Kisah yang Hampir Terlupakan dari Masa Pendudukan Jepang di Malang Jawa Timur

Di Balik Nama yang Nyaris Hilang

Di sebuah perkebunan kopi dan karet di lereng selatan Gunung Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Udaranya sejuk, pemandangan hijau membentang, dan kehidupan berjalan damai. Disitulah terdapat Soember Gesing—sekitar 44 kilometer di selatan Malang, tujuh kilometer dari kota kecil Dampit—tempat keluarga Belanda-Indo menjalani hari-hari indah di akhir tahun 1920-an hingga awal 1940-an.

Namun antara Juni 1944 hingga Juni 1945, tempat yang sama berubah menjadi neraka. Di sinilah terjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. Dari tempat inilah berkaitan suatu peristiwa yang berujung eksekusi mati terhadap 13 (tiga belas) pemuda Indo-Eropa yang dituduh melakukan “aktivitas subversif“. Tuduhan yang hingga kini tak pernah terbukti kebenarannya, kisah ini kemudian ditulis oleh sejarawan dengan “Dampit Affaire“.

Ini bukan sekadar cerita perang. Ini adalah kisah tentang anak-anak remaja—mereka yang baru berusia 15 hingga 18 tahun—yang dipisahkan dari keluarga. Dipaksa bekerja dalam kondisi mengerikan, disiksa, dan akhirnya dihabisi dengan katana. Nama mereka nyaris tenggelam dalam arus sejarah yang deras. Hingga sebuah monumen didirikan di Arnhem, Belanda, pada tahun 2001. Seorang sejarawan bernama Julika Vermolen menerbitkan buku De Dampit-affaire pada tahun 1999. Hingga para penyintas (mereka yang selamat=survivor), meskipun telah lanjut usia, masih terus berjuang agar dunia tidak melupakannya.

Latar Belakang : Ketika Kecurigaan Menjadi Teror

Untuk memahami mengapa Dampit Affair terjadi, kita harus mundur ke tahun 1943. Ketika Jepang telah menguasai Hindia Belanda selama lebih dari setahun. Di Jawa Timur, tepatnya di Malang dan sekitarnya, situasi sangat tegang. Mengapa Malang?

Malang bukan kota biasa. Dengan topografi perbukitan dan iklim sejuk, wilayah ini sangat cocok untuk perang gerilya. Jepang khawatir Sekutu akan mendarat di pantai selatan Jawa, dan Malang akan menjadi benteng pertahanan terakhir. Ribuan tentara Jepang ditempatkan di kota ini. Kenpeitai—polisi militer yang terkenal kejam—mendapat wewenang luar biasa untuk “membersihkan” segala potensi perlawanan.

Kecurigaan ini bukannya tanpa dasar. Sebelumnya, memang ada gerakan perlawanan nyata yang melibatkan orang-orang Indo seperti Ir. A.G. Koops Dekker. Namun kecurigaan itu akhirnya meluas menjadi teror yang menyasar siapa saja, termasuk para pemuda yang sama sekali tak terlibat.

Sementara itu, sejak tahun 1943, Jepang mulai meningkatkan tekanan pada komunitas Indo. Mereka mendirikan Kantor Oeroesan Peranakan (KOP) untuk mengawasi orang-orang Indo. Registrasi ulang dilakukan. Orang Indo dipaksa menghapus identitas Eropa mereka dan menganggap diri sebagai “anak negeri“. Namun banyak yang menolak—secara diam-diam, dengan cara yang oleh Jepang dianggap sebagai “pembangkangan pasif“.

Kerja Paksa di Perkebunan : Neraka Bernama “Pelatihan”

Pada Juni 1944, babak baru dimulai. Jepang memanggil pemuda Indo usia 15 hingga 25 tahun untuk mengikuti apa yang disebut “pelatihan“. Tapi ini bukan pelatihan biasa, ini adalah kerja paksa.

Para pemuda dikumpulkan dari berbagai tempat. Mereka diangkut dengan kereta uap dari Malang ke Dampit. Dari stasiun Dampit, mereka berjalan kaki sejauh tujuh kilometer menuju perkebunan Soember Gesing. Di sana mereka digunduli rambutnya dan ditempatkan di dua lumbung bekas pengolahan kopi.

