(Sejarah Pendidikan Malang Bagian IV)

Pada awal tahun 1937, Kongregasi Suster-Suster O. L. Vrouw (Onze Lieve Vrouw/Santa Perawan Maria) dari Probolinggo mengambil sebuah keputusan besar. Mereka sudah lebih dulu mendirikan sekolah-sekolah di Probolinggo dan kota-kota lain, dan kali ini mengarah ke Malang.

Di Malang sendiri, di perkampungan Tionghoa (Chineesche kamp/pecinan), mereka telah sukses mengembangkan sebuah Sekolah Tionghoa-Belanda (Hollandsch-Chineesche school) dengan kelas-kelas persiapan yang terus berkembang. Namun, karena menggunakan rumah sewaan, mereka memutuskan untuk mendirikan kompleks sekolah sendiri. Perhatian mereka tertuju pada sebidang tanah luas di Van Kesterenweg (kini Jalan Halmahera), di bagian selatan kota Malang.

Melalui perantaraan Tuan H. Estourgie, seorang Arsitek asal Surabaya, dilakukan negosiasi dengan pemerintah kota. Sebidang tanah seluas 7.000 meter persegi, yang ditawar seharga lebih dari ƒ 17.200 (sekitar 10% lebih rendah dari harga yang ditetapkan dewan kota yaitu ƒ 19.000). Pemerintah kota menganggap tawaran ini dapat diterima karena kompleksnya sangat luas.Soerabaijasch handelsblad (13 Januari 1937). Dengan demikian, cikal bakal sekolah Sancta Maria di Malang resmi dimulai dengan pembelian tanah ini.

Bangunan Pertama Selesai (Agustus 1938)

Hanya sekitar satu setengah tahun setelah pembelian tanah, bagian pertama dari proyek pembangunan selesai.Soerabaijasch handelsblad (6 Agustus 1938). Perkembangan proyek menurut Tuan H. Estourgie, bagian utara dari tanah seluas 7.000 m² itu telah dibangun:

  • 7 ruang kelas yang luas
  • 2 ruang untuk pendidikan Fröbel (taman kanak-kanak/metode bermain)
  • Sebuah ruang bermain (speelloods) yang dilengkapi dengan panggung yang cukup besar untuk acara-acara pesta sekolah.
  • Sebuah ruang tamu untuk Kepala Sekolah

Yang menakjubkan: semua ini selesai dalam waktu sekitar 4 bulan! Koran tersebut menekankan bahwa bagian yang baru selesai ini bukanlah bangunan yang berdiri sendiri, melainkan bagian pertama dari sebuah proyek besar.

Peresmian Sekolah ke-15

Hari Selasa, 16 Agustus 1938, adalah hari yang bersejarah. Mgr. A. E. J. Albers, Prefek Apostolik Malang, meresmikan secara khidmat gedung sekolah baru di Van Kesterenweg. Ini adalah sekolah ke-15 dari Kongregasi Suster O. L. V. Amersfoort di Prefektur Malang. Sebelumnya, mereka telah membuka sekolah-sekolah di Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Lawang. Malang menjadi kota yang kelima.

Sekolah baru di Malang ini disebut R.K.H.C.S. (Rooms-Katholieke Hollandsch-Chineesche School) “Sancta Maria” atau sekarang ditulis “Santa Maria” (tanpa huruf “c“).

Upacara Peresmian

Upacara berlangsung khidmat dan meriah. Ruang bermain yang beratap (overdekte speelgelegenheid) yang juga berfungsi sebagai ruang teater, dipenuhi oleh ratusan undangan.

