Pada awal abad ke-20, lanskap pendidikan di Hindia Belanda didominasi oleh dua kubu besar: sekolah-sekolah berbasis Katolik (dikelola oleh ordo-ordo biara seperti Ursulin) dan sekolah-sekolah berbasis Protestan (dikelola oleh zending). Di tengah persaingan ideologis antara kedua kubu — yang dalam sejarah dikenal sebagai de schoolstrijd (perang sekolah) — muncul alternatif ketiga: neutrale school (sekolah netral). Sekolah jenis ini didirikan dengan prinsip tanpa ikatan denominasi agama tertentu, berfokus pada pendidikan umum, ilmu pengetahuan, dan pengembangan karakter tanpa doktrin gereja. Sekolah netral muncul sebagai respons terhadap kemunduran mutu sekolah Eropa pemerintah yang sudah berlangsung sekitar satu dekade.
Salah satu kota yang menjadi pusat perkembangan sekolah netral adalah Malang. Kota dengan iklim sejuk ini mengalami pertumbuhan pesat pada awal abad ke-20, baik dari segi populasi elite Eropa maupun pembangunan infrastruktur perkotaan. Dalam konteks inilah Neutrale Schoolvereeniging (Perkumpulan Sekolah Netral) didirikan dan mengelola setidaknya tiga lembaga pendidikan: Neutrale School Emmastraat (1922), Montessori-Fröbelschool Idenburgstraat (1926–1927), dan Neutrale School Lawoestraat (1932–1933).
Arti Neutrale School
Istilah “netral” dalam konteks pendidikan kolonial Hindia Belanda merujuk pada ketiadaan afiliasi dengan gereja tertentu. Neutrale lagere school (sekolah dasar netral) tidak mengajarkan doktrin Katolik maupun Protestan sebagai bagian dari kurikulum wajib. Pendidikan agama — jika diberikan — bersifat opsional dan berada di luar jam pelajaran utama.
Menurut laporan tahunan Neutrale Schoolvereeniging tahun 1927, sekolah menyediakan kesempatan bagi murid untuk menerima pendidikan agama, tetapi tidak mewajibkannya (De Indische courant, 24 Februari 1928). Sikap ini secara tegas membedakan neutrale school dari sekolah-sekolah denominasional (Katolik dan Protestan) yang menjadikan agama sebagai fondasi kurikulum.
Selain netral dari ikatan gereja, sekolah netral ini juga netral dari sekat gender. Mereka menerima murid laki-laki dan perempuan dalam satu sistem yang setara (co-education). Hal ini berbeda dengan praktik di sekolah-sekolah Katolik pada masa itu, di mana sekolah suster Ursulin khusus untuk anak perempuan, sementara anak laki-laki bersekolah di sekolah Frater. Pemisahan gender juga kerap terjadi di sekolah dasar negeri pemerintah (baik Eropa maupun pribumi), dengan memisahkan sekolah untuk anak laki-laki dan anak perempuan.

Secara harfiah, ‘netral’ seharusnya berarti terbuka untuk semua ras dan golongan. Dalam kenyataannya, tujuan awal Sekolah Netral adalah sebagai sekolah khusus Eropa. Akses ke sekolah-sekolah ini kemudian terbatas hanya pada kalangan elite dan kelas menengah keatas (bangsawan/priyayi pribumi, saudagar Timur Asing, dan keluarga Eropa non-Belanda). Penyebab utamanya adalah:
- Bahasa pengantar Belanda, yang hanya dikuasai oleh golongan terdidik.
- Biaya sekolah, yang tidak terjangkau oleh rakyat jelata (inlander biasa).
Sekolah Netral secara administratif dan kurikulum setara dengan HIS, yaitu sekolah dasar berbahasa Belanda yang memang diperuntukkan bagi kalangan priayayi (bangsawan/pejabat pribumi). Dengan demikian, meskipun secara konsep mengusung semangat “netral”, sekolah netral bukanlah institusi yang inklusif secara sosial-ekonomi. Mereka tetap menjadi bagian dari sistem pendidikan kolonial yang segregatif berdasarkan kelas.
