Industri Tapioka

Di antara berbagai pertanian besar (perkebunan) di Hindia Belanda, industri tapioka menempati posisi yang berbeda. Dalam beberapa hal bisa dikatakan agak terisolasi. Jika perkebunan kopi, tembakau dan gula termasuk di antara perkebunan yang lebih tua di Hindia. Singkong atau tapioka termasuk dalam kategori yang lebih muda. Meskipun ada pabrik-pabrik yang dibuka lebih dari 30 tahun yang lalu (diatas tahun 1900).

Namun beberapa perkebunan yang disebut lebih tua, sama sekali tidak memiliki usia yang mendekati usia Metusalah. Baru pada tahun 1869, Nienhuijs, seorang penanam tembakau dari Jawa yang tiba di Deli pada 1863, menerima konsesi pertama dari Sultan. Perkebunan yang jauh lebih tua adalah nila, misalnya di Jogjakarta – Jawa Tengah. Ketika pertanian tembakau masih dalam masa pertumbuhan, sudah ada perusahaan nila yang berkembang seperti “Ngoto” dan “Djatingarang”. Tetapi nila menghilang sama sekali pada tahun-tahun berikutnya, setelah munculnya industri pewarna kimia.

Industri tapioka adalah industri yang terbatas, hanya beberapa pabrik yang dapat ditemukan di sana-sini di Jawa. Secara keseluruhan pada tahun 1937, ada empat pabrik di seluruh pulau, setengahnya di Malang Selatan, di mana H.V.A. (Handel Vereniging Amsterdam)  memiliki pabrik “Toeren” dan kelompok Oei Tiong Ham memiliki pabrik “Krebet”. Pabrik yang pertama adalah yang terbesar di Jawa dan area penanamannya meliputi area seluas 6.875 bahu (4812.5 HA)

Di Kediri terdapat perusahaan “Bendoredjo” (H.V.A.) dan di karesidenan Batavia terdapat pabrik tapioka “Soekamandi”, yaitu Pamanoekan dan Tjiasem. Perusahaan lain yang lebih kecil di Blitar adalah “Kali Gambang”.

Pabrik tapioka dan serat “Soekamandi” ca. 1935.
Pabrik tapioka dan serat “Soekamandi” ca. 1935.
Pabrik tapioka di Toeren pada peta 1925.

Singkong, tanaman umbi-umbian, tentu saja sudah lama dikenal sebagai makanan pokok. Di beberapa daerah di Jawa, biasanya bukan daerah yang paling makmur, singkong menjadi bagian integral dari makanan. Seperti halnya kentang, yang juga mengandung banyak pati, menjadi bagian penting dari menu sehari-hari.

Dalam industri besar Barat, metode pembuatan tepung dari singkong secara historis hampir semuanya ditiru. Tentu saja dengan penerapan mesin modern, untuk memungkinkan pemrosesan dalam jumlah besar dalam waktu singkat.

Namun, industri singkong pribumi sama sekali tidak kalah dalam pertempuran dan masih bertahan di Kediri dan sebagian besar di Preanger.

Industri ini juga dipraktekkan sebagai industri rumahan. Umbi yang berasal dari ladang dikerok dan diparut, sementara semacam sepeda dengan tenaga kayuh digunakan untuk menggerakkan piringan baja bundar, di mana umbi digiling satu per satu. Butir pati kemudian diserut dan dipisahkan setelah ditambahkan air. Kotoran yang mengambang di atasnya disendok dan yang tersisa dikeringkan dan diayak untuk menghilangkan gumpalan.

Dalam karung, produk rumahan ini berakhir di tangan para pedagang China. Mereka kemudian melakukan pasca-pemrosesan di pabrik yang lebih modern untuk menyelesaikan proses pemurnian. Sekali lagi, tepung dicampur dengan air dan dimurnikan.

Hal ini memungkinkan pedagang untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan mengekspor ke berbagai belahan dunia.

Dalam bisnis besar Barat, di mana mesin-mesin besar memenuhi peran yang biasa dilakukan oleh orang Jawa dengan menggunakan kedua tangan. Penggunaan semua jenis alat dan perangkat kimia. serta jas lab putih juga memiliki fungsi penting di perusahaan ini ! Pembuatan tepung tapioka dapat disempurnakan sedemikian rupa, sehingga orang Amerika mengatakan : Produk terbaik berasal dari Jawa ! Yang secara khusus yang dimaksud adalah di Malang Selatan!

Karena banyaknya variasi aplikasi, industri tapioka hampir tidak pernah mengalami penurunan.

