Pasuruan, Batavia Kecil di Timur Jawa
Sebelum menelusuri sejarah Sociëteit Harmonie, penting untuk memahami konteks kota Pasuruan pada masa kolonial. Pasuruan bisa disebut sebagai “Batavia kecil” karena memiliki pola tata kota yang mirip dengan ibu kota Hindia Belanda. Seperti Batavia yang terbagi menjadi Kota Bawah (Benedenstad) dan Kota Atas (Bovenstad), Pasuruan pun memiliki pembagian yang serupa.
Kota Bawah Pasuruan terletak di bagian utara stasiun dan Kerkstraat (Jalan Gereja), yang kemudian menjadi kawasan pelabuhan. Kawasan ini awalnya menjadi pusat pemukiman dan perdagangan, tetapi lingkungannya berawa dan tidak sehat, rawan penyakit seperti malaria dan kolera.
Kota Atas Pasuruan berada di sepanjang Heerenstraat (Jalan Tuan-tuan) — nama yang dengan sendirinya sudah menunjukkan status sosial penghuninya. Di kawasan inilah para pedagang besar, pejabat kolonial, dan kaum elite membangun vila-vila megah mereka. Rumah Residen dibangun di kawasan ini pada tahun 1832, sementara Gereja Protestan berdiri tepat di garis pemisah antara kota bawah dan kota atas pada tahun 1829.
Seperti halnya Batavia, pusat kehidupan kolonial di Pasuruan secara bertahap berpindah dari kota bawah yang tidak sehat menuju kota atas yang lebih sehat dan eksklusif. Perpindahan inilah yang kemudian melatarbelakangi pembangunan gedung Sociëteit Harmonie yang baru.
Babak Pertama: Sociëteit Sebelum Harmonie (Sebelum 1855)
Sebenarnya, kehidupan sociëteit (perkumpulan sosial) sudah ada di Pasuruan sejak kota ini mulai terbentuk. Sociëteit Harmonie yang kita kenal saat ini merupakan kelanjutan dari sebuah perkumpulan yang bernama “Genoegen is Ons Doel” (Kesenangan adalah tujuan kami), yang sudah berdiri sebelum tahun 1855.
Sayangnya, tidak banyak yang diketahui tentang masa awal perkumpulan tersebut. Yang pasti, mereka sudah memiliki sebuah gedung sociëteit lama. Gedung ini memiliki ukuran yang luar biasa: lebar depan mencapai 54 meter, kedalaman 24 meter, dengan sayap bangunan sepanjang 46 meter. Gedung itu berisi banyak ruangan, termasuk ruang dansa dengan lantai kayu.
Namun, ada satu masalah besar: gedung tersebut terletak di lingkungan yang berawa dan tidak sehat, yaitu di kawasan kota bawah. Kondisi inilah yang membuat para anggota perkumpulan tidak lagi betah tinggal di dalamnya. Kebutuhan akan gedung baru di lokasi yang lebih sehat menjadi semakin mendesak.
Babak Kedua: Gagasan Gedung Baru (Juni 1855)
Juni 1855 menjadi titik balik sejarah. Pada bulan ini, Tuan C. P. C. Steinmetz mulai menjabat sebagai Residen Pasuruan. Steinmetz tidak hanya seorang pejabat administratif, tetapi juga seorang visioner yang melihat perlunya sebuah tempat berkumpul yang layak bagi komunitas Eropa di Pasuruan.
Ide pembangunan gedung baru ini sebenarnya berawal dari suasana santai. Seperti dilaporkan De Indische Courant (29 Maret 1933):
“Hal ini berawal dari saat santai minum-minum pahit (bitter) oleh sejumlah anggota klub di gedung perkumpulan lama, topik ini dibahas. Beberapa anggota mengusulkan untuk mengumpulkan dana melalui daftar sumbangan. Usul ini mendapat persetujuan umum…”
Steinmetz kemudian bertindak sebagai Presiden Asosiasi yang memprakarsai pembangunan gedung sociëteit baru. Melalui kebijaksanaan dan diplomasinya, ia berhasil mengakhiri perjuangan dan perselisihan yang saat itu memecah belah penduduk Pasuruan menjadi dua kubu. Nama “Harmonie” (rukun dan harmonis) lahir dari proses perdamaian dan persaudaraan yang terjadi setelah perselisihan tersebut.
