(Sejarah Pendidikan Malang Bagian VI)

Para Suster Ursulin sudah sejak sekitar tahun 1900 telah merintis pendidikan bagi anak Katolik putri di Malang. Namun hingga pertengahan dekade 1920-an, pendidikan untuk putra Katolik sangat terbatas. Fakta memprihatinkan mencuat dalam surat kabar De Tijd (3 November 1927) : sekitar 300 anak laki-laki Katolik di Jawa Timur terpaksa ditempatkan di panti asuhan Protestan, karena tidak tersedianya fasilitas pendidikan Katolik yang memadai.

Melihat kebutuhan mendesak ini, para Pastor Karmelit mengambil inisiatif. Mgr. Clemens van der Pas, Prefek Apostolik Malang pertama sejak 1927, menggagas pendirian lembaga pendidikan untuk putra sebagai pendamping setara bagi sekolah para Suster Ursulin.

Pilihan jatuh pada Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (Fraters van O. L. Vrouw van het Heilig Hart) yang berpusat di St. Gregoriushuis, Utrecht, Belanda. Kongregasi ini dikenal memiliki dedikasi khusus di bidang pendidikan. Pada 3 November 1927, De Tijd mengumumkan bahwa para Frater dari St. Gregoriushuis akan mendirikan sekolah Katolik di Malang. Penataan awal dipercayakan kepada Frater Gregorius, mantan Direktur Sekolah Guru St. Ludgerus di Hilversum.

Desain Dibuat di Belanda

Para frater tidak berangkat ke Hindia Belanda dengan tangan hampa. Sejak awal persiapan di Belanda, mereka sudah memiliki desain dan gambar teknis gedung yang akan dibangun di Malang. Majalah internal Onder ons (1 Juni 1929, jrg 1, no. 2) mencatat kisah “pertolongan ajaib“: seorang arsitek dengan inisial “Tuan S.” bersedia membuat desain secara cuma-cuma (pro Deo). Kutipan catatan tertulis dibawah ini :

“… ada seseorang di Belanda, yang juga telah bertahun-tahun tinggal di Malang, seorang arsitek, Tuan S., yang sedang berada di sini untuk sementara. Beruntung ada Biro Hindia Katolik di Den Haag! Maka informasi dicari. Dan setelah 2 atau 3 hari Tuan S. duduk di ruang tamu St. Gregoriushuis di Utrecht. Ia mengenal lahan, yang dibeli untuk sekolah misi pertama, luar dalam, karena sebelum keberangkatannya ke Tanah Air ia sendiri terlibat dalam pemilihan dan pembeliannya, dan menawarkan diri untuk melayani maksud baik ini, membuat rancangan bangunan pro Deo (secara cuma-cuma) !” 

Kuat dugaan “Tuan S.” adalah Tuan Smits dari biro Smits, Koper & Hoogerbeets, yang kemudian menjadi kontraktor pelaksana di Malang (Onder ons, 1 September 1929, jrg 1, no. 4). Desain dibuat di Belanda, digulung rapi, dan dibawa para frater dalam bagasi perjalanan mereka menyeberangi lautan.

Gambar desain St. Jozefhuis yang dibuat arsitek “Tuan S.” di Belanda.

Perjalanan Para Frater ke Tanah Misi

Berdasarkan De koerier (8 Maret 1928) dan Het Centrum (18 April 1928):

  • 5 Februari 1928: Pelepasan Pater Xaverius Vloet di Oss, didampingi Prof. Dr. Titus Brandsma.
  • 6 Februari 1928: Pelepasan para frater pertama di Utrecht; mereka membawa desain gedung.
  • Maret 1928: Frater Gregorius dan Frater Wilfridus tiba di Malang.
  • 2 Mei 1928: Rombongan kedua berangkat dari Genoa menumpang De Koningin der Nederlanden.
  • 4 Juni 1928: Lima frater baru tiba di Malang (Carmelrozen, jrg 17, 1928, no. 6).
Eerste missionarissen die vanuit Utrecht uitgezonden werden naar Malang te Oost-Java. Tahun 1928. Koleksi Fraters van Utrecht.
Dua orang frater dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (O. L. Vrouw van het H. Hart) yang berpusat di St. Gregoriushuis, Utrecht, Belanda yang pertama tiba di Malang.

