Mangga : “Lahan yang Nyaris Tidak Dikenal”

Siapa yang tidak kenal POJProefstation Oost-Java di Pasuruan yang begitu harum namanya, menyelamatkan industri gula dunia dengan varietas tebu ajaib POJ 2878. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa di balik gemerlap kejayaan tebu dan nama besar POJ, ada sebuah permata tersembunyi di Pasuruan : “Mangga Proeftuin Pohjentrek ” — kebun percobaan mangga pertama dan terbesar di Nusantara, yang meletakkan fondasi bagi varietas mangga unggul yang kita nikmati hingga saat ini.

Jauh sebelum Pemerintah Belanda mendirikan kebun percobaan, tanah ini sendiri sudah bernama : Pohjentrek. Dalam bahasa Jawa, “poh” berarti mangga, “jentrek” berarti berjajar banyak. Alam telah berbisik—tempat ini memang ditakdirkan menjadi surganya mangga. Namun bisikan itu tenggelam oleh gemuruh pabrik gula dan nama besar POJ yang mendunia.

Surat kabar Soerabaijasch Handelsblad (1931) menyebut budidaya mangga sebagai “lahan yang nyaris tidak dikenal“. Pohon mangga tumbuh dari biji di pekarangan, tanpa perawatan sistematis, sehingga kualitas buahnya seringkali jauh di bawah induknya. Belum ada “kebun (perkebunan) mangga” dalam arti sebenarnya.

Sementara India, California, Florida, dan Mesir telah memiliki perkebunan mangga modern, Hindia Belanda masih tertinggal. Kesadaran itulah yang memulai babak baru bagi mangga di Nusantara—dan inilah kisah tentang Mangga Proeftuin di Pohjentrek Pasuruan, permata tersembunyi yang kini nyaris tidak dikenal dan hampir dilupakan.

Pelopor Awal — F. W. J. Westendorp dan Kebun Percobaan Pertama (1908-1918)

Pada 1908, F. W. J. Westendorp, ahli buah-buahan pemerintah, mulai mencoba okulasi pada pohon mangga. Ia menanam pohon-pohon hasil okulasinya di sebuah kebun percobaan di Pasuruan. Westendorp tidak terburu-buru: ia menunggu tujuh tahun (hingga 1915) untuk memastikan pohon-pohon itu berbuah. Setelah terbukti berhasil, barulah metode okulasinya diterapkan luas.

Westendorp bukan sekadar ilmuwan. Ia perancang Dinas Penyuluhan Hortikultura Hindia Belanda. Cara kerjanya unik: ia tidak memaksa petani, tetapi membuktikan dengan hasil nyata. Metode okulasinya lebih unggul dari tjangkok (metode perbanyakan biasa) karena pohon yang dihasilkan identik dengan induk unggul dan bisa diproduksi massal.

Kebun ini awalnya hanya 1 bahu (0,7 ha) dan hanya memperbanyak mangga Gadung (Arum Manis). Meski terbatas, pada 1918 kebun ini menjual hampir 700 pohon senilai ƒ 1.055,83400 di antaranya dikirim ke Sulawesi Selatan dan 80 ke Banyuwangi.”

Pohon-pohon yang ditanam pada tahun 1908 itu menjadi bukti nyata bahwa mangga hasil okulasi bisa tumbuh sangat baik. Meskipun sempat terlantar antara tahun 1911 hingga 1915, pohon-pohon ini tetap tumbuh dengan bentuk yang paling indah di seluruh daerah tersebut. Keberhasilan inilah yang kemudian meyakinkan pemerintah untuk memperluas pembibitan ini.

Pemerintah Hindia Belanda melalui keputusan Officieele Besluiten, Buitenzorg, 17 Juli 1918, menyetujui dana sebesar ƒ 5.000 untuk membeli tanah seluas 10 bahu (7 ha) di desa Sutodjajan (Sutojayan), di sebelah selatan kota Pasuruan. Tanah ini sengaja dipilih karena berbatasan langsung dengan kebun percobaan yang sudah ada, dan akan mulai digunakan pada tahun 1919. Pada akhir tahun laporan 1918, kebun lama masih memiliki stok sekitar 2.500 pohon hasil okulasi yang siap pakai.

Lokasi Mangga Proeftuin di Pasuruan pada peta tahun 1937.

Pameran Mangga Pasuruan

Pada 19-20 Oktober 1918, perkumpulan ‘Mardi Kirno‘ menggelar pameran mangga pertama di alun-alun Pasuruan. Lebih dari 4.600 kiriman dari 200 varietas masuk, dengan 140 hadiah. Bupati Pasuruan (R.A.A. Soejono) memamerkan varietas rahasianya—Arum Manis dan Manalagi—yang selama ini hanya menjadi hak prerogatif bupati. Ia berjanji membagikan enten-enten dari pohon istimewanya untuk rakyat. Pameran dibuka dengan sambutan Asisten Residen de la Parra yang diterjemahkan Bupati, dihadiri para pejabat, bupati se-Pasuruan, dan sesepuh ahli pertanian Tuan Ottolander. Pameran dimeriahkan gamelan, tari, dan topeng. Atas nama perkumpulan, Bupati akan mempersembahkan koleksi mangga pilihan kepada Gubernur Jenderal.

Bupati Pasuruan R. A. A. Soejono, pemilik mangga Gadung dan Manalagi jenis unggul yang mengijinkan pohonnya diperbanyak untuk dibagikan ke masyarakat.
Pohon induk mangga Gadung, bertahun 1918. Foto tahun 2024.

