Han Hoo Tjoan adalah putra sulung dari Han Sam Khwee dan kakak tertua dari Han Hoo Lam dan Han Hoo Tong—yang bersama-sama dikenal sebagai “Trio Raja Gula” Pasuruan. Ia lahir pada tahun 1852 dan meninggal pada 7 Juli 1899 di Pasuruan. Ia menikah dengan Kwee Tjiam Nio (1853-1941), yang dikenal dalam keluarga sebagai ‘Mak Gembong’ (Gembong=nama kuno kota Pasuruan). Kwee Tjiam Nio berasal dari klan Kwee Ek Bien yang besar di Madura, yang kemudian menetap di Pasuruan dan Surabaya. Pernikahan ini menyatukan dua klan konglomerat terbesar di Pasuruan: Han (pengusaha gula) dan Kwee (pengusaha gula dan pegadaian).

Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio dikaruniai sebelas orang anak, walaupun data kelahiran banyak yang hilang. Beberapa anak mereka yang diketahui antara lain Han Tiauw Khing (1869-1930) sebagai putra sulung, Han Giok Siam Nio (1872-1957) sebagai putri sulung yang dijuluki ‘Ngoh Sar’ atau ‘Mak Pengkol’ dan menikah dengan Kwee Khoen Hwa (putra Kwee Sik Poo), Han Tiauw Tjiang, Han Tiauw Hing (1887-1958) yang menjadi pengusaha Bus HT dan Ketua THHK ketiga, Han Tiauw An (1889-?), Han Tiauw Bing sebagai putra bungsu, Han Giok King Nio yang menikah dengan Kwee Khoen Kie (putra Kwee Sik Khie), serta Han Giok Puan (Pwan) Nio.

Asal-Usul dan Keluarga

Keluarga Han di Pasuruan berasal dari desa leluhur Tian Bao (天寶) di provinsi Fujian, China selatan. Leluhur pertama yang tiba di Nusantara adalah Han Siong Kong (1672-1743), yang menetap di Lasem, Jawa Tengah. Dari Lasem, keturunannya menyebar ke Surabaya (melalui Han Bwee Sing) dan akhirnya ke Pasuruan.

Kakek Han Hoo Tjoan, Han Swie Hien (1795-1860), adalah pemilik pabrik gula Sari Redjo (Krampyangan) dan juga manajer pabrik gula Kawis Redjo (Rejoso) milik keluarga Kwee ketika pewarisnya masih di bawah umur. Ia sudah mengirimkan gula untuk Belanda sejak tahun 1830 dengan perahunya sendiri yang bernama “Hoksoen” . Kekayaan inilah yang menjadi fondasi bagi “Trio Raja Gula” Pasuruan.

Ayah Han Hoo Tjoan, Han Sam Khwee ((1830-1877), adalah pengusaha sukses yang memiliki saham mayoritas di pabrik gula ‘Sari Redjo’ warisan dari ayahnya. Pada tahun 1866, ia memenangkan hak lelang untuk menjual opium (yang saat itu legal) di wilayah Pasuruan dengan tawaran 77.300 gulden per bulan – sebuah jumlah yang fantastis pada zamannya. Ia berdagang amfioen (nama Belanda untuk opium) setidaknya sejak tahun itu.

Kwee Tjiam Nio, istri Han Hoo Tjoan, berasal dari klan Kwee Ek Bien yang besar di Madura. Klan ini adalah salah satu dari tiga klan Kwee besar di Pasuruan, selain Kwee Thian Tjoen dan Kwee Hwie Lioe (leluhur Kwee Sik Poo). Pernikahan ini sangat strategis karena memperkuat aliansi bisnis yang sudah terjalin sejak generasi sebelumnya, ketika Han Swie Hien menjadi manajer pabrik gula Kawis Redjo milik keluarga Kwee.

Kapten China Pasuruan

Pada tanggal 8 Januari 1881, Han Hoo Tjoan diangkat menjadi Kapitein der Chinezen di Pasuruan. Sebagai kapitein, ia mewakili dan memimpin komunitas Tionghoa di wilayah tersebut. Jabatan ini memberinya hak istimewa yang besar dalam urusan administrasi, perizinan, dan peradilan bagi warga Tionghoa.

Regerings Almanak tahun 1872.

Namun, masa jabatannya sebagai kapitein tidak berlangsung lama. Pada tahun 1886, ia meminta untuk mengundurkan diri karena ingin lebih fokus mengelola bisnisnya yang terus berkembang. Dalam artikel surat kabar disebutkan bahwa ia kurang dicintai oleh komunitasnya – mungkin karena ia lebih mementingkan bisnis daripada politik.

