Kehidupan Di Bawah Rezim Baru
Kejadian Lucu: Tentara Jepang Lari Ketakutan (Mei 1942)
Di suatu hari Minggu pagi, sekitar 20 tentara Jepang yang dipimpin seorang perwira memasuki halaman biara. Mereka melihat bangsal olahraga beratap di belakang asrama putra dan memutuskan untuk berlatih senam di sana.
Mereka membuka gerbang dengan suara keras dan berbaris masuk sambil berteriak-teriak. Anak-anak kecil yang sedang bermain tercerai-berai.
Sr. M. Gijsberdina, seorang suster kecil berjubah putih, mendengar keributan itu. Dengan tenang, ia berjalan menuju bangsal olahraga. Begitu para “penakluk dunia” itu melihat sosok putih kecil mendekat, mereka langsung panik. Para prajurit dan perwira itu saling bertubrukan, berteriak, dan lari tunggang-langgang keluar gerbang.
“Gingen alle zuiveringsacties toch eens zo gemakkelijk! Jammer dat die schrik voor ons er niet in bleef, dat had ons heel wat ellende kunnen besparen.”
(Andaikan saja semua aksi “pembersihan” berjalan semudah itu! Sayang sekali ketakutan terhadap kami itu tidak bertahan lama, itu akan menyelamatkan kami dari banyak penderitaan.)
Pendaftaran “Orang Asing” (1 Juli 1942)
Pada tanggal 1 Juli 1942, pendaftaran untuk “vreemdelingen” (orang asing) dimulai:
- Setiap pria Belanda di atas 16 tahun harus membayar f 150,- (gulden).
- Setiap wanita Belanda harus membayar f 80,-.
- Itu untuk “perlindungan” yang akan diberikan Jepang.
- Jika tidak membayar, seseorang dianggap sebagai buronan (vogelvrij verklaard).
Beban finansial : Saat itu ada 47 suster Belanda dan 2 suster Tionghoa yang bekerja di misi. Jumlah yang harus dibayar sangatlah besar.
Pertolongan dari Bupati : Bupati Probolinggo, R. A. A. Poedjo, seorang Indonesia terkemuka dan Kristen yang taat, membantu mereka. Ia berhasil mengatur agar uang pendaftaran dapat dibayar dalam empat kali angsuran. Ia juga secara diam-diam mengizinkan sekolah-sekolah Indonesia tetap berjalan, meskipun semua pendidikan swasta dilarang.
Nasib tragis Bupati Poedjo : Sekitar satu tahun kemudian, ia ditangkap, dibawa ke Batavia, dan dihukum mati oleh Jepang karena keberaniannya menentang Jepang dan banyak membela orang Belanda.
“Hij was niet alleen een goed man, maar ook een oprecht Christen, die in deze moeilijke tijden z’n kracht putte uit een dagelijks gebed en een groot vertrouwen op God.”
(Dia bukan hanya orang baik, tetapi juga seorang Kristen sejati, yang pada masa-masa sulit ini menarik kekuatannya dari doa sehari-hari dan keyakinan besar kepada Tuhan.)
Kejadian di Hari Sabtu Pagi
Pagi itu, 11 Juli 1942, suasana di biara Probolinggo seperti biasa. Para suster sedang membersihkan rumah ala Belanda—karena tak punya uang untuk membayar banyak pembantu. Moeder Oda, pemimpin misi yang disegani, duduk di serambi depan bersama Frater Direktur Clemens Tehuis yang sedang membicarakan beberapa hal.
Tiba-tiba, dua agen polisi melangkah masuk.
“Mengikuti perintah Kepala Ken Pai Tay, Moeder harus segera datang ke kantor polisi.“
Frater Directeur segera pamit. Moeder Oda pergi ke kamarnya sebentar, memberi tahu seorang suster yang sedang membersihkan, “Panggil Suster Martha. Bilang pada yang lain, aku keluar sebentar tapi akan segera kembali.“
Dia tidak tahu bahwa “sebentar” itu akan berubah menjadi hari-hari paling mencekam dalam hidupnya. Ini adalah awal dari apa yang kemudian dikenal sebagai “Kasus Australia“.
Kasus Australia – Ketika Keramahan Menjadi “Kejahatan”
Tumpangan Malam yang Berbahaya
Cerita ini bermula dari sebuah tindakan keramahan yang dianggap biasa. Beberapa hari sebelumnya, lima orang Katolik—dua pria, tiga wanita—singgah di Pastoran Probolinggo. Mereka sedang dalam perjalanan tetapi tidak bisa mencapai tujuan pada malam itu.
