Dengan itu, kekuasaannya mutlak dan tak terbatas.
Asal Usul Wilayah Karesidenan
Hindia Belanda dikuasai Inggris pada 1811 dengan menempatkan Thomas Stamford Raffles. Ia memerintah bekas jajahan Belanda ini dengan membagi-bagi Pulau Jawa menjadi beberapa wilayah Karesidenan. Karesidenan-karesidenan ini dikepalai oleh para Residen bangsa Eropa. Para Residen ini membawahi para bupati/patih bangsa pribumi yang mengepalai wilayah setingkat kabupaten (afdeeling).
Pada 1816, Hindia Belanda diserahkan kembali ke tangan Belanda sesuai dengan Konvensi London 1814. Pada zaman ini, diadakan kembali pembentukan keresidenan dan kabupaten secara resmi, tepatnya saat van der Capellen memerintah. Menurut Peraturan Komisaris Jenderal No, 3 tanggal 9 Januari 1819 yang dimuat dalam Staatsblad No. 16 tahun 1819, dibentuklah dua puluh Karesidenan di Pulau Jawa. Terdiri dari ; Banten, Jakarta, Bogor, Priangan, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Kedu, Grobogan dan Jipang, Yogyakarta, Surakarta, Jepara dan Juana, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi, Madura dan Sumenep, Rembang, dan Gresik.
Karesidenan Pasuruan awalnya terdiri dari 3 wilayah setingkat Kabupaten (afdeeling) : Pasuruan, Bangil dan Malang. Pada tahun 1901 hingga 1928 wilayahnya diperluas dengaan Karesidenan Probolinggo yang terdiri dari 3 wilayah afdeeling : Probolinggo, Kraksaan dan Lumajang.

Daftar Para Residen di Karesidenan Pasuruan dan Periode Masa Menjabat :
1. Cornelis Vos, 1817 – 1818

Cornelis dibaptis (Gereja Reformasi Belanda) pada tanggal 3 Maret 1779, di Dordrecht, putra Cornelis Vos dan Jannetje de Greef. Ia disebut mengambil alih wilayah Pasuruan dari tangan Inggris pada bulan Agustus 1816. Kemudian diangkat menjadi Residen Pasuruan dari tahun 1817 hingga 1818. Pada tahun 1818, ia diangkat menjadi Residen Banten. Pada tahun 1819, ia menjadi Residen Pekalongan. Ia pensiun pada tahun 1826.
Vos menikah dengan Maria Catharina Hesselaar. Ia memperoleh kontrak gula dan menjadi pemilik Pabrik Gula serta lahan pribadi yang luas di Kedawoeng di Pasuruan. Ia wafat pada tanggal 4 Maret 1847, sedangkan istrinya telah wafat pada 23 Agustus 1843, keduanya dimakamkan di halaman rumahnya di Gadingrejo Pasuruan. Komplek makam keluarga Vos berada dekat jalan utama dari Pasuruan menuju Bangil. Sejauh yang diketahui, mereka tidak memiliki anak. Sebuah lelang dilaporkan berlangsung pada bulan April 1847, dan harta warisannya pun terjual. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki “sejumlah besar permata indah, harta karun emas, termasuk banyak yang modern, peralatan makan perak, furnitur mahoni, kereta dan kuda, linen, buku, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan harta warisan yang substansial”.

Pabrik gula dan tanah pribadi yang luas dan subur di Kedawung akhirnya diwarisi oleh keponakannya : Gerrit Lebret dan istrinya Antoinetta Wilhelmina Hesselaar pada sekitar tahun 1850.
PG Kedawoeng adalah satu-satunya PG warisan era kolonial, di wilayah Pasuruan yang masih bertahan hingga kini.
2. Johannes Cornelis Ellinghuijzen, 1818 – 28 December 1825
Ellinghuijzen (Johannes Cornelis) lahir sekitar tahun 1781. Ia adalah juru tulis kedua yang disumpah untuk Dewan Pemerintahan Kota di Batavia pada tahun 1804 dan seorang auditor militer serta panitera untuk Dewan Tinggi Kehakiman di sana pada tahun 1809. Kemudian di bawah Van der Capellen, ia diangkat menjadi Residen Pasuruan dari tahun 1818 hingga 1825. Ia meninggal di Semarang pada tanggal 28 Desember 1825, dalam usia 44 tahun.

3. Frans Gerardus Valck, 1826 – 1826
Frans Gerardus Valck lahir pada 14 Juni 1799 di Kampen, putra dari Jan Arend Valck dan Johanna Helena Beylen. Ia menikah dengan Augusta Cornelia Elisabeth Henriette Schenck pada 30 Maret 1822 di Batavia, saat masih berusia 22 tahun.
Valck mengawali karir sebagai Sekretaris Residen Batavia pada 1820. Tahun 1821 sebagai Asisten Residen Batavia untuk urusan kepolisian. Di tahun 1823 sebagai penjabat kemudian Residen Krawang. Kemudian Residen Pasuruan (1826), dan kemudian Residen Kedu (1826-1831), tetapi ditugaskan ke unit militer sebagai negosiator selama Perang Jawa.
Valck jelas terlibat dalam penangkapan Pangeran Diponegoro, di kediaman Residen di Kedu. Ketidak sukaan Diponegoro kepada Valck ditulis sebagai berikut :
“….Diponegoro juga bercerita rasa tidak sukanya kepada Residen Kedu, Frans Gerardus Valck (menjabat 1826-1830). Residen Valck benar-benar merepotkan Diponegoro ketika berada di Meteseh Magelang.
Valck tidak senang dengan banyaknya orang-orang Yogyakarta dan sekitarnya datang berbondong-bondong ke Magelang untuk memberikan berbagai macam hadiah dan dukungan serta menjalani ibadah bulan Ramadhan bersama Diponegoro.
Residen Valck juga mengirim surat rahasia kepada Gubernur Jenderal van den Bosch pada 22 Maret 1830, bahwa Diponegoro harus segera ditangkap dan diasingkan.
Diponegoro sendiri akhirnya ditangkap di perundingan tanggal 28 Maret 1830 pagi hari dan siangnya sekitar jam 11, langsung dibawa ke Semarang menuju Batavia dengan menggunakan kereta berkuda.
Alasan yang diberikan oleh Residen Valck adalah banyak tokoh-tokoh yang dalam Perang Jawa memihak Kolonial Belanda merasa cemburu, Diponegoro diperlakukan baik saat di Meteseh Magelang.
Dalam suratnya Residen Valck dan para musuh Diponegoro yang masih hidup itu menginginkan agar Diponegoro segera ditangkap dan cepat diasingkan ke luar Jawa.
Diponegoro memberikan penilaian kepada Residen Valck bahwa residen itu banyak omong kosong dan sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bodoh.
Menurut Diponegoro, Valck adalah pejabat yang sama sekali tidak memberikan respect kepada orang-orang pribumi seperti Diponegoro dan berpenampilan tidak layak seperti halnya seorang residen yang berkuasa terhadap begitu banyak orang Jawa…”
Dikutip dari netralnews.com tulisan dari Lilik Suharmaji

Koleksinya berupa arca dewa kuno dan benda-benda Indo-Jawa lainnya kemungkinan besar dapat ditelusuri langsung dari perang ini. Valck dan orang Eropa lainnya tertarik dengan barang-barang antik ini, yang dianggap tidak masuk akal sebagai buatan nenek moyang orang Jawa: orang Jawa dikutuk secara ilmiah dan budaya sebagai terbelakang dan bodoh. Benda-benda dan monumen megah tersebut pastilah dibuat oleh orang-orang dari India. Valck sangat inovatif dengan gagasannya bahwa orang Jawa kemungkinan besar membuatnya di bawah bimbingan orang India. Koleksi patung dewanya menjadi cikal bakal koleksi arkeologi di Museum Bataviaasch Genootschap di Batavia, yang kini menjadi Museum Nasional Indonesia.

