Di tengah gemuruh mesin uap pabrik gula dan hamparan tebu yang membentang luas di kaki gunung-gunung Jawa Timur, hiduplah seorang pria Eropa yang namanya terukir emas dalam sejarah industri gula Hindia Belanda. Ia adalah Alexander Manuel Anthonijs, seorang pengusaha kelahiran 18 Januari 1832 yang berhasil membangun imperium gula di karesidenan Pasuruan. Dalam perjalanan hidupnya yang relatif singkat (47 tahun), ia berhasil mengoleksi tiga pabrik gula besar, menjalin relasi dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, meninggalkan warisan amal yang monumental, hingga akhirnya ajal menjemputnya secara mendadak.
Artikel ini disusun berdasarkan dokumen-dokumen asli dari surat kabar sezaman (1878–1888), berita kematian, catatan lelang, wasiat, laporan perjalanan pejabat kolonial, serta data-data arkeologis dari makam keluarga di Pemakaman Eropa Pasuruan.
Biografi dan Kehidupan Awal
Kelahiran dan Asal-Usul
Alexander Manuel Anthonijs lahir pada tanggal 18 Januari 1832. Meskipun catatan tentang masa kecilnya tidak banyak terungkap, namanya mencerminkan akar Eropa di Hindia Belanda—kemungkinan keturunan Belanda atau Portugis yang telah menetap di Nusantara selama beberapa generasi. Keluarga Anthonijs adalah salah satu keluarga Eropa terkemuka di Pasuruan pada zamannya, dengan jaringan sosial dan ekonomi yang luas.
Keluarga dan Saudara Kandung
Dari catatan nisan di Pemakaman Eropa di Bugul Pasuruan (European Cemetery), diketahui bahwa Alexander Manuel Anthonijs memiliki banyak kerabat. Sekitar 10 anggota keluarga yang lain juga dimakamkan di tempat yang sama.
Analisa Pernikahan dan Keturunan
Alexander Manuel Anthonijs kemungkinan menikah dengan Susanna Maria Fischer, seorang wanita kelahiran 18 Oktober 1843. Susanna Maria adalah putri dari keluarga Fischer. Dari pernikahan ini menghasilkan setidaknya 2 orang putra, salah satunya Alex Anthonijs, yang lahir pada tanggal 7 Desember 1879.
Ada catatan menarik tentang kelahiran Alex Anthonijs: ia lahir hanya tiga bulan setelah kematian ayahnya (Alexander wafat 26 Agustus 1879, Alex lahir 7 Desember 1879). Ini menunjukkan bahwa pada saat Alexander Manuel Anthonijs meninggal, istrinya sedang mengandung dan melahirkan putra mereka beberapa bulan kemudian. Sayangnya, Alex Anthonijs meninggal muda di usia 20 tahun pada 15 April 1900.
Dalam berita kematian Alexander Manuel Anthonijs yang dimuat Bataviaasch Handelsblad (3 September 1879), disebutkan bahwa di liang lahat berdiri “putra satu-satunya, seorang anak laki-laki berusia 11 tahun”. Ini jelas mengindikasikan bahwa Alexander telah memiliki seorang putra sebelumnya (nama belum diketahui). Kemudian putra kedua adalah Alex Anthonijs yang lahir 1879.
Karier dan Imperium Bisnis
Pabrik Gula Pengkol (De Goede Hoop)
Pabrik andalan Anthonijs adalah “De Goede Hoop” (Harapan Baik) di Pasuruan. Pabrik ini, yang oleh penduduk pribumi disebut “Pengkol“, menjadi pusat kegiatan bisnis sekaligus tempat tinggal utamanya. Di sinilah ia tinggal bersama keluarganya dan mengoperasikan pusat bisnis gula yang kelak membawanya ke puncak kekayaan. Keluarga Anthonijs juga punya lahan dan rumah di Heerenstraat.
Deskripsi tentang rumahnya dapat ditemukan dalam dokumen lelang inventaris setelah kematiannya pada September 1879. Rumah dan harta yang mewah di Pengkol digambarkan dengan detail lelang dibawah.
Puncak Kejayaan:
Salah satu tanda kejayaan pabrik Pengkol tercatat pada tahun 1880—setahun setelah kematian Anthonijs, ketika pengelolaannya masih di bawah ahli waris. Sebuah laporan dalam Java-bode (16 November 1880) menulis dengan nada mengagumkan:
“De kroon echter boven allen spant de suikerfabriek Pengkol der erven Anthonijs, welke 75 pikol per bouw zou gemaakt hebben, en zulks niettegenstaande men van de bekwaamheid en de energie van den tegenwoordigen administrateur geen groote verwachtingen koesterde.”
(Namun, yang memahkotai semua pabrik lainnya adalah pabrik gula Pengkol milik ahli waris Anthonijs, yang dilaporkan menghasilkan 75 pikul per bau, dan hal ini dicapai meskipun banyak pihak tidak memiliki harapan besar terhadap kemampuan dan energi administrator yang sekarang.)