Pastor Scheurink, gembala yang baik hati, menawari para pria untuk bermalam di pastoran. Lalu ia menelepon biara: apakah ketiga wanita itu boleh bermalam di asrama putra yang sedang kosong?
Moeder Oda menyetujui. Sejak pendudukan Jepang, koneksi kereta api ke ujung timur Jawa memburuk, dan para suster sudah beberapa kali menampung wanita yang sedang dalam perjalanan. Ini adalah hal yang dianggap “biasa” saat itu.
Ternyata, jauh dari biasa.
Kelima orang itu tidak sedang dalam perjalanan biasa. Mereka merencanakan pelarian ke Australia. Pada malam kedua, tanpa pamit, mereka menghilang. Mereka ditemukan oleh polisi di pinggir sungai di luar kota Probolinggo—sedang menuju ke laut dengan perahu kecil.
Moeder Oda dan Pastor Scheurink Diseret ke Malang
Karena telah memberi tumpangan untuk menginap, mereka pun terseret. Di kantor polisi, setelah menunggu berjam-jam, Moeder Oda diperintahkan naik ke truk terbuka. Kelima petualang itu sudah duduk terborgol di bangku. Ikut juga seorang wanita yang memberi akomodasi hotel dan penjual perahu.
Untuk Pastor Scheurink dan Moeder Oda, tidak ada kursi yang disediakan. Hanya ada tumpukan bagasi tak beraturan. Satu-satunya pilihan: duduk membelakangi satu sama lain di atas bagasi itu, di bawah terik matahari tropis, tanpa perlindungan apa pun.
Tiga tentara Nippon dan satu polisi Indonesia menemani perjalanan sejauh 98 kilometer menuju Malang.
Interogasi yang Mendebarkan
Sesampainya di Malang, kelima petualang langsung ditahan. Moeder Oda dan Pastor Scheurink beruntung—mereka hanya dianggap saksi.
Hari pertama dan kedua hanya diisi dengan menunggu. Pada hari ketiga, Pastor Scheurink diinterogasi lebih dulu—satu setengah jam dengan pertanyaan jebakan yang rumit.
Lalu giliran Moeder Oda.
Sejak awal, ia diberitahu bahwa seorang suster “Katolik Roma” pasti akan mengatakan yang sebenarnya. Seorang pemuda Jepang dipanggil menjadi penerjemah. Pemuda ini memiliki dua saudara perempuan yang bersekolah di sekolah Suster di Malang. Karena itu, ia bersikap baik.
Setelah setengah jam berbagai pertanyaan—perlu, tidak perlu, licik, dan tidak masuk akal—hakim Nippon menyatakan kesucian Moeder Oda terbukti.
Ia diizinkan pulang ke Probolinggo keesokan harinya.
Sehari kemudian, tepat pada hari raya Bunda Maria dari Gunung Karmel, Pastor Scheurink juga kembali dengan selamat. Para suster meyakini: Bunda Maria telah membawa mereka berdua kembali ke pelabuhan yang aman.
“Onze Hemelse Moeder Maria had beiden weer in veilige haven gebracht.”
“Bunda Maria di Surga telah membawa mereka berdua kembali ke tempat yang aman.”

Tahun Penuh Suka Duka – Ketika “Perlindungan” Menjadi Siksaan
Interniran dan Pita Merah di Lengan
Tiga hari setelah “Kasus Australia” mereda, kabar buruk baru datang. 17 Juli 1942, semua pria Belanda non-pejabat yang masih bebas diinternir. Hanya orang sakit dan “bangsa pendita” (golongan rohaniwan) yang dikecualikan.
Mulai saat itu, setiap pastor, frater, suster, dan wanita Belanda diwajibkan mengenakan pita merah lebar 12 cm di lengan kiri ketika keluar rumah. Konon untuk “perlindungan“.
Ah… andai saja tindakan mereka selalu sesuai dengan kata-kata mereka.
“Perlindungan” itu ternyata berarti: semakin sering diganggu. Jepang datang tanpa pemberitahuan, masuk ke kamar dan sekolah sesuka hati. Moeder Oda dipanggil ke berbagai kantor untuk urusan sepele—berjam-jam menunggu, mengisi daftar panjang, memberikan data yang sama berulang kali.
Penggerebekan 26 Polisi di Biara Probolinggo (6 Februari 1943)
Puncak dari tekanan ini terjadi pada tanggal 6 Februari 1943. Moeder Oda dipanggil ke kantor Ken Pai Tay. Itu taktik pengalihan.
