Sebelum Perang Dunia ke-II, nama Prof. Dr. Leber, nama lengkapnya Alfred Theodor Leber, sangat populer dan dihormati di Malang. Dari gelar akademisnya saja, tingkat keilmuannya tidak perlu diragukan lagi. Namanya dikenal tidak hanya karena keahliannya di bidang medis, tapi juga sebagai seorang tokoh kemanusiaan yang mau membantu siapa saja tanpa pamrih.

Semuanya seolah tidak ada artinya lagi ketika pecah perang di Eropa, ia kemudian harus disingkirkan. Apa sebabnya? Jawabnya cukup mudah untuk ditebak, yaitu karena ia orang Jerman ! Jerman yang menginvasi Belanda di Eropa, juga berdampak pada tuan Leber di Malang, Jawa TImur – Hindia Belanda.

HUT 50 Tahun

Pada tanggal 7 Maret 1931, Prof. Dr. Alfred Theodor Leber yang dilahirkan di Antwerp Belgia tahun 1881, merayakan ulang tahunnya yang ke-50 di Malang. Fakta itu tidak dibiarkan saja oleh para wartawan untuk menulis berbagai aktivitas dan catatan karirnya. (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië,10-03-1931). Semacam biografi ringkas mengenai perjalanan hidupnya, menunjukkan apa yang telah dilakukan ilmuwan ini bagi ilmu pengetahuan pada umumnya. Serta perannya bagi warga Malang dan sekitarnya pada khususnya.

Dalam “Deutsches Colonial Lexicon” (Ensiklopedia Koloni Jerman), ditemukan catatan berikut tentang Prof. Leber : “Leber, Alfred, Prof. Belajar di universitas Heidelberg, Munich dan Berlin. Menerima gelar doktor di Heidelberg pada tahun 1905 dengan tesis tentang Die Stoffwechsel der Kristadinse, setelah itu dia bekerja di Sorbonne di Paris. Dia kemudian menjabat sebagai asisten di Klinik Oftalmologi Universitas Heidelberg dan kemudian di Institut Penyakit Menular Robert Koch dan Klinik Oftalmologi Universitas Berlin. Ia diangkat sebagai dosen swasta di Berlin pada tahun 1909 berdasarkan studinya tentang “Penyelidikan serologis terhadap sifilis dan tuberkulosis.”

Ekspedisi Ilmiah

Leber telah melakukan beberapa ekspedisi ilmiah : pada tahun 1908 ke Istria untuk mempelajari “Granulosa“. Pada tahun 1910 dan pada tahun 1911 ke Jerman New Guinea, untuk penelitian berbagai penyakit menular. Ke Sumatera pada tahun 1911, untuk studi eksperimental tentang terjadinya “Trakoma“.
Sekembalinya dari perjalanannya ke Jerman, ia diangkat menjadi Direktur Medis di Klinik oftalmologi di Universitas Göttingen. Tak lama kemudian ia diangkat menjadi Profesor, dalam usia yang masih tergolong muda (sekitar 31 tahun).

Pada tahun 1913, ia menerima perintah dari Pemerintah Jerman untuk bertindak sebagai pemimpin ekspedisi medis demografi di Jerman New Guinea. Yang tugasnya adalah mengatur metode sistematis untuk memerangi penyakit asli berdasarkan penelitian aksiologis. Namun penugasan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena pecahnya Perang Dunia.

Datang Ke Malang

Sambil menunggu berakhirnya perang, Leber menetap di Malang (1916). Dimana setelah terlebih dahulu lulus “pemeriksaan” yang diwajibkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ia mengabdikan dirinya untuk perawatan kesehatan kepada rekan senegaranya yang juga terkena dampak perang. Klinik kecil yang didirikan untuk tujuan ini berkembang sedemikian rupa sehingga bersifat permanen. Terutama karena digunakan sebagai stasiun perantara Sanatorium penderita paru-paru, yang didirikan Leber di Batu atas nama Asosiasi Pusat Pemberantasan Penyakit Paru-paru. Sebuah institusi perawatan Tuberkulosis (TBC), dimana ia menjadi direkturnya sejak tahun 1922.

Prof. Leber, ketiga dari kiri, saat di Malang tahun 1917.

Uraian singkat dan ringkas dalam “Deutsches Colonial Lexicon”, memberi gambaran tentang karya ilmiah besar yang dilakukan oleh Prof. Leber. Fakta belaka bahwa ia diberi tempat dalam karya standar besar itu di Koloni Jerman, dengan sendirinya merupakan indikasi betapa jasanya dihargai di tanah airnya.

