Di sudut pertemuan Klentengstraat (sekarang Jl. W.R. Supratman) dan Schoolstraat (sekarang Jl. Imam Bonjol) di Probolinggo, pernah berdiri sebuah lembaga pendidikan yang menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, dan harapan di masa-masa tergelap Depresi Besar. Namanya: “Clemens Tehuis” atau “Rumah Clemens“.

Mimpi yang Terkubur

Pada tahun-tahun awal misi di Malang, Mgr. Clemens van der Pas – Prefek Apostolik Malang pertama sejak 1927 – memiliki impian besar: mendirikan panti asuhan untuk anak-anak terlantar. Ini adalah salah satu keinginan paling kuat dalam hidupnya. Pemerintah Hindia Belanda telah menyetujui subsidi yang cukup besar (f 200.000,-) untuk pembangunan panti asuhan bagi 250 anak laki-laki. Sebuah lahan di Probolinggo pun telah dibeli (sekitar 10 HA) oleh kongregasi.

Namun, krisis ekonomi melanda dan menghancurkan semua rencana. Depresi Besar (Malaise) yang dimulai dari keruntuhan Wall Street (1929) merambat ke seluruh penjuru bumi, termasuk di Hindia Belanda. Probolinggo yang sebelumnya adalah kota pelabuhan dengan industri gula yang makmur, ikut terpuruk. Pabrik-pabrik gula banyak yang ditutup. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan.

Subsidi yang telah dijanjikan dicabut. “Dunia terasa runtuh,” demikian gambaran situasi saat itu. Rencana megah untuk membangun panti besar untuk 250 anak seolah sirna. Namun para frater dan pastor tidak menyerah. “Liefde is vindingrijk” – cinta itu kreatif. Mereka mencoba mencari jalan lain.

Awal Mula di Malang – Oro-Oro Dowo

Di tengah situasi keputusasaan, Mgr. van der Pas mengalihkan pandangannya ke sebuah aset yang sudah dimiliki kongregasi: sebuah rumah dengan lahan hampir setengah hektar di Jalan Oro-Oro Dowo, Malang. Rumah itu sebenarnya dibeli di masa yang lebih baik sebagai cadangan untuk rencana perluasan.

Di sinilah kita mulai,” putus Mgr. van der Pas. Dengan penuh harap akan berkat dari Yang Maha Kuasa, mereka membuka pintu rumah itu untuk anak-anak yang terlantar. Dimulai dengan 20 anak, jumlah itu terus bertambah hingga mencapai 36 anak – batas maksimal yang bisa ditampung di rumah sederhana tersebut. Meskipun jauh dari cukup, ini adalah langkah pertama yang nyata.

Foto grup para murid berseragam dari Panti Asuhan Katolik Roma pertama “Oro Oro Dowo” di Malang.

Wafatnya Sang Pemimpi

Ketika pekerjaan baru saja berjalan, pukulan kedua datang. Mgr. van der Pas meninggal dunia secara tak terduga pada 16 Desember 1933. Kehilangan seorang pemimpin karismatik di tengah jalan yang masih panjang. Namun, semangat Mgr. van der Pas tidak memudar. Di ranjang kematiannya, ia berpesan dengan penuh harap agar rencana panti asuhan di Probolinggo tetap dilanjutkan. Para frater dan pastor meneruskan perjuangannya.

Subsidi Penyelamat

Setelah melalui berbagai negosiasi yang naik turun, akhirnya sebuah keajaiban kecil datang. Pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi. Namun, besarnya hanya 10 persen dari jumlah awal yang dijanjikan. Kecil tetapi cukup untuk menjadi “papan penyelamat” di tengah badai. Sebuah “Hadiah Surga yang menggembirakan” (blijde hemelgift). Dengan “pertolongan” ini, mereka bisa melangkah. Pada suatu hari Sabtu, 14 Juli 1934, sebuah telegram radio tiba di Malang. Hanya berisi satu kata perintah pendek:

“Mulai!” (Beginnen!)

Perintah itu ditujukan kepada Frater Emmanuel, direktur kongregasi frater di Malang. Tidak ada jalan mundur. Masalahnya: waktu sangat singkat. Target penyelesaian adalah 1 Agustus 1934 – awal tahun ajaran baru. Artinya, mereka hanya memiliki 17 hari dan malam.

