Jika anda berjalan di wilayah Pecinan Malang pada akhir tahun 1930-an, anda akan merasa seperti berada di sebuah kota kecil di Tiongkok. Penduduknya kebanyakan orang Tionghoa. Pakaian mereka, bahasa mereka, tatanan rumah mereka—semuanya kental dengan nuansa negeri Tirai Bambu. Pepohonan rindang, gang-gang sempit, dan toko-toko dengan aksara Mandarin menghiasi setiap sudut.

Sedikit ke selatan dari kompleks yang eksotis ini, di Kasterenweg berdiri sebuah sekolah dasar yang indah : “Sancta Maria” atau sekarang ditulis “Santa Maria” saja. Di ruang-ruang kelas yang nyaman, anak-anak Tionghoa belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka duduk rapi di bangku kayu, menghafal tabel perkalian, dan menuliskan huruf-huruf Belanda dengan tekun. Ketekunan mereka luar biasa. Mereka mengatasi kesulitan bahasa asing—Belanda—dengan semangat yang jarang ditemukan di tempat lain.

Di depan kelas, berdiri para suster dari Kongregasi Onze Lieve Vrouw van Amersfoort—yang kelak di Indonesia dikenal sebagai Suster-Suster Santa Perawan Maria (SPM). Moeder M. Ignatiana memimpin komunitas kecil ini dengan tangan lembut namun tegas. Bersama lima suster lainnya, ia mengelola sekolah, membina iman, dan merawat paroki Tionghoa yang berkembang pesat. Cinta mereka untuk belajar dan meneliti telah membawa banyak anggota keluarga Tionghoa untuk memeriksa—dan akhirnya memeluk—iman Katolik. Ini adalah ladang misi yang subur. Para suster Belanda merasa betah tinggal di “tempat subur” yang dipercayakan kepada mereka. Tapi perang tidak mengenal batas etnis.

Pastor J. A. L. Ardts, O.Carm – Gembala Yang Pergi

Pastor J. A. L. Ardts, O.Carm, ditahbiskan pada 2 Juni 1928, tiba di Jawa pada Juli 1930. Setelah berkarya di Probolinggo dan Madura, ia ditempatkan di Malang pada Mei 1934. Di Katedral St. Theresia (Ijen), ia dikenal sebagai dirigen handal yang membawa paduan suara gereja mencapai kemegahannya.

Setelah cuti ke Australia dan Belanda (1938–1939), ia kembali ke Malang dengan misi khusus: melayani umat Tionghoa dan Melayu. Ia mendirikan asrama pemuda Tionghoa, Paroki Tionghoa yang berdiri sendiri, serta menggunakan ruang bermain Sekolah (aula) Sancta Maria sebagai gereja sementara. Pada 21 Mei 1939, ia memimpin Komuni Pertama 14 anak Tionghoa—sebuah momen haru yang menggetarkan hati.

Saat perang Pasifik pecah, ia dipanggil menjadi pastor militer per 1 Februari 1942. Namun, pendudukan Jepang yang awalnya tenang berubah menjadi mimpi buruk. Pada 5 Februari 1943, ia dijemput paksa dari tempat tidurnya.

Komuni Pertama 14 anak Tionghoa pada 21 Mei 1939
Komuni Pertama 14 anak Tionghoa pada 21 Mei 1939

Pindah Lagi dan Lagi

Di seberang “Sancta Maria”, hanya beberapa ratus meter dari pagar sekolah, berdiri tangki minyak raksasa milik Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM). Ribuan liter minyak mentah disimpan di sana. Dalam perang, tangki semacam itu adalah target nomor satu bagi pesawat pengebom. Jika bom menghantamnya, ledakan akan menghancurkan seluruh lingkungan. Tidak akan ada yang selamat. Pada Februari 1942 bahaya semakin dekat. Para suster tidak punya pilihan lain, mereka harus mengosongkan sekolah.

Seluruh inventaris—bangku, meja, lemari, papan tulis, buku-buku, alat peraga—dimuat ke trem uap. Kereta kecil bertenaga uap itu berderak perlahan, meninggalkan van Kesterenweg. Tujuan mereka: Tjelaket, ke gedung milik Suster-suster Ursulin. Di pemberhentian trem, barang-barang itu begitu saja diletakkan di pinggir jalan. Tidak ada gudang. Tidak ada tempat teduh. Meja dan kursi teronggok di bawah terik matahari, debu beterbangan di atasnya. Moeder Ignatiana bergegas mencari kuli. Tapi sementara itu, seseorang harus menjaga barang-barang itu agar tidak hilang dicuri.

