Hotel Tönjes (dengan huruf asli “ö” atau “o” dengan umlaut atau titik dua diatas, yang dibaca mirif huruf “e”), namun kadang ditulis Tonjes dengan huruf “o” biasa. Merupakan salah satu hotel Eropa ternama di Kota Pasuruan pada awal abad ke-20. Berlokasi strategis di Heerenstraat – yang kini dikenal sebagai Jalan Pahlawan – hotel ini berada tepat di seberang Proefstation Oost-Java (POJ atau sekarang P3GI). Karena lokasinya yang sangat dekat dengan pusat penelitian gula terkemuka, hotel ini berfungsi sebagai tempat menginap terdekat sekaligus tempat jamuan bagi para tamu POJ, seperti ilmuwan, peneliti, pengusaha gula, maupun pejabat pemerintah yang berkunjung ke stasiun percobaan tersebut. Selain itu, hotel ini juga bertindak sebagai agen perjalanan (reisbureau) resmi Sanatorium Tosari.

Keluarga Tönjes

Pieter Cornelis Tönjes lahir di Rotterdam pada 2 Maret 1849 dan meninggal di Pasuruan pada 29 Maret 1908 dalam usia 59 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman umum Eropa di Pasuruan (Bugul Lor) dengan nisan bertuliskan “Rust zucht lieve Paatje” (Beristirahatlah dengan tenang, Ayahanda tercinta). Di bawahnya terukir kutipan dari 1 Korintus 13:13 dalam bahasa Belanda:

“Doch de meeste van deze is de liefde”

Yang berarti: “Tetapi yang terbesar dari semuanya ialah kasih”

Berita kematian P. C. Tonjes, Soerabaijasch handelsblad, 31-03-1908

Sebelum mendirikan hotel di Pasuruan, keluarga Tönjes telah memulai bisnis mereka di Probolinggo. Berdasarkan akta notaris yang diumumkan dalam Soerabaijasch Handelsblad pada 4 Juni 1881:

  • Pada tanggal 28 Mei 1881, didirikan sebuah persekutuan (vennootschap) antara Nicolaas Jacob Tönjes dan Pieter Cornelis Tönjes, saudagar-saudagar yang bertempat tinggal di Probolinggo.
  • Firma mereka bernama “Gebroeders Tönjes” (Tönjes Bersaudara).
  • Usaha yang dijalankan adalah perdagangan terutama dalam kebutuhan pabrik (fabrieksbenoodigdheden) , baik untuk kepentingan sendiri maupun secara komisi.
  • Persekutuan didirikan untuk jangka waktu tiga tahun, terhitung mulai 1 April 1881, dan dapat diperpanjang.

Temuan ini menunjukkan bahwa Pieter Cornelis Tönjes memulai karier bisnisnya sebagai saudagar perlengkapan pabrik di Probolinggo. Kebutuhan pabrik yang dimaksud kemungkinan besar adalah perlengkapan untuk industri gula, yang saat itu sedang berkembang pesat di wilayah Oosthoek (Tapal Kuda).

Menurut riwayat anaknya,  Ir. C. J. Tönjes, ayahnya adalah pemegang buku (boekhouder) dari pabrik mesin “De Bromo” dan menyekolahkan anaknya di Pasuruan. Alasan utama dia kemudian pindah ke Pasuruan dan mendirikan hotel di sana sekitar akhir abad ke-19/awal abad-20.

Seiring dengan berkembangnya POJ (yang berdiri sejak 1887), semakin banyak pekerja Eropa yang datang dan menetap di Pasuruan. Kekurangan perumahan yang layak untuk warga Eropa, adalah peluang bisnis yang bagus bagi Tonjes untuk mendirikan hotel.

Tarif Hotel Tönjes pada bulan Mei 1929 adalah f 7,- per malam untuk kamar di gedung utama. Tarif ini kurang lebih sama dengan Hotel Morbeck di Heerenstraat bagian utara.

