Perlawanan Terhadap Jepang
Tidak banyak narasi sejarah yang menuliskan tentang perlawanan para warga negara Indonesia dalam melawan kekejaman rejim Jepang. Di Indonesia yang paling terkenal adalah pemberontakan PETA, pimpinan Soeprijadi di Blitar pada awal tahun 1945. Di tempat lain di Jawa Timur, ternyata cukup banyak pejabat dan warga lainnya yang juga melawan rejim Jepang, hingga akhirnya dibunuh. Mereka ini antara lain :
- Bupati Probolinggo, R. A. A. Poedjo, dieksekusi mati pada tanggal 19 Juni 1943 di Batavia.
- Bupati Pamekasan, R. A. A. Abdul Azis, dieksekusi mati di Surabaya pada tahun 1944. Tanggal pasti belum diketahui, namun jenazah berhasil diketemukan.
- Bupati Bondowoso, R. T. Mohammad Safioedin alias Atmosoedirdjo, mati karena disiksa Jepang pada paruh pertama tahun 1945. Mati karena disiksa, sama saja dengan dibunuh. Tanggal kematian dan makam belum diketahui.
- Bupati Panarukan, R. A. A. Soedibiokoesoemo alias Bagoes Bambang Soetopo, dieksekusi bersama puluhan jajaran pejabat dibawahnya dan warga negara lainnya di hutan jati Bojonegoro pada 3 Desember 1944. Kuburan massal mereka berhasil diketemukan.
Riwayat Singkat Bupati Panarukan
Pada tanggal 5 Juli 1941, Bupati Panarukan Raden Adipati Ario Soedibiokoesoemo, merayakan ulang tahunnya yang ke-40 di Situbondo. Soerabaijasch Handelsblad menerbitkan ringkasan singkat kariernya :

“….Pada tahun 1900, ia berhasil menyelesaikan Hoofdenschool (Sekolah Pimpinan), dan baru berusia 20 tahun, pemuda ambisius ini, putra Bupati Probolinggo saat itu, R. A. A. Soerengrono, menaiki anak tangga pertama tangga resmi pada tahun 1901 sebagai juru tulis di Banyuwangi.
Pada tahun 1906, ia diangkat menjadi mantri polisi di Kalibaru, dan pada tahun 1907, wakil jaksa untuk Landraad (pengadilan negeri) di Banyuwangi. Ia tetap berhubungan dengan pengadilan selama enam tahun. Pada tahun 1912, ia diberhentikan dengan hormat untuk memungkinkan Residen Besuki mengangkatnya sebagai asisten wedono Kalibaru. Pada tahun 1915, pengangkatannya sebagai wedono Besuki, dan pada tahun yang sama, ia dipindahkan ke Tanggul di Jember. Pada tahun 1920, Banyuwangi melihat mantan juru tulis itu kembali ke posisi patih. Selama masa jabatan ini, ia menampakkan diri minat besar pegawai negeri sipil ini dalam urusan sosial sudah tampak jelas. Pada waktu itu, tidak ada dana sekolah di Banyuwangi, hingga didirikan oleh patih yang energik. Pada tahun 1923, ia dipindahkan ke Jember; di sini dana sekolah juga segera didirikan dan sebuah sekolah didirikan, Mardi Siswo. Yang setelah kepergian patih promotor pada tahun 1925, memiliki dana sebesar 10.000 gulden! Sepanjang kariernya di kantor, sifat karakter yang sama muncul: berhemat dalam manajemen keuangan, hemat. Jelaslah dengan sendirinya bahwa keturunan keluarga bupati lama ini akan dipercayakan dengan administrasi sebuah kabupaten, dan begitulah pada tahun 1925. Kabupaten Panarukan kemudian memasuki periode baru di bawah administrasi kepemimpinan bupati yang ulang tahun ini.

Seorang pegawai negeri sipil teladan, itu sudah jelas. Pemerintah menghargai loyalitas dan kompetensinya dengan menganugerahinya beberapa tanda jasa : Bintang Emas Kecil pada tahun 1923 dan Bintang Emas Besar pada tahun 1940. Pada tahun 1928 dan 1930, ia diizinkan menyandang gelar resmi Ario dan Adipati, dan pada tahun 1935, ia diberikan hak untuk menggunakan Songsong (payung) Kuning. Pada tahun 1939, ia diangkat menjadi anggota Dewan Provinsi Jawa Timur, dan beberapa bulan kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad).
