Asal Usul Gereja

Pendiri dan Donatur

Gereja Katolik Santo Antonius Padua di Pasuruan tidak dapat dilepaskan dari sosok Alexander Manuel Anthonijs (1832-1879), seorang pengusaha gula kaya di karesidenan Pasuruan pada zamannya. Anthonijs adalah pemilik pabrik gula “De Goede Hoop” di Pengkol, selain itu ia juga membeli PG. Alkmaar di Purwosari dan PG. Seroenie di Gedangan Sidoarjo.

Ia meninggal pada 26 Agustus 1879, perannya sebagai donatur utama diabadikan dalam wasiatnya. Dalam De Locomotief (9 September 1879), diumumkan bahwa Anthonijs menyisihkan f 15.000 untuk pembangunan sebuah gereja Katolik di Pasuruan. Banyak tulisan yang beredar yang menyebut bahwa Alexander Manuel Anthonijs adalah pengusaha sukses yang bekerja di POJ (Proefstation Oost Java atau sekarang dikenal dengan P3GI). Padahal POJ di Pasuruan baru berdiri pada tahun 1887, atau 8 (delapan) tahun setelah kematian A. M. Anthonijs di 1879.

Peresmian Gereja

Pada tanggal 28 Juli 1895, gereja ini secara resmi diberkati dan ditahbiskan oleh Mgr. Walterus Jacobus Staal, Uskup Kehormatan Batavia. Gereja ini diletakkan di bawah perlindungan Santo Antonius dari Padua, yang merupakan santo pelindung keluarga Anthonijs.

Pembangunan gereja baru terjadi 16 (enam belas) tahun setelah kematian Anthonijs. Hal ini diduga karena struktur Gereja Katolik di Hindia Belanda saat itu sedang dalam masa pertumbuhan dan menghadapi krisis kekurangan pastor. Sehingga pembangunan gereja baru di Pasuruan tertunda cukup lama, harus menunggu giliran hingga ada kepastian administrasi dan ketersediaan rohaniwan.

Bagian dalam gereja katolik di Pasuruan.

Pembangunan Pastoran dan Pembentukan Paroki (1931-1932)

Pembangunan Pastoran (Oktober 1931)

Hampir 40 tahun setelah peresmian gereja, barulah dibangun pastoran (rumah dinas pastor) di samping gereja. Berdasarkan De Indische courant (3 Oktober 1931), pembangunan ini dipercayakan kepada biro arsitek Smits-Koper-Hoogerbeets dari Malang. De Indische courant (6 Oktober 1931) melaporkan bahwa setelah izin pembangunan keluar, bangunan pastoran ini dirancang secara arsitektural untuk membentuk satu kesatuan yang indah dengan gereja yang sudah ada.

Kabar gembira lainnya adalah bahwa dalam waktu tidak lama lagi, umat Katolik Pasuruan akan memiliki pastor sendiri, yang juga akan melaksanakan kebaktian di Bangil dan sekitarnya. Ini menunjukkan bahwa sebelumnya Pasuruan belum pernah memiliki pastor tetap.

Inspeksi dan Renovasi (Januari 1932)

Pada akhir Januari 1932, pembangunan pastoran hampir selesai. Soerabaijasch handelsblad (6 Januari 1932) melaporkan bahwa Prefek Apostolik Malang, Mgr. N. van der Pas, menginspeksi langsung kemajuan pembangunan tersebut. Hasilnya memuaskan—dalam waktu dekat Paroki Pasuruan akan dapat menyambut pastor pertamanya. Bersamaan dengan itu, diumumkan bahwa gereja akan menjalani renovasi menyeluruh (eene welne restauratie ondergaan) menyusul status barunya sebagai gereja paroki.

Pelantikan Pastor Pertama (Februari 1932)

Puncak dari seluruh proses ini adalah pelantikan Pastor J. W. Jongmans sebagai pastor tetap pertama Paroki Pasuruan. De Indische courant (2 Februari 1932) melaporkan upacara ini secara panjang lebar:

Suasana Gereja:

  • Sekitar pukul 08.30, gereja hampir seluruhnya terisi oleh penduduk dan mereka yang berkepentingan dari sekitar
  • Altar dihiasi dengan bunga secara melimpah (op kwistige wijze met bloemen versierd)
  • Banyak rangkaian bunga menjadi bukti ketertarikan para pemberi di hari yang bersejarah

Pejabat yang Hadir:

  • Residen Malang
  • Walikota Pasuruan dan Probolinggo
  • Asisten Residen Pasuruan
  • Beberapa perwira
  • Tuan Blijdensteyn dari Malang
  • Enam frater (bruder) dan Tuan Parren yang mengurus organ dan paduan suara

Khotbah:
Monseigneur Van der Pas membacakan keputusan penetapan Pastor Jongmans, kemudian memilih teks khotbah: “Akulah Gembala yang Baik” (Ik ben de goede Herder). Khotbah ini menekankan tugas berat yang mencakup banyak hal dari rohaniwan yang baru dilantik.