Setelah Perang Jawa, ia menjadi Residen Yogyakarta dari tahun 1831 hingga 1841. Konon, ia memanfaatkan posisinya, antara lain untuk memaksa Sultan kelima, Hamengbuwono V (berkuasa 1822-1826, 1828-1855), berpisah dengan istri tidak resmi kesayangannya, dan menurut salah satu sumber yang bermusuhan, bahkan memaksakan salah satu gundiknya yang telah dibuang untuk menjadi permaisuri Sultan muda tersebut.
Ia adalah seorang Ksatria dalam Ordo Militer William. Valck wafat pada tanggal 22 April 1842, di Rumah Zuiderburg di Stompwijk, dalam usia 42 tahun. Ia dimakamkan di Pemakaman Umum Kerkhoflaan di Den Haag.

4. Franciscus Henricus Smulders, 1826 – 1827
Franciscus Henricus lahir pada tanggal 7 Februari 1794 di Amsterdam, putra dari Maximilianus Franciscus Smulders dan Carolina Mondoteguy.

Pada tanggal 9 Februari 1815, ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil golongan 4 untuk bertugas di Hindia Belanda. Tahun 1817, ia diangkat menjadi kepala juru tulis di sekretariat pemerintah. Pada tahun 1818, ia menjadi sekretaris pelaksana Residen Pasuruan. Pada tahun 1820, ia menjadi Asisten Residen Surabaya. Ia juga menjabat sebagai pengawas sekolah di sana. Tahun 1822, ia menjadi anggota panti asuhan, juga di Surabaya. Pada tahun 1825, ia diberhentikan dari panti asuhan di Surabaya. Tahun 1826, ia menjadi Residen Krawang dan juga pelaksana tugas Residen Pasuruan. Tahun 1827, ia menjadi Residen Banten. Pada tahun yang sama, ia diangkat menjadi anggota Persatuan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia. Bulan Februari 1833, ia diangkat menjadi ketua subkomite amal di Banten. Ia meninggal dunia pada tanggal 15 Februari 1835 di Serang (Banten) setelah sakit parah yang singkat.

5. Hendrik Jacob Domis, 1827 – 1831
Hendrik Jacob Domis lahir pada 10 Agustus 1782 di Alkmaar. Ia adalah putra dari Willem Jacob Domis Baron de Senerpont, seorang anggota dewan kota yang patriotik dan wali kota Alkmaar (diberhentikan saat pergantian pemerintahan pada 30 Mei 1788 dan dimakamkan pada 6 Juli 1792), dan Cornelia Gerarda Kloek.
Pada masa pemerintahan Raja Louis Napoleon, ia berangkat ke Hindia Timur untuk mengabdi di pemerintahan. Di sana, bersama Haak dan Meylan, ia memeriksa keuangan di bawah H. J. v. d. Graaff. Pada tahun 1822 ia menjadi Residen Samarang, pada tahun 1827 Residen di Pasuruan, dan pada tahun 1831 Residen di Surabaya, hingga ia menerima pemberhentian dengan hormat pada tahun 1834. Raja William I mengadopsi putra Domis yang lahir pada tahun 1823, sebagai putra baptisnya. Dia adalah anggota setia Asosiasi Batavia (Bataviaasch Genootschap). Tahun1825, dia menulis Deskripsi tentang Salatiga, Merbabu, dan tujuh candi, 1830 : Catatan perjalanan dari Welerie ke Pegunungan Praauw; 1832 : Catatan tentang Pegunungan Tengger. Pada tahun 1828 dan 29 dia menulis beberapa kontribusi untuk berbagai karya Bataviasche Courant, dan juga beberapa untuk majalah De Oosterling. Dia mencetak yang berikut ini di percetakannya sendiri di Pasuruan: Residentie Passoeroeang (dicetak ulang di Den Haag 1836);

Tahun 1829 : Catatan tentang pulau Jawa, dan pada tahun 1827 juga upaya pertama untuk membuat Kamus Belanda-Jawa, yang dibuat oleh putranya W. J. C. de Senerpont Domis di bawah pengawasannya dan dengan kerja samanya. Lebih lanjut, karya-karyanya antara lain Almanak Pasuruang (Pasoeroeangsche Almanak) untuk tahun 1830 dan Almanak Sourabaya untuk tahun 1833.

Ia menikah dengan (1) Sara Francina Waterloo pada tanggal 4 Agustus 1811, di usia 28 tahun. Mereka dikaruniai delapan orang anak. Sara meninggal dunia pada tanggal 8 November 1824, di Semarang. Ia menikah (2) dengan Catharina Adriana Palm, janda Pieter Langewagen, pada tahun 1826 di Semarang, pada usia 43 tahun. Domis mendapat gelar Ksatria Ordo Singa Belanda. Ia meninggal pada tanggal 7 Mei 1842, di “Huize Samarang” di Brummen pada usia 59 tahun.
6. Johan Frederik Walraven van Nes, 1831 -1839
Johan Frederik Walraven van Nes lahir pada 17 Oktober 1795 di Utrecht, putra tunggal Willem Jacob van Nes dan Catharina Maria Anna de Braconier. Pada 8 November, ia dibaptis sebagai seorang Kristen Reformasi Belanda.
Ia diangkat menjadi Residen Jogjakarta, 1827-1830, menunjukkan fakta bahwa ia pasti berpartisipasi dalam Perang Jawa, atau setidaknya terlibat di dalamnya. Kemudian sebagai Residen Surakarta, 1830-1831, Residen Pasuruan 1831-1839, dan Residen Semarang pada tahun 1842. Pada Juni 1843, menjadi anggota Dewan Hindia, sebuah badan penasihat independen untuk Gubernur Jenderal. Ia menikah 3 kali dan meninggal di kota kelahirannya pada tanggal 27 Februari 1873, dalam usia 77 tahun.
Van Nes merintis jalur pendakian ke puncak Semeru pada tahun 1836. Pada ekspedisi itu ia menemukan patung atau arca Ganesha yang kemudian kemudian dibawa ke Pasuruan atas perintah residen. Patung Ganesha ini kemudian dikirim ke Negeri Belanda, namun baru-baru ini direpatriasi kembali ke Indonesia. Laporan lengkap ekspedisi van Nes ke Semeru.
7. Willem de Vogel, 1839 – 1846
Willem lahir pada tanggal 4 Juli 1792 di Rotterdam, putra dari Cornelis de Vogel dan Johanna van Aalen. Pada tahun 1815, ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil Hindia Belanda sebagai kepala juru tulis kelas 4 di sekretariat pemerintah. Tanggal 13 Maret 1816, ia berlayar ke Hindia Belanda dengan kapal Nassau. Pada tanggal 2 Januari 1816, ia dipromosikan ke kelas 3. Tahun 1817, ia menjadi kepala juru tulis di Dewan Keuangan. Tahun 1818, ia menjadi wakil sekretaris di dewan yang sama. Pada tahun yang sama, ia dipromosikan menjadi sekretaris di sana. Pada tahun 1819, ia menjadi sekretaris pemerintahan tinggi di Hindia Belanda. Ia menikah dengan Frederique Jeanne Louise Bousquet pada tanggal 5 Desember 1819 di Batavia.
Pada tahun 1821, ia menjadi anggota Dewan Keuangan. Tahun 1823, ia menjadi direktur akuntansi dan pembukuan umum. Pada tahun 1827, ia ditugaskan sementara untuk mengelola keresidenan Madura dan Soemanap. Tahun 1828, ia menjadi pelaksana tugas Residen Jepara dan Joana. Pada tahun 1836, ia menjadi direktur Pertanian. Tahun 1839, sambil tetap menjabat sebagai direktur Keuangan, ia diangkat menjadi Residen Pasuruan. Pada tahun 1846, ia diberhentikan dengan hormat dari dinas nasional atas permintaan. Ia wafat pada tanggal 27 Juli 1869 di Semarang.

