Di sisi kanan-kiri Jalan Soekarno-Hatta (dulu bernama Grote Postweg – Jalan Raya Pos), Probolinggo, berdiri sebuah kompleks bangunan tua yang kokoh dan megah. Saat ini dikenal sebagai Markas Kompi A dan B Batalyon Zeni Tempur (Yon Zipur) 10 Kostrad. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa gedung ini telah menyaksikan enam babak besar sejarah Kota Probolinggo:
- 1905 – 1930-an : Sebagai OSVIA/MOSVIA – sekolah elit calon pegawai negeri pribumi di zaman Hindia Belanda.
- 1936 – 1942 : Sebagai Sekolah Frateran Clemens-Tehuis – Asrama panti asuhan dan pusat pendidikan Katolik yang dibina oleh para Frater/Bruder.
- 1942 – 1945 : Markas militer Jepang
- 1945 – 1947 : Markas ALRI
- 1947 -1949/50 : Markas tentara pendudukan Belanda
- s/d Sekarang : Sebagai Yon Zipur 10 Kostrad
Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi riwayat komplek gedung kebanggaan Kota Probolinggo tersebut.
OSVIA – Sekolah Elit Para “Calon Priyayi”
Pada akhir abad-19, pemerintah Hindia Belanda mendirikan OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) – sekolah pendidikan khusus untuk calon pegawai negeri sipil pribumi. Probolinggo terpilih sebagai salah satu lokasinya di Jawa, bersama Bandung (Jawa Barat) dan Magelang (Jawa Tengah).
Komplek gedung OSVIA di Grote Postweg ini dibangun pada tahun 1905 dengan arsitektur megah khas Hindia – dinding tebal, jendela tinggi, halaman luas, dan galeri yang mengelilingi kompleks. Di sekelilingnya ditanam pohon-pohon palem raja dan beringin rindang. OSVIA bukan sekolah biasa. Konon ia dijuluki “sekolah raja/menak” – sekolah untuk kalangan bangsawan dan priyayi. Penerimaan siswa sangat ketat. Calon siswa konon harus mendapat surat rekomendasi dari bupati atau pejabat tinggi Belanda.
MOSVIA dan Akibat Krisis
Pada sekitar tahun 1927, seluruh cabang OSVIA digabungkan menjadi MOSVIA atau kadang disingkat MOSVIBA (Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Bertuurs Ambtenaren) dengan pusat di Magelang. Probolinggo tetap menjadi salah satu cabang penting.
Namun, Depresi Besar (Malaise) yang melanda dunia pada awal 1930-an menghantam Hindia Belanda dengan keras. Pemerintah kolonial memangkas anggaran pendidikan. MOSVIA di Probolinggo ditutup pada tahun ajaran 1932/1933 serta para siswa dipindah ke Magelang. Komplek gedung megah itu berdiri hampir kosong, ada sekitar 5 atau 6 rumah, eks rumah dinas para guru, diijinkan untuk ditempati oleh para pegawai pribumi yang berpenghasilan kecil.
Beralih ke Clemens Tehuis
Pemerintah Hindia Belanda, pemilik gedung eks MOSVIA yang menganggur, bersedia menyerahkan kompleks megah di Grote Postweg secara cuma-cuma (pinjam pakai) kepada Yayasan Karmel. Dulu Mgr. van der Pas bahkan tidak berani bermimpi bisa mengelola gedung sebesar itu, kini mimpinya menjadi kenyataan.
Renovasi Gedung
Saat itu sudah pertengahan Maret 1936. Targetnya selesai pada 1 Juli (awal tahun ajaran baru). Mereka hanya punya enam minggu. Arsitek H. Estourgie memimpin renovasi. Ratusan kuli bekerja 12 jam sehari – dan mereka bekerja dengan cepat. Tanggal 30 Juni inventaris di “Clemens Tehuis” di Klentengstraat mulai dipindah, dan pada 1 Agustus 1936 semuanya siap.
Fasilitas di Clemens Tehuis
Gerbang dan Halaman
Dari Grote Postweg atau jalan raya pos – sebuah gerbang besi yang mengesankan menyambut pengunjung. Di atasnya, huruf besa r: “CLEMENS TEHUIS”. Halaman depan sangat luas. Pohon-pohon palem raja dan beringin raksasa – yang telah tumbuh selama puluhan tahun – menyebarkan naungan setajam pisau, menahan panas terik Probolinggo.
Kapel yang Indah
Bangunan utama – bekas aula MOSVIA – disulap menjadi kapel. Aulanya indah, sejuk, dan segar. Altar kokoh. Seluruh perabotan dirancang oleh Estourgie – sederhana, tetapi indah. Kapel ini dapat menampung 140 orang. Di dinding kapel tergantung stasi-stasi jalan salib yang dilukis oleh F. van Noorden. Seorang tamu agung – Nyonya Hogewind, istri Residen Malang – pernah berdiri lama di depan lukisan-lukisan itu, matanya berkaca-kaca. “Ini sangat indah,” katanya. “Saya tidak akan melupakannya.”

