Komunitas Katolik pribumi (Inlandsche katholieken) khususnya Jawa di Malang, masih menghadapi masalah besar dalam kehidupan beribadah mereka. Gereja besar di Kajoetangan, yang merupakan pusat kegiatan umat Katolik di Malang saat itu, hanya menyelenggarakan kebaktian dalam bahasa Belanda.

Bagi umat pribumi yang tidak menguasai bahasa Belanda, mengikuti misa menjadi sangat sulit—mereka tidak dapat memahami liturgi yang berlangsung. Situasi ini mendorong perlunya sebuah gereja khusus yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar ibadah. Sebagai solusi, dibangunlah sebuah gereja baru di Smeroestraat (Jalan Semeru), Malang. Gereja ini secara khusus diperuntukkan bagi umat Katolik pribumi dari etnis Jawa.

Pembangunan Gereja (1928-1929)

Pembangunan gereja di Smeroestraat berlangsung di bawah pengawasan arsitek Dumoulin. Selama masa konstruksi, pekerjaan berjalan dengan baik dan cepat. Menjelang akhir Februari 1929, gereja dilaporkan “mendekati penyelesaiannya”. Gereja ini dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari gereja-gereja Eropa pada umumnya. Beberapa ciri khasnya:

AspekKeterangan
KapasitasCukup untuk 250-300 orang
Tempat dudukTidak dilengkapi bangku-bangku
LokasiJalan Smeroestraat, Malang

Tidak adanya bangku-bangku di gereja ini kemungkinan besar merupakan penyesuaian dengan kebiasaan budaya Jawa, yang biasa duduk di lantai (lesehan). Berbeda dengan gereja untuk umat Eropa yang umumnya dilengkapi bangku.

Salah satu keistimewaan gereja ini terletak pada interiornya. Area paduan suara (koor) gereja—tempat para imam dan petugas liturgi bermalamar—memberikan kesan yang luar biasa indah. Latar belakang, dinding samping area paduan suara, dan altar itu sendiri seluruhnya terbuat dari ukiran kayu Jawa asli. Hiasan-hiasan indah di sekitarnya menjadikan semuanya satu kesatuan yang cemerlang.

Peresmian Gereja (10 Maret 1929)

Pada hari Minggu, 10 Maret 1929, pukul 08.00 pagi, dilangsungkan pemberkatan khidmat (plechtige inzegening) gereja baru tersebut. Upacara ini dipimpin oleh Monseigneur Van der Pas, Prefek Apostolik Malang, didampingi oleh para pastor Stutiens dan Blom. Hampir semua umat Katolik pribumi di Malang berkumpul di dalam gedung untuk menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Dari Tumpang dan Balearjosari datang jamaah katolik Jawa dalam jumlah besar.

Prosesi peresmian Gereja Katolik Jawa di Smeroestraat Malang tahun 1929.
kartupos lama bergambar Gereja Katolik Jawa di Smeroestraat Malang.

Hari itu disebut hari yang sangat membahagiakan bagi Mgr. Van der Pas. Secara bertahap, gereja-gereja kecil dan sekolah-sekolah untuk masyarakat Jawa juga didirikan di berbagai desa. Misalnya di Balearjosari, di sekitar perusahaan besar yang dikelola oleh temannya, Tuan Blijdenstein, di Kabupaten Malang. Selanjutnya, di Sukorena dekat Jember; dan di Glagah-Agung di sekitar Banyuewangi.

Kemudian, Monseigneur berbicara kepada umat Jawa dalam bahasa mereka sendiri, untuk mendorong mereka agar menggunakan berkat ini (gereja sendiri untuk bangsa mereka sendiri) dengan penuh syukur.

Suasana peresmian gereja katolik Jawa di Smeroestraat Malang 1929.

Kehadiran Pastor Satiman

Momen istimewa dalam peresmian ini adalah kehadiran Pastor Satiman (Franciscus Xaverius Satiman), yang datang khusus dari Muntilan untuk acara tersebut. Pastor Satiman memiliki arti penting yang luar biasa: ia adalah satu-satunya pastor pribumi di Hindia Belanda pada tahun 1929.

F. X. Satiman adalah lulusan Kweekschool Muntilan dan merupakan salah satu dari dua seminaris pertama di Pulau Jawa Ia ditahbiskan menjadi imam pada 15 Agustus 1926 di Maastricht, Belanda, menjadikannya imam Yesuit pribumi Indonesia pertama. Dalam upacara peresmian, Pastor Satiman menyampaikan pidato perayaan (feestrede) yang disambut dengan penuh perhatian oleh jemaat yang hadir. Merupakan suatu kepuasan tersendiri mendengarkan imam ini, yang berbicara begitu bersemangat dan penuh wibawa dan membangkitkan rasa syukur mereka kepada Tuhan, 

