Di Jalan Hasanudin (dahulu Jalan Sangar), Kelurahan Karanganyar, Kota Pasuruan, tepat di seberang Rumah Singa yang ikonik, berdiri sebuah komplek bangunan tua yang menyimpan perjalanan sejarah lebih dari satu abad. Bangunan ini adalah kediaman pribadi Han Hoo Tong, salah satu dari “Trio Raja Gula” Pasuruan.
Sepanjang sejarahnya, bangunan ini dikenal dengan beberapa nama. “Rumah Sangar” adalah nama asli yang digunakan dalam keluarga Han. “Rumah Hoo Tong” adalah sebutan populer di kalangan masyarakat awam Pasuruan tempo dulu. Sementara “Gedung Pancasila” adalah nama yang digunakan sejak sekitar tahun 1970-an, seiring dengan berdirinya Yayasan Pancasila yang mengelola gedung ini sebagai lembaga pendidikan.
Han Hoo Tong – Sang Raja Gula Pendiri THHK
Han Hoo Tong lahir pada tahun 1860 sebagai putra bungsu dari Han Sam Khwee (1830-1877) dan Tan Tian Nio (1830-1902). Ia adalah cucu dari Han Swie Hien (1795-1860), pemilik pabrik gula Sari Redjo sekaligus manajer pabrik gula Kawis Redjo milik keluarga Kwee. Keluarga Han berasal dari desa leluhur Tian Bao (天寶) di provinsi Fujian, China selatan, dan telah menetap di Nusantara sejak abad ke-18.
Han Hoo Tong memiliki dua orang saudara laki-laki yang juga sangat berpengaruh di Pasuruan. Kakak sulungnya, Han Hoo Tjoan (1852-1899), menjabat sebagai Kapitein der Chinezen Pasuruan dari tahun 1881 hingga 1886. Kakak keduanya, Han Hoo Lam (1854-1904), juga terlibat dalam bisnis keluarga. Ketiganya dikenal dalam literatur sejarah sebagai “Trio Raja Gula” Pasuruan, yang menguasai industri gula pada akhir abad ke-19.
Han Hoo Tong menikah dua kali. Istri pertamanya, Tan Khai Nio, meninggal pada tahun 1893. Ia kemudian menikah lagi dengan Ong Ik Nio (1868-1933). Dari kedua pernikahan ini, ia dikaruniai beberapa orang anak, termasuk Han Tiauw Tjhiang (1881-1939) yang terkenal sebagai “Crazy Rich Pasuruan” dengan kuda pacu senilai f 12.000 per ekor.


Peran sebagai Ketua THHK
Yang membedakan Han Hoo Tong dari sekadar konglomerat biasa adalah visinya tentang pendidikan. Pada masa kolonial, akses pendidikan bagi anak-anak keturunan Tionghoa sangat terbatas – mereka tidak dapat bersekolah di lembaga Belanda yang diperuntukkan bagi warga Eropa.
Situasi ini semakin mendapat perhatian setelah kunjungan Kang You Wei, tokoh reformis asal Tiongkok, ke Pasuruan pada tahun 1903. Ia menyerukan kepada para perantau Tionghoa untuk belajar kebudayaan leluhur dan membangun sekolah modern bagi anak-anak mereka.
Pada tanggal 3 Mei 1904, para tokoh masyarakat Tionghoa di Pasuruan mendirikan Tiong Hwa Hwee Koan (THHK). Dalam rapat pembentukan kepengurusan, Han Hoo Tong diangkat sebagai ketua pertama. Jabatan ketua ini dipegangnya selama 15 tahun berturut-turut, dari tahun 1904 hingga 1918 (periode ke-1 hingga ke-5). Dalam struktur kepengurusan, ia dibantu oleh Liem Bong Lien sebagai wakil ketua, yang saat itu juga menjabat sebagai Luitenant der Chinezen (Letnan Tionghoa) di Pasuruan. THHK bertujuan menyediakan pendidikan gratis bagi semua anak keturunan Tionghoa dari berbagai lapisan sosial ekonomi.
Penyedia Gedung untuk Sekolah
Karena belum memiliki gedung sendiri, Han Hoo Tong meminjamkan rumah tinggalnya secara gratis (cuma-cuma) untuk dijadikan ruang kelas sementara. Rumahnya yang terletak di Jl. Hasanudin (dahulu Jalan Sangar, seberang Rumah Singa) inilah yang kini dikenal sebagai Gedung Pancasila.
