Di penghujung abad ke-17, tanah Jawa menjadi saksi perlawanan sengit seorang anak budak yang kelak menjelma menjadi legenda. Namanya Untung Suropati, Suropati kadang ditulis Surapati. Dalam riwayat perjuangannya, terselip satu kata yang menggambarkan kemarahannya yang membabi buta terhadap penjajah, yaitu : “Amok” (amuk/mengamuk). Kata yang berakar dari bahasa Nusantara ini memiliki perjalanan panjang—dari medan pertempuran di Jawa, dicatat dengan seksama oleh para penjelajah dan pejabat kolonial, melintasi samudra, hingga akhirnya tercatat rapi sebagai kosakata resmi dalam kamus bergengsi dunia, Oxford English Dictionary.

Artikel ini akan mengupas sosok Untung Surapati, peristiwa heroik yang mengukuhkan namanya, keterkaitannya dengan kata “amok”, berbagai catatan tentang definisi kata tersebut, serta perjalanannya menjadi kosakata global yang mendunia.

Untung Surapati: Sang Legenda dari Timur

Dari Budak Menjadi Pemberontak

Untung Surapati, yang bernama asli Surawiraaji, lahir di Bali sekitar tahun 1660. Tidak ada catatan jelas mengenai siapa orang tuanya, meskipun sumber-sumber Buleleng menyebutkan ia adalah putra seorang jenderal dari kerajaan Swecalinggarsa-pura Gelgel. Ia ditemukan oleh Kapten van Beber, seorang perwira VOC yang ditugaskan di Makassar, kemudian dijual kepada perwira VOC lain di Batavia bernama Moor .

Sejak memiliki budak baru ini, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap membawa keberuntungan sehingga diberi nama “Si Untung”. Sebagai seorang budak, Surapati menyaksikan langsung bagaimana para kompeni Belanda memperlakukan kasar para budak, yang menimbulkan rasa antipati mendalam terhadap mereka.

Saat berusia 20 tahun, Untung menjalin hubungan terlarang dengan putri majikannya, Suzanne, dan memiliki seorang putra bernama Robert. Moor yang murka kemudian menjebloskannya ke penjara. Namun Untung tidak tinggal diam. Di dalam penjara, ia justru menghimpun para tahanan lain—dan dalam pelariannya, ia bersama para pengikutnya menyerang serdadu Belanda dengan teriakan “Amok! Amok!”—sebuah momen yang kelak menjadi catatan penting dalam sejarah.

Momen “Mengamuk” di Sungai Cikalong

Pada tahun 1683, VOC yang sedang mengejar Pangeran Purbaya dari Banten melihat potensi Untung. Mereka menawarinya pekerjaan sebagai tentara VOC, dan Untung menerima dengan pangkat letnan, memimpin pasukan Bali. Ia ditugasi menjemput Pangeran Purbaya yang hendak menyerahkan diri.

Namun, dalam pertemuan di daerah Cikalong, datang pasukan Vaandrig Willem Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Kuffeler meminta Pangeran Purbaya menyerahkan kerisnya sebagai tanda takluk. Ketika Untung menolak perintah Kuffeler dengan alasan pangkatnya lebih tinggi, Kuffeler mengancam akan mengembalikan Untung dan para pengikutnya ke perbudakan. Pertengkaran pun terjadi.

Pada Januari 1684, Untung dan pasukannya menyerang kamp Kuffeler. Peristiwa ini menewaskan 15 orang Belanda dan 28 tentara Mardijker. Sejak saat itu Untung meninggalkan kedinasan tentara Belanda dan kembali menjadi buronan VOC.

Mendapat Nama Surapati

Dalam pelariannya, saat melewati Kesultanan Cirebon, Untung terlibat perseteruan dengan Raden Surapati, anak angkat Sultan Cirebon. Setelah diadili, terbukti bahwa yang bersalah adalah Surapati. Ia pun dihukum mati, dan gelar “Surapati” diserahkan Sultan Cirebon kepada Untung. Sejak itu, ia dikenal sebagai Untung Surapati .