Sementara ia pergi, sekitar 26 agen polisi menggerebek biara. Semua suster dan anak-anak dikumpulkan di kapel. Hanya beberapa suster yang diperbolehkan menemani polisi dalam penggeledahan.
Setiap kastil dibuka. Setiap kotak kancing dan tempat pena diperiksa. Tidak ada yang luput.
Hasilnya? Nihil. Tidak ada senjata. Tidak ada dokumen berbahaya.
Barang bukti yang ditemukan: beberapa bendera merah-putih-biru kecil dan topi oranye dari taman kanak-kanak. Itu saja.
Para agen pulang membawa barang-barang sepele itu. Para suster hanya bisa geli—meskipun ketakutan terus menyelimuti.
“Het was werkelijk belachelijk zo’n schare van gewapende mannen met zo’n paar onbenulligheden te zien vertrekken.”
(Sungguh konyol melihat sekawanan pria bersenjata seperti itu pergi dengan beberapa barang sepele.)
Insiden Bendera – Suster Dipaksa Meminta Maaf Tiga Kali
Hari Propaganda yang Kacau
Tanggal 10 Juli 1943, Jepang menetapkan “Hari Propaganda Luar Biasa“. Pawai besar digelar dengan slogan-slogan seperti: “Verbrijzel Engeland, Amerika en Nederland!” (Hancurkan Inggris, Amerika, dan Belanda!).
Semua orang wajib mengibarkan bendera Jepang. Para suster terpaksa mematuhi.
Telepon dari Ken Pai Tay
Siang hari, tepat saat pawai akan dimulai, telepon biara berdering.
“Dengan Ken Pai Tay! Siapa yang mengibarkan bendera untuk asrama putri di Zeestraat?” suara kasar dalam bahasa Melayu.
“Seorang suster,” jawab suster di telepon dengan malu-malu.
“Kalau begitu, suster itu harus segera datang ke Ken Pai Tay.“
Suster yang dimaksud adalah Sr. M. Edeltruda.
Apa masalahnya? Bendera itu ternyata berkibar setengah tiang. Bukan karena niat berkabung, tetapi karena tali di kait atas terlepas akibat angin, sehingga bendera melorot ke tengah.
Namun bagi Jepang, di “Hari Propaganda“, ini adalah bentuk penghinaan.
Sidang Singkat yang Memalukan
Sr. Edeltruda pergi ditemani Sr. M. Josine. Di kantor, seorang perwira Jepang dan beberapa Nippon lainnya menginterogasi mereka. Kapan bendera dikibarkan? Bagaimana cara memasangnya? Mengapa setengah tiang?
Para suster memberi keterangan setengah Belanda setengah Melayu. Bahkan sebuah gambar dibuat untuk memperjelas bahwa tali putus karena angin.
Setelah semua jelas, perwira itu memberikan teguran keras—seolah berbicara dengan seorang murid sekolah.
Dan kemudian, hukuman yang sesungguhnya:
“Maar eerst moest ze netjes aan Nippon drie keer om vergiffenis vragen.”
(Tetapi pertama-tama, ia harus dengan sopan meminta maaf kepada Nippon tiga kali.)
Dia sendiri mengucapkan kata-kata yang harus diulang: “Minta maaf Toean“
Sr. Edeltruda menuruti penghinaan itu. Demi lepas dari masalah.
Ia diizinkan pulang—tepat saat pawai lewat. Para suster kemudian bisa tertawa mengenang “sidang” itu. Tetapi setiap panggilan ke Ken Pai Tay tetaplah membuat jantung berdebar.
“De Zusters van O. L. Vrouw schijnen nogal onschuldige gezichten te kunnen zetten.”
(Para Suster O. L. Vrouw sepertinya bisa memasang wajah yang sangat polos.)
Keberangkatan Pastor – Ketika Tabernakel Ditutup untuk Pertama Kalinya
Pukulan Terberat bagi Misi Katolik
Tanggal 29 Agustus 1943 menjadi hari bersejarah yang menyedihkan. Setelah berkali-kali mengancam, interniran untuk para rohaniwan akhirnya menjadi kenyataan.
Semua pastor, frater, dan bruder Belanda di Jawa diinternir di Malang. Hanya 2 pastor Jawa yang tersisa untuk wilayah seluas hampir seluruh Belanda.
Umat Katolik kehilangan gembala mereka. Para suster kehilangan imam.