Kelas Sementara

Tugas para frater tidak ringan. Mereka harus memulai sekolah sambil menunggu gedung permanen. Berdasarkan De Indische courant (21 Juni 1928) : lahan seluas 10.000 m² di Celaket telah dibeli, membentang dari jalan raya hingga Sungai Brantas, berada di seberang rumah sakit militer. Dua paviliun direnovasi menjadi 4 ruang kelas sementara. Para frater dan 20 calon anak asrama menempati rumah di Jalan Bromo No. 22. Di sela kesibukan, mereka membuka gulungan desain dari Belanda — visi gedung megah yang kelak akan terwujud.

Peresmian Sekolah Sementara

Tanggal 2 Juli 1928, Sekolah Frater Malang dengan empat kelas pertama SD resmi dibuka (De Indische courant, 3 Juli 1928). Hadir: Residen Kool, Walikota Bussemaker, Inspektur Hartmans, dan Bupati Malang. Mgr. Van der Pas memberkati gedung dan ruang kelas dengan 140 murid. Sekolah menyelenggarakan dua jenis: Europeesche Lagere School (ELS) untuk anak Eropa/elit berbahasa Belanda, dan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) untuk anak pribumi priyayi berbahasa pengantar Belanda. Inspektur Hartmans menyatakan sekolah ini akan menjadi “perhiasan Malang“. Jumlah murid awal: 130-140 orang (110 harian, 20 asrama).

Asrama sangat krusial karena latar belakang 300 anak Katolik di panti Protestan. Sementara itu, 20 anak asrama tinggal di Jalan Bromo No. 22 bersama para frater. Ketika St. Jozefhuis selesai (1929), asrama pindah ke kompleks baru yang menampung SD 7 kelas, MULO 3 kelas, asrama, dan rumah frater (De Indische courant, 21 Juni 1928).

Tuan Smits – Dari Cetak Biru ke Batu Bata

Tuan Smits (kuat dugaan “Tuan S.“) menyusul ke Malang sebagai kontraktor pelaksana melalui biro Smits, Koper & Hoogerbeets (Onder ons no. 4). Spesifikasi gedung (De Indische courant, 21 Juni 1928): lebar depan 60 meter, satu lantai di atasnya, teras bertingkat mengikuti kontur curam ke arah Sungai Brantas. Tantangan lahan curam justru menjadi peluang: Tuan Smits merancang teras indah yang kemudian dipuji Frater Gregorius. Pembangunan memakan waktu sekitar satu tahun.

Mengapa Dinamai “St. Jozefhuis” (Rumah St. Jozef atau Santo Yusuf) ?

Gereja dan para frater memiliki devosi khusus kepada Santo Jozef sebagai penolong dalam segala kesulitan (terutama dalam urusan praktis dan pembangunan). Dalam teks Onder ons (1929) disebutkan:

“Tidak ada alamat yang lebih baik untuk pemecahan kesulitan dari segala macam daripada St. Josef. Nirkabel, tetapi terhubung sangat aman dengan bumi, alamat itu selalu terbukti kokoh.”

Nama St. Jozefhuis diberikan sebagai bentuk penghormatan dan keyakinan bahwa Santo Jozef telah membantu mereka mengatasi berbagai tantangan dalam mendirikan sekolah dan asrama di Malang, mulai dari masalah arsitektur, lahan, hingga keberangkatan para frater ke misi.

Peresmian St. Jozefhuis

Pada 30 Juni 1929, St. Jozefhuis (Rumah St. Jozef atau Santo Yusuf) diresmikan.

Jalannya upacara: Mgr. Van der Pas memasuki ruangan didahului enam putra altar. Veni Creator dilantunkan. Momen paling haru ketika Mgr. menggantungkan Salib Suci sambil berdoa memohon perlindungan ilahi. Pidato Mgr. Van der Pas: Gereja selalu peduli pada pendidikan anak. Ia berharap sekolah ini berkembang demi kemuliaan Tuhan.

Inwijding van de fraterschool te Malang door mgr. C. van der Pas O.Carm 30 Juni 1929.

