(Sejarah Pendidikan Malang Bagian III)

Gemeentelijk Ambachtsschool (Sekolah Pertukangan) Malang adalah lembaga pendidikan kejuruan pertama yang didirikan oleh Pemerintah Kotapraja Malang. Berawal dari sebuah gagasan pada tahun 1920, sekolah ini baru terwujud pada tahun 1929 dan terus berkembang hingga menjelang Perang Dunia II. Berdasarkan artikel-artikel surat kabar sezaman, artikel ini merekonstruksi perjalanan panjang sekolah tersebut.

Gagasan Awal (1920-1927)

Kebutuhan akan sekolah pertukangan di Malang sudah lama terasa. Pada tahun 1920, Perkumpulan Pertanian Malang (Malangsche Landbouwvereeniging) menjadi salah satu pihak yang paling gencar memperjuangkan pendirian sekolah pertukangan. Namun, selama bertahun-tahun, rencana tersebut tidak kunjung terealisasi. Salah satu kendala utama adalah anggapan bahwa pendirian sekolah pertukangan adalah wewenang pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah.

Pada tahun 1927, titik balik terjadi. Dalam pembahasan anggaran tahun 1928, seorang anggota Dewan Kota Malang, Tuan G. J. Zuyderhoff, mengusulkan secara resmi untuk mengalokasikan dana bagi pendirian sekolah pertukangan kotapraja. Usul ini disambut baik oleh dewan kota. Sebuah komite persiapan dibentuk dan kerja sama erat terjalin dengan Walikota Malang saat itu, Tuan Bussemaker.

Pembangunan Fisik (1928-1929)

Lokasi sekolah dipilih di kawasan kota baru, tepatnya di Jalan Java (Javastraat). Pembangunan gedung depan (frontgebouw) yang terdiri dari kantor direktur, ruang pelajaran, ruang gambar, gudang, dan tempat penyimpanan peralatan, diselesaikan terlebih dahulu. Proyek ini dikerjakan oleh arsitek Tuan Zernicke, dengan kontraktor pelaksana Tuan L. Koot yang juga menjabat sebagai kepala bengkel kerja kotapraja.

Setelah disetujuinya pembangunan bengkel kayu, kompleks sekolah pun semakin lengkap. Total biaya pembangunan seluruh kompleks mencapai ƒ 40.000 dengan rincian:

  • Gedung utama dan bengkel besi: ƒ 26.500
  • Bengkel kayu: ƒ 13.500

Pendaftaran dan Awal Kursus (Mei-Juli 1929)

Pada bulan Mei 1929, Walikota Malang mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk kursus dua tahun dalam pengolahan kayu dan besi. Pendaftaran dibuka dari tanggal 24 Mei hingga 15 Juni 1929 di gedung sekolah di Jalan Java. Persyaratannya adalah telah menyelesaikan sekolah pribumi kelas 2 atau sekolah dasar Eropa kelas 3, dengan usia 14 hingga 18 tahun.

Untuk siswa Eropa, batas pendaftaran ditetapkan lebih awal yaitu tanggal 31 Mei 1929, karena jika partisipasi cukup, sebuah kelas khusus Eropa dengan bahasa Belanda sebagai pengantar dapat dibentuk.

Meskipun awalnya hanya diperkirakan 80-90 pendaftar, ternyata tercatat 115 pendaftar. Dari jumlah tersebut, 107 siswa memulai kursus pada tanggal 1 Juli 1929, dengan rincian:

  • 82 siswa di bagian pengolahan besi (19 di antaranya siswa Eropa)
  • 25 siswa di bagian pengolahan kayu

Peresmian (8 Juli 1929)

Pada hari Senin, 8 Juli 1929 pukul setengah sepuluh pagi, berlangsung upacara pembukaan resmi (officiele opening) Sekolah Pertukangan Kotapraja Malang di ruang gambar gedung tersebut. Hadir dalam upacara tersebut: Residen Kool, Walikota Ir. Voorneman, Letnan Kolonel Van Steyn van Hensbroek (komandan militer setempat), Bupati Malang, para inspektur Pendidikan (Tuan Dalmijn dan Tuan Jansen), beberapa anggota dewan kota, kepala operasi Malang Stoomtram Maatschappij Tuan M. Wins, serta beberapa perwakilan industri dan perkebunan.

Dalam sambutannya, Walikota Voorneman menyampaikan penghargaan kepada Tuan G. J. Zuyderhoff sebagai penggagas, kepada mantan Walikota Bussemaker, serta kepada anggota komite persiapan.

Setelah sambutan walikota, Bupati Malang menyampaikan sambutan dalam bahasa Jawa kepada siswa pribumi, dilanjutkan oleh anggota dewan kota Tuan Kho Sin Tjo, dan terakhir Tuan Van Oosterveldt yang mengucapkan terima kasih kepada Direktur Pekerjaan Umum Kotapraja Ir. Van Lookeren dan Sekretaris Kotapraja Nona Brandon.