Babak Ketiga: Dukungan Finansial dari Gerrit Lebret
Pembangunan gedung megah ini tidak lepas dari dukungan keuangan yang besar dari para pengusaha sukses di Pasuruan. Tokoh yang paling menonjol adalah Tuan Gerrit Lebret, seorang sosok terkenal sebagai pemilik dan administrator Pabrik Gula Kedawoeng.
De Indische Courant mencatat:
“Hasilnya, terutama berkat dukungan finansial besar dari Tuan Lebret (saat itu pendiri dan pemilik pabrik gula ‘Kedawoeng’) serta Steinmetz (saat itu Residen Pasuruan sekaligus presiden sociëteit), harapan mengenai total dana yang terkumpul jauh melampaui target.”
Dukungan murah hati dari Lebret, bersama dengan kontribusi dari pengusaha lain, memungkinkan pembangunan gedung sociëteit yang megah ini terwujud. Tanpa mereka, mustahil sebuah bangunan semegah ini bisa berdiri di Pasuruan.
Babak Keempat: Arsitek Motta dan Konstruksi (1856-1857)
Tahun 1856 menjadi masa persiapan konstruksi. Arsitek yang dipilih untuk merancang gedung baru ini adalah Motta. Sosok Motta diketahui pernah menginap di Marine Hotel pada bulan April 1856 setelah tiba dari Probolinggo. Kemudian, pada tahun 1869, ia ditempatkan sebagai arsitek di Grisse (Gresik).
Motta berhasil merancang sebuah bangunan dengan gaya Indische Empire yang megah. Ciri khasnya adalah deretan tiang ganda di bagian depan yang menjadi ikon gedung ini hingga saat ini.
Tahun 1857, keputusan resmi untuk membangun gedung baru di kota atas diambil. Pembangunan dimulai dengan anggaran yang sangat fantastis untuk ukuran zamannya.
Babak Kelima: Biaya Fantastis 80.000 Gulden
Biaya pembangunan gedung ini mencapai 80.000 Gulden. Jumlah ini sangat besar, mengingat pada masa itu seorang guru sekolah Eropa hanya menerima gaji sekitar 30 hingga 50 Gulden per bulan.
De Indische Courant melaporkan:
“Meskipun ada sumbangan besar dari para anggota, dana tunai yang tersedia masih belum cukup. Gedung sociëteit baru yang dirancang dan dibangun oleh arsitek Motta dengan biaya ƒ 80.000 kemudian dibebani dengan hipotek sebesar ƒ 24.000 dengan bunga 4% yang diambil dari kamar yatim piatu (Weeskamer) di Surabaya.”
Angka ini menunjukkan betapa seriusnya komitmen komunitas Eropa Pasuruan untuk memiliki tempat berkumpul yang layak di kawasan kota atas yang sehat.
Babak Keenam: Peresmian Gedung (5 Februari 1858)
Setelah melalui proses konstruksi yang panjang, akhirnya gedung Sociëteit Harmonie yang megah selesai dibangun. Pada tanggal 5 Februari 1858, gedung ini diresmikan dalam sebuah upacara yang khidmat.
De Indische Courant mencatat dengan jelas:
“Pada tanggal 5 Februari 1858, dalam rapat umum yang dihadiri banyak undangan, dilakukan pembukaan resmi gedung. Upacara ini dilakukan oleh istri dari Tuan Steinmetz.”
Ini adalah momen bersejarah yang menandai selesainya pembangunan fisik gedung dan mulai difungsikannya ballroom sebagai tempat hiburan bagi komunitas Eropa Pasuruan.
Setengah tahun kemudian, Tuan Steinmetz mengundurkan diri sebagai presiden sociëteit. Mengingat banyaknya upaya dan pengorbanan yang telah dilakukannya, ia ditawari jabatan sebagai pelindung (beschermheerschap) yang diterimanya dengan baik.
Perlu dicatat bahwa tanggal 31 Maret yang sering disebut dalam berbagai artikel sebagai hari peresmian sebenarnya bukanlah tanggal peresmian, melainkan hanya tanggal peringatan ulang tahun biasa yang kemudian dirayakan setiap tahun. Peresmian yang sebenarnya tetap pada 5 Februari 1858.