Setelah pengunduran dirinya, posisi Kapitein der Chinezen Pasuruan diberikan kepada Kwee Sik Poo (1886-1926), yang kelak menjadi mitra bisnis sekaligus besannya (karena putra Kwee Sik Poo, Kwee Khoen Hwa, menikah dengan putri Han Hoo Tjoan, Han Giok Siam Nio).

Pengusaha Pabrik Gula

Dalam dunia bisnis, Han Hoo Tjoan adalah seorang pengusaha yang sangat aktif. Ia mewarisi saham pabrik gula ‘Sari Redjo’ dari ayahnya, Han Sam Khwee. Pada tahun 1877, ia membeli sisa saham ‘Sari Redjo’ dari sepupunya, Han Hoo Hay (putra Han Sam Gwan), sehingga ia menjadi pemilik penuh pabrik tersebut.

Sejak tahun 1872 atau sebelumnya, ia sudah terlibat dalam bisnis pengangkutan kopi. Pada tahun 1886, pemerintah kolonial Belanda menyetujui pengalihan kepemilikan Pabrik Gula Pleret kepada ketiga bersaudara Han – Han Hoo TjoanHan Hoo Lam, dan Han Hoo Tong â€“ masing-masing dengan bagian yang sama (1/3). Pada tahun 1887, ia membeli pabrik gula ‘Pengkol’ (sebelumnya bernama ‘De Goede Hoop’ ) di distrik Pasuruan melalui lelang umum seharga f 35.700,-. Sebuah pabrik gula milik Alexander Manuel Anthonijs yang wafat di 1879 dan kemudian dikelola oleh para ahli warisnya.

Ia juga mengakuisisi pabrik ‘Kloerahan’ (di Kejayan) yang kemudian dikelola bersama adik-adiknya. Karena kepemilikannya atas ‘Pengkol’ , putrinya Han Giok Siam Nio mendapat julukan ‘Mak Pengkol’ di dalam keluarga.

Jaringan Pabrik Gula keluarga Han dan Kwee di Pasuruan. Peta tahun 1900.

Dari ketiga saudara Han, Han Hoo Tjoan adalah yang paling tradisional. Hal ini tercermin dari lukisan potretnya yang menggambarkannya dalam pakaian tradisional Dinasti Qing (pakaian resmi Manchu), berbeda dengan adik-adiknya yang lebih sering mengenakan pakaian Barat. Penulis dokumen berspekulasi bahwa Han Hoo Tjoan mungkin memiliki kontak yang lebih erat dengan pemerintah Tiongkok pada zamannya, meskipun tidak ada bukti bahwa ia secara resmi diangkat oleh Kaisar Tiongkok.

Rumah Wetan – Rumah Keluarga Han Hoo Tjoan

Rumah Wetan (atau “Rumah Timur”) terletak di Jl. Soekarno-Hatta No. 88 (bekas Jl. Raya 88), Pasuruan. Bangunan ini berada di sebelah timur rumah Han Tiauw Hing (No. 86 atau dikenal dengan Rumah HT) dan rumah Han Tiauw Khing (No. 84 atau sekarang SMP Negeri 2 Kota Pasuruan).

Rumah Wetan milik keluarga Han Hoo Tjoan tahun 1948. Sumber : Buku Kwee Hong Sien.
Nomor 4 adalah “Rumah Wetan” eks rumah keluarga Han Hoo Tjoan di Jl. Raya No. 88. Sumber : Buku Kwee Hong Sien.

Berbeda dengan rumah adik-adiknya (Han Hoo Lam dan Han Hoo Tong) yang bergaya Indische Empire (kolonial Eropa), Rumah Wetan bergaya arsitektur tradisional Fujian Selatan (Tiongkok). Rumah ini tidak diketahui secara pasti kapan dibangun, tetapi Rumah Wetan adalah rumah tertua dari ketiga saudara Han di Pasuruan. Kemungkinan besar rumah ini dibangun atau direnovasi oleh Han Hoo Tjoan sendiri, atau bahkan mungkin sudah ada sejak zaman ayahnya, Han Sam Khwee.

