Gerbang Goentoer (Guntur) yang besar — dinamai dari jalan tempatnya berada — telah tertutup rapat di belakang kami, ketika kami masuk kamp Wijk Malang. Gerbang utama Guntur berada di samping gereja jalan Ijen. Apa yang akan terjadi di masa depan kami? Banyak yang tidak kami harapkan. Namun, meskipun ada banyak hal yang tidak menyenangkan, masih ada juga sisi yang positif.


Kata “wijk” (diucapkan “weyk”) berasal dari bahasa Belanda yang berarti “wilayah”, “kawasan”, atau “lingkungan pemukiman” (neighbourhood/quarter/district).
Paling tidak masih ada 3 keuntungan berada di Wijk ini. Pertama, semua Suster Belanda dari O. L. Vrouw kini berada di tempat yang sama. Meskipun tidak tinggal serumah, mereka dapat dengan mudah saling menjangkau. Semua suka dan duka dapat ditanggung bersama. Kedua, mereka berada di tengah-tengah penduduk Belanda asli. Bahasa Belanda terdengar di mana-mana. Tidak perlu lagi takut dimata-matai dalam setiap tindakan. Ketiga, Residen Nippon yang memegang fungsi pemerintahan tertinggi di Malang ternyata seorang yang dermawan. Ia membuat pengecualian yang menguntungkan dibandingkan sebagian besar rekan perwira militer lainnya. Ia sendiri maupun staf yang ditunjuknya menunjukkan keluwesan besar dalam mengelola tempat pengasingan ini.
Komite Wijk
Sebuah Komite Wijk Belanda dibentuk. Anggotanya terdiri dari beberapa pria, seorang pendeta Protestan, dan Yang Mulia Pastor Blomesath sebagai perwakilan umat Katolik. Komite ini mengatur sebaik mungkin “pemerintahan dalam negeri” dari sebuah negara kecil Belanda — di mana Jepang menjadi rajanya di depan, tetapi secara diam-diam Ratu Wilhelmina masih diakui sebagai ratu.
Wilayah Wijk seluas desa Belanda yang cukup besar atau kota provinsi kecil. Berkat itikad baik residen Jepang, salah satu bagian terindah Malang yang dikenal sebagai “de Bergenbuurt” dikosongkan untuk perumahan para tahanan.
Lingkungan Yang Indah
Di Wijk terdapat rumah-rumah kecil yang ramah, vila-vila besar, dan gedung-gedung klub di sepanjang jalan aspal yang rapi. Di tengah-tengah desa Belanda ini ada sebuah taman besar dengan lapangan bermain yang luas (Merbaboe Park). Udaranya sejuk. Bagi para suster yang datang dari Probolinggo dan Jember yang panas, sungguh suatu berkah dapat menikmati udara segar untuk beberapa saat. Di salah satu pintu keluar tersedia area pasar (pasar Oro-Oro Dowo). Setiap hari, orang-orang Tionghoa dari kota diizinkan masuk untuk berjualan. Segala macam barang tersedia. Dompet para superior suster masih cukup tebal berkat hasil penjualan “Bijenkorf” (toserba) sementara dan transaksi dengan “Sik” dan “Snor” (istilah yang diberikan pada para pedagang Arab).
Kehidupan rohani di Wijk juga baik. Ada tiga imam: Pastor Blomesath dan dua Pastor Karmelit. Sebuah ruang sampingan gedung Freemason Malang — yang kebetulan juga berada di Wijk — dijadikan gereja kecil. Memang kecil, tetapi sungguh suasananya khusyuk. Setiap pagi, para suster dapat mengikuti Misa Kudus dan menerima Komuni Kudus. Setiap hari Minggu, ada Misa bernyanyi dengan khotbah. Kadang-kadang, mereka bahkan mendapat konferensi khusus untuk para religius. Selain suster O.L. Vrouw, di Wijk juga hadir suster Ursulin (enam orang), suster H. Maria Magdalena Postel, suster Arme Kind Jezus (tujuh belas orang), dan dua suster dari Kostbaar Bloed.
