Di Jalan Balai Kota No. 13 di Kota Pasuruan, saat ini dikenal sebagai markas Kompi Bantuan Batalyon Zeni Tempur 10/Jaladri Palaka. Derap langkah prajurit berseragam loreng dan kendaraan taktis menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan tersebut—sebuah kontras mencolok dengan masa lalunya, ketika gedung di lokasi yang sama merupakan pusat lalu lintas komoditas ekonomi kolonial.

Untuk memahami cerita di balik tembok yang kini menjadi markas militer itu, kita harus menyusuri lorong waktu menuju tahun 1920-an, ketika Nederlandsch-Indische Handelsbank (NIHB), arti secara harfiah Bank Perdagangan Hindia Belanda. Raksasa keuangan dari Amsterdam, dengan modal dasar f 60 juta. NIHB mulai melebarkan sayapnya ke Hindia Belanda, dan secara khusus menginjakan kaki di Pasuruan,

Pasuruan dalam Jaringan NIHB

Berdasarkan laporan tahunan NIHB tahun 1927 (Verslag over het boekjaar 1927), Pasuruan (Pasoeroean) tercantum dalam daftar “Overzeesche Agentschappen” (agen-agen luar negeri) bersama kota-kota besar seperti Amoy, Ampenan, Bandoeng, Batavia, Bombay, Calcutta, Cheribon, Gorontalo, Hongkong, Kobe, Makassar, Medan, Menado, Palembang, Pasoeroean sendiri, Pekalongan, Probolinggo, Semarang, Shanghai, Singapore, Soerabaja, Swatow, Tegal, Telok Betong, Tjilatjap, Tokio, Weltevreden, dan Yokohama.

Pasuruan tercatat sebagai salah satu agen NIHB pada Laporan Tahunan 1927.

Dengan demikian, pada tahun 1927—tahun yang sama ketika cabang di Pasuruan dibuka secara resmi pada 1 Mei—kota ini telah mendapatkan status “agentschap” (keagenan) yang sederajat dengan kota-kota besar lainnya. Ini bukan sekadar cabang kecil; ini adalah representasi penuh dari kekuatan finansial kolonial di Pasuruan.

Awal Pendirian dan Para Pimpinan

Pada tanggal 1 Mei 1927, NIHB secara resmi membuka kantornya di Pasuruan. Tokoh pertama yang dipercaya memimpin adalah Tuan E. F. A. Rosberger. Ia bertindak sebagai pengelola (beheerder) di bawah pengawasan agen Probolinggo—setidaknya pada tahap awal. Namun berdasarkan laporan tahunan NIHB 1927, Pasuruan pada akhir tahun itu sudah tercatat sebagai agen independen.

Sepanjang sejarahnya, beberapa tokoh tercatat memimpin kantor NIHB di Pasuruan. Mulai dari E. F. A. Rosberger yang bertindak sebagai pengelola pada periode 1927 hingga 1928, yang membuka cabang sekaligus meresmikan galangan perahu. Kemudian D. I. Kernkamp menjabat sebagai agen pada sekitar tahun 1929 sebelum dipindahkan ke Surabaya pada Desember 1929. P. J. Dammers kemudian menjabat sebagai agen dari Desember 1929 hingga April 1931, sebelum dipindahkan ke Ampenan, Lombok. J. C. Spier menjabat sebagai agen mulai April 1931, sebelumnya bertugas di Cirebon. Terakhir, V. E. van den Broeke bertugas sebagai Pimpinan Kantor Pengapalan dari tahun 1934 hingga 1942, di mana ia juga merangkap sebagai Wakil Walikota Pasuruan.

Peresmian Galangan Perahu Modern (18 September 1928)

Puncak kejayaan NIHB di Pasuruan terjadi pada 18 September 1928, ketika sebuah galangan perahu modern (prauwenwerf) diresmikan dengan upacara meriah. Berita dalam De Indische Courant melaporkan peristiwa ini secara rinci. Pagi itu, berkumpullah teman-teman dan kenalan Tuan Rosberger di lahan NIHB. Meskipun galangan ini sudah beroperasi beberapa bulan, hari itu dipilih untuk “Acara Peresmian” dan mengadakan “Slametan” (kenduri) bagi para staf—sebuah akulturasi yang indah antara tradisi Belanda dan Jawa.