Perkiraan Tahun Pendirian Hotel

Tahun 1908 mencatat munculnya banyak iklan Hotel Tönjes di berbagai surat kabar. Intensitas promosi ini kemungkinan disebabkan wafatnya Pieter Cornelis Tönjes pada 29 Maret 1908, sehingga istrinya, Mevrouw Tönjes (Jeanette Tönjes), yang mengambil alih pengelolaan perlu memperkenalkan diri. Munculnya banyak iklan pada 1908 bukan berarti hotel baru berdiri saat itu. Pieter Cornelis Tönjes meninggal pada usia 59 tahun (1908). Hotel ini kemungkinan sudah berdiri ketika ia berusia 40–55 tahun, yaitu sekitar 1889–1904.

Setelah Pieter Cornelis Tönjes wafat, hotel kemudian dilanjutkan oleh istrinya, Jeanette Tönjes, lahir 10 Desember 1864, nama lahir Stikkel. Jeanette Tönjes pada masa tuanya pindah ke Malang (tahun pindah tidak diketahui, kemungkinan setelah hotel dikelola oleh ahli waris atau setelah penutupan). Setelah Nyonya Tonjes, pengelolaan hotel kemudian dilanjutkan oleh J. G. Tielenius Kruythoff dan istrinya.

Hubungan dengan Keluarga Kruythoff

Berdasarkan iklan surat kabar tahun 1902–1903, ditemukan bukti penting tentang hubungan keluarga ini :

  • Pada 13 Desember 1902, diumumkan pertunangan antara Nellij Tönjes (putri Pieter Cornelis Tönjes dan Jeanette Tönjes) dan J. G. Tielenius Kruythoff.
  • Pada 14 November 1903, diumumkan pernikahan mereka berdua yang dilaksanakan pada 1 Desember 1903 di Pasuruan, dengan resepsi di rumah orang tua mempelai wanita (keluarga Tönjes).

Dalam iklan pertunangan dan pernikahan tersebut, alamat yang tercantum untuk J. G. Tielenius Kruythoff adalah “Pasoeroean, S.f. Gajam”. Nama salah satu Pabrik Gula di wilayah Pasuruan. Kruythoff kemungkinan bekerja di pabrik gula tersebut pada tahun 1902–1903. Keterlibatannya dalam industri gula – sektor utama ekonomi Hindia Belanda – konsisten dengan lingkungan sosial ekonomi keluarga Tönjes. Saat ini jelas keluarga Tonjes sudah berdomisili di Pasuruan, dan kemungkinan besar Hotel Tonjes sudah beroperasi.

Dengan demikian, J. G. Tielenius Kruythoff adalah menantu dari keluarga Tönjes sendiri. Setelah Jeanette Tönjes (Mevrouw Tönjes) tidak lagi mampu mengelola hotel – kemungkinan karena usia lanjut atau karena pindah ke Malang (tahun tidak diketahui) – pengelolaan hotel dilanjutkan oleh putri dan menantunya, yaitu Nelly Tönjes dan J. G. Tielenius Kruythoff.

Masa Kejayaan (19081924)

1908–1911: Masa Mevrouw Tönjes (Jeanette Tönjes)
Iklan menonjolkan kamar bersih, hidangan baik, harga wajar, dan lokasi di Heerenstraat (kini Jalan Pahlawan). Pada 1911, hotel juga bertindak sebagai agen perjalanan (reisbureau) resmi Sanatorium Tosari, melayani pemesanan kamar, transportasi, dan informasi wisata ke kawasan pegunungan Bromo.

1919: Rapat Pengusaha Gula
Hotel menjadi tempat rapat administrator pabrik gula dari Karesidenan Pasuruan dan Besuki, membahas antisipasi mogok kerja buruh pribumi. Hadir para Residen (pejabat kepala wilayah), Mr. Hirsch (ketua sindikat gula), dan Van Heukelom (wakil perusahaan perkebunan).

1921: Awak Kapal K 5
Awak kapal sarapan di Hotel Tönjes sebelum berangkat ke Tosari dengan mobil.

1922: Pengelolaan Baru
Hotel mengumumkan pengelolaan sepenuhnya baru dengan dapur utama di bawah pengawasan Eropa dan mulai menyediakan layanan katering (leveren eten buitenshuis) . Tidak diketahui siapa pengelola yang dimaksud, karena tidak ada nama yang disebutkan dalam iklan tersebut. Kemungkinan pengelola tersebut adalah Kruythoff atau M. de Boer, tetapi tidak ada bukti yang mengonfirmasi.