Penempatan Para Suster
Pastor Blomesath mengatur perumahan sebaik mungkin:
- Boeringweg: enam suster Malang dan tujuh belas suster Probolinggo tinggal dalam satu rumah.
- Huize “Emmy” ( Tosaristraat atau sekarang jalan Batok): tiga belas suster Lawang dan empat suster Lumajang tinggal di sini.
- Huize “Wilhelmina” ( Merapistraat ): suster-suster Jember tinggal di sini sejak 23 Juli 1943.
Ketika suster-suster Probolinggo tiba, suster-suster Jember telah menyiapkan sambutan hangat. Selain minuman hangat, semangkuk sup erwtensoep (kacang polong) yang lezat tersedia — dinikmati setelah hari yang penuh gejolak. Malam pertama, para suster tidur di atas karung goni di lantai. Namun setelah beberapa hari, setiap orang mendapat tempat tidur besi. Di setiap rumah, satu kamar disediakan kosong — melayani segala macam tujuan. Saat makan, mereka duduk begitu rapat sehingga hampir tidak mungkin menggunakan pisau tanpa “berkonflik” dengan tetangga kiri atau kanan. Empat belas hari kemudian, enam anak asuh dari Probolinggo bergabung. Jumlah penghuni di Boeringweg menjadi 29 orang.
Kapel sendiri, kamar untuk superior, sel (kamar pribadi) masing-masing — semua itu sudah menjadi masa lalu. Mereka kini lebih memahami kata-kata Thomas à Kempis dari “Mengikuti Kristus”:
“Blijf in uw cel bij Hem, want nergens zult gij zo grote vrede vinden.”
(Tinggallah di sel Anda bersama Dia, karena tidak di tempat lain Anda akan menemukan kedamaian sebesar itu.)
Betapa mereka merindukan Tuhan, sel, dan kedamaian. Namun dengan keyakinan bahwa ini adalah kehendak Tuhan, mereka menyesuaikan diri. Terlebih lagi, ada banyak pekerjaan indah yang dapat dilakukan di Wijk — sama bermanfaatnya seperti di tempat lain.
Karya Sosial
Di antara ribuan wanita dan anak-anak, banyak yang membutuhkan pertolongan. Ibu rumah tangga yang sakit. Anak kecil yang perlu disibukkan. Pria tua yang hampir tidak bisa mengurus diri sendiri. Keluarga dengan kekurangan pakaian yang parah. Berbagai komite didirikan oleh para interniran sendiri: Komite Bantuan Umum dan Komite Perawatan Wijk. Para suster dengan senang hati menyediakan tenaga dan bakat mereka.
Rumah Moeder Josina menjadi pusat kegiatan. Setiap pagi, Sr. M. Beda , Sr. Angelique Marie , dan Sr. Hendrica M. memotong ratusan pakaian — bawahan maupun atasan. Bahan-bahannya berasal dari sumbangan: gaun bekas, gorden, taplak meja, handuk, serbet, bahkan lap teh. Para wanita dan gadis dari komite kemudian menjahitnya. Ketika para suster kembali dari “tempat memotong” , mereka tetap bekerja di belakang mesin jahit — membuat kaus dan celana pendek untuk tahanan yang lebih miskin.
Sepuluh suster bertugas di Perawatan Wijk. Setiap pagi setelah Misa, mereka berkeliling dengan tas berisi celemek kerja dan sepatu kayu. Sesampainya di rumah pasien, celemek dipakai, sepatu diganti dengan sepatu kayu, lalu pekerjaan dimulai: cucian kotor direndam, kamar yang penuh sesak dibersihkan, kopi dan sarapan disiapkan untuk pasien, dan — tentu saja — mencuci. Seringkali mereka mendapat contoh-contoh cucian yang “hebat” , kebanyakan tanpa sabun atau dengan sedikit sabun. Tapi sudahlah — tidak begitu teliti lagi jika sudah diinternir. Sinar matahari Hindia melakukan keajaiban. Dalam satu atau satu setengah jam , semua pakaian bersih tergantung di jemuran. Masalah cucian untuk hari itu terpecahkan. Mereka melayani tanpa membedakan agama: Katolik, Protestan, maupun yang tidak beragama. Orang-orang sangat senang memiliki suster Katolik. Melalui “pekerjaan kombinasi” ini, para suster mendapat banyak kesempatan melayani sesama.