Pidato Tuan Steppe (juru bicara orang tua): Jumlah murid saat peresmian: ELS 227 anak, HIS 250 anak. Ia mempersembahkan patung Bunda Maria dari Hati Kudus di fasad depan. Pidato Inspektur Dalmijn: Membantah komentar “terlalu indah”. “Zaman modern menuntut hal lain. Yang terbaik saat ini tidak lagi cukup baik. Pendidikan akan mencapai tujuannya jika diberikan di lingkungan yang menyenangkan.” Ia yakin sekolah ini akan tetap menjadi “perhiasan Malang“.

Pidato Residen Kool dan Walikota Voorneman: Menyampaikan harapan dan ucapan selamat. Sambutan Frater Wilfridus (Kepala Sekolah): Dengan rendah hati mereka menerima tugas ini. Ia memohon kerja sama orang tua untuk mendidik anak-anak menjadi warga bermartabat. Pidato penutup Frater Gregorius (frater-direktur): Ia mengucap syukur kepada Tuhan atas karya besar ini. Kepada Tuan Smits, ia berkata: “Dari sekian banyak kesulitan lahan, Tuan Smits tahu menjadikannya sarana bantu untuk memperindah keseluruhan. Di mana karyanya berakhir, di situlah karya para frater kini akan dimulai.

Tur keliling: Onder ons mencatat, “Sampai ke detail terkecil, semuanya beres. Alat-alat peraga menonjol karena kegunaan praktisnya.Pujian pers: De Indische Courant menulis, “Sekolah Frater telah menjadi lembaga yang tidak hanya Malang, tetapi seluruh Jawa dapat bangga karenanya.Hiburan: Murid membentuk kata “Hulde” (Penghormatan), menyanyi, dan mendapat sirup, kue, cokelat. Ucapan terima kasih: Frater-direktur berterima kasih kepada firma Hardonk (jendela kaca patri kapel) dan kepada pers.

St. Jozefhuis (Rumah St. Jozef atau Santo Yusuf) di Celaket Malang yang diresmikan pada tanggal 30 Juni 1929.
Foto tahun 1929 Koleksi Fraters van Utrecht.
Penampakan bagian belakang gedung. Foto tahun 1929 Koleksi Fraters van Utrecht

Refleksi dan Warisan

Frater Gregorius: “Karya besar ini membuktikan berkat Tuhan yang nyata. Marilah kita memohon berkat-Nya supaya karya ini tumbuh demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan jiwa.

Mgr. Van der Pas berharap kelak pendidikan kejuruan seperti di Hilversum dan Borculo dapat diterapkan di Hindia. Visi yang jelas sejak awal membuktikan bahwa desain dari Belanda, kesiapan yang matang, standar kualitas Eropa, dan kerja sama lintas benua adalah fondasi utama bagi sebuah karya yang melampaui zaman dan tempat.

Dari cikal bakal “St. Jozefhuis” ini lahirlah sekarang : SDK Mardi Wiyata 1 dan SMPK Frateran Celaket 21. Gedung St. Jozefhuis masih berdiri sebagai Bangunan Cagar Budaya Kota Malang, saksi bisu pendidikan Katolik selama hampir satu abad.

Kronologi Singkat

Berikut adalah urutan peristiwa penting dalam pendirian “St. Jozefhuis” berdasarkan sumber-sumber dokumen yang telah diterjemahkan.

  • Pada tanggal 3 November 1927, surat kabar De Tijd mengumumkan rencana pendirian sekolah Frater di Malang.
  • Sebelum bulan Februari 1928, “Tuan S.” yang kuat dugaan adalah Tuan Smits merancang desain gedung secara pro Deo di Belanda, sebagaimana tercatat dalam majalah Onder ons edisi no. 2.
  • Tanggal 5 Februari 1928, terjadi pelepasan Pater Xaverius Vloet di Oss, Belanda, yang dilaporkan dalam De koerier. Keesokan harinya, 6 Februari 1928, para frater pertama dilepas secara resmi di Utrecht dan mereka membawa desain gedung dalam perjalanan mereka.
  • Memasuki bulan Maret 1928, Frater Gregorius dan Frater Walfridus tiba di Malang, sebagaimana dikutip dalam Het Centrum.
  • Pada tanggal 2 Mei 1928, rombongan kedua berangkat dari Genoa, Italia, seperti dilaporkan dalam Het Centrum.
  • Tanggal 4 Juni 1928, lima frater baru tiba di Malang, tercatat dalam majalah Carmelrozen.
  • Peristiwa bersejarah terjadi pada 2 Juli 1928, ketika sekolah Frater dengan gedung sementara di Celaket diresmikan, dilaporkan dalam De Indische courant.
  • Selama periode 1928 hingga 1929, pembangunan gedung permanen dilakukan oleh Tuan Smits sebagai kontraktor, tercatat dalam Onder ons edisi no. 4.
  • Puncaknya, pada tanggal 30 Juni 1929, gedung permanen St. Jozefhuis diresmikan, sebagaimana dilaporkan secara lengkap dalam Onder ons edisi no. 4.