Babak Ketujuh: Masa-Masa Awal yang Sulit (1862-1874)
Meskipun memiliki gedung yang megah, perjalanan Sociëteit Harmonie tidak selalu mulus. De Indische Courant melaporkan:
“Namun, dalam sepuluh tahun pertama setelah pendirian sociëteit, keadaannya tidak berjalan sesuai harapan. Penyebab utamanya adalah kurangnya minat di antara anggota untuk menerima jabatan pengurus. Para anggota selalu hadir jika ada pesta besar yang diadakan, tetapi satu per satu mengundurkan diri ketika diminta untuk mencurahkan waktu dan tenaga demi kesejahteraan perkumpulan.”
Akibatnya, dari tahun 1862 hingga 1874, sociëteit ini tidak kurang dari 16 presiden! Pembentukan pengurus sering kali melibatkan banyak rapat, dan satu per satu calon pengurus mengundurkan diri dari kehormatan tersebut.
Akhirnya, pengurus berusaha menghentikan pengunduran diri ini dengan cara yang unik: memberlakukan denda sebesar 25 Gulden bagi mereka yang menolak jabatan. Ini adalah angka yang cukup besar, setara dengan gaji seorang guru pembantu selama sebulan penuh.
Baru pada tahun 1874, di bawah kepresidenan Tuan Lowe, ketenangan mulai datang. Lowe menyusun peraturan yang baik, yang membantu memastikan stabilitas pengurus ke depannya. Setelah era Lowe, pergantian presiden terutama disebabkan oleh kepindahan anggota ke kota lain — sesuatu yang tidak terhindarkan dalam masyarakat kolonial yang dinamis.
Babak Kedelapan: Masalah Keuangan yang Kronis
Masalah keuangan juga tidak kalah pelik. De Indische Courant mencatat:
“Meskipun sociëteit ini memiliki banyak anggota yang sangat kaya, ia tetap selalu bergumul dengan masalah keuangan. Ketika pesta diadakan untuk peristiwa nasional atau acara khusus, dompet para anggota terbuka lebar. Tetapi untuk berbagai perbaikan, pembelian furnitur baru, dan sebagainya, ternyata para anggota kurang bersedia berkontribusi.”
Karena itu, para pengurus berusaha mendapatkan uang tunai dengan berbagai cara kreatif, antara lain melalui lotre, pinjaman tanpa bunga, dan penerbitan obligasi. Lotre uang besar pertama senilai ƒ 150.000 diselenggarakan pada tahun 1864. Namun, harapan dari lotre ini sangat mengecewakan:
“Hanya keuntungan bersih sebesar ƒ 4.000 yang dapat diperoleh untuk kas, dibandingkan dengan perkiraan awal sebesar ƒ 20.000. Penyebabnya terutama karena organisasi yang kurang baik, dan juga karena para pemilik depot melakukan kecurangan.”
Akal budi para pengurus untuk mendapatkan uang tunai sering kali mendekati kejeniusan, meskipun tidak selalu berhasil.
Babak Kesembilan: Masa Keemasan Pasuruan dan Harmonie
De Indische Courant menggambarkan kejayaan Pasuruan pada masa lalu:
“Pada masa-masa awal, Pasuruan adalah salah satu kota dagang terkemuka di Jawa; semua produk dari Tengger dan wilayah Malang diangkut melalui Pasuruan. Banyak pedagang dan rumah dagang memiliki kantor di sini. Karena sarana transportasi saat itu belum memadai sehingga kota-kota besar seperti Surabaya dan Malang tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, maka sangat dapat dipahami bahwa sociëteit Pasuruan adalah pusat kehidupan pergaulan.”
Pada masa kejayaan ini, Harmonie menjadi pusat berbagai kegiatan hiburan dan seni. Ada sebuah perkumpulan teater bernama “Liefde tot Harmonie” (Cinta pada Harmoni), yang selama 40 tahun keberadaannya sering terdengar namanya dan memberikan banyak pertunjukan.