1924: Perpisahan Residen Jordaan
Setelah resepsi besar di societeit (Harmonie), perpisahan Residen Jordaan dilanjutkan secara intim di Hotel Tönjes hingga sore hari.

Dampak Perumahan POJ

Sebelum adanya perumahan staf POJ, para tamu yang berkunjung ke POJ – terutama ilmuwan, peneliti, dan pengusaha gula yang datang dari luar kota – tidak memiliki banyak pilihan lain selain menginap di hotel terdekat, yaitu Hotel Tönjes (karena lokasinya tepat di seberang POJ). Hotel Morbeck yang terletak di bagian utara Heerenstraat juga menjadi pilihan, tetapi jaraknya lebih jauh.

Namun, setelah POJ membangun puluhan rumah dinas untuk staf di sepanjang Heerenstraat, para ilmuwan dan peneliti yang sebelumnya menginap di hotel kini dapat tinggal di rumah dinas yang disediakan POJ. Hal ini menyebabkan penurunan drastis pendapatan Hotel Tönjes, karena kehilangan segmen tamu tetap yang paling setia: “Para Staf POJ“. Tidak menutup kemungkinan POJ juga mempunyai “Guest House” sendiri, yang disediakan khusus untuk tamu dan gratis.

Tidak hanya di Heerenstraat saja, perumahan staf POJ juga membentang sepanjang jalan Raya Pasuruan-Probolinggo.

Rumah-rumah dinas POJ di Heerenstraat.
Rumah dinas POJ di jalan Raya Pasuruan – Probolinggo.

Akibatnya, hotel kemudian hanya berfungsi sebagai tempat menginap dan menjamu para tamu – yaitu tamu-tamu yang bersifat sementara, seperti pengusaha gula yang berkunjung singkat, pejabat pemerintah yang sedang dalam perjalanan dinas, atau wisatawan yang hendak ke Tosari/Bromo. Fungsi sebagai “tempat menginap utama bagi staf POJ” secara bertahap hilang.

Penawaran layanan katering pada Januari 1922, menunjukkan bahwa Hotel Tönjes sedang berusaha mendiversifikasi pendapatan di tengah persaingan dengan Hotel Morbeck dan kemungkinan penurunan jumlah tamu menginap. Dengan menjual makanan ke luar hotel, mereka tetap bisa memperoleh pemasukan meskipun okupansi hotel sedang rendah. Ini juga merupakan strategi bisnis yang cerdas: memanfaatkan dapur utama di bawah pengawasan Eropa yang telah diiklankan sebagai keunggulan hotel. Bisa jadi hotel ini adalah penyedia jasa katering utama untuk karyawan POJ, misalnya untuk penyediaan makan siang.

Di tengah persaingan yang semakin ketat, Hotel Morbeck – pesaing utama Hotel Tönjes di Heerenstraat – mengambil langkah berbeda. Pada tahun 1928, Hotel Morbeck dijual kepada Pemerintah Kota Pasuruan. Langkah ini dapat dibaca sebagai strategi keluar (exit strategy) dari bisnis perhotelan yang mulai tertekan, atau sebagai indikasi bahwa bisnis hotel di Pasuruan sudah tidak menguntungkan seperti dulu. Penjualan ini juga menunjukkan bahwa Morbeck mungkin telah melihat tanda-tanda penurunan ekonomi yang akan terjadi beberapa tahun kemudian.

Masa Transisi dan Krisis Awal (19291931)

Pada bulan Mei 1929, hotel mengiklankan kamar mulai dari f 7,- per hari. Tarif ini kurang lebih sama dengan Hotel Morbeck yang terletak di Heerenstraat bagian utara. Tidak diketahui siapa pengelola hotel Tonjes saat itu (kemungkinan masih Kruythoff).

Pada bulan November 1929, terjadi pencurian kecil. Seorang tamu, Tuan Klasing, kehilangan pakaian. Pelaku terganggu karena seorang anak terbangun. Polisi kemudian menangkap Sijo, yang juga diduga pelaku pencurian di hotel.

Memasuki tahun 1930-an, Depresi Besar (Great Depression) melanda dunia. Banyak pabrik gula di Pasuruan mulai tutup, fungsi POJ menurun drastis, dan pengunjung hotel berkurang signifikan. Kruythoff yang bekerja di Pabrik Gula Gajam kemungkinan juga terdampak oleh krisis ini.