Pencapaian 75 pikul per bau adalah angka fantastis pada zamannya. Sebagai perbandingan, satu pikul setara dengan sekitar 61,76 kg, dan satu bau setara dengan sekitar 7.000 m² (0,7 hektar). Jadi, dari setiap 0,7 hektar lahan tebu, pabrik Pengkol menghasilkan sekitar 4.632 kg gula—suatu tingkat produktivitas yang luar biasa untuk teknologi abad ke-19.
Ekspansi ke Pabrik Lain
Alexander Manuel Anthonijs bukan tipe pengusaha yang puas dengan satu kesuksesan. Ia melakukan ekspansi besar-besaran dengan mengakuisisi beberapa pabrik lain:
Tahun 1878: Pembelian Pabrik Seroenie
Pada tahun 1878, Anthonijs membeli Pabrik Gula Seroenie di wilayah Surabaya. Bataviaasch Handelsblad (8 Mei 1878) melaporkan:
“Naar wij vernemen is de Suikerfabriek Seroenie in de residentie Soerabaja zoo goed als verkocht voor f 800,000 aan den heer A. M. Anthonijs.”
(Menurut kabar yang kami terima, Pabrik Gula Seroenie di wilayah Surabaya hampir saja terjual seharga f 800.000 kepada Tuan A. M. Anthonijs.)
Nilai f 800.000 pada tahun 1878 adalah jumlah yang sangat besar—setara dengan sekitar 400 kg emas murni (dengan asumsi 1 gulden = 0,5 gram emas).
Januari 1879: Akuisisi Dua Pabrik “Alkmaar”
Hanya setahun kemudian, pada Januari 1879, Anthonijs kembali mengguncang industri gula. Ia membeli dua pabrik gula di Pasuruan yang dikenal dengan nama “Alkmaar” dan “Kademangan (Alkmaar 2)”. De Locomotief (1 Februari 1879) melaporkan:
“De beide Suikerfabrieken, bekend onder gedouwen… zijn te Pasoeroean onder den hamer gebracht. De gelukkige kooper is de heer A. M. Anthonijs, eigenaar der Suikerfabriek ‘de Goede Hoop’; en wel voor den spotprijs van 8 ton.”
(Kedua pabrik gula, dikenal dengan sebutan Alkmaar… telah dilelang di Pasuruan. Pembeli yang beruntung adalah Tuan A. M. Anthonijs, pemilik Pabrik Gula ‘De Goede Hoop’; dan itu dengan harga murah yaitu 8 ton [800.000 gulden].)
Detail penting dari akuisisi ini:
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Luas lahan | 1.768 bau (sekitar 1.237 hektar) |
| Nilai taksiran pajak | f 1.312.000 |
| Harga pembelian | f 800.000 (hampir setengah dari nilai taksiran) |
| Status lahan | Bukan sewa, tetapi erfpacht (hak guna usaha jangka panjang), terdaftar di kantor pajak |
Imperium Tiga Pabrik
Dalam waktu singkat, Anthonijs menguasai setidaknya tiga pabrik gula raksasa di wilayah Pasuruan dan Surabaya:
| No. | Nama Pabrik | Lokasi | Tahun Akuisisi |
|---|---|---|---|
| 1 | De Goede Hoop (Pengkol) | Pengkol, Pasuruan | (pabrik awal) |
| 2 | Seroenie | Wilayah Surabaya | 1878 |
| 3 | Alkmaar, Kademangan (Alkmaar2) | Pasuruan | 1879 |
Hubungan dengan Nederlandsch-Indische Handelsbank (NHM)
Untuk membiayai ekspansi dan operasional sehari-hari, Anthonijs bekerja sama dengan Nederlandsch Handelsbank (NHM), bank terbesar di Hindia Belanda. Ia mengikat kontrak konsinyasi dengan NHM, di mana bank menyediakan modal kerja sebagai imbalan hak pemasaran gula yang dihasilkan.
Namun, ketergantungan pada utang ini kelak menjadi bumerang bagi para ahli warisnya. Setelah Anthonijs meninggal, NHM perlahan-lahan menarik dukungannya, menyebabkan runtuhnya imperium yang ia bangun.
Kunjungan Gubernur Jenderal James Loudon (1878)
Pada tahun 1878, Gubernur Jenderal James Loudon (memerintah 1872–1875) melakukan perjalanan inspeksi ke Jawa Timur. Hubungan antara Anthonijs dengan Gubernur Jenderal Loudon tidak bersifat personal dalam arti persahabatan dekat, namun Loudon terkenal aktif menginspeksi proyek-proyek industri seperti pabrik gula dan jalur kereta api.
Berdasarkan program perjalanan yang dipublikasikan, Gubernur Jenderal dijadwalkan untuk:
- Disambut oleh Residen Pasuruan di perbatasan Pasuruan-Surabaya (16 Mei 1878)
- Mengunjungi pabrik gula milik Tuan Anthonijs di Pengkol
- Melanjutkan perjalanan ke Blauw Water (Pemandian Banyu Biru) untuk berekreasi
- Pada 18 Mei 1878 pukul 7 pagi, perjalanan dilanjutkan ke Malang dengan kereta kuda
- Di Lawang, disambut Asisten Residen dan Bupati Malang
- Mengunjungi peninggalan kuno di Singosari
- Kembali dengan kereta api dari Sukorejo ke perbatasan Surabaya-Pasuruan di Porong.
