NEFIS (Netherlands East Indies Forces Intelligence Service) adalah dinas intelijen militer Belanda yang didirikan dan berpusat di Australia pada tahun 1942, setelah Jepang menguasai Hindia Belanda. Organisasi ini berfokus pada operasi rahasia, pengintaian, dan pelaporan kondisi politik-militer di Indonesia untuk mendukung upaya Belanda merebut kembali kekuasaan pasca-Perang Dunia II. NEFIS menyediakan laporan-laporan intelijen penting bagi Sekutu dan melakukan misi penyusupan di wilayah yang diduduki Jepang, termasuk di Jawa.
Pada 1 Februari 1945, NEFIS menerbitkan laporan yang bersifat “Geheim/Secret” (Rahasia) tentang Kota Malang dan bandara atau lapangan udara/terbangnya (di Singosari) berikut ini :
LAPANGAN UDARA MALANG – JAWA TIMUR (Lintang: 07.55 LS Bujur: 112.42 BT):
Laporan ini disertai dengan mosaik berpenanda lokasi dari lapangan udara Malang yang disusun dari foto vertikal yang diambil pada tanggal 25 November (1944). Cakupan vertikal terakhir adalah pada 30 Mei 1943, dan tidak ada perkembangan besar yang terjadi di lapangan udara sejak tanggal tersebut. Landasan pacu dalam kondisi dapat digunakan dan 25 pesawat terlihat di lapangan.
Rincian interpretasi fase ketiga sebagai berikut :
Pendahuluan
Lapangan udara Malang memiliki drainase yang baik dan dapat digunakan di semua musim. Dibangun tahun 1940, lapangan ini dianggap sebagai salah satu lapangan udara terbaik di Jawa. Di masa damai, ini adalah lapangan udara militer terpenting di Jawa Timur dan dilengkapi dengan semua fasilitas modern. Akhir tahun 1941, Grup Pesawat Pembom ke-19 Amerika menjadikan Malang sebagai markas mereka, dengan lapangan udara digunakan oleh pesawat B-17 dan B-24. Ada beberapa serangan udara musuh sebelum Maret 1942, yang menyebabkan sejumlah kerusakan. Belanda, sebelum pendudukan musuh, memasang bahan peledak di landasan rumput lama dan untuk sementara membuatnya tidak dapat digunakan. Hanggar dan peralatan lainnya juga diledakkan. Jepang dengan cepat mengembalikan lapangan udara menjadi operasional dan melakukan perbaikan ekstensif, termasuk peningkatan besar fasilitas penyebaran dan pembangunan landasan berpermukaan baru.
Lokasi
Lapangan udara terletak 7 (tujuh) mil di timur laut kota Malang dan 50 mil statut di selatan Surabaya. Situs lapangan dikelilingi oleh sawah, di daerah perbukitan landai, antara sungai Soembersari dan Djiloe. Ketinggian lapangan adalah 1715 kaki.
Landasan Pacu
Landasan pacu, berorientasi U-BB-S-T (Utara-Barat Laut ke Selatan-Tenggara), dapat digunakan sepanjang 6700 kaki x lebar 170 kaki, dan dinyatakan terbuat dari beton dan aspal. Sejak Mei 1944, landasan pacu telah diperpanjang dengan ditambah 1600 kaki.
Penyebaran
Terdapat 92 lubang perlindungan pesawat (revetment) di lapangan, yaitu 13 untuk pesawat tempur dan 76 untuk pesawat pengebom. Sebelas dari revetment pengebom memiliki atap. Area pengerasan (hard standing) yang hampir tak terbatas tersedia untuk menyebarkan pesawat tanpa penutup atau perlindungan. Jalur penyebaran dan taxiway dalam kondisi baik dan sepenuhnya dapat digunakan.
Pertahanan
Pertahanan udara aktif (A/A) dari sasaran ini sekarang terlihat berjumlah tiga posisi sedang. Selain itu, ada empat posisi sedang yang diragukan aktif, empat posisi sedang kemungkinan palsu, dan satu baterai dengan empat posisi berat yang ditinggalkan. Beberapa posisi A/A ringan dan senapan mesin (M/G) di area tersebut tampak diabaikan dan ditumbuhi tanaman. Beberapa pertahanan parit dengan lubang-lubang senapan dan beberapa bunker Belanda tua terlihat di area sekitar lapangan udara.