Pabrik lem dan pati sering menggunakan tapioka sebagai bahan baku. Di bagian belakang setiap prangko (yang belum terpakai) anda akan menemukan sebagian kecil tapioka … dan itu cukup! Pabrik-pabrik besar bahan peledak, yang jatuh dari satu masa ledakan ke masa ledakan berikutnya, tidak dapat hidup tanpanya. Lapisan kayu lapis direkatkan dengannya dengan ketebalan yang diketahui. Dan juga sangat diperlukan untuk dekstrin, seperti halnya tepung kentang, yang memiliki banyak kemiripan.

Penanaman

Saat berkendara dari Malang ke arah utara atau selatan, barat atau timur, hampir di setiap tempat anda akan menemukan banyak kebun singkong yang luas. Pohon-pohon kecil yang rapi seperti layaknya barisan tentara. Tidak seperti gula, perkebunan singkong tidak membentuk area yang berkelanjutan, tetapi konsesi diberikan untuk penanaman maksimum untuk kabupaten tertentu. Maka penanaman sebuah pabrik seperti “Toeren” di Malang selatan membentang dari sebelum Lawang di utara hingga Sumberpucung di selatan. Dengan jarak lebih dari 40 KM. dan antara Pakisaji di sebelah barat hingga daerah Tumpang-Dampit di sebelah timur. Pabrik memilih lahan di kabupaten yang paling cocok untuk tanaman singkong. Merupakan suatu kebetulan jika lahan-lahan tersebut membentuk suatu kompleks yang berkesinambungan.

Akibatnya, tidak ada sistem rel kereta api (lori/decauville) yang dapat dibangun. Seperti yang dapat dilihat di daerah perkebunan industri gula, tetapi alat transportasi lain yang digunakan.

Singkong ditanam dengan stek sepanjang 20 cm. Tak lama kemudian, akar terbentuk di dalam tanah, dan akhirnya tanaman berumbi ini berkembang secara perlahan. Batangnya menjulang di atas tanah di salah satu simpul stek, membentuk tajuk pada ketinggian tertentu.

Proses penggergajian stek tanaman singkong.
Kebun tanaman singkong yang masih muda.

Ada dua jenis singkong, terang dan gelap, dan warna batang menunjukkan bagaimana umbi berkembang. Singkong berwarna gelap menghasilkan lebih banyak pati, tetapi juga mengandung sejumlah asam biru (hidrosianat), yang dapat menyebabkan keracunan. Oleh karena itu, di kalangan pribumi, orang lebih memilih yang berwarna terang. Ketika orang ingin menikmati makanan bergizi ini, yah sangat mudah … Setelah memanggang umbi, proses persiapan selesai dan anda bisa langsung makan! Jika umbi gelap dipilih dengan tergesa-gesa, pelaku kemungkinan besar akan jatuh pingsan, karena racun yang telah berkembang … atau bahkan bisa berakibat lebih buruk.

Mesin pencuci di pabrik menghilangkan asam hidrosianat sepenuhnya. Meskipun singkong yang berwarna terang mengandung lebih sedikit pati – sebagai bahan yang terpenting! Jenis ini digunakan di pabrik demi warnanya.

Industri ini agak terisolasi dalam hal informasi ilmiah. Tidak ada stasiun pengujian untuk pertanian singkong. Seperti halnya untuk pertanian dataran tinggi dan rendah lainnya. Dengan laboratorium canggih di mana lusinan akademisi yang bijaksana, dipimpin oleh para ahli di bidang teknologi pertanian. Yang dengan tekun mengumpulkan bahan untuk arsip dan brosur, publikasi, dan terbitan berkala khusus. Seseorang sepenuhnya bergantung pada diri sendiri dan pencerahan dari penasihat teknis. Meskipun hal ini tidak mengurangi fakta, bahwa proses pembuatannya telah berhasil mencapai tingkat kesempurnaan yang tinggi. Dan dengan biaya yang besar, pabrik-pabrik tapioka telah menjadi perusahaan percontohan. Yang secara teknis dilengkapi dengan baik dan mampu mempertahankan standar yang tinggi.

Pada saat ini, pabrik-pabrik tapioka bekerja siang dan malam, dan daerah ini dipenuhi dengan kehidupan dan hiburan yang luar biasa!

Sarana Transportasi

Kami telah melihat, bahwa sistem jalur rel kereta api di perkebunan singkong yang menyebar luas tidak akan dapat digunakan. Oleh karena itu, perlu untuk mengambil rute lain untuk memecahkan masalah transportasi.