Kunjungan ini merupakan pengakuan resmi atas status Anthonijs sebagai salah satu pabrikan gula terkemuka di Jawa Timur pada zamannya.
Blauw Water (Banyu Biru) yang dikunjungi Gubernur Jenderal dalam perjalanan tersebut adalah pemandian alam yang terletak di Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan. Tempat ini sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit sebagai petirtaan (pemandian kuno) dan populer di kalangan elite Eropa sebagai tempat rekreasi.
Kekayaan dan Gaya Hidup
Inventaris Kekayaan
Dari dokumen lelang yang dilaksanakan pada tanggal 22-23 September 1879 (kurang dari sebulan setelah kematiannya), kekayaan Alexander Manuel Anthonijs dapat direkonstruksi secara rinci. Lelang ini dilaksanakan oleh Morbeck & Co. di rumah tinggal Pabrik Gula Pengkol.
Berikut adalah inventaris lengkap kekayaan Anthonijs berdasarkan dokumen lelang:
A. Perabot Ruang Tamu (Ameublement)
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| 2 Bangku | Dilapisi sutra rips, bersulam |
| 2 Kursi berlengan (Fauteuils) | Dilapisi sutra rips, bersulam |
| 12 Kursi | Dilapisi sutra rips, bersulam |
| 4 Bangku kaki (Voetenbankjes) | Dilapisi sutra rips, bersulam |
| Lemari pakaian (Kleerkasten) | Kayu mahoni solid |
| Lemari makan (Etenkasten) | Kayu mahoni solid dengan kawat kasa |
| Lemari pajang (Etagère- en Zilverkasten) | Dengan kaca cermin |
| Berbagai meja | Besar, kecil, bundar, lonjong, biasa, Fenanttafels, Knapen—semua dengan meja marmer |
B. Perabot Kamar
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Buffet | Kayu mahoni dengan meja marmer |
| Meja cuci (Waschtafels) | Dengan meja marmer |
| Meja malam (Nachttafels) | Dengan meja marmer |
| Meja tulis (Bureau Ministre) | Dilapisi kain hijau |
| Bantalan kursi bank | Berlapis indah (prachtig gevoerd) |
| Cermin besar | (Groote Spiegels) |
| Lukisan | Indah (prachtige Schilderijen) dalam bingkai berlapis emas |
| Kursi | Biasa, kursi goyang (Wipstoelen), kursi bayi (Luierstoelen) |
| Divan | (Divan- en Kamer-achtersels) |
| Meja permainan | (Speeltafels) |
| Meja makan | Luar biasa besar (buitengewoon groote Etenstafel) |
C. Pencahayaan
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Lampu gantung kristal | (Kristallen Kroonlampen) |
| Lampu gantung dan lampu tempel | (Hang- en staande Lampen) |
| Lampu gantung perunggu besar | Sangat cocok untuk societeiten (perkumpulan) |
| Regulator | (kemungkinan lampu atau perangkat pengatur waktu) |
| Pendules dan jam | (Pendules en Klokken) |
D. Barang Mewah dan Hiasan
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Karpet lantai (Vloertapijt) | Sangat indah (zeldzaam prachtig), baru, panjang 40 kaki (12 m) x lebar 30 kaki (9 m), buatan Inggris |
| Permadani Alkatif dan Rotan | – |
| Kabinet-orgel dan kotak musik | (Kabinet-orgel en Speeldoos) |
| Dua lemari es (Twee soliede Brandkasten) | Kemungkinan brandkast (lemari besi) atau ijskast (lemari es)—dari konteks ada “IJs-Machine en dito kist” di bagian lain, jadi kemungkinan ini lemari es yang solid |
E. Perak (Zilverwerk)
Anthonijs memiliki sejumlah besar barang perak asli dalam semua jenis (eene groote hoeveelheid echt Zilverwerk in alle genres), termasuk namun tidak terbatas pada:
| Barang Perak |
|---|
| Mangkuk sayur (Groenteschalen) |
| Nampan penyajian (Presenteerbladen) |
| Mangkuk sup (Soepterrines) |
| Mangkuk buah (Vruchtenschalen) |
| Tempat telur (Eierstellen) |
| Perlengkapan kopi dan teh (Koffie- en Theeserviezen) |
| Piring tertutup (Gedekte Schalen) dengan tutup kaca (Glasdekels) |
| Set garpu dan sendok |
| Sendok teh (Theelepels) |
| Garpu asam/salad (Zuurvorkjes) |
| Pisau dan garpu dengan gagang perak |
| Tempat botol (Flesschenbakjes) |
| Tempat sendok/garpu (Messenleggers) |
Dokumen menyebutkan bahwa daftar ini “terlalu banyak untuk disebutkan” (te veel om op te noemen).
