Asli Arema

Nama lengkapnya Bertus Stom, biasa dipanggil “Ben“, adalah salah seorang pemain Timnas sepakbola Belanda tempo dulu. Dia bukanlah seorang Belanda totok, tetapi sebenarnya adalah seorang indo yang lahir di Malang, pada tanggal 13 Oktober 1886. Di beberapa situs sepakbola dunia, masih ditulis keliru bahwa dia dilahirkan di Apeldoorn. Ayahnya adalah seorang kapten di KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), bernama Christiaan Willem Henry. Sedangkan ibunya seorang wanita pribumi bernama “Kamina“, yang kabarnya adalah seorang penari pura Bali.

Bertus “Ben” Stom.
(13 Oktober 1886 – 18 Agustus 1965.)
Nama yang tercatat dalam buku besar anggota KNIL. Sumber : nationaalarchief.nl

Saat masih anak-anak, Ben beserta saudara-saudaranya yang lain dibawa ayahnya ke Belanda dan tinggal di Apeldoorn. Ketika berusia 18 tahun, Ben pindah ke Alkmaar tempat Sekolah Kadet berada. Bukan pilihan yang mengejutkan bagi putra seorang perwira militer. Pada bulan Agustus 1907, ketika berusia dua puluh tahun, dia kembali ke Apeldoorn dari Breda. Di Breda ia dididik menjadi perwira, dan pada pertengahan tahun 1909 ia kembali ke Hindia Belanda sebagai letnan KNIL.

Karir Sepakbola

Dalam usia yang relatif masih muda, Ben sudah memiliki prestasi yang sangat baik dalam bermain bola. Dia bermain untuk klub sepakbola CVV Velocitas dari Breda (Juli 1904 hingga Juni 1907). Dan untuk HFC Haarlem (Juli 1907 hingga Juni 1908).

Ia memulai debutnya di Timnas Belanda sebagai pemain belakang (bek), saat masih berusia 18 tahun 6 bulan. Ketika timnya melawan Belgia pada tanggal 30 April 1905, yang dimenangkan oleh Belanda dengan skor 4 – 1. Namun satu-satunya kebobolan adalah gol “bunuh diri” yang dibuat oleh Ben. Ia mencatatkan rekor sejarah sebagai pemain internasional Belanda pertama yang mencetak gol bunuh diri.

Timnas Belanda untuk pertandingan internasional melawan Belgia pada tanggal 14 April 1907 yang dimainkan di lapangan Beerschot di Antwerpen. Belanda menang 3-1. Berdiri dari kiri ke kanan: Dua ofisial, Willem Janssen, John Heijning, Pieter Boelmans ter Spill, Constant Feith, Iman Dozy, Ferry van der Vinne dan seorang ofisial. Duduk: Toine van Renterghem, Reinier Beeuwkes, Louis van Gogh, Karel Heijting dan Ben Stom.

Sejak itu Ben bermain total 9 (sembilan) pertandingan untuk Timnas Belanda hingga tahun 1908. 2 (dua) kali diantaranya sebagai Kapten.

Catatan Ben Stom di Timnas Belanda. Sumber : eu-football.info

Kekalahan yang paling menyakitkan adalah ketika timnya diganyang dengan telak oleh Inggris pada 1 April 1907 dengan skor 8 -1. Dan paling parah pada 21 Desember 1907, di Darlington, Inggris, skornya 12 – 2. Tim Belanda mengalami kekalahan terbesar yang pernah ada. Menurut Han Hollander dalam buku Voetbalglorie “Satu-satunya pertandingan, yang pernah mencapai angka ganda saat melawan tim nasional Belanda kami.’

Timnas Belanda untuk pertandingan internasional melawan Inggris. Berdiri dari kiri ke kanan: wasit Farrell, Karel Heijting, 
Bok de Korver , Lo la Chapelle, Ben Stom, Tonny Kessler, Louis Otten dan hakim garis Van den Berg. Duduk: Caius Welcker, Edu Snethlage, Cas Ruffelse , Jan Thomée dan Iman Dozy. Foto : Arsip Nasional
Suporter Timnas Belanda yang hanya 9 orang saat dikalahkan Inggris 12 – 2.