Sekolah Luar Ruangan
Sr. M. Ida , Sr. M. Rudolphia , dan Sr. Antoinette Marie pergi setiap hari ke taman besar, tempat semua anak kecil berkumpul. Mereka bermain, bernyanyi, mendongeng, jalan pagi, dan beristirahat di atas rumput hijau. Jika hujan, sekolah tidak bisa dilaksanakan — tetapi untungnya di Hindia, hujan jarang turun di pagi hari. Para ibu sangat senang melepas anak-anak selama beberapa jam. Dengan begitu banyak orang dalam satu rumah, anak-anak cepat menjadi terlalu ramai dan merepotkan. Sekolah luar ruangan adalah solusi yang sempurna.
Di gereja kecil Wijk, anak-anak Katolik usia 7 hingga 14 tahun mendapat pelajaran agama seminggu sekali, dibagi dalam kelompok sesuai usia. Anak laki-laki diajar oleh Eerw. Fraters. Anak perempuan diajar oleh beberapa suster O.L. Vrouw. Bahkan pernah diadakan Komuni Kudus pertama untuk sekitar lima puluh anak. Kehidupan Katolik tetap terjaga.
Para Frater dan Kongregasi Lain
Enam Eerw. Fraters dari O. L. Vrouw van het H. Hart — secara sukarela masuk Wijk — memimpin semua pekerjaan berat: pindahan, membersihkan jalan, pertukangan. Mereka dibantu anak laki-laki berusia 12 hingga 17 tahun. Cara pembagian kerja yang terampil serta kebaikan dan keramahan mereka membuat anak-anak itu tidak merasa terlalu terbeban. Enam suster Ursulin juga secara sukarela masuk Wijk sebelum diwajibkan.
“Er heerste werkelijk onder de geïnterneerden en in de verschillende comité’s een ware geest van Christelijke naastenliefde en hulpvaardigheid.”
(Benar-benar ada semangat kasih Kristen dan kerelaan membantu di antara para interniran dan di berbagai komite.)
Karena kebutuhan, orang-orang dari berbagai lapisan, latar belakang, dan usia saling bergantung. Mereka belajar mengenal dan menghargai satu sama lain.
Dipindah Ke Kamp Lain
Dua bulan kemudian, diumumkan bahwa penghuni beberapa jalan akan dipindahkan ke kamp lain. Semua orang sadar: nasib yang sama menanti setiap penghuni Wijk. Pada tanggal 25 November 1943, enam ratus orang pertama berangkat saat fajar menyingsing — menuju tujuan yang tidak diketahui. Semua tahu bahwa mereka menghadapi masa depan yang lebih buruk. Komite Wijk melakukan yang terakhir: menomori koper, mendistribusikan sup dan roti, menemani ke stasiun. Pastor Blomesath dan beberapa pria lainnya mondar-mandir membawakan air minum dan kue.
“Werkelijk deze hulpvaardigheid leek op die der eerste Christentijden!”
(Sungguh, bantuan ini mirip dengan masa-masa awal Kekristenan!)
Namun komite tidak dapat mencegah penderitaan yang akan datang. Natal dirayakan dengan khusyuk di gereja kecil Wijk. Pada tanggal 29 Desember 1943 , Sr. M. Paschalia merayakan 25 tahun profesinya (Profesi Perak). Semua suster O.L. Vrouw berkumpul di Huize “Emmy” . Tidak ada kapel yang dihias indah, tidak ada ruang pesta. Mahkota perak diserahkan di serambi depan oleh Pastor Dilleman. Meskipun primitif, mereka bernyanyi dengan riang. Otot-otot tawa bergerak — dan itu sangat baik di masa sengsara ini.