Setelah Wafatnya Westendorp (1920-1925)

Pada tanggal 3 Maret 1920, F. W. J. Westendorp meninggal dunia sebelum sempat melihat perluasan besar dari dinas yang ia dirikan. Direktur Pertanian Hindia Belanda, J. Sibinga Mulder, dalam sebuah In Memoriam yang dimuat di Bataviaasch nieuwsblad (5 Mei 1920), menulis: “Siapa yang dapat menyelesaikan bangunan dengan lebih baik daripada arsitek yang merancangnya dan meletakkan fondasinya?” Ia berjanji bahwa pekerjaan Westendorp akan dilanjutkan dalam semangat yang sama.

Tiga foto yang diambil di pembibitan Pasuruan mengabadikan karya Westendorp. Foto pertama menunjukkan pembibitan plak-ent (enten tempel) dari jenis-jenis mangga unggul. Foto kedua memperlihatkan enten-ent yang telah berhasil siap dikirim—yang saat itu sudah mencapai ribuan per tahun. Foto ketiga menunjukkan tiga batang enten mangga yang sudah berbuah, sebuah bukti gemilang bahwa metode enten Westendorp benar-benar berhasil.

Tuan Ochse, asisten Westendorp, melanjutkan pekerjaan di kebun percobaan Pasuruan. Ia dijuluki “jiwa dari budidaya buah-buahan pribumi di wilayah ini, dan di Keresidenan Besuki.”

Pada tahun 1921, Bupati Probolinggo menanam pohon mangga hasil okulasi di kebun kabupaten. Ini adalah salah satu bukti awal bahwa teknologi dari kebun percobaan Pasuruan mulai diadopsi oleh para pejabat pribumi.

Kunjungan ke Kebun Percobaan dan Pameran Probolinggo (1925)

Pada bulan September 1925, De locomotief (26 September 1925) melaporkan kunjungan resmi ke kebun percobaan Pasuruan. Rombongan dipimpin oleh Tuan Scholten (Asisten Residen Probolinggo) dan Bupati Probolinggo. Mereka disambut oleh pemimpin kebun, Tuan De Vries.

Tuan De Vries menjelaskan bahwa tujuan pemerintah dengan proeftuin ada dua: pertama, penjualan bibit mangga unggul yang menguntungkan; kedua, pelaksanaan percobaan ilmiah untuk memajukan budidaya mangga. Metode yang digunakan adalah enten (okulasi) , bukan tjangkok (perbanyakan biasa). Bibit okulasi dijual seharga f 1 per batang dan dikirim tidak hanya ke seluruh wilayah Hindia tetapi juga hingga ke Mesir. Percobaan paling menarik saat itu adalah upaya untuk mendapatkan bibit yang memiliki sifat sama persis dengan induknya tanpa melalui okulasi—cukup dari biji—dengan mencari ciri-ciri khusus pada kecambah.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 26 Oktober 1925, De Indische courant melaporkan pameran mangga dan pasar malam di Probolinggo. Acara dibuka dengan tembakan meriam dan jamuan sampanye. Pameran menampilkan koleksi mangga pilihan dari wilayah Probolinggo, terutama varietas Arum Manis, Madu, dan Golek. Dinas Penyuluhan Hortikultura mendemonstrasikan teknik okulasi di hadapan para petani.

Keberhasilan metode ini dibuktikan dengan kiriman dari Bupati Probolinggo sendiri: buah mangga dari pohon hasil okulasi yang telah ditanam sejak tahun 1921. Data statistik yang dipamerkan menunjukkan bahwa ekspor dari wilayah Probolinggo mencapai 1.600.000 kg pada tahun 1924 dan diperkirakan 2.000.000 kg pada tahun 1925. Jumlah pohon mangga di wilayah Probolinggo saat itu adalah 14.000 pohon Madu, 12.000 Golek, 5.000 Arum Manis, 4.000 Nanas, dan 15.000 varietas lainnya.

Hadiah uang sebesar f 250 disediakan. Pemenang pertama untuk Mangga Madu adalah Kertowidjojo dari Kanigaran, dan untuk Mangga Arum Manis adalah Singoleksono dari Paiton. Setiap pemenang juga menerima sebatang pohon mangga hasil okulasi. Sebelas hadiah kehormatan juga diberikan. Yang terpenting, dari pohon-pohon para pemenang, pejabat Dinas Hortikultura di Pasuruan membuat enten yang kemudian ditanam di kebun percobaan sentral Pasuruan—sebuah siklus riset-terapan yang sistematis.

Riset Ilmiah Dr. Ir. E. de Vries (1925-1931)

Pada tahun 1924, seorang konsultan hortikultura muda lulusan Wageningen bernama Ir. Egbert de Vries ditempatkan di Buitenzorg (Bogor) dan Pasuruan sebagai Tuinbouwconsulent. Ia kemudian menjadi tokoh kunci dalam riset ilmiah mangga di Pasuruan.

Dari Desember 1925 hingga November 1928, selama tiga tahun penuh, De Vries melakukan penelitian periodisitas mangga di kebun percobaan Pohjentrek, Pasuruan. Setiap hari, ia mencatat tahap pohon, jumlah daun yang gugur, perkembangan daun, perkembangan bunga, dan waktu munculnya tunas.