Saksi mata menggambarkan kondisi yang mengerikan:

  • Setiap hari mereka harus menebang kayu minimal satu meter kubik—target yang mustahil bagi remaja yang kekurangan makanan.
  • Lumbung tempat mereka tinggal panas, pengap, dengan “toilet” berupa drum-drum yang cepat penuh dan meluap.
  • Makanan dan air semakin langka; penyakit disentri dan diare merajalela.
  • Hukuman diberikan untuk pelanggaran yang sering kali hanya dugaan saja.

Di tengah kondisi ini, ada seorang mandor Eropa bernama Raes—yang dijuluki “Si Algojo” karena kekejamannya. Setelah perang, ia dihukum atas perbuatannya.

Pada 21 Desember 1944, kerja paksa di Soember Gesing tiba-tiba dihentikan. Tidak ada yang tahu pasti alasannya. Namun para pemuda yang kembali ke rumah adalah sosok-sosok yang telah hancur secara fisik dan mental.

17 Oktober 1944 : Malam Penangkapan

Sejak awal, para pemuda yang dipaksa bekerja itu dicurigai oleh Jepang. Mereka dianggap tidak cukup “patriotik” terhadap Jepang. Kecurigaan ini memuncak ketika terjadi kebakaran di dua lumbung perkebunan pada saat ada pesawat Sekutu melintas. Jepang menduga kebakaran itu adalah sinyal untuk pesawat Sekutu.

Pada tanggal 17 Oktober 1944, pagi-pagi buta, Dinas Intelijen Politik Jepang (PID) menggeledah rumah-rumah di Malang. Puluhan pemuda Indo ditangkap. Mereka dituduh:

  • Memberikan sinyal cahaya kepada pesawat Sekutu
  • Membentuk organisasi perlawanan

Menariknya, banyak yang ditangkap adalah mereka yang pernah ikut dalam gelombang pertama kerja paksa di Dampit. Mereka digiring ke Penjara Lowokwaru. Di sanalah neraka yang sesungguhnya dimulai.

Siksaan yang Kejam

Selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, para tahanan muda itu menjalani interogasi dengan penyiksaan. Tubuh mereka dipukul, disetrum, disiksa dengan berbagai cara yang tak terbayangkan. Mereka dipaksa mengaku melakukan tindakan subversif—pengakuan yang kemudian menjadi dasar hukuman.

Enam dari mereka tak sanggup bertahan:

  • Jan Alexander Bekker
  • Rinus Eisbergen
  • Johnny de Groen
  • Theresius Willem Jacobus Liefheid
  • Hermanus Jacobus (Jopie) Mondt
  • Rudolf Ferdinand Hendrik (Hans) Nicolai

Mereka tewas akibat atau selama penyiksaan. Tubuh-tubuh muda itu telah hancur sebelum sempat melihat pengadilan.

4 Juni 1945 : Hari Terakhir

Setelah lebih dari tujuh bulan dalam tahanan, pada 4 Juni 1945, kelima puluh tahanan yang masih hidup akhirnya dihadapkan ke pengadilan militer di Wilhelminastraat Malang. Sidang berlangsung cepat—hanya sebuah formalitas sebelum hukuman dijatuhkan.

Kemudian, dari daftar nama yang disebut, tiga belas orang dipisahkan. Mereka dibawa ke truk bersama tujuh belas tahanan lain—orang Jawa, Tionghoa, dan Ambon. Baru kemudian terungkap: ketiga belas pemuda itu dieksekusi mati dengan cara dipenggal. Kemungkinan besar di halaman Penjara Lowokwaru sendiri.

Penjara Lowokwaru di Malang.

Nama mereka adalah:

NoNama
1Max Bodaan
2Benny van Dam
3Rudy van Drongelen
4Walter van Ham
5John Hedrich von Wiederhold
6Pieter Jeekel
7Boy Kitzmann
8Frans Ligtenberg
9Teddy Monfils
10Bert Oosthout
11Alex Patty
12Carli de Roy van Zuydewijn
13Pim Vogelpoel

Tiga belas nyawa muda melayang di ujung katana Jepang. Usia mereka? Masih belasan tahun.