Secara ideologis, gagasan pendidikan netral (non-denominasi, rasional, dan sekuler) sejalan dengan nilai-nilai yang dianut oleh organisasi Freemason (Vrijmetselarij), yang pada periode yang sama memiliki pengaruh signifikan di kalangan elite kolonial Malang.
Neutrale School Emmastraat (1922)
Perkumpulan Sekolah Netral (Neutrale Schoolvereeniging) berawal dari sebuah rumah sewaan sederhana di kawasan Tjelaket, Malang, dengan jumlah murid yang masih sangat sedikit (De Indische courant, 15 April 1922). Karena perkembangan yang pesat, mereka kemudian menggalang dana dan mendirikan gedung pertama yang lebih representatif.
Gedung pertama Neutrale School didirikan di Emmastraat (kini Jalan Dr. Soetomo), di Oranjewijk (Kawasan Oranje=kawasan dengan nama jalan nama keluarga kerajaan Belanda), Malang. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan kedekatan dengan tempat tinggal mayoritas murid yang berasal dari keluarga Eropa. Berdasarkan laporan De Indische courant (15 April 1922), gedung ini dirancang oleh insinyur Giesberger dengan spesifikasi ruang kelas tinggi, luas, pencahayaan alami yang baik, dilengkapi ruang senam modern, berdiri terisolasi, dan menghadap langsung ke sebuah taman.


Total biaya pembangunan mencapai ƒ130.000, terdiri dari pinjaman obligasi masyarakat sebesar ƒ75.000 (dilaporkan langsung habis terjual) dan subsidi pemerintah sebesar ƒ64.000. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan dukungan luas terhadap gagasan neutrale school di Malang. Sebuah editorial dalam De Indische courant bahkan menyebutkan bahwa “Surabaya patut mencontoh” semangat warga Malang dalam mendanai pendidikan.
Di halaman depan sekolah terdapat monumen berupa patung dua anak — seorang laki-laki dan seorang perempuan — berdiri di atas alas yang dikelilingi pagar tanaman. Pada alasnya terukir motto dalam bahasa Belanda: “In het kind sluimert de toekomst” (Dalam diri anak terpendam masa depan).

Seorang wartawan Sumatra-bode (3 Agustus 1922) memuji monumen ini sebagai lambang yang paling indah untuk sebuah monumen sekolah, seraya membandingkannya secara kontras dengan sebuah sekolah di Padang yang memiliki monumen meriam — simbol kekerasan. Motto ini menegaskan keyakinan bahwa anak bukanlah wadah kosong, melainkan entitas yang sudah membawa potensi yang perlu dikembangkan.
Pada tanggal 12 September 1922, Gouverneur-Generaal Hindia Belanda melakukan kunjungan resmi ke Malang. Berdasarkan laporan De Indische courant (13 September 1922), salah satu agenda kunjungan tersebut adalah mengunjungi Neutrale School Emmastraat. Penerimaan tamu agung dilakukan oleh dr. Eycken (kadang ditulis “Eijcken”, Ketua Perkumpulan Sekolah Netral) dan tuan Ribbink (Kepala Sekolah). Para murid berdiri berbaris di ruang senam dan menyanyikan lagu kebangsaan Wilhelmus. Kunjungan ini memberikan legitimasi dan prestise bagi Neutrale School di mata publik.
Montessori-Fröbelschool Idenburgstraat (1926–1927)
Pada tanggal 17 Mei 1926, De Indische courant melaporkan bahwa Neutrale Schoolvereeniging mengambil inisiatif mendirikan sebuah Fröbelschool (taman kanak-kanak) yang menerapkan metode Montessori. Denah, gambar situasi, dan desain telah siap. Lokasi yang dipilih adalah Idenburgstraat (kini Jalan Suropati), di sebelah kiri vila bertingkat terkenal “Ardjoeno” dan “Dorowati“. Kompleks bangunan terdiri dari gedung sekolah dan rumah dinas untuk kepala sekolah wanita. Fasilitas dirancang luas dengan lahan bermain. Sumber daya pengajaran didatangkan langsung dari Belanda, baik tenaga pengajar maupun alat peraga Montessori.