Maka Sr. M. Urbana—dengan jubah putih panjangnya—duduk bersila di tengah tumpukan perabotan di tepi jalan. Wajahnya tenang, seperti pedagang pasar yang menjaga dagangannya. Seorang pastor kebetulan lewat dengan sepeda. Ia berhenti, melihat pemandangan itu, dan berkata sambil tersenyum:

“Apakah Anda mengadakan lelang di sini?”

Pemandangannya memang lucu. Sr. Urbana, seorang suster, duduk di antara kursi dan meja bekas, di pinggir jalan, di bawah terik matahari, sambil menunggu kuli datang. Tapi di balik tawa, ada kepedihan. Akhirnya, semua barang berhasil dipindahkan. Sekolah dibuka kembali di Tjelaket. Tapi tidak ada murid yang datang. Mengapa? Jaraknya terlalu jauh. Jalan menuju Tjelaket memakan waktu berjam-jam dengan berjalan kaki. Alarm udara sering berbunyi—setiap kali sirene meraung, orang-orang harus berlari mencari perlindungan. Tidak ada orang tua yang berani mengirim anak mereka melewati jalanan berbahaya itu setiap hari.

Para suster terdiam. Mereka telah memindahkan seluruh sekolah, tetapi tidak ada yang datang untuk belajar. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Mereka mendapat kabar : Sekolah Kejuruan Kota (Ambachtsschool) di Javastraat (Jalan Jawa)—yang letaknya jauh lebih dekat dengan “Sancta Maria”—memiliki ruang-ruang kosong. Dengan semangat yang mulai menipis, para suster kembali memindahkan semua barang. Bangku, meja, lemari, buku—diseret lagi ke lokasi baru.

Di gedung Sekolah Kejuruan itu, pelajaran dilanjutkan. Murid-murid mulai berdatangan—meskipun tidak sebanyak dulu. Para suster bersyukur. Setidaknya, mereka masih bisa mengajar. Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Pada suatu pagi di bulan Maret 1942—tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan—tentara Jepang menyita gedung Sekolah Kejuruan itu. Mobil-mobil militer masuk ke halaman. Tentara berseragam khaki turun dengan senapan terpasang. Mereka berteriak dalam bahasa yang tidak dimengerti. Ruang-ruang kelas dikosongkan dalam hitungan menit.

Para suster tidak sempat mengeluarkan apa pun. Semua barang mereka terperangkap di dalam gedung yang kini dikuasai musuh. Tapi para suster bukanlah wanita yang mudah menyerah. Dengan hati berdebar, mereka berjalan masuk ke tengah-tengah barisan tentara Nippon yang bersenjata lengkap. Mereka melangkah di antara seragam khaki dan bayonet, melewati tentara yang menatap curiga, menuju ruang-ruang kelas yang disita. Mereka hanya ingin menyelamatkan yang paling penting: buku-buku, alat peraga, barang-barang yang tidak bisa digantikan.

Dengan tangan gemetar, mereka mengangkat lemari, mendorong gerobak darurat, dan membawa barang-barang itu keluar—di bawah pengawasan ketat tentara Jepang. Untungnya, tidak ada yang melawan. Mungkin tentara itu bingung. Mungkin mereka merasa kasihan. Mungkin mereka hanya tidak peduli. Dengan bantuan beberapa orang yang bersedia, inventaris sekolah kembali diseret ke tempat lain. Untuk kesekian kalinya. Ketika malam tiba, semua bangku, lemari, dan buku berdiri kembali di gedung “Sancta Maria” —sekolah asli mereka di van Kesterenweg. Para suster kelelahan. Jubah putih mereka kotor dan basah oleh keringat. Tapi mereka lega. Bahaya telah berlalu.

Hidup dari Sewa Sekolah

Kehidupan sekolah lama dimulai lagi. Murid-murid kembali. Wajah-wajah ceria menghiasi ruang-ruang kelas. Tapi hanya sebentar. Pendidikan Belanda kemudian dilarang oleh otoritas pendudukan Jepang. Sekolah-sekolah swasta milik orang Belanda ditutup satu per satu. Para suster kehilangan penghasilan. Tidak ada uang sewa, tidak ada subsidi, tidak ada sumbangan. Mereka hanya memiliki gedung kosong dan perabotan yang sudah usang karena sering dipindahkan. Apa yang harus mereka lakukan?

