Pernak Pernik Pabrik Gula Tempo Doeloe (II)
Di setiap pabrik gula, baik kecil maupun besar, laboratorium merupakan titik sentralnya. Tidak hanya ratusan jus dan analisis lainnya yang dilakukan oleh banyak teknisi laboratorium, namun manajer produksi juga berkantor di sana. Dia duduk di sana seperti laba-laba di jaring ratusan benang halus, yang memberi gambaran keseluruhan perusahaan.
Di pabrik gula, laboratorium juga merupakan semacam klinik rawat jalan tempat perawatan luka dan penyakit ringan. Kasus-kasus yang serius baru dirujuk ke rumah sakit pabrik, tempat dua dokter bekerja. Berbagai obat-obatan dibeli dalam jumlah besar untuk pemberian pertolongan pertama. Aspirin, misalnya, merupakan produk berjumlah besar, dan pil kina juga dipasok dalam jumlah ribuan dalam kaleng-kaleng besar. Pilnya harus diminum saat itu juga. Itu adalah resep yang bermanfaat bagi pasien. Tanpa pengawasan seperti itu, pasien mungkin akan cenderung membawa pil itu ke luar pabrik. Menjualnya di luar sana dengan harga lima sen. Pil tersebut dihisap hingga glasirnya hilang, sehingga muncul rasa pahit, kemudian baru ditelan.
Minyak Jarak
Barang bagus lainnya, yang sangat “hebat“, adalah minyak jarak. Oh, siapa yang tidak kenal obat multi guna dari daerah tropis ini ? Saya masih bergidik, ketika memikirkan tentang obat yang baunya menjijikkan ini. Harus kami konsumsi secara rutin di Hindia Belanda, hanya karena dianggap “menyehatkan“. Sakit perut atau tidak sakit perut, sesendok minyak jarak seminggu sekali untuk membersihkan sistem pencernaan adalah mottonya. Di atas meja ada sebotol minyak dengan sendok makan di sebelahnya. Segelas susu hangat, lalu buah dan terakhir sepotong asam coklat atau manisan. Semuanya dikonsumsi dalam urutan yang sama. Susu untuk menghilangkan rasa tidak enak, buah dan asam sebagai hadiah yang dimakan secara urut. Menurut saya, sama sulitnya dengan merebut kembali kepulauan Pasifik oleh Amerika.
Orang Jawa adalah peminum minyak jarak yang hebat. Mereka bisa menelannya dengan sangat mudah. Seolah-olah obat tanpa rasa tidak enak bukanlah obat ! Namun, saya belum pernah melihatnya segila yang dibuat Amat.
Suatu sore Amat memperkenalkan dirinya kepadaku. Setelah menyapanya dengan sopan dan menanyakan tentang istri dan anak-anaknya, dia memberi tahu saya apa yang dia makan. Itu ternyata banyak sekali. Daftarnya memakan waktu sangat lama, sehingga mengingat banyaknya pekerjaan yang menunggu, saya merujuknya ke teknisi di laboratorium.
Saya sedang meneliti angka-angka saya selama beberapa waktu, ketika teknisi laboratorium datang. Memberi tahu saya bahwa Amat menginginkan empat porsi minyak jarak (yaitu 100 cc).
“Kenapa sangat banyak?” Saya bertanya. “Karena dia makan banyak sekali,” kata teknisi lab.
“Kalau makannya sedikit, satu porsi minyak jarak bisa membantu,” jelas Amat lebih lanjut. “Tapi kalau sudah makan sebanyak saya, maka empat porsi saja yang bisa membantu.” “Baiklah, beri dia 100 cc,” kataku kepada teknisi laboratorium. Suara saya pasti terdengar tidak terlalu tegas. Karena pada saat yang sama saya membayangkan pengalaman pribadi saya dengan minyak jarak, susu, asam, terlintas di kepala saya. 100 cc! Sepertinya bagi saya sebuah prestasi yang hampir mustahil. “Saya ingin melihat sendiri bahwa kamu meminumnya,” kataku kepada Amat. Lagi pula, cara seperti itu hampir tidak pernah terjadi.