“Rumah Hantu”

Kini tibalah bagian yang paling berat. Sebuah gedung di Klentengstraat (Jalan Klenteng), Probolinggo, sudah ditemukan dan disewa oleh Pastoor Henckens. Namun, kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunan itu adalah rumah besar bergaya Hindia milik seorang Tionghoa kaya. Seperti kebiasaan orang kaya Tionghoa saat itu, mereka membangun rumah besar untuk menunjukkan kekayaan, tetapi hanya menggunakan satu atau dua ruangan kecil, sisanya dibiarkan kosong. Rumah ini sudah kosong sekitar delapan hingga sepuluh tahun.

Rumah ini sebelumnya dihuni oleh keluarga Larsen (tokoh Denmark). Pemilik gedung kolosal tersebut, Tan Liong Tjan, telah menyewakan tempat tersebut untuk berbagai keperluan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisinya sungguh mengenaskan. Penduduk setempat menyebutnya “rumah hantu”. Penulis majalah Carmelrozen menggambarkan dengan gamblang:

“Ada apa saja di sana? Manusia, hewan, dan hama. Singkatnya: keadaan yang sungguh terbengkalai. Dan di sekitarnya, hutan belukar.”

Di sekeliling bangunan terdapat selokan besar sedalam satu meter yang tersumbat penuh lumpur. Hama dan tikus merajalela. Seekor kura-kura berdiameter beberapa puluh sentimeter bahkan ikut dikeruk dari lumpur – yang kemudian dipasangi tali dan “disimpan” dulu karena bisa dijual. Halaman rumah adalah hutan belantara (rimboe), membutuhkan parang untuk bisa menembusnya. Dinding-dinding bangunan tidak berlampu lagi, berlubang di sana-sini, beberapa lubang cukup besar untuk bisa dilalui dengan merangkak. Pintu hilang, jendela tanpa kaca, bahkan tanpa kusen.

Bangunan luar yang sebelumnya disewakan kepada penyewa lain juga harus dikosongkan. Di sana terdapat: pabrik kecap, toko roti milik Sien Brie dan sekolah Tionghoa “Kwa Kihauw Hok Lauwdengan 100 anak. Semua harus keluar dalam waktu 14 hari, karena pada tanggal 1 Agustus, gedung harus siap ditempati. Waktu yang sangat singkat, pekerjaan yang luar biasa berat.

Renovasi Kilat

Para frater dan pekerja bahu-membahu. Frater Augustinus dan Laurentius (yang disebut sebagai “Overste” atau pimpinan cabang baru) bekerja dari pagi hingga malam. Para tukang kayu, tukang ledeng, tukang listrik, dan pasukan kuli dikerahkan dari seluruh kampung di Probolinggo. Biasanya ada 80 orang yang bekerja, kadang meningkat hingga lebih dari seratus. Belum termasuk mereka yang bekerja di bengkel untuk membuat komponen-komponen baru yang tidak bisa diperbaiki lagi. Penulis Carmelrozen mencatat sebuah pelajaran berharga:

“Tanpa pengawasan, tidak ada yang tercapai; dengan pengawasan, banyak yang tercapai. Begitulah dalam masyarakat Jawa.”

Mereka mendapat bantuan besar dari Burgemeester (Walikota) Meijer dari Probolinggo. Sang walikota menyediakan pekerja kota untuk segala keperluan. Tidak hanya itu – ketika semangat pekerja mulai mengendor, walikota datang sendiri dengan topi dinasnya yang paling bagus. Ajaib! Topi itu berhasil membuat para pekerja berlarian bersemangat. Sayangnya, “benda ajaib” itu jatuh ke dalam sumur yang tidak terlalu bersih karena sebuah “bujukan Yang Mulia”.

Tragedi – Anak Kecil Meninggal

Ketika semua sedang berjuang melawan waktu, tragedi datang. Di halaman depan gedung, berdiri dua pohon beringin (Waringin) besar. Suatu hari, angin kencang – yang sering terjadi di Probolinggo – mematahkan sebuah cabang besar. Seukuran pohon dewasa. Seorang anak kecil Madura, berusia sekitar 8 atau 9 tahun, sedang bermain di bawah pohon itu. Ia sempat berlari, tetapi terkena ujung cabang yang menyambar. Dengan luka besar di kepala, ia jatuh pingsan dan meninggal seketika.

