Masa penjajahan Jepang di Indonesia yang relatif tidak terlalu lama (1942-1945), merupakan periode yang penuh penderitaan bagi rakyat Indonesia. Jepang mengeksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja, serta menerapkan kebijakan yang kejam seperti romusha dan jugun ianfu. Juga berdampak pada orang-orang Eropa, yang pada akhirnya di internir dan dikumpulkan pada kamp-kamp khusus.

Akibat eksploitasi dan kebijakan Jepang, rakyat Indonesia mengalami kekurangan pangan, sandang, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya. Banyak yang meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan kerja paksa. Meskipun menghadapi penindasan, banyak pejabat dan rakyat Indonesia yang tidak tinggal diam. Muncul berbagai bentuk perlawanan, baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Namun resiko perlawanan ini sangat tinggi, tidak sedikit yang dibantai atau dieksekusi mati apabila tertangkap dan terbukti makar.

Tercatat puluhan ribu orang Eropa tewas karena kelaparan atau dibunuh. Di kalangan penduduk Indonesia jumlahnya pasti lebih besar lagi. Sangat jarang eksekusi mati terjadi pada level pejabat tinggi, seperti : Bupati, Walikota (burgemeester), atau Asisten Residen, apalagi seorang Residen. Mungkin hanya terjadi di Madura, seorang Residen dibunuh oleh rezim Jepang. Sementara sebelumnya di masa-masa awal pendudukan Jepang, seorang Bupati Pamekasan juga sudah dibunuh.

Residen Slors

Berikut ini beberapa informasi tentang latar belakang Residen Slors :

  • Jan Emile Victor Alexander Slors, lahir di Ambarawa, pada 13 September 1891.
  • Ia menjalani pendidikan di Belanda,
  • Salah satu pemain korfball terbaik di Belanda selama masa kuliahnya,
  • Tinggal di Leiden sejak 2 April 1913 di distrik Hoogerwoerd 3 nomor 41a (sewa kamar),
  • Menikah di Leiden pada tanggal 29 Juli 1915 dengan  Christine ‘t Hooft  (19 tahun dan lahir di Dordrecht) – dari pernikahan ini anaknya, Nyonya Slors – ‘t Hooft meninggal pada tahun 1982, dia adalah putri dari ir. Florus Willem ‘t Hooft dan Louisa Johanna Jacobs.
  • Kembali ke Hindia Belanda dengan fasilitas yang disediakan oleh GG pada tanggal 31 Juli 1915,
  • Mengambil kursus Telegrafer Radio dan lulus pada tahun 1925,
  • Sejak 30 Juli 1933 menjadi Asisten Residen Semarang, dan sejak 5 April 1938 menjadi Residen Madura.
  • Pensiun pada tanggal 29 Desember 1941. Residen Slors tidak dapat menikmati masa pensiunnya lama karena Jepang menginvasi bekas Hindia Belanda pada bulan Maret 1942 dan kabarnya tuan Slors kemudian diinternir di Ngawi.
Duduk di tengah berbaju dan sepatu putih. Asisten Residen Slors di Semarang pada tahun 1937.

Kematian Misterius Residen Slors

Tanggal kematian Residen Slors berbeda antara sumber satu dengan sumber yang lain. Beberapa surat kabar menyebutkan hal ini sebagai “Madoera-Mysterie“. Menurut sumber resmi OGS (oorlogsgravenstichting) menyatakan bahwa tanggal kematiannya adalah 29 Juni 1945. Namun di bagian lain yang juga bersumber dari OGS tertulis tanggal 21 atau 27 Agustus 1945??. Beberapa surat kabar mengatakan, bahwa ia meninggal sekitar 4-5 hari setelah Jepang menyerah (kapitulasi), jadi pasti setelah tanggal 15 Agustus 1945, atau diperkirakan sekitar tanggal 19-20 Agustus 1945.