Pada tanggal 31 Desember 1926, De locomotief melaporkan bahwa gedung hampir selesai dan akan segera diserahkan oleh kontraktor. Bangunan digambarkan tenang dan indah. dr. Ultée, anggota pengurus Neutrale Schoolvereeniging yang baru kembali dari cuti di Eropa, berhasil merekrut seorang guru wanita di Belanda yang bersedia menjadi kepala sekolah Montessori-Fröbelschool. Wanita ini diperkirakan tiba di Malang pada Februari atau Maret 1927.

Montessori-Fröbelschool resmi dibuka pada 30 Juni 1927 dengan 17 murid. Pada akhir Desember 1927, jumlah murid telah meningkat menjadi lebih dari 30 anak (De Indische courant, 24 Februari 1928).
Berdasarkan laporan De Indische courant (8 November 1927 dan 22 Mei 1928), kepala sekolah Montessori-Fröbelschool adalah Mejuffrouw A. Kranenburg. Ia aktif menyelenggarakan ceramah-ceramah publik tentang metode Montessori.
Dalam ceramahnya pada 8 November 1927, Mejuffrouw Kranenburg menyampaikan tiga fondasi metode Montessori:
“Merangkum, metode Montessori bertumpu pada tiga dasar: pertama: hormat terhadap ketenangan dan terhadap pekerjaan orang lain; selanjutnya: pada aktivitas sendiri; dan ketiga: pada keamanan anak, bahwa ia dipahami dan hidup dalam suasana di mana cinta diberikan dan diterima.”
Ia menegaskan bahwa di Montessorischool, anak-anak boleh bergerak bebas selama tidak mengganggu temannya yang sedang bekerja, dan tidak ada hukuman pada usia dini. Prinsip “ikuti anak” menjadi pedoman utama.

Dalam ceramahnya pada 22 Mei 1928, Mejuffrouw Kranenburg menjelaskan fungsi alat peraga Montessori yang dirancang untuk mengembangkan indera peraba, penglihatan, dan pendengaran. Anak belajar membaca, menulis, dan berhitung secara alamiah melalui penggunaan alat peraga tersebut.
Neutrale School Lawoestraat (1931–1933)
Pada rapat umum Neutrale Schoolvereeniging bulan Februari 1928, dilaporkan bahwa gedung Emmastraat sudah terlalu kecil. Jumlah murid mencapai 228 orang, sementara peraturan membatasi maksimal 30 murid per kelas. Permintaan penempatan murid baru harus ditolak. Sebagai solusi sementara, pengurus memutuskan membangun 2 ruang kelas baru di lantai atas melalui renovasi. Namun jumlah murid terus meningkat. Pada awal 1931, jumlah murid telah melampaui 300 orang, sehingga diperlukan gedung baru.
Pada tanggal 25 April 1931, Soerabaijasch handelsblad melaporkan bahwa dalam rencana perluasan kawasan Villapark Malang di daerah “Bergenbuurt” (nama jalan gunung-gunung), telah disediakan lahan seluas 5.000 meter persegi untuk neutrale school di sekitar Lawoestraat (kini Jalan Lawu No. 12), menghadap sebuah lapangan. Kawasan ini merupakan permukiman elite baru dengan jalan lebar, pepohonan rindang, sistem saluran air tertutup, dan rumah-rumah bergaya modern.
Pada tanggal 15 Juli 1931, De Indische courant mengumumkan tender terbuka untuk pembangunan gedung sekolah di Lawoestraat. Penjelasan pekerjaan dilaksanakan pada 22 Juli 1931 pukul 17.00 di lokasi pembangunan. Lelang umum dilaksanakan pada 25 Juli 1931 pukul 17.00 di gedung sekolah Emmastraat. Dokumen RAB dan gambar tersedia di kantor penasihat teknis di Merapistraat No. 5 dengan biaya ƒ10 per set.