Penampakan bagian depan bangunan Ambachtsschol di jalan Jawa.

Kurikulum Awal

Ambachtsschool Malang menyelenggarakan kursus dua tahun. Berdasarkan laporan bulan Juni 1929, rencana pembelajaran untuk pengolahan besi per minggu adalah:

  • 18 jam kerja bengkel
  • 9 jam menempa
  • 4 jam menggambar garis (line drawing)
  • 2 jam menggambar tangan (hand drawing)
  • 3 jam berhitung dan geometri

Untuk bagian pengolahan kayu, fokus utama adalah pertukangan kayu dan pembuatan furnitur sederhana.

Personel Pengajar Awal

Pada tahun ajaran pertama, personel sekolah terdiri dari:

  • 1 Kepala Sekolah/Direktur (Tuan A. Oosterveld)
  • 1 guru kejuruan Eropa
  • 3 guru kejuruan pribumi (Pandoe lulusan Kebumen, Soepyoen dan Soerwodirdjo lulusan Surabaya)
  • Tuan Van Dijk (guru kelas berbahasa Belanda, sebelumnya pengawas di penjara Surabaya)

Untuk kelas Belanda, terdapat 34 siswa dengan komposisi: 19 Eropa, 8 Tionghoa, 5 Pribumi, dan 2 Ambon. Tiga kelas Pribumi terdiri dari dua kelas masing-masing 24 siswa (termasuk empat siswa Tionghoa) dan satu kelas 25 siswa khusus untuk kursus kayu. Total seluruhnya 107 siswa.

Perluasan Fasilitas (1930)

Pada bulan Maret 1930, perluasan sekolah berjalan pesat. Tiga bengkel sudah berdiri di bawah atap, sementara pondasi bengkel keempat telah selesai. Di keempat bangunan ini akan ditempatkan:

  • Satu bagian pengolahan besi untuk siswa Eropa
  • Satu bengkel tempa (pandai besi)
  • Dua bagian pengolahan kayu
Suasana di dalam kelas.
Suasana di dalam kelas.

Biaya perlengkapan yang dianggarkan:

  • Bengkel kerja bangku mekanik: ƒ 10.000 (dipasang secara elektrik dengan mesin perkakas modern)
  • Perlengkapan bengkel pertukangan kayu: ƒ 3.000
  • Penataan bengkel pengolahan besi untuk siswa Eropa: ƒ 2.000
  • Bengkel tempa modern: ƒ 3.000
  • Ruang gambar kedua: ƒ 1.500
  • Perluasan bengkel tempa dengan dua tungku tempa ganda: ƒ 500

Peralatan seperti kap-kap asap besi, cerobong asap, dan peralatan tempa dibuat oleh para siswa sendiri di bawah bimbingan kepala sekolah dan guru-guru kejuruan.

Untuk tahun berikutnya, akan ditambahkan 4 guru kejuruan pribumi yang sedang dalam pelatihan di Semarang, Surabaya, dan Malang.

Pasokan Listrik

Hingga akhir 1930, energi listrik untuk bengkel-bengkel tahun itu akan dipasok oleh “ANIEM” (perusahaan listrik). Namun untuk tahun berikutnya, akan dipasang sebuah motor sekitar 30 PK untuk menggerakkan mesin-mesin di bengkel kerja mekanik.

Kelulusan Pertama dan Tantangan (1931)

Pada bulan Mei 1931, setelah menyelesaikan program dua tahun, Ambachtsschool Malang meluluskan angkatan pertamanya. Dari 110 siswa yang memulai kursus pada Juli 1929, hanya 45 yang lulus (sekitar 41%). Rincian lulusan:

  • 32 siswa pengolahan logam
  • 13 siswa pengolahan kayu

Tingginya angka putus sekolah (34% pada tahun pertama) disebabkan oleh berbagai faktor: pandangan orang tua yang “aneh” tentang sekolah, faktor ekonomi (harus membantu orang tua di ladang), sakit parah, mutasi ayah yang sering terjadi di kalangan pegawai kolonial, serta kematian tulang punggung keluarga.

Meskipun demikian, pihak sekolah menganggap tingkat kelulusan 41% sebagai hasil yang baik mengingat kondisi yang ada.