Setelah jumlah murid terus meningkat (hanya dalam satu tahun sudah mencapai lebih dari seratus anak), Han Hoo Tong kembali meminjamkan gedungnya yang lebih besar di Djalan Raya 26 (kini Jl. Soekarno-Hatta) untuk menampung lebih banyak siswa. Kedermawanannya ini disebut dalam dokumen THHK sebagai tindakan yang “bukan saja tidak kokati tapi suka turut memikirkan nasibnya anak-anak kita”.
Papan nama “Tiong Hwa Hwee Kwan” yang dipasang pada masa kepemimpinannya masih tergantung hingga tahun 1954 di atas pintu sebelah kiri asrama guru THHK, menjadi bukti fisik pengabdian Han Hoo Tong bagi lembaga pendidikan yang didirikannya.
Pada tahun 1919, THHK telah memiliki sarana pendidikan sendiri di lokasi yang kini menjadi SMA Negeri 1 Pasuruan di Jalan Soekarno-Hatta.



Rumah Sangar – Kini Gedung Pancasila
Bangunan ini terletak di Jl. Hasanudin (dahulu Jalan Sangar), tepat di seberang Rumah Singa. Dibangun sekitar tahun 1880, bangunan ini awalnya adalah kediaman pribadi Han Hoo Tong. Luas bangunan mencapai 1.258 meter persegi di atas lahan 5.000 meter persegi. Gedung Pancasila bergaya arsitektur Indische Empire – perpaduan unsur Eropa dan Tionghoa yang populer di Hindia Belanda pada abad ke-19.
Ciri khasnya terlihat dari kolom-kolom besar yang menopang bangunan dengan megah, ornamen khas Tionghoa yang menghiasi ujung atap, serta perpaduan elemen arsitektur Eropa dengan sentuhan budaya Tionghoa. Sebagai rumah keluarga konglomerat, gedung ini mencerminkan status sosial tinggi keluarga Han pada masanya.
Dari tahun 1880 hingga 1904, gedung ini berfungsi sebagai rumah tinggal pribadi milik Han Hoo Tong, dikenal sebagai Rumah Sangar atau Rumah Hoo Tong. Pada tahun 1904, ketika THHK baru berdiri, Han Hoo Tong menggunakan rumah tinggalnya sebagai ruang kelas sementara. Ini adalah awal mula transformasi fungsi gedung dari residensial menjadi edukasional.
Dari tahun 1916 hingga 1958, perkumpulan olahraga bernama Tjhing Nien Hwe (TNH) menggunakan gedung ini sebagai pusat kegiatan olahraga warga Tionghoa Pasuruan. Selama tiga dekade, gedung ini menjadi pusat kejayaan olahraga di Kota Pasuruan.
Setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965, gedung ini sempat beralih fungsi menjadi markas tentara akibat gejolak politik, serta difungsikan sebagai gedung kesenian, menjadi pusat kegiatan seni dan budaya masyarakat Pasuruan. Terjadi perubahan besar dalam kebijakan terhadap aset-aset milik etnis Tionghoa.
Pada tahun 1970-an didirikanlah Yayasan Pancasila yang mengambil alih pengelolaan gedung ini untuk dijadikan lembaga pendidikan. Sejak saat itulah, bangunan ini kemudian mulai dikenal dengan nama Gedung Pancasila. Penggunaan nama ini merupakan bentuk adaptasi dan bukti nyata komitmen komunitas Tionghoa Peranakan di Pasuruan untuk berasimilasi dan diterima sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Beberapa bagian gedung ini digunakan untuk kegiatan sekolah, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, hingga Sekolah Menengah Pertama Pancasila.
Makam Han Hoo Tong
Han Hoo Tong meninggal pada 14 April 1919 di Pasuruan. Dokumentasi foto menunjukkan bahwa ia dimakamkan dengan prosesi upacara yang megah. Lokasi pemakaman di belakang Gedung Pancasila atau berada dibelakang Kantor Kelurahan Karanganyar, Panggungrejo Kota Pasuruan. Bong makamnya masih dapat dikunjungi hingga saat ini, namun kurang terawat dengan banyaknya tanaman liar yang tumbuh disekelilingnya.