Pabrik tapioka “Toeren” di Malang Selatan, di mana beberapa tahun yang lalu tuan Gorzeman (sejak awal tahun 1934, sebelumnya administratur PG. Koenir dan Pabrik Serat Galoehan), menggantikan tuan Rijkens yang pergi ke Eropa, memiliki tiga jenis mode angkutan.

Untuk lahan yang terletak di dekat jalur trem uap Malang, transportasi rel memang masuk akal. Dari Kepanjen dan Gondanglegi, Singosari, Wendit, dan Pakis, kereta barang berangkat setiap hari. Di samping pabrik, emplasemen dengan empat jalur lintasan kereta api, 25 sampai 30 gerbong bongkar muat di sana setiap saat. Tanah perkebunan yang terletak di jalan raya yang lebih lebar, dioperasikan oleh truk dengan trailer. 8 unit kendaraan ini melayani transportasi selama musim giling. Namun, banyak ladang singkong hanya bisa ditemukan di jalan-jalan desa. 700 gerobak sapi (cikar) berjalan terus menerus untuk membawa buah singkong ke pabrik.

Panen singkong yang sudah dimuat diatas gerobak.
Cikar sebagai alat transportasi utama di tegalan dan jalan-jalan desa.
Truk dan trailer untuk jalan-jalan yang lebih lebar.

Kapasitas muat gerobak pada awalnya tidak dibatasi, sebagai langkah transisi, ditetapkan oleh provinsi Jawa Timur sebesar 120 Kg tekanan per cm lebar pelek, sehubungan pengaruhnya terhadap kerusakan jalan. Termasuk berat gerobak itu sendiri, menyisakan 12,5 hingga 13 kuintal untuk berat muatan. Masa transisi ini akan berakhir pada tanggal 1 Januari 1938, setelah itu tekanan per cm lebar pelek akan dikurangi lagi menjadi 100 Kg. Dengan peraturan baru ini nantinya, hanya 9 kuintal yang akan tersisa untuk pengangkutan muatan.

Beberapa tahun yang lalu, di hadapan pihak berwenang Eropa dan pejabat pribumi, sebuah demo dilakukan dengan cikar model baru yang lebih rendah, yang dilengkapi dengan ban karet lebar. Batas yang ditetapkan provinsi tidak berlaku untuk kendaraan yang dilengkapi dengan ban tersebut. Ternyata gerobak model baru ini tidak terlalu dalam terperosok ke dalam jalan desa dan ladang singkong. Memiliki kapasitas angkut yang lebih besar dengan ban yang sama. Pada musim hujan, 18 kuintal dapat dimuat, pada musim kemarau bahkan 22 kuintal. Pabrik “Toeren” sekarang sudah memiliki 100 gerobak dengan ban karet.

Kesimpulan yang pasti tentang mode transportasi baru ini belum dapat diambil. Hanya setelah beberapa tahun baru dapat dinilai masalah keausan ban, bearing, dsb. Oleh karena itu, waktunya belum tepat. Belum waktunya untuk mengganti semua 700 cikar dengan bahan yang lebih modern. Kerusakan jalan hampir tidak mungkin terjadi dengan menggunakan ban karet, sehingga alat transportasi ini dapat memuat tanpa batas. Pada akhirnya, biaya pengangkutan tergantung pada kapasitas gerobak.

Beberapa waktu yang lalu, sapi-sapi ternak milik perusahaan singkong menjadi pusat perhatian, karena tingkat kematiannya yang cukup tinggi. Untuk pengangkutan singkong yang berat dan melelahkan, sapi-sapi terbaik dibeli di desa. Setelah bekerja, mereka dirawat dengan baik dan menerima porsi pakan konsentrat yang cukup, sementara satu hari istirahat mingguan ditentukan. Kondisi jalan desa yang buruk ditambah dengan naik turunnya jalan, sangat menuntut kinerja hewan-hewan pengangkut, dan hari istirahat ini sangat dibutuhkan.

Pengangkutan produk akhir tepung tapioka di sini dilakukan dengan trem uap. Dengan demikian, perusahaan trem uap, selain sebagai pengangkut bahan baku, juga pengiriman produk yang telah diproses, sehingga berfungsi dua arah!

Proses Produksi

Dua hari setelah ban berjalan pertama kali bertemu dengan umbi singkong, anda melihat bahan mentah untuk produksi di pabrik tinggi menghilang dari ketinggian tertentu. Tepung putih dan murni yang indah telah siap dikirim dan kereta barang yang panjang terisi penuh, yang akan segera melaju ke Malang dengan traksi ganda.

Singkong diangkut dengan conveyor ke bagian atas pabrik, pada acara awal pembukaan musim giling.

