Di kota Malang yang sejuk di pegunungan Jawa Timur, sejarah mencatat akhir perjalanan hidup seorang seniman besar Jerman. Ia menjadi korban Perang Dunia I, bukan di medan laga, melainkan di pengasingan yang sunyi. Ia adalah Max Dauthendey (1867–1918), penyair dan pelukis Jerman. Para kritikus menyebutnya sebagai “salah satu penyair liris terbesar di dunia” pada zamannya. Karyanya yang terkenal, seperti Die acht Gesichter am Biwasee (Delapan Wajah di Danau Biwa) dan Die geflügelte Erde (Bumi Bersayap), menjadikannya pelopor sastra eksotis Jerman. Namanya pernah disejajarkan dengan Rainer Maria Rilke dan Hugo von Hofmannsthal. Pujangga besar Stefan George memuji puisinya sebagai “satu-satunya yang dalam seluruh kesusastraan saat ini berdiri sebagai sesuatu yang benar-benar baru.” Namun takdir berkata lain.
Terjepit Perang
Pada awal tahun 1914, Dauthendey — yang saat itu berusia 47 tahun — memulai perjalanan keliling dunia. Ia dalam perjalan pulang dari Nugini dan berada di Kepulauan Maluku ketika Perang Dunia I pecah. Sebagai warga negara Jerman, ia tidak dapat kembali ke tanah airnya. Kapal-kapal Jerman tak lagi berlayar. Ia pun terdampar di Hindia Belanda, negara netral yang tak mengizinkan pria seusianya pulang untuk bergabung dalam perang.
Dari Maluku ia pergi ke Jawa, lalu ke Sumatra. Kabar pun simpang siur. Pada akhir 1915, surat kabar The Times di London menyiarkan bahwa Dauthendey “telah masuk ke pedalaman Sumatra dan menghilang tanpa jejak”. Sebuah komisi pencarian bahkan dibentuk di Swiss oleh para pengagumnya, yang khawatir penyair kesayangan mereka telah menjadi korban badak atau rimba Sumatra. Namun Dauthendey sendiri segera membantah.
“Saya Tidak Hilang”
Pada 23 Desember 1915, dari Hotel Papandajan, Garut, Dauthendey mengirim surat ke redaksi De Preanger-bode. Dengan tegas ia menyatakan:
“Saya hidup di sini dan tidak hilang sama sekali. Tempat tinggal saya di Jawa selalu diketahui oleh Konsulat Jenderal Jerman di Batavia.”
Bahkan ia mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh terkemuka seperti George Bernard Shaw (penulis Inggris), Lord Haldane, Lord Courtney, dan Romain Rolland (pemenang Nobel asal Prancis) telah berusaha membantu memperoleh surat izin jalan baginya agar bisa kembali ke Jerman. Ia juga menceritakan bahwa dengan surat pengantar dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, ia hadir dalam perayaan pernikahan Sultan di Solo. Jauh dari kata “hilang“, Dauthendey justru bergaul dengan elite kolonial dan bangsawan Jawa. Namun bantuan untuk pulang yang dinantinya tak pernah kunjung tiba.

Tosari
Tahun-tahun berikutnya Dauthendey hidup berpindah-pindah di Jawa. Ia tercatat tinggal di Tosari (Pegunungan Tengger, ketinggian 6.000 kaki) selama lima bulan, lalu di Malang, Solo, dan Garut.
Di sanalah ia mulai melukis. Kata-kata, katanya, menjadi “terlalu pendek” untuk mengungkapkan hasrat dan kerinduannya. Tangannya meraih kuas. Sekitar 75 lukisan cat air (aquarel) ia hasilkan, hampir semuanya tentang pemandangan Jawa. Lukisan-lukisan ini bukan sekadar hobi — bagi Dauthendey, melukis adalah pelarian ketika puisi tak lagi cukup. Sebagian besar lukisan itu menjadi cikal bakal cerita-cerita pendeknya yang terkenal.
Para kritikus kemudian bertanya-tanya: Mungkin Dauthendey adalah pelukis yang lebih hebat daripada penyair? Namun pertanyaan itu tak terjawab. Karena bagi Dauthendey, melukis dan menulis adalah dua sisi dari mata uang yang sama: ekspresi jiwanya yang haus akan keindahan.