Perkumpulan teater ini mencapai puncak keaktifannya pada tahun 1886, ketika Tuan Valette (sekretaris wilayah Pasuruan yang sangat mencintai teater) menjabat. Hampir setiap bulan mereka mengadakan pertunjukan, meskipun hubungan dengan pengurus Harmonie tidak selalu harmonis karena perkumpulan teater ini sering ingin menggunakan Sabtu malam — “malam klub” favorit para anggota — untuk pentas mereka.
Babak Kesepuluh: Dua Presiden Legendaris (1899-1918)
Selama dua dekade pertama abad ke-20, jabatan presiden sociëteit hanya dipegang oleh dua orang, yaitu Tuan Kobus (direktur POJ yang terkenal) dan Tuan Van Haastert.
De Indische Courant mencatat:
“Kepada kedua presiden ini, Sociëteit Harmonie sangat berhutang budi. Melalui kebijaksanaan dan pandangan jauh mereka, mereka berhasil mengatasi banyak kesulitan keuangan.”
Van Haastert, yang telah menjadi anggota sejak tahun 1886 dan anggota pengurus dari tahun 1898 hingga 1918, kemudian diangkat menjadi anggota kehormatan pengurus pada perayaan 70 tahun Harmonie.
Babak Kesebelas: Kemunduran dan Kebangkitan (1920-1928)
De Indische Courant menjelaskan dinamika ekonomi Pasuruan:
“Akibat sarana transportasi yang lebih baik dan perpindahan jalur pelayaran, Pasuruan sebagai kota dagang terus merosot. Namun, sejak tahun 1920, ketika beberapa badan usaha besar seperti Nederlandsch-Indische Handelsbank, veem Stroo dan Blauwhoeden mendirikan kantor di sini, Stasiun Percobaan Gula dan berbagai perusahaan industri mulai berkembang, kemakmuran berangsur-angsur membaik, yang juga membawa pengaruh pada sociëteit.”
Pada saat perayaan 70 tahun yang berlangsung pada 31 Maret 1928, sociëteit dapat bersukacita karena sedang mengalami masa kejayaan. Redaksi Indische Club Kroniek yang meliput perayaan tersebut menulis dengan penuh kenangan:
“Setiap kali kami melewati Pasuruan dalam perjalanan dari Surabaya menuju ujung timur Jawa, pada jam berapa pun — siang atau malam — kami tidak pernah lupa mampir sebentar ke Harmonie. Ada sesuatu di klub ini yang sulit dijelaskan, sesuatu yang membuat Anda bersyukur.”
Babak Keduabelas: Restorasi Besar-besaran (1932-1933)
Namun, masa kejayaan tidak bertahan lama. Depresi ekonomi global mulai meninggalkan dampaknya. De Indische Courant (29 Maret 1933) melaporkan dengan nada prihatin:
“Sayangnya, kini ketika peringatan 75 tahun Sociëteit Harmonie sudah sangat dekat, kita tidak dapat lagi berbicara tentang kehidupan perkumpulan yang berkembang pesat. Depresi ekonomi saat ini, yang menjadi penyebabnya, telah meninggalkan dampaknya di sini juga.”
Meskipun demikian, semangat untuk mempertahankan Harmonie tetap menyala. Selama tahun 1932, di bawah kepemimpinan energik presiden sociëteit saat itu, Tuan Dr. V. Koningsberger (direktur bagian pertanian POJ), gedung sociëteit direstorasi secara menyeluruh.
Dalam restorasi ini, dua orang “Smitten” yang terkenal di Pasuruan juga tidak sedikit berjasa. Hasil restorasi membuat gedung ini semakin megah.
De Indische Courant memuji:
“Pasuruan memang boleh bangga memiliki gedung sebesar dan semegah ini, yang dengan tiang-tiangnya yang indah di sepanjang lebar bagian depan serta bentuknya yang masif memberikan pemandangan yang mengagumkan.”
Babak Ketigabelas: Perayaan 75 Tahun dan Malam Pesta Oriental (1 April 1933)
Pada hari Sabtu, 1 April 1933, Sociëteit Harmonie merayakan ulang tahunnya yang ke-75. Berbeda dengan perayaan 70 tahun yang meriah, perayaan kali ini diselenggarakan dengan nuansa yang lebih sederhana karena kondisi ekonomi yang sulit.