8. Dirk Anthonius Varkevisser, 1846 -1855
Riwayat Hidup D. A. Varkevisser

9. Carl Philip Conrad Steinmetz,1855 – 4 Juli 1862
Carel Philip Conrad Steinmetz lahir di Den Haag pada 24 Mei 1806, putra dari Carl Christian Philipp Steinmetz, seorang prajurit dan pendiri pabrik passementerie (passementerie adalah hiasan halus yang digunakan pada pelapis dan kostum, seperti kepang, tali, rumbai, tali passementerie, atau rumbai), dan Maria Hermina Rijcke.
Ia memasuki dinas militer di negara ini pada usia 14 tahun, naik pangkat di bawah perwira, dan berangkat ke Hindia Belanda sebagai sersan mayor dengan kapal ‘Arend‘, tiba di Batavia pada 17 Agustus 1826. Ia berpartisipasi dalam Perang Jawa tahun 1826-1830 dan segera dipromosikan menjadi letnan dua pada tahun 1827; Ia menerima pangkat pertama pada tahun 1832. Sebagai letnan satu ajudan, ia ditugaskan kepada komisaris pemerintah untuk Pantai Barat Sumatra pada tahun 1833 dan ditugasi memimpin ekspedisi militer melawan Dataran Tinggi Padang yang memberontak. Atas kepemimpinan dan keberaniannya selama ekspedisi tersebut, ia menerima Ordo Militer William, kelas 4.

Born 24 May 1806 in ‘s Gravenhage, Zuid-Holland, Nederland
Died 18 Dec 1865 at age 59 in Djaboeng, Modjokarta, Nederlands-Indië
Pada tahun 1834, setelah diangkat menjadi komandan militer di Wayurang di Lampung, tempat kerusuhan serius terjadi, ia kembali memberikan pengabdian yang signifikan. Kembali ke medan perang Pantai Barat pada tahun 1835 dan 1836, ia memperkenalkan kehadirannya di Bonjol (Perang Padri). Ia kemudian dipromosikan menjadi kapten, dan ketika pada tahun 1836 diperlukan untuk menempatkan administrasi militer dan sipil di Pantai Barat di tangan yang sama. Steinmetz ditunjuk untuk tujuan ini, karena ia sangat mengenal wilayah tersebut, penduduknya, dan situasi setempat.
Pada tahun 1837, ia menjabat sebagai gubernur Ajer Bangis dan juga kapten-ajudan Gubernur Jenderal de Eerens. Dua tahun kemudian, ia kembali dipercaya untuk mengelola Dataran Tinggi Padang, dan ia menunjukkan kepiawaiannya dalam menghadapi pemberontakan di Batrepoe pada tahun 1841.
Ia akhirnya diberhentikan dari dinas militer pada tahun 1841 dan dikukuhkan sebagai residen Dataran Tinggi Padang pada tahun 1842. Pada tahun 1841, ia menerima Ordo Militer William, Kelas 3, atas keberaniannya dalam mencegah pemberontakan di Agam. Ia menjabat sebagai residen selama delapan tahun dengan pengabdian yang sangat terpuji, berjuang untuk pembangunan rakyat dan sangat berkomitmen pada pendidikan pribumi yang disponsori pemerintah. Pada tahun 1849 dan 1850, beliau memberikan jasa yang signifikan selama kerusuhan di pedalaman dan kemudian dipindahkan sebagai residen, pertama ke Kabupaten Priangan pada tahun 1851, kemudian ke Pasuruan pada tahun 1855, di mana beliau menonjol dalam penelitian tanaman kopi di Jawa, dan akhirnya pada tahun 1864, ke Surabaya.
Ia menikah dengan sepupunya, Maria Hermine Philippina Carolina Woltera Steinmetz (1830-1913) di Batavia, putri Johann Carl Regin Steinmetz dan Jacoba Willemina Sas. Mereka memiliki enam orang anak. Ia meninggal di pasangrahan (wisma tamu pemerintah) di Jabung (Kabupaten Mojokerto) pada tanggal 18 Desember 1865.

Steinmetz berperan besar pada pendirian gedung societeit legendaris “Harmonie” di Pasuruan yang diresmikan pada tahun 1858.