Seluruh pekarangan langsung dipenuhi orang. Para pekerja berhamburan, keluarga datang, ibu anak itu meratap dengan sedihnya. Jenazah kecil itu dibawa pergi, dan sore harinya iring-iringan pemakaman melewati rumah tersebut. Ketakutan pun melanda. Para pekerja khawatir bahwa roh-roh halus (geesten) yang menghuni “rumah hantu” itu tidak menyukai pekerjaan renovasi. Mereka takut para pekerja akan mogok. Tetapi keesokan harinya, semua pekerja kembali datang. Mereka bahkan tidak meminta slametan (kenduri dengan upacara keagamaan) – yang biasanya menjadi cara mereka untuk menyenangkan arwah leluhur. Mereka kembali bekerja. Sebuah keberanian yang tidak terduga.

Pindah dari Malang

Sementara itu, di Malang, persiapan pemindahan juga berlangsung dengan skala yang tidak kalah besar. Seluruh Sekolah Normal Katolik (R.K. Normaalschool) – lembaga pendidikan guru yang sebelumnya berlokasi di Bromostraat (Jalan Bromo), Malang – dipindahkan ke Probolinggo. Seluruh inventarisnya, dari meja, bangku, lemari, tempat tidur, hingga alat peraga pendidikan, harus dikemas dan diangkut. Tiga truk besar bolak-balik mengangkut inventaris dari dua lokasi di Malang:

  • Panti sementara di Oro-Oro Dowo (yang menampung 36 anak),
  • Sekolah Normal (Normaalschool) di Bromostraat,

Menempuh jarak sekitar 100 kilometer ke Probolinggo.

R. K. Normaalschool di Jalan Bromo Malang yang pindah ke Clemens Tehuis di Probolinggo tahun 1931. Foto Sumber : Majalah Carmelrozen, 1931.

Peresmian dan Nama “Clemens Tehuis”

Akhirnya, pada tanggal 5 Agustus 1934 – hanya tiga minggu setelah perintah “Mulai!” diterima – semuanya siap. Gereja (kapel) telah ditata, ruang makan, tidur, rekreasi, mandi, kelas, semuanya berfungsi. Taman bahkan cukup luas untuk bermain sepak bola.

Upacara pemberkatan dan peresmian pun dilangsungkan. Pastor Henckens (Pro-Prefek Malang) memimpin upacara pemberkatan. Hadir pula Walikota Meijer, Kontrolir Kabupaten, Bupati (Regent), Patih, Wedana, Asisten Wedana, serta masyarakat umum dari Probolinggo, Malang, Pasuruan, hingga Jember. Momen yang paling mengharukan adalah ketika diumumkan bahwa kompleks ini akan diberi nama “Clemens Tehuis” atau artinya “Rumah atau Graha Clemens“.

Mengapa nama itu dipilih?

“Karena panti asuhan selalu menjadi salah satu keinginan terkuat Mgr. Clemens van der Pas. Ia telah berjuang untuk itu sampai akhir hayatnya. Sebagai bentuk piëteit (bakti) dan rasa syukur, serta keyakinan bahwa Mgr. Clemens akan terus melindungi lembaga ini dari surga, nama itulah yang diberikan.”

Foto yang diambil saat peresmian “Clemens Tehuis” di Klentengstraat Probolinggo tahun 1934.
Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama. (13 Juni 1885-16 Desember 1933)

Fasilitas Clemens Tehuis

Clemens Tehuis bukan sekadar panti asuhan dan bukan rumah untuk anak yatim piatu. Ia adalah pusat pendidikan terpadu yang meliputi:

1. Panti Asuhan (Jongens-Tehuis)

  • Menampung lebih dari 60 anak asrama (pupillen) – anak laki-laki yang benar-benar terlantar (tidak mampu) dan tinggal penuh waktu.
  • Di bawah pimpinan Frater Augustus (sebagai “Overste” atau pimpinan cabang baru).

