Pada tahun 1895, sebuah jurnal geografi terkemuka di Belanda, Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap (Jurnal Lembaga Geografi), memuat tulisan menarik dari W. de Wolff van Westerrode – yang kemungkinan besar pernah tinggal dan paham tentang kondisi di Pasuruan – dengan lugas menulis “Catatan-catatan (update) atas ‘Java’ karya Veth” (Aanteekeningen op Veth’s “Java”). Dari jurnal inilah kita dapat mengetahui berbagai aspek kondisi kota Pasuruan dan sekitarnya pada akhir abad ke-19.

Pabrik Gula Mengolah Kopi

Catatan dalam naskah ini adalah tentang Pabrik Gula Djakatra-oost. Pabrik ini di Kraton, yang disebut-sebut dalam buku Java karya Prof. P. J. Veth, ternyata sudah tidak beroperasi lagi sejak tahun 1887. Bangunannya pada saat naskah ditulis telah dialihfungsikan menjadi tempat pengupasan dan pengeringan kopi.

Penutupan pabrik gula ini bukanlah kejadian tersendiri. Ini adalah bagian dari krisis besar yang melanda industri gula di Jawa pada akhir abad ke-19. Dua faktor utama menjadi penyebabnya.

Pertama, persaingan dengan gula bit dari Eropa. Harga gula dunia merosot drastis karena produksi gula bit yang semakin efisien di negara-negara Eropa. Kedua, dan yang lebih menentukan bagi Pasuruan, adalah wabah penyakit sereh (sereh disease) yang melanda perkebunan tebu di seluruh Jawa, termasuk Oosthoek (ujung timur Jawa atau “Tapal Kuda”).

Penyakit sereh, dinamakan demikian karena tanaman tebu yang terserang menunjukkan ciri-ciri daun berbintik, batang terhambat pendek, dan daun menggulung memanjang menyerupai tanaman sereh, menyebabkan produktivitas tebu merosot drastis. Para pengusaha gula panik dan menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi hanya mengandalkan konsultasi jarak jauh dengan para ahli di Eropa. Mereka butuh solusi ilmiah yang cepat dan berbasis penelitian di tempat.

Lahirnya Proefstation Oost-Java (1887)

Di tengah krisis itulah, pada tanggal 9 Juli 1887, sebuah lembaga penelitian gula didirikan di Pasuruan dengan nama Proefstation Oost-Java (POJ) atau Stasiun Penelitian Jawa Timur. Lembaga ini didirikan atas inisiatif dan biaya dari para industrialis (sindikasi) gula swasta, bukan oleh pemerintah kolonial. Mereka mengumpulkan dana dan mendirikan POJ di pusat wilayah perkebunan mereka.

Usulan pendirian POJ dari G.C.E. Van Daalen cs, disetujui dan disahkan dalam Staatblad 1887 No. 125 tanggal 9 Juli 1887 di Batavia. Yaitu setelah Proefstation di Jawa Tengah pada tahun 1886, yang bertujuan untuk menerapkan prinsip-prinsip ilmiah pada industri gula di Jawa, agar dapat ditemukan cara yang paling cepat dan efisien untuk membuahkan hasil yang memuaskan pada budidaya tebu dan pembuatan gula pasir. Serta dilatarbelakangi dengan adanya penyakit sereh pada tebu yang semakin meluas sejak 1883 di pulau Jawa.

Mengapa Pasuruan yang dipilih? Bukannya karena alasan sepele seperti banyak gedung kosong atau harga sewa yang murah, melainkan karena faktor strategis yang lebih substansial.

  • Sentra industri gula. Pasuruan terletak di tengah-tengah kawasan Oosthoek, yang merupakan sentra produksi gula terpadat dan terpenting di Jawa Timur. Puluhan pabrik gula beroperasi di sekitar Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, dan Jember.
  • Kedekatan dengan “laboratorium alam”. Membangun stasiun penelitian di pusat produksi utama memudahkan pengambilan sampel, observasi lapangan, dan penerapan hasil penelitian secara langsung.
  • Kesesuaian agroklimat. Wilayah Oosthoek, termasuk Pasuruan, terbukti cocok untuk budidaya tebu. Stasiun percobaan harus berada di tempat yang representatif untuk uji coba varietas baru.
  • Dukungan pendanaan. Para industrialis gula yang mendanai POJ memiliki kepentingan langsung di wilayah ini. Mereka tentu akan memilih lokasi yang paling strategis bagi bisnis mereka, bukan sekadar mencari gedung termurah.