10. Hendricus Albertus van der Poel, 4 Juli 1862 – 28 December 1865
Hendricus Albertus van der Poel lahir di Amsterdam pada tanggal 24 Agustus 1807, putra dari Marthinus Hendricus van der Poel dan Charlotta de Groot. Ia dibaptis di Amsterdam pada tanggal 30 Agustus 1807.
Ia memiliki karier yang gemilang dalam pelayanan sipil di Hindia Belanda. Pada tahun 1828, ia menjadi pegawai supernumerary pajak nasional di keresidenan Tegal, setelah itu ia menerima gaji setengah. Pada tahun 1829, ia menjadi pemungut pajak kelas dua di gerbang tol di Tanah Kepangeranan dan pemungut pajak tidak langsung pengganti. Selanjutnya, pada tahun 1830, ia menjadi juru tulis untuk residen Banjoemas, pada tahun 1831 menjadi pengawas pajak nasional kelas tiga untuk residen Semarang, pada tahun 1833 menjadi pengawas kelas dua untuk residen tersebut, dan pada tahun 1837 menjadi pengawas kelas satu untuk residen tersebut.
Pada tahun 1841, Hendricus menjadi asisten residen Demak dan Grobogan, residen Semarang, dan pada tahun 1843, menjadi asisten residen Nagawie. Tahun 1847, ia menjadi inspektur budaya. Pada tahun 1851, sepucuk surat dari Hendricus dikutip dalam sebuah debat di Dewan Perwakilan Rakyat Belanda: “Gubernur Belanda dimintai informasi mengenai korespondensi tertentu yang terjadi antara inspektur kebudayaan, H.A. van der Poel, dan Tuan Netscher, di kediaman Tagal, mengenai kesengsaraan yang terjadi di sana pada awal tahun 1851, dan korespondensi tersebut dibacakan dengan lantang oleh Tuan van Höevell di Dewan Perwakilan Rakyat Serikat Jenderal.”
Pada tahun 1852, ia menjadi residen Besuki, dan pada tahun 1856, Hendricus berangkat ke Belanda dengan cuti dua tahun karena sakit. Ia kemudian diangkat menjadi Ksatria Singa Belanda (RNL). Dalam setahun, “ia kembali ke Hindia Belanda dengan surat darat tertanggal Februari 1857.” Ia melanjutkan tugasnya sebagai residen Besuki dan menjadi residen Pasuruan pada tahun 1861. Pada tahun 1866, Hendricus meninggal dunia di Batavia.
Ia menikah (1) di Pasuruan, Hindia Belanda, pada tanggal 27 Maret 1839, dengan Helena Debora Esser, janda Catharinus Berkholst, putri Jan Esser dan Clasina Bisschoff, lahir di Pasuruan, Hindia Belanda, pada tanggal 14 Desember 1814, meninggal (usia 38) di Pasuruan, Hindia Belanda, pada tanggal 24 Oktober 1853. Mereka memiliki 10 orang anak dari pernikahan ini.
Ia menikah (2) di Besuki, Hindia Belanda pada tanggal 22 Juli 1857 dengan Catharina Elisabeth Esser, putri dari Jan Esser dan Clasina Bisschoff, lahir di Pasuruan, Hindia Belanda pada tanggal 25 Maret 1819, meninggal (usia 81) di Tegal, Hindia Belanda pada tanggal 25 September 1900. Dari pernikahan ini, mereka memiliki 3 orang anak.
Van der Poel meninggal (pada usia 59) di Batavia, Hindia Belanda pada tanggal 6 November 1866.
11. Salomon van Deventer, 28 December 1865 – 17 Mei 1868
Salomon van Deventer lahir di Zwolle pada tanggal 24 Februari 1816. Ia adalah putra dari Jan Salomon van Deventer, seorang doktor hukum, pengacara, dan pengacara di Mahkamah Tinggi Overijssel, dan Lady Carolina Lucretia Johanna Kruseman.
Ia berangkat ke Jawa pada tahun 1839 sebagai pegawai negeri sipil Hindia Belanda, di mana ia awalnya ditugaskan berbagai tugas administratif. Misalnya, ia menjadi editor Javasche courant (Surat Kabar Jawa) sejak tahun 1842 dan seterusnya; Selanjutnya, ia menjadi kepala juru tulis di departemen produk dan perbekalan sipil (1844), sekretaris keresidenan Pasaroean (1849), asisten residen Buitenzorg (1857), inspektur keuangan (9 Februari 1857), residen sementara Banjoemas (8 Oktober 1859), dan kepala administrasi tetap wilayah ini (14 Juli 1860).
Ia memanfaatkan cuti ke Eropa (1862) untuk menulis karyanya yang terkenal, “Kontribusi bagi Pengetahuan tentang Sistem Pedesaan di Jawa”, dalam 3 jilid (Zalt-Bommel 1865-66). Di dalamnya, ia mencatat sejarah mendalam sistem tanam paksa, menyorotinya dengan begitu suram sehingga parlemen semakin yakin akan ketidakberlanjutannya, dan kembali ke sistem lama dianggap mustahil. Penerbitan ini ditugaskan oleh Fransen van de Putte (vol. IV, kolom 1099) yang progresif, Menteri Koloni saat itu, yang telah menyerahkan arsip departemennya. Setelah menteri ini mengundurkan diri, penerbitan dihentikan oleh penggantinya, P. Mijer.
Sekembalinya ke Hindia Belanda, ia diangkat menjadi residen Pasaroean (1866) dan dua tahun kemudian menduduki jabatan serupa di Surabaya. Dengan pengangkatannya sebagai anggota Dewan Hindia Belanda (1873), ia mencapai jenjang tertinggi dalam jenjang kepegawaian. Ia memegang jabatan ini hingga tahun 1876. Kemudian ia berangkat ke Belanda, kemudian menghabiskan dua tahun di Batavia (1878-1881), setelah itu ia menetap secara permanen di Den Haag. Ia juga penulis Biografi P. Mijer (Leiden 1884) yang telah diteliti dengan baik. Ia gemar berlatih puisi atau menulis novel Hindia Belanda.
Salomon menikah dengan (1) Titia Henriette Jacoba Wilhelmina Elizabeth d’Ozij pada tanggal 1 Juni 1842 di Batavia. Ia menikah (2) sepupunya Jenny Hermine Dorothée Caroline Kruseman pada tanggal 22 Oktober 1867, di Pasuruan. Ia meninggal pada tanggal 3 Maret 1891 di Den Haag dan dimakamkan di “Eik en Duinen”.
12. Philip Willem Abraham van Spall, 17 Mei 1868 – 10 Augustus 1873
Philip Willem Abraham van Spall lahir pada tanggal 5 Oktober 1825 di Nagapatam, Madras, India. Ia dibaptis di sana pada tanggal 12 Desember 1825.[1][2] Ia adalah putra dari Johannes Cornelis van Spall dan Annetta Juliane Stork.
Ia adalah seorang pegawai negeri sipil senior di Hindia Belanda dan menjadi Residen Japara (1866-1867), Pasuruan (1868-1873), dan Surabaya (1873-1876). Setelah pensiun, ia menjadi Presiden Lembaga Djati untuk Anak-Anak Miskin dan Terlantar di Batavia.
Ia meninggal dunia pada tanggal 19 Desember 1887 di Batavia karena tumor di lehernya, yang telah dioperasi sebanyak empat kali tanpa menggunakan zat memabukkan.[3] Ia berusia 62 tahun.
13. Oscar Emile van Nispen, 10 Augustus 1873 – 18 Augustus 1877
Oscar lahir pada 19 Agustus 1827, di ‘s-Heerenberg, putra dari pasangan Jhr. Mr. Lodewijk Christiaan Frans Carel Jacob van Nispen dan Eulalie Louise Bender. Ia diangkat sebagai pegawai negeri sipil kelas satu untuk bertugas di Hindia Belanda pada 27 Agustus 1853.
Ia berangkat ke Hindia Belanda pada tahun 1854 dengan kapal Willem de Clercq. Pada 16 Juli 1854, ia ditempatkan di bawah pengawasan direktur penanaman. Pada bulan Agustus, ia ditugaskan ke Karesidenan Japara. Pada 15 Agustus 1855, ia diangkat sebagai inspektur kelas tiga untuk pendapatan dan penanaman nasional. Pada 24 September 1855, ia ditugaskan ke Karesidenan Madioen. Pada 1 Januari 1860, ia dipromosikan menjadi inspektur kelas dua. Pada tanggal 23 Februari 1860, ia ditempatkan di bawah pengawasan residen Pasuruan. Pada tanggal 3 Juni 1860, ia diangkat menjadi sekretaris residen Kedoe. Pada tanggal 22 Juli 1860, ia juga menjadi juru lelang di sana. Pada tanggal 16 Januari 1861, ia diberikan cuti dua tahun untuk kembali ke Belanda karena sakit.
Pada tanggal 6 Agustus 1863, ia diangkat menjadi asisten residen Anjer di residen Banten. Pada tanggal 22 November 1864, ia juga menjadi juru lelang di sana. Pada tanggal 13 Oktober 1865, ia diangkat menjadi asisten residen Sumedang dan Limbangan, juga juru lelang di sana. Pada tanggal 5 Oktober 1866, ia diangkat menjadi asisten residen Malang. Pada tanggal 20 Agustus 1872, ia diangkat menjadi residen Krawang. Pada 10 Agustus 1873, ia diangkat menjadi residen Pasuruan. Pada 5 September 1877, ia diangkat menjadi residen Batavia. Pada 4 Maret 1880, ia diberikan cuti dua tahun untuk pergi ke Eropa karena sakit. Ia diberhentikan dengan hormat pada 1 April 1883, dengan cuti sebesar 5.850 gulden.
Ia menikah dengan Julie Henriette Caroline Albertine van Lawick van Pabst pada 18 November 1853 di Bergh. Ia meninggal dunia pada 13 Juli 1892 di Den Haag.
14. Adolphe Fitz Verploegh, 18 Augustus 1877 – 24 Juli 1880
Adolphe Fitz Verploegh lahir pada tanggal 6 Februari 1827 di Cheribon. Ia adalah putra dari Benjamin Corneille Verploegh dan seorang perempuan Tionghoa, Nona Hain Nio.
Ia adalah seorang pegawai negeri sipil senior di Hindia Belanda. Karena sakit, ia diberikan cuti dua tahun untuk kembali ke Belanda pada tahun 1858; saat itu, ia menjabat sebagai sekretaris residensi di Batavia. Ia menjadi residen Bagelen dan kemudian direktur urusan dalam negeri. Pada tahun 1875, ia diberikan cuti dua tahun lagi untuk kembali ke Belanda karena sakit.
Pada tahun 1877, ia menjadi residen Pasuruan. Ia pensiun pada tahun 1880. Setahun kemudian, Bataviaasch Handelsblad tertanggal 23 Februari 1881 menulis: Menarik juga untuk dicatat bahwa mantan direktur dan residen Pasuruan, A. Fitz Verploegh, berupaya untuk diangkat sebagai perwakilan Belanda di Jepang. Namun, pihak Jepang tidak senang, dan pria baik hati itu, dengan kepala terkubur di pasir, atau lebih tepatnya dengan penyakit asam urat imajiner, tiba-tiba berangkat ke Belanda melalui Amerika untuk menyampaikan lamarannya di sana untuk terakhir kalinya. Qui vivra, verra! Namun satu hal yang pasti: pihak Jepang tidak senang dengan pernikahannya.
Ia menikahi Marie Marquerite Lucile Diverneresse (usia 23 tahun) pada tanggal 5 Oktober 1887, di rumahnya di Paris. Ia berusia 60 tahun dan, menurut sebuah pernyataan, sehat secara mental, tetapi terlalu sakit untuk meninggalkan kamarnya. Ia meninggal dunia enam hari setelah pernikahannya, pada tanggal 11 Oktober 1887, di Paris, pada usia 60 tahun.