Setelah Kematian: Pencarian Makam yang Panjang

Tiga belas jenazah itu menghilang. Keluarga tak pernah tahu di mana anak-anak mereka dimakamkan. Bertahun-tahun mereka mencari, bertanya, berharap. Baru lama setelah perang berakhir, ditemukan sebuah makam massal di daerah Pujon, di sebelah barat Kota Malang. Di sanalah mereka bersemayam—bersama dalam kematian, sebagaimana mereka bersama dalam penderitaan.

Pada April 1951, dengan upacara militer yang khidmat, jenazah ketiga belas pemuda itu dipindahkan dan dimakamkan kembali di Ereveld Kembang Kuning, Surabaya. Di tempat peristirahatan terakhir yang layak, mereka akhirnya mendapat penghormatan sebagai pahlawan—meskipun tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar bersalah atau tidak.

Para korban yang ditemukan di kuburan massal Pujon.
Para korban yang ditemukan di kuburan massal Pujon.
Para korban yang ditemukan di kuburan massal Pujon.

Monumen di Arnhem: Agar Tidak Terlupakan

Kisah Dampit mungkin akan tenggelam seiring waktu, jika bukan karena kegigihan para penyintas. Pada tahun 1990-an, sekitar 60 hingga 80 mantan tahanan kamp Dampit masih hidup. Mereka yang pernah merasakan pahitnya kerja paksa, yang kehilangan teman-teman mereka, yang hidup dengan luka yang tak pernah sembuh.

Pada tahun 1995, mereka mendirikan Stichting Strafkamp Dampit (Yayasan Kamp Dampit). Misi mereka:

  1. Mengungkap fakta sejarah yang sebenarnya
  2. Mendirikan monumen peringatan bagi para korban

Sejarawan Julika Vermolen ditugaskan melakukan penelitian. Hasilnya adalah buku De Dampit-affaire: Een vergeten drama in Oost-Java tijdens de Japanse bezetting (1999)—sebuah karya yang mengangkat tragedi ini dari kubur kelupaan.

Pada 19 Oktober 2001, di kompleks Bronbeek, Arnhem, Belanda—sebuah tempat peristirahatan bagi veteran KNIL—sebuah monumen diresmikan. Rancangan Rudi Augustinus berupa patung di atas pilar granit, dengan dua plakat perunggu yang bertuliskan:

“Strafkamp Dampit 1944-1945 – Ter nagedachtenis aan alle getroffenen van de Dampit-affaire”
(Kamp Dampit 1944-1945 – Untuk mengenang semua korban Dampit-affaire)

Monumen untuk menghormati para korban kamp penjara ‘Dampit’ di Jawa Timur. Monumen ini diresmikan pada 19 Oktober 2001 oleh seorang kerabat Bert Oosterhout, yang dieksekusi di kamp tersebut. Perancang monumen ini adalah Rudi Augustinus. Lokasi: halaman Rumah Militer Bronbeek di Arnhem.
Foto: H. de la Croix

Perspektif Baru: Kesaksian dari Dalam Perkebunan

Ada satu perspektif yang sering terlupakan dalam cerita Dampit: perkebunan itu sendiri. Louk Bannink, yang ayahnya menjadi administrator di Soember Gesing dari tahun 1928 hingga 1946, memberikan kesaksian yang berharga. Baginya, Soember Gesing bukanlah tempat penderitaan, melainkan tempat kenangan masa kecilnya yang indah.

Bannink mengoreksi beberapa informasi yang keliru:

  • Soember Gesing bukan di kota Dampit, melainkan tujuh kilometer di luarnya
  • Jalannya sudah beraspal penuh sejak 1930-an, bukan jalan tanah terpencil
  • Keluarga Schoonman bukan administrator perkebunan, melainkan tinggal di divisi lain
  • Bangunan tempat para pemuda dikurung sebenarnya adalah gudang kopi dan rumah pengeringan yang memenuhi standar modern pada zamannya

Keterangan Gambar (Foto Udara):

  1. Tempat tinggal komandan (rumah administrator)
  2. Gudang
  3. Gudang
  4. Dapur
  5. Ruang penyimpanan (rumah pengeringan lama)
  6. Ruang sakit
  7. Parit (WC)
  8. Tangki air terbuka
  9. Tempat tinggal penjaga (bekas rumah karyawan)
  10. Lapangan apel
  11. Pintu masuk
  12. Penjernihan air
  13. Bangunan sentral
  14. Rumah kepala karyawan
  15. Lapangan tenis

Yang paling menarik: setelah perang, pada tahun 1967, Bannink kembali ke Soember Gesing untuk memberikan saran budidaya kopi kepada Kementerian Perkebunan Indonesia. Saat itu, ia belum pernah mendengar tentang Dampit-affaire. Ia melihat perkebunan yang sudah berubah: semua karet telah hilang, lahan diambil alih penduduk, rumah keluarganya dibongkar. Ia mengakhiri kunjungan itu dengan “perasaan campur aduk.”