Ciri khas utama arsitektur Rumah Wetan adalah atap ‘layang-layang’ atau atap ‘ekor burung walet’ (swallow roof), yang merupakan ciri khas rumah-rumah bangsawan di provinsi Fujian, China. Atap ini melambangkan status sosial tinggi pemiliknya. Tata letak rumah ini sangat khas Tionghoa: terdapat taman depan yang luas dengan banyak pohon peringatan kecil (bonsai) dan tanaman hias, dua bangunan utama di tengah dengan atap tradisional Tionghoa yang dihubungkan oleh halaman dalam, paviliun-paviliun di bagian belakang dan samping yang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi keluarga besar, dapur terbuka, sumur air, dan kamar mandi/toilet di bagian belakang – fasilitas standar rumah tradisional pada masa itu, serta pintu belakang yang tembus ke Jalan Belitung.

Rumah Wetan keluarga Han Hoo Tjoan. Sumber : Buku Kwee Hong Sien.

Rumah Wetan bukan hanya tempat tinggal Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio, tetapi juga menjadi pusat kehidupan bagi beberapa generasi keluarga Han dan Kwee yang terkait. Di paviliun-paviliun belakang rumah ini, tinggal beberapa keluarga, antara lain Kwee Khoen Hwa dan Han Giok Siam Nio (putri Han Hoo Tjoan) serta anak-anak mereka, Liem Kian Hing dan Kwee Liep Nio (putri Han Giok Siam Nio) bersama anak-anak mereka Jimmy Liem dan Hansje Liem Han Nio, Heintje Tan Hong Hiem dan Hansje Liem Han Nio serta anak-anak mereka Tan Lian Hiang dan Tan Lian Swie, Tan Dijen Nio (janda Kwee Tjoen Hian), Ceciel Han Hik Nio dan Fien Han Siep Nio (kedua putri Han Hoo Tjoan yang belum menikah) bersama anjing gembala Jerman mereka, serta seorang wanita tua yang tidak menikah dipanggil ‘Kwie Tjia’ yang hubungan keluarganya tidak diketahui.

Kenangan tentang Rumah Wetan yang paling diingat oleh para keturunan adalah kursi-kursi goyang di beranda depan, serta pohon-pohon bonsai kecil di taman depan.

Rumah Wetan keluarga Han Hoo Tjoan. Sumber : Buku Kwee Hong Sien.

Pada masa kejayaannya, Rumah Wetan menjadi tuan rumah berbagai perayaan keluarga yang megah. Salah satu yang terkenal adalah pesta perayaan ulang tahun yang diadakan di rumah Han Hoo Tjoan pada tahun 1894 (enam tahun sebelum ia meninggal). Pada tahun 1906, Han Giok Siam Nio (putri Han Hoo Tjoan) dan Kwee Khoen Hwa (menantunya) mengadakan pesta pernikahan anak-anak mereka di halaman depan Rumah Wetan.

Lukisan Potret Han Hoo Tjoan

Salah satu peninggalan berharga dari Rumah Wetan adalah lukisan potret Han Hoo Tjoan yang menggambarkannya dalam pakaian tradisional Dinasti Qing. Lukisan ini sekarang tergantung di rumah putranya, Han Tiauw Hing, di Jl. Soekarno-Hatta 86, bersama dengan lukisan istrinya, Kwee Tjiam Nio. Lukisan ini menunjukkan bahwa Han Hoo Tjoan adalah sosok yang memegang teguh nilai-nilai tradisional Tionghoa.

Han Hoo Tjoan dan istrinya Kwee Tjiam Nio (Mak Gembong). Sumber : Buku Kwee Hong Sien.

Nasib Rumah Wetan Masa Kini

Nasib Rumah Wetan berubah drastis setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Militer Indonesia mengambil alih rumah tersebut secara paksa, dengan alasan ditemukannya barang-barang komunis yang ditanam di salah satu ruangan. Keluarga Han yang saat itu masih menempati rumah (termasuk tante Cecile Han Hik Nio dan Fien Han Siep Nio) hanya diberi waktu satu hari untuk mengosongkan semua barang bawaan mereka. Mereka pindah ke rumah tetangga di sebelah barat, yaitu rumah Han Tiauw Hing di Jl. Soekarno-Hatta 86.

Selama masa pendudukan militer, Rumah Wetan digunakan sebagai markas tentara dan asrama. Bahkan, konon terdapat lubang-lubang peluru di dinding rumah akibat insiden G30S.

Dalam kepanikan pengosongan rumah, keluarga Han berhasil menyelamatkan sin tji (tablet leluhur) keluarga Han Pasuruan dan memindahkannya ke rumah Han Tiauw Hing di sebelah barat. Sin tji inilah yang kemudian menjadi kunci bagi penulis (Kwee Hong Sien) untuk menyusun silsilah keluarga Han Pasuruan yang selama ini hilang, karena data kelahiran dan kematian terukir di dalam tablet tersebut.