Pertempuran Kartasura dan Gugurnya Kapten Tack

Pada tahun 1686, Surapati tiba di Kartasura, pusat Kerajaan Mataram. VOC mengirim Kapten François Tack, perwira senior kelahiran Den Haag (29 Mei 1649) yang berpengalaman dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada hari Jumat, 8 Februari 1686, antara pukul 10.00 hingga 11.00, Tack dan pasukannya bergerak menuju keraton dengan genderang bertalu-talu. Namun, mereka tidak membawa meriam dan amunisi lengkap—sebuah kesalahan fatal. Sementara itu, di sekitar keraton terjadi kebakaran dahsyat. Permukiman para tukang, seniman, dan abdi keraton sengaja dibakar oleh laskar Surapati, sebuah aksi sandiwara yang mendapat persetujuan dari Sunan Amangkurat II untuk memberi kesan bahwa Sunan pun mendapat perlawanan dari Surapati.

Di alun-alun Kartasura, pasukan Tack yang bergerak maju sambil menembak mendapat serangan dari rumah-rumah yang belum terbakar. Dalam kecamuk perang, pasukan VOC kebingungan. Mereka menembak tanpa membidik, sementara untuk mengisi kembali senapan memerlukan waktu. Dalam naungan asap yang gelap, pedang-pedang laskar Surapati yang bermata gelap dengan mudah menetak mereka.

Kapten François Tack tewas dalam pertempuran ini, bersama sekitar 74 hingga 75 prajurit VOC lainnya. Peristiwa ini tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kekalahan terbesar VOC di puncak kejayaannya. Jenazah Tack awalnya dimakamkan di Benteng Jepara, kemudian dipindahkan ke Batavia dan dimakamkan di dalam Kruiskerk (Gereja Salib). Saat ini, nisannya dapat ditemukan di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat.

Akhir Perjuangan

Setelah peristiwa itu, Surapati menuju ke Jawa Timur dan merebut Pasuruan. Ia mengangkat diri sebagai bupati Pasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara. Pada September 1706, gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya menyerbu Pasuruan. Dalam pertempuran di benteng Bangil, Untung Surapati terluka dan akhirnya wafat di Pasuruan pada pada 15 november 1706. Makamnya ada di Mancilan Kebon Agung, yang dicatat dengan rinci oleh Domis.

“Amok”: Akar Kata dari Nusantara

Asal-Usul Linguistik

Kata “amok” berasal dari rumpun bahasa Austronesia. Oxford English Dictionary (OED) mencatat bahwa kata ini memiliki etimon (kata asal) yang beragam: dari bahasa Italia (amoco), Portugis (amouco), Prancis (amuchio), serta langsung dari Jawa (amuk) dan Melayu (amuk) . Penggunaan kata ini dalam bahasa Inggris pertama kali tercatat pada tahun 1588, dalam sebuah terjemahan oleh T. Hickock.

Oxford Learner’s Dictionaries menjelaskan bahwa kata ini masuk ke bahasa Inggris melalui bahasa Portugis amouco, dari bahasa Melayu amok yang berarti “menyerang dengan dahsyat” (rushing in a frenzy). Awalnya digunakan sebagai kata benda untuk menyebut “orang Melayu dalam keadaan mengamuk membunuh”, kemudian penggunaan sebagai kata keterangan (adverb) dimulai pada akhir abad ke-17 dalam frasa “run amok”.

Saat ini, “run amok” didefinisikan sebagai to suddenly become very angry or excited and start behaving violently, especially in a public place (tiba-tiba menjadi sangat marah atau bersemangat dan mulai berperilaku kasar, terutama di tempat umum).

Catatan Penjelajah Eropa

Bangsa Eropa pertama kali mendokumentasikan fenomena “amuk” ketika berinteraksi dengan penduduk Nusantara pada abad ke-16. Penjelajah Portugis, Duarte Barbosa, sekitar tahun 1518 menulis pengamatan yang mencengangkan:

“Ada beberapa orang Jawa yang berkeliaran di jalan dan membunuh sebanyak mungkin orang yang mereka temui. Hal ini disebut dengan Amuco“.