Di perusahaan kecil milik penduduk pribumi, orang Jawa menggunakan tangan mereka untuk mencampur produk mereka dengan air. Sedangkan di pabrik, saringan pengocok digerakkan secara elektrik. Perakitan tangki dan roda berjalan, tabung dan cakram yang cerdik, membuat prosesnya seratus kali lebih baik dan lebih cepat. Di sana ketel-ketel mengaum, uap mengepul melalui pipa-pipa, dan di bawah pengawasan puluhan tukang yang terlatih secara khusus. Mereka dengan tenang dan percaya diri melakukan pekerjaan mereka di ruang yang penuh dengan kehidupan yang ganas dan mengamuk ini, proses produksi berlangsung dengan keteraturan seperti jarum jam!

Pesta rakyat sebelum musim giling.
Barisan panjang cikar yang dihias memeriahkan pesta rakyat sebelum musim giling di Turen.

Didirikan pada tahun 1916, pabrik ini kini telah berkembang menjadi sebuah bisnis besar, tempat 40 orang Eropa. 250 tukang-tukang pabrik dan 200 kuli bekerja di halaman, belum lagi ratusan kuli lapangan dan pengemudi gerobak sapi.

Fasilitas

Ini adalah dunia kecil tersendiri, dan seperti tempat lain yang pernah kami kunjungi di pemukiman H.V.A., sebuah taman vila yang bagus dengan lapangan tenis dan clubhouse (gedung sosialita) yang luas telah dibangun di dekat pabrik. Yang terakhir ini bisa menjadi contoh bagi banyak tempat, dengan teater yang rapi, biliar dan bowling, sementara sebuah bar dengan bisnis toko juga tidak ketinggalan.

Seluruh area ini memancarkan kemakmuran dan Toeren terlihat terawat dengan baik dan segar. Di sepanjang jalan terdapat sebuah sungai, dan banyak jembatan kecil yang memberikan kesan pedesaan, sekaligus aspek patriotik!

Di sisi lain pabrik terdapat 120 tempat tinggal bagi para pekerja pabrik, yang membentuk apa yang disebut kampung pabrik.

Bagian medis juga diurus dengan baik. Klinik rawat jalan dibuka setiap hari untuk semua orang, baik yang bekerja di pabrik maupun tidak. Pekerjaan mantri perawat, yang merupakan bagian dari staf tetap, secara teratur dipantau saat kunjungan dokter dari Malang.

Ketika dokter mengadakan sesi seminggu sekali, jumlah konsultasi bisa mencapai 15.000 per tahun.

Pada tahun 1936, pegawai tetap “Toeren” menerima setengah bulan gaji sebagai bonus tahun ini. Demikian pula halnya dengan semua pegawai H.V.A., termasuk pegawai yang dipekerjakan di pabrik-pabrik gula.

Para pekerja antri menerima pembayaran gaji.

Selain itu, standar upah berada pada tingkat yang layak. Arti pendirian pabrik seperti itu sebagai sumber pendapatan bagi penduduk dapat disimpulkan dari fakta bahwa dalam setahun, setengah juta gulden mengalir ke tangan penduduk dalam bentuk upah untuk pekerjaan di ladang dan pabrik, sewa tanah, dll. Selain itu, ada jumlah yang diperoleh trem Malang, baik secara langsung sebagai pendapatan dari pengangkutan pabrik. Dan secara tidak langsung, ketika penduduk yang dimungkinkan oleh upah dan perusahaan, naik ke gerbong trem uap yang luas dan berpacu ke kota Malang!

Pabrik-pabrik tapioka sangat berhati-hati dalam memberikan akses ke aula dan instalasi pabrik. Itu adalah hak mereka, dan adalah bijaksana untuk memanfaatkannya dengan ketat. Industri tapioka juga meniru budidaya gula, di mana pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa negara-negara asing dapat memperoleh varietas tebu yang ditanam dengan biaya, tenaga, dan tenaga kerja yang besar dengan sangat cepat, yang berpuncak pada ekspor stek hibrida dan varietas terbaru yang dibudidayakan dengan hati-hati, ke bagian lain di Asia.

Dan para pesaing tahu, bahwa meskipun menundukkan kepala, di industri tapioka mereka menemukan pintu gerbang yang tertutup dan dijaga dengan baik. Di mana proses terbaru dan peningkatan manufaktur dijaga dengan hati-hati di dalam dinding laboratorium kaca dan formulanya tetap tertutup rapat di antara dinding baja!

Dan teknologi tidak berhenti, dengan tekun produk ini disempurnakan secara terus menerus… tetapi tuntutan konsumen tampaknya mengimbangi hal ini!

