Berawal dari 7 (tujuh) orang suster pionir dari Kongregasi Onze Lieve Vrouw van Amersfort dengan salib kecil di dada dan mimpi besar di hati. Mereka datang ke Probolinggo pada tahun 1926, membangun kerajaan kasih di tanah rantau.

Tujuh belas tahun mereka mengabdi. Mendirikan sekolah, asrama, mendidik ribuan anak, dan merawat yang sakit. Hingga gelombang pertama datang.

Pendudukan Jepang di tahun 1942 merenggut segalanya. Sekolah-sekolah dan asrama yang mereka bina ditutup. Para Pastor diinternir dan tabernakel kapel ditutup. Moeder Oda (Sr. Oda van der Post/Tokoh Sentral), pemimpin mereka, diseret ke Malang hanya karena memberi tumpangan untuk menginap kepada orang yang hendak kabur ke Australia. Sr. Edeltruda dipaksa meminta maaf tiga kali karena bendera Jepang berkibar setengah tiang—akibat tali putus.

Mereka kemudian diusir ke kamp De Wijk di Malang, namun kemudian dipindah ke kamp-kamp maut: Karang Panas, Lampersari. Dimana kelaparan, penyakit, kutu busuk, dan kematian menjadi santapan sehari-hari.

Mereka mengira perang usai di Agustus 1945 adalah akhir dari penderitaan. Namun badai revolusi membawa luka baru. Kemerdekaan yang dideklarasikan justru memisahkan mereka. Listrik diputus. Pasar menolak menjual makanan. Mereka dikucilkan di tanah yang telah dilayani puluhan tahun.

Sebuah buku mengungkap kesaksian nyata para suster tentang iman yang tidak patah. Tentang doa di bawah pohon rindang karena tak ada lagi imam. Juga tentang Hosti Kudus yang diselundupkan ke kamp bagaikan zaman katakombe. Tentang suster yang kelaparan namun tetap membagikan jatah terakhirnya.

Semoga kisah ini tidak hanya mengingatkan kita pada derita di masa lalu, tetapi juga menyalakan cahaya keteguhan jiwa kemanusiaan dalam diri kita.

Tabé Moeder… Tabé Suster.

Tujuh suster pertama dari Kongregasi “Onze Lieve Vrouw van Amersfoort” : Sr. Oda van der Post (Tokoh Sentral) , Sr. Arnolda Berensen, Sr. Rosaria Platt, Sr. Marie Bernardetta van Luijk, Sr. Agnesia Hegman, Sr. Emiliana Nieuwsteeg dan Sr. Vincenta Hulshof

Bagaimana Jepang Mulai Menguasai Hindia Belanda dan Masuk ke Probolinggo?

Perang Pasifik Meletus (8 Desember 1941)

Jepang menyerang Pearl Harbour pada tanggal 8 Desember 1941, yang menandai dimulainya Perang Pasifik. Serangan ini melumpuhkan sebagian besar armada perang Amerika Serikat.

Dokumen menggambarkan:

“De lavastroom van oorlogsleed was beginnen te rollen.”
(Aliran lahar penderitaan perang mulai mengalir.)

Pertempuran Laut Jawa dan Kapitulasi

Belanda berusaha mempertahankan Hindia Belanda dengan mengorbankan putra-putra terbaiknya dalam Pertempuran Laut Jawa, tetapi usaha ini gagal.

Pada tanggal 1 Maret 1942, radio menyiarkan kabar yang mengejutkan:

“Vanmiddag om 15 min. voor twaalf had nog geen enkele Japanner een voet op Java gezet.”
(Hari ini pukul 11.45, belum ada satu pun tentara Jepang yang menginjakkan kaki di Jawa.)

Namun, semua orang mengerti bahwa bahaya hanya berjarak beberapa jam lagi.

Pendudukan Jawa Menjadi Kenyataan

Pada malam tanggal 1 Maret 1942, berita pertama tentang pendaratan Jepang di Jawa mulai terdengar.

Delapan hari kemudian (sekitar 8-9 Maret 1942), pendudukan Jawa oleh Jepang menjadi kenyataan yang tak dapat disangkal lagi (een voldongen feit).

Untuk terakhir kalinya, lagu kebangsaan Belanda “Wilhelmus” terdengar di udara. Selanjutnya, digantikan oleh lagu kebangsaan Nippon.

Jepang Masuk Ke Probolinggo

Pada tanggal 18 Maret 1942, Jepang melakukan intocht (pawai masuk) ke Probolinggo dengan banyak pawai militer.