Pada bulan Oktober 1931, hotel digunakan sebagai tempat menginap sementara bagi para perwira Staf Umum selama latihan militer (manuver) di wilayah PasuruanBangil. Sekitar 20 perwira ditempatkan di hotel ini. Penggunaan ini bersifat temporer, hanya selama latihan berlangsung dari tanggal 9 hingga 14 Oktober 1931.

Pada bulan November 1931, hotel ditawarkan untuk dijual lengkap dengan inventaris dan goodwill (reputasi baik), dengan lokasi disebut “tegenover het Proefstation O.J.” (di seberang POJ). Iklan penjualan ini menandakan bahwa hotel sudah mengalami krisis keuangan sejak saat itu. Penjualan aset usaha biasanya dilakukan ketika pemilik sudah tidak mampu lagi mengelola hotel secara menguntungkan. Keluarga Tönjes/Kruythoff berusaha melepas hotel akibat krisis. Meskipun demikian, hotel masih bertahan selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya ditutup permanen.

Perubahan Manajemen (1932)

Pada bulan Januari 1932, hotel dilanjutkan di bawah pengelolaan Tuan Loman, pemilik Hotel Prigen. Tamu Hotel Tönjes dapat menikmati Hotel Prigen pada akhir pekan tanpa biaya tambahan.

Tahun 1932 adalah kemungkinan terbesar masa peralihan kepemilikan atau pengelolaan hotel dari keluarga Tönjes (yang saat itu diwakili oleh Kruythoff sebagai menantu dan pengelola) kepada Tuan Loman. Tuan Loman resmi mengambil alih pengelolaan, kemungkinan sebagai pembeli atau pengelola yang ditunjuk.

Pada bulan April 1932, hotel menjadi lokasi resepsi pernikahan P. J. E. Vieane dan M. de Boer. M. de Boer disebut sebagai mantan pengelola (ex-beheerder) Hotel Tönjes. Namun, tidak diketahui kapan tepatnya ia menjabat – apakah sebelum Kruythoff, di antara atau sesudahnya. Tidak ada sumber yang menyebutkan periode kepengurusannya atau hubungan antara M. de Boer dan Kruythoff.

Pailit dan Penutupan (1933)

Pada bulan Januari 1933, J. G. Tielenius Kruythoff, yang masih bertempat tinggal di Hotel Tönjes (wonende in), dinyatakan pailit. Kepailitannya kemungkinan terkait dengan Depresi Besar (Great Depression) yang melumpuhkan industri gula pada awal 1930-an, yang juga menyebabkan banyak pabrik gula tutup dan fungsi POJ menurun drastis.

Pada masa ini, hotel sudah tidak dikelola oleh keluarga Tönjes secara langsung. Hotel telah beralih ke Tuan Loman atau manajer yang ditunjuk oleh Weeskamer (Lembaga Perwalian) atas nama pihak yang pailit.

Puncaknya terjadi pada tanggal 21 Februari 1933. Manajer yang ditunjuk Weeskamer mengumumkan hotel akan ditutup pada hari Senin pukul 1 siang, karena tidak dapat memenuhi kewajiban keuangannya kepada Weeskamer. Semua tamu harus pergi. Mereka kemudian ditampung di Hotel Morbeck, satu-satunya hotel Eropa lain di Pasuruan.

Pada tanggal 4 Maret 1933, De Indische Courant mengonfirmasi bahwa Hotel Tönjes telah ditutup dan semua tamu pindah ke Hotel Morbeck.

Pada bulan Juli 1933, Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië dalam berita tentang kemunduran bisnis perhotelan (penurunan pendapatan hingga 47% sejak 1930). Menyebutkan bahwa hanya Hotel Tönjes di Pasuruan yang ditutup secara permanen, sementara hotel-hotel lain masih bertahan.

Kematian Jeanette Tönjes (1937)

Jeanette Tönjes (Stikkel), istri dari Pieter Cornelis Tönjes dan pengelola hotel setelah suaminya wafat, pada masa tuanya pindah ke Malang (tahun tidak diketahui, kemungkinan setelah hotel dikelola oleh putri dan menantunya, Kruythoff). Ia meninggal dunia di Malang pada tanggal 21 September 1937. Berita kematiannya dimuat di Soerabaijasch Handelsblad pada 22 September 1937. Ia meninggal dalam usia 73 tahun sebagai ibu, nenek, dan buyut, 4 tahun setelah Hotel Tönjes ditutup (pada Februari/Maret 1933).