Sumber : Soerabaijasch handelsblad, edisi 23 dan 26 Juni 1937.

Catatan Tambahan :

  • Tuan B. Rijkens memulai karirnya di H. V. A. di PG. Sroeni dekat Surabaya, dan selanjutnya diangkat menjadi fabrikasi chef di PG. Garoem (Blitar), sebagai asisten pengawas kebun dan kemudian sebagai pengawas kebun. Ia melanjutkan karirnya di Toeren dan kemudian diangkat menjadi manajer penanaman. Pada awal tahun 1921, tuan Rijkens diangkat menjadi administrator pabrik. Dia dikenal sebagai organisator yang terampil. Setelah 20 tahun bekerja di H.VA., di tahun 1934 ia pergi ke Eropa, posisinya kemudian digantikan oleh tuan A. Gorzeman. Sejak itu tuan Gorzeman menjabat terus hingga kedatangan Jepang.
  • Selama dan setelah agresi militer pabrik rusak parah, namun kemudian dapat dioperasikan kembali dengan membeli dan memasang mesin-mesin baru. Pabrik untuk pertama kalinya setelah perang giling kembali pada 1 Agustus 1950. (De vrije pers : ochtendbulletin, 27-07-1950)
  • Pabrik tapioka terkenal “Toeren” di Turen, Kabupaten Malang, karena pencurian singkong yang tak terkendali, sebagai bahan baku utama pabrik, terpaksa menghentikan operasinya untuk waktu yang tidak ditentukan. Pabrik tapioka ditutup dengan semua konsekuensi dari penutupan pabrik itu bagi karyawan, pekerja lain dan juga pemilik tanah yang menyewakan tanah mereka. Dengan penutupan pabrik, beberapa ribu orang yang biasanya mendapat pekerjaan dengan upah yang baik di dalam dan di sekitar pabrik, akan kehilangan sumber pendapatan mereka. Menurut informasi yang diperoleh, H. V. A. sebagai pemilik pabrik tapioka “Toeren” untuk pekerja pabrik yang akan dipecat karena penutupan pabrik, menetapkan pembayaran gaji sebagai berikut : Untuk pekerja yang bekerja di pabrik kurang dari satu tahun, upah mereka dibayar sampai bulan November, untuk bagian lain dari pekerja sampai awal Desember tahun ini. Pekerja yang telah bekerja di pabrik lebih dari satu tahun, tetapi kurang dari dua tahun, akan diberhentikan pada tanggal 1 Januari 1952. (Nieuwe courant, edisi 15-11-1951)
  • Panitia penyelidikan yang tugasnya menyelesaikan perselisihan antara pengusaha dan pekerja, telah mengunjungi Turen, menyusul pemecatan massal yang dilakukan pabrik tapioka. PHK massal ini disebabkan oleh banyaknya pencuri singkong, yang akhirnya memaksa pabrik tersebut tutup. Rapat dilaksanakan di rumah wedono Turen. Hadir dari panitia antara lain Bapak Siregar dari Jakarta, sebagai panitia pembantu Wedono Turen, empat orang pengurus dari Sarbupri, dan tuan W.A.C. van Duin, administrator pabrik tapioka, dan perwakilan H.V.A. di Surabaya. Administrator pabrik memberikan penjelasan rinci tentang nasib pabrik sejak rehabilitasi pada tahun 1947m serta langkah-langkah yang diambil pabrik untuk memberantas berbagai pencurian. Ada usulan agar mulai saat ini singkong dapat ditanam oleh dan atas nama masyarakat, kemudian produknya akan digiling di pabrik tapioka. Hal ini mengikuti contoh industri gula. Sewa tanah pada tahun 1950, naik mulai dari Rp. 427 menjadi Rp. 735 untuk lahan basah dan Rp 490 untuk lahan kering. Tahun ini sewa tanah naik menjadi Rp 1500— untuk lahan basah dan Rp. 250 untuk lahan kering- Satu kuintal tepung singkong menghasilkan Rp. 200. PHK massal ini telah berdampak pada lebih dari 450 karyawan. (Het nieuwsblad voor Sumatra,03-01-1952)
A. Gorzeman, administrator terakhir sebelum perang di pabrik tapioka Toeren milik H.V.A.

Postingan Terkait :

Tokoh Dibalik Kesuksesan NIMEF Di Kendalpayak Malang, Berakhir Tragis Di Kamp Interniran Jepang

Ungkap Fakta Keberadaan NIMEF di Tenun Malang

Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Gila dan Acara Sedekah Bumi di Sumber Porong Lawang 1902