Reporter Jan Stok dari De Revue der Sporten – yang didirikan pada tahun itu – telah melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan berita yang lebih rinci. Selama pertandingan ada sekitar 5.000 pendukung tuan rumah Inggris di pinggir lapangan. Sembilan orang pendukung Belanda pun duduk di sana, semuanya muat dalam satu foto.

“Kedua tim memasuki lapangan dengan sorak sorai yang nyaring. Orang Inggris memakai kemeja putih dengan celana panjang hitam. Rekan senegara kami bermain dengan seragam oranye dengan manset putih, celana panjang putih, kaus kaki hitam dengan manset oranye-putih.”

Pertandingan baru saja dimulai dan skor sudah 1 – 0 untuk tim tuan rumah. “Luar biasa! Yang menjadi semakin dahsyat. Karena dalam waktu lima belas menit tiga tembakan lagi melewati kiper kami. Lima menit sebelum jeda, skor sudah menjadi 5 – 0, namun Ruffelse mencetak gol pertama untuk tim Belanda tepat pada waktunya. Sesaat sebelum jeda tiba…”

45 menit kemudian kedudukan akhir menjadi 12 – 2. Kata Stok : “Kesalahan terbesar kami adalah di lini tengah, yang sama sekali tidak mendukung garis depan dan jarak yang memisahkannya dari garis itu terlalu jauh.’

Kekalahannya begitu besar, sehingga Stok tidak lagi mampu melihat semuanya. “Di sana kami duduk di tanggul dengan 12 – 2 kami, menatap cakrawala dan bertanya bagaimana sekarang ya? bagaimana sekarang?”

Laga ini memang menjadi pembelajaran yang sangat besar bagi tim Belanda, yang saat itu masih minim pengalaman di kancah internasional. Hal ini pula yang ditemukan oleh Direktur sepak bola A. J. Bronkhorst di Hup Holland . “Permukaan permainan yang berat dan licin, serta kurangnya rutinitas dengan kemampuan beradaptasi yang sangat buruk, menjadi penyebab pertumpahan darah yang nyata di Darlington melawan Inggris. Kami hancur. Kami ditunjukkan bahwa kami masih harus banyak belajar.”

Pilot dan Pemain Tenis

Ia dilatih sebagai pilot di Soesterberg. Pada tahun 1919 dia melakukan pendaratan darurat di dekat Laren dimana dia terluka ringan. Pada awal tahun 1920, Stom kembali ke Hindia Belanda dan ditempatkan di Aceh. 

Sebagai pilot, Stom melakukan beberapa penerbangan pengintaian. Pada tahun 1922, Stom adalah seorang komandan angkatan udara. Pada akhir tahun 1922, lengannya patah karena kecelakaan penerbangan. Juga pada bulan April 1923 dia mengalami kecelakaan di mana dia tidak terluka. Pada tanggal 1 September 1924, Stom diangkat menjadi komandan instruktur sekolah penerbangan di Kalijati (Subang). Pada bulan November 1925 ia melakukan pendaratan keras pada penerbangan malam. Tahun 1926 ia memenangkan kejuaraan tenis se Jawa.

Bertus “Ben” Stom saat menjadi pilot pesawat AVRO 504 tahun 1915.

Pada pertengahan tahun 1926 ia diberhentikan dengan hormat dari sekolah penerbangan dan kembali ke infanteri dengan Batalion ke-14 di Buitenzorg (sekarang Bogor). Di sana dia menjadi anggota dewan klub olahraga berkuda. Pada tahun 1927, Stom bermain tenis lagi untuk kejuaraan se Jawa. Bulan Mei 1929, ia mengambil cuti ke Belanda selama sebelas bulan. Sekembalinya dari Belanda, ia menjadi komandan Batalion Depo 1 di Bandung.