Perpisahan Dengan Wijk
Pada tanggal 8 Januari 1944 , lebih dari 500 orang dibawa keluar dari Wijk. Pada tanggal 5 Februari 1944 , kabar datang: penghuni Boeringweg akan menyusul.
- Suster-suster Probolinggo dan Malang berangkat pada 9 Februari 1944.
- Suster-suster Lawang dan Lumajang menyusul pada 13 Februari 1944.
- Suster-suster Jember akan menjadi yang terakhir, meninggalkan Wijk pada 29 Maret 1944.
Pada hari Minggu sebelum keberangkatan, Yang Mulia Pastor Blijdenstein — gembala Wijk yang beruban — berbicara untuk terakhir kalinya di gereja kecil. Ia berkata bahwa mereka baru melewati beberapa stasi jalan salib. Sebagian besar — dan yang terberat — masih harus ditempuh. Ia mendorong mereka untuk berdoa, percaya kepada Tuhan, dan tetap menjalankan kewajiban religius. Kata-katanya membuat kesan mendalam. Sebab ia sendiri telah mengalami penangkapan dan penghinaan. Dan sungguh, saat keberangkatan dari Malang, penderitaan perang mulai menyelimuti mereka dari semua sisi.


Catatan Tambahan :
- Kamp interniran wijk di Malang adalah kawasan yang dirancang Jepang untuk mengurung semua orang Belanda dan indo (tergantung tingkat bule/wajah Eropanya) baik laki-laki jompo, perempuan, dan anak-anak ke dalam area khusus yang terisolasi dari masyarakat Malang lainnya.
- Kamp Wjik terdiri dari dua kawasan (kemungkinan tergantung periode kapan masuknya). Wijk pertama meliputi jalan-jalan berikut: Ringgijtweg, Panggongweg, Koenirweg dan Koenirplein, Baloeranweg, Tampomasweg, dan Andjasmorweg. Wijk kedua meliputi jalan-jalan berikut: Malabarweg, Lasemweg, Poentjakweg, Goentorweg, Moeriaweg, Ongaranpark, Merbaboeparkweg, Tjikoraigweg, Papandajanweg, Tjeremeeweg dan Tjeremeeplein, Boeringweg, Lawoestraat, Lamonganstraat, Arga-poerastraat, Merapistraat, Bromostraat (dari Boeringweg hingga Welirangstraat), Tosaristraat, dan Welirangstraat.
- Masa interniran di periode ini berbeda dengan masa setelah kemerdekaan 1945, yang biasa disebut masa “Bersiap”. Sehingga pada masa bersiap kamp-kamp interniran disebut sebagai “Kamp Bersiap”.
- Pastor Blomesath (Frater M. Augustinus Blomesath, lahir 11 Agustus 1895) adalah rohaniwan Katolik yang berperan penting di Malang. Pada 1935, Mgr. Albers mengutusnya ke Belanda untuk mendirikan A.M.S. (Sekolah Menengah) Katolik di Malang, dan ia ditunjuk sebagai rektor sementara. Saat pendudukan Jepang (1943-1944), ia menjadi anggota Komite Wijk Belanda di kamp interniran Wijk Malang, mengatur “pemerintahan dalam negeri” ribuan tahanan. Ia juga memimpin Misa setiap pagi di gereja kecil Wijk, memberikan penghiburan rohani bagi para suster dan umat Katolik yang sangat merindukan sakramen. Pada 25 November 1943, ia mendampingi 600 tahanan yang dipindahkan ke kamp tak dikenal, membawakan air dan kue di stasiun. Setelah perang, ia kembali ke Malang tetapi terpaksa bersembunyi di biara Ursulin karena Revolusi. Ia meninggal 31 Agustus 1946 dalam persembunyian dan dimakamkan di pemakaman pribadi Suster Ursulin. Ia dikenang sebagai pekerja keras yang setia hingga akhir hayatnya.

Bersambung ke Bagian VI
Postingan Terkait :
Detik-Detik Sekolah Santa Maria di Malang Ditutup oleh Jepang