F. Kristal, Kaca, dan Keramik
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Gelas halus | Beberapa set (diverse stellen fijne Glazen) dengan karaf (met Karaffen) |
| Cangkir dan piring Jepang | Beberapa lusin dengan tutup (eenige dozijnen Japansche Kopjes en Schoteltjes met deksels) |
| Perangkat makan porselen (Porceleinen Eetserviezen) | Termasuk satu set besar dengan dekorasi indah |
| Perangkat kopi dan teh porselen | Berlapis emas dan didekorasi |
G. Peralatan Khusus
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Mesin es (IJs-Machine) | – |
| Peti es (Dito kist) | – |
H. Tanaman dan Taman
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Bunga dan tanaman hias | (Bloemen en gekoeijde Planten) |
| Pièce de milieu (hiasan tengah) | Standar besi dengan pot bunga porselen yang sesuai |
| Pot bunga Cina | Dengan alas kaki/penopang (Chineesche Bloempotten met voetstukken) |
| Perabot taman besi | (IJzeren Tuin-ameublementen) |
| Patung | (Beelden) |
I. Koleksi Hewan
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Hewan asing (vreemde DIEREN) | Koleksi |
| Burung (VOGELS) | Koleksi |
| Sapi (KOEIEN) | – |
| Rusa (HERTEBEESTEN) | – |
J. Senjata dan Amunisi
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Senapan (Geweren) | – |
| Senapan trompet (Tromp-…) | Dalam peti |
| Achterladers (senapan isis) | Dalam peti |
| Amunisi | Persediaan melimpah (ruimen voorraad Munitie) |
| Pistol (Pistolen) | – |
| Pedang (Sabels) | – |
K. Seni dan Budaya Lokal
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Gamelan (EENE GAMELANG) | Satu set lengkap |
| Perlengkapan Topeng (TOPPENG-BENODIGDHEDEN) | Kemungkinan untuk tari topeng khas Pasuruan/Jawa |
Ini adalah temuan yang sangat menarik, menunjukkan bahwa Anthonijs tidak hanya seorang pengusaha Eropa yang tinggal di Hindia, tetapi juga memiliki apresiasi terhadap budaya lokal.
L. Kendaraan dan Hewan Tunggangan
Kereta Kuda (Wagens):
| Kereta | Keterangan |
|---|---|
| Tentwagen (Kereta tenda) | – |
| Coupé | – |
| Mylord | Dengan perlengkapan perak (met zilver gemonteerd) |
| Americaine | Dengan pegas gantung (op hangveeren) |
| Dogcart | – |
Semua kereta disebut sebagai “buatan Eropa dan seperti baru” (alle van Europeesch fabricaat en zoo goed als nieuw).
Kuda (Paarden):
| Jenis Kuda | Jumlah/Keterangan |
|---|---|
| Kuda Preanger (Prenger-paarden) | 3 pasang (hitam pekat, kelabu, putih) — disebut “prachtig” (cantik) |
| Kuda kereta Overlandsche | 2 pasang (Isabellen dan kelabu) |
| Kuda tunggang (Rijpaarden) | Beberapa ekor, jinak dan terlatih baik |
| Kuda Swan-River | Satu ekor (jenis khusus) |
| Kuda telganger dari Bima | Satu ekor, sangat cocok untuk penunggang wanita |
Keterangan tentang “Telganger”: Telganger (atau telgganger) adalah jenis kuda berjalan khusus (ambling horse) yang memiliki gaya berjalan halus dan nyaman untuk ditunggangi dalam jarak jauh—sangat cocok untuk penunggang wanita atau mereka yang menginginkan perjalanan yang tidak menggoncang.
Perlengkapan (Tuigen):
| Perlengkapan | Keterangan |
|---|---|
| Tuigen untuk satu dan dua pasang kuda | Berbagai jenis |
| Pelana Inggris | Dengan perlengkapannya (Engelsche Zadels met toebehooren) |
M. Perlengkapan Lainnya
| Barang | Keterangan |
|---|---|
| Perlengkapan istal (Stalgereedschappen) | – |
| Perlengkapan dapur (Keukengereedschappen) | – |
Estimasi Nilai Kekayaan
Meskipun tidak ada catatan pasti tentang total nilai kekayaan Anthonijs, kita dapat membuat estimasi berdasarkan data yang tersedia:
| Komponen | Estimasi Nilai (gulden) |
|---|---|
| Pabrik Seroenie (1878) | 800.000 |
| Pabrik Pengkol (estimasi) | 500.000 – 1.000.000 |
| Pabrik Kedemangan (estimasi) | 500.000 – 1.000.000 |
| Pabrik Alkmaar (estimasi) | 500.000 – 1.000.000 |
| Inventaris barang bergerak | 100.000 – 200.000 |
| Koleksi perak, kristal, porselen | 50.000 – 100.000 |
| Kereta dan kuda | 20.000 – 50.000 |
| Estimasi Total Kekayaan | 3.270.000 – 4.950.000 gulden |
Sebagai gambaran daya beli, 1 gulden emas pada tahun 1870-an memiliki berat sekitar 0,5-0,6 gram emas murni. Dengan harga emas saat ini (sekitar Rp 1.200.000 per gram), 1 gulden setara dengan sekitar Rp 600.000 – 720.000 dalam nilai sekarang.