Sumber menurut OGS, wafat pada 29 Juni 1945.
Sumber lain juga dari arsip OGS, wafat tanggal 21 atau 27 Agustus 1945??

Nieuwe Courant, edisi 25-06-1948 menyebutkan berikut ini :

Makam Residen Madura Ditemukan

Residen Slors Dibunuh oleh Kem Pei Tai Setelah Kapitulasi Jepang. Kepala Cabang Surabaya dari Dinas Investigasi Korban Perang (ODO), tuan J. W. F. Meeng, melaporkan hal berikut dari Pamekasan: Dari interogasi yang dilakukan oleh sersan Kem Pei Tai Pamekasan yang terkenal kejam, Hashimoto—yang ditahan di penjara Cipinang di Batavia dan sementara itu dijatuhi hukuman mati—ditarik kesimpulan bahwa Residen Madura, V. Slors, meninggal sesaat sebelum kapitulasi Jepang; jenazahnya dilaporkan dimakamkan di pemakaman Eropa Pamekasan.

Investigasi lebih lanjut yang dilakukan oleh ODO mengungkapkan bahwa Hashimoto telah membuat pernyataan yang menyesatkan. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari seorang mantan mata-mata dan kaki tangan Kem-Pei-Tai dari Madura, yang memberikan beberapa informasi berharga setelah interogasi yang ketat, dan berkat kerja sama yang terpuji dari Kepala Kepolisian Daerah Pamekasan, Bapak M. Abdoelrachman, dan staf penjara, misteri Slors akhirnya terpecahkan. Ternyata Residen Slors masih hidup pada saat kapitulasi Jepang dan dibunuh oleh Hashimoto empat atau lima hari kemudian dan dikremasi di halaman belakang rumah tempat Hashimoto tinggal. Namun, kremasi itu tidak selesai. Jenazahnya dipindahkan ke pemakaman di Indonesia. Penggalian tersebut menghasilkan penemuan tulang yang sebagian hangus, abu, dan sepasang sepatu. Di antara tulang-tulang itu terdapat cincin kawin emas yang bertuliskan nama depan dan belakang lengkap istri tuan Slors. Ini menetapkan identitasnya. Jenazah tuan Slors telah dipindahkan ke Surabaya, di mana, di bawah pengawasan Dinas Pemakaman, pemakaman kembali akan dilaksanakan di Lapangan Kehormatan pada tanggal yang akan ditentukan.

Pemakaman Kembali

Jenazah Residen Slors dimakamkam kembali pada tanggal 24 Agustus 1948 di Ereveld Kembang Kuning. Surat kabar Nieuwe Courant, edisi 24-08-1948 menuliskan sebagai berikut :

“Berita Kota: Pemakaman Kembali Residen Slors yang Khidmat”
Pagi ini, jenazah mendiang Residen J. E. V. Slors dari Madoera dimakamkan kembali di Taman Makam Korban Perang Kembang-Koening. Upacara ini menarik minat yang cukup besar dari kalangan militer maupun sipil. Di antara banyak pejabat yang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pejabat administrasi tercinta adalah: perwakilan Recomba, residen, t.b. Dr. F. Hunger, residen, tuan A. M. van Liere, Drs. A. Deeleman, tuan W. Schols, yang terakhir bertanggung jawab atas upacara ini. Komandan lapangan terbang Moro-Krembangan, Kolonel P. Vroon; perwakilan M.T.C.S., Kolonel L. H. Quant; perwakilan Wali-Negara; bupati, t.b. Abdurrachman, ketua Dewan Madura; perwakilan komandan pasukan teritorial, Kolonel P. Klerckx, Bupati Pamekasan, Panaroekan, Soemenep, Sampang dan Bangkalan; kepala departemen produksi garam di Madoera, tuan J. S. Friederich, Mayor P. G. H. Brouwer atas nama komandan Brigade Infanteri ke-4, pejabat utama urusan kota, Bapak C. J. G. Becht, H. C. V. P. t.b. O. Schansman, dan banyak lainnya. Nyonya van der Plas juga termasuk di antara banyak yang hadir.