Rumah ini baru dikembalikan kepada keluarga Han pada tahun 1988, setelah 23 tahun dikuasai oleh militer. Namun, karena surat kepemilikan (sertifikat) telah hilang, keluarga kesulitan untuk mengklaim kepemilikan secara hukum. Sebuah yayasan bernama Yayasan Kwee Tjiam Nio (istri Han Hoo Tjoan) dibentuk untuk mengurus klaim atas Rumah Wetan, tetapi upaya mereka tidak berhasil.

Pada tahun 1988 atau 1989, rumah ini akhirnya dijual dengan harga yang sangat rendah karena pembeli baru bersedia mengurus sendiri pembuatan akta kepemilikan. Sebagian dana hasil penjualan (sekitar Rp 30 juta untuk rumah utama dan Rp 12,6 juta untuk bangunan belakang) dibagikan kepada 9 kelompok ahli waris.

Saat ini, Rumah Wetan tidak lagi berfungsi sebagai tempat tinggal. Bangunan utama telah dibeton dan ditutup rapat oleh pemilik baru karena digunakan sebagai “rumah walet” (budidaya sarang burung walet). Gazebo bundar dua lantai yang dulunya digunakan untuk rekreasi keluarga (dan di lantai bawahnya terdapat gamelan Jawa) masih berdiri di samping rumah, tetapi juga ikut tertutup beton. Rumah Wetan sekarang berada di Jl. Soekarno-Hatta No. 88, Pasuruan. Bangunan ruko yang kemudian dibangun di depan rumah ini menghalangi pandangan ke rumah ini dari jalan raya. Menyisakan jalan masuk selebar +/- 5 meter di bagian sebelah barat ruko.

Deretan ruko yang menutupi Rumah Wetan eks kediaman keluarga Han Hoo Tjoan.

Rumah Abu dan Gerbang Bong Sangar

Di seberang Rumah Singa di Jl. Hasanudin (dahulu Jalan Sangar), Pasuruan, berdiri sebuah pintu gerbang megah yang dikenal sebagai “Bong Sangar”. Bangunan dengan ornamen oriental yang unik ini adalah gerbang menuju kompleks pemakaman marga Han.

Berdasarkan informasi dari Hong Sien Kwee dan dikonfirmasi oleh komentator yang memahami sejarah keluarga Han, gerbang ini bertuliskan Han Tat Wan Kong Soe (bukan Han Soen Wan). Han Tat Wan adalah nama kehormatan (anumerta) dari Han Hoo Tjoan. Beliau-lah yang mendirikan kompleks pemakaman ini untuk marga Han.

Gerbang Bong Sangar atau disebut Han Tat Wan Kong Soe.

Fungsi dan Fasilitas

Kompleks Han Tat Wan Kong Soe dulu memiliki rumah abu (rumah leluhur) di dalamnya. Rumah abu adalah bangunan khusus yang digunakan keluarga Tionghoa Peranakan untuk menyimpan sin tji (tablet leluhur), melakukan upacara penghormatan dengan membakar dupa, serta menyimpan abu dupa yang terkumpul dalam pot – inilah asal-usul nama “rumah abu”. Sayangnya, rumah abu di kompleks ini sudah dibongkar. Namun, gerbang bong-nya masih berdiri kokoh hingga kini.

Catatan Penting: Dua Kong Soe Marga Han

Perlu diketahui bahwa ada dua perkumpulan kematian (kong soe) marga Han yang berbeda di Pasuruan.

Han Tat Wan Kong Soe didirikan oleh Han Hoo Tjoan (Han Tat Wan) dan berlokasi di seberang Rumah Singa, Jl. Hasanudin. Kompleks ini berfungsi sebagai makam keluarga marga Han. Dulu terdapat rumah abu di kompleks ini, tetapi sekarang sudah dibongkar. Gerbangnya masih berdiri hingga kini, sementara makam Han Hoo Tjoan sendiri berada di tempat lain (di Wironini atau sekarang Jl. Erlangga). Di Lahan di belakang gerbang bong saat ini ada kantor Kelurahan Karanganyar, Panggungrejo Kota Pasuruan dan markas Koramil Gadingrejo Pasuruan

Han Soen Wan Kong Soe didirikan pada tahun 1906 (pengurus berbeda) dan berlokasi di seberang rumah Han Hoo Lam (kini markas Yon Zipur 10). Kompleks ini juga berfungsi sebagai makam keluarga marga Han dan dulu memiliki rumah abu sendiri. Sayangnya, gerbang dan rumah abu di kompleks ini sudah dibongkar, dan makam-makamnya sudah dibongkar oleh keluarga (pada tahun 2008). Kini lokasinya menjadi perumahan/asrama tentara Yon Zipur 10 di Gadingrejo, Pasuruan.