Berita kematian Nyonya Tonjes, Soerabaijasch handelsblad, 22-09-1937.

Nasib Hotel Setelah Penutupan

Tidak banyak ditemukan riwayat Hotel Tönjes setelah ditutup pada tahun 1933 hingga setelah kemerdekaan. Meskipun bangunan fisiknya masih berdiri, jejak operasional maupun kepemilikan hotel hingga pada masa pendudukan Jepang dan kemerdekaan tidak tercatat dalam arsip yang tersedia.

Menurut kesaksian yang dapat dihimpun, eks Hotel Tonjes pada era setelah kemerdekaan pernah digunakan :

  • Tahun 1950-an s/d tahun 1960-an : Hotel Centrum, juga ada warung nasi milik Bu Bowo yang terkenal dengan Soto dan Ayam Choco-nya. Melayani makan untuk pegawai POJ dengan sistem kupon yang dibayar oleh POJ.
  • Pertengahan tahun 1960-an s/d sekitar tahun 1970 : Sebagai lembaga pendidikan Universitas Atmadjaja, termasuk pemancar radio Atmadjaja.

Bangunan eks Hotel Tönjes saat ini telah diambil alih oleh Gedung BPKA (Badan Pengelola Keuangan dan Aset) Kota Pasuruan, menandakan berakhirnya fungsi bangunan sebagai penginapan komersial dan beralih menjadi kantor pemerintahan.

Berawal dari firma dagang di Probolinggo (1881), bersemi menjadi Hotel Langganan para peneliti gula (ca. 1890-1933), Hotel+Warung nasi, Lembaga Pendidikan sekaligus Pemancar Radio, dan kini menjelma menjadi kantor pemerintahan. Perjalanan panjang Hotel Tönjes adalah cermin bagaimana sebuah bangunan dapat bertransformasi mengikuti denyut sejarah Kota Pasuruan.

Sumber: Soerabaijasch Handelsblad (1881, 1903, 1908, 1929, 1931, 1933, 1937), Bataviaasch Nieuwsblad (1902, 1921, 1933), De Preanger-bode (1911), De Sumatra Post (1919), De Indische Courant (1922, 1931, 1932, 1933), Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië (1924, 1933), Wikipedia (Pabrik Gula Gajam), dan data makam Pieter Cornelis Tönjes di Pasuruan.

Catatan Tambahan :

  • Ir. C. J. Tönjes (lahir di Probolinggo, 1887) adalah putra pasangan Pieter Cornelis Tönjes dan Jeanette Tönjes. Ia menghabiskan masa sekolah dasar di Pasuruan, di mana ayahnya bekerja sebagai pemegang buku di Pabrik Mesin “De Bromo” . Ia melanjutkan pendidikan ke H.B.S. di Surabaya, kemudian pada 1904 berangkat ke Delft, Belanda, untuk belajar teknik. Setelah lulus 1909, ia sempat menjadi asisten Prof. Franco (ahli konstruksi lokomotif). Karirnya dimulai sebagai insinyur di Staatsspoorwegen (S.S.) pada 1910, lalu pindah ke Pabrik Mesin De Bromo di Pasuruan (1911). Pada 1 Januari 1913, ia diangkat sebagai penasihat teknis Koloniale Bank. Setelah sempat bergabung dengan firma Braat (1919) dan memimpin reorganisasi besar (pemindahan bengkel ke Ngagel, spesialisasi ketel masak), ia kembali ke Koloniale Bank (1925) hingga pensiun. Ia dikenal sebagai ahli gula serba bisa. Ketika bank membangun pabrik teh (1927), ia dipercaya memimpin teknis. Di dunia olahraga, ia pemain tenis handal dengan servis keras sehingga dijuluki “Kanon” , serta anggota aktif klub catur Surabaya. Pensiun 1 April 1936 karena kesehatan dan pindah ke Malang. Ia adalah salah satu figur teknisi andal dalam sejarah industri gula Hindia Belanda.

Postingan Terkait :