Dengan demikian, kekayaan Anthonijs diperkirakan setara dengan Rp 1,96 triliun hingga Rp 3,56 triliun—sebuah kekayaan yang luar biasa untuk ukuran siapa pun di abad ke-19.
Kematian
Penyebab Kematian
Pada tanggal 26 Agustus 1879, Alexander Manuel Anthonijs meninggal dunia di kediamannya di Pengkol. Berita kematiannya dimuat dalam Bataviaasch Handelsblad edisi 1 September 1879:
“SOERABAJA, 26 Augustus. Naar wij vernemen is heden ochtend de heer M. Anthonijs van Pengkol overleden. Hij stierf ten gevolge van koud vuur bij een negenoog.”
(SURABAYA, 26 Agustus. Menurut kabar yang kami terima, pagi ini Tuan M. Anthonijs dari Pengkol meninggal dunia. Ia meninggal akibat koud vuur yang dideritanya selama sembilan hari.)
Istilah “koud vuur” (harfiah: “api dingin”) dalam istilah medis kuno kemungkinan merujuk pada demam tinggi disertai kedinginan ekstrem. Dokter-dokter pada masa itu menggunakan istilah ini untuk menggambarkan gejala-gejala seperti pada kasus:
- Malaria berat (dengan siklus demam-menggigil yang khas)
- Tifus abdominalis (demam tifoid)
- Radang paru-paru berat (pneumonia)
- Demam berdarah (dalam bentuk parah)
Penyakit-penyakit ini sangat umum di daerah tropis pada abad ke-19, terutama bagi orang Eropa yang belum memiliki kekebalan sempurna terhadap penyakit endemik Jawa. Anthonijs menderita penyakit ini selama sembilan hari (negenoog / negen oogen, “sembilan mata/hari”) sebelum akhirnya meninggal.
Penguburan
Dua hari setelah kematiannya, pada tanggal 28 Agustus 1879, iring-iringan jenazah diberangkatkan dari Pengkol menuju pemakaman umum Pasuruan. Bataviaasch Handelsblad (3 September 1879) melaporkan:
“Gisteren morgen, omstreeks 7 uren, bewoog zich op den weg van Pengkol naar den Godsakker alhier een lijkstoet, welke aller blikken trok. Zelfs de anders zoo onverschillige, flegmatieke dessabewoners schoolden bij groepen te zamen en staarden met belangstelling naar den somberen lijkwagen, door tal van rijtuigen gevolgd, welke het stoffelijk overblijfsel bevatte van een der rijkste suikerfabrikanten dezer residentie, den heer A. M. Anthonijs…”
(Kemarin pagi, sekitar pukul 7, sebuah iring-iringan jenazah melintas di jalan dari Pengkol menuju pemakaman umum di sini, yang menarik semua pandangan. Bahkan penduduk desa yang biasanya acuh tak acuh dan lamban itu berkumpul dalam kelompok-kelompok dan menatap dengan penuh perhatian ke arah kereta jenazah yang suram, diikuti oleh banyak kereta kuda, yang membawa jasad salah satu pabrikan gula terkaya di wilayah karesidenan ini…)
Iring-iringan mencapai pemakaman sekitar pukul 9 pagi. Di liang lahat yang terbuka, berdiri:
- Putra satu-satunya (berusia sekitar 11 tahun)
- Kedua saudara laki-laki almarhum
- Para kerabat, teman, dan kolega
Pastor Ellenbeek dari Surabaya—seorang pendeta Katolik Roma—memimpin upacara dan menyampaikan pidato perpisahan yang mengharukan.
Lokasi Makam dan Nisan
Alexander Manuel Anthonijs dimakamkan di Pemakaman Eropa Pasuruan (European Cemetery) di Bugul, yang sekarang terletak di Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.
Batu nisannya bertuliskan dalam bahasa Belanda:
HIER RUST
ALEXANDER MANUEL ANTHONIJS
GEBOREN DEN 18 JANUARY 1832
OVERLEDEN
DEN 26 AUGUSTUS 1879
(Di sini beristirahat / Alexander Manuel Anthonijs / lahir 18 Januari 1832 / meninggal 26 Agustus 1879)
Nomor makam yang tercatat adalah 892 / 577.