Bayangkan ironinya: tempat yang menyimpan kenangan indah masa kecilnya, ternyata juga menjadi tempat penderitaan bagi puluhan pemuda yang tak pernah dikenalnya. Di tempat yang sama, namun di waktu dan suasana yang berbeda.

Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Dampit-affaire bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah pengingat tentang:

  • Betapa rentannya kehidupan di masa perang, terutama bagi mereka yang dianggap “asing” oleh penguasa
  • Betapa kejamnya kecurigaan yang tak terkendali, yang bisa mengubah warga biasa menjadi tersangka subversif
  • Betapa pentingnya menjaga ingatan, karena generasi berikutnya berhak mengetahui apa yang terjadi

Kisah ini juga mengajarkan tentang ketahanan manusia. Para penyintas yang kehilangan masa muda mereka, yang hidup dengan luka fisik dan mental, tetap berjuang hingga usia senja untuk memastikan nama-nama teman mereka agar tidak dilupakan. Mereka mendirikan yayasan, membangun monumen, menulis buku, dan berbagi kesaksian.

Penutup: Mereka Bukan Sekadar Angka

Tiga belas nama itu—Max, Benny, Rudy, Walter, John, Pieter, Boy, Frans, Teddy, Bert, Alex, Carli, dan Pim—adalah tiga belas nyawa muda yang berhenti terlalu cepat. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan sejarah. Mereka adalah:

  • Anak-anak yang meninggalkan orang tua yang selamanya berduka
  • Kakak atau adik yang tak pernah kembali
  • Pemuda dengan mimpi yang tak sempat terwujud

Ketika Anda berdiri di depan monumen di Arnhem, atau membaca nama mereka di buku Vermolen, atau sekadar mengingat kisah ini, ingatlah: di balik setiap nama ada kehidupan. Ada tawa yang membeku. Ada senyum yang tak pernah kembali.

Mereka mati di ujung katana Jepang pada 4 Juni 1945—hanya dua bulan sebelum Jepang menyerah kepada Sekutu. Seandainya mereka bertahan sedikit lebih lama, mungkin mereka akan melihat kemerdekaan. Mungkin mereka akan tumbuh dewasa, berkeluarga, memiliki anak cucu. Mungkin mereka akan menjadi kakek-kakek yang bercerita tentang masa perang kepada cucu-cucu mereka.

Tapi sejarah berkata lain. Mereka menjadi korban di saat-saat terakhir kegelapan sebelum fajar menyingsing.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi kita bisa memastikan bahwa masa lalu tidak dilupakan. Dampit-affaire adalah bagian dari sejarah kita—sejarah Indonesia, sejarah kolonial, sejarah kemanusiaan. Dan selama masih ada yang mengingat, nama mereka tidak akan benar-benar mati.

“Kita tidak bisa melupakan. Kita tidak bisa memaafkan. Tapi kita bisa mengingat, agar mereka yang telah pergi tidak kehilangan arti.”
— Seorang penyintas Dampit

Sumber Literasi:

  • Vermolen, Julika. De Dampit-affaire: Een vergeten drama in Oost-Java tijdens de Japanse bezetting. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1999.
  • Bannink, Louk. “De Dampit-affaire en onderneming Soember Gesing.” Moesson.
  • Ducelle, Lilian. “De Dampit-affaire: Een nare, ware geschiedenis.” Moesson.
  • IndischHistorisch.nl. “Oorlog en Bersiap | De Dampit-affaire: Indische oorlogstragiek in Oost-Java.”
  • www.japanseburgerkampen.nl

Postingan Terkait :

Kamp Interniran atau Kamp Bersiap di Kota Malang

Kamp Interniran atau Kamp Bersiap di Pasuruan

Skandal Pakisaji Malang : Tiga Marinir Belanda Menolak Membakar Kampung dan Dihukum Berat