…. Ketika Jepang menduduki Madura, Residen Slors terus mengabdikan dirinya tanpa lelah untuk kepentingan rakyat Madura, yang begitu disayanginya. Ketika Jepang mengetahui bahwa Residen Slors telah mengalokasikan dana pemerintah untuk mendukung kerabat Barisan yang ditinggalkan, ia dicurigai melakukan “aksi bawah tanah” dan dijebloskan ke penjara. Para penculik yang kejam menyeretnya dari satu penjara ke penjara lain, tetapi tak ada yang dapat menghentikannya. Ketika Jepang menyerah pada tahun 1945, ia segera bergegas kembali ke bekas karesidenannya. Sayangnya, meskipun Jepang sudah menyerah, kekuasaan masih di tangan mereka, dan Residen Slors jatuh ke tangan algojo Kempetai yang ditakuti, Hashimoto. Almarhum Tuan Slors terakhir terlihat naik dokar yang berangkat dari Pamekassan. Kemudian, jenazahnya ditemukan di sebuah makam di halaman rumah Haishimoto, bersama dengan cincin kawin residen.

Pemakaman kembali jenazah Residen Slors di Ereveld Kembang Kuning Surabaya.
Sumber : Nieuwe courant, 28-08-1948.

Bupati Pamekasan

Raden Ario Abdul Aziz sebelumnya adalah Wedono Taman Kabupaten Sidoarjo. Pada tanggal 25 Mei 1934, ia ditunjuk menjadi Bupati Pamekasan dengan gelar resmi “Tumenggung“. Untuk selanjutnya beliau diizinkan dan berhak menulis namanya dengan “Raden Tumenggung Ario Abdul Azis“.

Dari kiri ke kanan: Tiga orang istri para bupati, wakil Sultan Yogyakarta, Pangeran Hadiwidjojo dari keraton Solo, Ny. Van Hartingsvelt, istri bupati Bangkalan, bupati Bangkalan, W. van Hartingsvelt (Residen Madura), Raden Adipati Ario Soeriowinoto (Bupati Surabaya), Raden Toemenggoeng Ario Samadikoen (Bupati Sumenep), dan Raden Adipati Ario Abdul Azis (Bupati Pamekasan). Pada acara 30 tahun pengabdian sebagai PNS Bupati Bangkalan R. A. A. Tjakradiningrat tahun 1936.. Sumber : KITLV
Bupati Pamekasan R. A. A. Abdul Azis periode 1934-1942.

Bupati Pamekasan R. A. A. Abdul Azis bersama istri.

Bupati Pamekasan yang baru dilantik, Bapak R. T. A. Abdul Azis, lahir di Situbondo pada tanggal 11 Desember 1896, dan merupakan putra almarhum R. M. A. A. Koesoemodipoetro, yang saat itu menjadi Bupati Panarukan. Ia berhasil menyelesaikan Sekolah Dasar Eropa dan kemudian bersekolah di Sekolah Prins Hendrik di Batavia. Setelah menyelesaikan lembaga pendidikan ini pada bulan Mei 1917, ia diangkat menjadi asisten juru tulis untuk Wedono di distrik Wonosarie, Kabupaten Bondowoso pada tanggal 23 Mei 1917. Pada tanggal 14 Maret 1918, ia diangkat menjadi calon Pegawai Negeri Sipil di Dinas Administrasi Pribumi;

Pada 21 Juni 1919, ia diangkat sebagai Mantri Polisi di Besuki, dan pada 24 Januari 1921, sebagai Asisten Wedono di onderdistrik Suboh di bekas distrik Melandingan di Kabupaten Bondowoso. Pada bulan Agustus 1921, ia dipindahkan ke Jember dan pada bulan Juni 1923 ke Banyuwangi. Penugasan di Banyuwangi sangat singkat, karena pada tanggal 24 Agustus 1924, ia ditugaskan untuk belajar di Sekolah Administrasi Negara.

