Sebelum tahun 1929, Kota Malang sudah dikenal sebagai kota pendidikan dengan berbagai sekolah umum, namun satu hal yang masih terasa langka adalah lembaga pendidikan kejuruan yang mencetak tenaga terampil di bidang teknik dan pertukangan. Selama bertahun-tahun, kebutuhan akan sekolah pertukangan (ambachtsschool) hanya menjadi wacana dan rencana yang tak kunjung terwujud. Hingga akhirnya, pada tanggal 1 Juli 1929, ambachtsschool pertama di Malang resmi menerima siswa pertamanya, disusul dengan seremoni pembukaan resmi pada tanggal 8 Juli 1929.

Latar Belakang: Suatu Kebutuhan yang Telah Lama Terasa

Gagasan pendirian ambachtsschool di Malang sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1920. Saat itu, Malangsche Landbouwvereeniging (Perkumpulan Pertanian Malang) menjadi salah satu pihak yang paling gencar memperjuangkan adanya lembaga pendidikan kejuruan. Namun, selama bertahun-tahun, rencana tersebut tidak kunjung terealisasi.

Dorongan utama muncul dari kebutuhan nyata akan tenaga kerja terampil di industri perkebunan dan perbengkelan, yang kian meningkat pesat. Selain itu, banyak lulusan sekolah dasar bercorak Barat (Westersche Lagere School) yang ingin melanjutkan ke pendidikan kejuruan. Bahkan, kursus-kursus pertukangan informal kewalahan menampung lonjakan pendaftar.

Titik balik terjadi pada tahun 1927, ketika Tuan J.M. Zuyderhoff, dalam pembahasan anggaran tahun 1928, mengusulkan secara resmi kepada Dewan Kota Malang untuk mengalokasikan dana pendirian ambachtsschool. Usul ini disambut baik, sebuah komite persiapan dibentuk, dan kerja sama erat terjalin dengan Walikota Malang saat itu, Tuan Bussemaker.

Infrastruktur: Gedung Baru di Jalan Jawa

Lokasi sekolah dipilih di kawasan kota baru, tepatnya di Jalan Jawa (Javastraat). Pembangunan gedung utama (gedung depan) yang terdiri dari kantor direktur, ruang kelas, ruang gambar, gudang, dan ruang penyimpanan alat, diselesaikan lebih awal. Proyek ini dikerjakan oleh arsitek Tuan Zernicke.

Setelah disetujuinya pembangunan bengkel kayu, kompleks sekolah pun semakin lengkap. Total biaya pembangunan seluruh kompleks mencapai angka 40.000 gulden, dengan rincian gedung utama dan bengkel besi sebesar 26.500 gulden, serta bengkel kayu sebesar 13.500 gulden. Meskipun bengkel kayu belum sepenuhnya siap pada pembukaan, pihak sekolah telah menyiapkan ruang kelas khusus sebagai tempat praktik sementara.

Pendaftaran dan Antusiasme Masyarakat

Pada awalnya, walikota dan pengurus sekolah memperkirakan hanya akan ada sekitar 80-90 siswa yang mendaftar. Namun kenyataan membuktikan sebaliknya. Hingga batas akhir pendaftaran tanggal 15 Juni 1929, tercatat 107 siswa resmi terdaftar—melampaui ekspektasi awal.

Pendaftaran dibuka dari tanggal 24 Mei hingga 15 Juni 1929. Persyaratannya adalah:

  • Telah menyelesaikan sekolah pribumi kelas 2 atau sekolah dasar Eropa kelas 3.
  • Usia antara 14 hingga 18 tahun.

Yang menarik, terdapat rencana awal untuk membentuk kelas khusus Eropa dengan bahasa Belanda sebagai pengantar, dengan batas pendaftaran lebih awal bagi siswa Eropa yaitu tanggal 31 Mei 1929. Namun, karena jumlah siswa Eropa yang mendaftar hanya 11 orang, rencana tersebut tidak terwujud. Akhirnya, kelas berbahasa Belanda dibentuk dengan menggabungkan siswa Eropa, Tionghoa yang menguasai Belanda, Pribumi, dan Ambon, sehingga total menjadi 34 siswa.

Komposisi siswa akhirnya adalah:

  • Kelas Belanda: 34 siswa (19 Eropa, 8 Tionghoa, 5 Pribumi, 2 Ambon)
  • Kelas Pribumi I: 24 siswa (termasuk 4 Tionghoa)
  • Kelas Pribumi II: 24 siswa
  • Kelas Pribumi III: 25 siswa (khusus kursus kayu)

Total: 107 siswa.