Wasiat dan Hibah Amal
Isi Wasiat
Salah satu dokumen paling berharga yang ditinggalkan Alexander Manuel Anthonijs adalah wasiatnya (Legaten) yang dibacakan dan dilaporkan setelah kematiannya. De Locomotief (9 September 1879) memuat daftar lengkap hibah wasiat tersebut:
“Wij ontvangen van welwillende hand de navolgende opgave van Legaten, gemaakt door den heer A. M. Anthonijs, in leven suikerfabrikant…”
(Kami terima dari tangan yang baik hati pemberian daftar hibah wasiat berikut ini, yang dibuat oleh almarhum Tuan A. M. Anthonijs, semasa hidupnya sebagai pabrikan gula…)
Berikut rincian lengkapnya:
| No. | Penerima | Jumlah (gulden) |
|---|---|---|
| 1 | Jongens-Weezen-inrichting (Panti Asuhan Anak Laki-laki) te Soerabaja | f 5.000 |
| 2 | Lembaga amal anak yatim (liefdadige gestichten) di tiga kota utama: Batavia, Semarang, dan Soerabaja (masing-masing) tanpa memandang aliran agama | f 5.000 per kota → f 15.000 total |
| 3 | Gereja Katolik Roma te Soerabaja | f 5.000 |
| 4 | Diakonie armen (kaum miskin yang dilayani oleh gereja) te Pasoeroean | f 1.000 |
| 5 | Voor den opbouw van een Roomsch Katholieke kerk te Pasoeroean (Untuk pembangunan sebuah Gereja Katolik Roma di Pasoeroean) | f 15.000 |
Total hibah yang tercatat: f 36.000
Analisis Nilai Hibah
Untuk memahami besarnya nilai f 36.000 pada tahun 1879, berikut perbandingannya:
- 1 gulden emas (1879) ≈ 0,5-0,6 gram emas murni
- Harga emas saat ini ≈ Rp 1.200.000 per gram
- Nilai 1 gulden dalam rupiah sekarang ≈ Rp 600.000 – Rp 720.000
- Total nilai hibah f 36.000 ≈ Rp 21,6 miliar – Rp 25,9 miliar
Makna Wasiat
Wasiat Anthonijs menunjukkan beberapa aspek penting tentang karakter dan pandangannya:
- Pluralisme agama: Sumbangan kepada lembaga amal anak yatim diberikan “tanpa memandang aliran keagamaan” (onverschillig van welke godsdienstige gezindheid). Ini adalah sikap yang terbilang maju pada zamannya, terutama di Hindia Belanda yang masyarakatnya masih sangat terbagi secara kolonial.
- Prioritas pada anak yatim: Tiga kota utama (Batavia, Semarang, Surabaya) masing-masing menerima f 5.000—menunjukkan perhatian besar pada pendidikan dan perawatan anak-anak yang kehilangan orang tua.
- Komitmen Katolik: Sebagai seorang Katolik Roma yang taat, ia memberikan sumbangan terbesarnya (f 15.000) untuk pembangunan gereja di Pasuruan, ditambah f 5.000 untuk gereja di Surabaya.
- Perhatian pada kaum miskin lokal: Sumbangan f 1.000 untuk “diakonie armen” di Pasuruan menunjukkan bahwa ia tidak melupakan komunitasnya sendiri.
Warisan yang Ditinggalkan
Warisan Alexander Manuel Anthonijs dapat dibagi menjadi beberapa kategori: warisan bisnis (pabrik-pabrik gula), warisan amal (gereja dan lembaga sosial), warisan properti (rumah dan tanah), serta warisan keluarga (makam dan keturunan).
Warisan Bisnis: Keruntuhan Dinasti Gula
Sayangnya, imperium bisnis yang dibangun Anthonijs dengan susah payah tidak bertahan lama setelah kematiannya. Para ahli waris—terutama putra-putranya yang masih di bawah umur (minderjarige erfgenamen)—tidak memiliki kemampuan atau pengalaman untuk mengelola kerajaan gula sebesar itu.
Garis waktu keruntuhan:
| Tahun | Peristiwa | Sumber |
|---|---|---|
| 1887 | Pabrik Pengkol tidak beroperasi karena “kekurangan modal kerja” (gebrek aan werkkapitaal) | De Locomotief, 14 Februari 1887 |
| 1887 | Pabrik Kedemangan juga tidak menggiling; tebunya dialihkan ke pabrik Alkmaar | De Locomotief, 14 Februari 1887 |
| November 1887 | Pabrik Pengkol akan dilelang pada 10 Desember | De Locomotief, 24 November 1887 |
| Januari 1888 | Pabrik Alkmaar dilelang dengan nilai taksiran f 1.312.000 | De Locomotief, 16 Januari 1888 |
De Locomotief (24 November 1887) menulis dengan nada getir tentang nasib keluarga Anthonijs:
“Slechte tijden zijn het anders, die wij tegenwoordig beleven… De erven A. M. Anthonijs, de eigenaren, zijn inderdaad niet gelukkig met hun suikerfabrieken… Van hun drie suikerondernemingen, bleef dus Alkmaar alleen doorwerken. Al die drie fabrieken, voor circa een half millioen, zoo niet meer, aan de Kactorij verpand, zullen derhalve wel aan de N. H. M. dienen overgedragen te worden.”
(Sungguh, masa-masa sulit yang kita alami sekarang… Para ahli waris A. M. Anthonijs sungguh tidak beruntung dengan pabrik gula mereka… Dari tiga perkebunan gula mereka, hanya Alkmaar yang tetap beroperasi. Ketiga pabrik tersebut, yang digadaikan kepada Kantor Cabang [NHM] dengan nilai sekitar setengah juta, atau lebih, kemungkinan besar harus dialihkan kepada NHM.)