De locomotief (10 November 1931) melaporkan publikasi De Vries dalam jurnal Landbouw. Temuan utamanya adalah: adanya hubungan erat antara periode perkembangan daun dan perkembangan bunga; pohon mangga memiliki ritme alami yang khas (otonomi periodisitas) yang tidak sepenuhnya tergantung faktor lingkungan; dan menurut ahli botani Coster, mangga adalah “salah satu contoh terindah dari periodisitas yang ketat” di dunia tanaman. De Vries menunjukkan bahwa banyak masalah budidaya mangga—seperti produksi buah yang tidak setiap tahun—berkaitan erat dengan gejala periodisitas ini.

Pada 12 Februari 1931, De Vries meraih gelar doktor dari Landbouwhogeschool Wageningen dengan disertasi berjudul “Landbouw en welvaart in het Regentschap Pasoeroean” (Pertanian dan Kesejahteraan di Kabupaten Pasuruan), lulus cum laude (dengan pujian). Disertasinya merupakan tinjauan sejarah pembangunan pertanian Pasuruan dari awal abad ke-19 hingga 1929, mencakup berbagai aspek kehidupan ekonomi. Yang paling relevan, ia menyajikan aspek-aspek detail pertanian di distrik kecil Pohjentrek —lokasi kebun percobaan mangga—sebagai studi kasus. Disertasinya diakhiri dengan saran tentang cara meningkatkan kesejahteraan Kabupaten Pasuruan melalui pengembangan pertanian.

Prof. E. de Vries tahun 1950. Foto sumber : Wikipedia.

Era Sentralisasi (1931-1932) — Ir. A. P. C. Bijhouwer

Pada tanggal 22 Agustus 1931, Soerabaijasch Handelsblad melaporkan bahwa kebun percobaan telah ditingkatkan statusnya menjadi Centrale Mangga Proeftuin (Kebun Percobaan Mangga Sentral) dengan luas mencapai 25 bahu (sekitar 17,8 hektar). Sebuah perubahan manajemen penting terjadi: sebelumnya kebun ini berada di bawah konsultan hortikultura dengan tugas terlalu luas (mencakup semua sayur dan buah se-Pasuruan), sehingga waktu untuk studi sistematis tentang mangga sangat terbatas. Kini, seorang konsultan hortikultura dari Departemen Pertanian secara khusus ditugaskan untuk meneliti mangga. Riset yang sedang berlangsung mencakup proses normal pembungaan berbagai varietas Jawa dan pembentukan buah.

Pada tanggal 24 Februari 1932, De Indische Courant melaporkan bahwa studi persiapan untuk perbaikan budidaya mangga dipercayakan kepada Ir. A. P. C. Bijhouwer, yang ditempatkan khusus di Pasuruan. Penelitiannya disebut sangat luas cakupannya dan berlangsung selama bertahun-tahun sebelum bisa diterapkan secara praktis ke petani, mencakup pembungaan, pembuahan, pengaruh batang bawah, dan perbaikan varietas.

Pada tanggal 3 Maret 1932, De Sumatra Post mengulangi laporan serupa, menambahkan bahwa hasil dari proeftuin mulai terasa di tiga kabupaten: Bangil, Pasuruan, dan Probolinggo. Di wilayah tersebut, budidaya mangga mulai dilakukan secara lebih sistematis dengan pendampingan konsultan hortikultura, dan telah menjadi sumber pendapatan penting bagi penduduk pribumi. Meskipun demikian, secara jujur diakui bahwa kualitas mangga Hindia Belanda masih jauh tertinggal dibandingkan India atau California. Namun, tekad telah bulat: “mengangkat budidaya mangga untuk mendekati tingkat negara lain.

Pohon mangga di Jawa dengan bambu yang dipasang keranjang/jaring untuk perangkap hama kelelawar.

Ir. A. P. C. Bijhouwer menulis buku tentang “Mangga” secara komprhensif mulai dari sejarah, penanaman, perawatan, statistik, dll. hingga proses penanganan untuk ekspor pada tahun 1935.

Buku “Mangga” tahun 1935 karya Ir. A. P. C. Bijhouwer (sebagai konsultan hortikultura di Pasuruan)

Dr. Ir. A. P. C. Bijhouwer tewas pada suatu kecelakaan mobil di desa Bandungan, Durenan Trenggalek pada 10 Mei 1938. Dalam perjalanan pulang setelah memeriksa lahan di Trenggalek, mobil yang dikendari terbalik dalam kecepatan tinggi karena ban meledak. Diantara 6 penumpang hanya Tuan Bijhouwer tewas seketika, sementara yang lain luka ringan dan gegar otak.

Beliau memperoleh gelar teknik (Ir.) di Wageningen, setelah itu ditempatkan di Pasuruan. Kemudian, beliau datang ke Malang. Beliau melakukan studi khusus tentang budidaya mangga. Selama cuti di Eropa, beliau memperoleh gelar doktor dengan disertasi tentang “Budidaya Mangga”. Beliau kembali dari cuti pada bulan September tahun lalu (1937). Atas permintaan kepala dinas penyuluhan pertanian provinsi, beliau ditempatkan di Provinsi Jawa Timur pada tanggal 1 Februari (1938). Almarhum Dr. Ir. Bijhouwer adalah seorang pegawai negeri yang cakap, yang terlebih lagi sudah terbukti dari fakta bahwa kepala dinas penyuluhan pertanian provinsi secara khusus memintanya. Selain pengetahuan teoritisnya yang mendalam tentang pertanian, beliau memiliki etos kerja yang mengagumkan. Oleh karena itu, kematiannya merupakan kehilangan besar bagi provinsi (Jatim) ini. Ia masih relatif muda: 36 tahun. Pemakaman berlangsung 11 Mei 1938 pukul 4 sore di CBZ Surabaya.