Ruang Kelas dan Biara Frater
- Di sisi kiri kapel: tiga ruang kelas untuk anak-anak besar (sekolah dasar). Anak-anak kecil belajar di sekolah suster di luar kompleks.
- Di sisi kanan kapel: biara para frater – ruang makan, ruang rekreasi, ruang belajar.
Sayap-sayap yang Luas
Bangunan utama berdiri bebas, dikelilingi galeri yang menghubungkan seluruh kompleks.
- Sayap Timur (bekas kamar tidur perseorangan siswa MOSVIA) diubah menjadi: ruang penerimaan tamu, kantor direktur, ruang sakit, ruang bicara, dan tiga ruang makan besar – masing-masing untuk 60 anak.
- Sayap Barat (dibangun baru): enam kamar tidur untuk frater dan departemen kejuruan (bengkel kayu, percetakan, teknik elektro).
Tiga Ruang Tidur Raksasa
Di sisi selatan kompleks, terbentang tiga ruang tidur besar. Masing-masing untuk 65 anak. Panjang gabungan ketiganya? 200 meter – lebih dari dua kali lapangan sepak bola! Setiap ruang tidur memiliki:
- Ruang ganti sendiri
- Tempat cuci sendiri
- Kamar mandi dan WC sendiri
- Dua kamar kecil untuk frater pengawas di setiap ruang tidur
Semua dikelilingi galeri, sehingga udara bisa bersirkulasi dan panas Probolinggo tidak terlalu menyengat. Fasilitas Pendukung yang Luar Biasa (Mewah untuk Zamannya!)
- Dapur besar – untuk memasak bagi 120+ anak setiap hari.
- Dua lapangan sepak bola yang luas + gudang senam.
- Kolam renang – airnya dari mata air alami Soember Patjar.
- Binatu (tempat cuci) – sudah dilengkapi mesin cuci! Sebuah kemewahan luar biasa pada tahun 1930-an.
- Lahan pertanian – untuk mengajarkan anak-anak bercocok tanam.
- Ruang bermain besar dengan lampu listrik – dilengkapi dua meja biliar.
- Pendopo di halaman belakang – dinaungi pohon beringin tua.
- Menara kecil dari kayu di atas penghubung kapel-pendopo – tempat lonceng gereja membunyikan Angelus setiap pagi, petang, dan malam.
Sebuah Pusat Pendidikan
Clemens Tehuis bukan hanya asrama tempat tidur dan makan. Ia adalah sekolah yang lengkap.
| Jenis Pendidikan | Keterangan |
|---|---|
| Sekolah Dasar | Untuk anak-anak asuh (kelas kecil di sekolah suster) |
| Sekolah Kejuruan | Tukang kayu, percetakan, teknik elektro, lukis |
| Typografenschool (Sekolah Percetakan) | Dibuka 1938 – terbuka untuk umum (tidak hanya anak asuh)! |
| Korps Fanfare | Orkes tiup dengan alat musik dari nikel – sering tampil untuk tamu resmi |
| Pendidikan Agama | Misa harian di kapel, jalan salib, pembinaan iman Katolik |
Prestasi yang Membanggakan:
- 1940: 8 lulusan pertama Typografenschool – semua lulus ujian berat 5 hari. Pemilik percetakan besar Surabaya (H. van Ingen, Kolff & Co.) sudah antre mempekerjakan mereka.
- 1941: 13 lulusan – peningkatan signifikan. Pameran hasil karya dari berbagai departemen.



Kehidupan Sehari-hari
Clemens Tehuis begitu luas sehingga para frater menggunakan sepeda untuk berpindah dari satu ujung ke ujung lain. Makanan diantar dengan kereta-kereta kecil di sepanjang galeri. Seorang wartawan De Indische Courant yang berkunjung pada November 1938 menggambarkan suasana dengan jenaka dan hangat:
“Para frater, saat liburan, mengenakan piyama – dan mereka agak malu-malu menerima tamu. ‘Maafkan saya karena memakai piyama,’ kata seorang frater, tersipu-sipu.”
“Anak-anak tidak bebas bergerak. Kompleks dikelilingi pagar kawat. Mereka hanya berjalan di bawah pengawasan.”
“Rangkaian WC dengan nama-nama anak diketik rapi di pintu – celaka jika salah masuk WC orang lain!”
“Setiap pagi, para frater membangunkan anak-anak bukan untuk bekerja, tetapi untuk Misa Kudus. Buah sulung hari dipersembahkan untuk Tuhan.”
Kunjungan Tamu Penting :
Clemens-Tehuis sering dikunjungi pejabat kolonial. Mereka selalu terkesan.
- 1937: Asisten Residen (merangkap Wakil Walikota) dan Nyonya Noë – kagum dengan percetakan modern dan hasil karya kayu.
- 1939: Nyonya Hogewind (istri Residen Malang) dan Nyonya Noë – sangat terkesan dengan jalan salib di kapel. Nyonya Hogewind berkata kepada anak-anak: “Kalian sangat beruntung. Di sini kalian dirawat dengan baik. Tetapi yang paling berharga adalah pendidikan agama yang kalian terima. Itu akan menjadi landasan yang membahagiakan bagi seumur hidup kalian.”
