Soember Salak

Nama lengkapnya : Mary Mathilda Constancia Herrmann, lahir di Sukamadju (mungkin di Jawa Barat) pada 18 April 1880. Dari pihak ayahnya, Mary berasal dari keluarga campuran Belanda-Hindia (kakeknya seorang misionaris, neneknya seorang pribumi). Dari pihak ibunya, ia berasal dari keluarga pedagang yang berangkat ke Hindia Belanda sekitar tahun 1850 dan menetap.

Ayahnya, Frederik Herrmann, sekitar tahun 1882, memiliki sebuah pabrik singkong dan indigo (nila) di Porong (di Sidoarjo dekat Surabaya) : ‘Handelsmaatschappij Soember Salak‘. Daun-daun nila yang dipasok secara lepas diproses menjadi blok-blok yang dapat digunakan di sana. Sejumlah perempuan pembatik juga bekerja di perusahaan tersebut. Apakah secara independen atau digaji, tidak diketahui. Mary senang menghabiskan waktu bersama para wanita pribumi ini (belajar lagu dan cerita rakyat). Sekitar usia 14 tahun, ia juga mulai membatik tetapi hanya dengan pewarnaan indigo.

Pabrik Dijual

Pabrik indigo milik keluarga Mary ini berlokasi dekat halte Porong. Pada tahun 1900 pabrik ini dijual, namun tidak dijelaskan kenapa pabrik ini dijual. Padahal masih beroperasi penuh, dekat dengan pemberhentian nama tersebut di jalur KA antara Porong-Bangil. Dengan inventaris dan perabotan lengkap, rumah batu dan bangunan pabrik dengan banyak pohon kopi dan buah-buahan. Tanah sewaan yang cocok untuk perkebunan indigo seluas 118 bahu (lebih dari 82 HA).

Iklan penjualan pabrik indigo Soember Salak di Porong. De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad,
edisi 16-06-1900.

Pada tahun 1901, Mary pergi ke Belanda. Jadi diasumsikan semua desain kain batiknya ini dibuat sebelum tahun 1901. Di negeri Belanda, ia mengikuti pelatihan seni menjahit dan menggambar di Amsterdam.

Pada tahun 1909, ia menikah dan tinggal di Arnhem bersama suaminya. Di sana, ia menjalankan sebuah bengkel seni dan kerajinan tangan dengan seorang teman, yang mengkhususkan diri pada anyaman Mesir dan batik. Sekitar tahun 1917, ia pindah ke Den Haag dan menghentikan studionya. Mary melanjutkannya sendirian dengan membuka bengkel batik. Di sana, ia membuat taplak meja, pembatas buku dan sampul, selendang, dll. Dia memasok toko interior terkenal “Ons Huis” atau “Nieuw interieur” (kami tidak ingat namanya).

Dari periode itu, hanya sebuah taplak meja yang bertahan. Dia kemudian bekerja sesuai dengan gaya Jugendstil yang lebih abstrak.

Dia aktif dalam Asosiasi untuk Peningkatan Pakaian Wanita dan merancang untuk apa yang disebut “kotak sampel” pakaian anak-anak khas reformasi dengan dekorasi kecil. (hiasan-hiasan ini memiliki jejak-jejak jelas dari masa lalu mereka di “Hindia“).

Hasil Karya

Dari banyak hasil karyanya, menurut Uitgeest Mary van Barneveld-Mai, ada empat yang masih bertahan :

1. Yang pertama, yang menurutnya merupakan kain tertua, dihiasi dengan pola tradisional, beberapa bunga yang aneh, sulur-suluran dan burung.

2. Kain kedua menunjukkan piring-piring dari sebuah buku anak-anak bersama dengan gambar-gambar dari kehidupan pedesaan Hindia (juga diambil dari sebuah buku. Di bagian ‘kepala’ terdapat gambar kota Sagan, yang saat itu bernama Jerman. Kota ini dikatakan sebagai rumah leluhur ayahnya. Ayahnya sering mengunjungi Sagan dan tinggal di sana selama beberapa tahun di masa mudanya).

3. Kain ketiga lagi-lagi menggambarkan gambar-gambar dari buku anak-anak, tetapi juga representasi dari pabrik Indigo ‘Soember Salak‘. Bagian tepi kanvas menampilkan sejumlah adegan keluarga : ibu memberi makan ayam, ayah duduk di kursi malas, Mary bermain dengan anjing dan duduk di kios batik. Pada gambar halaman pabrik, Mary mengibarkan bendera (yang ia lakukan setiap hari), ibu menjemur cucian dan ayah berburu (yang ia sukai).

4. Kain keempat (yang paling indah menurut saya) menunjukkan sejumlah gambar secara diagonal dengan lirik lagu Hindia: tabe nonna tabe. Dalam buku karya Veldhuisen, saya melihat sarung yang kurang lebih serupa dari daerah Semarang.

Dari empat karya yang disebutkan diatas, sementara ini belum ditemukan yang menggambarkan tentang kota Sagan (No.2). Berikut ini beberapa foto kain batik karya Mary Herrmaan koleksi wereldmuseum.nl :

Gebatikte kokerrok – Sarong
Mouw van gebatikte katoen
Gebatikte kokerrok met dagelijkse tafrelen, circus tafrelen en de naam Soember Salak – Sarong
Kokerrok gebatikt door Mary Mathilda Constancia Herrmann – Sarung

Sisa kain batik yang disumbangkannya (ke musium), adalah kain batik yang dibawanya dari Hindia saat ia datang ke Belanda pada tahun 1902 (?). Beberapa foto interior lama menunjukkan kain-kain tersebut tergantung di ruang tamunya (itulah sebabnya mengapa kain-kain tersebut sangat usang). Dia sendiri mengenakan batik-batik itu sebagai pakaian pagi dan, tentu saja, dia dikuburkan dengan sarung dan kebaya yang disimpannya untuk tujuan itu. Dia meninggal pada 9 September 1952 di Den Haag.

Sumber dan foto : Mary van Barneveld-Mai, Uitgeest, 14 Oktober 2002 wereldmuseum.nl

Postingan Terkait :

Om Jordan dari Porong (1957)

Kisah “Anak Gula” Pabrik Gula Tulangan Sidoarjo