De Indische Courant menulis:
“Meskipun kondisi zaman saat ini sebenarnya kurang mendukung untuk mengadakan pesta, pengurus berpendapat bahwa perayaan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, terlebih lagi Pasuruan sudah lama tidak merasakan kemeriahan pesta.”
Acara yang digelar adalah “Malam Pesta Oriental” (Oostersch nachtfeest) , yang dimulai pukul 9 malam dan menampilkan berbagai atraksi. Beberapa sociëteit tetangga juga diundang, sehingga sociëteit pada malam itu niscaya tidak akan kekurangan perhatian.
Semua berharap bahwa satu-satunya anggota kehormatan, Tuan H. Morbeck (kini tinggal di Pandaan), yang telah menjadi anggota sejak tahun 1892, akan hadir pada malam itu.
Babak Keempatbelas: Arena Bowling Dibuka (14 Maret 1936)
Tiga tahun setelah perayaan 75 tahun, Harmonie kembali menghadirkan inovasi. Pada tanggal 14 Maret 1936, Asisten Residen Pasuruan, Dr. C. G. E. De Jong, meresmikan fasilitas olahraga baru: “Kegelen” — yang sekarang kita kenal sebagai Bowling. Permainan ini merupakan salah satu olahraga yang banyak digemari pada masa itu, suatu permainan yang konon sudah ada sejak zaman Mesir kuno. Pengerjaan arena kegel ini melibatkan beberapa pihak dengan keahlian masing-masing:
- KAR Hirch : Pengawasan pekerjaan
- JW Dorpema : Pembubutan Pin Kegel yang dibuat dari kayu Jawa
- Bengkel Konstruksi “de Bromo” : Pemintalan bola
- WJ Mans : Landasan lemparan
Menariknya, sebuah club kegel dari Pasuruan dengan nama “Houdt Baan” yang sudah mati bertahun-tahun disebut dihidupkan kembali dengan pembukaan arena baru ini.
Babak Kelimabelas: Perang Dunia II dan Pendudukan Jepang (1942-1945)
Perang Dunia II dan pendudukan Jepang membawa perubahan drastis bagi Harmonie. Seperti banyak gedung Eropa lainnya, Harmonie kemungkinan besar disita oleh pemerintah pendudukan Jepang. Kehidupan sociëteit yang meriah dan eksklusif terhenti sejenak.
Para anggota Eropa banyak yang ditawan atau diungsikan. Harmonie yang pernah menjadi pusat kegembiraan dan kerukunan kini menjadi sunyi.
Babak Keenambelas: Markas TRIP (1945-1947)
Setelah kemerdekaan Indonesia, hingga pada tahun 1947, gedung Harmonie bangkit kembali dengan fungsi yang sangat berbeda. Bangunan ini digunakan sebagai markas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Namun inipun tidak lama, gedung diambil alih militer Belanda ketika Aksi Polisionil di Juli 1947.
Babak Ketujuhbelas: Gedung Rakyat (1962)
Pada tahun 1962, semangat nasionalisme semakin menguat. Nama “Harmonie” yang berbau kolonial dianggap tidak sesuai dengan semangat zaman. Gedung ini pun berganti nama menjadi Gedung Rakyat.
Fungsinya pun bergeser. Gedung Rakyat digunakan untuk pertemuan-pertemuan umum dan pertunjukan kesenian tradisional rakyat Pasuruan. Dari tempat eksklusif bagi kaum elite Eropa, kini gedung ini menjadi milik rakyat banyak.
Babak Kedelapanbelas: Yayasan Untung Surapati dan SMK Unsur (1964)
Pada tahun 1964, babak baru dalam sejarah gedung ini dimulai. Gedung Rakyat mulai dikelola oleh Yayasan Untung Surapati. Di bawah pengelolaan yayasan ini, gedung bersejarah tersebut dialihfungsikan menjadi bangunan utama sebuah sekolah kejuruan.
Kini, gedung megah dengan deretan tiang ganda di depannya itu menjadi bagian dari SMK Unsur (Sekolah Menengah Kejuruan Untung Surapati) — sebuah lembaga pendidikan kejuruan yang melayani generasi muda Pasuruan.