Suasana Pawai Masuk

Dokumen menggambarkan dua reaksi yang sangat berbeda dari penduduk:

a) Sebagian Rakyat Indonesia Menyambut sebagai “Pembebas”

“Het onderaardse gewroet van geheime Japanse propaganda had sommige Indonesiërs al zodanig bewerkt, dat zij deze overweldigers als bevrijders, met gejuich inhaalden.”

(Intrik bawah tanah propaganda rahasia Jepang telah mempengaruhi beberapa orang Indonesia sedemikian rupa sehingga mereka menyambut para penakluk ini sebagai pembebas dengan sorak-sorai.)

Catatan: Ini menunjukkan bahwa Jepang telah melakukan propaganda bawah tanah jauh sebelum invasi, untuk memenangkan simpati penduduk lokal.

b) Para Suster Mendengar di Balik Pintu

“We hoorden in ons klooster het rumoer en de volksbeweging op straat en zaten, evenals weleer de Apostelen, uit vrees voor ongure elementen, met gesloten deuren.”

(Kami mendengar di biara kami keributan dan pergerakan orang-orang di jalan, dan duduk — seperti para rasul dulu — dengan pintu tertutup karena takut akan unsur-unsur jahat.)

Namun, mereka tidak diganggu.

“Men liet ons echter met rust.”
(Namun kami dibiarkan begitu saja.)

Apa Yang Terjadi Setelah Jepang Masuk?

A. Awalnya Tenang (Maret – April 1942)

Setelah keributan pertama mereda, untuk sementara semuanya tampak normal:

“Na dit eerste tumult scheen de vloed tot stilstand gekomen te zijn, want voorlopig bleef alles normaal.”
(Setelah keributan pertama ini, banjir tampaknya berhenti, karena untuk sementara semuanya tetap normal.)

Sekolah-sekolah memang sudah tidak begitu padat — banyak anak tinggal di rumah karena orang tua takut akan alarm udara dan peristiwa mendatang yang belum jelas.

B. Titik Balik: Penangkapan Para Pejabat Belanda (22 April 1942)

Tanggal 22 April 1942 (Hari Raya St. Joseph) menjadi hari yang menyedihkan bagi seluruh Jawa.

Pengumuman: Sebuah pertemuan besar di Sociëteit Harmonie (gedung pertemuan/sosialita di Probolinggo). Semua pejabat dan kepala sekolah diwajibkan hadir. Konon, otoritas Jepang akan mengumumkan tatanan baru.

Para suster (sebagai kepala sekolah) juga menerima undangan. Mereka berangkat dengan perasaan tegang.

Sesampainya di tempat: Mereka diberitahu bahwa “wanita” tidak diharapkan hadir. Disuruh pulang.

Jebakan: Satu jam kemudian, mereka bersyukur dipulangkan. Ternyata, saat semua pejabat Belanda sudah berkumpul, semua pintu ditutup. Mobil-mobil penggerebekan dengan tentara Jepang memasuki halaman. Para pejabat ditangkap dan digiring ke truk tanpa bisa berpamitan dengan keluarga.

Akibat:

  • Asisten Residen Belanda tidak pernah kembali ke kantornya.
  • Meja-meja pejabat kosong.
  • Kepala sekolah tidak kembali ke sekolahnya.

Dokumen mengutip ayat Alkitab:

“Terdengar suara di Jawa. Tangisan dan ratapan yang keras. Para wanita dan anak-anak menangisi suami dan ayah mereka, dan tidak mau dihibur karena mereka tidak ada lagi.”

Taktik yang sama konon diterapkan di semua kota penting di Jawa pada jam dan hari yang sama. Dengan satu pukulan, Jepang melumpuhkan seluruh administrasi sipil Belanda.

C. Perayaan Ulang Tahun Kaisar Jepang (akhir April 1942)

Hanya beberapa hari setelah penangkapan itu, ulang tahun Tenno Heika (Kaisar Jepang) diumumkan. Perayaan ini wajib diadakan di sekolah-sekolah — meskipun Jepang (yang disebut sebagai “sahabat anak-anak“) ternyata tidak menyediakan satu sen pun untuk traktiran.

Moeder Oda mengeluarkan uang pribadinya untuk mentraktir semua murid dengan sirup dan kue.

Akhir yang menyedihkan: Setelah pesta, para suster harus memberi tahu anak-anak bahwa untuk sementara mereka tidak boleh bersekolah lagi.

“Die Hollanders moesten maar dom blijven, vond Nippon. Ze konden anders die Jappen eens te slim af worden.”
(Nippon berpikir, orang-orang Belanda itu sebaiknya tetap bodoh saja. Kalau tidak, mereka mungkin akan lebih cerdas daripada orang-orang Jepang.)