Saya menyaksikan dengan penuh perhatian, ketika teknisi laboratorium menuangkan cairan kental yang menjijikkan itu. Aku merinding! Dalam imajinasi saya, rasa tidak enak yang menyengat muncul seolah asap yang tebal. Keluar dari dalam cangkir yang hampir penuh. Saat teknisi laboratorium dengan tersenyum menyerahkan cangkir itu kepada Amat. Aku malah harus meredam perasaan seolah-olah seluruh isi perutku akan keluar melalui bibirku. Aku menyaksikan dengan ngeri saat Amat mengambil cangkir itu, dan meneguk isinya. Kemudian menjilati sisa minyak di bibir cangkir. Ketika dia menghilang dengan rasa syukur dan kembali ke mesinnya, saya keluar untuk menghirup udara segar.
Lebih dari satu jam kemudian, ketika saya sedang berdiri di ruang mesin berbicara dengan petugas kami Ben. Seseorang berlari lewat dengan tergesa-gesa. Tentu saja tidak seharusnya ia melakukan hal itu, karena seketika itu juga seluruh ruang mesin mengejarnya. Para tukang diperbolehkan meninggalkan mesin, jika terjadi kecelakaan di suatu tempat, agar bantuan cepat datang. Ketika Amat pergi dengan sangat tergesa-gesa, karena itu adalah Amat ! Banyak rekannya yang mencurigai adanya kecelakaan, mengikutinya, menyeberang di antara mesin menuju jalan keluar. Alie si penjaga keliling, berlari mengejarnya. Timo, masinis ketiga, bergabung dengan kami. Penjaga pintu pabrik, Ben, juga mulai berlari. Aku tertawa dalam hidupku!
Prosesi tersebut berjalan melalui gerbang pabrik yang besar. Mengikuti pemimpinnya karena kebiasaan, dan hanya Amat yang tahu apa tujuan akhirnya. Sebuah pohon, pohon yang sangat besar dan lebat, dengan semak-semak di sekelilingnya, itulah yang dia butuhkan dalam kondisinya. Tidak ada yang bisa menggambarkan wajah para tukang saat kembali ke pabrik. Sulit untuk menjaga kesopanan dalam keadaan seperti itu.
“Berengsek!” kata penjaga pintu Ben, ketika dia berdiri di sampingku lagi, “Orang itu ada urusan besar yang harus diselesaikan!” “Mungkin saja,” kataku, “dia baru saja minum 100 cc minyak jarak.” “Sialan,” kata Ben lagi.
Penjaga Pabrik
Ben berasal dari India. Nama aslinya adalah Benu Hassiu, tapi di negara ini namanya hanya sekedar Ben. Dia adalah penjaga pabrik kami. Dengan tinggi badan 1,90 m dan sorban di kepalanya, ia merupakan sosok yang disegani oleh orang Jawa cilik. Karena ia tumbuh besar dengan berbahasa Inggris, bahasa Jawanya tidak terlalu berarti, meski menikah dengan wanita Jawa, sehingga sering kali ia dianggap aneh.
Ben punya tanggung jawab, antara lain untuk memastikan tidak ada gula yang dicuri dari pabrik. Untuk itu, ketika tim pekerja sekitar 200 orang pulang, dia berdiri di pintu masuk utama dengan tongkat karet di tangannya. Untungnya, pencurian gula terjadi secara sporadis, dan jika terjadi, biasanya perempuanlah yang bersalah. Karena mereka bekerja di mesin sentrifugal dan di sanalah sebagian besar gula berada. Mereka kemudian memasukkan gula tersebut ke dalam bajunya. Menyisipkan ke seluruh bagian tubuh sedemikian rupa, sehingga terlihat hamil, atau menggunakan tempat lain yang sulit dijangkau.