Misa Terakhir di Probolinggo
Di Probolinggo, hari keberangkatan jatuh pada hari Minggu. Pukul delapan pagi, Pastor Scheurink merayakan Misa khidmat untuk terakhir kalinya. Para frater yang juga akan diinternir menyanyikan lagu-lagu terindah mereka.
Pada Komuni Kudus, semua Hosti dikonsumsi. Tidak ada yang tersisa.
Setelah itu, tabernakel ditutup. Untuk pertama kalinya sejak 1926, kapel itu tanpa kehadiran Sakramen Mahakudus.
Halaman gereja dipenuhi umat paroki yang menangis. Mereka berpamitan dengan Gembala tercinta.
Perpisahan dengan Para Suster
Sekitar pukul sebelas, Pastor Scheurink mengunjungi biara untuk terakhir kalinya. Hanya sedikit kata yang dipertukarkan—semua terlalu terharu.
Satu berkat imam terakhir, dan sang gembala bergegas menuju kereta.
Para frater juga pergi. Perawatan 40 anak laki-laki yang tertinggal di Clemens-Tehuis diserahkan kepada Sr. M. Josine, Sr. M. Anna, dan Sr. M. Ludgera.
Pastor ten Kroode, pastor kedua, sudah ditangkap sejak 24 Januari 1943. Ia baru akan bergabung dengan rekan-rekannya di kamp setelah berbulan-bulan di penjara.
“Wat een slag zou het voor onze Missie zijn.”
(Betapa berat dampaknya bagi Misi kami.)
Hari Ratu 1943 – Ketika Kecurigaan Jepang Gagal Total
Perangkap yang Dirancang
Tanggal 31 Agustus 1943, Hari Ulang Tahun Ratu Belanda. Jepang tahu bahwa setiap orang Belanda yang sejati akan memberikan penghormatan kepada keluarga Oranye—meskipun secara diam-diam. Mereka berasumsi para suster pasti akan melakukan sesuatu.
Maka, Ken Pai Tay mengirim agen mereka untuk mengintai, masuk melalui pintu berbeda, dan menginterogasi anak-anak.
Suster-Suster Indonesia Tidak Tergoyahkan
Taktik yang lebih halus: mereka memanggil suster-suster Indonesia dan novis Jawa untuk diinterogasi secara terpisah. Ruangan dengan pintu tertutup. Dua tentara Nippon dengan senapan terisi berdiri di kedua sisi meja. Intimidasi total.
Pertanyaan yang diajukan:
“Apakah Anda diperlakukan sama dengan suster Belanda?”
“Apakah Anda mendapat makanan yang sama?”
“Tidakkah Anda lebih suka memisahkan diri dan membentuk perkumpulan suster Jawa sendiri?”
“Apa yang akan Anda lakukan jika suster Belanda diinternir?”
Jawaban mereka tegas dan bermartabat:
“Wij leiden precies hetzelfde leven als de Hollandse Zusters, dragen dezelfde kleren, eten mee aan dezelfde tafel en willen altijd bij haar blijven. Als de Hollandse Zusters geïnterneerd worden, dan zouden wij het liefst met onze Moeder en met al de Zusters gaan, waar zij ook gaan.”
(Kami menjalani kehidupan yang sama persis dengan Suster-suster Belanda, memakai pakaian yang sama, makan di meja yang sama, dan ingin tetap bersama mereka selamanya. Jika Suster-suster Belanda diinternir, maka kami ingin pergi bersama Moeder dan semua Suster, ke mana pun mereka pergi.)
Upaya untuk memecah belah komunitas gagal total. Hasil penyelidikan bagi Jepang: nihil.
Di Balik Kawat Berduri – Terkurung di Rumah Sendiri
Menjual Harta Sebelum Dirampas
Para suster menyadari bahwa hari kehilangan kebebasan total sudah dekat. Mereka mulai menjual perabotan—kursi, meja, lemari, mesin jahit, bahkan porselen. Halaman biara berubah menjadi “Bijenkorf” (toko serba ada) raksasa. Para suster ternyata pandai berjualan.
Polisi kemudian melarang penjualan. Mereka merasa para suster terlalu sukses berbisnis.
Tidak Boleh Keluar Lagi (11 September 1943)
Tanggal 11 September 1943 pukul 3.30 sore, seorang agen polisi datang dengan perintah tegas: “Tidak boleh keluar lagi.“
Semua gerbang dan pintu luar ditutup. Penjaga ditempatkan di depan rumah. Ketiga babu dan tiga pembantu Jawa yang setia hanya diizinkan masuk pagi dan keluar sore—setelah diperiksa dengan ketat.