Bangunan
Lapangan udara telah dikembangkan secara signifikan oleh Jepang. Bangunan terbesar adalah hanggar utama (240′ x 220′) dengan apron perawatan beton. Ada dua hanggar lebih kecil (masing-masing 120′ x 140′), salah satunya memiliki apron beton. Beberapa revetment beratap yang disebutkan di atas, kemungkinan digunakan sebagai bengkel dan titik perawatan.
Dua hanggar besar telah dihancurkan, tetapi lantai dan apron betonnya tetap utuh. Sebuah bangunan (190′ x 50′) telah didirikan di sebagian dari salah satu lokasi tersebut.
Ada empat hanggar (130′ x 110′) di dekat area penyebaran pesawat pengebom di timur laut landasan pacu.
Dua area utama disisihkan untuk bangunan-bangunan barak, satu terletak 3.000 kaki di barat ujung selatan landasan pacu. Para perwira ditempatkan di dekat barak yang disebutkan terakhir. Semua bangunan barak dalam kondisi baik dan jalan setapak serta jalan di sekitarnya tampak sering digunakan.
Rumah-rumah blok beton, digunakan untuk penyimpanan bom, dilaporkan tersebar di hutan jati timur laut lapangan.

Fasilitas:
- Pasokan Air : Sebuah menara air terlihat tepat di utara perumahan perwira. Air sebelumnya dibawa dengan truk dari Malang. Pada tahun 1941, pipa saluran air dipasang ke sebuah mata air 11 mil di tenggara.
- Persediaan Bahan Bakar : Di masa sebelum perang, pesawat diisi bahan bakar dari tangki penyimpanan bawah tanah.
- Daya Listrik : Ada alasan untuk percaya bahwa sumber daya listrik reguler untuk lapangan udara ini adalah melalui kota Malang, yang dialiri melalui jaringan Kali-Konto. Unit daya darurat, awalnya di bawah menara pilot jaga, dihancurkan selama serangan udara musuh awal tahun 1942.
Umum
Jalan-jalan kelas satu menghubungkan lapangan udara dengan Malang dan Singosari. Setidaknya 31 kendaraan terlihat dalam cakupan foto saat ini, bergerak di sepanjang jalan di area tersebut.
Sebuah jalur kereta api cabang menuju ke lapangan udara dari jalur utama dengan lebar 3’6″ di Malang. Sepuluh gerbong kereta tertutup dan tiga terbuka terlihat di titik pembongkaran di belakang hanggar utama. Dua kendaraan bermotor (M/T) berada di jalan di samping gerbong. Sebuah emplasemen kereta api terletak 5000 kaki di barat laut hanggar utama dan sebuah konvoi 13 kendaraan M/T meninggalkan emplasemen dan menuju ke arah lapangan udara.
Sebuah stasiun R.D.F. (Radio Direction Finding), dengan empat tiang dan sebuah bangunan kecil di tengah, terletak 4.000 kaki di barat laut hanggar utama. Instalasi ini tampak merupakan konstruksi musuh dan kemungkinan aktif.
Sebuah lapangan uji senjata pesawat terletak di area revetment, 800 kaki di timur, dan sejajar dengan, ujung selatan landasan pacu. Lapangan uji dalam kondisi dapat digunakan dan menunjukkan tanda-tanda penggunaan.
Hutan jati, di timur landasan pacu, memberikan penyamaran yang sangat baik dari pengamatan udara dan diketahui bahwa persediaan disebar di bawah pepohonan. Ada tiga tempat pembuangan bom beton di sini bahkan di masa Belanda. Area-area tertentu dari hutan, yang berbatasan dengan lapangan udara, digunakan untuk penyebaran pesawat dan bangunan dapat terlihat di bawah pepohonan.
Komentar
Sebuah laporan terbaru, tertanggal 20 Desember (1944), menyatakan bahwa pesawat-pesawat Sekutu yang membom aerodrome menghancurkan atau merusak delapan pesawat yang ada di darat.
20-25 pesawat disebar di Landasan Pacu No. 1 dan 2. 1 pesawat musuh lepas landas tepat sebelum pemboman. 2 pesawat tak dikenal yang terbang di sekitarnya tidak berusaha mendekati B-24.