Prosesi peresmian dimulai dengan pembukaan pintu air di bilik kunci. Air sungai mengalir deras memasuki kanal yang baru digali—sebuah simbolisasi “kelahiran” fasilitas baru. Gemericik air disambut tepuk tangan hadirin. Tuan Rosberger kemudian menyampaikan pidato yang melukiskan asal-usul ide pendirian galangan, mengapa fasilitas ini sangat diperlukan bagi Pasuruan, dan gambaran teknis tentang bangunan yang baru diresmikan. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan terima kasih kepada Tuan De Boer dari Probolinggo—yang mengembangkan dan melaksanakan idenya—serta Tuan Stinis, yang berjasa dalam pengerjaan bagian besi galangan. Setelah pidato, muncullah momen yang paling dinanti: pembukaan sampanye. Busa putih menyembur, gelas-gelas berkilau diangkat. Rosberger bersulang untuk kemakmuran NIHB. pada umumnya dan kesuksesan galangan ini pada khususnya. Dentingan kristal terdengar merdu di pagi yang cerah.

Perhatian kemudian beralih ke landasan luncur. Sebuah perahu—yang telah diletakkan di landasan sejak 1 Mei 1928 dan diperiksa secara menyeluruh—mulai meluncur perlahan ke kanal. Air pecah, buih putih menyembur. Para pekerja bersorak. Para undangan bertepuk tangan. Dan kemudian, adegan yang paling khas Jawa terjadi: semua berjalan lancar dan lucu melihat bagaimana para pekerja saling menyiram air, murni karena gembira atas keberhasilan tersebut. Pemandangan kontras antara pria-pria Eropa berjas di tepi kolam dan pekerja pribumi yang berlarian tertawa saling memercikkan air menjadi simbol unik dari perpaduan budaya yang terjadi di Pasuruan.

Galangan ini memiliki spesifikasi teknis yang impresif untuk zamannya. Sebuah kanal digali hampir tegak lurus terhadap Kali Gembong, dengan landasan luncur sepanjang 50 meter yang dapat memuat empat perahu sekaligus. Sistemnya merupakan kombinasi antara kolam kering dan landasan luncur—sebuah teknologi yang cukup canggih. Kendala yang dihadapi adalah rembesan air tanah, sehingga direncanakan akan dipasang pompa. Para tukang yang mengerjakan semua ini adalah tenaga ahli yang didatangkan dari luar daerah. De Indische Courant menutup laporannya dengan menyatakan bahwa menurut orang dalam, Pasuruan dengan ini menjadi lebih kaya dengan memiliki fasilitas modern.

Relokasi Kantor (1930)

Investasi NIHB di Pasuruan tidak berhenti di galangan perahu. Pada Januari 1930, berdasarkan berita Soerabaijasch Handelsblad (23 Januari 1930), NIHB memindahkan kantornya ke gedung baru—di Embong Semarangan, bekas gedung “Gewestelijke Werken” (Dinas Pekerjaan Umum Hindia Belanda) yang dibeli pada tahun 1928.

Gedung kantor lama di Heerenstraat kemudian diubah menjadi gudang. Namun, gudang ini tidak didesain seperti gudang biasa. Karena lokasinya yang strategis di Heerenstraat—jalan elit yang dipenuhi bangunan megah—pembangunannya dirancang dengan mempertimbangkan keindahan kota (stadsschoon). Artinya, dari luar bangunan ini tidak terlihat mencolok seperti gudang industri, melainkan nampak seperti rumah atau kantor biasa yang selaras dengan lingkungan sekitarnya. Ini adalah kompromi antara kebutuhan logistik dan estetika kawasan elit.

Gudang-gudang baru NIHB yang berlokasi di pusat kota—di sebuah titik yang “menguasai sebagian Heerenstraat“—dan direnovasi total. Ini menunjukkan bahwa di penghujung dekade 1920-an, NIHB masih optimis terhadap masa depan Pasuruan.

Penghapusan Keagenan Bank (1 November 1934)

Depresi Besar (Great Depression) yang melanda dunia pada 1930-an menghantam keras industri gula Pasuruan. Harga komoditas anjlok. Perdagangan menyusut. Kantor-kantor pengapalan besar banyak memberhentikan karyawannya.

NIHB pun mengambil keputusan drastis. Pada 15 Oktober 1934, Soerabaijasch Handelsblad memuat berita pendek, bahwa Nederlandsch-Indische Handelsbank akan menghapus keagenan bank di Pasuruan terhitung mulai 1 November mendatang. Setelah tanggal tersebut, kantor itu hanya akan dipertahankan untuk urusan pengapalan. Status Pasuruan diturunkan. Dari agen bank penuh yang melayani kredit, deposito, dan transfer, ia direduksi menjadi sekadar “afscheepkantoor” (kantor pengapalan)—hanya menangani ekspor-impor barang.