Ekspor Mangga ke Ratu Belanda (1928-1933)

Pada bulan September 1928, sebuah tonggak penting dalam sejarah ekspor mangga terjadi. De locomotief (24 September 1928) dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (25 September 1928) melaporkan bahwa dengan kapal pos De Koningin der Nederlanden, dikirimkan 146 peti mangga (total sekitar 7.000 buah) dari varietas Arum Manis, Golek, dan Madu, dalam ruang pendingin, untuk diangkut ke Belanda. Ini adalah percobaan ekspor skala besar yang dilakukan dalam kerja sama antara Lembaga Kolonial Amsterdam (bagian Museum Perdagangan), Dinas Penyuluhan Hortikultura Pasuruan, dan perusahaan pelayaran S.M. Nederland.

Masalah teknis yang dihadapi sangat kompleks. Masalah pertama adalah pengemasan: peti dibuat khusus dari kayu lapis dan kayu durian, dan percobaan ini dilakukan tanpa bahan pengemas sama sekali karena ada indikasi bahwa bahan pengemas mungkin tidak diperlukan. Masalah kedua dan yang paling sulit adalah menentukan tingkat kematangan yang tepat saat buah dimasukkan ke dalam ruang pendingin, karena di dalam ruang pendingin kapal, mangga hampir tidak matang lagi. Masalah ketiga adalah pengiriman darat dari Pasuruan ke pelabuhan: meskipun dapat dilakukan dalam satu hari jika semua layanan bekerja sama, suhu di dalam gerbong kereta api bisa sangat tinggi dan menginap beberapa hari di dalam gerbong benar-benar mempercepat pembusukan.

Sebelum dimuat, setiap buah diperiksa oleh Ir. J.H.L. Joosten, konsultan hortikultura di Pasuruan. Setiap buah yang memperlihatkan sedikit pun tanda awal pembusukan disingkirkan. Target ke depan adalah mengirimkan minimal 10.000 buah dengan setiap kapal pos, karena metode yang tepat untuk pengiriman secara komersial harus ditemukan di mana faktor rentabilitas (keuntungan) akan memainkan peran besar. Pujian khusus diberikan kepada perusahaan pelayaran S.M. Nederland atas kerja sama yang sangat baik.

Pada tanggal 5 Januari 1933, De locomotief melaporkan berita yang merupakan puncak pengakuan diplomatik bagi kebun percobaan Pasuruan. Departemen Pertanian Hindia Belanda, dengan kerja sama dari Perusahaan Penerbangan Kerajaan Hindia Belanda (KNILM), mengirimkan sebuah kotak berisi mangga Aroem-Manis dari Pasuruan dan sebuah kotak mangga Gedong dari Cirebon kepada sekretaris pribadi Ratu Belanda, Baron Van Geen, dengan permohonan untuk mempersembahkan buah-buahan tersebut kepada Yang Mulia Ratu. Surat balasan dari Baron Van Geen, atas nama Ratu, menyatakan: “Segera setelah tiba, saya tidak lupa mempersembahkan buah-buahan tersebut kepada Yang Mulia Ratu… Yang Mulia berkenan menugaskan saya untuk menyampaikan ucapan terima kasih-Nya yang tulus.” Ini adalah bukti bahwa mangga hasil riset kebun percobaan Pasuruan telah mencapai tingkat kualitas istana.

Sensus Pohon Mangga dan Legenda Manalagi (1935)

Pada tanggal 20 April 1935, Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië membawa laporan sensus Dinas Penyuluhan Hortikultura yang mengejutkan. Hasil sensus sementara menunjukkan sekitar 2.000.000 pohon mangga di Jawa, namun perkiraan aktual mencapai 3.000.000 pohon, memberikan manfaat ekonomi tahunan sebesar ƒ 6.000.000 yang masuk ke masyarakat.

Sepuluh pusat mangga terbesar di Jawa adalah: Indramayu (181.000 pohon, 37 persen komersial), Kediri (174.000), Cirebon (169.000, 25 persen komersial), Solo (168.000), Pasuruan (128.000, 34 persen komersial) , Madura (107.000, 34 persen komersial), Bangil (94.000, 15 persen komersial), Probolinggo (72.000, 36 persen komersial), Kraksaan (74.000, 28 persen komersial), dan Situbondo (33.000, 52 persen komersial). Menariknya, Situbondo memiliki persentase jenis komersial tertinggi—berkat varietas Manalagi.

Peta perkebunan mangga dan curah hujan di Jawa tahun 1935.
Ringkasan jumlah pohon mangga (dalam ribuan) dalam sensus 1935.

Artikel ini juga mencatat legenda asal-usul nama Manalagi : Bupati Pasuruan memberikan beberapa mangga dari varietas yang dikembangkannya di kebun pribadi kepada seorang calon kontrolir Belanda. Buah itu sangat disukai pejabat muda tersebut sehingga pada pertemuan berikutnya dengan Bupati ia bertanya, “Mana lagi?” Bupati pun memutuskan untuk menamai varietas mangga baru itu: Manalagi.