Pada tanggal 4 Februari 1932, De Indische courant melaporkan bahwa gedung baru telah selesai dan mulai digunakan pada 1 Februari 1932. Perancangnya adalah W. de Boer (guru di Cultuurschool), dilaksanakan oleh biro arsitek Smits, Koper & Hoogerbeets. Waktu pembangunan hanya 117 hari (kurang dari 4 bulan), selesai sebulan lebih cepat dari jadwal kontrak, dengan total biaya ƒ46.500. Biro arsitek Smits, Koper & Hoogerbeets mendapat pujian: sekali lagi menunjukkan kemampuan mereka.
Gedung Lawoestraat dirancang dengan denah fungsional: dua sayap sejajar di sisi Timur dan Barat (masing-masing 4 ruang kelas), ruang senam di sisi Utara, gudang sepeda besar di sisi Selatan, lapangan terbuka dengan pohon peneduh di tengah. Tujuh ruang kelas untuk kelas 1–7, satu ruang untuk kerajinan tangan. Kapasitas maksimal 30 murid per kelas. Fasilitas tambahan meliputi ruang peta, dua ruang ganti, kantor kepala sekolah dengan jam listrik hadiah, dan rumah dinas penjaga yang sangat nyaman sehingga “membuat banyak anak Eropa kecil mengiler” (De Indische courant, 4 Februari 1932). Kepala sekolah yang ditunjuk adalah tuan A.J. Weekhout, yang juga menjabat sebagai kepala sekolah di Emmastraat. Sekolah Lawoestraat berstatus sebagai cabang dari sekolah induk di Emmastraat.

Pada rapat anggota tahunan Neutrale Schoolvereeniging yang digelar pada 11 April 1933 di bawah pimpinan ketua tuan L. M. F. Plate, diputuskan bahwa cabang Lawoestraat ditingkatkan statusnya (De Indische courant, 12 April 1933). Keputusan ini didasarkan pada jumlah murid yang telah mencapai 320 anak. Keputusan mencakup peningkatan status dari cabang menjadi sekolah dasar yang utuh, lengkap, dan mandiri, ditambah dengan kelas Fröbel (taman kanak-kanak), penghapusan sistem kelas gabungan, dan penambahan tiga guru paruh waktu.
Terhitung mulai 1 Juli 1933, Neutrale Schoolvereeniging memiliki dua sekolah yang sepenuhnya berdiri sendiri: sekolah lama di Emmastraat dan sekolah baru di Lawoestraat. Namun, berbeda dengan prinsip umumnya, buku Stadsgemeente Malang (1914-1939) mencatat bahwa cabang Lawoestraat secara eksplisit ditulis “Neutrale Eur. Lagere School“, yang berarti khusus untuk murid Eropa. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan kebijakan antar cabang sekolah netral itu sendiri.
Struktur Organisasi Neutrale Schoolvereeniging
Berdasarkan laporan tahunan dalam De Indische courant (24 Februari 1928), susunan pengurus Neutrale Schoolvereeniging pada akhir Desember 1927 adalah:
| Jabatan | Nama |
|---|---|
| Ketua | dr. A. J. Ultée |
| Wakil Ketua | dr. P.A.A.F. Eycken |
| Sekretaris-Bendahara L. M. F | P. R. de Rochement |
| Anggota | D. Nolles |
| Anggota | Plate |
| Anggota | J. van der Togt |
| Anggota | J. H. P. de PEcluse |
Dua nama menonjol: dr. A. J. Ultée (Direktur Malang Proefstation) dan dr. P.A.A.F. Eycken (tokoh Freemason), keduanya dokter yang aktif dalam jaringan elite kolonial Malang. Pada tahun 1933, posisi ketua dipegang oleh tuan L. M. F. Plate (Mantan Residen Riau dan Direktur harian De Malanger).
Keterkaitan Freemason
Sepanjang penulis ketahui bukti langsung yang menghubungkan Neutrale Schoolvereeniging dengan Freemason adalah tokoh dr. P.A.A.F. Eycken (wakil ketua perkumpulan 1927) yang dapat diidentifikasi sebagai anggota Freemason: ada gambar jangka dan penggaris siku pada makamnya, simbol-simbol yang secara universal diakui sebagai atribut Freemason. Dengan demikian, dr. Eycken adalah anggota organisasi tersebut.