Peran di Malang

Warga Malang lebih mengenal Prof. Leber sebagai seorang dokter dan ahli dibandingkan sebagai seorang sarjana. Sebenarnya kebetulan sekali Prof. Leber menetap di Malang. Setelah pemeriksaan “tambahan” tersebut di atas, Prof. Leber melakukan perjalanan ke Sumatera untuk melakukan studi kedokteran di kalangan orang Batak. Atas saran Prof. Straub, ia menuruti permintaan seorang pengusaha di Malang, untuk menyembuhkannya dari penyakit mata yang serius.

Sejak tahun 1916 Prof. Leber menghabiskan beberapa waktu di Malang, dan kota ini begitu menarik perhatiannya. Sehingga ia memutuskan untuk menetap di sini setidaknya untuk “sementara“. Sebuah rumah kecil disewa di Boldystraat, di mana Prof. Leber menyediakan penginapan bagi rekan senegaranya yang membutuhkan dan sakit. Namun tidak butuh waktu lama sebelum “Klinik Prof. Leber” mendapatkan reputasi sedemikian rupa. Beberapa warga kota lainnya juga meminta izin untuk tinggal, sehingga lokasinya menjadi terlalu kecil.

Perlu dicari bangunan yang lebih luas, yang kemudian ditemukan di Sawahan, di mana setelah beberapa waktu dibangunlah sebuah klinik pengobatan yang lengkap. Klinik yang sama yang kemudian diambil alih dari Prof. Leber lebih dari setahun yang lalu (1929) oleh para Suster dari Barmhartigheid, yang kemudian menjadi RKZ Maria Magdalene Postel. Saat ini dia masih bekerja sebagai dokter dan penasihat.

Klinik Prof. Leber yang kemudian diambil alih oleh para Suster dari Barmhartigheid, yang kemudian menjadi RKZ Maria Magdalene Postel.di Sawahan Malang
Kliniek milik Prof. Leber di Sawahan Malang pada peta 1923, sebelum diambil alih para Suster dari Barmhartigheid, dan kemudian menjadi RKZ Maria Magdalene Postel.

Penanggulangan Penyakit TBC

Peran Prof. Leber dalam memerangi TBC sudah diketahui dengan baik. Tak lama setelah menetap di Malang, ia sempat mengamati penyebaran penyakit ini secara signifikan dan melakukan kajian khusus terhadapnya. Ternyata iklim Batu sangat cocok untuk penderita paru-paru, dan pada tahun 1920 ia mendirikan departemen kliniknya di sana, khusus untuk pengendalian tuberkulosis. Perlunya lembaga seperti ini segera menjadi jelas, karena masuknya pasien dalam jumlah besar. Kerjasama diperoleh dengan Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis dan pada tanggal 11 Februari 1922, bekas rumah Inspektur lama di Batu digunakan sebagai Sanatorium bagi penderita paru-paru, setelah direnovasi secara efektif.

Sanatorium Batu yang dirintis dan dipimpin oleh Prof. Dr. A. Leber.


Sejak saat itu, lembaga ini telah melakukan banyak hal demi kepentingan umat manusia yang menderita. Selama bertahun-tahun, banyak pasien telah dipulangkan dari sana dan memenuhi semua persyaratan yang ditentukan oleh profesi dan keadaan keluarga mereka. Iklim di Batu ternyata sangat mendukung, sehingga beberapa pasien yang mengira bisa menemukan obat dan pergi ke Eropa untuk memulihkan kesehatannya, kembali dari Eropa dalam kondisi yang lebih buruk daripada sebelumnya. Pada akhirnya setelah tinggal lagi di Batu, penyakti itu dianggap “tidak aktif” lagi alias bisa disembuhkan. Saat ini sanatorium di Batu menarik pasien dari seluruh Hindia Belanda dan bahkan dari wilayah lain di Timur Jauh.