Kebijakan ini berlaku untuk seluruh Hindia Belanda. Ribuan anak kehilangan pendidikan Belanda — studi mereka terputus dan ditunda selama bertahun-tahun.

D. Propaganda Anti-Belanda di Sekolah Umum

Sekolah-sekolah umum untuk anak-anak Indonesia tetap dibuka. Di sanalah, di bawah kendali Jepang, propaganda untuk “Negeri Matahari Terbit” dimulai secara sistematis. Para murid terus-menerus ditanamkan bahwa Belanda, Inggris, dan Amerika adalah lalim dan jahat.

Ringkasan Kronologi

TanggalPeristiwa
8 Desember 1941Jepang menyerang Pearl Harbour; Perang Pasifik dimulai.
1 Maret 1942Radio mengumumkan: belum ada tentara Jepang di Jawa — tetapi bahaya sudah dekat.
8-9 Maret 1942Pendudukan Jawa oleh Jepang menjadi kenyataan. “Wilhelmus” diganti lagu kebangsaan Jepang.
18 Maret 1942Jepang mengadakan pawai masuk ke Probolinggo dengan banyak pawai militer.
22 April 1942Penangkapan massal pejabat Belanda di seluruh Jawa (termasuk Probolinggo) melalui tipu daya pertemuan.
Akhir April 1942Perayaan ulang tahun Kaisar Jepang; setelah itu anak-anak diberi tahu tidak boleh bersekolah lagi.

Poin-Poin Penting

AspekPenjelasan
Propaganda bawah tanah JepangSebelum invasi, Jepang telah menyebarkan propaganda untuk mendapatkan dukungan dari sebagian penduduk Indonesia.
Tipu daya pertemuanJepang menggunakan taktik licik dengan mengundang semua pejabat dalam satu pertemuan, lalu menangkap mereka sekaligus.
Nasib para susterMereka selamat karena “dipulangkan” dari pertemuan — tetapi kehilangan semua pejabat pelindung mereka.
Penutupan sekolah BelandaKebijakan ini menghancurkan pendidikan ribuan anak dan memicu propaganda anti-Belanda yang sistematis.
Ketenangan semuSetelah pawai masuk, situasi tampak normal untuk sementara — tetapi ini hanyalah ketenangan sebelum badai yang lebih besar.

Kesimpulan

Jepang mulai menguasai Hindia Belanda dengan serangan cepat melalui Perang Pasifik, diawali dengan pengeboman Pearl Harbour dan diikuti dengan pendaratan di Jawa. Pendudukan resmi terjadi sekitar tanggal 8-9 Maret 1942, dan hanya sepuluh hari kemudian, pada 18 Maret 1942, Jepang mengadakan pawai masuk ke Probolinggo dengan pawai militer yang besar.

Awalnya situasi tampak tenang, tetapi pada 22 April 1942, semua pejabat Belanda ditangkap dalam sebuah pertemuan yang ternyata adalah jebakan. Setelah itu, sekolah-sekolah Belanda ditutup, pendidikan anak-anak hancur, dan propaganda anti-Belanda dimulai secara sistematis. Para suster, meskipun selamat dari penangkapan, mulai merasakan tekanan yang semakin berat dari pendudukan Jepang.

Sumber : Onder de Gevreesde Vloedgolf, Onze Missie in Oorlogstijd, Door Een Zuster van Onze Lieve Vrouw van Amersfoort (Zr. Borromeo lurvinte), 1948.

Bersambung Bagian II

Catatan Tambahan :

Arti “Onze Lieve Vrouw van Amersfoort”

“Onze Lieve Vrouw” (sering disingkat O. L. Vrouw) adalah frasa dalam bahasa Belanda yang secara harfiah berarti “Bunda Kita yang Terkasih” atau “Bunda Tersayang”. Namun, dalam konteks agama Katolik di Belanda dan Belgia, frasa ini secara khusus merujuk kepada Bunda Maria (Perawan Maria), ibu Yesus Kristus. Amersfoort adalah nama kota di Belanda tempat kongregasi ini didirikan.

Kongregasi dengan nama asli Belanda “Zusters van Onze Lieve Vrouw van Amersfoort” saat ini di Indonesia dikenal sebagai Kongregasi Suster-Suster Santa Perawan Maria (SPM).

Postingan Terkait :

Dampit Affair – Tragedi 13 Pemuda di Eksekusi Jepang di Penjara Lowokwaru Malang

Kamp Interniran atau Kamp Bersiap di Kota Malang