2. Asrama Calon Guru (Normalis)

  • Menampung sekitar 30 calon guru (normalis) – remaja yang sedang menempuh pendidikan keguruan.
  • Mereka tinggal dan belajar di kompleks yang sama.

3. Sekolah Normal Katolik (R.K. Normaalschool)

  • Dipindahkan dari Malang ke Probolinggo.
  • Melatih para guru yang kelak akan mengajar di berbagai sekolah misi di Jawa Timur.

4. Fraterhuis (Rumah Para Frater)

  • Tempat tinggal dan pusat kegiatan para frater (bruder) yang mengelola seluruh kompleks.
  • Memiliki kapel sendiri.

5. Fasilitas Penunjang

  • Kapel / gereja kecil
  • Ruang makan, ruang tidur, ruang rekreasi
  • Kamar mandi
  • Kelas-kelas
  • Lapangan sepak bola (cukup luas)

Kegiatan Budaya

Para normalis di Clemens Tehuis tidak hanya belajar di dalam kelas. Mereka juga terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan sebagai bentuk inkulturasi iman Katolik dengan budaya Jawa.

Dalam perayaan misi ke-400 pada bulan September 1934 (beberapa minggu setelah peresmian Clemens-Tehuis), di gedung Mons Carmeli (gedung perkumpulan Katolik di Jalan Bromo), dipentaskan kisah “Daud dan Goliat” dalam bentuk wayang wong (tari drama tradisional Jawa). Pertunjukan ini dibawakan oleh para siswa R.K. Normaalschool di bawah pimpinan R.M. Soerjo Bonoroesid – seorang guru pribumi di sekolah tersebut. Pertunjukan ini disaksikan oleh banyak publik dan menjadi bukti bahwa pendidikan di Clemens-Tehuis tidak mengasingkan para siswa dari akar budaya mereka, tetapi justru menginkulturasikannya.

Pindah ke Grote Postweg (1936)

Namun, masa Clemens Tehuis di Klentengstraat ternyata tidak berlangsung lama. Bangunan bekas “rumah hantu” itu mungkin terlalu kecil atau kurang representatif untuk kegiatan yang terus berkembang.

Pada 15 April 1936, surat kabar De Indische Courant memberitakan kabar penting:

“Dari direktur Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum telah diterima kabar bahwa pemerintah telah menyetujui untuk menyerahkan bangunan-bangunan bekas MOSVIBA di Grote Postweg (Jalan Raya Pos) di Probolinggo untuk dipinjamkan kepada Clemens-Tehuis.”

Baca artikel : Clemens Tehuis pindah ke gedung eks OSVIA/MOSVIA di Grote Postweg.

MOSVIBA, atau sering ditulis MOSVIA adalah singkatan dari Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Bestuursambtenaren. Sebelumnya dikenal dengan nama OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren)– sebuah fasilitas milik pemerintah untuk sekolah pendidikan menengah bagi calon pegawai-pegawai bumiputra pada zaman Hindia Belanda. Bangunan ini tidak lagi digunakan dan “dipinjamkan” kepada Clemens Tehuis.

Rencananya setelah direnovasi, sekitar awal bulan Juli 1936, Clemens Tehuis akan menempati bangunan baru di Grote Postweg. Pemerintah memberikan bangunan tersebut secara cuma-cuma (pinjam pakai) – suatu bentuk dukungan yang langka pada masa itu. Dengan pemindahan ini, Clemens Tehuis – yang semula menempati “rumah hantu” di Klentengstraat – kini berpindah ke lokasi yang lebih strategis.

Sumber:

  • Carmelrozen, majalah bulanan bergambar yang dikhususkan pada penghormatan Maria, edisi sekitar tahun 1935 (artikel “De Oudste Dochter”)
  • De Indische Courant (15 April 1936) – tentang pemindahan Clemens-Tehuis ke bekas Mosviba di Grote Postweg
  • Arsip sejarah Kongregasi Frater van O.L. Vrouw van het H. Hart
  • Dokumen sejarah Gereja Katolik Probolinggo

Postingan Terkait :

Asrama dan Sekolah Frateran “Clemens Tehuis” di Eks Gedung OSVIA/MOSVIA Probolinggo