Sejarah Lebaran di Pasuruan, tradisi larung saji, mandi di Banyu Biru dan Umbulan, serta meredupnya kembang api akibat Depresi Besar
Kota Gula yang Bertahan di Tengah Resesi
Pasuruan, Jawa Timur, dikenal sebagai Kota Gula karena perannya sebagai pusat industri gula terkemuka di Hindia Belanda. Namun di balik kejayaannya, kota ini menyimpan kisah tentang bagaimana masyarakatnya tetap bertahan dan merayakan Lebaran di tengah krisis ekonomi global yang melanda dunia pada 1930-an.
Berdasarkan laporan surat kabar kolonial De Indische courant, artikel ini mengungkap suasana Lebaran di Pasuruan pada tahun 1932 dan 1934โdua tahun yang menunjukkan kontras dramatis antara kemeriahan tradisi dan keprihatinan ekonomi.
Depresi Besar dan Dampaknya pada Pasuruan
Apa itu Depresi Besar (Malaise)?
Depresi Besar atau Great Depression adalah krisis ekonomi global yang dimulai dengan jatuhnya bursa saham Wall Street pada Oktober 1929. Krisis ini berlangsung hingga akhir 1930-an dan berdampak pada seluruh dunia, termasuk Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Sebagian orang bilang “Jaman Meleset”.
Dampak pada Industri Gula Pasuruan
| Dampak | Keterangan |
|---|---|
| Harga gula jatuh | Harga gula dunia merosot drastis |
| Ekspor menurun | Pasar tradisional seperti India dan Jepang menutup pintu |
| Pabrik tutup | Banyak pabrik gula di Jawa Timur gulung tikar |
| Perubahan produk | Dari gula pasir (produk jadi) menjadi gula mentah muscovado (produk setengah jadi) |
| Penurunan nilai ekspor | Turun hingga 65-75% |
Data Pendapatan Pasar Pasuruan
| Tahun | Pendapatan Pasar Kabupaten | Perubahan |
|---|---|---|
| 1929 | f 101.000 | Puncak kejayaan |
| 1931 | f 88.000 | Mulai menurun |
| 1932 | f 66.000 | Turun 25% |
| 1933 | f 57.000 | Turun 45% dari 1929 |
Penurunan pendapatan pasar sebesar 45% dalam empat tahun menjadi latar belakang utama suasana Lebaran yang berubah drastis.
Suasana Lebaran Ketupat 1932: Meriah di Tengah Keprihatinan
Larung Saji di Laut Pasuruan
Pada 16 Februari 1932 (8 Syawal 1350 H), warga Pasuruan merayakan Lebaran Ketupat dengan tradisi larung saji di laut. Nelayan dan warga pantai menghias perahu mereka dengan janur dan umbul-umbul, lalu berlayar ke tengah laut untuk mempersembahkan nasi dan bunga sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar hasil tangkapan ikan melimpah.
“Cuaca mendukung. Perahu-perahu yang dihias indah membawa keluarga dan para nelayan bersenang-senang, menikmati hidangan lezat, dan mempersembahkan sesajen.”
โ De Indische courant, 18 Februari 1932
Mandi di Banyu Biru dan Umbulan
Dua pemandian terkenal di PasuruanโBlauwwater (Banyu Biru) dan Oemboelan (Umbulan)โmenjadi tujuan utama warga yang ingin menyucikan diri dari dosa. Laporan menyebutkan sekitar 20.000 orang memadati kedua lokasi tersebut.
Suasana seperti pasar malam (kermis) dengan:
- Warung-warung berjejer menjajakan camilan
- Penjual makanan/camilan berkeliling
- Lalu lintas dokar, bus dan trem yang padat
- Area mandi terpisah untuk laki-laki dan perempuan
Aktivitas Ekonomi yang Tetap Berjalan
Menariknya, meskipun krisis telah berlangsung tiga tahun, pelabuhan Pasuruan masih mencatat aktivitas ekspor. Kapal Evagoras memuat 8.000 ton gula mentah menuju Port Said, Mesir, sementara Nizam memuat 80 ton untuk Kalkuta, India. Ratusan kuli pelabuhan mendapat upah yang kemudian mereka belanjakan untuk merayakan Lebaran.