Berdasarkan bukti yang ada setidaknya satu tokoh kunci (dr. Eycken) adalah anggota Freemason. Sementara ini belum ditemukan bukti eksplisit bahwa Neutrale Schoolvereeniging adalah organisasi resmi di bawah Freemason. Namun keselarasan ideologis yang hampir sama antara prinsip sekolah netral dengan nilai-nilai Freemason, kuat dugaan sekolah ini sangat terkait dengan organisasi Freemason.
Identifikasi Lokasi Terkini
Berdasarkan penelusuran lapangan, ketiga lokasi neutrale school di Malang dapat diidentifikasi:
| Nama Jalan (Kolonial) | Nama Jalan (Sekarang) | Fungsi Awal | Fungsi Terkini |
|---|---|---|---|
| Emmastraat | Jl. Dr. Soetomo No. 35 | Neutrale School (1922) | SDK Santo Yusup 2 |
| Idenburgstraat | Jl. Suropati | Montessori-Fröbelschool (1927) | Terbengkalai (eks Factory Outlet) |
| Lawoestraat | Jl. Lawu No. 12 | Neutrale School (1932) | SMP Negeri 1 Malang |
Epilog
Demikianlah Sekolah Netral: sebuah sekolah unggulan untuk anak Eropa di Hindia Belanda awal 1920-an dengan ciri bebas dogma agama, guru berpengalaman, kelas kecil, dan co-education. Namun, praktiknya jauh dari kata netral karena mengutamakan ras Eropa dan memiliki keterkaitan erat dengan Freemasonry. Kendati demikian, sejarah mencatat bahwa tidak semua sekolah netral berada di bawah kendali Freemasonry—kasus di Bandung, di mana sekolah bentukan loge berhasil diambil alih oleh para penentangnya, menjadi bukti bahwa ironi dan perebutan kekuasaan adalah bagian tak terpisahkan dari kisah “Sekolah Netral” itu sendiri.
Catatan Tambahan :
- Perkumpulan Sekolah Netral pertama kali didirikan di Yogyakarta pada 11 November 1920, diprakarsai oleh Dr. J. Bonk dan H. Zieren. Sekolah resmi dibuka 30 Juni 1921 dengan 70 murid. Perkumpulan ini kemudian menghadapi defisit keuangan dan ancaman pengambilalihan oleh penentang Freemasonry (kasus Bandung). Keberhasilan dan tantangan yang dialami Yogyakarta ikut mempengaruhi pendirian sekolah netral di kota-kota lain, termasuk Malang.
- Ketua Perkumpulan Sekolah Netral di Malang, Dr. A. J. Ultee, juga pernah menjabat Direktur Proefstation Malang hingga pensiun di tahun 1932.

Daftar Arsip yang Dirujuk
- De Indische courant, 15 April 1922: “De Neutrale school te Malang”
- Sumatra-bode, 3 Agustus 1922: “In Malang is een Neutrale school geopend”
- De Indische courant, 13 September 1922: “Nederlandsch-Indië. Het Bezoek van den G.G. Tweede dag”
- De Indische courant, 17 Mei 1926: “Onderwijs. Montessorischool”
- De locomotief, 31 Desember 1926: “Montessorischool te Malang”
- De Indische courant, 8 November 1927: “Onderwijs. De Montessori-gedachte”
- De Indische courant, 24 Februari 1928: “Neutrale Schoolvereeniging”
- De Indische courant, 22 Mei 1928: “Onderwijs. Moderne leermiddelen”
- Soerabaijasch handelsblad, 25 April 1931: “Stadsuitbreiding”
- De Indische courant, 15 Juli 1931: “Aanbesteding”
- De Indische courant, 4 Februari 1932: “Onderwijs. Weer een nieuwe school”
- De Indische courant, 12 April 1933: “De Neutrale School”
Postingan Terkait :
Awal Mula Berdirinya Sekolah Frateran St. Jozefhuis (Rumah St. Jozef) di Malang
Sejarah Sekolah Santa Maria Malang (1937–1941)
Sejarah Ambachtsschool (Sekolah Pertukangan) Pertama di Malang