15. Johannes Jacobus Rambaldo, 24 Juli 1880 – 16 April 1883
Johannes Jacobus Rambaldo di Collalto lahir pada tanggal 25 November 1833 di Surabaya. Ia adalah anak dari Joannes Rambaldo dan Maria Clara Moorrees. Ia adalah seorang kepala pegawai negeri sipil di Hindia Belanda dan menjadi Pengawas kelas satu untuk pendapatan dan pertanian pedesaan di Pamelang, serta Residen Rembang dan Pasuruan.
Ia menikah dengan Wilhelmina Antoinette van Weelderen pada tanggal 15 Desember 1866 di Besuki, pada usia 33 tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 2 April 1886 di Den Haag, pada usia 52 tahun.

16. Frederik Godfried van Delden, 16 April 1883 – 5 September 1886
Frederik Godfried van Delden lahir pada 21 Oktober 1833 di Deventer. Ia adalah putra dari Berend van Delden, seorang pedagang, dan Aleida Johanna Houck. Ia menikah dengan Maria Elisabeth Haverkorn van Rijsewijk pada 25 Agustus 1859 di Delft. Ia adalah seorang pegawai negeri sipil utama di Hindia Belanda dan menjadi residen Pasuruan di Jawa pada tahun 1883. Ia pensiun pada tahun 1886. Pada tahun 1887, ia berangkat ke Belanda bersama istri dan keempat putrinya. Ia meninggal dunia pada 14 November 1907 di Valkenburg, dalam usia 74 tahun.
17. Christiaan Marinus Ketting Olivier, 5 September 1886 – 11 September 1891
Christiaan Marinus Ketting Olivier lahir pada tanggal 2 Desember 1838 di Den Haag. Ia adalah putra dari Frans Ketting Olivier dan Johanna Maria Piera. Lahir di Rembang, ia fasih berbahasa Jawa dan mengenal adat istiadat serta adat Jawa sebaik orang Jawa pada umumnya.
Ia adalah seorang pegawai negeri sipil senior di Hindia Belanda dan menjadi Residen Pasuruan pada tahun 1886 dan Residen Yogyakarta pada tahun 1891. Ia pensiun pada tanggal 5 Juli 1896, dengan niat untuk menetap di Batavia. Ia menerima pensiun sebesar ƒ 6.750 per tahun.
Ia menikah (1) dengan sepupunya, Barendina Maria Piera, pada tanggal 13 Agustus 1862 di Delft, saat ia berusia 23 tahun. Maria Piera meninggal dunia pada tanggal 30 Januari 1885 di Jombang (Surabaya).
Ia menikah (2) dengan Jeanne Gertrude van Meeverden pada tanggal 6 Februari 1886, di Surabaya, pada usia 47 tahun. Jeanne meninggal dunia pada tanggal 13 November 1929, di Malang, pada usia 68 tahun.
Setelah pensiun pada bulan Juli 1896, ia awalnya menetap di Batavia bersama istri dan tiga anaknya. Pada tanggal 31 Maret 1897, keluarganya, termasuk keponakan mereka, Eugenie M. Ketting Olivier, berangkat ke Eropa dengan kapal SS Merapi. Ia meninggal dunia pada tanggal 16 Agustus 1901, di Den Haag, pada usia 62 tahun.
Sepucuk surat dari Batavia tiba di Locomotief.
Belum lama ini, Residen C. M. Ketting Olivier, bersama para kepala pemerintahan daerah lainnya, dipertimbangkan untuk diberhentikan oleh Bat. Nbl. (Layanan Nasional). Pejabat yang disebutkan di atas konon telah menerima surat pengunduran diri. Namun, saya dapat memberi tahu Anda dari sumber-sumber terbaik bahwa Tuan Ketting Olivier termasuk dalam kategori Residen yang jasa dan pengabdiannya yang berkelanjutan masih sangat dihargai oleh pemerintah. Tuan Ketting Olivier sendiri konon merupakan salah satu dari sedikit Residen yang membuat pengecualian terhadap prinsip resmi pemerintah untuk pensiun setelah tiga puluh tahun mengabdi.
Seluruh penduduk Yogyakarta, baik ibu kota maupun perusahaan gula, nila, dan kopi, tentu tidak akan terkejut dengan hal ini, karena mereka, tentu saja, paling tahu betapa besar kebaikan yang telah dicapai Residen Ketting Olivier bagi Yogyakarta hanya dalam beberapa tahun dan betapa besar pemerintah di sana berhutang budi semata-mata pada kebijakan, kemanusiaan, dan inisiatifnya. Residen Olivier memang meminta dan memperoleh izin untuk pergi ke Batavia pada musim semi, tetapi bukan, seperti yang dikatakan, untuk meminta pencabutan “bottebriefje” (bentuk pembayaran untuk surat keterangan pembayaran), melainkan semata-mata untuk kepentingan pribadi. Tuan Ketting Olivier memang mengunjungi Buitenzorg pada kesempatan itu dan, atas permintaan Gubernur Jenderal, tinggal di istana, tetapi bukan untuk urusan resmi, melainkan hanya sebagai teman lama, sesama akademisi. Dan pada kesempatan itu, Tuan Ketting Olivier, karena alasan keluarga, telah mendesak pemecatannya dari dinas negara. Keputusan itu sudah tidak dapat dibatalkan pada saat itu.
Bulan depan, Tuan Ketting Olivier akan meninggal dunia, yang niscaya akan disesali secara universal di Djokja. Beliau memiliki bakat untuk bergaul dengan semua orang, terlepas dari apakah mereka orang Eropa atau pribumi, Sultan atau Gubernur Kekaisaran. Bukan tumpukan dokumen, tetapi seluruh kepribadiannya, hanya kata-katanya, sudah cukup untuk menyelesaikan kasus-kasus yang paling rumit sekalipun dengan sukses dalam waktu sesingkat mungkin. Sebagai polisi yang ulung, beliau telah secara permanen menekan gerakan-gerakan ketjoe-pai yang dulu banyak jumlahnya dan ditakuti. Gerakan-gerakan itu kini hampir menjadi sejarah. Kerusuhan legiun Pangeran Adipati Pakoe Alam, sebuah gagasan dari Residen Mullemeister, digagas olehnya tanpa henti.
Ia selalu berhubungan baik dengan Sultan dan Gubernur Kekaisaran. Ia, dalam arti sebenarnya, adalah kakak mereka dan karena itu selalu mudah mendapatkan semua yang mereka inginkan, terbukti dengan adanya trem Jogja-Magelang dan trem Jogja-Brossot, yang untuknya Sultan menganugerahkan tanah secara cuma-cuma. Usulannya untuk penggalian Terusan Progo, yang langsung diterima, juga menjadi bukti nyata hal ini. Ia selalu memperhatikan kepentingan pertanian Eropa. Kepentingan ibu kota sendiri juga tak luput dari perhatiannya. Banyak perbaikan, termasuk pembangunan trotoar, berkat jasanya. Kita bisa menambahkan lebih banyak lagi, tetapi hal di atas tentu sudah lebih dari cukup untuk menyoroti jasa istimewa Tuan Ketting Olivier. Kebetulan, Gubernur Jenderal sendirilah yang paling tepat menilai hal ini. Jika ada Residen di Jawa yang bisa mengklaim gelar kebangsawanan, itu pasti Tuan Ketting Olivier. Dan kami yakin Pemerintah akan membuktikannya.
18. André Salmon, 11 September 1891 – 10 Augustus 1899
André Visserszoon Salmon (Vz. atau Vzn.) lahir pada tahun 1844. Ia adalah putra Visser Salmon, seorang pegawai negeri sipil, dan Naatje Manson.
Ia adalah seorang kepala pegawai negeri sipil di Hindia Belanda dan menjadi residen Pasuruan pada tahun 1891. Ia pensiun pada tanggal 10 Agustus 1899. Keluarga Salmon berangkat ke Belanda pada tanggal 23 Agustus 1899, dengan kapal uap Prinses Amalia. Mereka menetap di Den Haag. Ia menikah dengan Esther Rebecca Vas Dias pada tanggal 10 April 1867, di Den Haag. Ia meninggal dunia pada tanggal 3 Juni 1901, di Den Haag, pada usia 57 tahun.[2] Ia dimakamkan di Nieuw Eik-en-Duinen.