Hadir dalam upacara tersebut:

  • Mgr. Albers (Prefek Apostolik Malang)
  • Kedua Pastor Kepala dan banyak rohaniwan lain
  • Tuan Veldhuizen Weil (Asisten Residen, mewakili residen)
  • Tuan Boerstra (Walikota Malang)
  • Moeder Oda (Kepala Misi Umum Kongregasi dari Probolinggo)
  • Para Moeder Overste (Suster Atasan) dari Lawang, Jember, dan Lumajang
  • Sr. Stanislaus (wakil atasan Kongregasi Suster Kanak-Kanak Yesus dari Pasuruan)
  • Fr. Albertus (Vikaris Kongregasi Frater Utrecht)
  • Fr. Augustinus (Direktur Clemens-Tehuis di Probolinggo)
  • Tuan Kho Sien Tjo (anggota Dewan Provinsi dan Dewan Kota)
  • Para orang tua murid Tionghoa, pengurus perkumpulan Katolik, dan tokoh-tokoh Katolik terkemuka

Selusin karangan bunga indah menghiasi panggung, menunjukkan simpati yang besar terhadap kongregasi.

Sambutan dan Penyerahan

Pastor Kepala Blomesath dalam sambutannya memaparkan prestasi sekolah di Malang: dalam lima tahun, berhasil menarik 280 anak. Ini adalah sekolah pertama kongregasi di Malang, sementara di tempat lain sudah ada 14 sekolah (hanya 2 di antaranya yang mendapat subsidi). Sekolah ke-15 ini, menurut beliau, adalah bukti semangat Misi sejati para suster.

Tuan Estourgie, sang arsitek, kemudian menyerahkan sekolah kepada para suster. Beliau menekankan masa pembangunan yang singkat: 5 bulan.

Pemberkatan oleh Mgr. Albers

Mgr. Albers, didampingi Pastor Kepala Hencken (Diakon) dan Pastor Kepala Blomesath (Subdiakon), melakukan pemberkatan. Sebuah paduan suara pria yang terdiri dari imam dan frater, di bawah arahan Tuan van Dam, mengiringi upacara.

Setelah pemberkatan, Mgr. Albers menyampaikan pidato yang menyentuh. Beliau mengungkapkan dua kebahagiaan:

  1. Gedung baru ini adalah bagian dari tugasnya di Prefektur untuk menyediakan pendidikan Katolik yang memadai.
  2. Sekolah ini adalah puncak dari 5 tahun kerja keras dengan hanya menggunakan gedung sementara.

Mgr. Albers mengenang kembali Oktober 1926, ketika Moeder Overste bersama 4 suster lain datang dari Belanda, dipenuhi dengan idealisme suci. Beliau menutup pidatonya dengan harapan: “Semoga kalian di sini sekarang terus bekerja demi keselamatan anak-anak Tionghoa.”. Kemudian, Mgr. Albers menyampaikan pidato khusus dalam bahasa Melayu kepada para orang tua Tionghoa yang hadir.

Ucapan Selamat

Walikota Boerstra menyampaikan bahwa kota Malang pantas bangga memiliki sekolah ini. “Saya tidak ragu sedikit pun, karena dedikasi, ketekunan, kemampuan, dan panggilan para Suster menjadi jaminannya,” ujarnya.

Tuan Dijkman (atas nama Persatuan Guru Katolik/K.O.B., I.K.P., dan perkumpulan Katolik lainnya) menekankan bahwa sekolah ini berdiri sepenuhnya atas kekuatan sendiri, tanpa subsidi. Beliau memberikan penghormatan kepada kongregasi.

Pertunjukan dan Tur

Setelah pidato, anak-anak balita (TK) menampilkan tarian, dialog, permainan gnome, dan pawai tongkat yang sangat lucu, diawali dengan lagu selamat datang. Tepuk tangan meriah mengiringi setiap nomor.

Acara ditutup dengan tur keliling gedung, di mana semua pihak mengagumi penataan yang rapi.

Lokasi sekolah “Sancta Maria” di Van Kesteren Weg (Sekarang jalan Halmahera) Malang pada peta lama.
Acara Misa Agung Paskah di R.K.H.C.S. Sancta Maria Malang tahun 1939.
Para anak-anak Tionghoa setelah acara Misa Agung Paskah di R.K.H.C.S. Sancta Maria Malang tahun 1939.