Jean-Baptiste Tavernier, pedagang permata asal Prancis yang berlabuh di Banten tahun 1648, juga mencatat fenomena serupa dengan sebutan jouit a Moqua. Dalam magnum opus Thomas Stamford Raffles, The History of Java, kata “amok” juga muncul beberapa kali, menunjukkan betapa fenomena ini telah meresap dalam pengamatan para administrator kolonial.

Catatan Residen Domis tentang “Amok”

Salah satu dokumentasi paling penting tentang fenomena “amok” dalam konteks perlawanan Surapati berasal dari H.J. Domis, yang menjabat sebagai Residen Pasuruan pada abad ke-19. Dalam bukunya yang berjudul “De residentie Passoeroeang op het eiland Java” dalam bab : “Geschiedenis van Soerapati” (Sejarah Soerapati), Domis tidak hanya menulis riwayat hidup Untung Surapati, tetapi juga memberikan penjelasan khusus tentang istilah “amok”.

Ketika menceritakan adegan pelarian Si Untung dari penjara di Batavia, Domis menulis bahwa Si Untung dan para pengikutnya menyerang serdadu Belanda “onder het geroep van Amok! Amok!” (dengan teriakan “Amok! Amok!”). Pada bagian inilah Domis menyisipkan catatan kaki yang sangat berharga:

“Amok noemt men, zoo dit noodig zij te herinneren, eene razernij en wanhopige dolzinnigheid, welke ontstaat door hevig aangespoorde driften, en inzonderheid door sterk aangevuurde wraakzucht. Veelal wordt Amok veroorzaakt door ware of vermeende mishandelingen van slaven, die hierop in uitbandige woede losbarsten, welke door het gebruiken van opium nog meer ontvlamt. De inboorlingen noemen zelf deze woede eene verduistering der oogen (Mata glap). Zulk een Amok is zeer gevaarlijk, daar de razende het er op toelegt al wat hem voorkomt, en ten laatste zijn eigen leven op te offeren. Het woord Amok beteekent letterlijk muiterij, oproer, doldriftigheid.”

Terjemahan:

“Amok, kiranya perlu diingat, adalah sebutan untuk suatu kegilaan dan kebodohan putus asa, yang timbul akibat hawa nafsu yang terpacu hebat, dan terutama oleh dendam yang berkobar-kobar. Seringkali Amok disebabkan oleh penganiayaan nyata atau yang dirasakan terhadap para budak, yang kemudian meledak dalam kemarahan tak terkendali, yang semakin berkobar karena penggunaan opium. Penduduk pribumi sendiri menyebut kemarahan ini sebagai penggelapan mata (Mata glap) . Amok semacam ini sangat berbahaya, karena si pengamuk bertekad untuk mengorbankan semua yang dijumpainya, dan akhirnya nyawanya sendiri. Kata Amok secara harfiah berarti pemberontakan, kerusuhan, kegeraman.”

Penjelasan Domis ini sangat penting karena beberapa alasan:

  1. Penyebab Psikologis dan Sosial: “Amok” bukan sekadar tindakan brutal tanpa sebab, tetapi berakar dari dendam yang berkobar-kobar dan tekanan batin akibat penganiayaan nyata atau yang dirasakan. Ini sejalan dengan konteks Si Untung yang merupakan seorang budak yang diperlakukan tidak adil.
  2. Perspektif Pribumi: Istilah lokal untuk fenomena ini adalah “Mata glap” (mata gelap), yang menggambarkan kondisi di mana seseorang kehilangan kesadaran karena amarah.
  3. Tujuan Akhir: Pelaku “amok” biasanya tidak berniat untuk selamat; mereka bertekad mengorbankan nyawa sendiri setelah menghancurkan musuh-musuhnya.
  4. Arti Harfiah: Domis menerjemahkan “amok” secara politis sebagai “pemberontakan” atau “kerusuhan” (muiterij, oproer), bukan sekadar “marah”. Ini menunjukkan pemahaman bahwa “amok” adalah bentuk perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.
Kata-kata “Amok” dan artinya dalam catatan kaki pada buku De residentie Passoeroeang op het eiland Java, H. J. Domis, 1836.