Van den Broeke: Pimpinan Kantor Pengapalan

Pimpinan kantor pengapalan yang baru ini dipercayakan kepada Tuan V. E. van den Broeke, yang sebelumnya menjabat sebagai agen di Cilacap. Ia bukan lagi “agen“—ia adalah pimpinan kantor pengapalan. Namun di Pasuruan ia meraih berbagai posisi terhormat. Puncaknya di tahun 1942, ia menjabat sebagai Wakil/Pengganti Walikota Pasuruan.

Pada 20 September 1938, van den Broeke merayakan 25 tahun kariernya di NIHB. Perayaan diadakan di rumahnya, Heerenstraat No. 3 (sekarang Kantor Satlantas Pasuruan). Keluarga van den Broeke menerima teman-teman dan kenalan—sebuah pengakuan publik atas dedikasinya, meskipun ia hanya memimpin kantor pengapalan.

Nasib Galangan Perahu (1934-1942)

Bagaimana nasib galangan perahu yang diresmikan dengan meriah pada 1928? Dokumen tidak menyebutkan penutupan galangan secara jelas. Namun ada beberapa indikasi penting.

Pertama, investasi besar yang dikeluarkan NIHB untuk membangun galangan sepanjang 50 meter dengan sistem kolam kering—sebuah fasilitas canggih untuk zamannya—menunjukkan bahwa bank mengharapkan pengembalian jangka panjang selama 10 hingga 15 tahun. Tidak masuk akal jika fasilitas ini hanya beroperasi hanya beberapa tahun saja.

Kedua, penurunan status menjadi kantor pengapalan pada tahun 1934, justru menunjukkan bahwa urusan ekspor-impor—yang menjadi fungsi utama galangan—tetap dipertahankan. Bahkan, ketika fungsi perbankan dihapus, fungsi pengapalan justru menjadi satu-satunya kegiatan penting yang tersisa di Pasuruan.

Ketiga, tidak ada dokumen yang menyatakan galangan ditutup antara tahun 1934 hingga 1942. Yang pasti dalam peta tahun 1946, masih digambarkan dengan jelas adanya fasilitas galangan perahu milik NIHB ini. Namun gudang-gudang NIHB dideskripsikan tidak akurat, disebut sebagai Ambachtsschool (sekolah kejuruan/pertukangan), yang seharusnya berada di seberang sungai atau di Kampung Bangilan.

Operasional NIHB Pasuruan dapat dipastikan berakhir pada bulan Maret 1942, ketika Jepang menginvasi Hindia Belanda dan menutup semua bank Barat serta menyita aset mereka. Tidak ada lagi aktivitas NIHB di Pasuruan setelah itu. Dengan demikian, skenario yang paling mungkin adalah galangan perahu NIHB Pasuruan beroperasi setidaknya hingga 1942—atau hingga invasi Jepang menghentikan semuanya, meskipun intensitasnya mungkin menurun setelah tahun 1934.

Fasilitas galangan perahu dan gudang-gudang NIHB di peta tahun 1946.

Vic van den Broeke – Anak Banda Neira yang Menjadi Wakil Walikota

Victor Emanuel van den Broeke—dikenal sebagai Vic van den Broeke—lahir di Banda Neira pada 20 Oktober 1887. Ia adalah putra dari Johannes Martinus Evert van den Broeke dan Henriëtte Ernestine Külenbömer.

Sebelum bergabung dengan NIHB, van den Broeke bekerja di “Internatio“—salah satu firma dagang terbesar di Hindia Belanda—di Surabaya. Pengalaman ini memberinya pengetahuan mendalam tentang pengapalan, logistik, dan perdagangan antar-pulau. Pada 6 Februari 1918 di Surabaya, ia menikah dengan Suzanna Ottoline Milar. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak.

Pada 20 September 1913, ia bergabung dengan NIHB di Surabaya, memulai karier yang akan membawanya ke berbagai kota pelabuhan. Dari tahun 1913 hingga 1920 ia bertugas di Surabaya sebagai karyawan. Pada tahun 1920, ia dipindahkan ke Ampenan di Lombok sebagai agen. Dari tahun 1921 hingga 1934, ia bertugas di Cilacap sebagai agen. Terakhir, dari tahun 1934 hingga 1942, ia bertugas di Pasuruan sebagai Pimpinan Kantor Pengapalan.