Gedung Pancasila sebagai Cagar Budaya
Pada tahun 2023, Gedung Pancasila resmi ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya Kota Pasuruan melalui SK Walikota Pasuruan. Status ini memberikan perlindungan hukum agar bangunan tidak dibongkar atau diubah fungsi secara semena-mena.
Gedung Pancasila, bersama Gedung Wolu, Rumah Singa, dan Hotel Daroessalam, membentuk kawasan cagar budaya di sepanjang Jalan Hasanudin dan Jalan Soekarno-Hatta – saksi bisu kejayaan keluarga-keluarga konglomerat Tionghoa Peranakan di Pasuruan pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Replika di Kaliandra Sejati
Seorang keturunan Han Hoo Tong, Atmadja Tjiptobiantoro Tjioe Lee Gan, membangun replika Rumah Sangar di Kaliandra Sejati Eco Resort & Organic Farm, lereng Gunung Arjuna, dekat Prigen. Replika bernama “Roemah Kolonial 1880” ini berfungsi sebagai hotel heritage. Sepupunya, Jim Oei Han Tjhim, bertindak sebagai arsitek. Pengunjung dapat menginap sambil menikmati pemandangan pegunungan dan belajar tentang sejarah keluarga Han.

Ringkasan Kronologi
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1860 | Han Hoo Tong lahir |
| 1870-1890 | Pembangunan Rumah Sangar (kini Gedung Pancasila) |
| 1899 | Han Hoo Tjoan meninggal; Han Hoo Tong mengelola Pabrik Gula Pleret |
| 1904 | Mendirikan THHK dan menjadi ketua pertama; rumahnya menjadi ruang kelas sementara |
| 1916 | Gedung menjadi pusat olahraga TNH |
| 1919 | Han Hoo Tong meninggal (14 April); dimakamkan di belakang gedung |
| Setelah 1965 | Setelah peristiwa G30S, gedung dikuasai Militer. |
| Pada tahun 1970-an | Didirikan Yayasan Pancasila ((TK, SD, SMP); gedung mulai dikenal dengan nama Gedung Pancasila |
| 2023 | Gedung Pancasila ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan |
Kesimpulan
Han Hoo Tong adalah figur sentral dalam sejarah Pasuruan. Di satu sisi, ia adalah pengusaha gula sukses yang mewarisi kekayaan dari generasi ke generasi. Namun, yang membedakannya dari sekadar konglomerat biasa adalah visinya tentang pendidikan.
Ia adalah pendiri sekaligus ketua pertama THHK (1904-1918), lembaga yang memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak keturunan Tionghoa. Kedermawanannya meminjamkan rumah tinggalnya secara gratis dua kali menjadi fondasi fisik bagi berdirinya sekolah tersebut.
Gedung Pancasila – yang awalnya adalah Rumah Sangar (kediaman pribadinya) – bertransformasi menjadi ruang kelas THHK, gelanggang olahraga TNH, dan setelah peristiwa G30S 1965, diambil alih oleh militer. Pada tahun 1970-an diambil alih Yayasan Pancasila dan berfungsi sebagai lembaga pendidikan hingga saat ini. Nama “Pancasila” dipilih sebagai bentuk adaptasi dan komitmen komunitas Tionghoa Peranakan untuk berasimilasi dengan bangsa Indonesia.
Warisan Han Hoo Tong tidak hanya berupa bangunan fisik. Lebih dari itu, ia mewariskan semangat bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan – sebuah nilai yang terus hidup hingga lebih dari satu abad kemudian, setiap hari di dalam ruang-ruang kelas komplek Gedung Pancasila. Di belakang gedung, makamnya masih dapat dikunjungi hingga saat ini.
Kini, Gedung Pancasila berdiri sebagai salah satu cagar budaya Kota Pasuruan – sebuah status yang memberikan perlindungan hukum agar bangunan ini tidak dibongkar atau diubah fungsi secara semena-mena. Ia adalah pengingat bahwa Pasuruan, yang dijuluki “Kota Santri” , juga pernah menjadi pusat perdagangan dan akulturasi budaya yang kaya, di mana keluarga Tionghoa Peranakan memainkan peran penting dalam pembangunan kota, termasuk dalam bidang pendidikan.