Upacara diakhiri dengan doa syukur, dan sebagian besar hadirin memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi pastoran yang baru selesai dan memberi selamat kepada pastor baru.

Gereja Katolik dan gedung pastoran yang baru di sebelah kanan.

Wilayah Paroki Pasuruan

Paroki Pasuruan secara resmi meliputi wilayah Kabupaten Pasuruan dan Bangil, dengan pengecualian wilayah Alkmaar (Purwosari) yang menjadi tanggung jawab pastor Lawang.

Para Pastor

Pastor J. W. Jongmans (1932-1934)

Pastor J. W. Jongmans adalah pastor tetap pertama Paroki Pasuruan. Sebelum bertugas di Pasuruan, ia tinggal di Pastoran Kajoetangan, Malang—tempat tugas pertamanya di Jawa. Ia adalah seorang imam kelahiran Leiden, Belanda. Selama masa tugasnya di Pasuruan, ia berhasil menempati pastoran yang baru dibangun sebagai imam pertama di sana.

Pada bulan Maret 1934, berdasarkan Bataviaasch nieuwsblad (15 Maret 1934), Pastor Jongmans dipindahkan ke Lawang untuk menggantikan Pastor H. J. A. Dillmann yang akan kembali ke Belanda.

Pastor J. W. Jongmans, pastor pertama di Pasuruan.

Pastor A. van der Linden, O. Carm. (1934-1936)

Pengganti Pastor Jongmans adalah Pastor A. van der Linden, O. Carm. , seorang imam dari Ordo Karmel. Ia sebelumnya bertugas di Jember selama 6,5 tahun dan di Malang (khusus merawat kepentingan rohani Katolik militer).

Pastor van der Linden ditahbiskan pada 14 Juni 1924 di Katedral Sint-Jan, ‘s Hertogenbosch oleh Mgr. Diepen. Ia masuk Ordo Karmel pada tahun 1917 di Boxmeer, dan menyelesaikan studi filsafat dan teologi di As, Belanda.

Pada bulan Desember 1936, Soerabaijasch handelsblad (11 Desember 1936) memberitakan perayaan 12,5 tahun imamat Pastor van der Linden yang diadakan di Gereja Heerenstraat, Pasuruan. Perayaan ini mencakup Misa Tinggi khidmat yang dilanjutkan dengan resepsi di ruang bicara para suster Onze Lieve Vrouw (Bunda Maria).

Pastor van der Linden bertugas di Pasuruan selama dua tahun (1934-1936) sebelum dipindahkan ke Probolinggo sebagai kepala pastor stasi setempat.

Pastor Gerardus Petrus van Velzen (1936-…)

Pada bulan Februari 1936, Soerabaijasch handelsblad (19 Februari 1936) melaporkan bahwa Pastor G.P. van Velzen dipindahkan dari paroki Malang, Gereja Hati Kudus, ke Pasuruan untuk menggantikan sementara Pastor van der Linden yang sedang cuti ke luar negeri.

Berdasarkan Keputusan Gubernur yang diumumkan dalam De Indische courant (6 Oktober 1937), Pastor van Velzen secara resmi diangkat sebagai pastor Pasuruan dengan gelar tersebut, berlaku mulai 15 September 1937.

Pada bulan Februari 1939, De Indische courant (11 Februari 1939) melaporkan bahwa Pastor van Velzen dipindahkan dari Jember (tempat tugas sementara) kembali ke Pasuruan.

Pada tahun 1947, seperti dilaporkan dalam De Maasbode (6 Agustus 1947) dan Soerabaijasch handelsblad (26 Juli 1947), Pastor van Velzen mengunjungi Pasuruan— Ia tergabung dalam rombongan kecil yang berani menempuh perjalanan darat dari Porrong ke Pasuruan tanpa pengawalan militer.

Dalam laporan tersebut, dinyatakan dengan gamblang:

“Gereja Katolik dan pastoran berada dalam kondisi baik, dan Pastor Van Velzen, yang telah bekerja di sini selama bertahun-tahun sebelum perang, tentu sangat gembira karenanya.”