De Locomotief (16 Januari 1888) menambahkan:
“De erven A. M. Anthonijs, dien die kolossale en eertijds zoo prachtig rendeerende onderneming toebehoort, zien op die wijze haar bezittingen, de eene na de andere, in vreemde handen overgaan… wel zijn de erven Anthonijs er slecht aan toe.”
(Para ahli waris A. M. Anthonijs, yang memiliki perusahaan raksasa dan dahulu menghasilkan keuntungan luar biasa ini, dengan cara ini melihat harta kekayaan mereka, satu per satu, berpindah ke tangan orang lain… sungguh, para ahli waris Anthonijs berada dalam keadaan yang buruk.)
Penyebab utama keruntuhan:
- Ketergantungan utang kepada NHM: Ketiga pabrik digadaikan dengan hipotek sekitar setengah juta gulden
- Tidak adanya figur sentral pengganti: Anthonijs adalah otak di balik kesuksesan bisnis
- Kondisi fisik pabrik yang memburuk: Mesin, bangunan, dan kebun tebu dalam kondisi “sangat terabaikan” (zeer verwaarloosd)
- Penolakan NHM untuk memberikan modal kerja lebih lanjut
Warisan Arsitektur : Gereja Katolik Santo Antonius Padua
Salah satu warisan fisik Anthonijs yang paling nyata dan masih berdiri hingga saat ini adalah Gereja Katolik Santo Antonius Padua di Jalan Balaikota (dahulu Heerenstraat), Pasuruan.
Latar Belakang Pembangunan
Berdasarkan wasiatnya, Anthonijs menyisihkan f 15.000 untuk pembangunan sebuah gereja Katolik di Pasuruan. Jumlah ini adalah hibah terbesar dalam wasiatnya—tiga kali lipat dari sumbangan untuk lembaga amal di masing-masing kota utama lainnya.
Pembangunan gereja ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Anthonijs meninggal pada tahun 1879, tetapi gereja baru diresmikan 16 tahun kemudian.
Peresmian Gereja
Gereja ini secara resmi diberkati dan ditahbiskan pada tanggal 28 Juli 1895 oleh Mgr. Walterus Jacobus Staal, Uskup Batavia saat itu (kemudian menjadi Uskup Agung Batavia). Nama resmi gereja ini adalah Gereja Katolik Santo Antonius dari Padua—yang juga merupakan santo pelindung keluarga Anthonijs.
Pemilihan santo pelindung ini bukan kebetulan; itu adalah penghormatan langsung dari keluarga Anthonijs kepada pelindung surgawi mereka.
Lokasi dan Arsitektur
Gereja ini terletak di kawasan elite Heerenstraat (Jalan Tuan-Tuan), yang merupakan pusat permukiman orang-orang Eropa terkemuka di Pasuruan pada masa kolonial. Kuat dugaan gereja dibangun di lahan milik keluarga Anthonijs sendiri. Di jalan yang sama juga berdiri rumah keluarga Anthonijs yang kelak disewa dan kemudian dibeli untuk dijadikan Hotel Marine/Hotel Morbeck.
Hingga saat ini, Gereja Santo Antonius Padua masih berfungsi sebagai tempat ibadah dan menjadi salah satu landmark sejarah penting di kota Pasuruan.

Makam Keluarga Anthonijs di European Cemetery Pasuruan
Keluarga Anthonijs dimakamkan di Pemakaman Eropa Pasuruan. Selain Alexander Manuel Anthonijs sendiri, terdapat setidaknya 10 anggota keluarga lainnya yang dimakamkan di lokasi yang sama.
Daftar Lengkap Anggota Keluarga Anthonijs yang Dimakamkan di Pasuruan
| No. | Nama | Lahir | Meninggal | Usia | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Christina Anthonijs | 3 Apr 1818 | 24 Mar 1887 | 68 tahun | Kakak perempuan |
| 2 | Adriana Wilhelmina Anthonijs | 25 Jul 1825 | 20 Jun 1887 | 61 tahun | Kakak perempuan |
| 3 | Alexander Manuel Anthonijs | 18 Jan 1832 | 26 Agu 1879 | 47 tahun | Tokoh utama |
| 4 | Johannes David Anthonijs | 14 Apr 1836 | 31 Des 1890 | 54 tahun | Adik laki-laki |
| 5 | C. W. Anthonijs | 14 Mar 1837 | 8 Jul 1888 | 51 tahun | Adik laki-laki |
| 6 | Susanna Maria Anthonijs (née Fischer) | 18 Okt 1843 | 27 Agu 1892 | 48 tahun | Istri |
| 7 | Annetta Rosamunda Anthonijs (née v.d. Linden) | 20 Sep 1849 | 30 Mei 1917 | 67 tahun | Kemungkinan menantu |
| 8 | Antonia Elizabeth Varkevisser (née Anthonijsz) | 23 Jan 1853 | (1853) | 9 bulan 15 hari | Bayi, keponakan |
| 9 | Henriette Ernestine Zeil (née Anthonijs) | 23 Des 1875 | 1 Mei 1897 | 21 tahun | Putri |
| 10 | Carolina Serafina Anthonijs | 23 Jul 1881 | 9 Feb 1882 | 6,5 bulan | Bayi, kemungkinan cucu |
| 11 | Alex Anthonijs | 7 Des 1879 | 15 Apr 1900 | 20 tahun | Putra |
Status Terkini Makam
Makam-makam keluarga Anthonijs beserta makam Eropa lainnya di Bugul tidak berbekas sama sekali.