Riwayat Para Tokoh :

  • Frater Gregorius telah berkarier sebagai direktur Sekolah Guru Keuskupan di Utrecht dan kemudian di Hilversum sebelum akhirnya pada usia 64 tahun dipercaya sebagai pemimpin ekspedisi misi pertama kongregasinya ke Malang, Jawa Timur. Ia tiba di Malang pada Maret 1928 dan menjabat sebagai Pimpinan Komunitas (Overste) atau Direktur Frater, yang bertanggung jawab atas pembangunan fisik sekolah dan asrama, hubungan dengan otoritas gereja dan pemerintah, serta kehidupan komunitas frater. Setelah lebih dari tiga tahun berkarya di Malang, ia kembali ke Belanda karena alasan kesehatan dan usianya yang lanjut, kemudian mengajar di Sekolah Guru St. Jozef di Zeist hingga wafatnya pada tahun 1940 pada usia lebih dari 75 tahun dan dimakamkan di pekuburan Para Frater di Zeist.
  • Frater Wilfridus datang bersama Frater Gregorius pada Maret 1928 dan awalnya menjabat sebagai Kepala Sekolah (Hoofd der School) pertama di Fraterschool Malang, yang bertugas mengelola kegiatan belajar-mengajar sehari-hari, memimpin staf pengajar, serta menjadi wajah sekolah di hadapan orang tua murid dan inspektur pendidikan. Pada akhir tahun 1929, ia diangkat sebagai direktur sekolah frater dengan asrama di Malang menggantikan Frater Gregorius yang telah kembali ke Eropa, namun beberapa tahun kemudian ia sendiri harus direpatriasi ke Belanda karena kesehatannya yang memburuk sekitar pertengahan tahun 1932, di mana ia kemudian menjadi guru di Sekolah Guru Frater di Hilversum meskipun kesehatannya masih belum pulih sepenuhnya.

Sumber : Dirangkum dari berbagai artikel koran dan majalah misi katolik sezaman.

Luchtopname K.N.I.L.M. Luchtfoto van het fratershuis met twee lagere middelbare scholen, hogere kweekschool, internaat en klooster te Malang. 1929. Koleksi Fraters van Utrecht

Catatan Tambahan :

  • Sejauh penelusuran penulis, artikel ini merupakan publikasi pertama yang secara khusus mengidentifikasi dan membahas penggunaan nama “St. Jozefhuis” untuk kompleks Frateran Malang.
  • Arsitek C. Smits bekerja pada Biro Kontraktor : Smits, Koper, Hoogerbeets di Malang. K.H.G. Bos pernah bekerja antara 1933-1934 untuk biro ini.
  • Arsitek C. Smits mempunyai pabrik ubin/tegel/teraso di Jalan Lowokwaru 23/31 Malang.
Sumber : Gids voor Malang en omstreken, 1924.
  • C. Smits juga merancang dan mendirikan “Monumen Bendera” di depan Rumah Dinas Residen Pasuruan pada tahun 1912.
  • Ciri khas gedung St. Jozefhuis dengan menara loceng diatapnya telah dibongkar (sebab dan tahun belum diketahui)
  • Setelah periode kemerdekaaan, nama Santo Yosef dipergunakan oleh SMAK Kolese Santo Yusup, sekolah di jalan Simpang Brorobudur Malang. Sementara sekolah frateran di eks gedung St. Jozefhuis sekarang lebih dikenal dengan sekolah “Celaket 21”, merujuk alamat lama di Jalan Celaket No. 21 (sekarang Jalan J. A. Suprapto)

Postingan Terkait :

Pendirian Gereja Katolik Jawa di Smeroestraat Malang

Asrama dan Sekolah Frateran “Clemens Tehuis” di Eks Gedung OSVIA Probolinggo

Sejarah Sekolah Santa Maria Malang (1937–1941)