Pasuruan Merosot Akibat Kereta Api

Sementara Proefstation Oost-Java mulai berdiri, kondisi ekonomi kota Pasuruan secara umum justru sedang merosot tajam. Penulis naskah mencatat kegetiran :

“Pasoeroean, dahulu salah satu kota terpenting di Jawa, yang pertama memperkenalkan penerangan jalan dengan gas, telah mengalami kemunduran besar sejak pembangunan jalur kereta api ke Malang, yang telah mengambil alih sebagian besar angkutannya.”

Sebelum jalur kereta api dibangun, komoditas dari Malang dan pedalaman diangkut dengan pedati menuju pelabuhan Pasuruan. Di sinilah barang-barang tersebut dibongkar, disimpan di gudang, dan kemudian dikapalkan untuk di ekspor. Pasuruan makmur karena jasa bongkar muat, sewa gudang, perhotelan, dan perdagangan.

Namun, setelah jalur kereta api Surabaya–Malang diresmikan pada tanggal 20 Juli 1879, komoditas dari Malang dapat langsung diangkut ke Surabaya tanpa perlu transit di Pasuruan. Akibatnya, Pasuruan hanya menjadi stasiun persinggahan, bukan lagi tujuan akhir atau pelabuhan transit utama. Kota ini kehilangan sebagian besar pendapatan dari sewa gudang dan jasa bongkar muat.

Penduduk Pasuruan Tahun 1894

Berdasarkan Almanak Pemerintah 1894, susunan penduduk Pasuruan adalah sebagai berikut.

Dari total sekitar 24.560 jiwa, penduduk pribumi menempati jumlah terbesar dengan 21.168 jiwa (86 persen). Mereka umumnya bekerja sebagai petani, buruh, pegawai rendahan, dan nelayan. Etnis Tionghoa berjumlah 2.338 jiwa (9,6 persen), berperan sebagai pedagang, pemilik pabrik dan perkebunan. Orang Eropa hanya 484 jiwa (2 persen), terdiri dari pejabat, militer, dan pengusaha perkebunan beserta keluarganya. Sisanya adalah orang Arab (193 jiwa) dan Timur Asing lainnya (377 jiwa).

Penulis mengingatkan bahwa angka-angka ini mungkin tidak sepenuhnya akurat karena kemungkinan adanya metode pencatatan yang kurang sempurna.

Makam Suropati dan Bekas Bentengnya

Penulis juga mengoreksi catatan tentang makam yang dikenal sebagai Mantijlang. Nama sebenarnya adalah “koeloeran (Koeboeran) Mantjilan“, terletak di desa Têmênggoengan, selatan kota Pasuruan.

Yang unik, makam ini dihormati bukan karena Suropati – tokoh pemberontak terkenal yang melawan VOC pada akhir abad ke-17 hingga awal abad ke-18 – melainkan karena merupakan makam salah satu wali (penyebar awal Islam di Jawa). Jasad Suropati sendiri, menurut penjaga makam (juru kunci) telah dipindahkan.

Dari bekas benteng Suropati, tidak tersisa jejak tembok yang berarti. Penulis naskah secara tegas menyatakan bahwa dari tembok tersebut “tidak ada jejak, bahkan tidak ada ingatan lagi“.

Kabupaten lama (pusat pemerintahan pribumi) berada di lokasi yang kini ditempati oleh pabrik mesin “De Bromo”.

Infrastruktur Kota

Di Pasuruan terdapat lima jembatan yang melintasi Kali Gembong di dalam kota, belum termasuk jembatan kereta api. Lokasinya: utara gudang-gudang besar, timur pasar, timur alun-alun, dekat kantor residen, dan perbatasan selatan kota. Kondisi yang kurang lebih sama dengan situasi sekarang, dengan penambahan beberapa jembatan minor.

Kali Gembong hanya dapat dilayari oleh kapal-kapal kecil sampai batas kota; di luar itu tidak dapat dilayari sama sekali. Kuat dugaan hanya sampai dengan “pabrik karton”, tempat dimana bongkar muat kopi pernah dilakukan.

Penulis juga mencatat bahwa orang Bugis – yang biasanya aktif dalam perdagangan maritim antar-pulau – sudah tidak ada lagi di Pasuruan. Suku dari pulau yang sama (Sulawesi), yang pasti ada adalah dari suku Mandar, sekarang menjadi nama kampung Mandaran.

Kontras Sosial: Eropa Merosot, Tionghoa Bangkit

Inilah bagian paling menarik sekaligus paling menyedihkan dalam catatan ini. Penulis menggambarkan dengan jujur bagaimana kawasan permukiman Eropa perlahan-lahan merosot.

Hanya beberapa pekarangan rumah tinggal Eropa yang berbatasan di sebelah barat dengan sungai. Rumah-rumah itu terletak di apa yang disebut Heerenstraat, yang membentang dari selatan ke utara di tepi timur. Kota Eropa lama di sepanjang dermaga timur di bawah jembatan pertama telah berubah menjadi kawasan perkantoran dan perusahaan dagang.