Di Tosari, pada 30 Juni 1917, ia menulis pengakuan iman yang mengharukan di halaman terakhir Alkitabnya:
“Pagi ini, ketika saya membaca Mazmur 50 dan 51 karya Daud, saya sampai pada kesadaran bahwa ada Tuhan yang personal. Tiga minggu sebelum ulang tahun saya yang ke-50, diwahyukan kepada saya apa yang telah saya renungkan sejak usia 20 tahun — jadi selama 30 tahun lamanya — dan apa yang selama itu pula saya ragukan. Betapa indahnya kepastian yang kini ada di dalam hati saya, di dalam jiwa saya. Tuhan hidup, dan segala sesuatu hidup oleh Dia.”
Berakhir di Malang
Pada pertengahan 1918, kesehatannya memburuk. Ia jatuh sakit di Tosari, lalu pindah ke Songgoriti (Batu) yang udaranya lebih sejuk, namun kondisinya malah memburuk. Ia pun dibawa ke Malang. Di kota ini, Dauthendey dirawat di klinik milik Prof. Dr. Alfred Leber — seorang dokter spesialis mata dan penyakit tropis yang juga rekan senasibnya dari Jerman. Sebagai satu-satunya dokter Jerman terkemuka di Malang pada masa itu, Leber adalah pilihan paling logis bagi Dauthendey yang membutuhkan perawatan medis. Pada tanggal 30 Agustus 1918, di klinik Leber di Malang, Max Dauthendey meninggal dunia pada usia 51 tahun. Penyebabnya: penyakit tropis yang dideritanya bertahun-tahun, kemungkinan besar adalah malaria.
Ia dimakamkan di pemakaman umum Eropa setempat, yang pada masa itu terletak di Klojen Lor. Ini adalah pemakaman umum Eropa pertama di kota ini, sebelum dibangun pemakaman Eropa kedua yang berada di Sukun. Prof. Leber hadir dalam penguburan tersebut. Dua belas tahun kemudian, dalam pidatonya, ia akan berkata bahwa ia “menghadapi peti jenazah sahabatnya untuk kedua kalinya” — sebuah pengakuan bahwa ia hadir pada saat pertama kali Dauthendey dibaringkan di bumi Malang. Hanya beberapa teman setia yang mengantarnya. Istrinya, Annie Dauthendey, masih berada jauh di Eropa. Perang Dunia I baru akan berakhir dua setengah bulan kemudian, pada 11 November 1918. Namun itu sudah terlambat.

Pulang
Selama 12 tahun, jenazah Dauthendey beristirahat di Malang. Baru pada tahun 1930, Pemerintah Jerman secara resmi menanggung biaya pemindahannya ke tanah air. Pemerintah Kota Malang sendiri memberikan penghormatan terakhir yang istimewa. Dewan Kota Malang menyumbangkan sebuah peti mati dengan pelat perak dan menanggung biaya penggalian jenazah (exhumatie) serta pengangkutannya hingga ke kapal di Surabaya. Wakil Walikota Malang, Tuan G. J. Zuijderhoff, secara resmi menyerahkan peti jenazah kepada Konsul Jerman.
Pada 23 Maret 1930, di rumah Prof. Dr. A. Leber di Coenplein 13, Malang — rumah dengan menara (huis met den toren) yang terletak di sudut Daendels Boulevard dan J.P. Coen Plein — digelar upacara perpisahan. Peti mati Dauthendey ditutupi oleh dua bendera: hitam-putih-merah (Kekaisaran Jerman) dan hitam-merah-emas (Republik Jerman), serta dinaungi bendera Belanda. Musik resimen dimainkan. Para pejabat Belanda dan tokoh Jerman hadir. Annie Dauthendey, sang janda yang telah menempuh perjalanan dari Jerman melalui Amerika dan Jepang, hadir dengan suara bergetar mengucapkan terima kasih:
“Bahwa orang-orang Belanda di sini, di Malang yang jauh, telah memiliki peran sebesar itu — itu telah menyentuh saya lebih dalam lagi. Apa yang saya alami di sini tidak akan saya lupakan.”
Dari Malang, jenazah dibawa ke Surabaya, lalu pada 24 Maret 1930 dimuat ke kapal S.S. Heidelberg. Setelah menempuh perjalanan laut selama dua bulan, tiba di Hamburg pada awal Mei 1930.
Pada 24 Mei 1930, di kota kelahirannya, Würzburg, Max Dauthendey dimakamkan kembali di taman Museum Luitpold — tepat di dekat tembok yang dahulu mengelilingi taman Walther von der Vogelweide, pujangga agung Jerman abad ke-13. Walikota Würzburg mengadopsi makam Dauthendey sebagai monumen kota.