Refleksi dan Kesimpulan
Makna Sejarah
Alexander Manuel Anthonijs adalah representasi dari kapitalisme kolonial abad ke-19 yang dinamis namun rapuh. Ia adalah seorang wiraswasta sejati—membangun dari awal, mengakuisisi dengan cerdik, dan mengelola dengan tangan besi. Namun, ia juga terperangkap dalam sistem utang yang pada akhirnya menghancurkan warisan bisnisnya.
Kisah Anthonijs juga mencerminkan dinamika yang lebih besar dari ekonomi Hindia Belanda pada masa Kultur Stelsel (Sistem Tanam Paksa, 1830-1870) dan transisi menuju liberalisasi ekonomi (1870-an ke atas). Para pengusaha swasta seperti Anthonijs adalah produk dari era liberalisasi ini—mereka diberi kesempatan untuk bersaing, namun juga dapat dengan mudah jatuh jika tidak dikelola dengan hati-hati.
Pelajaran untuk Masa Kini
Dari perjalanan hidup Alexander Manuel Anthonijs, kita dapat memetik beberapa pelajaran:
- Pentingnya regenerasi kepemimpinan: Kesuksesan yang berpusat pada satu figur sentral sangat rentan. Tanpa perencanaan suksesi yang matang, imperium bisnis dapat runtuh dalam waktu singkat setelah pendirinya tiada.
- Bahaya ketergantungan utang: Bahkan raja gula sekalipun bisa tumbang oleh kreditur. Anthonijs membangun kerajaannya di atas utang kepada NHM, dan setelah ia meninggal, para ahli warisnya tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut.
- Nilai kedermawanan: Wasiat Anthonijs menunjukkan bahwa ia tidak hanya menimbun kekayaan, tetapi juga peduli pada anak yatim, kaum miskin, dan komunitas keagamaannya. Sumbangan terbesarnya (f 15.000) untuk pembangunan gereja di Pasuruan adalah warisan abadi yang masih dapat kita saksikan hingga saat ini.
- Perhatian pada budaya lokal: Koleksi gamelan dan perlengkapan topeng dalam inventarisnya menunjukkan bahwa Anthonijs bukan sekadar ekspatriat yang hidup dalam eksklave Eropa, tetapi seseorang yang memiliki apresiasi terhadap budaya Jawa—suatu sikap yang terbilang langka di kalangan pengusaha Eropa pada zamannya.
- Warisan yang melampaui bisnis: Meskipun pabrik-pabrik gulanya runtuh, nama Anthonijs tetap diabadikan melalui gereja yang ia bangun.
Epilog: Hier Rust
Batu nisan Alexander Manuel Anthonijs di Makam Eropa di Pasuruan sudah tidak berbekas. Nama Pabrik Gula “Pengkol” mungkin hanya dikenal oleh segelintir penduduk tua di sekitar bekas pabrik. Namun, bagi para sejarawan ekonomi dan pecinta sejarah Hindia Belanda, Alexander Manuel Anthonijs adalah simbol dari sebuah era: ketika uap dan tebu menggerakkan roda ekonomi kolonial, dan satu nyawa manusia bisa membangun—juga menghancurkan—sebuah imperium.
Seperti yang tertulis dalam nisannya:
HIER RUST ALEXANDER MANUEL ANTHONIJS
Di sini beristirahat…
Namun warisannya tentang ambisi, ekspansi, kedermawanan, dan perhatian pada komunitas tetap hidup dalam arsip-arsip tua, dalam batu-batu gereja yang masih berdiri kokoh, dan dalam cerita tentang sebuah keluarga Eropa yang pernah menguasai langit Pasuruan—sebelum akhirnya bumi berkata pada debunya: Hier rust.
Sumber :
Berdasarkan dokumen-dokumen asli abad ke-19 (surat kabar, dokumen lelang, berita kematian, catatan wasiat) serta data-data arkeologis dan arsitektural dari Kota Pasuruan.
Pasuruan, 2025
Catatan Tambahan :
- Banyak tulisan yang beredar menyebut bahwa Alexander Manuel Anthonijs adalah pengusaha sukses yang bekerja di POJ (Proefstation Oost Java atau sekarang dikenal dengan P3GI). Narasi ini sekaligus meluruskan kesalahan yang ada. POJ di Pasuruan baru berdiri pada tahun 1887, atau 8 (delapan) tahun setelah kematian A. M. Anthonijs di 1879.