Bencana Kelud

Kami ingin mengemukakan fakta lain dari kehidupannya di sini. Ketika letusan dahsyat Gunung Kelud terjadi pada malam tanggal 19-20 Mei 1919. Prof. Leber mendapat kesan pada dini hari tanggal 20 Mei, bahwa pasti terjadi bencana serius di Blitar. Panggilan telepon dari perusahaan-perusahaan di Malang Barat membenarkan hal ini. Tanpa pikir panjang, Prof. Leber berangkat ke lokasi bencana dengan tiga mobil yang dilengkapi dengan perban dan obat-obatan serta tenaga perawat yang diperlukan. Dia adalah dokter pertama yang menembus daerah yang bermasalah. Banyak menyelamatkan serta membantu orang-orang yang terluka dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Dalam karya besar yang diterbitkan tentang letusan Kelud, namanya disebutkan beberapa kali dengan penuh apresiasi dan pujian.

Baru-baru ini kami menyaksikan sendiri, kesediaannya yang terus-menerus untuk selalu siap ketika dibutuhkan. Kemampuan spontanitasnya untuk menggunakan keterampilannya dalam melayani pasien.

Peristiwa Gadang

Ketika ledakan dahsyat pabrik kembang api di Gadang terjadi pada bulan November 1928, yang menelan korban 11 orang tewas. Prof. Leber kembali menjadi orang pertama yang tiba di lokasi kecelakaan bersama perawat dan peralatannya. Walaupun kedatangannya tidak banyak membantu korban yang sudah tewas, namun inisiatifnya sangat dihargai banyak orang.

Koloni Anak-Anak dan Perang

Prof. Leber juga berperan besar dalam pendirian Pusat Rehabilitasi dan Koloni Liburan Anak-Anak. Didirikan di Soekoenweg, yang dibuka dan diresmikan pada 27 Januari 1940. Sebuah lembaga yang diperjuangkan pendiriannya sejak tahun 1929, namun karena krisis berakibat tertunda lama.

Disingkirkan

Nasibnya berubah drastis beberapa bulan saja setelah itu, saat pecah perang di Eropa. Setelah Jerman menginvasi Belanda pada bulan Mei 1940. Akibatnya adalah timbul sentimen anti orang Jerman di Hindia Belanda, termasuk kepada Prof. Leber. Walaupun sebenarnya beliau sudah cukup tua (hampir 60 tahun), namun orang-orang tidak peduli. Gerakan melawan “musuh internal” semakin meluas dilancarkan oleh kelompok Vaderlandsche Club (Wadah Perkumpulan Orang Belanda Totok). Tidak luput sebagai orang Jerman (Dianggap sebagai tokoh NAZI atau NSB) terkenal di Malang ini, rumah Prof. Leber digeledah dan dia diinterogasi oleh polisi. Pada akhirnya dia diinternir, semua harta benda dan rumahnya di Coenplein 13 Malang, disita dan di lelang oleh negara. Buku-buku dan koleksi berharga lainnya termasuk mebelair segera ludes terjual, hasil penjualannya mencapai f 8.000. Tindakan yang dianggap berlebihan yang dilakukan kepadanya, santer terdengar hingga ke Eropa. Kiprahnya selama 24 tahun di Malang terhadap dunia medis dan kemanusiaan, tidak ada artinya lagi.

Jadwal Praktek Prof. Leber di rumahnya di Coenplein 13, Malang.

Ditemukan di India Inggris

Pada tahun 1942, orang-orang Jerman dipindahkan ke Kamp Dehra Dun di India Inggris, dimana salah satu kapal pengirim tawanan tenggelam karena torpedo. Di kamp tersebut Leber menghabiskan waktunya untuk melatih dokter dan membaca sejarah kedokteran di “Fakultas Kedokteran Kamp”, hingga pembebasannya pada tahun 1946.

Dari tahun 1946 hingga 1949, ia menjabat sebagai Direktur Medis Departemen Oftalmologi Rumah Sakit Prince of Wales di negara bagian Bhopal/India. Pada tahun 1952, saat berusia 70 tahun, ia diangkat menjadi Profesor, Dekan, dan Direktur Institut Oftalmologi di Universitas Muslim Aligarh/India. Temuan penelitian Leber di bidang higiene pada penduduk pribumi, memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap peningkatan kesehatan masyarakat di Hindia Belanda (Indonesia) dan India (Inggris). Pemerintah India bertindak atas dasar program yang diterbitkannya pada tahun 1950, memerangi penyakit mata endemik di India, termasuk struktur administratif yang diperlukan.

Pada tanggal 26 Oktober 1954, Prof. Dr. Alfred Leber meninggal di sana pada usia 73 tahun.

Salah satu foto Prof. Leber di Universitas Aligarh di India Inggris.
Prof. Leber pada tahun 1952.

Obituari

Oleh : Cooper, S. N.