Makam Wironini

Makam Han Hoo Tjoan dan istrinya Kwee Tjiam Nio tidak berada di kompleks Han Tat Wan Kong Soe (Gerbang Bong Sangar). Makam beliau berada di tempat terpisah, yaitu di Wironini, Pasuruan, di sepanjang Jalan Erlangga (jalan menuju Malang). Kompleks Han Tat Wan Kong Soe diperuntukkan bagi makam-makam famili Han lainnya, bukan untuk makam pendirinya sendiri.

Makam Han Hoo Tjoan dan istrinya Kwee Tjiam Nio di Wironini Pasuruan. Sumber : Buku Kwee Hong Sien.

Makam Han Hoo Tjoan dan Kwee Tjiam Nio masih dapat dikunjungi hingga saat ini, meskipun area sekitarnya sudah banyak berubah menjadi perumahan penduduk. Batu nisan (bong-pai) mereka masih berdiri, dikelilingi oleh pagar hijau yang dipasang oleh keluarga untuk melindungi makam dari pembangunan liar. Setiap tahun, pada perayaan Tjing Bing (atau Cheng Beng), keturunan keluarga masih datang untuk memberi hormat kepada leluhur mereka.

Warisan

Dari Rumah Wetan, beberapa pusaka keluarga berhasil diselamatkan sebelum diambil alih militer pada tahun 1965. Barang-barang berharga seperti sin tji (tablet leluhur) keluarga Han Pasuruan, yang kini disimpan di rumah Han Tiauw Hing di Jl. Soekarno-Hatta 86. Selain sin tji, sebuah ‘tok kwi’ (kain altar) yang digunakan pada upacara pemakaman Han Giok Siam Nio pada tahun 1957 juga berhasil diselamatkan. Warisan yang paling mencolok dan masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah “Gerbang Bong Sangar”. Eks banguna pabrik gula “Pleret” masih dapat dilihat di selatan kota di jalan raya Pasuruan – Malang. Sedangkan bangunan bekas pabrik gula lainnya kini tidak berbekas.

Warisan Tak Benda

Meskipun Rumah Wetan telah dijual dan dialihfungsikan, warisan terbesar Han Hoo Tjoan adalah semangat kekeluargaan yang ia tanamkan. Tradisi ziarah makam leluhur setiap tahun (Tjing Bing) masih dilakukan oleh keturunannya, menunjukkan bahwa ikatan keluarga Han tetap terjaga meskipun secara fisik mereka telah tersebar di berbagai kota di Indonesia, Belanda, Australia, dan Amerika Serikat.

Tradisi tahunan keluarga Han Hoo Tjoan yang disebut Tjing BIng/Ching Ming. Sumber : Buku Kwee Hong Sien.

Epilog

Han Hoo Tjoan adalah figur sentral dalam keluarga Han Pasuruan. Sebagai putra sulung, ia mewarisi tradisi dan tanggung jawab terbesar. Ia adalah seorang kapitein yang bijaksana (meskipun singkat masa jabatannya), seorang pengusaha gula yang sukses, dan seorang kepala keluarga yang melindungi anggota keluarganya.

Warisan yang ditinggalkan terdapat di tiga lokasi berbeda. Rumah Wetan di Jl. Soekarno-Hatta 88 adalah kediaman pribadinya yang kini menjadi rumah walet, saksi bisu kejayaan Raja Gula Pasuruan. Gerbang Bong Sangar di Jl. Hasanudin (seberang Rumah Singa) adalah gerbang kompleks pemakaman Han Tat Wan Kong Soe yang didirikannya untuk marga Han, dengan prasasti berisi nilai-nilai Tao, Konfusius, dan doa untuk keturunan. Makam di Wironini (Jl. Erlangga) adalah tempat peristirahatan terakhir Han Hoo Tjoan dan istrinya Kwee Tjiam Nio, yang masih diziarahi keturunannya setiap tahun.

Postingan Terkait :

Legenda Rumah Singa dan Riwayat Tan Kong Sing di Pasuruan