Eksekusi di Hutan Jati Bojonegoro
Dikutip dari harian Nieuwe Courant, 01-09-1949, diberitakan sebagai berikut :
“….Kepala Kantor Cabang Surabaya Dinas Penyelidikan Kematian (akibat perang) menyampaikan informasi berikut ini :
Dituduh melakukan aksi bawah tanah melawan penguasa Jepang, Bupati Panarukan, R.A.A. Bagoes Bambang Soetopo Soedibio Koesoemo, beserta para jajaran pejabat administrasinya dibawahnya, dan beberapa warga negara lain dari Kabupaten Panarukan, ditangkap oleh Kempeitai pada awal April 1944 dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui.
Penangkapan massal para priyayi ini menimbulkan kegemparan besar pada saat itu dan menjadi topik perbincangan yang ramai dibicarakan di kalangan priyayi.
Dinas Penyelidikan Kematian Cabang Surabaya berhasil memberikan kejelasan terkait kasus sensasional ini. Investigasi yang dilakukan atas masalah ini mengungkapkan bahwa para pegawai negeri sipil Indonesia tersebut pertama kali diangkut ke Banyuwangi. Setelah diinterogasi di sana selama beberapa bulan oleh Kempeitai, disertai penyiksaan, mereka diam-diam diangkut ke Surabaya pada awal November 1944, di mana mereka dipenjarakan di penjara Werfstraat (Kalisosok). Pada tanggal 28 dan 29 November 1944, Pengadilan Banding Jepang menjatuhkan hukuman mati kepada para pegawai negeri sipil ini. Pada dini hari tanggal 3 Desember 1944, mereka dinaikkan ke truk-truk, yang dikawal oleh tentara Jepang, meninggalkan penjara menuju tujuan yang tidak diketahui.
Melalui interogasi ketat terhadap para penjahat perang Jepang yang ditahan di penjara Cipinang di Batavia-Pusat, kini telah ditetapkan bahwa Bojonegoro adalah tujuan akhir truk-truk ini. Di hutan jati gelap di sekitar Bojonegoro pada tanggal 3 Desember 1944, saat fajar tembakan regu tembak dari unit O’Hara yang terkenal itu terdengar, tembakan yang mengakhiri nyawa para pejabat pemerintah Indonesia ini. Mereka dimakamkan di sana dalam sebuah kuburan massal. Nama-nama mereka yang dieksekusi diperoleh dari seorang saksi mata, yang dipenjarakan di penjara Werfstraat (Kalisosok) pada saat pejabat administrasi dideportasi. Mereka adalah :
1. R. A. A. Bagoes Bambang Soetopo Soedibio Koesoemo, Bupati Panarukan. 2. Abdoelkadir Sosro Amidjojo, Wedono Panarukan. 3. R.Soedarsono, Wedono-Kotta Situbondo. 4. R. Ismangoen Danoesoebroto alias Soerjadi, Wedono Asembagus. 5. Mohamad Saleh Hardjowidjojo, Wedono dari Wonosari. 6. R. Ngabei Mohammad Joesoef Joedodihardjo, Ass. Wedono dari Tegalampel. 7. Soekirno Hadiwinoto, Ass. Wedono Asembagus. 8. R. Madiroso Koesoemowidjojo, Ass. Wedono Kendit. 9. Kjai Abdulgani Singoatmodjo, Ass. Wedono Situbondo. 10. Baharoedin Soemodiredjo, Ass. Wedono dari Panarukan. 11. R. Soepradi Soeriokoesoemo, Ass. Wedono Jangkar. 12. Djjosoetikno Ass. Wedono dari Kapongan. 13. Mustopo Patmodiredjo, Ass. Wedono Banyuputih. 14. Mohamad Imam Soerowidjojo, Ass. Wedono dari Arjasa. 15. Darsi, Ass. Wedono Besuki. 16. M. Endin Soemodipoetro Ass. Wedono Suboh. 17. R. Soepangat Prawiro Hadiwinoto, Ass. Wedono Panji. 18. Tajidin Soemosoebroto, pensiunan Ass. Wedono Curahdami. 19. Tajipi, pensiunan Wedono Tangbatang (Madura). 20. R. Soetjipto Martokoesoemo, Panitera Redaksi di Sekretariat Dewan Kabupaten Panarukan. 21. R. Soedarsono, pegawai P.T.T. Situbondo. 22. Sainoedin alias Sosrosoeseno, Penulis di Kantor Jaksa Situbondo. 23. R. Mohamad Zainal alias Kromosastro, Mantri Guru, Desa Trebungan Situbondo. 24. Abdoel Madjid, Penjaga Mercusuar di Panarukan. 25. Mas Santrijo Djojoatmoko, Kepala Opas Kabupaten Panarukan. 26. Ponidjan, Agen Hotel di Situbondo. 27. Tajidi, Mantri Pasar Situbondo. 28. Arnawi alias P. Soetrie alias Reksokarjo, Kepala Desa Pasirputih. 29. Go Kiem Ho, Kepala Lingkungan di Situbondo. 30. Ryan Chin Kei?