Sebaliknya, kawasan Pecinan justru berkembang pesat dalam kemegahan dan kekayaan. Di sana berdiri rumah-rumah indah dengan lantai bertingkat, beranda, bahkan lampu listrik – sebuah teknologi yang pada masa itu masih tergolong sangat modern.

Etnis Tionghoa, yang secara hukum berada di bawah Eropa dalam hierarki kolonial, secara ekonomi justru melampaui kelas Eropa biasa. Penulis mengakhiri pengamatan ini dengan kalimat :

“Begitulah dunia … setidaknya di Hindia Belanda!”

Inilah ironi kolonial: pemerintah secara hukum menempatkan orang Eropa di puncak, tetapi mekanisme pasar justru mengangkat orang Tionghoa ke posisi yang lebih kuat.

Gedung Sociëteit – Kejayaan yang Pudar

Gedung sociëteit (perkumpulan sosial eksklusif orang Eropa bernama Harmonie) didirikan pada tahun 1858. Legenda mengatakan, para anggota mengumpulkan setengah ton emas dalam satu malam untuk pembangunannya.

Setengah ton emas sama dengan 500 kilogram. Jika dikonversi ke Dukat Emas (koin emas Belanda, berat 3,5 gram per koin) setara dengan sekitar 142.857 koin. Dengan nilai tukar satu Dukat Emas sebesar 6 Gulden, totalnya mencapai sekitar 857.000 hingga 900.000 Gulden – jumlah yang fenomenal untuk ukuran zaman itu.

Namun, pada tahun 1890-an, gedung megah ini sudah terlalu luas untuk kebutuhan saat ini. Jumlah anggota sociëteit telah menurun drastis, menjadi bukti nyata kemunduran kelas Eropa di Pasuruan.

Pabrik gas yang dulu menjadi kebanggaan kota – Pasuruan adalah kota pertama di Jawa yang memiliki penerangan jalan dengan gas – juga sudah lama mati. Selama tujuh tahun terakhir, gedung pabrik gas ditempati oleh stasiun percobaan itu sendiri, yaitu Proefstation Oost-Java (POJ), yang saat itu baru berusia 7-8 tahun.

Hotel dan Fasilitas Modern Lainnya

Meskipun ekonomi sedang merosot, Pasuruan masih memiliki satu hotel yang sangat baik (kemungkinan Marine Hotel/Morbeck) dan satu hotel kedua yang lebih baru (kemungkinan Hotel Tonjes). Wisatawan yang datang kemungkinan besar adalah mereka yang hendak menuju pegunungan Tengger, seperti Tosari dan Bromo.

Fasilitas modern yang masih beroperasi di awal 1890-an meliputi:

  • Kantor telepon
  • Pabrik es kecil
  • Penggilingan padi
  • Pabrik mesin kecil bernama Bromo
  • Tempat pengupasan dan pengeringan kopi

Tempat pengolahan kopi didirikan di sebuah rumah mewah seperti istana di Purut, yang terletak di selatan rumah residen. Di belakang rumah ini, ada sumber air yang melimpah.

Air Minum Purut Dikirim ke Surabaya

Sumber air yang disebut sebagai Poeroet (atau Purut) di Pasuruan ternyata memiliki kualitas sangat baik. Airnya dialirkan ke Surabaya melalui dua jalur:

  1. Kereta api – melalui pipa ke stasiun kereta api Pasuruan, lalu dengan tangki gerbong ke Surabaya.
  2. Tongkang/kapal – menyusuri Selat Madura (jalur ini tidak tercatat dalam naskah, tetapi dikonfirmasi oleh sumber sejarah lain)

Air minum Purut memiliki reputasi sangat baik di Surabaya dan bahkan juga dikirim ke Probolinggo. Pasuruan kehilangan bisnis bongkar muat barang, tetapi mendapatkan bisnis baru sebagai pemasok air bagi kota-kota tetangga. Sumber air utama disebut berada di belakang rumah mewah, kemungkinan besar adalah rumah/gedung yang dikenal sekarang dengan eks “Pabrik Karton“. Diduga kuat sumber air ini sudah lama mati, namun perlu dipastikan lebih lanjut.

Masih ada sumber air lain yang masih mengalir di kampung Tamanan (makam Mbah Belik), Diduga adalah sumber air yang ditemukan belakangan (tahun 1902) dan dengan kualitas dan rasa yang rendah. Ini adalah satu-satunya sumber mata air alami yang diketahui masih mengalir di wilayah kota Pasuruan hingga saat ini.