Para suster menjadi tahanan di rumah mereka sendiri.
Konsumsi Hosti Kudus Terakhir (13 September 1943)
Situasi semakin kritis. Bisa saja mereka diusir kapan saja tanpa persiapan. Moeder Oda tidak berani bertanggung jawab lagi menyimpan Sakramen Mahakudus.
Maka pada 13 September, ia mengonsumsi satu-satunya Hosti Kudus terakhir yang masih tersimpan di kapel.
Sejak saat itu, kapel menjadi sunyi.
Tabernakel yang dulu menjadi pusat doa dan harapan, kini hanya lemari kosong.
29 Anak Asuh yang Harus Ditinggalkan
Di asrama masih ada 40 anak. Sebagian masih memiliki keluarga—11 di antaranya berhasil ditempatkan. Namun 29 anak tidak punya tempat tinggal. Mereka tidak bisa ikut ke Malang. Mereka harus ditinggalkan bersama suster-suster Indonesia dan Tionghoa.
Pengusiran dari Probolinggo (30 September 1943)
Pemberitahuan resmi datang: mereka harus pergi ke kamp De Wijk di Malang pada 30 September.
Pagi itu, setelah doa bersama dan sarapan singkat, perpisahan dimulai.
“Het afscheid tussen Zusters en kinderen was hartroerend. Met tranen in de ogen bleef het kleine groepje Zusters met 29 schreiende kinderen achter.”
(Perpisahan antara Suster dan anak-anak sangat mengharukan. Sambil menangis, kelompok kecil Suster dengan 29 anak yang menangis tertinggal.)
Mereka naik dokar (kereta kecil ditarik kuda) menuju stasiun. Doel, mantan pembantu tua yang sudah uzur, bersepeda di belakang setiap kereta sambil berteriak:
“Tabé Moeder, tabé Suster!” (Selamat tinggal, Moeder! Selamat tinggal, Suster!)
Di stasiun, kekacauan terjadi. Lima suster ketinggalan kereta pertama. Ketika mereka mencoba kembali ke biara, mereka tidak diizinkan masuk. Pintu biara sudah disegel. Kapel sedang dikosongkan untuk tujuan lain.
Janji manis Walikota bahwa ia akan “merawat segalanya” ternyata hanya kemunafikan.
Diusir Dari Probolinggo Setelah 17 Tahun
Dalam waktu kurang dari dua tahun sejak Jepang masuk, para suster kehilangan:
| Apa yang Hilang | Kapan |
|---|---|
| Sekolah dan kebebasan mengajar | April 1942 |
| Pejabat pelindung mereka | April 1942 |
| Kebebasan bergerak (wajib pita merah) | Juli 1942 |
| Privasi (penggerebekan) | Februari 1943 |
| Martabat (dipaksa minta maaf) | Juli 1943 |
| Imam dan Sakramen Mahakudus | Agustus 1943 |
| Kebebasan (dikurung di rumah) | September 1943 |
| Rumah dan biara mereka | 30 September 1943 |
Namun sesuatu yang tidak pernah hilang: iman dan solidaritas.
Para suster Indonesia dan Tionghoa tetap setia meskipun diadu domba. Moeder Oda tetap memimpin meskipun nyaris dihukum mati. Bahkan di tengah penghinaan “Insiden Bendera”, mereka masih bisa tertawa.
Mereka meninggalkan Probolinggo dengan air mata, tetapi tidak dengan keputusasaan.
Tabé, Probolinggo. Tabé, anak-anak asuh yang kucintai. Kami akan kembali.
“Zonder het te willen, heeft deze Zuster een der wezenskenmerken van deze Congregatie treffend belicht: een diep geloof in het Rijk Gods en daaraan beantwoordend een rustelooze drang naar rusteloos werken.”
(Tanpa disadari, Suster ini telah menyoroti dengan tepat salah satu ciri hakiki Kongregasi ini: iman yang mendalam kepada Kerajaan Allah dan, sebagai tanggapannya, dorongan semangat untuk bekerja tanpa lelah.)
— Mgr. A. E. J. Albers, O. Carm. (Kata Pengantar, 1948)
Bersambung Bagian III
Postingan Terkait :
Kisah Para Suster Probolinggo : Derita Melintasi Era Rezim Jepang dan Badai Revolusi (Bagian I)