Korban Lain
Selain orang-orang yang dieksekusi tersebut di atas, orang-orang berikut juga terlibat dalam aksi bawah tanah yang dipimpin oleh Bupati Panarukan. Namun, mereka tidak dieksekusi di hutan jati dekat Bojonegoro, karena mereka telah meninggal sebelum deportasi yang direncanakan. Korban-korban tersebut adalah :
1. Saheroen SoemodiredJo, Ass. Wedono dari Mlandingan, meninggal dalam tahanan di Mlandingan (Besuki). 2. Ang Tjwan Khing, pedagang di Panaroekan, dieksekusi di Ancol. 3.Kariowisastro, alias Hanapi, kepala desa di Mimbaan, meninggal dalam penjara di Banyuwangi. 4. Endin, kuli kereta api di Jember, meninggal dalam penjara di Banyuwangi. 5. Pak Saemi, Waker di pasanggrahan kabupaten di Pasir Putih, meninggal dalam penjara di Banyuwangi. 6. Sech Saleh bin Salim, Procureur bambu di Situbondo, meninggal dalam penjara di Banyuwangi. 7. Imamoedin, putra kepala penghulu Situbondo, meninggal dalam penjara di Banyuwangi.
Bupati Bondowoso
Aksi bawah tanah para Pejabat Administratif Indonesia dari Kabupaten Panarukan nyaris dihentikan oleh Jepang, dimana mereka dituduh merongrong otoritas. Kempeitai menggerebek pejabat-pejabat (administratif) Indonesia di Karesidenan Besuki pada paruh pertama tahun 1945. Korban pertama kesewenang-wenangan Kempeitai adalah Bupati Bondowoso, R. Mohammad Safioedin o.g. Atmosoedirdjo, yang dianiaya begitu parah segera setelah penangkapannya, sehingga meninggal saat diinterogasi.
Selain kelompok-kelompok ini, terdapat perlawanan pasif dari individu-individu yang, dalam kebencian mereka terhadap penjajah Jepang, menyabotase tindakan perang yang telah mereka ambil. Pada bulan Mei 1944, Kempeitai dari Jember menangkap Asisten Wedono Mangli (Kabupaten Djember), M. Basoeki Poerwowidjojo, yang dituduh antara lain, menyalakan api berbentuk “V” (Victory=Kemenangan) dan “W” (Wilhelmina) pada salah satu malam pemadaman listrik. Pada tanggal 15 Desember 1944, Pak Basoeki dikirim ke Batavia oleh Kempeitai dari Jember untuk menghadap Pengadilan Militer, yang menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Pada bulan Januari 1945, ia dieksekusi di Ancol.
Bersama Pak Basoeki, ditangkap juga: Pak Soedarmo, Kepala Desa Ajung, dan Pak Sarkam, Kepala Polisi Kampung Desa Ajung, yang nasibnya masih belum diketahui oleh Kantor Catatan Sipil. Keluarga yang ditinggalkan diminta untuk menghubungi kantor Kantor Catatan Sipil di Surabaya, melalui Kantor Karesidenan, untuk mendapatkan Surat Keterangan Kematian. Dengan ini diumumkan juga bahwa, sesuai dengan peraturan dalam Staatsblad 1946 No. 137 jo. Bijblad 15074, Kepala Kantor Catatan Sipil di Batavia bertanggung jawab untuk mendaftarkan kematian-kematian tersebut dalam Buku Catatan Sipil Khusus di Batavia.
Pemakaman Kembali
Menurut koran Nieuwe courant,14-11-1951 pemakaman kembali para pejabat/priyayi yang dieksekusi jepang tersebut dijadwalkan pada 2 Desember 1951. Dari keterangan berita di Radar Situbondo, makam itu terletak di Desa Bloro, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo.


Postingan Terkait :
Tragedi Madura : Residen Madura dan Bupati Pamekasan Dibantai Jepang
Detik-Detik Jatuhnya Kota Surabaya ke Tangan Jepang
Catatan Berbagai Peristiwa Hingga Jatuhnya Kota Malang ke Jepang