“Amok” dalam Dunia Psikiatri Modern

Fenomena “amok” tidak hanya menarik perhatian para ahli bahasa dan sejarawan, tetapi juga para psikolog. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) , “amok” diklasifikasikan sebagai salah satu gangguan mental terikat budaya (culture-bound syndrome) .

Para ahli seperti Gaw dan Bernstein dalam publikasi Hosp Community Psychiatry (1992) mengusulkan agar “amok” diklasifikasikan sebagai “culture-specific explosive behavioral disorder” dalam DSM-IV . Definisi klinisnya mencakup:

Episode disosiatif yang ditandai dengan periode merenung diikuti oleh ledakan perilaku kekerasan, agresif, atau homicidal yang diarahkan pada orang dan benda. Episode ini cenderung dipicu oleh penghinaan atau pelecehan yang dirasakan dan tampaknya hanya lazim terjadi pada laki-laki. Episode ini sering disertai dengan ide-ide persekutorik, automatisme, amnesia selama periode episode, kelelahan, dan kembali ke kondisi sebelum episode setelah episode berakhir.

Karakteristik penting dari “amok” dalam literatur psikiatri meliputi:

  • Diawali dengan periode brooding (merenung)
  • Dipicu oleh penghinaan atau pelecehan yang dirasakan
  • Ledakan perilaku kekerasan agresif
  • Sering diikuti amnesia terhadap episode tersebut
  • Kembali ke kondisi normal setelah episode berakhir

“Amok” Mendunia: Dari Nusantara ke Kamus Oxford

Saking terkesannya masyarakat Barat akan fenomena “amuk” di Nusantara, mereka tak mampu mencari padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Wajar akhirnya, “amok” yang dilafalkan pula “amuck” masuk dalam pembendaharaan kata kamus Oxford sejak berabad-abad silam .

Penulis sejarah Rahadian Rundjan mencatat bahwa psikolog telah menetapkan “amok” sebagai bentuk gangguan kejiwaan dalam DSM-IV, meskipun masyarakat Indonesia masih sering mengkambinghitamkan masuknya makhluk halus ke dalam tubuh sebagai alasan. “Saya pikir ‘amok’ adalah elemen budaya kita, yang negatif tentunya,” tulisnya .

Namun di sisi lain, pengakuan global terhadap kata ini menunjukkan betapa kuatnya jejak budaya Nusantara dalam percaturan internasional. Dari medan pertempuran di Kartasura dan Pasuruan, dari catatan Domis tentang “Mata glap”, dari teriakan “Amok!” para pengikut Surapati di penjara Batavia—sebuah kata telah melintasi batas geografis dan budaya, diakui secara ilmiah dalam dunia psikiatri, dan berlabuh di halaman kamus bergengsi dunia.

Seperti ditulis dalam sebuah artikel, “Di kamus Inggris terkenal itu, katanya ada satu kata yang Indonesia banget. Sebuah kata yang diambil dari khazanah bumi pertiwi. Dan orang Inggris tak bisa menerjemahkan kata itu secara tepat. Sehingga orang Inggris mengambil kata itu sebagai salah satu kosa kata dalam kamusnya”. Kata itu adalah “AMOK”.