Sebuah benda yang menjadi bukti tumbuhnya rasa seni di kalangan penduduk Jawa dan juga dapat dianggap sebagai salah satu produk terbaik industri pribumi adalah sebuah peti yang dibuat secara artistik dengan ukiran kayu pada sisi dan tutupnya, yang menggambarkan kehidupan Hindu. Peti ini, dihiasi dengan gagang perak buatan Eropa dan berisi lebih dari seratus foto jenis dan wajah dari Keresidenan Pasuruan, merupakan suvenir yang baru-baru ini dipersembahkan oleh sejumlah besar penduduk wilayah tersebut kepada Residen Pasuruan, tuan A. Salmon, yang mengundurkan diri tahun lalu dan kini menetap di Den Haag.
Catatan: Foto-foto tersebut diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 2009.
In Memoriam
Mantan Residen A. Salmon, yang meninggal dunia di Den Haag pada tanggal 1 April 1844, telah bekerja selama 35 tahun di pemerintahan domestik di Jawa setelah meninggalkan dinas kolonial, kecuali cuti dua tahun untuk kembali ke negara asal. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Delft, ia ditempatkan di bawah pengawasan Gubernur Jenderal pada usia 21 tahun dan, pada tahun yang sama (1865), ditugaskan sebagai inspektur kelas tiga di Karesidenan Cheribon di Direktorat Kebudayaan. Dua tahun kemudian, ia dipindahkan ke Karesidenan Madura, diangkat sebagai inspektur kelas dua, dan pada tahun 1873 dipromosikan menjadi inspektur kelas satu. Dalam pangkat terakhir, ia dipindahkan ke Karesidenan Japara dan, pada tahun 1876, dipindahkan lagi ke Karesidenan Surabaya.
Pada tahun 1878, Tuan Salmon diangkat sebagai asisten residen Loenioeljang (Probolingo). Ia kemudian memegang jabatan yang sama di Bangil dari tahun 1882 hingga 1891. Pada tahun terakhir, di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk, Tuan Salmon diangkat sebagai residen Passoeroen, suatu jabatan yang dipegangnya hingga Agustus 1899, ketika ia diberhentikan dengan hormat atas permintaannya. Tuan Salmon menghabiskan sebagian besar kariernya bekerja di perkebunan kopi pemerintah dan akhirnya menjadi kepala administrasi wilayah Jawa yang paling kaya kopi.
Sebagai penentang kerja paksa dan kerja tak berbayar, beliau, dalam kapasitasnya sebagai kepala pemerintahan daerah, sangat mendukung upaya berbagai gubernur untuk mencapai pengurangan atau penghapusan bertahap kerja paksa ini, sesuai dengan pandangan pemerintah tertinggi. Laporan resmi beliau mengenai hal ini sebagian diterbitkan selama perdebatan kolonial di Dewan Perwakilan Rakyat. Pada akhir tahun lalu, mantan residen tersebut disebut sebagai pakar di bidang irigasi dan kerja rodi dalam perdebatan di Dewan Perwakilan Rakyat. Sebagai pengakuan atas pengabdiannya selama bertahun-tahun di daerah tropis, beliau menerima Salib Ksatria Ordo Singa Belanda pada tahun 1898. Raja Siam, yang tinggal bersama Ratu Kerajaan tersebut di kediaman Tuan Salmon selama perjalanannya melintasi Jawa, mengangkatnya sebagai Komandan Ordo Gajah Putih pada kesempatan itu.

Selama satu-satunya cuti di negeri ini, Tuan Salmon dipanggil untuk bertugas sebagai anggota panitia ujian pegawai negeri sipil Hindia Belanda. Sebagai bukti semangatnya yang masih menyala, patut disebutkan bahwa, setelah kembali ke jabatan sebelumnya sebagai pegawai negeri sipil, ia mulai mempelajari bank-bank peminjam di Hindia Belanda, sebuah pekerjaan yang tidak dapat ia selesaikan.
Pengabdiannya ditandai dengan pengabdian yang ketat namun adil terhadap tugas, dan penghargaan masyarakat Eropa dan pegawai negeri sipil atas kepemimpinannya terbukti dari penghormatan yang diterimanya, baik saat ia mengundurkan diri maupun di kemudian hari di negara asalnya, sebagai kenangan atas cara ia menjalankan tugasnya.
19. Gérard Johannes Petrus (de la) Valette, 10 Augustus 1899 – 15 April 1907
Gerardus Johannes Petrus (de la) Valette. Pada tahun 1903, ia diberi izin untuk menggunakan nama De la Valette. Ia lahir pada tanggal 4 Juli 1853, di Semarang, Jawa, Hindia Belanda. Ia adalah putra dari Jacques Clement (Jacob) Valette (1822-1887) dan Constance Cathérine Hubertine Bastings. Ayahnya adalah seorang guru di Gimnasium Willem III di Batavia.

Valette bersekolah di Gimnasium Willem III; pada tahun 1869, ia juga menerima “Sertifikat Bahasa, Sejarah, dan Geografi.” Pada tahun 1870, ia lulus Ujian Pegawai Negeri Sipil Tinggi A, dengan peringkat ketiga terbaik. Pada tahun 1872, ia juga lulus ujian Pegawai Negeri Sipil Hindia Timur; ia tinggal di Leiden pada saat itu. Ia juga lulus (peringkat ketujuh) ujian B untuk pegawai negeri sipil di Hindia Belanda.
Setelah berkarier panjang di bidang kepegawaian sipil di Hindia Belanda, ia diangkat menjadi Residen Pasuruan pada 5 Juli 1898. Kabarnya, ia mendapatkan gelar ini berkat campur tangan pribadi Gubernur Jenderal: “Namun, Gubernur Jenderal pasti menganggap bahwa Tuan Valette, dengan pangkatnya saat ini, telah membuktikan dirinya lebih unggul daripada yang lain karena memiliki bakat luar biasa dan dengan demikian ingin membawa darah muda ke dalam pasukan.” Pada tahun 1900, Valette juga ditugaskan untuk mengelola keresidenan Probolinggo, di samping jabatannya sebagai Residen Pasuruan.

Setelah diberhentikan dengan hormat sebagai Residen pada 8 April 1907, ia menjabat sebagai ketua Serikat Pekerja Gula, menggantikan Samuel Cornelis van Musschenbroek. Pada tahun 1907, ia diangkat menjadi anggota Dewan Pengawas Bank Kolonial. Pada tahun 1909, ia kembali ke Belanda, di mana ia kembali terlibat dalam urusan perbankan. Ia juga menjabat sebagai komisaris di Archipel Bank.
Pada tahun 1870-an, Valette mulai menerbitkan kolom di Java-bode. Van Daalen berpendapat pada tahun 1877 bahwa Valette telah berhenti menerbitkan atas desakan atasannya, meskipun penulis tersebut, yang menulis dengan nama Ekhard, telah menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak lagi punya waktu untuk itu.
Ia menikah dengan Geertruida Johanna (Trudy) Couperus pada tanggal 28 Februari 1877, di Batavia, Jawa, Hindia Belanda.[5] Ia adalah saudara perempuan penulis Louis Marie-Anne Couperus (1863-1923). Enam anak lahir dari pernikahan ini; tiga di antaranya meninggal muda. Yang lainnya adalah: Constance (1878-1965), John (1883), dan Edmée (1886-1932).
Ia meninggal pada tanggal 17 April 1922 di Den Haag pada usia 67 tahun.