Fungsi gedung ini telah bertransformasi secara dramatis: dari ballroom eksklusif bagi kaum kolonial Belanda, menjadi markas perjuangan kemerdekaan, pusat kesenian rakyat, dan kini menjadi ruang kelas bagi para siswa SMK. Tidak ada lagi tarian waltz, tidak ada lagi permainan biliar, tidak ada lagi arena bowling. Yang ada sekarang adalah suara siswa belajar, guru mengajar, dan masa depan Indonesia yang sedang dipersiapkan.
Penutup: Warisan yang Tetap Hidup
Hari ini, hampir 170 tahun setelah peresmiannya pada tanggal 5 Februari 1858, Gedung Harmonie — yang kini lebih dikenal sebagai gedung SMK Unsur — masih berdiri kokoh di Jalan Pahlawan, Pasuruan. Deretan tiang ganda di depannya masih megah, pintu dan jendela superjumbonya masih tinggi menjulang.
Gedung ini telah menyaksikan lebih dari satu setengah abad sejarah Pasuruan: dari masa kejayaan kota sebagai pusat gula dan kopi, masa perselisihan yang melahirkan nama “Harmonie”, masa sulit dengan 16 presiden dalam 12 tahun, masa keemasan teater, masa pembukaan arena bowling modern, restorasi besar-besaran pada tahun 1932, masa depresi ekonomi, masa pendudukan Jepang, masa perjuangan kemerdekaan, hingga menjadi sekolah kejuruan yang melayani generasi muda Indonesia.
Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang kota Pasuruan dari “Batavia kecil” dengan dua wajah kota — bawah yang berawa dan atas yang sehat — dari masa kolonial hingga kemerdekaan, dari rawa menuju kejayaan. Dan ia masih berdiri. Megah. Kokoh. Menjadi bagian dari masa depan bangsa.
Kronologi Lengkap Peristiwa Sociëteit Harmonie Pasuruan
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| Sebelum 1855 | Perkumpulan “Genoegen is ons doel” berdiri dengan gedung di kota bawah (lingkungan berawa) |
| Juni 1855 | C.P.C. Steinmetz mulai menjabat sebagai Residen Pasuruan |
| April 1856 | Arsitek Motta menginap di Marine Hotel dalam perjalanan dari Probolinggo |
| 1857 | Keputusan pembangunan gedung baru di kota atas |
| 1857 | Pengambilan hipotek 4 x NLG 24.000 dari panti asuhan Surabaya |
| 5 Februari 1858 | Peresmian gedung Sociëteit Harmonie oleh istri Residen Steinmetz |
| Setelah 1858 | Steinmetz mengundurkan diri; ditawari jabatan sebagai pelindung |
| 1862-1874 | Periode 16 presiden dalam 12 tahun; denda 25 Gulden bagi yang menolak jabatan |
| 1864 | Lotre uang besar pertama (ƒ 150.000) gagal mencapai target |
| 1869 | Motta ditempatkan sebagai arsitek di Grisse (Gresik) |
| 1874 | Tuan Lowe menjadi presiden; stabilitas mulai tercapai |
| 1886 | Puncak keaktifan perkumpulan teater “Liefde tot Harmonie” |
| 1899-1918 | Kepresidenan Tuan Kobus dan Tuan Van Haastert (hanya dua presiden dalam 20 tahun) |
| 31 Maret 1928 | Perayaan 70 tahun (diliput Indische Club Kroniek) |
| 1932 | Restorasi besar-besaran gedung di bawah Dr. V. Koningsberger |
| 1 April 1933 | Perayaan 75 tahun; “Malam Pesta Oriental” |
| 14 Maret 1936 | Peresmian arena bowling (Kegelen) oleh Asisten Residen Dr. C.G.E. De Jong |
| 1942-1945 | Pendudukan Jepang; gedung kemungkinan disita |
| 1947 | Gedung digunakan sebagai markas TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) |
| 1962 | Nama diubah menjadi Gedung Rakyat |
| 1964 | Dikelola Yayasan Untung Surapati; menjadi bangunan utama SMK Unsur |
| Sekarang | Masih digunakan sebagai SMK Unsur (Sekolah Menengah Kejuruan Untung Surapati) |