Pada tanggal 2 Juni 1931 ia dipromosikan menjadi Letnan Kolonel. Pada akhir Mei 1933, Stom terluka parah dalam kecelakaan mobil di dekat Kalossi, yang juga mengakibatkan dua kematian. Stom kemudian diberhentikan dengan hormat dan dikembalikan ke Belanda pada tahun 1934.

Berkenaan dengan Bertus Stom selama di Hindia Belanda, diceritakan oleh putrinya Mascha. Mengatakan bahwa ayahnya dilatih sebagai perwira di Breda dan kembali ke Hindia di mana ia menjadi komandan armada angkatan udara. Di perkebunan kopi dan teh kakek-neneknya di Hindia Timur, Bertus Stom yang saat itu berusia 37 tahun, jatuh cinta pada Ferdinande Victorine Pauline Ball (Nanny), yang berusia tujuh belas tahun.

Rupanya bukan hal yang aneh di keluarga ini untuk menikah di usia muda. “Ayahku adalah pria yang sangat berbakat. Selebriti nasional : penerbang, kapten Timnas sepak bola Belanda, juara tenis di Jawa. Dia adalah cinta pertamaku sebagai seorang gadis; dia bisa melakukan segalanya, dia terbuka, lucu dan sangat cerdas. Karena kecelakaan yang mengerikan, ia kemudian harus mengambil pensiun dini dan kembali ke Belanda. Selalu berusaha untuk melakukan lebih baik dari yang anda pikir anda bisa, dia mengajari saya.” Mascha memperlihatkan potret megah berwarna kuning dari seorang pria tampan dengan ciri khas Hindia. “Saya selalu berpikir bahwa tubuh orang Hindia lebih fleksibel dibandingkan tubuh orang Belanda,” katanya. “Ayahku selalu bilang aku punya tubuh Hindia.”

Penari Bali

Mascha Stom (1926-2006), putri Ben ini adalah seorang balerina terkenal di Belanda. Memulai debutnya saat berusia dua belas tahun dalam pertunjukan sekolah Iril Gadescov, ia langsung dipuji sebagai bakat alami oleh publik dan pers. Dia kemudian menari sebagai solois sejak usia tiga belas (!) dengan berbagai grup tari yang baru didirikan seperti Balet Belanda dan Balet Opera Belanda dan kemudian Ballet der Lage Landen.

Kritikus tari Jan Baart, kemudian mencatat dalam sebuah studi tentang posisi Mascha dalam sejarah tari Belanda: “Dia ternyata memiliki bakat alami. Sebagai seorang penari muda, ia menggabungkan rasa gerak alami seorang penari Bali (dari neneknya) dan disiplin bawaan seorang perwira militer (dari ayahnya).” Mascha sendiri mengatakan :  “Saya secara alami tertarik pada tari Jawa. Saya suka tari Jawa. Nenek saya adalah seorang penari pura Bali, jadi hal itu sudah mendarah daging dalam diri saya.” 

Mascha Stom, balerina terkenal di Belanda yang berdarah penari Bali.

Sejak 9 Januari 1934, Ben Stom tinggal di Den Haag (Gravenhage) bersama istri dan anak perempuannya Mascha dan Marijke. Bertus “Ben” Stom meninggal disana pada tanggal 18 Agustus 1965, dalam usia hampir 79 tahun.

Sumber : muizenest-nl, nationalarchief, wikipedia, publiek-sturkop-nl, sportgeschiedenis-nl.

Postingan Terkait :

Prof. Dr. Leber – Sosok Ilmuwan dan Tokoh Kemanusiaan di Malang Yang Disingkirkan

Jans Kloppenburg-Versteegh Ahli Tanaman Herbal Hindia, Meninggal di Malang 1948

Tokoh Dibalik Kesuksesan NIMEF Di Kendalpayak Malang, Berakhir Tragis Di Kamp Interniran Jepang