Tabel Ringkasan Para Pastor

NamaMasa TugasKeterangan
Pastor J.M.V. Jongmans1932-1934Pastor tetap pertama Paroki Pasuruan. Dilantik oleh Mgr. Van der Pas.
Pastor A. van der Linden (O. Carm.)1934-1936Berasal dari Ordo Karmel. Bertugas di Pasuruan selama 2 tahun.
Pastor G.P. van Velzen1936-… (minimal hingga 1947)Menggantikan van der Linden (1936), resmi sebagai pastor Pasuruan (1937), masih bertugas saat Agresi Militer Belanda I (1947).

Keadaan Gereja Selama Masa Revolusi (1947)

Pada bulan Juli 1947, saat Agresi Militer Belanda I sedang berlangsung, koresponden surat kabar Belanda melaporkan kondisi Pasuruan setelah diduduki oleh tentara Belanda.

Kondisi Fisik Gereja

Menurut laporan dalam De Maasbode (6 Agustus 1947) dan Soerabaijasch handelsblad (26 Juli 1947):

  • Gereja Katolik dan pastoran berada dalam kondisi baik
  • Beberapa bangunan lain di Pasuruan mengalami kerusakan parah, termasuk:
  • Biara Suster H. Joseph di sisi selatan kota — hancur
  • Bangunan sekolah — rusak ringan
  • Pabrik gula “De Bromo” — hampir seluruhnya dipreteli
  • Pabrik Kedawung — tidak rusak (keberuntungan bagi pemiliknya)

Pastor Van Velzen pada Masa Revolusi

Pastor Van Velzen, yang telah bekerja di Pasuruan selama bertahun-tahun sebelum perang, berkunjung ke Pasuruan pada saat pendudukan Belanda Juli 1947. Ia tergabung dalam rombongan kecil yang berani menempuh perjalanan darat dari Porrong ke Pasuruan tanpa pengawalan militer—sebuah perjalanan yang tidak mungkin dilakukan hanya beberapa hari sebelumnya karena medan pertempuran.

Hubungan dengan Penduduk

Laporan tersebut juga mencatat bahwa hubungan antara pasukan Belanda dan penduduk setempat cukup baik. Bahkan, di Bangil—yang merupakan pusat pemukiman Arab—dilaporkan bahwa marinir Belanda bermain sepak bola melawan tim Arab setempat dalam sebuah pertandingan ulangan (revanche) dari pertandingan sebelumnya yang dimenangkan Belanda dengan skor 3-2.

Kesimpulan

Berdasarkan sumber-sumber koran lama yang diterjemahkan (periode 1879-1947), riwayat Gereja Katolik Santo Antonius Padua Pasuruan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Asal usul gereja tidak terlepas dari sumbangan Alexander Manuel Anthonijs, pengusaha gula Pengkol, yang menyisihkan f 15.000 dalam wasiatnya untuk pembangunan gereja (1879). Gereja diresmikan pada 1895.
  2. Selama 37 tahun pertama (1895-1932) , gereja ini tidak memiliki pastor tetap. Pelayanan kemungkinan dilakukan oleh pastor dari Malang atau Surabaya.
  3. Pastoran dibangun pada 1931-1932 oleh biro arsitek Smits-Koper-Hoogerbeets, dirancang menyatu dengan gereja yang sudah ada.
  4. Paroki Pasuruan secara resmi dibentuk pada awal 1932, meliputi wilayah Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Bangil, kecuali Alkmaar (Purwosari).
  5. Pastor J. W. Jongmans adalah pastor tetap pertama Paroki Pasuruan, dilantik secara khidmat oleh Mgr. Van der Pas dengan khotbah “Akulah Gembala yang Baik(Februari 1932).
  6. Pastor A. van der Linden, O. Carm. menggantikan Jongmans (1934) dan bertugas selama dua tahun.
  7. Pastor G.P. van Velzen menggantikan van der Linden (1936), resmi diangkat sebagai Pastor Pasuruan (1937), dan masih bertugas hingga masa revolusi (1947), ketika gereja dan pastoran dilaporkan dalam kondisi baik dan selamat dari kerusakan akibat Agresi Militer Belanda I.

Dengan demikian, sumbangan Anthonijs pada tahun 1879, akhirnya membuahkan struktur kelembagaan yang lengkap 53 tahun kemudian (1932), Gereja ini tetap berdiri serta berfungsi dengan baik hingga sekarang.

Sumber : Berdasarkan terjemahan berbagai artikel surat kabar dalam era yang sama.

Postingan Terkait :

Crazy Rich Pasuruan “Alexander Manuel Anthonijs” dan Warisannya Yang Abadi