Kurikulum: Antara Teori dan Praktik

Sekolah ini menyelenggarakan kursus dua tahun di bidang pengolahan kayu dan pengolahan besi. Untuk jurusan pengolahan besi, alokasi waktu pelajaran per minggu adalah:

Mata PelajaranJam Per Minggu
Kerja bengkel18 jam
Menempa9 jam
Menggambar garis4 jam
Menggambar tangan2 jam
Berhitung dan geometri3 jam

Meskipun bengkel kayu belum siap pada awal pembukaan, pihak sekolah menggunakan salah satu ruang kejuruan di gedung utama sebagai tempat pelajaran awal.

Suasana di dalam kelas.
Suasana di dalam kelas.

Peresmian: 8 Juli 1929

Puncak dari perjuangan panjang ini adalah upacara peresmian resmi yang digelar pada hari Senin, 8 Juli 1929, pukul 09.30, di ruang gambar sekolah. Acara berlangsung dengan penuh khidmat dan mendapat perhatian besar dari berbagai kalangan.

Hadir dalam upacara tersebut:

  • Residen Malang
  • Bupati Malang
  • Komandan militer setempat
  • Dua orang inspektur pendidikan
  • Para administrator pabrik gula
  • Para ahli bangunan
  • Anggota dewan kota Malang
  • Anggota komite pengawas
  • Kontraktor pelaksana Tuan Zernicke beserta istri.

Walikota Voorneman (yang menjabat saat peresmian) menyampaikan pidato pembukaan. Beliau menekankan pentingnya hari itu sebagai tonggak berdirinya sekolah kotapraja pertama di Malang dan betapa strategisnya pilihan pada sekolah pertukangan sebagai lembaga pertama. Beliau juga menyampaikan penghargaan kepada Tuan Zuyderhoff sebagai penggagas utama, serta kepada Walikota Bussemaker (pendahulunya) dan komite persiapan atas kerja keras mereka.

Dalam pidatonya, Walikota Voorneman juga menyampaikan:

  • Ucapan terima kasih kepada Pemerintah Pusat yang telah menugaskan Tuan A. Oosterveld (mantan direktur ambachtsschool Probolinggo) sebagai direktur pertama.
  • Bahwa sekolah ini terbuka untuk pengembangan, misalnya penambahan kursus pasangan batu, cat, dan sejenisnya di masa depan.
  • Imbauan kepada perwakilan pabrik gula untuk bersedia mempekerjakan lulusan sekolah sebagai tenaga kerja terampil.

Setelah pidato walikota, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bupati Malang (dalam bahasa Jawa untuk siswa pribumi), anggota komite pengawas Kho Sin Tjo (dalam bahasa Tionghoa/Melayu), dan Tuan Oosterveld selaku direktur.

Acara ditutup dengan jamuan minuman, foto bersama di depan gedung, dan tur keliling sekolah yang dipandu oleh Tuan Oosterveld.

Tenaga Pengajar Awal

Pada tahun pertama, staf pengajar ambachtsschool Malang terdiri dari:

NamaJabatanAsal/Catatan
Tuan A. OosterveldDirekturMantan direktur ambachtsschool Probolinggo
Tuan Van DijkGuru kelas BelandaMantan pengawas di penjara Surabaya
PandoeGuru kejuruan PribumiLulusan Kebumen
SoepyoenGuru kejuruan PribumiLulusan Surabaya
SoerwodirdjoGuru kejuruan PribumiLulusan Surabaya

Makna Historis

Pembukaan Ambachtsschool Malang pada tahun 1929 bukanlah sekadar peristiwa administratif, melainkan sebuah lompatan besar dalam kebijakan pendidikan di Hindia Belanda, khususnya di Kota Malang. Sekolah ini merupakan sekolah kotapraja (gemeentelijke school) pertama yang didirikan oleh Pemerintah Kota Malang sendiri. Sebelumnya, pendidikan kejuruan semacam itu dianggap sebagai wewenang penuh pemerintah pusat.

Keberhasilan ambachtsschool ini membuktikan bahwa pendidikan vokasi tidak kalah penting dibanding pendidikan umum, dan bahwa pemerintah daerah pun mampu berperan aktif dalam menyediakan lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi dan industri setempat.

Hingga kini, semangat ambachtsschool tersebut—mencetak tenaga kerja terampil yang siap pakai—tetap hidup dalam berbagai bentuk pendidikan vokasi dan kejuruan di Malang, sebuah warisan dari masa lalu yang hingga hari ini masih relevan.

Sumber:

  • De Indische courant, 09-07-1929
  • Soerabaijasch handelsblad, 11-04-1929; 24-05-1929; 04-06-1929; 09-07-1929
  • Arsip Kolonial Hindia Belanda

Catatan Tambahan :

  • Jalan Jawa (Javastraat) di kota Malang sekarang telah berubah menjadi Jalan Nusakambangan.
  • Bekas Ambachtsshool sekarang menjadi SMKN IV Kota Malang, namun dengan alamat baru, sekarang di Jalan Tanimbar (dulu disebut De Ridder Weg)