Puncak Keberhasilan di Bawah Oosterveld (1932)

Pada bulan Juni 1932, dilaporkan bahwa tahun ajaran ketiga (1931-1932) telah berakhir dengan hasil yang gemilang. Sekolah memulai dengan 255 siswa. Kelas akhir diikuti 78 siswa, dengan 59 lulusan (75,6% dari kelas akhir). Rincian lulusan:

  • 16 siswa berbahasa Belanda pengolahan besi
  • 26 siswa pribumi pengolahan besi
  • 17 siswa pribumi pengolahan kayu

Fasilitas sekolah juga semakin lengkap dengan tambahan beberapa bengkel yang sangat baik serta sebuah showroom di bagian depan sekolah untuk memamerkan benda-benda terindah buatan siswa.

Kepala sekolah Tuan A. Oosterveld mencatat bahwa kualitas pekerjaan siswa tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, karena tahun ini siswa dapat mengikuti pelajaran selama seluruh durasi kursus, sedangkan tahun-tahun sebelumnya sebagian waktu harus dihabiskan untuk membantu penataan sekolah.

Kepergian Oosterveld dan Pergantian Kepemimpinan (1932-1938)

Pada bulan September 1932, Tuan A. Oosterveld, yang telah bertugas selama tiga tahun sebagai direktur, meninggalkan Malang menuju Belanda setelah pensiun. Selama 25 tahun masa dinasnya di Hindia, ia telah mengajar ribuan siswa dan meluluskan mereka sebagai pekerja terampil.

Penggantinya adal Tuan Sarels van Rijn, eks Kepala Sekolah Ambachtsschool Padang. Namun pada bulan November 1933, Tuan Sareis van Rijn mengajukan pengunduran diri karena alasan kesehatan, meskipun baru memiliki 10 tahun masa kerja untuk pensiun.

Pada bulan Januari 1934, secara resmi diumumkan bahwa Tuan J. Burgerhout, sebelumnya kepala kursus pertukangan umum di Tasikmalaya, ditugaskan mulai 28 Maret 1934 untuk memimpin ambachtsschool Malang. Di tahun 1938 beliau kemudian dipindahkan ke Semarang. Penggantinya adalah Tuan G. A. Sandt, dari Ambachtsschool Batavia, yang diduga memimpin sejak itu hingga kedatangan Jepang.

Perubahan Persepsi Masyarakat (1932-1935)

Fenomena menarik terjadi dalam kurun waktu ini. Pada bulan Juni 1932, surat kabar De Indische Courant melaporkan bahwa tiga tahun sebelumnya (saat pendirian), diperlukan usaha keras untuk mengumpulkan cukup siswa Eropa. Namun kini, justru menjadi masalah bagaimana menampung sekitar 100 kandidat siswa berbahasa Belanda yang mendaftar.

Pada bulan Maret 1935, dari 253 siswa yang terdaftar, 133 orang (lebih dari separuh) adalah siswa berbahasa Belanda. Surat kabar tersebut mengomentari:

“Zaman yang tidak menguntungan (resesi) tampaknya telah mengajarkan kepada pemuda Hindia bahwa dengan pekerjaan tangan (ketrampilan) dalam banyak kasus ia dapat mencari nafkah lebih baik daripada dengan duduk di kursi kantor!”

Kenaikan Uang Sekolah (1933)

Pada bulan Mei 1933, di tengah krisis ekonomi, pemerintah kota terpaksa menaikkan uang sekolah. Tarif lama: ƒ 0,50 per siswa per bulan. Tarif baru bersifat progresif berdasarkan pajak tahunan orang tua:

  • Pajak tahunan sampai dengan ƒ 7,50: ƒ 0,75 per siswa per bulan
  • Setiap kenaikan ƒ 2,50 pajak tahunan: tambahan ƒ 0,25 per siswa per bulan
  • Maksimum tarif: ƒ 2,50 per siswa per bulan

Penambahan Kursus Montir Listrik (1935)

Pada bulan Maret 1935, pemerintah kotapraja memutuskan untuk menambahkan kursus pendidikan montir listrik (electro-monteurs). Persiapan pembukaan kursus ini hampir seluruhnya dikerjakan oleh siswa kelas tertinggi, baik dari bagian logam maupun kayu.

Antusiasme sangat besar: kursus yang hanya direncanakan untuk 18-20 siswa menerima 39 pendaftar (dua kali lipat), dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat menjelang pembukaan pada bulan Agustus 1935.

Tanggapan atas Kritik “Sekolah Tukang Desa” (1935)

Pada bulan Februari 1935, Kepala Sekolah J. Burgerhout menanggapi pendapat yang mengatakan bahwa sekolah ini mendidik untuk menjadi “tukang desa”. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan masyarakat desa tidak lebih dari pacul, perlengkapan kuda (tapal), dan alat pertanian sederhana lainnya.

Ia menegaskan, bahwa tidak pernah menjadi maksud sekolah untuk memulai pelatihan mahal hanya untuk membuat barang-barang tersebut. Sebagian besar siswa dididik untuk perusahaan-perusahaan industri. Siswa bagian pengolahan logam pada tahun kedua menerima pelajaran dalam pekerjaan mesin (machinalen arbeid) dan diajarkan bekerja dengan mesin-mesin perkakas modern.