Pastor F. X. Satiman (sebelah kiri) dan R. M. Petrus Darmasepoetra (kanan)
Vooraanzicht van een Rooms Katholieke kerk te Malang op Java, Indonesië. 1930. Koleksi Fraters van Utrecht

Pesta dan Perayaan

Pertemuan di Asrama Jawa

Setelah rangkaian upacara gerejawi selesai, semua yang hadir diundang untuk pergi ke Asrama Jawa (Javaansch Internaat) , di mana diadakan pertemuan santai. Beberapa guru Jawa menyampaikan pidato:

  • Kepada Monseigneur, yang hidup dan peduli sebagai seorang Ayah bagi mereka
  • Kepada Tuan Dumoulin, yang tidak menyia-nyiakan tenaga maupun biaya untuk membuat gereja sekecil mungkin seindah mungkin
  • Kepada semua donatur dan dermawan
  • Dan terutama kepada Pastor Satiman, yang dengan kehadirannya berkenan menghormati pesta ini dan telah sangat menguatkan serta membangkitkan semangat mereka melalui sabda imamatnya

Pesta ini ditutup dengan musik, tarian, dan makan bersama untuk umat Jawa.

Asrama untuk para pemuda Jawa (sekarang komplek SDK Mardi Wiyata 2 Malang)

Retret Malam Hari

Malam hari yang sama, sebuah Retret (Latihan Rohani) dibuka di gereja untuk umat Jawa. Sayangnya, hanya sedikit yang mendaftar untuk latihan rohani yang bermanfaat ini. Namun demikian, semoga retret ini dapat berkontribusi pada pengetahuan dan penghayatan iman yang lebih dalam bagi para peserta, dan menarik berkat Tuhan atas Misi Jawa Timur yang sedang berkembang pesat.

Besoknya pada hari Senin: Pastor Satiman mengunjungi umat Katolik Jawa di Baleardjosari. Hari Selasa, ia mengunjungi umat Katolik dan sejumlah besar katekumen (calon baptis) di Toempang. Kunjungan ini menunjukkan peran Pastor Satiman tidak hanya sebagai simbol, tetapi sebagai gembala aktif yang membina komunitas Katolik Jawa di berbagai daerah sekitar Malang.

Pastor Satiman mengunjungi Tumpang tahun 1929.

Pendirian gereja di Smeroestraat ini menandai sebuah babak baru dalam inkulturasi Gereja Katolik di Hindia Belanda:

  1. Penggunaan bahasa lokal: Untuk pertama kalinya, misa di Malang dapat diikuti sepenuhnya oleh umat pribumi dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Belanda.
  2. Penyesuaian budaya: Tidak digunakannya bangku gereja (sesuai kebiasaan duduk di lantai) menunjukkan penghormatan terhadap budaya lokal.
  3. Pengakuan terhadap imam pribumi: Kehadiran Pastor Satiman sebagai pemimpin ibadah dan pemberi pidato menunjukkan bahwa pribumi mulai mengambil peran penting dalam hierarki gereja Katolik.
  4. Upacara keagamaan tidak selalu tergantung dengan Pastor Eropa, bisa dilakukan oleh Pastor Jawa sendiri.

Komunitas Katolik pribumi yang berjumlah sekitar 150 orang pada saat itu sangat bahagia memiliki gereja sendiri. Kini telah tersedia tempat di mana mereka dapat merayakan iman mereka dalam bahasa dan budaya mereka sendiri .

Sumber

  1. Soerabaijasch handelsblad, 22 Februari 1929
  2. De locomotief, 15 Maret 1929
  3. De koerier, 14 Februari 1929
  4. Wikipedia bahasa Indonesia, “Franciscus Xaverius Satiman dan Petrus Darmasepoetra”

Catatan Tambahan :

  • Menurut peta bertahun sekitar 1935, Gereja Katolik Jawa yang dimaksud adalah gereja yang sekarang digunakan oleh GKKK (Gereja Kristen Kalam Kudus), Jalan Semeru No. 30 Malang.
  • Asrama untuk para pemuda Jawa sekarang adalah komplek SDK Mardi Wiyata 2, Jalan Semeru No. 36 Malang.
  • Sejauh penelusuran penulis, belum ditemukan publikasi yang secara khusus membahas sejarah Gereja Katolik Jawa di Smeroestraat (Jalan Semeru) Malang. Kajian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut melalui penelusuran arsip kolonial dan sumber sezaman.”
No. 5 (dilingkari) adalah lokasi Gereja Katolik Jawa, No. 3 (dilingkari) adalah R.K.H.I.S. dan Asrama. Peta sekitar tahun 1935.
Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK) Jalan Semeru No. 30 Malang, yang menempati lahan eks Gereja Katolik Jawa.

Postingan Terkait :

Riwayat Gereja Katolik Santo Antonius Padua Pasuruan

Awal Mula Berdirinya Sekolah Frateran St. Jozefhuis di Malang (Celaket 21)