Koran tersebut menulis dengan nada heran:
“Jika seseorang mengamati kerumunan ribuan orang yang merayakan dan menghabiskan uang ini, orang tidak akan mengatakan bahwa kita sedang mengalami masa-masa sulit.”
Suasana Lebaran 1934: Ketika Kemeriahan Mulai Meredup
Data Ekonomi yang Memburuk
Dua tahun kemudian, situasi ekonomi semakin memburuk. Pendapatan pasar kabupaten tahun 1933 hanya f 57.000โturun 45% dari tahun 1929. Pada Maret 1932, pemerintah terpaksa menurunkan tarif pasar sebesar 25% untuk meringankan beban pedagang, namun justru semakin memperdalam penurunan pendapatan.
Penurunan Drastis Kembang Api dan Petasan
Laporan De Indische courant 15 Januari 1934 mencatat penurunan signifikan dalam tradisi kembang api Lebaran:
| Indikator | Sebelum Krisis | 1934 |
|---|---|---|
| Permohonan izin ke kabupaten | 15-16 | 7 |
| Modal pembuatan petasan | 100.000 gulden | 10.000 gulden |
Penurunan modal: 90% โ dari seratus ribu gulden menjadi hanya sepuluh ribu gulden.
Semua permohonan izin berasal dari “pihak Tionghoa”, menunjukkan bahwa perdagangan kembang apiโsebuah komoditas “mewah”โhanya bertahan di kalangan yang masih memiliki daya beli.
Suasana Lebaran yang Sunyi
Laporan kedua terbit pada 20 Januari 1934, lima hari setelah Lebaran, memberikan gambaran langsung tentang suasana perayaan:
“Perayaan Lebaran tahun ini berlangsung jauh lebih sepi dibandingkan tahun-tahun lainnya. Jelas terlihat bahwa untuk petasanโatau lebih tepatnya: bunyi-bunyian tidak banyak โ karena tahun ini tidak tersedia banyak uang.”
Meskipun toko-toko ramai di siang hari dan lalu lintas dokar (kereta kuda) masih terlihat hidup, suasana malam Lebaran berbeda:
“Pada malam hari, hanya sesekali suara letusan keras mengingatkan kita pada perpisahan dengan tahun lama dan penyambutan tahun baru.”
“Hanya sesekali” โ ungkapan yang menggambarkan keheningan yang tidak biasa. Petasan yang dulu memenuhi malam Lebaran dengan suara riuh, kini hanya sesekali terdengar.
Perbandingan Suasana Lebaran 1932 dan 1934
| Aspek | 1932 | 1934 |
|---|---|---|
| Perayaan utama | Larung saji di laut, mandi di pemandian | Kembang api dan petasan |
| Skala partisipasi | 20.000 orang (di pemandian) | “Jauh lebih sepi” |
| Modal petasan | Tidak disebut | Turun 90% |
| Permohonan izin | Tidak disebut | 7 (dari 15-16) |
| Pendapatan pasar | f 66.000 (1932) | f 57.000 (1933) |
| Karakter | Meriah, kontras dengan krisis | Sunyi, mencerminkan keprihatinan |
Tradisi Lebaran Pasuruan yang Masih Hidup Hingga Kini
1. Larung Saji di Laut
Tradisi larung saji masih dilakukan oleh nelayan dan masyarakat Pasuruan hingga saat ini. Ritual ini merupakan bentuk syukur dan doa untuk keselamatan serta hasil tangkapan yang melimpah. Biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu, termasuk saat Lebaran Ketupat.
2. Mandi di Banyu Biru dan Umbulan
Banyu Biru dan Umbulan masih menjadi destinasi favorit warga Pasuruan dan sekitarnya, terutama saat hari raya. Air jernih dari sumber alami ini dipercaya memiliki khasiat untuk membersihkan diri secara spiritual.