Antara Dua Narasi: Perlawanan vs. Patologi Sosial

Menarik untuk mencermati bagaimana kata “amok” mengalami pergeseran makna dalam perjalanan sejarahnya:

PeriodeKonteksMakna “Amok”
Abad ke-17 (Surapati)Perlawanan kolonialPemberontakan terorganisir terhadap ketidakadilan; taktik perang dengan teriakan “Amok!”
Abad ke-19 (Catatan Domis)Dokumentasi kolonialKegilaan putus asa akibat dendam dan penganiayaan; “mata gelap” yang berakhir dengan kematian
Abad ke-20 (DSM-IV)Psikiatri modernGangguan mental terikat budaya (culture-bound syndrome) dengan karakteristik spesifik
Abad ke-21Kosakata globalPerilaku tidak terkontrol dan merusak; kata serapan dari Melayu yang diakui dunia

Dalam wacana kolonial, “amok” sering digunakan untuk menggambarkan “kegilaan” orang Melayu yang dianggap primitif dan tidak terkendali. Namun jika kita melihat sosok Untung Surapati, kata “mengamuk” memiliki makna yang berbeda. Kemarahannya di Sungai Cikalong, pelariannya dari penjara dengan teriakan “Amok!”, dan perlawanannya terhadap VOC bukanlah kegilaan tanpa sebab, melainkan perlawanan terorganisir terhadap ketidakadilan dan penghinaan terhadap martabat pribumi.

Ia bukan sekadar pelaku amuk, tetapi seorang pemimpin pemberontakan, ahli strategi, dan pendiri kerajaan di Pasuruan. Ketika ia “mengamuk” di Sungai Cikalong, itu adalah respons terhadap penghinaan terhadap martabat pribumi. Ketika ia dan pasukannya membunuh Kapten Tack di alun-alun Kartasura pada 8 Februari 1686, itu adalah bagian dari strategi perlawanan yang terencana dengan dukungan diam-diam dari pihak keraton .

Warisan Abadi: Dari Medan Perang ke Halaman Kamus

Nama Untung Surapati kini diabadikan di berbagai tempat, banyak jalan-jalan di berbagai kota Indonesia menggunakan namanya. Pengakuan sebagai pahlawan nasional menegaskan bahwa “mengamuk” dalam konteks perjuangan bangsa adalah tindakan heroik, bukan kegilaan.

Sementara itu, kata “amok” terus hidup dalam kosakata global. Ketika media internasional menulis tentang kerusuhan atau perilaku tak terkendali, mereka menggunakan frasa “run amok”. Kata ini telah melampaui batas-batas geografis dan budaya, berlayar bersama para penjelajah Eropa, dan akhirnya berlabuh di halaman kamus bergengsi dunia.

Catatan Domis tentang “amok”, bersama dengan dokumentasi para penjelajah Portugis, Prancis, dan Inggris, telah menjadi saksi bisu perjalanan sebuah kata dari medan perang Nusantara ke pengakuan internasional.

Kesimpulan

Perjalanan kata “amok” dari bahasa Melayu-Jawa ke kamus Oxford English Dictionary adalah cermin perjalanan budaya Nusantara yang mendunia. Kata yang lahir dari kearifan lokal, dicatat oleh para penjelajah Eropa, dianalisis oleh residen Belanda seperti Domis, diklasifikasikan dalam dunia psikiatri modern, dan akhirnya diakui sebagai kosakata global.

Di balik pengakuan internasional itu, tersimpan kisah heroik seorang anak bangsa bernama Untung Surapati—pejuang yang “mengamuk” bukan karena hilang akal, tetapi karena cinta pada tanah air dan benci pada penjajahan. Tindakannya yang disebut “mengamuk” oleh penjajah, dengan teriakan “Amok!” yang menggema di penjara Batavia dan di medan pertempuran Kartasura, telah menjadi bagian dari sejarah panjang sebuah kata yang kini mendunia.

Dari medan perang di Nusantara, sebuah kata lahir, melintasi samudra, dan berlabuh di halaman kamus bergengsi dunia—sebuah warisan abadi yang menghubungkan perjuangan masa lalu dengan pengakuan global.

Sumber: Babad Tanah Jawi, H.J. Domis – “Geschiedenis van Soerapati”, Oxford English Dictionary, Oxford Learner’s Dictionaries, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: DSM-IV-TR, National Geographic Indonesia, Wikipedia, dan berbagai sumber sejarah lainnya.