Jurnal Oftalmologi India Volume 3(1): hlm 21-22, Jan–Mar 1955.
DR. Alfred Leber.

(Meninggal 26 Oktober 1954)

Dengan penyesalan kami mengetahui berita duka meninggalnya Dr. Alfred Leber yang datang ke India tidak lebih dari 8 tahun yang lalu dan berperan aktif dalam Oftalmologi India. Hanya sebuah sketsa singkat yang dapat disusun dari informasi yang agak terputus-putus yang tersedia tentang kariernya yang penuh liku.

Tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui, sehingga kami tidak tahu pada usia berapa beliau meninggal. Kami tidak tahu apakah beliau menikah atau lajang atau apakah beliau meninggalkan seseorang untuk berbagi kenangan tentang kariernya sebelum datang ke India.

Pendidikan dasar beliau tempuh di Antwerp di mana beliau memenangkan Grand Prix Concours Generaux de Belgiuque.

Beliau lulus ujian gelar Kedokteran Negara dari Universitas Heidelberg dengan predikat sangat memuaskan. Beliau mendapatkan gelar Doktor Kedokteran di Paris, bekerja di bawah bimbingan Prof. Javal, Lendolt, dan Tscherning dengan subjek “Penelitian Eksperimental tentang Teori Akomodasi Tscherning”.

Beliau mendapatkan gelar di bidang Patologi dan Bakteriologi Mata di Royal Institute for Infectious Diseases, Berlin dan juga untuk Penyakit Tropis dari State Institute for Exotic and Tropical Disease, Hamburg. Beliau juga merupakan “Dekter Genesheer” – Batavia, Hindia Belanda.

Rincian dan tahun pencapaian akademis ini tidak tersedia.

Mengenai kariernya, tampaknya sangat penuh liku dan beliau telah mengisi tidak kurang dari 15 posisi berbeda di berbagai belahan dunia. Minat utamanya dalam hidup tampaknya adalah studi tentang penyakit tropis, khususnya yang berkaitan dengan oftalmologi, terlihat dari perannya sebagai pemimpin tiga ekspedisi penting, satu ke Kepulauan Laut Selatan dan Sumatera yang disertai oleh Von Provazek, untuk mempelajari penyakit tropis dan menular serta mencoba efek Salvarsan pada Framboesia atas permintaan Prof. Ehrlich; yang kedua ke Pago-Pago sebagai penasihat dalam pekerjaan penelitian atas permintaan pemerintah Amerika Serikat; dan yang ketiga ke New Guinea untuk mempelajari penyakit epidemik asli dan pencegahannya.

Dorongan untuk ilmu kedokteran tropis dan oftalmologi tampaknya telah tertanam dalam dirinya selama masa asistennya di bawah Prof. Wassermann, di Robert Koch Institute for Infectious Diseases, Berlin, dan sebagai asisten di Klinik Medis dan Oftalmologi, Universitas Heidelberg. Kenangan masa hidupnya ini muncul dalam sebuah apresiasi terhadap Robert Koch dan karyanya yang diterbitkan di East Indies Medical Journal.

Di antara jabatan pentingnya sebelum datang ke India adalah:

Asisten pertama dan Dosen Oftalmologi, Universitas Berlin.
Profesor dan kepala oftalmolog, Klinik Mata, Universitas Goettingen.
Direktur, Klinik Penyakit Tropis dan Mata, Malang, Hindia Belanda.
Setelah dibebaskan dari kamp tawanan perang di Jawa, beliau datang ke India pada tahun 1948 dan mengambil posisi sebagai kepala departemen Oftalmik di Rumah Sakit Prince of Wales, Bhopal. Pada tahun 1952 dan 1953, beliau bekerja sama dengan Laboratorium Penelitian Gulmarg, Kashmir, dan sejak tahun 1953, beliau bekerja sama dengan Rumah Sakit Mata Gandhi, Aligarh di mana beliau memainkan peran yang sangat penting dalam pengembangan departemen patologi institusi tersebut. Beliau adalah direktur pertama Institut tersebut. Beliau memegang jabatan ini hingga hari wafatnya.