20. Lodewijk Kreischer, 15 April 1907 – 2 Oktober 1912
Lodewijk Kreischer lahir pada 21 Agustus 1858 di Rotterdam. Ia adalah putra dari Hendrik Lodewijk Kreischer dan Toinette van Nahuijs.
Lodewijk Kreischer menjabat sebagai asisten residen kepolisian di Batavia hingga April 1907, kemudian menjadi Residen Pasuruan. Pada tahun 1908, ia ditanya apakah ia ingin menjadi Residen Surabaya. (Berita Hari Ini, Mei 1908) Rupanya, ia menolak. Berita Hari Ini, 16 April 1907, menggambarkan Lodewijk sebagai pribadi yang suka menolong, energik, dan tekun, serta seorang pemimpin yang baik dalam perdebatan di Dewan Kota Batavia. Tertulis: “Ia adalah kepala Pemerintah Daerah, ketua dewan kota, dan Asisten Residen Kepolisian.” Sumatra Post, 23 Agustus 1912, melaporkan bahwa Lodewijk akan pensiun, yang akhirnya terjadi pada 2 Oktober 1912.
Ia, seorang Pengendali Kelas Satu di Administrasi Dalam Negeri, menikah dengan Jonkvr. Jenny Adelaïde Bartholde Henriëtte Adolphine van den Bosch pada 23 Juli 1894, di Cirebon, Jawa, Hindia Belanda. Putri mereka, Dorothea Kreischer, lahir pada 27 Juni 1901, di Pasuruan dan meninggal di Den Haag pada 15 Desember 1982. Ketika ayahnya meninggal, ia dan kedua putrinya berada di kamp interniran Jepang di Sumatra.
Lodewijk meninggal pada hari Selasa, 7 November 1944. Ia berusia 86 tahun, 2 bulan, dan 17 hari. Lodewijk meninggal di Baarn. Ia dimakamkan tiga hari kemudian di Pemakaman Nieuwe Algemene Wijkamplaan Baarn pada hari Jumat, 10 November 1944.

21. Bernardus Schagen van Soelen, 2 Oktober 1912 – 26 September 1913
Bernard Schagen van Soelen lahir pada tanggal 31 Januari 1863, di Siboga, Tapanuli Selatan, Pesisir Barat Sumatra, Hindia Belanda. Ia adalah anak dari Bernard Schagen van Soelen, mantan sekretaris karesidenan Tapanuli Selatan.
Ia adalah seorang pegawai negeri sipil utama di Hindia Belanda. Ia adalah Pengawas Dalam Negeri dan kemudian menjadi residen Pasuruan dan Besuki.
Ia menikah dengan Johanna Elisabeth van der Gon Netscher pada tanggal 18 Juli 1892, di Poerworedjo, pada usia 29 tahun. Ia meninggal dunia pada tanggal 2 Juni 1926, di Lawang, Jawa, Hindia Belanda.
22. Klaas Peereboom, 26 September 1913 – 10 Augustus 1919
Klaas Peereboom lahir pada tanggal 24 Agustus 1864 di Nieuwendam, Holland Utara, Belanda. Ia adalah anak dari Cornelis Klaaszoon Peereboom dan Jannetje Veenstra.
Ia adalah seorang kepala pegawai negeri sipil di Hindia Belanda dan ditempatkan di bawah kendali Kepala Staf Hindia Belanda pada tanggal 11 Agustus 1884 untuk menduduki jabatan-jabatan administratif di negara tersebut.
Ia pensiun pada tanggal 10 Agustus 1919, setelah hampir enam tahun menjadi residen Pasuruan. Ia dianugerahi gelar Ksatria Ordo Singa Belanda.
Setelah kembali ke Belanda, ia tinggal bersama istrinya, putrinya Catharina Johanna, dan seorang pelayan pribumi, Dasina, di Amsterdam selama dua bulan sebelum pindah ke Doorn. Ia menikah dengan Sophie Louise Mimie (Fientje) Pereira pada tanggal 26 Januari 1891 di Surabaya. Ia meninggal pada tanggal 31 Januari 1942 di Den Haag, pada usia 77 tahun.

23. Jan Hendrik Nieuwenhuis, 10 Augustus 1919 – 29 Januari 1920
J. H. Nieuwenhuijs mulai bekerja sebagai pegawai negri sipil sejak akhir tahun 1893. Ia menghabiskan awal masa jabatannya di Karesidenan Semarang, hingga ia mengambil cuti ke luar negeri pada awal tahun 1906, Dimana ia bekerja sebagai kontrolir di Gubug (Demak) dan Salatiga. Setelah kembali dari cuti di luar negeri pada tahun 1906, ia ditugaskan sebagai kontrolir di Wonogiri (Karesidenan Surakarta) dan dua tahun kemudian di Genteng (Banjoewangi), Karesidenan Besuki. Pada bulan Agustus 1912, ia diangkat sebagai Asisten Residen Pandeglang, dari sana ia dipindahkan dalam posisi yang sama ke kota utama Cirebon pada akhir tahun 1915, di mana ia juga bertugas di dewan kota. Akan tetapi, ia tidak akur dengan para anggota dewan kota, dan inilah alasan mengapa ia diberhentikan dari jabatannya pada pertengahan tahun 1917 dan ditugaskan untuk bekerja di Departemen Dalam Negeri.
Pada Juli 1919 ia ditunjuk sebagai Residen Pasuruan. Hanya menjabat selama 5 bulan dan kemudian diangkat menjadi Residen Semarang pada Januari 1920 hingga 4 Oktober 1922. Ia juga pernah menjabat Residen di Surakarta pada tahun 1924-1927.
24. Johannes Martinus Jordaan, 29 Januari 1920 – 3 Augustus 1924
Johannes Martinus (Max) Jordaan lahir pada tanggal 20 Juni 1871 di Den Haag. Ia adalah putra dari Johannes Martinus Jordaan dan Johanna Catharina Maria de Louw.
Ia pernah menjabat sebagai Kontrolir Administrasi Dalam Negeri untuk Jawa dan Madura, Asisten Residen Magelang, Residen Pasuruan, dan Residen Surabaya. Pensiunnya berlaku efektif pada tanggal 31 Januari 1928.
Ia menikah (1) pada tanggal 23 Agustus 1905 di Mojo Agung, Jombang, Surabaya, dengan Theodora (Dora) Obertop. Mereka bercerai pada tanggal 1 Agustus 1927 di Den Haag. Ia menikah (2) dengan Theodora Hert. Mereka telah bercerai.
Ia tinggal di De Bilt dan meninggal pada tanggal 17 Maret 1943 di Lembaga Diakones di Utrecht, pada usia 71 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman Den en Rust di Bilhoven.