Namun, Ben adalah seorang pria yang memiliki banyak pengalaman. Sungguh luar biasa mendengarnya, ketika dia menemukan seorang wanita yang memasuki pabrik dalam keadaan kurus, dan pulangnya hamil besar. Dengan tongkat karetnya dia dengan lembut menepuk “perutnya” dan berkata: “Uui-uui, kamu punya perut gula, bukan perut bayi.” Hanya ada satu kali yang gagal, ketika dia salah dan perempuan itu ternyata benar-benar hamil. Tentu saja ada keriuhan yang hebat, tapi itu tidak terlalu buruk bagi Ben, karena dialah yang biasanya tertawa. Namun sejak saat itu, penjaga ini sudah hafal wanita mana saja yang memang sedang hamil. Ia juga harus memperhatikan bagian lain dari tubuh wanita. Beberapa kali saya mendengar dia berkata: “Uui-uui, kamu punya payudara gula, bukan payudara susu.” Dan hal yang paling indah (bagi seorang wanita dengan pinggul yang sangat besar): “Uui-uui, kamu punya bokong yang manis!”
Ben berhak melaporkan pencurian gula ke polisi lapangan. Dia tidak pernah menggunakannya, karena perjalanan ke Pengadilan Negeri terlalu berat baginya. “Jika saya pernah menemukan pada mereka, mereka tidak akan pernah melakukannya lagi,” itu keyakinannya.
Makan Gula
Suatu sore Ben menangkap seorang pria. Yang ini membawa teko teh, dan itu bukanlah hal yang aneh. Namun, terdapat lapisan gula yang tebal di dasar teko. Yang tentu saja tidak langsung terlihat di bawah cairan berwarna coklat tersebut. Ben menganggap ini adalah “pencurian yang licik“, suatu permainan yang tidak adil. Lagi pula, dia tidak mungkin memeriksa semua teko karyawan!
Ben sangat marah, hingga ingin melaporkan pencuri itu ke polisi. Sebuah gagasan yang tidak diterima dengan baik oleh pihak yang bersalah, karena ada beberapa orang yang agak kasar di kepolisian. Oleh karena itu, pencuri tersebut memohon pengampunan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ben kemudian mendapat ide cemerlang. “Baiklah,” katanya, “Kau bisa memilih. Polisi lapangan, atau kau makan semua gula itu.”
Pilihan dibuat dengan cepat.
“Beri aku sendok,” kata si pencuri, “Aku lebih suka makan gulanya.”
Lima sendok pertama masuk dengan lancar, bahkan benar-benar dinikmati. Setelah itu terasa makin lambat dan pada sendok kesepuluh, pelakunya meminta istirahat. Ben tidak kenal lelah. “Teruskan makan,” perintahnya. Beberapa sendok lagi hilang, warna coklat tua di wajah pencuri berubah menjadi warna coklat susu. Terjadilah tersedak dan rasa mual.
“Kalau tidak terus makan, tetap saya laporkan polisi,” ancam Ben. Sekali lagi beberapa sendok dimakan, setiap sendok diikuti dengan sorak-sorai dari para penonton yang sedang bersenang-senang. Pria itu perlahan berubah menjadi abu-abu karena kesengsaraan, butiran keringat bercucuran di dahinya dan matanya melotot. Tiba-tiba sendok itu jatuh dari tangannya. Dia mengerang dan terjatuh ke tanah. Dia memuntahkan semua gulanya kembali dalam gelombang besar. Itu adalah hal yang baik, karena eksperimen seperti itu bisa berbahaya.
Pencuri itu terbaring diam beberapa saat. Kemudian dia terhuyung-huyung berdiri dan berjalan menyeret dirinya pulang, tentu saja diiringi sorak-sorai yang riuh. Terkadang orang bisa menjadi sangat kejam.
Teks : J. W. LE COMTE
Postingan Terkait :
Penampakan Hantu di Pabrik Gula