Produksi okulasi dari Kebun Percobaan Pasuruan mencapai puncaknya. Pada musim barat 1933/1934 dihasilkan 6.000 okulasi, dan pada musim barat 1934/1935 mencapai 10.000 okulasi. Harga okulasi untuk swasta adalah f 0,75 per buah, tetapi untuk petani kecil atau orang tidak mampu cukup f 0,35 per buah dengan surat keterangan dari konsultan pertanian—sebuah kebijakan subsidi yang sangat progresif untuk zamannya, yang diberlakukan atas permintaan organisasi sosial I.E.V.(Komunitas kaum Indo Eropa)

Artikel ini juga melaporkan munculnya kebun mangga modern pertama di Jawa Timur berkat kerja sama Tuan L. A. de Graaff (asisten-residen Kraksaan) dan Tuan W. de Jong (kepala pejabat hortikultura Malang). Seorang pengusaha pribumi, Haji Djakfar, memelopori kebun mangga seluas 7 bau dengan koleksi 125 pohon arum manis, 40 golek, dan 40 manalagi, dengan tanaman selingan jeruk Jepun dan Siam. Panen pertamanya sudah berhasil ia petik. Ia juga membangun kebun mangga kedua di dekat saluran irigasi Kraksaan. Tiga petak tanah milik desa di Kecamatan Gending, Bulu, dan Kerang-Gending juga ditanami mangga varietas unggul. Semua materi tanaman disediakan oleh Kebun Percobaan Mangga Pemerintah di Pasuruan.

Perbandingan dengan Cirebon menarik: di Cirebon sudah lama ada kebun mangga (yang terbesar mencapai 70 bau), tetapi petani Cirebon masih menggunakan bibit dari biji sehingga panen lebih lama dan kualitas tidak pasti. Sebaliknya, di Jawa Timur, petani menggunakan okulasi sehingga pohon lebih cepat berbuah dan kualitas terjamin, serta kebun dibangun secara teknis-budidaya dengan jarak tanam yang diperhitungkan.

Artikel ditutup dengan nasihat kesehatan yang mengutip Mahatma Gandhi: “Makanlah lebih banyak mangga dan jeruk!” karena mangga mengandung enzim yang membantu pencernaan protein, terutama setelah makan daging.

Kebun Percobaan Pendamping — Bedali (Spesialisasi Jeruk, 1937)

Pada tanggal 24 November 1937, De Indische courant melaporkan tentang Proeftuin Bedali di dekat Lawang, sebuah kebun percobaan yang berfokus pada jenis-jenis jeruk. Kebun seluas lebih dari 20 bau ini dikelola oleh mandor hortikultura pribumi, Tjokrosoetikno, dan belum genap delapan tahun berdiri (sekitar 1930). Curah hujan di daerah ini sekitar 2.000 mm per tahun, cukup ideal untuk jeruk.

Sebagian besar jeruk diokulasi pada citrun Jepang dan Citronella, dengan percobaan menggunakan Sweetlime dari Palestina sebagai batang bawah. Varietas yang dikembangkan termasuk Satsuma (jeruk Jepang), grapefruit (empat jenis), Ponderosa, jeruk sukade (disebut juga jeruk kates karena bentuknya), keprok Australia, lemon Villafranca, serta keprok, manis, dan Washington navel orange. Okulasi Satsuma, oranye, jeruk nipis, dan pompelmoes dibuat berdasarkan permintaan. Pelanggan datang dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nugini. Omset naik pesat setiap tahun.

Yang terpenting untuk sejarah mangga, artikel ini dengan tegas menyatakan bahwa “untuk mangga, sebaiknya Anda pergi ke kebun percobaan di Pasuruan”—menegaskan bahwa hingga tahun 1937, Pasuruan tetap menjadi pusat utama riset mangga di Hindia Belanda. Sebagai panduan, untuk durian, manggis, rambutan, kapulasan, sawo kecik, nanas, dan langsep, alamat yang tepat adalah kebun percobaan di Pasar Minggu (Batavia).

Buah yang Dicintai dan Dampak Mangga Proeftuin Pasuruan (1939)

Berdasarkan dokumen majalah Insulinde (sekitar 1939), berikut adalah dampak nyata yang telah dicapai oleh Kebun Percobaan Mangga Pasuruan setelah 31 tahun beroperasi (1908-1939):

Mangga adalah salah satu buah yang paling dicintai di Jawa. “Semua buah Jawa boleh dicuri dariku asalkan aku bisa menyimpan mangga dan durian,” kata seorang Bupati terkenal kepadaku suatu kali.

Beberapa tahun yang lalu, upaya dilakukan untuk menentukan berapa banyak pohon mangga yang ada di Jawa, dan diperkirakan antara dua hingga tiga juta pohon. Di berbagai daerah, mangga merupakan jenis buah yang paling penting, dan setiap daerah memiliki varietas spesifik yang tumbuh paling baik di sana: Cirebon terkenal dengan mangga gedong dan mangga budidaya; di Indramayu, mangga cengkir mendominasi; di Pasuruan, mangga gadung; di Probolinggo, mangga arum manis; di Bangil, mangga kopjor; di Besuki, mangga golek, dan lain-lain. Namun, masih banyak varietas lain yang dibedakan: di Cirebon saja, masyarakat sudah mengenal puluhan varietas.

Jenis mangga terbaik dianggap sebagai arum manis, golek, gadung, dan madu; kopjor dan gedong juga sangat dicari. Daerah penghasil mangga terpenting adalah wilayah pesisir antara Pasuruan dan Probolinggo, atau lebih tepatnya, antara Bangil dan Kraksaan. Dari sini, selama musim panen pada bulan September, Oktober, dan November, buah-buahan tersebut dikirim setiap hari melalui kereta api dalam jumlah ribuan ke seluruh Jawa, mencapai sekitar 15 juta buah per tahun, dengan berat 5 juta kg.

Daerah penghasil mangga terpenting kedua terletak di wilayah Cirebon dan Indramayu. Di Cirebon, buah-buahan terbaik ditemukan di dataran rendah sebelah barat Cirebon, di sekitar Plumbon dan Kadipaten, dan juga sedikit lebih jauh ke selatan di kaki Gunung Ciremai.