Pada tanggal 30 Agustus 1926, ia kembali ditugaskan sebagai Asisten Wedono di distrik Jember, kali ini sebagai kepala onderdistrik Balung Lor. Pada bulan Januari 1927, ia dipromosikan menjadi Wedono di Distrik Tanggul di Kabupaten Besuki. Pada bulan Oktober 1930, ia dipanggil untuk bertindak sebagai Wedono di distrik Taman di Kabupaten Sidoarjo.

Pada tahun 1940 mendapat gelar “Adipati“, untuk selanjutnya berhak menyandang nama Raden Adipatio Ario Abdul Azis.

Era Jepang

Bekerja sama dengan Residen Slors, Bupati R. A. A. Abdul Azis adalah pendiri kampanye dukungan untuk pembentukan Korps Barisan Tjakra Madura yang kini telah dibubarkan. Aktivitasnya, serta sikap anti-Jepangnya yang blak-blakan, menyebabkan penangkapannya oleh Kempeitai pada tahun 1942. Berkat keberanian dan kegigihan bupati, pihak Jepang tidak mengetahui nama-nama orang lain yang terlibat. Ia melontarkan kata-kata berikut di hadapan para hakimnya: “…Saya pribadi tidak punya dendam terhadap Anda, tetapi saya benci rezim Jepang…”

Dengan ini ia menandatangani surat perintah eksekusinya sendiri, tetapi Jepang masih ragu untuk mengeksekusi orang yang begitu dihormati di Madura, dan berulang kali ditawari kesempatan untuk mengajukan permohonan grasi, yang ditolaknya. Ia akhirnya dieksekusi diam-diam dan dimakamkan di Surabaya pada tahun 1944. Berkat kerja keras Dinas Pemakaman, makam beliau dapat ditemukan di Putat Gede Surabaya dan diidentifikasi.

Pemakaman Kembali

Pemakaman kembali (herbegrafenis) R. A. A. Abdul Azis diadakan pada hari Kamis, 9 Desember 1948. Jenazah Bupati Pamekasan yang telah dieksekusi oleh Jepang, dimakamkan ulang di pemakaman Islam keluarga Abdul Azis di Situbondo dengan antusiasme yang besar. Selain keluarga inti, sahabat, dan kenalan, upacara tersebut dihadiri oleh Wali Negara Jawa Timur, perwakilan Wali Negara Madura, Residen Deeleman, tuan Pecquer, Pengawas di Bondowoso, yang mewakili gubernur, para bupati Panarukan, Bondowoso, Jember, Lumajang, dan Kraksaan, serta banyak pejabat militer dan sipil serta perwakilan bisnis di Situbondo dan sekitarnya.

Pukul 13.00, rombongan tiba dari Surabaya ke tempat penggalian makam dilakukan di Situbondo. Doa singkat dipanjatkan di masjid. Setelah itu prosesi dengan pengawalan polisi dilanjutkan ke pemakaman. Setelah upacara keagamaan, pembicara pertama adalah Wali Negara Jawa Timur, R. T. P. Achmad Koesoemonegoro, yang menggambarkan karakter teguh dan keberanian sang bupati. Setelah itu tuan Pecquer, mewakili almarhum, dan Kapten Abdul Moechni, mewakili Korps Barisan Tjakra Madura, memberikan pidato. Terakhir Bupati Panarukan, atas nama keluarga mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir atas perhatian mereka.

Ucapan terima kasih dari keluarga Bupati R. A. A. Abdoel Aziz.
Sumber : Nieuwe courant, 20-12-1948.

Postingan Terkait :

Tokoh Dibalik Kesuksesan NIMEF Di Kendalpayak Malang, Berakhir Tragis Di Kamp Interniran Jepang

Catatan Berbagai Peristiwa Hingga Jatuhnya Kota Malang ke Jepang

Detik-Detik Jatuhnya Kota Surabaya ke Tangan Jepang