25. Julianus Stephanus Scholten, 3 Augustus 1924- 1 Juli 1928
Julianus Stephanus Scholten lahir pada 12 Maret 1875 di Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda. Ia adalah putra dari Jan Wilhelm Scholten dan Maria Elisabeth Moll.
Ia adalah seorang pegawai negeri sipil senior di Hindia Belanda dan menjadi Asisten Residen Pandeglang. Pada tahun 1920, ia juga ditugaskan sementara di Residen Bantan. Pada tahun 1920, ia diberikan cuti Eropa selama sepuluh bulan untuk masa bakti delapan tahun. Ia kemudian menjadi Asisten Residen Klaten. Pada tahun 1924, ia menjadi Residen Pasuruan hingga diberikan cuti Eropa selama delapan bulan lagi, efektif pada tanggal 2 Juni 1928. Ia kemudian pensiun pada bulan Februari 1929.
Ia menikah dengan Lucie Nicoline Josephine Raat pada tanggal 18 Agustus 1903 di Ponorogo, Madiun, Hindia Belanda. Ia meninggal pada tanggal 3 Juni 1965 di Breda.
26. Coenraad Hendrik Hermanus Snell, 1 Juli 1928 – 18 September 1928
Coenraad Hendrik Hermanus Snell lahir pada 16 Juni 1884 di Kediri, Jawa, Hindia Belanda. Ia adalah putra dari Willem Hendrik Hermanus Snell dan Mathilde Claudine Hardenberg.
Ia adalah seorang kepala pegawai negeri sipil di Hindia Belanda dan menjadi Residen Pasuruan.

Ia menikah dengan Wilhelmina Paulina Draijer pada 2 Desember 1909 di Batavia. Keempat anak mereka lahir di Hindia Belanda. Keluarga Snell pindah dari Hindia Belanda ke Den Haag sejak tahun 1921. Pada tahun 1943, keluarga tersebut pindah ke Wageningen bersama dua anak bungsu mereka. Awalnya, mereka tinggal di Ericalaan 3, dan sejak 20 Mei 1943, di Hamelakkerlaan 9. Putra bungsu mereka, Han, belajar di sekolah tinggi pertanian.
Selama pengeboman di permukiman Hamelakkers (Sahara) pada 17 September 1944, orang tua dan kedua anak mereka tewas tertembak di depan rumah mereka di Hamelakkerlaan 9.[3] Mereka dimakamkan pada 21 September di pemakaman umum di Wageningen.
Sahara, 17 September 1944
Bom-bom yang jatuh di permukiman Hamelakkers (Sahara) dan di Diedenweg di Wageningen pada 17 September 1944, hari dimulainya Operasi Market Garden, memang ditujukan untuk sasaran Jerman, tetapi bom-bom tersebut mengenai warga sipil dan rumah-rumah warga sipil.
Tiga puluh lima orang tewas tertembak di Sahara, empat orang yang mengalami luka parah kemudian meninggal di rumah sakit, dan satu orang masih hilang. Banyak korban jiwa.
Pengeboman di Sahara dilakukan oleh enam pesawat dari Angkatan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAF), Angkatan Udara ke-8. 160 bom fragmentasi seberat 260 pon (118 kg) tipe AN-M81 (T10) jatuh.
Sirene serangan udara tidak dibunyikan karena listrik padam lima belas menit sebelum bom jatuh. Pembangkit listrik di Nijmegen telah dibom. Pengeboman serupa dilakukan di sepanjang Veluwezoom. Jumlah korban jiwa dan luka-luka warga sipil sangat tinggi.
Sahara dulunya (dan masih) merupakan pinggiran kota Wageningen, yang terletak di sebelah timur kota di Wageningse Berg. Sahara adalah nama tidak resmi untuk wilayah yang sebenarnya disebut Hamelakkers.[4]
27. Hendrik Kool, 18 September 1928 – 1931 (Merangkap sebagai Residen Malang)

Henk lahir pada tanggal 2 Agustus 1885 di Moordrecht sebagai putra ketiga dan anak ketujuh dari Abraham Kool, usia 50 tahun, dan Grietje Plomp, usia 34 tahun (pasangan nikah kedua dari duda Abraham Kool).
Pada tahun 1906, Tn. Kool diangkat menjadi pegawai negeri sipil dan ditugaskan sebagai inspektur koperasi di Administrasi Domestik. Pada tahun 1907, Tuan Kool ditugaskan ke Karesidenan Kadoe di Hindia Belanda. Pada tanggal 20 Januari 1907, ia diangkat menjadi pengawas magang. Ia tetap bertugas di Kadoe. Pada tanggal 28 Agustus 1909, Tuan Kool diangkat menjadi pengawas Kementerian Dalam Negeri. Kali ini pun, beliau tetap ditempatkan di Kadoe.
Pada tahun 1910, Tuan Kool dipindahkan ke Surabaya, Hindia Belanda. Pada tanggal 14 Mei 1914, Tuan Kool diangkat untuk belajar di Akademi Administrasi NI. Pada tahun 1916, Tuan Kool diangkat menjadi inspektur di BB, dengan ketentuan bahwa ia akan ditempatkan di Besuki. Ia ditugaskan di sana untuk mengurangi jumlah tanah milik pribadi. Akibatnya, ia ditugaskan ke Surabaya.
Pada tanggal 21 Juli 1917, Tuan Kool diangkat ke posisi sementara sebagai wakil inspektur untuk urusan pertanian dan layanan wajib. Pada tanggal 16 Februari 1921, Tuan Kool ditugaskan ke kediaman Bantam. Ia kemudian diangkat menjadi wakil hakim distrik di pengadilan negeri Serang. Pada tahun 1922, Tuan Kool diangkat sebagai Asisten Residen sementara yang siap membantu Residen Batavia untuk memulihkan tanah-tanah milik pribadi.
Kool diangkat menjadi asisten residen di Serang. Pada tahun yang sama, beliau diberhentikan sebagai hakim distrik.Pada tanggal 13 Mei 1922, Tuan Kool diangkat menjadi asisten residen Probolinggo. Pada bulan Maret 1925, Tuan Kool memesan sejumlah sampel Vulcan, dengan perkiraan harga kurang dari 400 gulden. Ketika pesanan tiba, ternyata harganya 1500 gulden, karena dihitung berdasarkan berat. Baik Dewan Kota Probolinggo maupun Tuan Kool menolak menerima batangan tersebut.
Pada tanggal 4 November 1924, Tuan Kool diangkat menjadi Asisten Residen Buitenzorg. Pada tanggal 25 Agustus 1925, Tuan Kool diangkat menjadi Residen Buitenzorg. Tanggal 1 Juli 1928 ia diangkat menjadi Residen yang pertama di Karesidenan Malang. Esok harinya tanggal 2 Juli, ia meresmikan sekolah Frateran di Celaket Malang. Pada tahun 1930, selain tugas-tugasnya saat itu, Residen Kool juga ditugaskan sebagai Residen Pasuruan. Pada tanggal 1 November 1931, ia kembali menjadi Residen penuh Malang.
Pada tanggal 26 Mei 1934, Residen Kool diberhentikan dengan hormat atas permintaan. Mantan Residen Kool Hendrik (Henk), tewas pada 29 September 1944 di Zevenhuizen, kotamadya Moordrecht, Holland Selatan, Belanda. Ia berlari mencari perlindungan dari serangan udara. Berdiri di dekat dinding batu, ia ditembak dari atas dan mengenai kepalanya. Tuan Kool muncul di halaman War Graves Foundation. Ia dimakamkan di: Pemakaman: Stichting Oude Begraafplaats, Prins Hendrikstraat 1, Makam Gouda Nomor ID: 429111 Nomor Pemakaman: 877

*) Pada tahun 1931 Karesidenan Pasuruan dan Karesidenan Malang disatukan menjadi Karesidenan Malang dengan pusat Karesidenan di Kota Malang. Pada tahun 1933, Karesidenan Probolinggo menyusul ikut dihapus dan digabungkan dengan Karesidenan Malang.
Sumber : Lijst van residenten op Java (Wikipedia), Wikitree dan berbagai koran lama di Delpher.
Postingan Terkait :
Makam Mantan Residen Pasuruan Ditemukan di Jakarta (Batavia)
De Residentie Passoeroeang op het Eiland Java, door H. J. Domis 1836 (Original Version)