Di daerah-daerah ini, kita dapat menemukan beberapa pohon mangga di setiap halaman, tetapi di halaman yang lebih besar terdapat beberapa lusin pohon, sementara terkadang kebun mangga yang layak telah dibuat di tegalan yang berbatasan dengan halaman. Kebun-kebun ini berukuran sedang; namun, beberapa di antaranya berukuran sekitar satu bau (0,7 hektar).

Awalnya, sedikit perhatian diberikan pada pemilihan bahan tanam. Pada umumnya, yang dilakukan adalah menanam benih dari pohon yang baik atau mengambil tunas dari pohon tersebut, tetapi hal ini tidak dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Setelah pendirian kebun percobaan di Pasuruan dan kebun percobaan yang lebih kecil di tempat lain, hal ini membaik. Para pejabat yang bertugas mengelola kebun percobaan ini mempelajari cara menyambung/mencangkok (enten/okulasi) pohon mangga dan, setelah teknik tersebut dikuasai, mereka membuat koleksi tunas yang besar dari pohon-pohon unggul di daerah sekitarnya.

Di desa, mereka berhasil membangkitkan minat untuk meningkatkan budidaya dan, yang terpenting, untuk meningkatkan bahan tanam. Kebun percobaan di Pasuruan dikunjungi oleh banyak pemilik kebun mangga dan kepala desa; mereka mempelajari metode penyambungan di sana, dan ketika kebun percobaan menyediakan pohon hasil sambungan dengan harga murah, hal ini dimanfaatkan dengan antusias. Ribuan pohon tua, yang buahnya tidak terlalu berkualitas, digantikan oleh bibit hasil okulasi dari kebun percobaan.

Dengan demikian, sekarang kita menemukan banyak mangga hasil okulasi di desa-desa; namun, tidak semua pohon ini berasal dari kebun percobaan; petani sekarang juga menerapkan okulasi sendiri.

Ekspansi ke Grati dan Kraton (1940)

Pada tahun 1940, Dinas Hortikultura Hindia Belanda mengambil langkah besar dengan membeli dua kompleks tanah baru sekaligus. Ekspansi ini bukan hanya ke satu lokasi, melainkan ke dua tempat yang berbeda, yang masing-masing memiliki fungsi spesifik.

Lokasi pertama adalah Grati, sebuah area yang terletak sekitar 3 kilometer di sebelah timur stasiun kereta api dengan nama yang sama. Di sini, pemerintah membeli tanah seluas 15 bau berupa tegalan. Fungsi utama kompleks Grati sangat ambisius.

Pertama, akan dibangun koleksi standar dari semua jenis mangga, tidak hanya varietas lokal dari Jawa tetapi juga jenis-jenis impor. Dari Hindia Britania (India) telah didatangkan 30 hingga 40 varietas yang sudah diokulasi dan siap tanam.

Kedua, karena daerah sekitar Grati memiliki iklim yang sangat kering, akan ditanam koleksi buah-buahan yang tahan kekeringan seperti sawo kecik (buah manis dari Madura) dan jambu, untuk menilai jenis-jenis yang masih memberikan peluang berhasil di daerah kering.

Ketiga, akan dibangun kebun pembibitan untuk jenis-jenis sayuran pribumi seperti ubi-ubian dan varietas kacang-kacangan, yang di daerah kering juga dapat berfungsi sebagai tanaman pekarangan.

Lokasi kedua adalah Kraton, yang terletak sekitar 5 kilometer dari Pasuruan. Dokumen berita yang tersedia tidak menyebutkan secara rinci luas tanah maupun fungsi spesifik dari kompleks Kraton. Namun, fakta bahwa pemerintah membeli dua kompleks sekaligus menunjukkan adanya rencana perluasan yang terencana dan sistematis dari Dinas Hortikultura untuk kawasan Jawa Timur.

Bagian terpenting dari berita ini adalah pengumuman bahwa koleksi mangga yang berada di Pohdjentrek (Pohjentrek), Pasuruan, akan dipindahkan ke Grati. Koleksi yang dipindahkan mencakup semua jenis Cirebon, mangga Jawa Timur, varietas Semarang, dan lain-lain—secara keseluruhan sekitar 250 nama varietas yang berbeda.

Perpindahan ini menandai babak baru dalam sejarah kebun percobaan mangga Pasuruan: pusat koleksi mangga bergeser dari lokasi aslinya di Pohjentrek (dalam kota Pasuruan) ke Grati (di pedesaan). Sementara itu, Kraton, meskipun tidak dijelaskan secara rinci, menjadi bagian dari jaringan kebun percobaan yang lebih luas di wilayah Pasuruan.

Sayangnya, ambisi perluasan ini segera terganggu oleh pecahnya Perang Dunia II dan invasi Jepang ke Hindia Belanda pada tahun 1942. Namun, fondasi yang telah diletakkan—khususnya di Grati—tidak hilang begitu saja.

Pasar Mangga Musiman

De Indische courant dalam edisi 24-10-1941 menulis tentang Pasar Mangga Blimbing : Sejak beberapa waktu lalu, pasar mangga di Blimbing, sebuah pasar musiman, telah dipindahkan ke Gang Glintung. Dari jauh dan dekat, gerobak-gerobak sapi yang penuh dengan buah-buahan ini menggelinding menuju Blimbing; dari daerah mangga Pasuruan dan Grati, bahkan dari Nguling dekat Probolinggo, mangga-mangga didatangkan dan diperdagangkan. Pedagang perantara Tionghoa, Arab, dan Jawa selalu hadir di sini untuk “menangkap” gerobak-gerobak sapi tersebut.