KOTA MALANG, JAWA TIMUR (Lintang: 08.00 LS Bujur: 112.38 BT):
Laporan ini disertai dengan mosaik berpenanda lokasi yang memberikan cakupan 90% dari kota Malang, disusun dari foto vertikal tanggal 25 November (1944). Cakupan vertikal terakhir sebelumnya adalah pada 30 Mei 1943.
Malang di masa sebelum perang, adalah tempat peristirahatan kesehatan, pusat pertanian dan industri yang penting. Sejak pendudukan Jepang, dipercaya bahwa kota ini berfungsi sebagai pusat distribusi pasokan untuk pangkalan-pangkalan musuh lainnya di Jawa Timur.

Rincian interpretasi fase ketiga sebagai berikut :
Pendahuluan
Malang adalah kota yang relatif modern, yang berutang asal-usul dan kepentingannya pada iklimnya yang sangat baik, pada posisi geografisnya di celah Utara-Selatan antara kelompok gunung berapi besar seperti Kawi di Barat dan Tengger serta Semeru di Timur, serta pada kesuburan daerah sekitarnya. Terdapat banyak perkebunan karet dan kopi di lereng gunung terdekat, dan pabrik gula, tapioka, serta rokok didirikan di sekitarnya. Seiring perkembangan kota, bengkel-bengkel konstruksi untuk pembuatan dan perbaikan mesin bermunculan, sekolah-sekolah dibuka, sebuah rumah sakit militer dibangun, dan garnisun besar ditempatkan di kota. Kota ini disukai sebagai “hill-station” bagi orang-orang kulit putih pensiunan serta digunakan sebagai stasiun kesehatan bagi anggota angkatan laut dan darat Belanda. Dengan demikian, Malang menjadi, setelah Surabaya, kota terpenting di Jawa Timur.
Kota ini terletak 1.600 kaki di atas permukaan laut di lembah yang luas, dengan Sungai Brantas mengalir ke selatan melalui wilayah kota dalam ngarai berkelok yang dalam. Malang memiliki iklim yang baik dengan malam yang sejuk, dan siang hari yang tidak terlalu panas.
Kota ini ditata dengan baik dengan jalan-jalan lebar, hotel-hotel kelas satu, alun-alun, taman, dan lapangan olahraga. Balai Kota adalah bangunan dua lantai yang megah. Bangunan-bangunan penting ditandai pada mosaik yang menyertai. Kota ini memiliki dewan kotapraja sendiri, menjadi pusat Karesidenan Malang dan subdivisinya, Kabupaten Malang.
Populasi pada tahun 1940 berjumlah kurang lebih dari 85.000, di mana 7.400 adalah orang Eropa, 5.000 Tionghoa, dan sisanya orang Indonesia, kebanyakan dari kelompok Jawa.
Pasokan air untuk kota ini baik. Listrik disalurkan melalui jaringan listrik Jawa Timur dari pembangkit listrik tenaga air Kali-Konto (Mendalan dan Siman).
Jalur kereta api yang baik berjalan dari Malang ke Surabaya dan ke arah lain menuju Blitar, dll. Terdapat jaringan jalan yang sangat baik di sekitarnya, banyak yang diaspal.
Sebelum pendudukan Jepang, ada beberapa stasiun radio siaran kecil di Malang.
Lapangan udara terletak sekitar tujuh mil di timur laut kota, dan dulunya merupakan markas Angkatan Udara Militer Belanda untuk Jawa Timur. Sekarang ini merupakan salah satu lapangan udara utama Korps Udara Angkatan Laut Jepang dan menjadi subjek laporan terpisah dalam OIR ini. Sebuah lapangan tembak besar terletak di barat kota, dan area terbuka ini mungkin disalahartikan sebagai lapangan pendaratan. Namun, permukaannya kasar dan tidak cocok untuk E.L.G. (Emergency Landing Ground) kecuali untuk pesawat sangat ringan, yang diketahui pernah mendarat di sana.
Lokasi
Kota ini terletak 50 mil di selatan Surabaya dan sekitar 25 mil di barat daya pusat kereta api Pasuruan, di Selat Madura. Sungai Brantas mengalir melalui wilayah kota.
Pertahanan
Tujuh posisi A/A sedang dan enam belas posisi A/A ringan terletak di dekat emplasemen barang kereta api. Kurangnya aktivitas jejak menunjukkan bahwa, saat ini, posisi-posisi tersebut tidak aktif.