Mengenai kontribusinya pada literatur Oftalmologi, beliau telah menulis tidak kurang dari 54 makalah, kebanyakan dalam bahasa Jerman dan Belanda di berbagai jurnal, khususnya yang berkaitan dengan penyakit tropis dan mata. Publikasi pertamanya muncul di Von Graefe’s Archives fur Ophthalmologie pada tahun 1905. Publikasinya mencakup berbagai subjek seperti akomodasi, penyakit menular umum, trakoma, kedokteran eksperimental pada tuberkulosis, berbagai penyakit tropis, dan fisiologi mata di dataran tinggi. Dari sini, seseorang dapat menilai betapa luasnya cakrawala pengetahuannya yang dikumpulkan dari seluruh dunia. Hampir setiap tahun dalam karier profesionalnya terdapat satu publikasi, kecuali antara tahun 1914-1919 dan 1942 hingga 1948, yaitu tahun-tahun perang. Beliau memiliki perpustakaan yang luar biasa dengan beberapa ribu buku yang hancur total selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Di antara kegiatan Perkumpulan Kedokterannya, beliau adalah Ketua Perkumpulan Kedokteran Jawa Timur, dan Ketua Universitas Rakyat, Malang dan juga dari Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan, Malang.

Beliau menjadi anggota Perkumpulan Oftalmologi Seluruh India dan selalu hadir secara teratur sejauh kesehatannya yang memburuk mengizinkan. Beliau selalu waspada dan memberikan kontribusi berharga dalam diskusi. Beliau rendah hati tentang pengetahuannya, dan apa pun yang sedikit beliau ucapkan, beliau ucapkan dengan baik dan tepat sasaran.

Beliau fasih berbahasa Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, dan Melayu. Dorongan untuk mempelajari kondisi tropis membawanya ke dunia Timur. Karier berpindah-pindahnya di Asia Tenggara yang tidak terlalu dikenal, tidak dapat memberikan tanda keistimewaan pada kariernya, tetapi ketika melihat kontribusi yang telah beliau berikan pada literatur di bidang oftalmologi dan kedokteran tropis, terasa bahwa beliau memiliki tanda-tanda seseorang yang akan menjadi terkemuka jika nasibnya ditempatkan di bagian dunia yang lebih maju secara ilmiah. Beliau datang ke India sebagai sosok penyendiri yang misterius, pendiam, tidak dikenal, tanpa seorang teman. Meski begitu di India, pada usia yang sudah lanjut, beliau menjadi direktur sebuah institusi mata yang berkembang di Aligarh. Beliau tidak meninggalkan kerabat yang dapat memberikan rincian tentang kehidupannya yang penuh warna.

Catatan Tambahan :

  • Nama Prof. Leber masih tercatat dalam sejarah singkat RS Panti Waluya Sawahan (RKZ) Malang. Bisa dilihat di : https://www.pantiwaluya.or.id/berita/profil/sejarah
  • Konon kalau ada orang yang sakit di Malang tempo dulu, ungkapan yang terkenal adalah “bawa ke Leber”, yang maksudnya adalah dibawa ke klinik pengobatan yang dimiliki oleh Prof. Leber. Disinyalir klinik Leber adalah klinik paling populer bagi masyarakat kalangan menengah kebawah dibandingkan dengan RS/Klinik lainnya di Malang. Yakni sebelum didirikannya klinik/RS baru milik zending.
  • Bekas rumah tempat tinggal dan praktek Prof. Leber berada di Coenplein No. 13, sekarang alun-alun tugu atau alun-alun bunder. Rumah ini terletak di sudut Daendels Boulevard dan J. P. Coen Plein, disebut sebagai “huis met den toren” (rumah dengan menara). Pada bulan Januari 1942, Pemkot Malang menyewa rumah bekas Prof. Leber untuk departemen (pelayanan) tenaga kerja, kesehatan, dan biro pengawas (garda) kota. Bekas rumah Leber adalah lokasi dimana Gedung DPRD Kota Malang sekarang berada.
RKZ Maria Magdalena Postel di Malang yang menempati lahan bekas Kliniek Prof. Leber.
Prof. Leber dengan para staf Rumah Sakit “Soekoen” di Malang.
Bangunan yang disebut dengan “huis met den toren” bekas rumah tempat tinggal dan praktek Prof. Leber berada di pojok Daendels Boulevard dan Coenplein Malang.

Postingan Terkait :

Tokoh Dibalik Kesuksesan NIMEF Di Kendalpayak Malang, Berakhir Tragis Di Kamp Interniran Jepang

Ungkap Fakta Keberadaan NIMEF di Tenun Malang

Jans Kloppenburg-Versteegh Ahli Tanaman Herbal Hindia, Meninggal di Malang 1948