Dahulu, pasar tersebut terletak di sebelah selatan pabrik ubin, di jalan raya Glintung. Setelah pengelola pasar meninggal, pemerintah kota mengambil alih pengelolaannya dan untuk sementara pasar dipindahkan ke sebuah lapangan di dekat pos polisi Lowokwaru. Tahun ini, giliran Gang Glintung yang mendapat giliran, dan di musim mangga yang sibuk ini, buah-buahan didatangkan siang dan malam.

Pasar mangga musiman di Malang masih terpantau di tahun 1990-an berlokasi di Kendalsari Malang.

Akhir Era Kolonial dan Kedatangan Jepang (1941-1942)

Setelah perpindahan koleksi ke Grati pada tahun 1940, Kebun Percobaan Mangga Pasuruan memasuki masa yang penuh ketidakpastian. Pada tahun 1941, situasi global semakin memburuk dengan meletusnya Perang Pasifik. dr. ir. Egbert de Vries, yang saat itu telah menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian yang baru didirikan di Universitas Batavia (kini Universitas Indonesia), ditugaskan untuk mengembangkan institusi pendidikan pertanian tersebut.

Pada bulan Maret 1942, pasukan Jepang mendarat dan menginvasi Hindia Belanda. Pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat. Seluruh kegiatan pertanian dan perkebunan—termasuk Kebun Percobaan Mangga Pasuruan—berada di bawah kendali pemerintahan militer Jepang.

Nasib Kebun Percobaan Mangga Pasuruan selama pendudukan Jepang (1942-1945) tidak terdokumentasi dengan baik dalam arsip-arsip yang ada. Dapat diasumsikan bahwa kegiatan penelitian dan produksi okulasi terganggu secara signifikan. Para peneliti Belanda sebagian besar ditahan, dan fokus pemerintahan Jepang adalah pada komoditas perang, bukan pada riset buah-buahan. Meskipun demikian, pohon-pohon koleksi—sekitar 250 varietas yang baru saja dipindahkan ke Grati—mungkin masih dipertahankan, meskipun tanpa perawatan optimal.

Lokasi Grati inilah yang kelak, setelah kemerdekaan Indonesia, berkembang menjadi Desa Cukurgondang dan menjadi lokasi Kebun Percobaan Cukurgondang, yang hingga kini dikenal sebagai bank gen mangga terlengkap di Asia Tenggara. Adapun nasib kompleks Kraton pasca-1942 tidak terdokumentasikan dengan baik dalam arsip-arsip yang tersedia.

Kunjungan Presiden Sukarno

Pada tanggal 3 Desember 1951, surat kabar Malang Post melaporkan bahwa Kebun Mangga Pohjentrek di Pasuruan masih berfungsi dan bahkan dijuluki sebagai “salah satu kebun mangga terbesar di seluruh Indonesia” . Kebun seluas 18,8 hektar ini memiliki 760 pohon dengan tidak kurang dari 14 varietas, termasuk Manalagi, arumanis, gadung, golek, lalijiwo, kopjor, madu, dan anggur. Mangga Manalagi di kebun ini memegang rekor berat 16 ons per buah—dua kali lipat berat mangga biasa.

Dalam satu musim (Desember-Februari), kebun ini menghasilkan 11.000 bibit okulasi dengan harga Rp 2,- per pohon, dikirim ke Probolinggo, Lumajang, dan hingga Banjarmasin. Ekspor ke luar negeri belum pulih seperti sebelum perang. Yang paling menarik, Presiden Sukarno direncanakan berkunjung pada pertengahan Desember 1951, dan beberapa pohon dengan mangga istimewa telah disiapkan untuk menyambut Tamu Agung tersebut.

Peristiwa ini membuktikan bahwa setelah kemerdekaan, Kebun Mangga Pasuruan—yang dulu dikenal sebagai Mangga Proeftuin—tetap menjadi pusat keunggulan mangga nasional, kini di bawah pengelolaan Djawatan Pertanian Republik Indonesia. Warisan Westendorp, De Vries, dan Bijhouwer masih hidup dan terus memberikan manfaat bagi bangsa.

Warisan yang Dilupakan Zaman

Meskipun era kolonial berakhir dengan kekacauan perang, fondasi yang telah dibangun oleh Westendorp, Ochse, De Vries, Bijhouwer, Joosten, Tjokrosoetikno, dan banyak tokoh lainnya tidak hilang begitu saja. Kebun Percobaan Mangga Pasuruan—di dari Sutojajan (Pohjentrek dan akhirnya ekspandi ke Grati dan Kraton —tetap bertahan. Setelah kemerdekaan Indonesia, kebun ini terus dikelola dan dikembangkan menjadi pusat riset mangga nasional.

Hingga saat ini, Kebun Percobaan Cukurgondang di Grati, Pasuruan, dikenal sebagai bank gen mangga terlengkap di Asia Tenggara dengan koleksi lebih dari 400 varietas. Varietas-varietas unggul seperti Manalagi 69, Arumanis 143, Garifta, dan Gadung Klonal 21 adalah cucu-cicit dari pohon-pohon yang pertama kali diteliti dan dikembangkan di kebun percobaan ini. Teknik okulasi yang disempurnakan oleh Westendorp pada tahun 1908 masih menjadi metode perbanyakan mangga unggulan hingga saat ini.