Di Cilacap, ia juga menjadi ketua Handelsvereniging Tjilatjap (Asosiasi Perdagangan Cilacap) dan anggota Dewan Kabupaten Cilacap—menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pegawai bank, tetapi juga pemimpin komunitas yang disegani.

Di Pasuruan, van den Broeke tidak hanya memimpin kantor pengapalan. Ia juga dipercaya menjadi anggota Dewan Kota Madya (Gemeenteraad), anggota Komisi Keuangan, Wakil/pengganti Walikota Pasuruan (vervangend burgemeester), serta Ketua cabang Indo-Europeesch Verbond (IEV). Ini membuktikan bahwa meskipun fungsi perbankan di Pasuruan telah direduksi, van den Broeke telah menjadi tokoh yang penting dan dihormati di Kota Pasuruan.

Status van den Broeke sebagai vervangend burgemeester pada Almanak 1942.

Akhir Tragis van den Broeke

Setelah perang diketahui bahwa van den Broeke (mantan Wawali Pasuruan)adalah salah satu korban yang hilang pada tragedi kapal Junyo Maru. Pada pertengahan September 1944, van den Broeke—bersama ribuan tawanan lainnya digiring kedalam kapal untuk dipindahkan. Kapal yang digunakan adalah Junyo Maru. Pada 16 September 1944, Junyo Maru meninggalkan Tanjung Priok menuju Padang, Sumatra Barat, dengan muatan sekitar 1.377 tawanan perang Belanda, sekitar 72 tawanan perang Inggris, Australia, dan Amerika, serta sekitar 4.200romusha” (pekerja paksa Jawa), sehingga total penumpang mencapai sekitar 5.600 orang.

Setelah dua hari berlayar di Samudra Hindia, pada Senin, 18 September 1944, sekitar pukul 16.00 sore, di perairan lepas pantai Moko-Moko, Bengkulu, kapal ditemukan oleh kapal selam Inggris HMS Tradewind. Kapten HMS Tradewind tidak mengetahui bahwa kapal itu mengangkut ribuan tawanan perang. Junyo Maru tidak menampilkan tanda Palang Merah atau huruf “POW“. Dari sudut pandang militer, itu hanyalah kapal musuh yang sah untuk ditenggelamkan. Torpedo menghantam bagian tengah kapal (midship). Ledakan dahsyat merobek lambung kapal. Kapal mulai oleng dengan cepat. Dalam waktu sekitar 20 menit, Junyo Maru lenyap di bawah gelombang.

Vic van den Broeke—salah satu korban tewas tenggelam di laut Bengkulu pada tanggal 18 September 1944. Jasadnya tidak pernah ditemukan.

Kapal Barang “Neraka” Junyo Maru milik Kekaisaran Jepang

Transformasi

Setelah perang berakhir dan Indonesia merdeka, aset-aset milik Belanda di Indonesia—termasuk gedung-gedung eks NIHB—dinasionalisasi. NIHB sendiri berganti nama menjadi Nationale Handelsbank (NHB) pada tahun 1950. Pada 1959, pemerintah Indonesia menasionalisasi bank-bank Belanda, dan aset NHB di Indonesia diserahkan kepada Bank Umum Negara (cikal bakal Bank Mandiri).

Yonzipur 10 Kompi Bantuan—unit yang menyediakan dukungan logistik dan teknis bagi batalyon—sekarang menempati markas di eks kompleks pergudangan dan galangan perahu NIHB di Jalan Balai Kota No. 13. Sedangkan bekas kantor NIHB di Embong Semarangan (sekarang Jalan Hayam Wuruk No. 24), kembali ke fungsi semula menjadi Kantor Dinas PU Propinsi Jawa Timur

Demikianlah perjalanan panjang Nederlandsch-Indische Handelsbank di Pasuruan—Dari sebuah bank dengan gemericik air yang riuh saat peresmian galangan perahu, hingga tragedi kemanusiaan yang menenggelamkan Vic van den Broeke di Laut Bengkulu. Kini galangan perahu hanya tergambar dalam peta lama, gedung yang sama berdiri sebagai markas Kompi Bantuan Yonzipur 10—sebuah transformasi dari simbol kapitalisme kolonial menjadi benteng pertahanan kedaulatan Indonesia.

Sumber : Berbagai surat kabar sezaman (1927-1938), laporan tahunan NIHB (1927), arsip korban perang (Ons Land, Oorlogsbronnen.nl), Wikipedia (NIHB, Junyo Maru, Yonzipur 10)