3. Lebaran Ketupat
Tradisi Lebaran Ketupat yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri masih lestari di Pasuruan. Masyarakat berkumpul, makan ketupat bersama, dan melakukan berbagai tradisi lokal termasuk ziarah dan ritual di sumber air.
Pelajaran dari Sejarah: Ketahanan Budaya di Tengah Krisis
Pola yang Terlihat
Membandingkan dua tahun perayaan di masa resesi menunjukkan pola yang jelas:
- Tradisi yang tidak memerlukan biaya besar (larung saji di laut, mandi di pemandian) tetap bertahan
- Tradisi yang membutuhkan pengeluaran signifikan (kembang api) mengalami penurunan drastis
Mengapa 1932 Masih Meriah?
- Biaya partisipasi rendah โ masyarakat cukup datang ke pantai atau pemandian
- Aktivitas ekspor masih ada โ memberi perputaran uang bagi kuli pelabuhan
- Pelarian dari kesulitan โ tradisi murah menjadi hiburan di tengah keprihatinan
Mengapa 1934 Meredup?
- Krisis berkepanjangan โ lima tahun tanpa perbaikan
- Daya beli merosot โ uang lebih prioritas untuk kebutuhan pokok
- Kontraksi ekonomi terus berlanjut โ pendapatan pasar turun 45%
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Sejarah Lebaran Pasuruan
Kapan Lebaran Ketupat 1932 dan 1934?
- Lebaran Ketupat 1932: 16 Februari 1932 (8 Syawal 1350 H)
- Lebaran 1934: 15 Januari 1934 (1 Syawal 1352 H)
- Kembang api 1934: 17, 18, dan 25 Januari 1934
Apa itu gula muscovado?
Gula muscovado adalah gula tebu mentah yang belum melalui proses pemurnian (rafinasi). Berwarna coklat gelap dengan tekstur basah/lembab. Pada masa krisis, pabrik-pabrik gula Pasuruan terpaksa mengekspor gula mentah (produk setengah jadi) karena tidak mampu lagi menjalankan proses rafinasi yang mahal.
Di mana lokasi Banyu Biru dan Umbulan?
- Blauwwater (Banyu Biru): Terletak di kabupaten Pasuruan, terkenal dengan sumber airnya yang jernih dan dianggap suci dan mensucikan.
- Oemboelan (Umbulan): Kawasan sumber mata air terbesar di Jawa di Pasuruan yang masih terkenal hingga kini
Apa penyebab meredupnya kembang api tahun 1934?
Depresi Besar yang telah berlangsung lima tahun menyebabkan penurunan drastis daya beli masyarakat. Pendapatan pasar turun 45% dari tahun 1929, sehingga masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada hiburan seperti petasan.
Warisan Sejarah yang Tak Terlupakan
Kisah suasana Lebaran di Pasuruan tahun 1932 dan 1934 mengajarkan bahwa tradisi dan kebersamaan lebih kuat dari krisis ekonomi. Ketika gemerlap kembang api meredup, masyarakat masih memiliki laut untuk larung saji, pemandian untuk menyucikan diri, dan kebersamaan untuk saling menguatkan.
Hingga saat ini, tradisi-tradisi tersebut masih hidup di Pasuruan. Banyu Biru, Umbulan, larung saji, dan Lebaran Ketupat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Kota Gula.
Pasuruan mungkin pernah berduka di tengah krisis global, namun warisan sejarahnyaโdan tradisi yang terus dijagaโmenjadi bukti bahwa budaya adalah pelampung terkuat saat badai datang.
Sumber dan Referensi
- De Indische courant, 18 Februari 1932 โ “PASOEROEAN. (Van onzen correspondent)”
- De Indische courant, 15 Januari 1934 โ “Vuurwerk”
- De Indische courant, 20 Januari 1934 โ “PASOEROEAN. (Van onzen correspondent.)”
- Arsip kolonial Hindia Belanda, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
- WartaBromo, 20 Mei 2021 โ “Potret Lebaran Ketupat Masyarakat Pasuruan”
Pasuruan, 1932-1934 โ Pasuruan, 2026
Hampir satu abad, tradisi tetap hidup. Dan kisah ini masih relevan hingga kini.