Ia menyatakan bahwa kondisi zaman tidak mendukung penempatan lulusan secara umum, sehingga motifnya adalah memperluas pendidikan kejuruan agar anak-anak diperlengkapi sebaik mungkin untuk perjuangan mempertahankan hidup: lebih mampu dan makin terampil berarti lebih besar kemungkinan penempatan kerja.

Menjelang Perang Dunia II – Latihan Perlindungan Udara (1939)

Pada bulan Juni 1939, dengan situasi politik dunia yang semakin memanas menjelang Perang Dunia II, Ambachtsschool Malang mengadakan latihan perlindungan udara untuk 350 siswa.

Sekitar pukul 9 pagi, sinyal alarm listrik berbunyi di semua ruang pelajaran dan ruang kerja. Semua siswa segera meninggalkan kompleks bangunan melalui pintu-pintu darurat yang baru dibuat menuju tempat-tempat perlindungan. Semua siswa berada di tempat dalam waktu 30 detik.

Dalam simulasi, diasumsikan sekolah terkena beberapa bom pembakar dan terjadi kebakaran di gudang kayu serta tumpukan kayu di samping bangunan. Regu siswa berhasil memadamkan api dengan dua semburan air, dibantu regu bantu pemadam kebakaran yang juga terdiri dari siswa.

Dua orang “luka-luka” mendapat pertolongan pertama dari regu P3K sekolah, kemudian diusung dengan tandu ke jalan umum untuk diangkut mobil dinas penyelamat.

Selanjutnya didemonstrasikan penanganan bom pembakar:

  • Kebakaran pelat-pelat besi
  • Ketidakmungkinan memadamkan bom pembakar dengan air
  • Cara menetralisir bom pembakar menggunakan pasir kering

Peralatan seperti galah pemadam dan sekop bergagang panjang yang digunakan dibuat sendiri oleh siswa Ambachtsschool. Latihan ini dianggap berhasil dengan sempurna.

Penutup

Ambachtsschool Malang memulai perjalanannya dari sebuah gagasan pada tahun 1920 yang baru terwujud pada tahun 1929. Selama satu dekade berikutnya, sekolah ini tumbuh dari 110 siswa menjadi 350 siswa pada tahun 1939 — peningkatan lebih dari tiga kali lipat.

Sekolah ini berhasil mengubah persepsi masyarakat bahwa pekerjaan tangan bisa menyamai dan lebih menguntungkan daripada pekerjaan kantoran. Terbukti dengan lonjakan siswa berbahasa Belanda dari 33 orang (1929) menjadi 133 orang (1935), suatu perubahan dramatis yang dipicu oleh Depresi Besar awal 1930-an.

Dengan kurikulum yang padat praktik (75% dari total jam pelajaran), metode pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pembuatan fasilitas sekolah sendiri, serta penambahan kursus-kursus baru seperti montir listrik, Ambachtsschool Malang menjadi cikal bakal pendidikan kejuruan di Malang.

Menjelang Perang Dunia II pada tahun 1939, sekolah ini telah menjadi lembaga pendidikan yang tangguh, terbukti dengan kemampuannya menggelar latihan perlindungan udara untuk 350 siswa dengan peralatan yang dibuat sendiri oleh para siswa — sebuah bukti bahwa pendidikan vokasi tidak hanya membekali keterampilan kerja, tetapi juga kemandirian dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.

Catatan Tambahan :

  • Gemeentelijk Ambachstschool di Malang setidaknya beroperasi hingga kedatangan Jepang pada 1942. Gedungnya pernah dipakai sementara oleh Sekolah Dasar Katolik Roma Belanda China (R.K.H.C.S.) “Sancta Maria” hingga akhirnya juga ditutup oleh Jepang.
  • Jalan Jawa (Javastraat) di kota Malang sekarang telah berubah menjadi Jalan Nusakambangan.
  • Bekas Ambachtsshool sekarang menjadi SMKN IV Kota Malang.
  • Setelah kemerdekaan, kuat dugaan telah dilakukan renovasi dan pemindahan kantor dan pintu gerbang masuk utama disisi utara (jalan Jawa), dipindah ke sisi selatan di Jalan Tanimbar (dulu disebut De Ridder Weg).
Lokasi Ambachtsschol (No. 1) di jalan Jawa pada peta lama Kota Malang. 

Postingan Terkait :

SDN Kidul Dalem I, Lembaga Pendidikan Resmi Tertua di Kota Malang? (Sejarah Pendidikan Malang Bagian I)

Sejarah HBS-AMS Malang, kini SMA Tugu Malang (Sejarah Pendidikan Malang Bagian II)