Di tengah kegelapan, secercah cahaya muncul. Sebuah perkumpulan sekolah Tionghoa datang dengan tawaran: mereka ingin menyewa gedung “Sancta Maria”. Mengapa mereka bisa menyewa? Karena orang Tionghoa—di bawah rezim Jepang yang anti-Barat—masih diizinkan mengajar dalam bahasa mereka sendiri. Jepang, yang ingin menanamkan pengaruh di Asia, lebih toleran terhadap pendidikan Tionghoa daripada pendidikan Belanda. Moeder Ignatiana dan para suster berunding. Tawaran ini pahit: gedung yang mereka bangun dengan susah payah akan digunakan oleh orang lain. Tapi mereka tidak punya pilihan. Uang sewa bulanan itu—meskipun kecil—cukup untuk menutupi pengeluaran paling mendesak: makan, pakaian, obat-obatan. Mereka menyetujui.

16 Bulan Bertahan

Selama 16 bulan berikutnya—dari sekitar Mei 1942 hingga September 1943—para suster bertahan. Mereka tidak bisa mengajar, karena sekolah telah disewakan. Mereka tidak bisa keluar dengan bebas, karena pendudukan semakin ketat. Tapi mereka tidak tinggal diam. Mereka menjahit bantal, sarung teko, taplak meja, kaus kaki, kaus olahraga. Barang-barang itu dijual kepada perwira Jepang yang gemar memperindah rumah-rumah mewah yang mereka sita.

“Die Nipponse ijdelheid bezorgde ons menig voordeeltje.”
(Kesombongan Nippon itu memberi kami banyak keuntungan kecil.)

Tapi kerajinan tangan saja tidak cukup. Mereka diam-diam mengajar anak-anak sekitar secara rahasia. Di ruang belakang, di kapel kecil, di tempat-tempat yang tidak terlihat dari jalan. Tidak banyak murid. Tidak banyak pelajaran. Tapi cukup untuk menjaga agar api pendidikan tidak padam. Di sekitar mereka, banyak orang sakit—kelaparan, penyakit, tekanan hidup di bawah pendudukan. Para suster, dengan persediaan obat-obatan yang menipis, merawat mereka. Membersihkan luka, memberi minum, berdoa bersama. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Tapi mereka hadir. Dan kehadiran itu, bagi yang menderita, adalah segalanya.

Gerbang Goentoer

Pada tanggal 30 September 1943, panggilan interniran datang. Para suster Belanda di Malang harus meninggalkan tempat masing-masing. Mereka akan bergabung dengan suster-suster dari Probolinggo, Lawang, dan Lumajang di Wijk Malang—area interniran khusus wanita dan anak-anak Belanda. Mereka menatap gedung “Sancta Maria” untuk terakhir kalinya. Bangunan yang telah menjadi saksi perjuangan mereka—dari kejayaan sebelum perang, hingga pindah-randah yang melelahkan, hingga bertahan dari sewa sekolah. Mereka tidak tahu apakah akan pernah kembali.

Gerbang Goentoer—dinamai dari jalan tempatnya berdiri—kini tertutup rapat di belakang mereka. Apa yang akan terjadi? Mereka tidak tahu. Tapi ada juga hal-hal yang melegakan: Pertama, semua Suster Belanda O.L. Vrouw kini berada di tempat yang sama. Mereka bisa saling menjangkau, berbagi suka dan duka. Kedua, mereka berada di tengah-tengah penduduk Belanda asli. Tidak perlu takut dimata-matai setiap saat. Ketiga, residen Nippon yang bertanggung jawab di Malang ternyata orang yang dermawan. Ia membuat pengecualian yang menguntungkan dibandingkan kebanyakan perwira Jepang.

De Wijk : “Negeri Kecil” Belanda di Malang

Wijk Malang terletak di “de Bergenbuurt” —Lingkungan perumahan dengan nama gunung-gunung, salah satu kawasan terindah di kota itu. Rumah-rumah kecil yang ramah, vila-vila besar, taman dengan lapangan bermain yang luas, jalan aspal yang rapi. Iklimnya sejuk—sungguh berkah bagi suster-suster dari Probolinggo dan Jember yang panas.

Sebuah Komite Wijk Belanda dibentuk. Pastor Blomesath—rohaniwan yang bijaksana—menjadi anggotanya. Komite ini mengatur “pemerintahan dalam negeri” negara kecil Belanda ini. Jepang menjadi rajanya di depan, tapi secara diam-diam Ratu Wilhelmina masih diakui sebagai ratu.

Babak baru telah dimulai.

Bersambung ke Bab : Kehidupan di Wijk Malang

Postingan Terkait :

Sejarah Sekolah Santa Maria Malang (1937–1941)