Masalah Transportasi Guru (Agustus 1939)

Setahun setelah peresmian, ada satu masalah yang belum terselesaikan. Pada pertengahan Agustus 1938, ketika para suster menempati gedung baru mereka di Van Kesterenweg, para tenaga pengajar yang terikat dengan sekolah ini setiap hari masih melakukan perjalanan bolak-balik dari biara (convent) di Lawang ke Malang. Jarak antara Lawang dan Malang tidaklah dekat, tentu ini melelahkan.

Baru menjelang Agustus 1939 terjadi perubahan: mereka akhirnya menyewa sebuah rumah di perkampungan Tionghoa (Pecinan), sehingga para guru tidak perlu lagi bolak-balik setiap hari. Soerabaijasch handelsblad (14 Agustus 1939)

Eksposisi “Sancta Maria” untuk Kaum Miskin (Juni 1941)

Tiga tahun setelah peresmian, sekolah Sancta Maria sudah cukup mapan untuk mengadakan kegiatan sosial. Pada hari Sabtu dan Minggu (31 Mei-1 Juni), pukul 17.00–19.00 (Sabtu) dan 09.00–12.00 (Minggu), di gedung R.K.H.C.S. (Rooms-Katholieke Hollandsch-Chineesche School) “Sancta Maria” di Van Kesterenweg, diselenggarakan sebuah pameran (expositie atau sering disingkat “expo” saja).

Apa yang dipamerkan? Hasil karya tangan, kerajinan tangan, dan karya frobel (keterampilan anak) yang dibuat oleh para murid. Panitia sangat menganjurkan publik untuk datang, karena seluruh hasil penjualan pameran akan digunakan untuk kepentingan kaum miskin.

Tidak hanya itu, berbagai atraksi untuk anak-anak juga disediakan bagi mereka yang ikut mengunjungi pameran. Ini menunjukkan bahwa sejak masa kolonial, semangat sosial dan kepedulian terhadap kaum miskin sudah tertanam kuat dalam visi pendidikan Sancta Maria.

Dari Tanah Kosong Menjadi Lembaga Pendidikan

Dari kumpulan terjemahan artikel koran lama ini, kita dapat menarik beberapa kesimpulan tentang sejarah awal sekolah Sancta Maria di Malang :

TahunPeristiwa
Awal 1937Pembelian tanah seluas 7.000 m² di Van Kesterenweg, Malang
1937–1938Pembangunan bagian pertama (7 kelas, 2 ruang Fröbel, ruang bermain, ruang kepala sekolah)
16 Agustus 1938Peresmian oleh Mgr. Albers sebagai sekolah ke-15 Kongregasi di Prefektur Malang
1938–1939Guru-guru masih bolak-balik dari Lawang setiap hari
Agustus 1939Penyewaan rumah di Pecinan untuk tempat tinggal guru
Juni 1941Pameran hasil karya murid untuk amal bagi kaum miskin

Era Jepang (1942-1945)

Para suster di Malang menghadapi badai cobaan yang besar, saat menghadapi kedatangan Jepang tahun 1942. Akan ditulis pada artikel berikutnya (Bersambung).

Catatan Tambahan :

  • Eks komplek gedung R.K.H.C.S “Sancta Maria” Malang, sekarang telah berkembang menjadi SDK Santa Maria I dan SMPK Santa Maria I yang dikelola oleh kongregasi yang sama, yang kini dikenal dengan Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria (SPM).

Postingan Terkait :

Kisah Para Suster Probolinggo : Derita di Era Rezim Jepang dan Badai Revolusi (Bagian I)

Suster Vs Kempeitai : Kasus Australia, Insiden Bendera dan Diusir Dari Probolinggo (Bagian II)

Nasib Para Suster di Jember, Lawang, dan Lumajang Saat Pendudukan Jepang (Bagian III)