Gudang Pemerintah dan Benteng Tua

Gudang pemerintah di Pasuruan dirancang untuk menampung panen kopi hingga 400.000 pikul, tetapi kenyataannya hanya terisi sekitar 150.000 pikul (satu pikul = 61,5 kg; 150.000 pikul ≈ 9.225 ton kopi). Ini menunjukkan bahwa panen kopi di wilayah Pasuruan jauh di bawah harapan, atau ekspor kopi telah beralih ke Surabaya.

Benteng kecil (fortje) yang sebelumnya digunakan sebagai Kantor Residen dan Kantor Bendahara ditinggalkan karena lembab dan lokasinya tidak sesuai. Benteng tersebut sedang dibongkar (untuk perluasan De Bromo). Sebagai gantinya, kedua kantor tersebut pindah ke sebuah rumah partikelir bernama “Oranje Groen“.

Oranje Groen dan Jejak Keluarga McLennan

Oranje Groen” (secara harfiah: “Oranye Hijau”) adalah nama sebuah rumah besar milik pribadi (partikelir) yang kemudian ditempati oleh Kantor Residen. Di lokasi ini ditemukan makam keluarga McLennan. Kuat dugaan rumah mewah yang dimaksud adalah eks milik keluarga McLennan, dulunya menjadi simbol kejayaan kapital swasta Eropa. Setelah ditinggalkan, kemudian berubah menjadi kantor administratif pemerintah.

Alun-Alun dan Rumah Bupati

Alun-alun di belakang masjid digambarkan “kurang indah” karena terdapat rumah-rumah kecil milik orang Arab dan Pribumi di kedua sisi masjid (Kampung Kauman), serta Rumah Sakit pribumi di samping Barak Prajurit di sisi utara (alun-alun). Sementara itu, rumah bupati – seperti halnya di Malang – terletak di sudut timur laut alun-alun. Seluruhnya tersembunyi dari pandangan publik oleh tembok dan gapura, menunjukkan jarak sosial antara bupati sebagai bangsawan pribumi dan rakyat biasa.

Perkebunan Beralih ke Tangan Tionghoa

Dua perkebunan besar tercatat telah berganti kepemilikan. Perusahaan Sari Redja (di Krampyangan) yang telah bergabung dengan Plerèt dan Perusahaan De Goede Hoop kini dimiliki oleh orang Cina.

Ini adalah tren yang semakin umum pada akhir abad ke-19: pengusaha Eropa bangkrut karena krisis gula, aset mereka dijual, dan etnis Tionghoa – dengan jaringan modal dan kredit yang kuat, serta pengalaman panjang dalam perdagangan hasil bumi – menjadi pembeli utama. Pemerintah kolonial mengizinkan pengambilalihan ini karena orang Tionghoa dianggap sebagai “penyangga” ekonomi, meskipun hal ini menciptakan ketegangan sosial baru.

Penutup

Naskah tahun 1895 ini menyajikan dua sisi kota Pasuruan yang kontradiktif namun saling terkait.

Di satu sisi, Pasuruan adalah kota yang sedang sakit. Ia pernah menjadi bintang kejayaan: kota pertama dengan lampu gas, gedung sociëteit megah yang dibangun dengan “setengah ton emas”, rumah-rumah istana milik para raja gula dari Skotlandia seperti keluarga McLennan atau Anthonijs. Namun, kereta api yang seharusnya membawa “kemajuan” justru menjadi biang kerok kemundurannya. Barang dari pedalaman tidak lagi singgah di pelabuhannya. Kelas Eropa merosot.

Di sisi lain, di tengah kemunduran itu, justru lahir lembaga yang kelak menyelamatkan industri gula dunia. Proefstation Oost-Java, yang didirikan pada tahun 1887 sebagai respons terhadap wabah penyakit sereh, kemudian pada tahun 1921 berhasil merilis varietas tebu POJ 2878 – “The Wonder Cane of Java” – yang tidak hanya tahan penyakit sereh tetapi juga memiliki produktivitas sangat tinggi. Varietas ini menyelamatkan industri gula di Kuba, Amerika Serikat (Louisiana), Kolombia, dan berbagai belahan dunia lainnya.

Penulis naskah – seorang warga Eropa – merekam semua ini dengan nada getir, nostalgia, dan kadang sinis. Namun, justru karena kejujurannya, catatan ini menjadi salah satu dokumen penting tentang wajah Kota Pasuruan di ujung abad ke-19, serta saksi bisu kelahiran pusat penelitian yang mengubah sejarah industri gula dunia.

Sumber utama: Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1895, hlm. 342–344. Penerbit Stemler, Amsterdam. Koleksi Universiteitsbibliotheek Amsterdam. Disusun dengan tambahan dari berbagai sumber sejarah tentang Proefstation Oost-Java, penyakit sereh, dan industri gula Hindia Belanda.