Industri
Di masa damai, bengkel-bengkel teknik di kota ini mampu melakukan perbaikan mesin yang digunakan dalam industri pertanian setempat dan untuk perawatan trem uap, yang melayani distrik sekitarnya.
Banyak pabrik gula terletak di Jawa Timur dan proses baru sedang dikembangkan untuk memproduksi alkohol dari gula. Eksperimen ini dilakukan di Lembaga Penelitian Malang.
Dilaporkan bahwa bekas pabrik “Smeroe” digunakan oleh Jepang sebagai bengkel perbaikan mesin pesawat dan kemungkinan pabrik perakitan. Pabrik tersebut dikatakan dijaga ketat dan sepenuhnya dipagari kawat berduri. Pekerja terampil tidak diizinkan meninggalkan lokasi.
Pabrik rokok “Faroka” sebelumnya adalah salah satu yang lebih penting di Hindia Belanda (N.E.I.), tetapi sekarang mungkin digunakan sebagai gudang bensin dan juga untuk membuat karung beras.
Selain itu, laporan berikut telah diterima mengenai aktivitas industri Jepang di area Malang:-
- Juni 1944: Sebuah industri kawat dan paku, mempekerjakan 20 orang, telah didirikan di sebuah gudang kecil dekat stasiun radio di Betekweg di kota.
- Sebuah pabrik penyamaran kulit kerbau dan sapi terlihat di kampung Mergosono, sekitar satu mil di selatan Malang.
Fasilitas
Perusahaan distribusi listrik utama di Jawa Timur (A.N.I.E.M.) telah mendirikan pembangkit listrik di Malang yang mampu menghasilkan 1700 K.V.A. dengan menggunakan mesin diesel untuk keadaan darurat, tetapi sumber normalnya adalah melalui jaringan Kali Konto, seperti disebutkan di atas (lihat Mosaik).
Perkeretaapian
Kereta Api Negara menyediakan layanan ke Surabaya, berjarak 50 mil (2,5 jam dengan kereta cepat). Stasiun penumpang terletak 1 1/4 mil di utara emplasemen barang kereta api. Foto-foto saat ini menunjukkan sekitar 100 gerbong di halaman penumpang dan 400 truk di emplasemen barang. Lebar rel kereta api adalah 3’6″. Jalur rel sempit mengelilingi kota di sisi baratnya.
Jembatan
Sungai Brantas diseberangi oleh enam jembatan lalu lintas kendaraan dan dua jembatan kereta api. Beberapa jembatan lainnya membawa jalan raya melintasi saluran air hujan dan sungai-sungai lainnya.
Barak
Beberapa barak besar terletak di separuh bagian timur laut kota. Semuanya merupakan konstruksi Belanda dan dalam kondisi baik, dengan jalan dan jalan setapak di sekitarnya menunjukkan bukti penggunaan rutin.
Tempat Pembuangan
Area pembuangan terletak 1.900 kaki di barat emplasemen barang kereta api, dan terdiri dari 11 bangunan (masing-masing 110′ x 75′) dan enam bangunan (masing-masing 110′ x 35′). Semua bangunan ini telah dikamuflase dengan mengecat atapnya. Persediaan dapat terlihat di tempat terbuka dekat bangunan dan di emplasemen barang kereta api.
Pertanian
Setiap jengkal tanah yang tersedia di sekitar kota berada di bawah budidaya intensif. Tanaman utama tampaknya masih padi, meskipun dilaporkan bahwa budidaya jarak, kapas, dan rami menjadi semakin penting. Gula masih ditanam sampai batas tertentu.

Sumber : NEFIS REVIEW, No. 39, 1 Feb 1945.
Postingan Terkait :
Peran Bandara Singosari Malang pada Kancah Perang Dunia II
Catatan Berbagai Peristiwa Hingga Jatuhnya Kota Malang ke Jepang
N.V. Stoomwerkplaats Smeroe, Pelopor Pabrik Mesin Industri di Malang
Bandara Rahasia Pemerintah Hindia Belanda di Pasirian Lumajang


Ini dapat file NEFISnya di laman mana ya kalau boleh tahu? Saya cari-cari di Nationaal Archive, Leiden, dan Delpher tidak ada hehe…
lihat di https://www.archieven.nl/