- 1940 & 1941: Para pengusaha percetakan Surabaya hadir di ujian akhir dan pameran hasil karya.
Kehancuran Akibat Perang dan Revolusi (1942–1947)
Pendudukan Jepang (1942-1945)
Tentara Jepang masuk ke Probolinggo dan kemungkinan besar menjadikannya sebagai markas militer.
Revolusi Kemerdekaan (1945-1947)
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945), kompleks Clemens Tehuis digunakan sebagai barak ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia). Rumah-rumah di sekitarnya diubah. Pagar dan tembok pembatas dihancurkan.
Nasib para frater : Dua orang yang mencoba kembali ke Probolinggo setelah Jepang menyerah ditangkap oleh ekstremis dan dibawa ke kamp interniran. Konon mereka bertahan hidup dengan memakan daun-daunan, rumput liar, katak, ular, dan siput.
Frater Bernardo: Sebuah Perjalanan Berbahaya (Januari 1947)
Frater Bernardo Lubbers berhasil mendapatkan izin perjalanan dari Surabaya ke Probolinggo di tengah Revolusi – ketika perjalanan biasa sangat berbahaya. Kereta api yang biasanya 2 jam menjadi 5 jam – berhenti di setiap jembatan untuk memeriksa bom. Di dalam kereta: pejabat pemerintah, ahli pertanian, dan Frater Bernardo – plus marinir bersenjata. Kereta juga membawa amunisi dan bensin.
Sesampainya di Probolinggo, komandan militer memberinya jeep dan pengawalan dua senapan. Ia berdiri di depan Clemens-Tehuis. Dinding masih berdiri. Bangunan masih utuh. Hanya itu yang tersisa.
“Dari seluruh isi panti, hanya tungku dapur dan tiang gawang yang kami temukan kembali,” tulisnya.
Ia melihat ke menara kapel. Jangkar masih tergantung di sana. Ia berdoa: “Salib sebagai tanda kasih Kristus bagi bangsa Indonesia akan segera kembali ke tempatnya.” Para marinir menemukan alat musik fanfare yang lengkap – berserakan di suatu tempat. Mereka mengumpulkannya dengan hati-hati dan menyimpannya di pastoran. Apa yang terjadi? Clemens Tehuis yang megah itu dijarah habis-habisan,
| Yang Hilang | Yang Tersisa |
|---|---|
| Semua peralatan, mesin cetak, tempat tidur, lemari, | Hanya tungku dapur dan tiang gawang |
| Mesin cetak (dipindahkan ke Malang, sebagian terbakar) | – |
| Pohon beringin rindang ditebangi | – |
| Salib di menara kapel – diganti jangkar | Kapel menjadi aula biasa, jangkar mungkin lambang ALRI |
| Lonceng gereja | – |
| Para frater ditangkap atau dipaksa pergi | – |
Kursi pengakuan dosa di kapel diberi tulisan “toko” – mungkin sempat digunakan sebagai warung.


Apa yang Terjadi pada Typografenschool?
Warisan pendidikan Clemens Tehuis tidak mati. Frater Caecilianus – kepala Typografenschool sebelum perang – memindahkan sekolah percetakan ke Malang. Dengan dukungan pemerintah, pada 1949 ia membuka kursus tiga tahun di Malang. Lebih dari 60 murid belajar mencetak, menyusun huruf, dan menjilid buku. Itulah cikal bakal sekolah kejuruan grafika di Jawa Timur.

Markas Yon Zipur 10
Di Probolinggo, gedung eks OSVIA/MOSVIA di Grote Postweg (kini Jalan Soekarno-Hatta) telah berganti fungsi beberapa kali:
| Tahun | Fungsi |
|---|---|
| 1905–1930-an | OSVIA → MOSVIA/MOSVIBA (sekolah pegawai negeri) |
| 1936–1942 | Clemens-Tehuis (asrma panti asuhan & sekolah) |
| 1942–1945 | Markas militer Jepang |
| 1945–1947 | Barak ALRI |
| 1947–1949 | Markas Tentara Pendudukan Belanda |
| s/d Sekarang | Markas Yon Zipur 10 Kostrad |
Kini komplek gedung ini masih berdiri kokoh, dijaga oleh para prajurit, dilindungi sebagai cagar budaya. Ia tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kota Probolinggo – dari masa kolonial, misi Katolik, revolusi, hingga kemerdekaan.
Dari OSVIA, Clemens-Tehuis hingga Yon Zipur – gedung ini tidak pernah berhenti melayani masyarakat. Hanya bentuk pengabdiannya yang berubah.
Sumber:
- De Indische Courant (1936, 1937, 1938, 1939, 1941)
- Soerabaijasch Handelsblad (1940, 1941)
- Onder ons (1947)
- De vrije pers (1949)
- TIMES Indonesia (26 April 2023) – tentang penetapan cagar budaya
- SK Wali Kota Probolinggo No. 188.45/198/KEP/425.012 (27 Maret 2013)