Dari kebun percobaan kecil seluas 10 bau di Sutodjajan pada tahun 1918, dengan dana awal hanya f 5.000; dari pameran mangga pertama yang mengumpulkan 4.600 kiriman dari petani-petani sekitar; dari pengiriman 7.000 buah mangga ke Belanda pada tahun 1928; dari persembahan mangga Arum Manis kepada Ratu Belanda pada tahun 1933; dari sensus 3 juta pohon mangga di Jawa pada tahun 1935; dari ekspansi ke dua lokasi (Grati dan Kraton) pada tahun 1940—kebun percobaan ini telah membuktikan bahwa riset yang tekun, kebijakan yang berpihak pada petani kecil, dan kerja sama antara ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat dapat mengangkat sebuah komoditas rakyat ke panggung dunia.

Mangga Proeftuin Pasuruan adalah permata yang tersembunyi di balik gemerlap tebu—tetapi permata yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk ditemukan kembali oleh generasi yang menghargai bahwa di balik setiap gigitan mangga manis, ada sejarah panjang riset, dedikasi, dan cita-cita untuk mensejahterakan rakyat.

Sorga Mangga Pasuruan

Sejak era kolonial dulu Pasuruan sudah dikenal sebagai “Sorganya Mangga“. Dikenal sebagai salah satu penghasil mangga terbesar, meskipun bukan yang paling besar. Di wilayah ini konsumen bisa mendapatkan mangga berkualitas super dengan harga yang sangat bersahabat. Sementara seperti di Surabaya, mangga yang sama atau kualitas dibawahnya bisa dijual dengan harga jauh lebih mahal.

Pasar Pasrepan di Kabupaten Pasuruan adalah bukti nyata bahwa tradisi “sorga mangga” yang dimaksud masih ada dan dapat ditemui hingga saat ini. Mendapatkan mangga berkualitas dengan harga murah langsung dari sentra produksi—masih hidup dan berdenyut hingga saat ini.

Tidak seperti di pasar kota yang menjual per kilogram, di Pasrepan pembeli langsung mengambil satu keranjang (biasanya 20-40 kg). Sistem ini menguntungkan kedua belah pihak: petani/pengepul bisa menjual dalam jumlah besar sekaligus, pembeli mendapat harga jauh lebih murah. Di Pasrepan, tersedia hampir semua jenis mangga Nusantara: Manalagi, Arum Manis, Gadung, Golek, Lalijiwo, Alpukat, Cengkir, hingga Gedong Gincu. Ini mengingatkan kita pada koleksi 250 varietas yang pernah dipindahkan dari Pohjentrek ke Grati pada tahun 1940.

Meskipun fokus kita pada mangga, Pasar Pasrepan juga dikenal sebagai “surga durian” di musim durian. Bahkan sempat viral di media sosial karena harganya yang sangat murah. Ini menunjukkan bahwa fenomena “harga murah di sentra produksi” berlaku untuk semua buah musiman, tidak hanya mangga.

Puspa Mangga Nasional

Mangga Proeftuin di desa Sutojayan Pohjentrek Pasuruan kini dikelola oleh UPT Pengembangan Benih Hortikultura, dibawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur (UPT PBH Jatim).

Pengelolaan “Mangga Proeftuin” sekarang dibawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, UPT Pengembangan Benih Holtikutura, Provinsi Jawa TImur. Foto tahun 2024.
Bangunan Kantor Utama. Foto tahun 2024.
Gedung Serba Guna. Foto tahun 2024.
Puspa Mangga Nasional. Foto tahun 2024.

Daftar Arsip yang Dijadikan Rujukan (1908-1942)

  • Bataviaasch nieuwsblad, 5 Mei 1920 (In Memoriam F.W.J. Westendorp) — peran Westendorp sejak 1908
  • De locomotief, 23 Oktober 1918 (Pameran mangga pertama di Pasuruan) — 4.600 kiriman, 200 varietas
  • De locomotief, 17 Juli 1918 (Pembelian tanah 10 bau di Sutedjajan seharga f 5.000)
  • De locomotief, 26 September 1925 (Kunjungan ke kebun percobaan, okulasi)
  • De locomotief, 10 November 1931 (Publikasi dr. ir. E. de Vries tentang periodisitas mangga)
  • De locomotief, 24 September 1928 (Ekspor 7.000 mangga ke Belanda dengan kapal pendingin)
  • De locomotief, 5 Januari 1933 (Mangga Arum Manis untuk Ratu Belanda)
  • Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 25 September 1928 (Ekspor mangga ke Belanda)
  • Soerabaijasch Handelsblad, 22 Agustus 1931 (Centrale Mangga Proeftuin luas 25 bau)
  • De Indische Courant, 26 Oktober 1925 (Pameran mangga Probolinggo)
  • De Indische Courant, 24 Februari 1932 (Peran Ir. A.P.C. Bijhouwer)
  • De Indische Courant, 21 Maret 1940 (Ekspansi ke Grati dan Kraton, pemindahan 250 varietas)
  • De Indische Courant, 24 November 1937 (Kebun percobaan Bedali, spesialisasi jeruk)
  • De Sumatra Post, 3 Maret 1932 (Budidaya mangga di tiga kabupaten)
  • Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 20 April 1935 (Sensus 3 juta pohon, legenda Manalagi, produksi 10.000 okulasi)

Postingan Terkait :

J. D. Kobus, Tokoh Dibalik Kesuksesan POJ yang Mendunia

Riwayat Hotel Tönjes Pasuruan – Dibunuh Perlahan oleh POJ