Ironi Nasib Leber
Prof. Dr. Alfred Theodor Leber (1881–1954) bukan hanya sekedar tuan rumah upacara pemakaman Dauthendey, tetapi juga dokter yang merawatnya hingga akhir hayat. Leber adalah ilmuwan kelas dunia: ia memiliki dua keahlian langka sebagai spesialis mata dan spesialis penyakit tropis, pendiri “tropical ophthalmology” Jerman, penemu “Leber’s fundus” , serta penulis 54 makalah ilmiah.
Sebelum terdampar di Malang pada 1916, ia memimpin ekspedisi ilmiah ke Samoa, Sumatera, dan Nugini Jerman. Di Malang, ia mengabdi selama 24 tahun: mendirikan klinik (yang kemudian menjadi RS Panti Waluya) di Sawahan, Sanatorium Batu untuk penderita TBC, serta koloni anak-anak di Soekoenweg. Ia juga menjadi dokter pertama yang menembus bencana Letusan Kelud 1919 dan ledakan Gadang 1928, mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan korban. Ungkapan “bawa ke Leber” terkenal di kalangan masyarakat bawah Malang, maksudnya kalau sakit bawa ke klinik punya Leber.
Namun nasibnya berubah setelah Jerman menginvasi Belanda (Mei 1940). Sentimen anti-Jerman meluas. Leber yang hampir 60 tahun dicap sebagai “musuh internal” oleh kelompok Vaderlandsche Club. Rumahnya di Coenplein 13 — rumah yang sama tempat upacara Dauthendey digelar — digeledah. Ia diinternir, semua hartanya disita dan dilelang negara. Hasil lelang mencapai f 8.000.

Pada 1942, ia dipindahkan ke Kamp Dehra Dun di India Inggris. Setelah dibebaskan (1946), ia mengabdi di Bhopal dan menjadi profesor di Universitas Muslim Aligarh. Pada 26 Oktober 1954, ia meninggal di Aligarh dalam usia 73 tahun. Sebuah obituari menulis: “Ia datang ke India sebagai sosok penyendiri yang misterius… tanpa seorang teman.” Kini, bekas rumah Leber di Coenplein 13 adalah lokasi Gedung DPRD Kota Malang.
Disingkirkan dan Dilupakan
Pada 1930, Kota Malang memberi penghormatan besar kepada Dauthendey di rumah Leber. Para pejabat Belanda hadir. Leber adalah tuan rumah yang terhormat. Hanya sepuluh tahun kemudian, kota yang sama menyita dan melelang semua harta Leber. Pejabat Belanda — melalui Vaderlandsche Club — menginternir dan melucutinya. Rumahnya yang menjadi saksi penghormatan bagi Dauthendey digeledah dan dijual. Pengabdian Leber selama 24 tahun di Malang — mendirikan klinik, sanatorium TBC, koloni anak-anak, menyelamatkan korban bencana — lenyap ditelan kecurigaan politik. Ia meninggal dalam pengasingan di India, nyaris tak dikenal.
Hingga kini, kisah Max Dauthendey — penyair besar Jerman yang mati di pengasingan Malang — hampir tidak pernah diungkap dalam sejarah lokal Indonesia. Namanya nyaris absen dari buku-buku sejarah Malang. Lebih tragis lagi, kisah Prof. Dr. Alfred Leber — ilmuwan kelas dunia yang mengabdi 24 tahun untuk rakyat Malang — justru terlupakan total. Penyebabnya sederhana: ketika Perang Dunia II meletus, ia orang Jerman. Ia dicap sebagai “musuh internal”, diinternir, dan semua hartanya disita negara. Pengabdiannya selama hampir seperempat abad tidak ada artinya lagi di hadapan kecurigaan politik.
Bahkan setelah perang usai, namanya tidak pernah direhabilitasi oleh kota yang dulu pernah memberinya penghormatan. Rumahnya di Coenplein 13 kini menjadi Gedung DPRD Malang, tanpa ada satu pun plakat yang mengingatkan bahwa di situlah seorang pahlawan kemanusiaan pernah tinggal dan bekerja. Leber meninggal dalam pengasingan kedua di India, tanpa kerabat, tanpa seorang pun yang mencatat kisah hidupnya secara utuh.
Dua tokoh ini — penyair yang dipulangkan dengan upacara kebesaran dan ilmuwan yang disingkirkan karena kebencian politik — sama-sama korban perang yang tidak mereka kehendaki. Dan sejarah, sayangnya, lebih cepat melupakan korban daripada merayakan pemenang. Nasib Leber adalah pengingat pahit: penghormatan sebuah kota bisa segera dilupakan ketika politik dan perang mengambil alih. Sementara jenazah Dauthendey dipulangkan ke Jerman dengan upacara kebesaran, sahabat dan dokternya yang setia justru hancur oleh amukan perang berikutnya.
Di tanah yang pernah ia lukis dengan kuas dan kata-kata, kisah Max Dauthendey tetap hidup: kisah seorang penyair-pelukis yang terdampar, berjuang, dan akhirnya beristirahat di negeri orang — sementara sahabat dan dokternya yang setia justru disingkirkan, dilupakan, dan tidak pernah direhabilitasi hingga kini.
Sumber: Arsip De Sumatra Post (1915–1918), De Preanger-bode (1915), Soerabaijasch Handelsblad (1930), De Indische Courant (1930), Algemeen Handelsblad (1930), De Telegraaf (1930), serta artikel “Mengungkap Sosok Leber” oleh Achmad Budiman (Anjani, 2024).
Postingan Terkait :
Mengungkap Sosok Leber – Ilmuwan dan Tokoh Kemanusiaan di Malang yang Disingkirkan

